<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335</id><updated>2012-01-27T10:35:36.749+07:00</updated><title type='text'>RESENSI BUKU</title><subtitle type='html'>Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek. 
--Barbara Tuchman</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>112</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8635032464609223321</id><published>2011-12-21T13:07:00.000+07:00</published><updated>2011-12-21T13:07:55.326+07:00</updated><title type='text'>Menemukan Potensi dalam Diri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9Q2ZeaD4XRY/TvF3h3zF6NI/AAAAAAAAAnc/S-h0IPY1QQc/s1600/Winning%2BPassion.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="206" src="http://4.bp.blogspot.com/-9Q2ZeaD4XRY/TvF3h3zF6NI/AAAAAAAAAnc/S-h0IPY1QQc/s320/Winning%2BPassion.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Judul: Winning with Passion&lt;br /&gt;Penulis: Jimmy Gani &amp; Ervin A. Priambodo&lt;br /&gt;Penerbit: Esensi&lt;br /&gt;Cetakan: 1, 2011&lt;br /&gt;Tebal: xxvi + 284 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang dilahirkan dengan potensi untuk menjadi pemenang. Sayangnya, kebanyakan dari kita terlalu sibuk memelihara keyakinan yang sebaliknya, bahwa kita tidak layak menang. Alhasil, kita pun menjadi pecundang, menggenapi keyakinan yang kita pegang. Jimmy Gani dan Ervin A. Priambodo mencoba mematahkan mitos yang Anda percayai dan membantu Anda meyakini potensi pemenang dalam diri Anda. Melalui enam cetak biru praktis dan teruji, kepercayaan diri Anda dipulihkan dan semangat Anda digelorakan kembali untuk mengenali, menggali, serta memaksimalkan potensi pemenang di dalam diri Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini akan menyadarkan Anda bahwa kemenangan sudah ada di depan mata jika Anda memiliki passion. Buku ini dapat menjadi solusi bagi mereka yang pernah gagal dan ingin bangkit dari keterpurukannya. Tulisan-tulisan di dalamnya memacu kita untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Mengubah mindset, mengenali kekuatam diri, selalu optimistis, lalu terus berbaik sangka kepada Tuhan, diibaratkan sebuah jalan tol yang mempercepat mencapai kemenangan. Buku ini bermanfaat bagi generasi muda penerus bangsa dan siapa pun yang membacanya, agar Indonesia mampu menyetarakan potensi dan realisasinya sehingga setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang percaya bahwa harapan sudah tidak ada, otomatis akan kehilangan gairah. Tentu hal ini memengaruhi proses pencapaian tujuan yang pada akhirnya memengaruhi hasil akhir yang dicapai. Jadi gairah seseorang bergantung pada state of mind-nya. Semakin positif state of mind seseorang, semakin bergairah orang tersebut dan semakin besar peluangnya untuk mencapai sasaran maupun impian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winning with Passion adalah sebuah metode mengelola sumber daya dengan penuh gairah. Kunci dari kemampuan seseorang untuk bisa melakukan manajemen dengan gairah adalah berfokus pada pencapaian impian yang ia tetapkan dengan mindset yang senantiasa positif. Winning with Passion dapat dirangkum dengan penerapan konsep: winning mindset: berprasangka baik kepada Tuhan bahwa setiap usaha dan doa akan ia kabulkan dengan memberikan yang terbaik. Selain itu, kita harus memiliki mindset yang positif ketika memandang berbagai hal dan permasalahan yang dihadapi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winning behavior: membangun sebuah perilaku yang positif hingga membentuk dan menjalankan perilaku layaknya seorang juara: jujur, unggul, amanah, risk taker, rendah hati, dan adil. Winning attitude in change: mampu melihat, mengamati dan terlibat aktif dalam suatu perubahan dari sudut pandang passion seorang juara. Winning mentality: membangun mental dan passion layaknya seorang juara, berpendirian teguh dalam kebenaran dan mampu menyalakan api kehidupan, mengenal potensi diri, serta berkarya menjadi mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winning way: usaha untuk mencapai harapan dengan menerapkan langkah dan metode sistematis yakni dengan melakukan Niat, Doa, Ikhtiar, Pasrah, Syukur, Ikhlas. Winning system: mencoba untuk menetapkan impian dan sasaran yang SMART (Specific, Measureable, Agreeable, Realistic, Traceable) sejelas-jelasnya hingga dapat diwujudkan.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, pecinta buku, tinggal di Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8635032464609223321?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8635032464609223321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8635032464609223321' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8635032464609223321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8635032464609223321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/12/menemukan-potensi-dalam-diri.html' title='Menemukan Potensi dalam Diri'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9Q2ZeaD4XRY/TvF3h3zF6NI/AAAAAAAAAnc/S-h0IPY1QQc/s72-c/Winning%2BPassion.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-7632640975657612384</id><published>2011-12-02T15:07:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T15:07:39.223+07:00</updated><title type='text'>Kepemimpinan Dahlan Iskan di PLN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3s_LGu7xOFg/TtiGzl662NI/AAAAAAAAAnE/vU_ftguQCx0/s1600/Dua+Tangis+%2526+Ribuan+Tawa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-3s_LGu7xOFg/TtiGzl662NI/AAAAAAAAAnE/vU_ftguQCx0/s320/Dua+Tangis+%2526+Ribuan+Tawa.jpg" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Dua Tangis dan Ribuan Tawa&lt;br /&gt;Penulis: Dahlan Iskan&lt;br /&gt;Penerbit: Elex Media Komputindo&lt;br /&gt;Cetakan: I, November 2011&lt;br /&gt;Tebal: xiii + 349 hlm.&lt;br /&gt;Harga: Rp. 64.800,- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul Dua Tangis Ribuan Tawa ini merupakan kumpulan CEO noted yang dibuat oleh Dahlan Iskan—mantan direktur PLN yang sekarang menjabat Menteri BUMN—selama dia memimpin PLN. Bahasanya yang sederhana, jenaka, namun berbobot, Dahlan membahas pengalaman dan usaha yang dilakukan segenap jajaran karyawan dalam melakukan reformasi di PLN, termasuk rintangan dan keberhasilannya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dahlan Iskan bukan ahli listrik tetapi wartawan dan entrepreneur media yang menjadi CEO PLN, dengan memakai logika dan common sense dalam menyelesaikan persoalan. Dengan gayanya yang mudah dimengerti ia menulis CEO Noted bagi seluruh karyawannya untuk memberi motivasi. Demikian yang dikatakan M. Jusuf Kalla, mantan wakil Presiden RI dan juga seorang pengusaha. Namun lebih dari itu, CEO Noted tersebut juga menjadi inspirasi perubahan bagi seluruh karyawan PLN untuk menjadi lebih baik memenuhi kebutuhan energi di daerah dan seluruh Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku ini kuyup dengan kisah-kisah suka-duka Dahlan Iskan dan para pegawai PLN (yang dikisahkan Dahlan) yang memerlihatkan betapa keputusan-keputusan yang mereka ambil membawa perubahan yang signifikan; pesimis menjadi optimis, lamban menjadi cepat, cacian menjadi pujian, dan sebagainya. Maka secara tidak langsung, ini bisa juga dikatakan kiat-kiat CEO PLN dalam meningkatkan “perusahaan”-nya. Dan melalui CEO Noted inilah pola komunikasi antara pimpinan dan karyawan tetap terjaga secara baik, terbuka, dan blak-blakan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di CEO Noted ini Dahlan memilih bentuk komunikasi yang tidak langsung. Bentuknya tidak seperti sambutan, tidak seperti imbauan dan bukan pula berisi instruksi. Dia juga menghindari khotbah di dalamnya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masalah yang paling sederhananya misalnya mengenai pengadaan baju seragam PLN. Banyak di antara karyawan PLN yang hampir 50.000 orang itu mempersoalkan pengadaan baju seragam. Ada yang bilang telah terjadi KKN di situ. Juga permainan komisi. Ada yang menghendaki agar baju seragam diatur per provinsi. Jangan dipusatkan. Bahkan ada yang minta agar seragam diberikan dalam bentuk uang. Masing-masing karyawan bisa membuat sendiri. Permintaan manakah yang Dahlan penuhi? &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika dipenuhi salah satunya akan menimbulkan ketidakpuasan yang lain, dan akan menjadi pembicaraan di kalangan wartawan yang tak henti-hentinya, mengalahkan pembicaraan untuk mengatasi krisis listrik. Maka Dahlan memutuskan: baju seragam dihapus! &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dahlan mengatakan bahwa tulisan menjadi sarana paling efektif dan efisien untuk menjangkau karyawan PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunikasi lewat tulisan sangat penting agar pikiran-pikiran pemimpin tertinggi di perusahaan bisa menjangkau seluruh karyawan, bahkan hingga level terbawah. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terkait judul buku ini, “Dua Tangis dan Ribuan Tawa” diambil dari salah satu tulisannya ketika enam bulan menjabat Dirut PLN. Selama enam bulan itu, Dahlan menangis dua kali, tetapi bisa tertawa bahagia ribuan kali. Mengapa Dahlan menangis hingga dua kali? Silakan pembaca membacanya langsung. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan selama di PLN, Dahlan menangis tiga kali. Yang ketiga yaitu saat dirinya harus meninggalkan PLN karena ditunjuk menjadi menteri negara (Menneg) BUMN. []&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;M. Iqbal Dawami, esais.&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-7632640975657612384?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/7632640975657612384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=7632640975657612384' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7632640975657612384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7632640975657612384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/12/kepemimpinan-dahlan-iskan-di-pln.html' title='Kepemimpinan Dahlan Iskan di PLN'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3s_LGu7xOFg/TtiGzl662NI/AAAAAAAAAnE/vU_ftguQCx0/s72-c/Dua+Tangis+%2526+Ribuan+Tawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-1408811353073009640</id><published>2011-11-14T06:17:00.000+07:00</published><updated>2011-11-14T06:17:06.731+07:00</updated><title type='text'>Hamka Plagiat?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_cJ7mqGmX_A/TsBP1gLvbgI/AAAAAAAAAm0/gjLiJmFyOps/s1600/kaver+hamka+plagiat.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-_cJ7mqGmX_A/TsBP1gLvbgI/AAAAAAAAAm0/gjLiJmFyOps/s320/kaver+hamka+plagiat.JPG" width="199" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Aku Mendakwa Hamka Plagiat; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964&lt;br /&gt;Penulis: Muhidin M Dahlan&lt;br /&gt;Penerbit: Scripta Manent&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2011&lt;br /&gt;Tebal: 238 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diakui oleh penulisnya, Muhidin M Dahlan, sebagai pengantar untuk niat Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan “Lentera” membukukan polemik berkepanjangan perihal plagiasi yang dilakukan Hamka, sastrawan cum ulama. Bahkan bagi saya yang tidak menyaksikan polemik itu lantaran hidup pada masa kini, bukan hanya pengantar, tapi juga penyambung lidah Pram untuk mengangkat isu skandal tersebut ke masa kini. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua bermula dari esei Pram yang dimuat di Bintang Timur pada Jumat 10 Oktober 1962 berjudul “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”. Dari situ terus bermunculan tulisan-tulisan lainnya yang ditulis para penulis lain, namun isunya cuma satu bahwa roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (TKvDW) adalah plagiasi dari roman yang ditulis pengarang Prancis Aplhonse Karr, Sous less Tilleuls. Ditengarai para pendakwa, Hamka mengambilnya dari hasil saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) berjudul Al-Majdulin (Magdalena). &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Abdullah Sp, di antara salah satu penulis yang turut mengkritisi novel TKvDW. Ia mengirimkan satu resensi-esei dengan judul “Sekali lagi membaca buah tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?” Dalam esei pertama itu, mula-mula Abdullah Sp menceritakan pengalamannya sewaktu jadi santri di “santri asrama”, Majalengka, Jawa Barat, dan menemukan roman karya Hamka. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Karya Hamka itu (cetakan pertama, th 1938), entah, sudah tujuh kali kubaca, kutelentang-telungkupkan, kutelentang-bukakan lagi, kubaca lagi, tak jemu2nya laksana surat Al-Fatihah. Begitu asik aku dipukau HAMKA. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, pernah pula pada suatu hari—sesudah membacanya—menangis sendirian di sudut sunyi…!” (hlm. 30-31)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun kekagumannya kepada Hamka itu berubah menjadi rasa muak setelah Abdullah tahu dalam salah satu film yang diadaptasi dari karya Al-Manfaluthi yang ditontonnya suatu hari “mirip” dengan karya Hamka. Film itu berjudul: Dumu el- Hub (Airmata Cinta) (hlm. 31). Dan dia menyimpulkan bahwa Hamka melakukan plagiasi secara mentah-mentah. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepekan kemudian Abdullah Sp mengirim tulisan lagi, dimana kali ini dia membandingkan di antara kedua karya tersebut (karya Hamka dan karya Al-Manfaluthi). Klimaks tulisannya adalah pemuatan yang ketiga, yakni dua pekan kemudian di Bintang Timur. Judul tulisannya langsung menohok, “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” Ia menguraikan dan membandingkan bagaimana novel Hamka TKvDW dijiplak dari karya Manfaluthi berjudul Magdalena.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari sinilah kemudian para pegiat sastra terbelalak. Reaksi bermunculan, baik yang pro maupun kontra. Dari kubu yang kontra dengan mazhab Pram yakni yang diimami HB Jassin tak jelas sikapnya, apakah karya Hamka plagiat, jiplakan, saduran, atau terjemahan? Jassin hanya mengatakan bahwa novel tersebut adalah pengalaman khas Hamka. Abdullah Sp langsung menjawab bahwa “khas Hamka” itu ditimba dari pengalaman Karr/Manfaluthi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lantas, bagaimana sikap Hamka? Hamka tidak melayani tuduhan tersebut. Hamka hanya menjawab bahwa itu adalah tugas “Panitia Kesusasteraan” untuk menyelidikinya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pramoedya sebenarnya waktu itu sudah menyiapkan buku berjudul Hamka Plagiator. Tapi, sampai saat ini tidak ada yang tahu kemana rimbanya. Penulis hanya mendapatkan sepotong guntingan koran di Bintang Timur/”Lentera” yang menandaskan bahwa tentara di bawah korps Peperda (Penguasa Perang Daerah) Jakarta Raya melarang diteruskannya usaha “Lentera” membersihkan “daki2 sastra Indonesia”.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hingga saat ini persoalan “Hamka Plagiat” anti-klimaks. Buku ini memang tidak mengkritisi hal-ihwal soal itu, tapi hanya mengajak pembaca untuk membuka kembali suatu peristiwa penting dalam sejarah sastra Indonesia, sebuah polemik yang berkepanjangan. Jadi, paparannya deskriptif semata. Namun, buku ini sangat penting dibaca dan menjadi khazanah berharga bagi generasi muda, terlebih bagi yang concern dengan sejarah Kesusastraan Indonesia. Layak dibaca.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat sastra. &amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-1408811353073009640?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/1408811353073009640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=1408811353073009640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1408811353073009640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1408811353073009640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/11/hamka-plagiat.html' title='Hamka Plagiat?'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_cJ7mqGmX_A/TsBP1gLvbgI/AAAAAAAAAm0/gjLiJmFyOps/s72-c/kaver+hamka+plagiat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6501774090281918149</id><published>2011-11-14T06:14:00.000+07:00</published><updated>2011-11-14T06:14:54.547+07:00</updated><title type='text'>Agama Itu Seperti Seni</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-MpiuITOpxqQ/TsBO-sDyEvI/AAAAAAAAAms/icbXSSVUocA/s1600/kaver+masa+depan+tuhan.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-MpiuITOpxqQ/TsBO-sDyEvI/AAAAAAAAAms/icbXSSVUocA/s320/kaver+masa+depan+tuhan.JPG" width="216" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Masa Depan Tuhan&lt;br /&gt;Penulis: Karen Armstrong&lt;br /&gt;Penerjemah: Yuliani Liputo&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal: 608 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah buku yang membahas “sejarah” Tuhan dari masa ke masa. Saya akui pengklasifikasiannya luar biasa, runut dan sistematis, mulai dari “Tuhan yang tidak diketahui”—dari 30.000 SM hingga 1500 M—hingga “Tuhan Modern”—dari 1500 M hingga sekarang. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari kita menemukan kemampuan baru pikiran dan hati. Inilah yang menjadi salah satu tema buku ini. Menurut Karen Armstrong tidak ada gunanya menimbang ajaran-ajaran agama secara otoritatif untuk menilai kebenaran atau kepalsuannya sebelum menjalani cara hidup religius. Anda akan menemukan kebenaran—atau ketiadaan kebenaran—di dalamnya hanya setelah Anda menerjemahkannya ke dalam ritual atau perbuatan etis. Tak berbeda dengan setiap keterampilan, agama memerlukan ketekunan, kerja keras, dan disiplin. Sebagian orang cakap dalam hal itu dibanding yang lain, sebagian lagi sangat tidak berbakat, dan yang lain sama sekali luput darinya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kaum Daois perdana memandang agama sebagai semacam “kecakapan” yang diperoleh melalui latihan terus-menerus. Zhuangzi salah satu tokoh terpenting dalam sejarah spiritual Cina, menjelaskan bahwa tidak ada gunanya berusaha untuk menganalisis agama secara logis. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia mengutip Bian si tukang kayu: “Ketika saya mengerjakan sebuah roda, jika saya menekan terlalu pelan, meskipun nyaman, saya tidak akan menghasilkan roda yang baik. Jika saya menekan terlalu keras, saya jadi lelah dan hasilnya tidak bagus! Jadi, jangan terlalu pelan, jangan terlalu keras. Saya memegangnya di tangan saya dan merasakannya dan merasakannya di dalam hati saya. Saya tidak dapat menyatakan ini dengan perkataan di mulut, saya hanya tahu. Si bungkuk yang menangkap tonggeret di hutan dengan tongkat berujung lengket tidak pernah meleset sekali pun. Dia telah menyempurnakan konsentrasinya sehingga dirinya larut di dalam pekerjaannya, dan tangannya seolah-olah bergerak dengan sendirinya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana dia melakukan itu, tetapi hanya mengetahui bahwa dia telah memperoleh keahlian itu setelah berlatih berbulan-bulan. Keadaan kehilangan-diri ini, jelas Zhuangzi, adalah sebuah ekstasis yang memungkinkan Anda untuk “melangkah keluar” dari prisma ego dan mengalami yang Ilahi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Patut disesalkan Dawkins, Harris, dan Hitchens mengekspresikan diri mereka dengan terlalu garang, sebab beberapa dari kritik mereka memang sah. Orang beragama memang telah melakukan berbagai kekejaman dan kejahatan, dan teologi fundamentalis yang diserang kaum ateis baru memang “tidak cakap”, meminjam istilah Buddha. Namun, mereka menolak, pada prinssipnya, untuk berdialog dengan para teolog yang lebih mewakili tradisi arus utama. Sebagai akibatnya, analisi mereka sayangnya menjadi dangkal karena didasarkan pada teologi yang begitu rapuh. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Amstrong dapat bersimpati pada kejengkelan kaum ateis baru karena selama bertahun-tahun dia sendiri pernah berkeinginan untuk tidak punya hubungan apa-apa dengan agama, dan beberapa buku pertamanya jelas-jelas cenderung ke arah Dawkins-esque. Tetapi, pengkajiannya tentang agama-agama dunia selama dua puluh tahun terakhir telah mendorongnya untuk merevisi pendapatnya yang terdahulu. Itu bukan hanya telah membukakan pikirannya pada berbagai aspek agama seperti yang dipraktikkan dalam tradisi-tradisi yang dipandang sebagai iman yang terbatas dan dogmatis dari masa kecilnya, tetapi penilaian yang saksama atas bukti itu telah membuat dia melihat Kekristenan secara berbeda. Salah satu hal yang dia pelajari adalah bahwa bertengkar tentang agama tidak ada manfaatnya dan tidak kondusif bagi pencerahan. Bukan hanya membuat pengalaman religius yang autentik menjadi mustahil, hal itu juga melanggar tradisi rasionalis Socratik. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada bagian pertama buku ini, Armstrong mencoba menunjukkan bagaimana orang-orang berpikir tentang Tuhan di dunia pramodern dalam cara yang, dia harap, memberi kejelasan tentang beberapa isu yang kini dirasa orang-orang bermasalah—kitab suci, inspirasi, penciptaan, mukjizat, wahyu, iman, kepercayaan, dan misteri—dan juga menunjukkan bagaimana agama menjadi kacau. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada bagian kedua, dia menelusuri kebangkitan “Tuhan modern”, yang menggulingkan begitu banyak persangkaan agama tradisional. Ini, tentu saja, tidak dapat menjadi uraian yang lengkap. Arsmtrong berfokus pada Kristen, sebab itu merupakan tradisi yang paling terkena dampak bangkitnya modernitas ilmiah dan juga dihantam pukulan keras dari serangan ateistik baru. Lebih jauh, di dalam tradisi Kristen, dia berkonsentrasi pada tema dan tradisi yang berbicara secara langsung tentang masalah-masalah religius kontemporer kita. &lt;br /&gt;Kita telah terbiasa berpikir bahwa agama harus menyediakan informasi bagi kita. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Tetapi, ini adalah penyimpangan modern. Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tugas agama, sangat mirip dengan seni, adalah membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan: kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan pada ketidakadilan dan kekejaman kehidupan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rasionalitas ilmiah dapat memberi tahu kita mengapa kita menderita kanker, bahkan dapat menyembuhkan kita dari penyakit. Tetapi tidak dapat meredakan kengerian, kekecewaan, dan kesedihan yang datang bersama diagnosis itu, juga tidak dapat membantu kita untuk mati dengan baik. Itu tidak berada dalam wewenangnya. Akan tetapi, agama tidak akan bekerja secara otomatis; ia membutuhkan upaya besar dan tidak akan berhasil jika ia dangkal, palsu, memberhala, atau memperturutkan kehendak sendiri. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agama adalah disiplin amaliah, dan wawasannya tidak berasal dari spekulasi abstrak, tetapi dari latihan spiritual dan gaya hidup yang berdedikasi. Tanpa amalan seperti itu, mustahil untuk memahami kebenaran ajarannya. Hal ini juga berlaku untuk filsafat rasionalisme. Orang-orang datang kepada Socrates bukan untuk belajar sesuatu—dia selalu menekankan bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diajarkan kepada mereka—melainkan untuk mengalami perubahan pikiran. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemahaman agama tidak hanya menuntut upaya intelektual yang berdedikasi untuk melampaui “berhala-berhala pikiran”, tetapi juga gaya hidup penuh kasih yang memungkinkan kita keluar dari prisma kedirian. Logos yang agresif, yang berusaha untuk menguasai, mengontrol, dan membunuh oposisi, tidak dapat membawakan wawasan transenden ini. Pengalaman membukuktikan bahwa ini hanya mungkin jika orang menumbuhkan sikap reseptif, mendengarkan, tidak berbeda dengan cara kita mendekati seni, musik, atau puisi. Agama memerlukan kenosis, “kapabilitas negatif”, “kepasifan yang bijak”, dan hati yang “mengamati dan menerima”. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, &lt;br /&gt;alumnus Tafsir-Hadis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6501774090281918149?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6501774090281918149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6501774090281918149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6501774090281918149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6501774090281918149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/11/agama-itu-seperti-seni.html' title='Agama Itu Seperti Seni'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-MpiuITOpxqQ/TsBO-sDyEvI/AAAAAAAAAms/icbXSSVUocA/s72-c/kaver+masa+depan+tuhan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5743926398304045443</id><published>2011-11-01T19:40:00.000+07:00</published><updated>2011-11-01T19:40:04.090+07:00</updated><title type='text'>Tafsir Sufi sebagai Kritik Sosial</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-X9uKa89jUOo/Tq_ohHRy0iI/AAAAAAAAAmk/uuS1bbcw_D8/s1600/buku_Tafsir-Al-Jailani-.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-X9uKa89jUOo/Tq_ohHRy0iI/AAAAAAAAAmk/uuS1bbcw_D8/s320/buku_Tafsir-Al-Jailani-.jpg" width="219" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Judul: Tafsir Al-Jailani&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Penulis: Syekh Abdul Qadir al-Jailani&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Penerjemah: Aguk Irawan &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Penerbit: Zaman&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Cetakan: I, 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;Tebal: 299 hlm.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Saya baru tahu kalau Syekh Abdul Qadir al-Jailani mempunyai kitab tafsir. Sebelumnya saya hanya tahu kitab-kitabnya mengenai dunia tasawuf, seperti &lt;i&gt;al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Futuhul Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, Jala' al-Khawathir, Sirr al-Asrar, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; Asror Al Asror&lt;/i&gt;. Awal 2009 salah satu penerbit Turki menerbitkan &lt;i&gt;Tafsir al-Jailani&lt;/i&gt;, yang diambil dari manuskrip yang ditemukan di Vatikan Italia, perpustakaan Qadiriyyah, dan India. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tentu saja penerbitan (dan bahkan penemuan) tafsir tersebut saya sambut dengan bahagia, dan kebahagiaan saya berlipat saat penebit zaman menerbitkan edisi bahasa Indonesianya. Para pengkaji tafsir era klasik maupun modern sedikit sekali (untuk mengatakan tidak ada) membahas tafsir Abdul Qadir al-Jailani ini. Husain al-Dzahabi, penulis kitab &lt;i&gt;al-Tafsir wa a-Mufassirun &lt;/i&gt;yang menjadi rujukan para pengkaji tafsir, tidak menyebutkan tafsir ini. Orientalis bernama Ignaz Goldziher, yang juga karyanya (sudah diterjemahkan oleh ke dalam bahasa Indonesia berjudul &lt;i&gt;Mazhab Tafsir; Dari Aliran Klasik Hingga Modern&lt;/i&gt;, Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) dianggap representatif perihal karya dan aliran tafsir luput dari tafsir ini. Ia tidak menyebutkannya.&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Di kalangan umat Islam Indonesia (khususnya NU) sudah tidak asing lagi dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (ada juga yang menyebut “al-Jilani”). Beliau adalah seorang sufi besar asal Jailan, Iran. Namanya selalu disebut—dijadikan wasilah—saat kaum muslim mengadakan tahlilan. Beliau juga pendiri tarekat Qodiriyah. Dengan latar belakang seorang sufi, karya-karya al-Jailani pun sangat kental dengan nuansa kesufian. Termasuk karya tafsirnya ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam buku ini dia mencoba mencari makna Ta’awwudz, Basmalah, Tobat, dan Takwa. Sebagaimana menjadi ciri khas tafsir sufi, tafsir Al-Jailani ini menekankan &lt;i&gt;dzauq&lt;/i&gt; (rasa) dan aspek esoteris (ruhani, batiniah). &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Al-Jailani mampu menyibak “rahasia-rahasia” di balik ayat (literal) yang maknanya tak aus oleh dinamika perubahan zaman. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Misalnya tentang “Ta’awwudz”, Al-Jailani mengatakan bahwa ibadah pada dasarnya perbuatan melawan godaan setan dan hawa nafsu. Perlawanan itu disebut jihad atau mujahadah. Dan inilah sebesar-besarnya jihad, bahkan dari jihad perang sekali pun. Mengapa bisa dikatakan begitu? Al-Jailani memberikan alasan bahwa jihad melawan hawa nafsu bersifat terus-menerus, memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih besar. Sebab, jika nafsu tak diperangi, dikhawatirkan, ketika meninggal, seseorang akan berada dalam kondisi &lt;i&gt;su’ul khatimah&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan manusia untuk memohon perlindungan dari godaan setan. Sedikitnya disebutkan oleh al-Jailani ada 3 ayat yang menunjukkan hal itu sesuai dengan konteksnya masing-masing, yakni surah an-Nahl [16]: 98, Ali Imran [3]: 36, dan al-A’raf [7]: 17. Rasulullah bersabda, “Barang siapa beristiadzah sekali maka Allah akan menjaganya sepanjang hari.” “Tutuplah pintu-pintu kemaksiatan dengan ta’awwudz dan bukalah pintu-pintu ketaatan dengan bismillah.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Yang ditakuti dan diwaspadai setan adalah permohonan perlindungan seorang hamba kepada Allah dan pancaran cahaya makrifat orang-orang &lt;i&gt;‘arif&lt;/i&gt; (orang yang mengenal Allah dengan baik), ujar al-Jailani. Dan itu, apabila tidak termasuk orang yang &lt;i&gt;‘arif,&lt;/i&gt; mohonlah perlindungan sebagaimana isti’adzah orang-orang bertakwa (&lt;i&gt;al-muttaqin&lt;/i&gt;), niscaya derajat terangkat ke tingkatan &lt;i&gt;‘arif&lt;/i&gt; (hlm.17). Dan hanya dengan itulah pancaran cahaya hati dapat mematahkan kekuatan setan, mengalahkan pasukannya, membinasakan para pendukungnya, serta mengikis habis segala rayuannya. Ia bahkan bisa jadi cahaya untuk memenjara setan sehingga tidak mampu lagi menggoda dirimu, saudaramu, dan pengikutmu. (hlm. 19)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Menurut a-Jailani seeorang agar mencapai kebebasan dari godaan setan ada beberapa hal yang harus diamalkan, yakni: selalu mengucap kalimat ikhlas &lt;i&gt;(la ilaha illallah)&lt;/i&gt;dan zikir kepada Allah, memperbanyak bacaan &lt;i&gt;bismillah&lt;/i&gt;, dan membuang hasrat dan keinginan meraih karunia dari para penggemar duniawi. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Penafsiran makna ta’awwudz dengan aroma kesturi sufi ini sungguh relevan dalam kondisi zaman saat ini. Karena jika ditilik kepada situasi kondisi sosial al-Jailani hidup, nampaknya tidak jauh beda dengan saat ini, yakni krisis dalam pelbagai dimensi kehidupan, meski kehidupan sudah modern di zamannya pada saat itu. Dan untuk itulah barangkali al-Jailani membuat tafsirannya bercorak sufistik yang lebih mengedepankan hal-hal dasar dan esoteris. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Inilah karya al-Jailani dalam bidang tafsir yang boleh jadi sebagai kritik sosial atas zamannya. Dan saya kira buku ini menemukan relevansinya pada saat ini, di mana kekuasaan dan uang sebagai panglima. Oleh karena itu sangat layak dibaca dan dijadikan tafsir alternatif, di tengah serbuan tafsir yang mengedepankan sisi hukum “kapitalistik” yang tidak menyentuh ke sisi batiniah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;i&gt;Wa ila hadroti Sulthonil Auliya’ Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani, lahu alfatihah.[]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;M. Iqbal Dawami, pencinta buku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5743926398304045443?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5743926398304045443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5743926398304045443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5743926398304045443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5743926398304045443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/11/tafsir-sufi-sebagai-kritik-sosial.html' title='Tafsir Sufi sebagai Kritik Sosial'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-X9uKa89jUOo/Tq_ohHRy0iI/AAAAAAAAAmk/uuS1bbcw_D8/s72-c/buku_Tafsir-Al-Jailani-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-521013072779006070</id><published>2011-10-30T05:15:00.000+07:00</published><updated>2011-10-30T05:15:08.745+07:00</updated><title type='text'>Mendidik ala China</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZEsVj1OD_PE/Tqx6xCAJj-I/AAAAAAAAAmE/74zO4llXLuo/s1600/bhtm.jpg.scaled500.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZEsVj1OD_PE/Tqx6xCAJj-I/AAAAAAAAAmE/74zO4llXLuo/s320/bhtm.jpg.scaled500.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Battle Hymn of The Tiger Mother&lt;br /&gt;Penulis: Amy Chua&lt;br /&gt;Penerjemah: Maria Sundah&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal: 237 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Amerika gempar saat buku ini terbit. Padahal isinya “hanya” kisah pribadi dan menceritakan perjalanan hidup penulisnya dalam mendidik kedua putrinya yang bernama Sophia dan Lulu. Hanya saja penulis buku ini tidak sembarang mendidik. Cara mendidik kedua anaknya terbilang ekstrem. Terlebih dilihat dari kacamata masyarakat Barat. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penulis buku ini, Amy Chua, adalah seorang akademisi keturunan China yang menikah dengan keturunan Yahudi. Keduanya sepakat kalau anaknya akan dididik secara China. Amy mengatakan bahwa cara-cara seorang ibu Amerika dalam mendidik anak sangat jauh berbeda dengan cara-cara seorang ibu dari warga negara keturunan China. Seorang ibu keturunan China, seperti Amy, akan sangat memaksa agar anak-anaknya memperoleh nilai A, belajar piano dan biola dan menjadi nomor 1 di kelasnya untuk segala bidang. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sang ibu dari keturunan China akan sangat cerewet, galak dan keras kepada anak-anaknya untuk mengejar target tersebut. Tidak ada kesempatan bagi sang anak dalam keluarga ini, untuk misalnya bermain game dan menonton Televisi. Filosofinya, seorang anak akan menjadi hebat kalau terus menerus tekun belajar.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini menginisiasi perdebatan dalam cara orangtua Amerika mendidik anak-anaknya, untuk menghadapi persaingan di masa mendatang. Banyak anak-anak di Amerika dibebaskan oleh orangtuanya untuk seharian bermain game, menonton televisi, tidak pernah belajar dan terkadang hidup dengan berpesta dan melakukan seks bebas. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Amy menceritakan bagaimana dirinya dulu dididik dengan sangat keras oleh orangtuanya. Berkat kesuksesannya saat ini tidak lepas dari campur tangan orangtuanya dalam mendidiknya. Nah, Amy ingin pula menerapkan pada kedua anaknya. Ia menerapkan aturan yang sangat ketat serta mengatur segala hal dalam kehidupan anak-anaknya. Cerita-cerita lain yang ia lakukan terhadap dua putrinya cukup menakutkan dan membuatnya mendapat julukan "tiger mom".&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Amy menggambarkan bagaimana ia mengharuskan kedua putrinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV, dan banyak lagi hal yang biasa diizinkan oleh ibu Amerika. Anaknya harus mendapat nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua sebagai ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Tapi Amy menolak disebut monster yang tanpa kasih sayang kepada anak-anaknya. Ia cuma tidak mau menjadikan anak-anaknya orang-orang lemah yang berkembang menjadi pecundang dalam kehidupan yang penuh persaingan. Ia dulu malah mengalami pendidikan yang lebih keras dari ibu-bapaknya. Kini, Sophia, anak pertamanya menjadi pianis yang adi luhung dari usia 14 tahun, sedang Lulu, anak kedunya, pemain biola berbakat. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini meroket ke puncak buku terlaris di New York Times Bestsellers’ list, bahkan menduduki rangking nomor 2 terpopuler, versi koran tersebut, untuk kategori non-fiksi. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini menjawab rasa penasaran saya dengan prestasi China dalam segala bidang, terutama olahraga dan musik. Membaca buku ini saya menjadi tahu apa yang dilakukan orangtua China sampai-sampai berhasil menjadikan begitu banyak juara dalam cabang olahraga, matematika, dan musik.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, pengamat pendidikan.&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-521013072779006070?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/521013072779006070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=521013072779006070' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/521013072779006070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/521013072779006070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/10/mendidik-ala-china.html' title='Mendidik ala China'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZEsVj1OD_PE/Tqx6xCAJj-I/AAAAAAAAAmE/74zO4llXLuo/s72-c/bhtm.jpg.scaled500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5572910545802122115</id><published>2011-10-30T05:12:00.000+07:00</published><updated>2011-10-30T05:12:29.103+07:00</updated><title type='text'>Bukan Sekadar Panduan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fclm9S2FW6Q/Tqx553Od9qI/AAAAAAAAAl8/tA8QAcs1NDY/s1600/Resensi-Buku_COVER-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-fclm9S2FW6Q/Tqx553Od9qI/AAAAAAAAAl8/tA8QAcs1NDY/s320/Resensi-Buku_COVER-2.jpg" width="207" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Berguru Pada Pesohor; Panduan Wajib Menulis Resensi Buku&lt;br /&gt;Penulis: Diana AV Sasa&amp;amp;Muhidin M Dahlan&lt;br /&gt;Penerbit: 1#dbuku&lt;br /&gt;Cetakan: I, April 2011&lt;br /&gt;Tebal: 266 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bingung dan tidak tahu bagaimana meresensi buku? Bacalah buku ini! Ingin tahu rekam jejak sejarah resensi di Indonesia? Bacalah buku ini. Ya, buku ini mengandung dua hal itu. Jadi, boleh dikata buku ini merupakan kiat meresensi buku plus-plus. Kita tidak hanya diberi tahu bagaimana cara meresensi buku, tetapi juga informasi pelbagai kisah dunia resensi tempo doeloe di Indonesia. Gabungan keduanya menjadikan unik dan istimewanya buku ini. Haqqul yaqin, suatu hal yang tidak bisa ditemukan dalam buku-buku sejenisnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku yang ditulis oleh dua orang ini diawali dengan “iming-iming” apa manfaat dan keuntungan meresensi buku, dilihat dari sisi psikologi, jaringan, ekonomi, dan keilmuan. Meresensi memberi suntikan spiritualitas bagi penulisnya (psikologi), mengetahui bagaimana cara menulis buku (keilmuan), di samping mendapatkan kemasyhuran (jaringan), dan meraup rupiah (ekonomi). &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah itu, dijelaskan syarat sah dan rukun meresensi buku. Syarat sahnya cuma satu, yakni membaca. Ya, membaca buku yang hendak diresensi. Membaca hukumnya fardhu ‘ain. “Membaca bagi peresensi adalah pekerjaan mutlak. Bukan peresensi buku kalau tak membaca buku yang diresensinya.” (hlm. 23). Membaca tidak sembarang membaca. Membaca seorang peresensi itu membaca tingkat tinggi. Kedua penulis ini mengibaratkan mata baca seorang peresensi buku itu gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Satu sisi memuji, sisi lain mengeritik. Tangan kanan memberikan madu, tangan kiri menyuguhkan racun. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedang rukun meresensi buku yakni membuat judul menggugah, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, dan mengunci paragraf terakhir. Ada beberapa jenis judul yang kerap muncul di media massa yang bisa kita tiru, di antaranya: sarkastis; “Aku Menuduh Hamka Plagiat!” (Abdullah SP, Bintang Timur, 7 September 1962), ironi; “Cina, Komunis yang Pro-Adam Smith” (Elba Damhuri, Republika, 23 November 2008), dan tindakan tokoh; “Menyelami Pikiran Kiki Syahnakri” (Moh. Samsul Arifin, Jawa Pos, 18 Januari 2009). &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada juga yang membuat judul dari segi waktu; “Hikayat Orang Indonesia di Negeri Belanda” (Ahmad Musthofa Haroen, Ruang Baca Koran Tempo, 4 Desember 2008), penulis; “Mencederai Kundera” (Nirwan Dewanto, Tempo, 22 Januari 2001), pertanyaan; “Siapa di Balik Kematian Tan Malaka?” (Yunior Hafidh Hery, Suara Pembaruan Online, 15 April 2007), metafora; “Menulis itu Seperti Para Darwis yang Menari sampai Trance” (Muhidin M Dahlan, Kompas, 1 Juli 2001), dan lain-lain. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak jarang orang masih bingung dan kesulitan bagaimana membuat kalimat pertama yang kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Tidak hanya itu, bagaimana membuat paragraf pertama yang membuat orang “jatuh cinta” pada pandangan pertamanya. Ya, paragraf pertama menurut penulis buku ini ibarat halaman rumah. Halaman harus asri nan elok dan memikat; tidak hanya bersih tapi juga harus sesuai “fengshui”-nya, agar orang merasa nyaman saat hendak memasuki rumahnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pembahasan ini menjadi penting, karena ternyata dibutuhkan keahlian dalam membuka paragraf pertama. Penulis buku ini mengumpulkan model-model paragraf pertama yang kerap dipakai oleh para peresensi di pelbagai media massa, yaitu model tema dan metode, pertanyaan, penulis buku, gaya penulisan, deskripsi, kisah yang paling menarik, fisik buku, kritik, kutipan, keunggulan buku, perbandingan, angka unik, dan puisi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak ada alasan lagi bukan untuk merasa kesulitan membuka paragraf pertama?&lt;br /&gt;Tentu saja ada hal yang lebih penting lagi yaitu membuat tubuh resensi. Pembuatannya haruslah fokus, mengarah pada satu sasaran. Tubuh resensi bisa difokuskan pada soal jenis buku (Saleh A. Djamhari, Tempo, 04 Maret 1989), metode penulisan (Muhidin M Dahlan, Jawa Pos, 21 September 2008), tema (Redaksi, Tempo, 21 November 1992), bagian vital (Gatot Widayanto, Ruang Baca Koran Tempo, 28 Desember 2010), atau juga kisah pribadi peresensi yang dikaitkan dengan buku yang diresensinya (Hasan Aspahani, Ruang Baca Koran Tempo, 25 Februari 2009). Dan masih banyak lagi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah menyelesaikan tubuh resensi, kini tinggal mengunci paragraf terakhir. Paragraf ini berisikan tiga hal: pertama, kepada siapa buku tersebut ditujukan. Rincinya, buku tersebut pas untuk pembaca seperti apa, dilihat dari tema, isi, penyajian, atau bahkan nilai ekonomis. Kedua, kritikan. Hal ini bisa mengeritik pendekatan, terjemahan, desain, riset naskah, maupun tata bahasa. Ketiga, pujian, bisa memuji pendekatan, terjemahan, dan lainnya sebagaimana mengeritik. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rukun yang terakhir adalah proses akhir penulisan resensi. Jika resensi sudah selesai, tugas selanjutnya adalah pengendapan. Silakan Anda beristirahat sampai pikiran Anda jernih kembali, entah itu tidur, jalan-jalan, maupun kegiatan lainnya. Nah, setelah segar, silakan lihat kembali resensi Anda secara keseluruhan untuk direvisi, siapa tahu ada yang harus dibenahi. Kedua penulis ini menyarankan dua hal dalam proses editing: membaca dengan mengeluarkan suara dan meminta orang lain untuk membacakannya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagaimana dikatakan di muka bahwa buku ini sejatinya bukan sekadar panduan meresensi buku, tetapi juga tempias dengan kisah-kisah seputar dunia resensi. Misalnya, resensi pembunuh buku yang legendaris yaitu resensi Puradisastra berjudul “Dari Barat, atau Islam?” (Tempo, 16 september 1978). Resensi tersebut membuat bukunya ditarik kembali dari pasaran. Atau resensi “Aku Menuduh Hamka Plagiat” (Bintang Timur, 7 September 1962) karya Abdullah SP. Resensi ini menyulut kontroversial selama bertahun-tahun. Data historis semacam itu menjadi kelebihan tersendiri buku ini. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini merupakan sumbangsih yang amat berharga bagi siapa saja yang mau belajar menulis resensi buku. Sebuah buku yang pantas dibaca juga bagi insan-insan peresensi buku, umumnya pencinta buku. Akhirul kalam, janganlah putus asa dan merasa tak punya bakat meresensi sebelum membaca buku ini. Iqra![] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami, peresensi buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5572910545802122115?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5572910545802122115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5572910545802122115' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5572910545802122115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5572910545802122115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/10/bukan-sekadar-panduan.html' title='Bukan Sekadar Panduan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fclm9S2FW6Q/Tqx553Od9qI/AAAAAAAAAl8/tA8QAcs1NDY/s72-c/Resensi-Buku_COVER-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4853107220254143889</id><published>2011-10-29T14:00:00.000+07:00</published><updated>2011-10-29T14:00:32.956+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Bangsa Jepang</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qZ_zRisUb3g/TqujmCpexNI/AAAAAAAAAl0/sFVikCyh2Rk/s1600/kaver_ganbatte.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="http://4.bp.blogspot.com/-qZ_zRisUb3g/TqujmCpexNI/AAAAAAAAAl0/sFVikCyh2Rk/s200/kaver_ganbatte.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Judul: Ganbatte! Meneladani Karakter Tangguh Bangsa Jepang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penulis: A.A. Azhari&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penerbit: Grafindo&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Cetakan: I, Juni 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Tebal: 238 hlm.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Sedari dulu kita sudah mafhum kalau bangsa Jepang memang sungguh digdaya. Hampir semua lini mengalami kemajuan, dari waktu ke waktu. Dari teknologi, budaya, ekonomi, hingga sastra. Mereka sudah bisa bersaing dengan Barat. Salah satu faktornya sebagaimana dibahas dalam buku ini, yakni semangat belajar atau menuntut ilmu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Sudah sejak Restorasi Meiji, bangsa Jepang mendapat mandat untuk menuntut ilmu sampai kemana pun untuk meraih kemajuan. Mereka rela melakukan apa pun demi meraih ilmu. Tidak heran di Jepang ada pepatah: &lt;i&gt;sinu made, benkyo &lt;/i&gt;(sampai mati, harus belajar).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Karena itu, orang Jepang sangat gemar membaca. Mereka membaca selain untuk menambah ilmu, juga buat hiburan yang mengurangi stress. Di mana pun orang Jepang dapat membaca, termasuk di dalam kereta dan bus. Menurut Simon J. sibarani, seorang konsultan sumber daya manusia yang beberapa kali ke Jepang, di sana pengarang atau penulis buku termasuk kelompok masyarakat yang ekonominya paling makmur karena buku sangat laku. Maka, harga buku pun bisa murah dan terjangkau. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;A.A. Azhari, penulis buku ini pernah mengunjungi daerah Kanda-Jimbocho. Kanda-Jimbocho adalah kawasan buku yang dimulai pada masa Restorasi Meiji tahun 1889-an. Sejumlah besar toko di Kanda-Jimbocho telah ada selama dua atau tiga generasi. Toko-toko buku tersebut memiliki jaringan yang kuat dengan usaha sejenis di berbagai negara. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Dan tradisi penerjemahan di Jepang sudah ada jauh sebelum Restorasi Meiji. Pada tahun 1684 dibentuk lembaga penerjemahan kekaisaran. Tugasnya menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Jepang. Namun, sebelum Restorasi Meiji masih sangat sedikit orang Jepang yang mempelajari bahasa asing, apalagi diperbolehkan ke luar negeri, sehingga penerjemahan pun terbatas. Setelah Restorasi Meiji, khususnya pada abad ke-19, penerjemahan di Jepang makin luas dan meningkat sampai saat ini. Tidak heran jika terdapat sebuah buku terbit di Barat, di Jepang dalam sepekan saja sudah tersedia terjemahannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Ini bermula dari kesadaran yang dini. Bangsa Jepang sudah sadar dari awal kalau mereka tertinggal dalam ilmu pengetahuan dibanding Barat. Karena itu, mereka rela meniru produk-produk Barat dan mencari tahu ilmu itu. Sejak Restorasi Meiji 1868 banyak pelajar dikirim ke luar negeri untuk mempelajari aneka ilmu yang diterapkan di Jepang. Memang, Jepang bukan bangsa penemu, namun mereka mampu menyempurnakannya. Saat di dunia Barat telah ditemukan radio, televisi, tape rekoder, dan sebagainya, bangsa Jepang pun membelinya. Tapi tak sekadar membeli, mereka meniru dan membuat barang serupa lebih bagus, bahkan lebih canggih lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Azhari memberi contoh perusahaan Sony. Perusahaan elektronik itu memproduksi &lt;i&gt;walkman &lt;/i&gt;yang membuat siapa saja dapat menikmati musik sambil jalan-jalan. &lt;i&gt;Walkman &lt;/i&gt;sekadar memodifikasi dari tape rekorder ukuran besar yang telah diproduksi di negara-negara industri lain. Itu membuktikan, Jepang tidak sekadar mengikuti trend atau selera pasar, tapi juga menciptakan trend dan pasar sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Tak heran Jepang menguasai ilmu dan teknologi. Kemampuan mereka membuat produk &lt;i&gt;made in Japan &lt;/i&gt;yang berkualitas adalah berkat usaha keras dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dasar, seperti fisika, matematika, kimia, dan biologi. Penguasaan ilmu-ilmu dasar itu membuat Jepang unggul dalam ilmu-ilmu terapan di bidang elektronika, robotika, serta &lt;i&gt;home-entertainment and appliance.&lt;/i&gt; Sebagai akibatnya, tidak mengherankan jika Jepang memegang peranan yang penting dalam menentukan ekonomi dunia. Jumlah ekspor hasil produk teknologinya boleh dikatakan mendominasi pasaran dunia terutama dalam bidang elektronika. Sebut saja merek-merek kelas dunia &lt;i&gt;made in Japan&lt;/i&gt; seperti Sony, Panasonic, Mitsubishi, Honda, Toyota, Suzuki, Madza, Nissan, Isuzu, Hino, Nikon, Canon, Yamaha, Toshiba, dan Sanyo. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;Filosofi Ganbatte&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Ada satu falsafah Jepang yang menjadi ruh bangsanya, yaktu Ganbatte. Ganbatte mengumpulkan tiga arti, “lakukan sebaik mungkin”, “jangan menyerah”, dan “berikan usaha terbaik”. Kata dasar ganbatte adalah ganbaru. Jika dalam pergaulan sehari-hari khususnya pada teman dekat banyak diucapkan, “Ganbare!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Filosofi ganbatte sungguh dahsyat. Kata ini sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Ganbaru sendiri artinya “berusaha keras pada tugas sampai tugas itu selesai”, dengan kata lain “berusaha keraslah hingga mencapai sukses”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Sejak kecil, anak-anak di Jepang sudah diajarkan tentang filosofi ganbaru ini. Kalau mengikuti lomba, mereka saling berkata, “Ganbaru!” kalau mau ujian, mereka juga berkata, “Ganbaru!” mau ke sekolah, bekerja, mereka saling berkata, “Ganbaru!” Ganbaru menyuruh bangsa Jepang tidak mudah menyerah sampai detik-detik terakhir. &lt;i&gt;“Doko made mo nintai shite doryoku suru.” &lt;/i&gt;(Bertahan sampai ke mana pun juga dan berusaha habis-habisan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Itulah mengapa Jepang menjadi raksasa mendunia saat ini. Mereka menjadi bangsa yang kuat baik dalam meraih impiannya maupun dalam gempuran pelbagai cobaan, seperti gempa bumi, tsunami, bahkan bom atom sekalipun. Saatnya bangsa Indonesia belajar dari bangsa Jepang. Sekarang juga.[]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;M. Iqbal Dawami&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Pencinta buku, penulis &lt;i&gt;Sang Pengubah Mitos&lt;/i&gt; (2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4853107220254143889?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4853107220254143889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4853107220254143889' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4853107220254143889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4853107220254143889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/10/belajar-dari-bangsa-jepang.html' title='Belajar dari Bangsa Jepang'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qZ_zRisUb3g/TqujmCpexNI/AAAAAAAAAl0/sFVikCyh2Rk/s72-c/kaver_ganbatte.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6034339097591807548</id><published>2011-09-23T14:58:00.000+07:00</published><updated>2011-09-23T14:58:15.036+07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Internet Terhadap Dunia Literasi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-D_4_2JXQ_rY/Tnw78l28tCI/AAAAAAAAAlw/GLz_fehcEDY/s1600/kaver_the-shallows.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-D_4_2JXQ_rY/Tnw78l28tCI/AAAAAAAAAlw/GLz_fehcEDY/s320/kaver_the-shallows.jpg" width="221" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: The Shallows; Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?&lt;br /&gt;Penulis: Nicholas Carr&lt;br /&gt;Penerjemah: Rudi Atmoko&lt;br /&gt;Penerbit: Kaifa&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal: 279 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Shallows secara harfiah menyiratkan orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh internet. Kalangan ini lalu dicirikan sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan lama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang lama dan yang bertele-tele sudah tidak mendapat tempat lagi. Begitu komentar Ninok Leksono, rektor Universitas Multimedia Nusantara, atas buku ini. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nicholas Carr, penulis buku ini merasakan beberapa tahun merasa seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak dan memetakan kembali sirkuit saraf, serta memprogram ulang memorinya. Pikirannya tidak hilang namun berubah. Cara berpikirnya tidak seperti dulu lagi. Dia merasakan terutama saat membaca. Dia bercerita kalau dulu dia begitu mudah tenggelam ke dalam buku atau artikel yang panjang. Pikirannya akan hanyut ke dalam seluk-beluk cerita atau pendapat, dan dia biasa menghabiskan berjam-jam untuk membolak-balik lembaran prosa. Kini, tidak demikian. Konsentrasinya mulai hilang setelah satu atau dua halaman. Dia mulai gelisah, kehilangan fokus, dan mulai mencari-cari aktivitas lain. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lain semua itu disebabkan Internet, ujar Carr. Internet memang menjadi media serbaguna, saluran bagi sebagian besar informasi yang mengalir melalui mata dan telinga ke pikiran kita. Anugerah tersebut memang benar. Namun ada harga yang harus dibayar. Internet mengikis kemampuan kita berkonsentrasi dan merenung. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat kita bermain-main internet selama beberapa jam, kita merasa pikiran kita begitu gembira, kita merasa seperti lebih pintar. Perasaan ini begitu memabukkan sehingga bisa membuat kita tak memedulikan dampak kognitif yang lebih dalam dari Internet. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Carr mengisahkan bahwa selama lima abad terakhir, semenjak mesin cetak Gutenberg membuat membaca buku menjadi sebuah keasyikan umum, pikiran linear dan sastra telah menjadi inti dari seni, ilmu, dan masyarakat. Dengan lentur dan lembut, pikiran semacam ini telah menjadi pikiran imajinatif di Masa Renaisans, pikiran rasional di Masa Pencerahan, pikiran inventif di Masa Revolusi Industri, dan pikiran memberontak di Masa Modernisme. Tidak lama lagi pikiran linear mungkin akan menjadi pikiran yang ketinggalan zaman. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Otak menuntut untuk diberi makan seperti yang dilakukan Internet—dan semakin banyak otak diberi makan, semakin lapar dia. Bahkan ketika kita jauh dari komputer, kita rindu sekali untuk memeriksa e-mail, mengklik link, dan googling. Kita ingin terhubung. Seperti halnya Microsoft Word telah mengubah kita menjadi pengolah kata yang memiliki daging dan darah. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Uskup Zaman Pertengahan bernama Isaac, dari Suriah, menjelaskan bagaimana, setiap kali dia membaca, “bagaikan di alam mimpi, saya memasuki kondisi saat indra dan pikiran saya menyatu. Lalu, seiring semakin lamanya keheningan ini kekacauan ingatan di dalam hati saya lenyap, gelombang kegembiraan yang terus-menerus bergolak dikirimkan kepada saya oleh pikiran dalam, yang di luar dugaan tiba-tiba hadir untuk membahagiakan hati saya.” Membaca buku adalah sebuah tindakan perenungan, namun tidak melibatkan pengosongan pikiran. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemajuan teknologi buku mengubah pengalaman personal membaca dan menulis. Kemajuan ini juga memiliki dampak sosial. Dengan cara yang tak kentara maupun yang mencolok mata, budaya yang lebih luas mulai terbentuk dari praktik membaca buku tanpa bersuara. Hakikat pendidikan dan keilmuan berubah, saat universitas mulai menekankan membaca secara pribadi sebagai pelengkap penting dalam ceramah di kelas. &lt;br /&gt;Saat nenek moyang kita menenggelamkan pikiran mereka secara disiplin untuk mengikuti sebaris pendapat atau cerita melalui rangkaian halaman cetak, mereka menjadi lebih kontemplatif, reflektif, dan imajinatif. Heningnya membaca secara mendalam menjadi bagian dari pikiran.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku-buku yang dianggap paling berpengaruh dari abad kesembilan belas adalah On the Origin of Species karya Darwin. Sedang di abad kedua puluh, etika sastra mengalir melalui buku-buku yang sangat beragam seperti Relativity karya Einstein, General Theory of Employment, Interest and Money karya Keynes, Structure of Scientific Revolutions karya Thomas Khun, dan Silent Spring karya Rachel Carson. Semua prestasi intelektual penting ini takkan mungkin terwujud tanpa adanya perubahan dalam aktivitas membaca dan menulis—dan memahami dan berpikir—yang didorong oleh reproduksi efisien atas bentuk tulisan pada halaman cetak yang panjang. Semua karya yang disebut di atas adalah hasil deep reading (membaca secara mendalam). Bisakah jaman “Internet” ini menghasilkan karya-karya semacam itu? &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini layak dibaca untuk mengetahui dampak Internet atas cara berpikir kita dan mewaspadai agar kita tidak dikendalikan oleh Internet, melainkan sebaliknya, mengendalikannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah sajak yang digubah Wallace Stevens mengemukakan penggambaran yang amat mengena mengenai pentingnya membaca secara mendalam: Rumah ini hening dan dunia ini tenang.//Pembaca menjadi buku; dan malam musim panas//Seperti nyawa buku itu.//Rumah ini hening dan dunia ini tenang.//Kata-kata diucapkan seolah tidak ada buku,//Kecuali jika pembaca membungkuk di atas halaman,//Ingin membungkuk, sangat ingin menjadi//Cerdik pandai yang baginya bukunya adalah kebenaran, yang baginya//Malam musim panas seperti kesempurnaan malam.//Rumah ini hening karena memang harus begitu.//Keheningan adalah bagian dari makna, bagian dari pikiran://Jalan kesempurnaan menuju ke halaman.[]&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;M. Iqbal Dawami, aktif&amp;nbsp; di dunia literasi, tinggal di Yogyakarta   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6034339097591807548?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6034339097591807548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6034339097591807548' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6034339097591807548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6034339097591807548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/09/pengaruh-internet-terhadap-dunia.html' title='Pengaruh Internet Terhadap Dunia Literasi'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-D_4_2JXQ_rY/Tnw78l28tCI/AAAAAAAAAlw/GLz_fehcEDY/s72-c/kaver_the-shallows.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-3020027622281499047</id><published>2011-09-23T07:55:00.000+07:00</published><updated>2011-09-23T07:55:43.239+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Kehidupan Sehari-Hari</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-U0kRW8tacjQ/TnvYwBEpGuI/AAAAAAAAAls/LUL0VHYpR1Y/s1600/kaver_merajut+kata-kata.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="309" src="http://3.bp.blogspot.com/-U0kRW8tacjQ/TnvYwBEpGuI/AAAAAAAAAls/LUL0VHYpR1Y/s320/kaver_merajut+kata-kata.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: Merajut Kata-Kata&lt;br /&gt;Penulis: Stephie Kleden-Beetz&lt;br /&gt;Penerbit: Kanisius&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal: 159 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merefleksikan hidup sungguh mulia. Refleksi itu mampu menyadarkan diri kita kepada hakikat, baik hakikat kita sebagai hamba Tuhan, maupun sebagai makhluk sosial (homo hominilupus) dan berpikir. Meski begitu, tak banyak orang melakukannya. Entah karena sibuk, maupun tak bisa menyempatkan diri untuk bertafakur. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena itu apa yang dilakukan Stephie Kleden yang terejawantahkan dalam buku ini sungguh terpuji, di mana ia melakukan kerja refleksi atas apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi apa yang direfleksikannya pernah kita alami juga, hanya saja kita tak pernah merefleksikannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam judul “Ajaib”, misalnya, Kleden bercerita perihal menu makan yang super lezat dan bergizi di meja makannya. Menu lezat di meja makan membuatnya&amp;nbsp; merenung. Berapa ribu tangan yang harus bekerja sebelum nasi ini terhidang di atas meja makan. Berapa banyak nelayan yang tekun menanti ikan sebelum ikan goreng ini bisa dinikmati. Tentu petani sayur harus menanam, menunggu dengan sabar, menyiangi, memanen, memikulnya ke pasar, dan sekarang sayur ini tersaji di meja. Jangan lupa pula garam. Tanpanya, semua hambar. Betapa panjang jalannya sebelum tiba di dapur (hlm. 8-9).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jarang sekali orang bisa berpikir sampai kesitu, terlebih di lingkungan yang serba hedonis dan kemurungsung (tergesa-gesa). Apa yang kita santap di meja makan sesungguhnya melibatkan banyak orang. Bahkan, tidak hanya itu, hampir di semua bidang melibatkan banyak sentuhan manusia. Barangkali pesan yang hendak disampaikan lewat refleksi “hidangan di meja makan” tersebut adalah bahwa kita harus mampu menghargai dan mensyukuri atas apa yang kita dapatkan. Tanpa ada petani, peternak, pedagang, dan sebagainya, kita tidak bisa menyantap makanan. Maka dari itulah kita harus pandai berterima kasih. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Refleksi Stephie juga menyentuh pada dimensi spiritual. Misalnya, tentang gelas kepunyaannya. Gelas itu dibuatnya sendiri di pabrik gelas di Cekoslovakia. Ketika dibawa ke Malang, gelas itu pecah. Stephie Sedih. Dan akal sehatnya mencoba menghibur. “Ah, tak perlu berlama-lama menyesal, karena siapa tahu dengan pecahnya gelas tersebut kita diingatkan bahwa semua di bumi ini fana adanya, maka kita senantiasa diajak untuk mencari yang abadi, yaitu Allah Pencipta. Memang gelas bisa dibeli di mana saja, tetapi berbeda, karena setiap benda punya riwayat dan menyimpan kenangan tersendiri,” ujar Stephie (Hlm. 30). Dia juga menyitir pepatah Jerman: Glueck und Glas wie leicht bricht das (Kebahagiaan dan kaca betapa mudah pecah).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Usaha refleksi Stephie sesungguhnya memberikan faedah yang luar biasa, salah satunya adalah membuat kita tetap waras dalam mengarungi hidup ini. Bayangkan setiap hari kita selalu disuguhkan pelbagai peristiwa baik secara langsung bergesekan dengan diri sendiri maupun tidak. Dan peristiwa itu memancing kita untuk bereaksi, apakah secara positif, negatif, maupun biasa-biasa saja. Namun, dengan merefleksikan peristiwa tersebut akan selalu membuat kita sadar, bahwa sesungguhnya semua peristiwa itu membawa pesan, hikmah, serta pelajaran. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka saya mengamini komentar Martin L. Sinaga dalam Kata Pengantar buku ini bahwa keunikan tulisan Stephie adalah mempunyai pesan mendalam dan baru. Tulisannya tampak seperti kupu-kupu, yang hanya bisa terbang atau bernas kalau ia menempuh momen bergulat dalam kepompong kehidupan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku yang terdiri dari tiga bab ini, yaitu Rasa, Pikir, dan Hidup, banyak kisah memukau yang menjalin jalan ke dalam hati saya. Saya tersentuh. Buku ini seolah mengajak saya untuk beristirahat sejenak, merenung, dan bersyukur atas karunia hidup ini, contemplatio ad amorem—permenungan yang sampai menyentuh perasaan syukur dan cinta.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Membacanya dari halaman ke halaman, ada ekstase untuk terus mereguknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-3020027622281499047?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/3020027622281499047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=3020027622281499047' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3020027622281499047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3020027622281499047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/09/refleksi-kehidupan-sehari-hari.html' title='Refleksi Kehidupan Sehari-Hari'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-U0kRW8tacjQ/TnvYwBEpGuI/AAAAAAAAAls/LUL0VHYpR1Y/s72-c/kaver_merajut+kata-kata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4041497344767761554</id><published>2011-09-23T07:47:00.000+07:00</published><updated>2011-09-23T07:47:17.726+07:00</updated><title type='text'>Pengusaha Sukses Wanita Muda</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PqjKE72a7Bs/TnvW4CDfDPI/AAAAAAAAAlo/hlAC1jhM-wk/s1600/kaver.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-PqjKE72a7Bs/TnvW4CDfDPI/AAAAAAAAAlo/hlAC1jhM-wk/s320/kaver.jpg" width="230" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul: A Gift A Friend; Dari Sekolah Ke Dunia Bisnis&lt;br /&gt;Penulis: Merry Riana &amp;amp; Alva Tjenderasa&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal: 255 hlm.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di usia yang masih muda (26 tahun), Merry Riana telah mencapai banyak kesuksesan, bahkan lebih daripada yang pernah dicoba untuk dilakukan oleh orang-orang yang usianya dua kali lipat darinya. Dia telah memenangkan berbagai penghargaan dan memecahkan rekor industri dari waktu ke waktu. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, Merry telah mengembangkan organisasinya, MRO (Merry Riana Organization), sehingga sekarang beranggotakan lebih dari 50 orang. Semua anggotanya adalah profesional muda yang luar biasa, yang percaya akan visinya dan telah bekerja bersama dengannya untuk mencapai impian mereka bersama. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada saat ini Merry memiliki dan mengelola beberapa bisnis di industri yang berbeda, yaitu di bidang jasa keuangan, bidang seminar &amp;amp; pelatihan, dan bidang nonprofit. Melalui organisasinya, MRO, Merry memperluas jangkauannya bahkan sampai lebih dari bisnis-bisnisnya saat ini, dengan menggunakan semangat, hasrat, dan keahlian bisnis yang sama, yang telah membuat usaha-usaha sebelumnya sukses di Asia. MRO berbasis di Singapura, tempat dia saat ini berada. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melalui buku ini Merry Riana hendak menghilangkan persepsi bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai di usia muda. Merry percaya bahwa koneksi yang tepat dapat mempercepat pencapaian tujuan. Dia membangun jaringan koneksinya untuk membantu perkembangan bisnisnya sehingga dapat menciptakan kesuksesan seumur hidup. Jaringan koneksi ini membantunya menggapai kesempatan-kesempatan emas. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Merry mulai berangan-angan mengenai masa depannya ketika sedang kuliah. Merry sadar bahwa dirinya sudah hampir berumur 20 tahun dan orangtuanya sudah berada di usia 50-an. Melihat bagaimana mereka masih harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, menyimpan uang yang cukup untuk hari tua mereka, membuat Merry berpikir. Jika dirinya sukses suatu hari nanti, dia ingin sukses ketika masih muda, sebelum ulang tahun ke-30, bukan ketika dia berumur 40-50 tahun. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teman-temannya mengira dirinya sudah gila ketika dia memberitahu mereka mengenai ide berwirausaha setelah dia lulus. Sebagian besar mereka, yang tidak begitu akrab dengannya, berpikir bahwa dia terpaksa menjadi seorang pengusaha karena dia tidak mendapatkan lowongan pekerjaan yang baik. Mereka yang mengenalnya lebih dekat mengerti bahwa alasan dia memilih jalan kewirausahaan adalah karena impiannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Merry berpikir bahwa untuk membangun suatu bisnis yang sukses, dia harus memiliki komponen 3 C: Capital (Modal), Contacts (Koneksi), dan Capability (Keahlian). Dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam buku ini, Anda akan dapat meniru kesuksesan yang telah Merry capai dalam hidup, dengan cara yang mudah dan pasti.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tujuan buku ini adalah membagi pengalamannya tentang perbedaan apa yang mengubah hidup dia menjadi lebih baik. Harapannya yang terdalam, Anda bisa menemukan strategi dan filosofi yang dibagikan dalam halaman-halaman buku ini dan menguatkan Anda sebagaimana strategi dan filosofi itu telah menguatkannya. Kekuatan yang secara ajaib dapat mengubah hidup menjadi impian terbesar sedang menunggu kita. sekaranglah waktu untuk mewujudkannya. Dan itu dimulai dengan membaca buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4041497344767761554?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4041497344767761554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4041497344767761554' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4041497344767761554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4041497344767761554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/09/pengusaha-sukses-wanita-muda.html' title='Pengusaha Sukses Wanita Muda'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PqjKE72a7Bs/TnvW4CDfDPI/AAAAAAAAAlo/hlAC1jhM-wk/s72-c/kaver.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2175286135570916175</id><published>2011-04-11T20:41:00.001+07:00</published><updated>2011-04-11T20:52:00.571+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Mencari Jati Diri</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Kb08hmAwYSI/TaMGrx5ShYI/AAAAAAAAAlg/kSGt7xmHuDk/s1600/cover+Ziarah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-Kb08hmAwYSI/TaMGrx5ShYI/AAAAAAAAAlg/kSGt7xmHuDk/s1600/cover+Ziarah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul Buku: &lt;i&gt;Ziarah (The Pilgrimage)&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penulis: Paulo Coelho &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penerjemah: Eko Indriantanto&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penerbit: Gramedia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Cetakan: I, 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Tebal: 263 hlm.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Pada tahun 1986, Paulo Coelho menetapkan untuk ziarah ke Santiago de Compostela, Spanyol. Dia meyakini bahwa ada sebuah rahasia, cara yang misterius, dan orang-orang yang mampu memahami dan mengendalikan sesuatu. Perjalanannya memberinya wawasan dan pengalaman. Paulo mengalami perubahan saat ia belajar untuk memahami sifat kebenaran melalui kesederhanaan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Dia menceritakan malam pertama ketika ia mengalami sensasi yang belum pernah dialami sebelumnya, dan malam berikutnya ketika dia menangis dengan sukacita. Sepanjang ziarahnya, Paulo Coelho punya pemandu perjalanan. Pemandunya ini menjelaskan kepadanya bahwa perjalanan ziarah seperti kelahiran kembali, karena para peziarah bertemu dengan situasi baru setiap hari, sebagian besar waktu mereka bahkan tidak mengerti bahasa yang diucapkan di sekitar mereka. Jadi dengan cara itu, mereka semua seperti anak-anak yang baru saja lahir.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam ziarah ini, Coelho menceritakan percobaan spektakuler yang menuntunnya untuk menemukan kekuatan pribadi, kebijaksanaan, dan pedang ajaib yang berinisiasi ke dalam masyarakat Tradisi. Dengan mentor misterius bernama Petrus, ia mengikuti jalan legendaris yang ditempuh oleh peziarah San Tiago sejak Abad Pertengahan, menghadapi berbagai cobaan. Pengalaman Coelho dan ajaran mentornya memberikan kebijaksanaan ruhani yang menyatakan dirinya sebagai tujuan sebenarnya dari perjalanan yang mengasyikkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam novel ini ditunjukkan perihal cinta, bahwa cinta bisa membuat kita lebih kuat dan inilah kekuatan yang memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang tepat pada waktu yang tepat. Pencarian kebenaran yang dipersamakan dengan pencarian pribadi untuk makna, untuk hal-hal yang kita butuhkan dalam hidup seperti kebenaran, cinta, antusiasme, dan spiritualitas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Novel ini terbit sebelum &lt;i&gt;The Alchemist&lt;/i&gt; yang legendaris itu. Novel ini mentahbiskan diri Coelho sebagai novelis yang identik dengan muatan spiritualitas dan pencarian jati diri. Saya senada dengan Free Time, media massa Rusia, yang berkomentar bahwa karya-karya Coelho mengguncangkan kepercayaan yang umum berlaku dan membuat para pembacanya merenungkan kembali tentang siapa dirinya, apa yang diinginkannya, serta keberadaannya di dunia.” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;Novel ini sejatinya diambil dari catatan harian pribadinya selama menjalani ziarah spiritual dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis sampai ke kota Santiago de Compostela di Spanyol.[]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat sastra &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2175286135570916175?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2175286135570916175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2175286135570916175' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2175286135570916175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2175286135570916175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/04/perjalanan-mencari-jati-diri.html' title='Perjalanan Mencari Jati Diri'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Kb08hmAwYSI/TaMGrx5ShYI/AAAAAAAAAlg/kSGt7xmHuDk/s72-c/cover+Ziarah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-455347926737650722</id><published>2011-03-06T18:48:00.000+07:00</published><updated>2011-03-06T18:48:25.974+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Cracker</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Dimuat di Seputar Indonesia, 20 Februari 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-ddgPJn-5gfs/TXN0NuRh5jI/AAAAAAAAAlU/5Lf-6_1saJk/s1600/cracking-zone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh3.googleusercontent.com/-ddgPJn-5gfs/TXN0NuRh5jI/AAAAAAAAAlU/5Lf-6_1saJk/s320/cracking-zone.jpg" width="234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Judul: &lt;i&gt;Cracking Zone&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penulis: Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Cetakan: I, Januari 2011&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tebal: 356 halaman&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;AWAL tahun ini Rhenald Kasali kembali merilis buku berjudul Cracking Zone. Buku tersebut masih dalam tema “perubahan”yang selalu digagas di setiap bukunya.Perubahan kali ini menyoal era digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhenald menulis buku ini berdasarkan hasil penelitiannya selama satu tahun. Dia membentuk tim yang terdiri atas delapan orang. Setiap orang memulai pekerjaannya dengan membaca segala kajian, data, dan kejadian-kejadian penting yang melibatkan aktivitas masyarakat Indonesia. Pembahasan buku tersebut diawali dengan fenomena yang terjadi pada saat ini, baik secara mikro maupun makro, bahwa sistem telekomunikasi yang semakin canggih telah mengubah gaya hidup manusia.Tantangan,ancaman, dan peluang berjalan beriringan. Fenomena itu memunculkan sebuah generasi bernama Gen-C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gen-C,menurut penelitian Dan Pankraz (Australia) bisa berarti content, connected, digital creative, co-creation,customize,curiosity,dan cyborg.“C” bisa juga berarti cyber, cracker, dan chameleon (bunglon) [hlm 43]. Rhenald memberikan contoh bahwa gadis-gadis di Jakarta banyak sekali ingin dipotong rambutnya seperti potongan Lady Gaga, penyanyi barat. Hal itu pengaruh dari video klip Lady Gaga dalam album Paparazzi,yang telah diunduh lebih dari 250 juta orang di seluruh dunia. Itulah sekelumit potret kecil remaja kelas menengah Jakarta yang merupakan bagian dari komunitas global yang dapat disebut generasi terkoneksi (connected generation/ Gen-C).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi ini selalu terhubung melalui telekomunikasi, baik melalui telepon seluler— ponsel—(sms dan telepon) maupun internet (e-mail,googling,Facebook, Twitter, Youtube, dan lainlain). Pertukaran informasinya begitu cepat. Nah, akibat adanya generasi terkoneksi itu memunculkan sesuatu yang disebut cracking zone, yaitu sebuah retakan (baca: peluang) yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.Retakan peluang itu tidak tertangkap semua orang. Retakan itu hanya berlaku bagi mereka yang mampu melihat dan memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah yang disebut sebagai crackers. Cracker(s) muncul dalam suasana transformatif yang menimbulkan banyak perubahan.Namun karena jeli melihat peluang dari retakan,mereka pun menciptakan retakan-retakan baru. Mereka memecahkan kode-kode baru, membentuk bingkai peluang yang mereka batasi sendiri waktunya dalam durasi yang pendek agar peluang itu tidak tercecer ke tangan pesaing-pesaingnya (Bab 10). Karena itu,cara yang mereka tempuh terasa menghentak dan sulit diterima mereka yang tidak mampu membaca tanda-tanda cracking zone(Bab 1–Bab 3) [hlm 13]. Mark Zuckerberg adalah contoh nyata pengusaha yang sukses melakukan cracking zone dan memiliki breakthrough yang mencengangkan pada produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Facebook mengundang pihak ketiga untuk beriklan dan melakukan pemasaran via situs ini pada Mei 2007,jumlah produk yang beriklan terus meningkat.Konon ada 140 aplikasi baru yang dilengkapi pesan-pesan sponsor setiap harinya. Dalam ranah industri, cracker merupakan orang yang memperbarui industri. Dia bukan sekadar leader yang melakukan transformasi. Karena itu,wajar jika dia disegani (baca: dimusuhi dan dicemburui) kompetitor-kompetitornya. Sementara di dalam perusahaannya, dia juga ditakuti (baca: diserang) sekelompok orang yang ingin mempertahankan kondisi comfort zone. Cracker bekerja lebih berat dari rata-rata leader. Sebab, dia membongkar tradisi industri dan persaingan [hlm 43]. Cracker tidak menganut asas wait and see, tetapi segera bertindak. Membaca buku ini para pembaca akan melihat pelaku-pelaku cracking zone, baik korporat maupun personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Kucing Menjadi Citah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Adanya baby boom dari generasi Gen-C, mau tak mau Indonesia juga harus mengimbanginya dengan Gen-C lain, yaitu generasi Crackers. Ketika orang-orang di seluruh dunia terkoneksi internet dan smartphone, seharus muncul juga crackers leadership yang dapat memanfaatkan peluang itu. Crackers ini diharapkan dapat mengubah wajah industri Indonesia. Namun, kata Rhenald, DNA (baca: karakter) pemimpin maupun manajer Indonesia masih memakai DNA kucing yang terkesan lambat, malas, dan gemar berwacana, bukan beraksi.Indonesia ahli pada formula, tetapi lemah dalam tindakan dan koordinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Indonesia masih budaya kucing. Budaya yang hanya menunggu diberi makan dan baru bergerak saat sudah ada makanan. Mestinya, kita memakai DNA citah. Citah masih anggota keluarga kucing,tapi berburu mangsa dengan kecepatan dan tidak bergerombol. Hewan ini adalah hewan yang tercepat di antara hewan darat. Ciri-ciri pemimpin calon cracker salah satunya adalah memiliki personal branding yang kuat. Presiden Brasil periode 2003–2010, Luiz Inacio Lula da Silva,misalnya, dia mengubah Brasil dengan etos pekerjanya dan fokus pada ketahanan energi. Sementara di Indonesia, Rhenald memberi contoh CEO XL Hasnul Suhaimi. Dia merupakan orang yang memerdekakan industri telekomunikasi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhenald banyak memberikan contoh konkret korporat maupun personal yang menganut crackers leadership seperti Air Asia,Apple, Nexian Binus, BSI, J.Co, Facebook, Crocs,dan lain sebagainya. Buku ini dapat menginspirasi dan membekali Anda yang tertarik melakukan perubahan. Semua orang memiliki potensi sama untuk memajukan negeri ini. Buku ini juga berhasil membingkai berbagai kejadian dan fakta-fakta baru untuk memberikan kekuatan bagi Anda yang ingin bangkit, beradaptasi, dan melakukan cracking.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Direktur Iqro Corporation&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-455347926737650722?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/455347926737650722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=455347926737650722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/455347926737650722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/455347926737650722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/03/menjadi-cracker.html' title='Menjadi Cracker'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-ddgPJn-5gfs/TXN0NuRh5jI/AAAAAAAAAlU/5Lf-6_1saJk/s72-c/cracking-zone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4664845408864461937</id><published>2011-02-06T19:03:00.000+07:00</published><updated>2011-02-06T19:03:49.101+07:00</updated><title type='text'>Novel yang Memikat</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TU6NkweEO8I/AAAAAAAAAlQ/NT2Qzt6vgIM/s1600/The_Iron_King_Cover.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TU6NkweEO8I/AAAAAAAAAlQ/NT2Qzt6vgIM/s320/The_Iron_King_Cover.gif" width="205" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul : &lt;i&gt;The Iron King&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis : Julie Kagawa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerjemah : Angelic Zaizai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit : Kubika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cetakan : I&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal : 46&lt;/span&gt;&lt;span&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;THE IRON KING&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;span&gt;novel&lt;/span&gt; &lt;span&gt;pertama &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;yang baik &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan menarik &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;untuk sebuah &lt;/span&gt;&lt;span&gt;novel berseri—seri &lt;i&gt;The Iron Fey&lt;/i&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengan karakter&lt;/span&gt;&lt;span&gt; bagus&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, romansa&lt;/span&gt;&lt;span&gt; apik&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, dan plot cepat&lt;/span&gt;&lt;span&gt;—penuh intrik, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;membuat Anda membolak-balik halaman sampai &lt;/span&gt;&lt;span&gt;halaman &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terakhir&lt;/span&gt;&lt;span&gt; tanpa terasa&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Saya pikir p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;embaca dari segala usia &lt;/span&gt;&lt;span&gt;cocok untuk membacanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meghan Chase memiliki takdir &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tersembunyi. S&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ejak ayahnya menghilang ketika ia berusia enam tahun&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, hidupnya merasa tidak beres. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia tidak pernah &lt;/span&gt;&lt;span&gt;benar-benar bahagia baik di &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sekolah &lt;/span&gt;&lt;span&gt;maupun &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di rumah. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dalam kesehariannya seperti ada &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;orang asing &lt;/span&gt;&lt;span&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mengawasinya, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;baik ketika berangkat sekolah maupun pulang sekolah. Seringkali dia mendapat penjelasan dari Robby, temannya, tapi dia tidak percaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Puncak keanehannya adalah pada saat tepat usianya yang ke-16. Waktu itu adiknya bernama Ethan d&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;iculik, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan dari situlah Meghan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ditarik ke dalam dunia fantasi&lt;/span&gt;&lt;span&gt; yang hanya bisa ditemukan dalam dunia mitologi. Dia harus menyelamatkan adiknya ke negeri Nevernever. D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ia tidak pernah membayangkan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; bisa masuk ke dalam dunia Faeryland. Akhirnya dia menyadari bahwa dirinya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; merupakan putri dari &lt;/span&gt;&lt;span&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aja &lt;/span&gt;&lt;span&gt;F&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aery Musim Panas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Tidak hanya itu, dia juga merupakan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pion dalam perang mematikan.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; Banyak yang menginginkan dirinya. Petualangannya dalam menyelamatkan Ethan ditemani Robby—sahabatnya, Grim—si kucing cerdas, dan Ash—pangeran Istana Musim Dingin. Sedikit-banyak di antara mereka terjadi cinta &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;segitiga&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meghan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;men&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;cintai Robbie, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan juga &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pangeran F&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ey, Ash. Tapi, sayang, emosi di antara ketiganya kurang dieksplorasi lebih dalam oleh penulis novel ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dunia para Fey menyeret saya &lt;/span&gt;&lt;span&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;e titik di mana saya tidak ingin berhenti membaca&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiap karakter dikembangkan sangat baik dan saya terkejut betapa &lt;/span&gt;&lt;span&gt;saya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; menyukai mereka masing-masing. Salah satu &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tokoh &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;favorit saya adalah &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Grim, si &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kucing&lt;/span&gt;&lt;span&gt; yang berbicara, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;yang mengingatkan saya &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;The Cat Cheshire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;etualangan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;film &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alice in Wonderland&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; Ah, jadi tidak sabar ingin membaca seri keduanya, &lt;i&gt;The Iron Daughter&lt;/i&gt;.[]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;M. Iqbal Dawami, blogger buku di &lt;a href="http://resensor.blogspot.com/"&gt;http://resensor.blogspot.com/&lt;/a&gt;. Email: shiva.awamy@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4664845408864461937?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4664845408864461937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4664845408864461937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4664845408864461937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4664845408864461937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/02/novel-yang-memikat.html' title='Novel yang Memikat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TU6NkweEO8I/AAAAAAAAAlQ/NT2Qzt6vgIM/s72-c/The_Iron_King_Cover.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8037122172644530895</id><published>2011-01-20T07:17:00.001+07:00</published><updated>2011-01-20T07:20:33.707+07:00</updated><title type='text'>Cinta-Syukur Sumber Kekuatan</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TTd-6UbhG5I/AAAAAAAAAlA/jlMRfw5KTx0/s1600/cover+buku+The+Power.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TTd-6UbhG5I/AAAAAAAAAlA/jlMRfw5KTx0/s320/cover+buku+The+Power.jpg" width="249" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu, 16 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: The Power&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penulis: Rhonda Byrne&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penerjemah: Rani Moerdiarta&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Penerbit: Gramedia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Cetakan: I, 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Tebal: 290 hlm&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ADA &lt;/b&gt;dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini,yaitu cinta dan syukur. Oleh keduanya,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah debut buku pertamanya The Secret (2007) berhasil menjadi Mega Bestseller, kali ini Rhonda Byrne membuat sekuelnya berjudul The Power (2010).Walau titik tekannya berbeda, tapi benang merahnya sama, yaitu perihal hukum magnetik—tarik-menarik (Law of Attraction). Rhonda sangat yakin bahwa hukum tarik-menarik tak pernah gagal memberi kita setiap hal dalam hidup kita berdasarkan yang kita ungkapkan. Kita menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup kita, berdasarkan pikiran dan perasaan yang kita ungkapkan. Dalam The Secret Rhonda mengungkapkan rahasia orangorang sukses di masa lalu dengan hukum tarik-menarik (the law of attraction).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membahas 24 pembicara kelas dunia untuk mengupas hukum tarik-menarik itu perihal menyembuhkan penyakit, mendapatkan kekayaan, mengatasi hambatan, dan mencapai sesuatu yang dianggap mustahil. Latar belakang mereka beranekaragam seperti psikolog,metafisika, pakar fungshui, pengusaha, filsuf, visionary, pakar fisika kuantum, sampai dokter spesialis syaraf. Dalam buku ini, Rhonda membahas perihal daya. Menurutnya, hidup kita dikendalikan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yaitu daya. Lantaran daya kita ada di bumi. Karena daya pula kita dapat memiliki yang kita inginkan. Dalam pengantar Rhonda mengatakan,“ Tanpa Daya,Anda takkan pernah lahir.Tanpa Daya,tiada satu pun manusia di planet ini. Setiap penciptaan,penemuan, dan kreasi manusia berasal dari Daya”. Menurut Rhonda,ada dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini, yaitu cinta dan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cinta,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa. Semakin besar pancaran itu, semakin besar pula kekuatan yang kita dapatkan. Tidak ada yang terlalu besar bagi kekuatan cinta. Tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada rintangan yang tak dapat diatasi, waktu pun tak akan dapat menghalangi. Anda dapat mengubah apa pun dalam hidup Anda dengan memanfaatkan kekuatan tertinggi di alam semesta ini dan yang harus Anda lakukan hanyalah mengungkapkan rasa cinta! (halaman 94-95). Rhonda mengibaratkan cinta bak air dalam gelas dan gelas itu adalah tubuh Anda.Sewaktu gelas itu hanya berisi sedikit air,gelas itu kekurangan air. Anda tidak dapat mengubah jumlah air di gelas dengan melawan kekosongan dan mencoba mengosongkan kekosongan. Kekosongan itu akan lenyap dengan mengisi gelas dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Anda merasakan perasaan buruk,Anda sedang kekurangan cinta sehingga ketika Anda menuangkan cinta kepada diri sendiri, perasaan buruk itu pun lenyap. Dengan syukur, kita dapat mengundang daya yang besar dalam hidup kita. Rhonda sudah sering melihat orang-orang yang benar- benar dalam keadaan miskin berubah menjadi kaya-raya lewat rasa syukur: orang-orang yang membalikkan bisnis yang akan bangkrut, dan orang-orang yang telah seumur hidupnya kesulitan keuangan menjadi orang berpenghasilan berlimpah. Orang-orang yang telah menderita kecemasan dan berbagai gangguan jiwa pulih kesehatan jiwanya lewat rasa syukur. Dalam keadaan buruk pun kita tetap bersyukur. Mengapa? Karena tanpa perasaan itu, kita tidak pernah tahu rasanya merasa senang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya akan merasakan “datar” sepanjang waktu karena tidak memiliki perbandingan perasaan.Lewat perasaan sedihlah Anda dapat mengetahui betapa nikmatnya perasaan bahagia. Kita tidak akan pernah dapat menepiskan buruk dari hidup karena perasaan buruk adalah bagian dari hidup,dan tanpa perasaan itu,kita tidak akan pernah merasakan perasaan baik. Lanjut Rhonda. (halaman 103) Paduan cinta dan syukur akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang berkualitas. Semakin sering kita bersyukur, semakin kuat kita merasakannya,dan semakin besar cinta yang akan kita berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga cara untuk menggunakan kekuatan rasa syukur dan masing-masingnya mengungkapkan rasa cinta: bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda telah terima di dalam hidup (masa lalu), bersyukurlah atas segala sesuatu yang sedang Anda terima (sekarang), dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda inginkan di dalam hidup seakan-akan sudah menerimanya.(hlm.149) Rhonda juga menjelaskan dengan apik bagaimana daya itu diterapkan dalam ketiga hal yang biasanya terjadi persoalan, yaitu uang,jalinan hubungan,dan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum tarik-menarik berlaku dalam segala bidang, tak terkecuali dengan ketiga hal tersebut. Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa Anda menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup Anda, berdasarkan pikiran dan perasaan yang Anda ungkapkan. Pemikiran tersebut sangat relevan dengan Sabda Tuhan, “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha,” (QS. Al-Isra’:7). Jika kamu berbuat baik,kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri,dan jika kamu berbuat jahat,kejahatan itu juga akan kembali kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya buku ini diterbitkan dengan cukup serius, terlihat dari cara pengemasannya, mulai dari pilihan kertasnya yang super, ilustrasi isi yang warna-warni—dapat ditemukan hari di setiap halaman dan sampulnya yang lux. Rhonda melengkapi pembahasannya dengan kutipan katakata dari orang-orang bijak, filsuf, seniman, sastrawan, dan ilmuwan. Sungguh, buku ini sangat menuntun dan mencerahkan. Buku ini juga bisa dijadikan bekal dalam menjalani hidup di awal tahun ini. Penting dibaca bagi siapa saja yang memilih berhenti sejenak untuk melakukan lompatan besar.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8037122172644530895?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8037122172644530895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8037122172644530895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8037122172644530895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8037122172644530895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2011/01/cinta-syukur-sumber-kekuatan.html' title='Cinta-Syukur Sumber Kekuatan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TTd-6UbhG5I/AAAAAAAAAlA/jlMRfw5KTx0/s72-c/cover+buku+The+Power.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-424188156152173659</id><published>2010-12-31T09:11:00.001+07:00</published><updated>2010-12-31T09:13:28.578+07:00</updated><title type='text'>Spiritualitas, Esensi Beragama</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR07bw4lTOI/AAAAAAAAAk8/nxdCZFPU9a0/s1600/cover++You+Are+Not+Alone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR07bw4lTOI/AAAAAAAAAk8/nxdCZFPU9a0/s320/cover++You+Are+Not+Alone.jpg" width="231" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu 26 Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Judul:&amp;nbsp; &lt;i&gt;You are Not Alone; 30 Renungan Tentang Tuhan dan Kebahagiaan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Penulis: Arvan Pradiansyah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Penerbit: Elex Media Komputindo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cetakan: I, 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tebal: xvi + 249 halaman &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;KETIKA&lt;/b&gt; manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!” Begitu bunyi status Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis Rusia,secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku ini mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, “Tuhan, tolonglah aku!” Kisah Stalin itu menandakan bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan. Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat agama. Hanya saja kemudian Arvan mempertanyakan (lebih tepatnya merenungkan),mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah narkoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Agama Minus Spiritualitas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang baik.Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [halaman 7–8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah- masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk,dia sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt,Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari spiritualitas,padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [halaman 112].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini,Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama spiritualis” yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu “tajalli”. Kata “tajalli” berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain,Tuhan seolah-olah telah menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat Tuhan, seperti mencintai, menyayangi,menolong,dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr,yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya.Namun,semuanya menarik pembaca kepada renunganrenungan soal ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat relevan dengan situasi yang ada sekarang.Selamat membaca.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-424188156152173659?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/424188156152173659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=424188156152173659' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/424188156152173659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/424188156152173659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/12/spiritualitas-esensi-beragama.html' title='Spiritualitas, Esensi Beragama'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR07bw4lTOI/AAAAAAAAAk8/nxdCZFPU9a0/s72-c/cover++You+Are+Not+Alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-9085888999286972177</id><published>2010-12-31T09:05:00.000+07:00</published><updated>2010-12-31T09:05:05.851+07:00</updated><title type='text'>Balas Budi Mortenson</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR052WOzIUI/AAAAAAAAAk4/R9VUvEdDIwE/s1600/cover_stones+into+schools.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR052WOzIUI/AAAAAAAAAk4/R9VUvEdDIwE/s320/cover_stones+into+schools.jpg" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dimuat di KORAN JAKARTA, Kamis, 23 Desember 2010                        &lt;br /&gt;&lt;span class="SpellE"&gt;                                                 &lt;span style="color: #993300; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;span class="SpellE"&gt; Judul : Stones into Schools &lt;br /&gt;Penulis : Greg Mortenson &lt;br /&gt;Penerbit : Hikmah, 2010 &lt;br /&gt;Tebal : 475 halaman &lt;br /&gt;Harga : Rp69.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Buku Three Cups of Tea&lt;/b&gt; (Hikmah, 2008) menceritakan serangkaian kisah dari kehidupan seorang pendaki gunung bernama Greg Mortenson. Pada 1993, setelah gagal dalam mencoba mendaki Gunung K2, sebutan lain untuk Gunung Himalaya, Mortenson tersesat dan hinggap di desa kecil dan terpencil di pegunungan Pakistan. Secara tidak sengaja dia menemukan desa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia disambut oleh penduduk setempat yang sangat ramah, disuguhi makan dan istirahat. Padahal, penduduk tersebut penuh dengan kemiskinan. Mortenson ingin membayar mereka dalam beberapa cara, dan bersumpah untuk membantu kebutuhan yang paling mereka butuhkan lebih dari sekadar makanan. Melawan segala rintangan, ia mengumpulkan uang di Amerika Serikat dan kemudian kembali dengan sebuah truk penuh bahan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hendak membuat sekolah. Balas budi Mortenson adalah pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendidikan. Ia membangun sekolah tidak hanya satu, tetapi lima puluh lima sekolah. Buku tersebut merinci tantangan yang dihadapinya dan bagaimana dia mengatasinya. Ia adalah seorang individu luar biasa yang melimpah dengan semangat dan pengabdian. Buku itu merupakan bagian petualangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun telah berlalu, dan Mortenson menemukan ketenaran, terutama setelah bukunya selama tiga tahun berada di daftar penjualan terlaris New York Times. Pada akhir 2009 ia kemudian menerbitkan buku Stones into Schools, sekuel Three Cups of Tea. Sebagai sekuel, buku ini sangat mirip dengan pendahulunya—begitu banyak sehingga saya tidak yakin apa yang harus dikatakan dalam rangka untuk membedakan antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mortenson mengisahkan dirinya berjalan, berkuda, dan berkeliling di belantara Pakistan dan Afghanistan. Hati dan pikirannya benar-benar hanya untuk sekolah, terutama sekolah untuk anak perempuan, yang terpinggirkan. Mortenson, melalui memoar ini, berkeyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi salah satu kunci untuk transformasi kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang begitu menggembirakannya adalah tindakannya menginspirasi begitu banyak warga Afghanistan. Mereka tahu pendidikan adalah jalan keluar dari penderitaan mereka. Ada bagian ketika Mortenson menceritakan pertemuan dengan Laksamana AS Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan. Laksamana itu selalu saja mendapat laporan berita buruk dari Afghanistan, dan ia menginginkan berita baik lewat Mortenson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mortenson menceritakan bahwa pada puncak kekuasaan Taliban pada 2000, kurang dari 800.000 anak-anak terdaftar di sekolah—semua dari mereka anak laki-laki—dan pendaftaran siswa baru di seluruh negeri itu mendekati delapan juta anak, 2,4 juta di antaranya adalah perempuan. Buku ini menceritakan tentang bagaimana Mortenson pergi ke Afghanistan yang berbahaya dan tidak stabil. Melalui lembaganya, ia telah membangun lebih dari 130 sekolah untuk mendidik 58.000 anak, terutama anak perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi M Iqbal Dawami, Pengasuh blog http://resensor. blogspot.com/   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="SpellE"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-9085888999286972177?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/9085888999286972177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=9085888999286972177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/9085888999286972177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/9085888999286972177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/12/balas-budi-mortenson.html' title='Balas Budi Mortenson'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TR052WOzIUI/AAAAAAAAAk4/R9VUvEdDIwE/s72-c/cover_stones+into+schools.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5506628190946769499</id><published>2010-11-09T08:33:00.000+07:00</published><updated>2010-11-09T08:33:12.901+07:00</updated><title type='text'>Terapi Penyakit Fisik dan Psikis</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dimuat di Seputar Indonesia, 07 November 2010&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNikm_-vIWI/AAAAAAAAAkk/A0Kb8QCO7aQ/s1600/cover_the+miracle+of+touch.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNikm_-vIWI/AAAAAAAAAkk/A0Kb8QCO7aQ/s320/cover_the+miracle+of+touch.jpeg" width="248" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Judul: The Miracle of Touch: Panduan Menerapkan Keajaiban EFT &lt;br /&gt;Penulis: Eddy Iskandar&lt;br /&gt;Penerbit: Qanita&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2010&lt;br /&gt;Tebal: 193 halaman&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DIMENSI&lt;/b&gt; sumber daya manusia (SDM) adalah bagian yang paling rumit untuk diubah secara cepat karena menyangkut persoalan kebiasaan (habit)manusia. Hal ini berhubungan erat dengan pola pikir (mind set) sistem otak yang lebih dikenal dengan pikiran bawah sadar (subconsious mind-SCM).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang dikatakan Prof Dr Rushami Zien Yusoff dalam pengantar buku ini. Banyak sekali para pakar membuat teknik yang digunakan untuk mengondisikan SCM ini.Di antaranya adalah melalui terapi emotional freedom techniques (EFT).Emotional freedom techniques atau teknik kebebasan emosi yang biasa disingkat menjadi EFT ini adalah alat terapi psikologi yang diterapkan berdasarkan teori yang menyatakan bahwa emosi yang berlebihan pada dasarnya bersifat negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Eddy Iskandar,penulis buku ini,mendefinisikan EFT. Ketika kita merasa kesal,marah,sedih,atau stres,tubuh kita sering kali turut terganggu.Hal itu disebabkan adanya gangguan sistem energi di dalam tubuh kita. &lt;br /&gt;Nah,melaluiEFT,kataEddy,akan memperlancar jalur yang menghambat kemampuan otak dan tenaga kita saat kita melakukan kegiatan.Hal ini disebabkan EFT mengusung pendekatan sistemik antara pikiran dan tubuh. EFT adalah perangkat yang paling mudah dipelajari dan sangat efektif serta cepat hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Holistic Life&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Pendekatan holistik memberikan makna bahwa tubuh terdiri dari tiga bagian utama,yaitu pikiran,badan, dan jiwa.Ketiganya telah menjadi suatu sistem. Berdasarkan pengertian ini, apabila ada persoalan pada tubuh atau diri kita, maka tidak cukup meninjaunya dari subsistemnya semata,umpamanya persoalan fisik saja, atau persoalan emosi atau pikiran saja, dan mengabaikan persoalan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan holistik dapat diwujudkan dalam kehidupan seharihari dengan pola atau gaya hidup yang sering diistilahkan sebagai holistic life.Ukuran penting dalam menjalankan holistic lifebukan saja pencapaian kuantitatif,melainkan juga keselarasan (tawazun), yang artinya selaras antara aspek kuantitatif (sukses, sehat) dan kualitatif (bahagia,sejahtera secara lahir dan batin). Semua itu dapat terjadi sebagai dampak dari pola makan, pola hidup, dan pola pikir yang dikelola dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tentang EFT ini dapat membantu kira dalam mengelola kehidupan holistik. Secara khusus, teknik-teknik EFT bisa membantu kita dengan cepat melepaskan semua emosi serta gejala penyakit atau sinyal-sinyal ketidakmampuan tubuh dan pikiran dalam menerima kelebihan tekanan hidup. EFT merupakan perangkat yang dapat digunakan untuk membersihkan virus-virus (emosi negatif) dalam tubuh kita dengan relatif singkat dan mudah. Anda pun dapat memprogram SCM Anda dengan program positif yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan terapi penyakitpenyakit emosi yang berhubungan dengan perilaku, EFT sungguh dapat diandalkan. Buku ini adalah panduan untuk mempelajari EFT secara konkret. Melalui buku ini Anda akan diajak bagaimana cara melakukan penyembuhan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain dengan metode EFT. Penulis buku ini,Dr Eddy Iskandar, adalah seorang International EFT Trainer &amp;amp; Advanced Practitioner (AAMET) yang mendalami EFT di Malaysia dan Hong Kong,sampai London, Inggris. Ketua Asosiasi Praktisi EFT Indonesia (APEI) ini adalah Managing Partner CPM Consulting dan Founder Pusratu Wellness Center Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metode EFT&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;EFT memberikan metode penyembuhan yang disebut tapping (ketukan ringan),yaitu dengan cara mengetuk-ngetuk titik-titik energi meridian tubuh. Energi meridian adalah jalur lalu lintas energi di dalam tubuh. Seperti halnya lalu lintas, pada meridian pun ada jalur, hambatan,persimpangan,titik awal, titik akhir,dan sebagainya.Jika jalan energi pada meridian lancar, akan tercipta keharmonisan dalam tubuh dan tubuh kita mampu melawan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika terjadi hambatan pada meridian,akan muncul gangguan pada kesehatan. EFT diciptakan dengan dasar dua metode tapping, yakni urutan pendek dan urutan lengkap.Kedua rangkaian itu sama-sama berfungsi meringankan berbagai masalah emosi dan penyakit. Teknik EFT hanya mengetuk-ngetuk ringan dengan dua atau tiga jari pada titiktitik yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda melakukan tapping, hanya ada 10–18 titik kunci yang harus Anda ketuk di sepanjang 12 energi meridian,yang meliputi: jantung, usus kecil, kandung kemih, ginjal, sirkulasi seks, triple warmer, empedu, hati, paru-paru, usus besar,lambung,dan limpa. Dalam bab empat anda akan diberi contoh konkret bagaimana mempraktikkan metode EFT tersebut. Dalam bab ini juga diberi pelbagai gambar posisi jari dan bagianbagian yang harus diketuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk mempermudah lagi,buku ini disertai CD yang berisikan video (audio visual) sehingga diharapkan Anda bisa mempraktikkannya dengan benar dan cepat. Ada hal yang harus diperhatikan dalam proses EFT ini,yaitu afirmasi. Ketika Anda melakukan tapping, Anda harus pasrah dan ikhlas sembari memberikan sugesti positif. Dengan begitu, proses penyembuhan akan berlangsung cepat. Tanpa afirmasi akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eddy, melalui metode EFT ini, banyak orang telah merasakan manfaatnya. Misalnya,orang yang terkena penyakit diare, posisi bayi sungsang, pecandu rokok, insomnia, fobia, krisis percaya diri, stres,stroke,dan sebagainya. Oleh karena itu, buku ini patut dibaca oleh siapa pun.Metode EFT ini sendiri bisa diterapkan kepada siapa pun, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;pecinta alam,aktif di Kere Hore Jungle&lt;br /&gt;Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5506628190946769499?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5506628190946769499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5506628190946769499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5506628190946769499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5506628190946769499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/11/terapi-penyakit-fisik-dan-psikis.html' title='Terapi Penyakit Fisik dan Psikis'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNikm_-vIWI/AAAAAAAAAkk/A0Kb8QCO7aQ/s72-c/cover_the+miracle+of+touch.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2818093764957465704</id><published>2010-11-03T10:28:00.000+07:00</published><updated>2010-11-03T10:28:34.114+07:00</updated><title type='text'>Kisah Pendiri Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVeXrsw1I/AAAAAAAAAkg/4OfQfiJlNPQ/s1600/cover_sang+pencerah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVeXrsw1I/AAAAAAAAAkg/4OfQfiJlNPQ/s320/cover_sang+pencerah.jpg" width="271" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Judul: Sang Pencerah; Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah&lt;br /&gt;Penulis: Akmal Nasery Basral&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2010 &lt;br /&gt;Tebal: 461 hlm.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang Pencerah merupakan sebuah novel yang mengangkat kisah Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Sebuah novel yang akan mengenalkan kita pada sosok yang sudah berkontribusi besar bagi pendidikan di Indonesia. KH Ahmad Dahlan adalah orang yang memberikan pendidikan pada rakyat kelas bawah melalui pesantren dan sekolah dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Novel ini menggunakan sudut pandang ‘aku’ yang bernama Muhammad Darwis. Ia adalah anak dari seorang khatib Mesjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Kiai Haji Abu Bakar, yang silsilahnya sampai pada Maulana Malik Ibrahim, salah seorang Wali Songo. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Darwis sudah pandai membaca Al-Quran sejak usia 10 tahun. Selain itu, ia dikaruniai otak yang cerdas, melebihi anak-anak seusia yang berada di lingkungannya. Seringkali ia menanyakan sesuatu yang tak lazim ditanyakan oleh khalayak umum, baik tingkat anak-anak maupun dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, pada waktu ikut tahlilan di rumah seorang kawan yang bapaknya meninggal, dalam perjalanan pulang ia bertanya-tanya: mengapa untuk mengadakan yasinan 40 hari seorang anggota keluarga yang sudah wafat, anggota keluarga yang masih hidup harus meminjam uang kepada orang lain? Apakah hal ini memang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad panutan umat manusia?&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana kalau keluarga itu setelah berusaha tetap tidak punya uang untuk membuat acara 40 hari atau 100 hari bagi yang sudah mati? Mengapa pula keluarga yang sedang berduka itu harus membuat makanan yang mewah seperti ayam rebus, padahal dalam keadaan sehari-hari  ayam bukanlah makanan yang biasa mereka makan. Mengapa tidak jamaah yang justru membawakan makanan untuk mengurangi penderitaan mereka? &lt;br /&gt;Ia merasa kasihan pada Ibu  Pono, kawan Darwis, harus meminjam uang ke rentenir untuk kebutuhan yasinan 40 hari, 100 hari, dan 1.000 hari.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semakin beranjak dewasa, Darwis semakin kritis terhadap tradisi yang mengatasnamakan agama. Seperti pada tradisi ruwatan, padusan, nyadran yang biasa dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Darwis mempertanyakan hal itu semua.  &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Darwis kemudian berhaji ke Makkah sembari belajar agama Islam kepada ulama-ulama yang ada di sana, salah satunya kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Dari Syaikh ini lah Muhammad Darwis diganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Mulai dari sinilah namanya berubah. Saat itu ada kebiasaan bahwa setiap nama santri berasal dari daerah non-arab, akan diarabkan supaya terdengar lebih afdol. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah lima tahun di Makkah, Dahlan kemudian pulang ke Yogyakarta. Semenjak kepulangan inilah, kehidupan Dahlan mulai bergolak. Terutama setelah ia diangkat menjadi Khatib Mesjid Gedhe, menggantikan ayahnya yang telah wafat. Ia berani menentang tradisi-tradisi yang dianggap melenceng dari ajaran Islam. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Aku tidak anti-tradisi, Mas Noor. Aku hanya keberatan terhadap tradisi yang memberatkan rakyat tapi harus dilakukan atas nama agama. Karena kalau begitu caranya, bagaimana akal kita bisa menerima sebuah agama yang memberatkan penganutnya sendiri?” jawab Dahlan pada saat banyak yang protes atas perilakunya yang menentang tradisi-tradisi yang telah turun-temurun.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun klimaks novel ini mulai di halaman 199, yaitu pada saat ia hendak mengubah arah kiblat. Dari pengamatannya, mesjid Gedhe Kauman mengarah lurus ke barat, padahal kiblatnya tidak persis ke barat tapi agak serong ke kanan (barat laut). Soal kiblat inilah Dahlan mendapat perlawanan dari Kia Siraj Pakualaman, dan Kiai-Kiai lainnya, terutama Kiai Penghulu Kamaludiningrat, selaku Kiai yang paling tinggi status sosialnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada malam Ramadhan banyak warga yang memilih ikut shalat tarawih di Langgar Kidul pimpinan Dahlan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal ini membuat jamaah di Mesjid Gedhe menurun. Lantaran shalat tarawihnya versi 11 rakaat, bukan 23 rakaat. Novel ini terus bergulir, hingga mengerucut pada pertemuan Dahlan dengan organisasi Budi Utomo. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan dari situlah, Dahlan terinspirasi untuk membuat sekolah ibtidaiyah diniyah di rumahnya, yang muridnya pada waktu itu kebanyakan dari kalangan rakyat kecil. Setelah itu Dahlan membuat persyarikatan/perkumpulan. Sangidu, adik tirinya, mengusulkan nama perkumpulannya Muhammadiyah. Artinya, pengikut kanjeng Nabi. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kehadiran novel biografi ini patut diapresiasi, mengingat masyarakat kita butuh bacaan yang menunjukkan nilai perjuangan bangsa dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Sungguh, menulis novel yang diangkat dari kisah dan sejarah tokoh bangsa Indonesia patut dicontoh oleh para penulis lainnya, agar kita dan generasi yang akan datang tidak kehilangan akar sejarah bangsanya. Melalui novel lah nilai-nilai tersebut dapat dengan mudah terserap oleh semua kalangan.Semoga. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aduhai, novel ini sangat nikmat sekali dibaca, terutama dilakukan sembari minum teh dan makan gogodoh, baik di pagi hari maupun sore hari.Selamat membaca.[]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2818093764957465704?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2818093764957465704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2818093764957465704' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2818093764957465704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2818093764957465704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/11/kisah-pendiri-muhammadiyah.html' title='Kisah Pendiri Muhammadiyah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVeXrsw1I/AAAAAAAAAkg/4OfQfiJlNPQ/s72-c/cover_sang+pencerah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-7454430092164779519</id><published>2010-11-03T10:21:00.000+07:00</published><updated>2010-11-03T10:21:37.305+07:00</updated><title type='text'>Inovasi dan Aset Nirwujud Sumber Kekuatan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVGdptpII/AAAAAAAAAkc/T3NEwn4-Xjc/s1600/bookreview_16.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVGdptpII/AAAAAAAAAkc/T3NEwn4-Xjc/s320/bookreview_16.jpg" width="223" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Knowledge and Innovation ; Kekuatan Daya Saing&lt;br /&gt;Penulis: Zuhal&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia &lt;br /&gt;Cetakan: I, 2010&lt;br /&gt;Tebal: 485 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhal, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) pada kabinet Reformasi menjelaskan dalam buku ini bahwa saat ini kita sedang berada pada era baru kemunculan berbagai bentuk kompetisi global yang mengalir ke segala arah. Perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) terbang ke seluruh dunia, keluar dari pusat-pusat korporasi induknya, mencari tempat bertengger baru yang lebih kompetitif. Mereka membidik pusat-pusat pertumbuhan yang lebih menjanjikan low-cost manufacturing dan low-end markets. Realitas global baru yang berbeda itu dikenal dengan globality. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Globality, lanjut Zuhal, didasarkan pada dunia yang menyatu tanpa batas. Sebuah dunia baru yang direkat oleh jaringan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) antarkontinen. Jaringan TIK inilah yang kelak meniupkan karakter baru dalam persaingan ekonomi di era globality: jaringan TIK dengan cepat mampu menyediakan informasi tentang bagaimana berkompetisi secara sempurna atau informasi tentang siapa yang terbaik, kreatif, dan efektif di muka Bumi. Tatkala informasi telah begitu “telanjang”, maka kompetisi di era globality pun menemukan wajahnya yang lain: persaingan menjadi jauh lebih ketat, di arena yang menyerupai “bidang datar” (global arena). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak lagi, inovasi menjadi hal yang sangat penting dalam kompetisi global. Inovasi adalah ciptaan-ciptaan baru (dalam bentuk materi ataupun intangible) yang memiliki nilai ekonomi yang berarti (signifikan), yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau kadang-kadang oleh para individu (Edquist, 200). Inovasi juga dapat diartikan sebagai transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru; tindakan menggunakan sesuatu yang baru (Rosenfeld, 2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengaca pada perusahaan Coca-Cola Indonesia, misalnya. Inovasi adalah salah satu kunci keberhasilannya. Melalui riset dan pengembangan (Research &amp;amp; Development), Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, serta perlengkapan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif, serta mempunyai ciri khas tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen, serta potensi kekayaan alam Indonesia, Coca-Cola berinovasi dengan menciptakan produk-produk baru yang menjadikan produk minuman cepat saji Coca-Cola mempunyai rasa dan pilihan yang beragam. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara lebih spesifik, pada tahun 2002 Coca-Cola meluncurkan AQUARIUS, minuman isotonik yang diperuntukkan bagi mereka yang aktif dan gemar berolahraga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Frestea, teh dalam kemasan botol dengan aroma bunga melati yang khas. Pada tahun 2003, Fanta menghadirkan campuran dua rasa buah, orange dan mango, yang disebut "Fanta Oranggo", setelah pada tahun sebelumnya sukses meluncurkan Fanta Nanas. Pada tahun berikutnya, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Sunfill - produk minuman Sirup dan Serbuk instan rasa buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan inovasi, Coca-Cola yakin bahwa produk-produk yang ditawarkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aset Nirwujud&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Mengapa daya saing bangsa Indonesia tidak kunjung meningkat, padahal sejumlah indikator ekonomi cukup menunjukkan perbaikan? Faktor nirwujud ternyata berperan besar. Zuhal memberikan nasihatnya bahwa perusahaan, misalnya, tidak sepatutnya hanya terbuai melihat aspek-aspek yang berhubungan dengan pangsa pasar dan tujuan-tujuan keuntungan finansial semata. Perusahaan mesti mengalihkan perhatiannya—dalam porsi lebih besar—pada aset-aset tersembunyi seperti sumber daya manusia (SDM), budaya korporat, serta aset intelektual lainnya. Ada pergeseran yang cukup fundamental yang bergerak ke arah human capital oriented. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunduran indikator nirwujud daya saing—pendidikan, kesehatan, dan riset—sejatinya memicu efek domino yang merembet ke pelbagai lini. Merosotnya kualitas pendidikan pendidikan, kesehatan, dan riset berimplikasi terhadap menurunnya kemampuan SDM, yang pada gilrannya menyumbang saham kepada rendahnya efisiensi pemerintahan dan merosotnya efisiensi bisnis. Semua itu mengakibatkan terus menurunnya daya saing Indonesia secara keseluruhan. Dan, sulit dipungkiri, indikator merosotnya daya saing bangsa ini secara gamblang tercermin pada tren menurunnya peringkat Human Development Index (HDI), indeks teknologi, atau posisi peringkat daya saing umumnya, terutama sejak 1996. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu nasional ini memang bersifat nirwujud (intangible). Pemerintah masih lebih suka mencari solusi-solusi jangka pendek, seperti memfokuskan diri hanya pada indikator-indikatior sistem ekonomi klasik yang tangible, alih-alih memberi arah dan panduan strategis terkait gejala menurunnya aset nirwujud. Mind-set lama ini mesti diubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan buku ini berbicara tentang “platform daya saing” yang berkaitan dengan aspek penguasaan knowledge, kreativitas, dan inovasi yang diperlukan menjawab tantangan sistem ekonomi baru. Selain itu, terkait pentingnya soal inovasi, Zuhal juga memberikan konsep Sistem Inovasi Nasional (Sinas) Indonesia yang berbasis keunggulan komperatif benua maritime. Juga dipaparkan kajian pelbagai bentuk institusi, organisasi, dan aspek knowledge management yang menunjang Sistem Inovasi.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami, &lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-7454430092164779519?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/7454430092164779519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=7454430092164779519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7454430092164779519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7454430092164779519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/11/inovasi-dan-aset-nirwujud-sumber.html' title='Inovasi dan Aset Nirwujud Sumber Kekuatan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDVGdptpII/AAAAAAAAAkc/T3NEwn4-Xjc/s72-c/bookreview_16.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-415789497922994579</id><published>2010-11-03T10:17:00.000+07:00</published><updated>2010-11-03T10:17:23.001+07:00</updated><title type='text'>Dosen Indonesia Harum di Jepang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDT_sEzydI/AAAAAAAAAkY/df6h6N0elzc/s1600/cover_soetanto+effect.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDT_sEzydI/AAAAAAAAAkY/df6h6N0elzc/s320/cover_soetanto+effect.JPG" width="201" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Soetanto Effect; Ubah Orang Buangan Jadi Rebutan&lt;br /&gt;Penulis: Ken Kawan Soetanto&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang&lt;br /&gt;Cetakan: I, Agustus 2010&lt;br /&gt;Tebal: 179 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, pada saat penerimaan karyawan, banyak perusahaan berkeliling ke semua perguruan tinggi dan selalu tidak puas dengan para lulusannya. Namun ketika mereka datang ke perguruan tinggi tempat Soetanto mengajar, yang kebanyakan mahasiswanya dikatakan tidak mempunyai semangat untuk belajar, mereka malah meminta para mahasiswanya itu untuk bekerja di perusahaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya yang menjadi ketertarikan perusahaan untuk merekrut dari para mahasiswa Soetanto? Usut punya usut ternyata mereka—para mahasiswa yang di bawah bimbingan Soetanto—bekerja dengan cerdas dan penuh semangat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lewat buku inilah dikisahkan bagaimana para mahasiswa itu dididik. Awal mula Soetanto mengajar di perguruan tinggi Universitas Tuin Yokohama, Jepang, 80 persen mahasiswanya tidak punya semangat untuk belajar. Dari situ dia mencari tahu sebab-musababnya dan dicari solusinya. Tidak lama kemudian, dengan perasaan puas, dia akhirnya mencapai pemahaman bahwa jika diberikan stimulus yang tepat, semangat belajar ke 80 persen mahasiswa itu akan muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang dia lakukan pertama kali adalah memberikan metode terapi kejut (shock therapy). Misalnya dengan pertanyaan, “Apakah kalian ingin 20 orang di antara kalian keluar dari kelas ini?” Lewat pertanyaan yang tak disangka-sangka itu, membuat mata mereka terbelalak. Atau Soetanto juga memakai kata-kata, “Jika kalian mengambil mata kuliah ini dengan setengah hati, maka saat ini juga kalian lebih baik meninggalkan kelas dan berhenti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terapi kejut semacam di atas para mahasiswa secara spontan akan terpacu untuk serius dalam belajarnya. Mereka lebih perhatian atas apa yang dipelajarinya. Itu adalah langkah pertama yang dilakukan Soetanto dalam usaha “penyadaran” mahasiswanya atas pentingnya pengetahuan yang mereka pelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, keseriusan mereka dalam belajar menjadi sebuah kebiasaan yang barangkali berawal dari rasa tertekan dan terbebani, namun berakhir dengan rasa senang dan bahagia, karena hasilnya terasa. Proses perkuliahan ala Soetanto itu tidak lagi dianggap sebuah keterpaksaan maupun tekanan, tapi sebuah hal yang menyenangkan, karena dalam perjalanannya Soetanto ternyata sangat mengesankan dan mengasyikkan, jauh dari kesan “killer”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dengan sekuat tenaga Soetanto berusaha membuat proses belajar menjadi lebih mudah dimengerti dan menarik. Sebagai seorang dosen, dia menginginkan penampilannya yang terbaik di depan mahasiswa. Mengeluarkan semua yang dia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetanto juga sering memotivasi mahasiswanya pada saat perkuliahan berlangsung, sehingga materi-materi yang diajarkannya terserap dengan baik, karena hati dan pikiran para mahasiswa dalam suasana menyenangkan. Soetanto sadar bahwa untuk membuat pelajaran yang bagus dan sukses, harus ada kerja sama antara kedua pihak, yaitu dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, dia menyadari begitu pentingnya menstimulus semangat belajar para mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangkitkan semangat mahasiswa, Soetanto menuruh mereka menulis “Pesan-Kesan Tiga Baris” atas materi dan karakter dia dalam mengajar. Kontan, semuanya berkonsentrasi dalam perkuliahan, mati-matian memutar otak, demi menuliskankan tiga baris pesan-kesan tersebut. Hal itu menjadi sebuah latihan untuk menyusun dan menuangkan pikiran sendiri. Menulis tiga baris pesan-kesan tersebut merupakan suatu kemajuan tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya tiga baris pernyataan itu, mereka bisa membuat pengakuan dan berterus terang mengenai hal yang sebenarnya dari dalam lubuk hati mereka. Watarai-kun, salah satu mahasiswanya menulis, “Darah di seluruh tubuh saya mendidih dan bergejolak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang dulunya dikatakan tidak punya harapan dan terus-menerus berpikir bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa, sekarang sudah menyadari kekeliruannya. Ternyata metode pesan-kesan ini mewujudkan “jendela hati” mereka, dan dapat membesarkan hati mereka pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80 persen mahasiswa yang dulu dikatakan tidak punya harapan dan tidak punya semangat, berubah menjadi 80 persen mahasiswa yang mulai memupuk semangat dan menggali harapan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini, Soetanto berhasil merumuskan hal-hal yang bisa dilakukan oleh para pengajar dalam membantu para anak didiknya. Rumusan tersebut tentu bisa dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk para pendidik Indonesia yang diharapkan dapat memajukan kualitas pendidikan di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode mengajar ala Soetanto ini kemudian terkenal dengan istilah Soetanto Effect. Istilah ini dimaknai dengan suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik, yang mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Metode ini berhasil diterapkan di sebagain besar perguruan tinggi Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetanto yang bernama lengkapnya Ken Kawan Soetanto adalah warga negara Indonesia yang hidup di Jepang yang meraih gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengembangan interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi, dia menghasilkan 29 paten di Jepang dan 2 paten di AS. Pencapaian riset dengan paten paling mutakhir diakui di Jepang, yakni The Nano-Micro Bubble Contrast Agent. Pemerintah Jepang melalui NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini patut dibaca oleh dosen, guru, ustadz, tentor, dan siapa saja yang menginginkan kemajuan pendidikan di Indonesia. Dari buku ini kita dapat belajar bagaimana cara mengajar para peserta didik yang baik, yang dapat membangkitkan semangat peserta didik dalam belajarnya, sehingga berhasil mencapai segala cita-cita yang diimpikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, staf pengajar STIS Magelang. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-415789497922994579?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/415789497922994579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=415789497922994579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/415789497922994579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/415789497922994579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/11/dosen-indonesia-harum-di-jepang.html' title='Dosen Indonesia Harum di Jepang'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TNDT_sEzydI/AAAAAAAAAkY/df6h6N0elzc/s72-c/cover_soetanto+effect.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2108210897283340930</id><published>2010-10-03T19:34:00.000+07:00</published><updated>2010-10-03T19:34:00.538+07:00</updated><title type='text'>Strategi Jitu Pemasaran</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKh3p9nWUII/AAAAAAAAAkU/iWFSECZ-6-0/s1600/Resensi-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="395" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKh3p9nWUII/AAAAAAAAAkU/iWFSECZ-6-0/s400/Resensi-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2108210897283340930?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2108210897283340930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2108210897283340930' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2108210897283340930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2108210897283340930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/10/strategi-jitu-pemasaran.html' title='Strategi Jitu Pemasaran'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKh3p9nWUII/AAAAAAAAAkU/iWFSECZ-6-0/s72-c/Resensi-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5957982075527131616</id><published>2010-10-01T10:43:00.000+07:00</published><updated>2010-10-01T10:43:03.302+07:00</updated><title type='text'>Bersama Kesulitan Ada Kemudahan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKVYimY4prI/AAAAAAAAAkQ/LhtSVqN9QL4/s1600/tafsir+kebahagiaan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKVYimY4prI/AAAAAAAAAkQ/LhtSVqN9QL4/s320/tafsir+kebahagiaan.jpg" width="215" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;Judul: Tafsir Kebahagiaan; Pesan Alquran Menyikapi Kesulitan Hidup&lt;br /&gt;Penulis: Jalaluddin Rakhmat&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi&lt;br /&gt;Cetakan: I, April 2010&lt;br /&gt;Tebal:  201 hlm.&lt;br /&gt;=============&lt;br /&gt;Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘usri yusro. Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab.(Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan. Jika telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap) (Q.S. Al-Insyirah: 5 - 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, kenapa Allah mendahulukan kesulitan atau penderitaan (al-‘Usr) ketimbang kemudahan atau kebahagiaan (al-Yusr)? Apa yang bisa kita pelajari dari penempatan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini, Jalaluddin Rakhmat—biasa dipanggil Kang Jalal, menjelaskan secara panjang lebar dan komprehensif rahasia redaksi ayat di atas. Ia mengatakan bahwa sudah menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memerhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan. Sebuah gigi yang sakit akan lebih diperhatikan daripada sekian gigi yang sehat. Satu anggota badan yang sakit akan lebih menyita perhatian daripada anggota-anggota badan lain yang tak sakit. Begitu pula dengan penderitaan dan kesulitan yang kita alami. Terkadang penderitaan dan kesulitan membuat orang berputus asa, merasa hidupnya sempit dan buntu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Tuhan mendahulukan kata ‘kesulitan’ ketimbang ‘kemudahan’ dengan angapan bahwa kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan. Bahkan, Tuhan perlu mengatakan itu dengan kalimat-kalimat penegasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam redaksi ayatnya, kita lihat ada dua tanda penegasan: pertama kata ‘inna’ yang diartikan dengan ‘sungguh’ atau ‘benar-benar’. Yang kedua adalah pengulangan kalimat ‘kesulitan akan ada kemudahan’. Penegasan itu meyakinkan agar seseorang selalu optimis dan tak sepatutnya larut dalam duka musibah dan bencana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini bersinambung dengan surat selanjutnya, Al-Dhuha. Di dalam surat ini ada simbol yang melambangkan perjalanan hidup manusia sejak mulai dari ayat pertama, ‘Wa al-Dhuha’—Demi waktu dhuha. Waktu ‘dhuha’ yaitu pada saat matahari naik seukuran galah dengan sinarnya yang benderang, memancarkan kesegaran. Ketika Tuhan bersumpah demi matahari yang baru tampak sepenggalah, ada makna tersirat bahwa agar kita menengok saat sebelumnya, yaitu malam yang kelam. Dengan demikian, kita akan lebih dalam memaknai arti matahari-pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir Kang Jalal atas ayat di atas adalah itu semua menggambarkan bahwa kesulitan dan penderitaan akan berakhir dengan kemudahan dan kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan hanyalah pengantar menuju kemudahan dan kebahagiaan. Dan kemudahan dan kebahagiaan akan betul-betul terasa nikmatnya jika diawali dengan kesulitan dan penderitaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabar terhadap musibah, meski pun berat, itu hal biasa dan tak istimewa, sebagaimana bersyukur terhadap karunia. Yang istimewa adalah jika bersyukur terhadap musibah. Bagaimana caranya bersyukur saat ditimpa musibah? Kata Kang Jalal, yaitu dengan melihat sisi-sisi positif dan kebaikan dalam musibah itu, seperti dalam doa Imam Ali Zainal Abidin saat ia sakit, “Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku ini. Sebab, berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai kenistaan, aku lebih punya banyak waktu untuk berzikir dan berkumpul bersama keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, benarlah jika dikatakan, musibah itu keniscayaan, sedangkan penderitaan adalah sikap dan pilihan. Tak semua orang akan terpuruk dan menderita oleh musibah yang mendera, dan mungkin kehidupan selanjutnya justru lebih baik, karena kejiwaan dan pola pikirnya mengarahkan pada pilihan itu. Dan, tentu saja tak sedikit barangkali yang terpuruk dan menderita oleh musibah. Sebabnya sama: kejiwaan dan pola pikirnya memilih demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, lanjut Kang Jalal, musibah mengubah cara pandang seseorang dalam memahami kehidupan atau bahkan lebih mencerahkannya dalam menilai kehidupan. Semua itu bermula dari pola pikir. Maka, berpikirlah positif, yaitu dengan bersyukur dan bertawakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, buku ini memberikan perspektif baru soal penderitaan dan kesedihan. Di zaman yang bergelimang material tapi kering spiritual ini, buku ini patut anda baca, agar tahu hakikat penderitaan dan kesedihan yang sering kita alami dari dulu hingga kini. Saya jamin anda akan tercerahkan, sebagaimana halnya saya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penulis buku Sang Pengubah Mitos (2010)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5957982075527131616?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5957982075527131616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5957982075527131616' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5957982075527131616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5957982075527131616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/10/bersama-kesulitan-ada-kemudahan.html' title='Bersama Kesulitan Ada Kemudahan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TKVYimY4prI/AAAAAAAAAkQ/LhtSVqN9QL4/s72-c/tafsir+kebahagiaan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6608915303279118441</id><published>2010-08-30T23:18:00.001+07:00</published><updated>2010-08-30T23:19:37.619+07:00</updated><title type='text'>Filsafat Bisnis ala Soros</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvZt1jjZLI/AAAAAAAAAkI/TK-nfRMCK2s/s1600/The+Alchemi+of+Finance.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvZt1jjZLI/AAAAAAAAAkI/TK-nfRMCK2s/s320/The+Alchemi+of+Finance.jpg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dimuat di Seputar Indonesia, Minggu, 08 Agustus 2010&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;Judul: The Alchemy of Finance&lt;br /&gt;Penulis: George Soros&lt;br /&gt;Penerjemah: Syamsul Wardi&amp;amp;Yelvi Andri&lt;br /&gt;Penerbit: Daras Books&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2010&lt;br /&gt;Tebal: 407 hlm.&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PADA&lt;/b&gt; Juli 2010,George Soros telah mengunjungi Indonesia. Dia mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, dan menemui beberapa pejabat negara,seperti presiden,wakil presiden,dan menteri keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia datang karena ingin mengetahui secara langsung situasi ekonomi Indonesia yang sangat potensial untuk investasi. Soros memang sangat piawai dalam berinvestasi.Keputusannya dalam berinvestasi di perusahaan tertentu selalu tepat. Dan kabar teranyar, dia berniat untuk membeli saham Dubai Holding sebesar 4% lewat Bombay Stock Exchange (BSE).Tidak hanya seorang investor ulung, Soros juga terkenal dengan spekulator mata uang, pengusaha, dermawan, filsuf, dan aktivis politik. Raihan sebutan yang disematkan padanya, tentu tidak mudah. Ada rentang waktu yang lama untuk meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Namun, jika dilacak, tonggak kesuksesannya berada pada titik hijrahnya dari Inggris ke Amerika,terutama pada tahun 1959, yaitu pada waktu dia bekerja sebagai seorang analis bisnis, sembari bekerja pada perusahaan Arnhold dan S Bleichroeder, dari tahun 1963 hingga 1973. Pada waktu itu pula, Soros menulis kerangka konseptual filsafatnya bernama ”refleksivitas”, yang kemudian menjadi sebuah buku berjudul The Alchemy of Finance. Teorinya ini berdasarkan gagasan Karl Kopper, seorang filsuf, yang dia dapatkan pada waktu kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi London,di Inggris. Lewat buku ini, Soros menjelaskan berbagai masalah pelik keuangan internasional yang selama ini kurang diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengkritik teori-teori keseimbangan (equilibrium) saat ini mengenai pasar keuangan serta melemparkan argumentasi untuk pergeseran paradigma. Dalam konteks ini, Soros juga menelaah kelemahannya dalam argumentasi awalnya.Lalu dia meletakkan dasar bagi sebuah paradigma baru berdasarkan kesadaran bahwa pemahaman kita tidak pernah berkorespondensi dengan realitas, dan keberagaman itu merupakan sebuah faktor penting, namun tidak menentukan dalam pembentukan alur peristiwa. Implikasi paradigma ini mencapai jauh keluar dari pasar keuangan. Akhirnya, Soros menjelajahi seni—untuk membedakan dari ilmu— keuangan lebih jauh. Dia melakukan eksperimen realtime yang memberi penjelasan terperinci mengenai berbagai keputusan investasi yang dia ambil selama suatu periode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soros mengembangkan sebuah bingkai teoretis yang didasarkan pada konsep refleksivitas untuk menjelaskan hubungan antara pemikiran dan realitas. Dia menggunakan pasar keuangan sebagai sebuah laboratorium untuk menguji teorinya.Menurut soros, paradigma ini berada dalam masalah besar. Ide bahwa pasar keuangan cenderung bergerak ke satu keseimbangan (equilibrium) tampaknya bertentangan dengan bukti yang ada. Kebanyakan ekonom menyadari bahwa pasar keuangan mampu menghasilkan multikeseimbangan. Namun, ide bahwa pasar bebas tanpa regulasi memastikan alokasi aset secara maksimal belum juga ditanggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak upaya keras dilakukan untuk menyatukan perilaku aktual pasar keuangan dengan hipotesis pasar efisien, dengan mengadopsi definisi yang lebih elastis mengenai rasionalitas dan definisi yang lebih longgar lagi mengenai efisiensi. Berbagai modifikasi ini tidak banyak berguna. Untuk itu, The Alchemy of Financedimaksudkan sebagai sebuah serangan langsung terhadap paradigma yang berlaku saat ini.Buku ini juga merupakan sebuah sejarah ekonomi dan politik kontemporer yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari secara naif menyediakan cetak biru mengenai bagaimana bencana simpanpinjam di Amerika Serikat seharusnya dapat dipecahkan enam tahun lebih cepat, hingga memprediksi keruntuhan pasar saham tahun 1987 dua tahun sebelumnya. Melalui buku ini, Soros menunjukkan dirinya sebagai visioner pasar yang hebat di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Refleksivitas&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;George Soros menawarkan sebuah paradigma baru yang disebut teori refleksivitas.Teori ini merupakan sebuah lingkaran atau hubungan timbal balik dua arah antara pandangan partisipan dan kondisi sebenarnya.Teori ini menggarisbawahi bahwa pengamat pasar adalah bagian dari pasar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukanlah pengamat independen dari suatu sistem yang tertutup. Dengan demikian, hasil pengamatan dan tindakannya memengaruhi pasar itu sendiri.Demikian seterusnya sehingga hal ini bisa dianalogikan sebagai pemantulan/ refleksivitas. Dengan teori ini, Soros berasumsi adanya ruang ketidakpastian yang terkait dengan fallibility regulator dan partisipan pasar. Paradigma yang dipegang teguh selama ini hanya mengakui risiko yang diketahui dan tidak memedulikan defisiensi dan kesalahpandangannya sendiri.Paradigma itulah yang kemudian mengakibatkan krisis global terjadi, sebagai titik infeksi atau persimpangan, bukan hanya dalam gelembung perumahan tetapi juga dalam supergelembung jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soros menyebut krisis ini adalah akhir dari sebuah era. Teori keseimbangan (equilibrium teory) dan fundamentalisme pasar tidak dapat menjelaskan kondisi saat ini. Para pedagang menghasilkan uang dengan mengikuti tren yang berlaku. Pasar bereaksi terhadap ekspektasi partisipan, dan persepsi itu memengaruhi harga, yang cenderung memvalidasi diri sendiri dalam sebuah proses yang memperkuat diri hingga beberapa peristiwa yang tidak terduga mendongkel ekspektasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Soros didukung oleh fakta empiris mengenai berbagai fluktuasi dalam nilai tukar pasar yang sulit dijelaskan dengan fundamental- fundamental ataupun dengan berbagai konsep pasar efisien yang selama ini dipahami. Sawidji Widioatmodjo (2005) menelaah teori ini, bahwa jika defisit neraca perdagangan meningkat menyebabkan nilai tukar mata uang melemah (dalam jangka panjang). Jika semua orang meyakini kebenaran teori ini, semua orang akan tahu,bahwa mata uang akan jatuh. Karena semua orang tahu mata uang itu, rasionalnya mereka akan buru-buru menjual mata uang itu. Nah akibat penjualan serentak itu, akan menjatuhkan mata uang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang banyak mengambil keputusan untuk menahan penjualan. Inilah yang menyebabkan mengapa dolar AS bukannya melemah di saat defisit neraca perdagangan AS membengkak, tetapi malah sebaliknya meroket.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6608915303279118441?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6608915303279118441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6608915303279118441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6608915303279118441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6608915303279118441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/08/filsafat-bisnis-ala-soros.html' title='Filsafat Bisnis ala Soros'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvZt1jjZLI/AAAAAAAAAkI/TK-nfRMCK2s/s72-c/The+Alchemi+of+Finance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4943949831233529424</id><published>2010-08-30T23:07:00.002+07:00</published><updated>2010-08-30T23:12:38.947+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Wirausahawan Sejati</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvWjaM09pI/AAAAAAAAAkA/TVuZMkJuNQs/s1600/cover_passion+to+profits.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvWjaM09pI/AAAAAAAAAkA/TVuZMkJuNQs/s320/cover_passion+to+profits.JPG" width="305" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dimuat di Seputar Indonesia, Minggu, 25 Juli 2010&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;============&lt;br /&gt;Judul: Passsion to Profits; Panduan Sukses Bisnis bagi Pengusaha Pemula  &lt;br /&gt;Penulis: Rhonda Abrams&amp;amp;Alice LaPlante&lt;br /&gt;Penerbit: Azkia Publisher&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2010&lt;br /&gt;Tebal: 273 hlm.&lt;br /&gt;============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BANYAK&lt;/b&gt; wirausahawan sukses dalam bidang tertentu berawal dari hobi dan bakatnya.Ada juga yang tadinya bekerja pada orang lain,namun setelah sekian lama,ia keluar dan mendirikan perusahaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah armada taksi ASA yang beroperasi di Yogyakarta adalah salah satu contohnya. Bermula dari seorang mahasiswa UGM yang mempunyai kerja sampingan sebagai sopir taksi. Setelah 13 tahun bekerja menjadi sopir taksi, ia berpikir untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Ia kemudian pulang ke kampung halamannya hendak mencari modal. Ia pun mendapat modal sehingga berhasil mendirikan perusahaannya. Saat ini jumlah armadanya mencapai 50 kendaraan. Bisnisnya kemudian melebar ke bidang rental mobil, yang dikhususkan untuk pemimpin perusahaan dan perbankan. Jenis mobilnya beragam, mulai dari Avanza sampai Camry.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa sangka selama 13 tahun menjadi sopir, pemuda tadi bisa jadi pengusaha taksi. Jika Anda ingin memulai bisnis Anda sendiri sebagaimana contoh di atas, buku ini layak Anda baca. Buku ini menyediakan kebutuhan dasar para (calon) pengusaha untuk memulai menjalankan bisnis mereka sendiri. Buku ini adalah racikan dari dua orang: Rhonda Abrams dan Alice LapLante.Rhonda Abrams adalah entrepreneur, penulis, dan kolomnis di bidang kewiraswastaan dan usaha kecil di Amerika Serikat. Sebagai pendiri tiga perusahaan, Rhonda telah mengumpulkan berbagai pelajaran mendalam dari pengalaman dan pemahaman yang benar atas tantangantantangan yang dihadapi para pengusaha. Dia membangun praktek konsultan manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga seorang pionir awal Web,yang menciptakan sebuah websiteuntuk usaha kecil yang kemudian dia jual. Sedang Alice LapLante merupakan seorang penulis buku-buku bisnis yang bertempat tinggal di Palo Alto, California. Dia telah bekerja sama dengan Planning Shop— perusahaan Rhonda Brams. Buku ini dibagi empat bagian utama plus satu bagian khusus mengenai konsultan independen dan praktisi tunggal. Bagian pertama, bertajuk memilih bisnis. Pada bagian ini penulis memaparkan tentang pentingnya menentukan pilihan bisnis yang akan digeluti. Bagian ini membantu Anda bagaimana mengubah kegemaran menjadi pekerjaan dan juga diajarkan bagaimana berpikir, seperti pengusaha dan bagaimana menerjemahkan visi pribadi Anda menjadi sebuah visi bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal dasar diuraikan secara jelas dan menarik pada bab ini. Bagian kedua, bertajuk memulai bisnis. Bagian ini diawali dengan cara menciptakan identitas, menemukan cara terbaik memasarkan produk atau jasa Anda, serta menemukan tempat yang tepat. Bagian kedua ini juga membahas tentang aspek hukum, pajak, lisensi, dan asuransi yang menyangkut dengan perusahaan yang Anda bangun.Di sekujur bagian ini banyak sekali tabel dan lembar kerja untuk membantu ide-ide kreatif Anda mengalir lancar dan membandingkan pilihan-pilihan yang anda buat. Bagian ketiga dengan tajuk pemasaran, penetapan harga, dan penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya dijelaskan di antaranya tingkatan pilihanpilihan pemasaran—mulai dari metode-metode tradisional yang sudah teruji (seperti mengiklankan) hingga metode-metode paling terjangkau (seperti jaringan dari mulut ke mulut) dan sarana pemasaran onlinepaling mutakhir. Bagian keempat, menjalankan bisnis. Bagian ini terkait soal pengelolaan, yakni pelaksanaan, orang-orang, dan keuangan.Anda akan belajar bagaimana menyediakan infrastruktur, perlengkapan, proses, dan prosedur yang memungkinkan Anda memberikan produk atau jasa dengan cara yang menguntungkan; bagaimanamempekerjakan dan mempertahankan karyawan terbaik; dan langkahlangkah yang perlu Anda ambil untuk memastikan kas Anda terus mengalir tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Praktik, Risiko, dan Peluang&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Keseluruhan buku ini hendak memandu Anda tahap demi tahap melalui proses transformasi impian- impian usaha Anda menjadi sebuah bisnis. Namun, tidak ada jaminan otomatis bahwa hanya dengan membaca buku (ini) Anda akan menjadi pengusaha handal. Praktik adalah nomor satu setelah membaca buku ini. Dan yang akan menjadi jaminan adalah mempraktikkan bisnis Anda sesuai dengan petunjuk yang ada dalam buku ini. Tentu saja tidak mudah untuk menjadi pengusaha. Berbagai risiko pun akan dihadapi.Kerugian dan keuntungan akan datang silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih pengalaman akan benar-benar diperlukan dalam hal ini.Nah, dengan menjalankan petunjuk dalam buku ini Anda akan diajarkan bagaimana mengelola dan meminimalisasi pelbagai risiko menjadi profit yang menjanjikan. Kasus-kasus berbeda akan menjadi batu sandungan dalam berbisnis,baik dalam hal penawaran, pelaksanaan, dan budayanya. Oleh karena itu, buku ini diselipkan beberapa studi kasus atau usaha nyata seseorang, sehingga Anda dapat belajar dari kesalahan dan keberhasilan orang lain.Anda akan melihat bagaimana pengusaha lain telah berkembang dengan pesat atau berhasil menangani suatu masalah yang sulit. Sungguh, itu akan menginspirasi sekaligus mengajarkan anda sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam produk atau jasa yang saat ini sudah ada di pasar dalam bidang keahlian Anda, selalu ada peluang untuk meningkatkan produk atau jasa tersebut dan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan yang membelinya. Buku inilah yang akan memberikan cara-cara meraih peluang tersebut. Meskipun ditulis oleh orang Amerika,buku ini sangat memungkinkan untuk dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia—lantaran panduannya sangat universal,misalnya untuk membuat usaha penjualan gogodoh( baca: pisang goreng) maupun warung teh dalam skala besar.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4943949831233529424?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4943949831233529424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4943949831233529424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4943949831233529424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4943949831233529424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/08/menjadi-wirausahawan-sejati.html' title='Menjadi Wirausahawan Sejati'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/THvWjaM09pI/AAAAAAAAAkA/TVuZMkJuNQs/s72-c/cover_passion+to+profits.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-3032126703547853704</id><published>2010-08-09T08:25:00.000+07:00</published><updated>2010-08-09T08:25:30.563+07:00</updated><title type='text'>Maryamah, Sang Pendobrak Budaya Patriarki</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TF9Y0hz8P8I/AAAAAAAAAjo/_AcDQtfu7Zc/s1600/cover_cinta+dalam+gelas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TF9Y0hz8P8I/AAAAAAAAAjo/_AcDQtfu7Zc/s320/cover_cinta+dalam+gelas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Cinta di Dalam Gelas&lt;br /&gt;Pengarang: Andrea Hirata&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang Pustaka, Jogjakarta &lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal: 270 halaman&lt;br /&gt;==========================&lt;br /&gt;Jika anda merasa penasaran siapa sesungguhnya Maryamah Karpov pada logi keempat Laskar pelangi, maka di novel Cinta di Dalam Gelas-lah jawabannya. Novel ini adalah logi kedua dari dwilogi Padang Bulan (2010). Nama lain Maryamah ternyata adalah Enong, seorang anak yatim penambang timah, di mana kemudian dia menjadi perempuan pertama penambang timah di Belitong. Di dalam Padang Bulan sedikit-banyak diceritakan kisah Maryamah, meski porsinya tidak banyak, kalah dengan porsi kisah Ikal, yang mengejar-ngejar cinta sejatinya, A Ling.    &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada novel Cinta di Dalam Gelas-lah Maryamah menjadi play maker. Jika dalam novel Padang Bulan Maryamah menjadi penambang perempuan pertama, sedang di novel ini dia menjadi perempuan pertama pula yang bertanding catur di perayaan 17 Agustus di Belitong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan catur ialah hal penting di Belitong. Permainan ini telah mentradisi dan bisa mengangkat drajat seseorang apabila menjadi juara, terutama di kejuaraan 17 Agustus-an. Untuk itulah Maryamah memutuskan ikut pertandingan catur pada 17 Agustus kelak. Apa sesungguhnya motivasi dia ingin ikut perlombaan ini, padahal seumur-umur dia belum pernah menyentuh sekalipun bidak-bidak catur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryamah ternyata ingin mengalahkan kepongahan mantan suaminya, Matarom, yang jago dalam bermain catur. Dia sakit hati pada Matarom yang seringkali berlaku kasar sejak dia menikah dengannya. Untuk itulah dia ingin memberi pelajaran padanya. Keinginan bermain catur kemudian dia utarakan pada Ikal. Awalnya Ikal bingung, bagaimana cara mengajari orang catur yang belum sekalipun bermain catur. Padahal mimpinya adalah mengalahkan sang jagoan catur tanah belitong, Matarom, yang telah menjadi rezim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, Ikal ingat dengan temannya, Ninochka Stronovsky, perempuan grandmaster dunia. Ikal kemudian mengajari Maryamah sesuai petunjuk Ninochka via internet. Awalnya sulit, tapi lambat laun Maryamah ternyata dapat menyerap dengan cepat. Walhasil, dia menjadi mahir, dan siap mengikuti perlombaan. Banyak orang mencibir dan menghalangi Maryamah untuk mengikuti lomba catur. Pasalnya, lomba catur adalah hal yang tabu di tanah Belitong. Seumur-umur tidak ada perempuan yang bermain catur, terlebih ikut perlombaan. Tapi, Maryamah tidak bergeming. Dia terus maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertandingan, satu persatu dilahapnya lawan-lawan Maryamah. Di final, ia berhasil mengalahkan Matarom. Tuntas sudah misi Maryamah untuk mempermalukan Matarom, mantan suaminya, di khalayak umum. Tidak hanya itu, kemenangan Maryamah sejatinya kemenangan kaum perempuan dalam mendobrak tradisi patriarki yang masih sangat kental di tanah belitong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat permainan catur Maryamah berhasil mengangkat harkat dan martabatnya sebagai perempuan yang sejak remaja menjadi bulan-bulanan kaum laki-laki. Karakter dirinya terefleksikan dalam permainan caturnya, sebagaimana yang dikatakan Andrea, “…barangkali penderitaan dan tanggung jawab besar yang merundung Maryamah sejak kecil, serta sebuah perkawinan yang menyiksa, telah membentuk dirinya menjadi seorang survivor yang tangguh dan defender yang natural. Semua itu kemudian terefleksi dalam permainan caturnya. Jika ia melindungi rajanya—sebagaimana ia melindungi diri, ibu dan adik-adiknya—ia takkan pernah bisa tersentuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta di Dalam Gelas mengandung pesan yang sangat dalam dan berharga. Sungguh insipratif. Patut dibaca oleh siapa pun.[]    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat teh, gogodoh, dan sastra. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-3032126703547853704?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/3032126703547853704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=3032126703547853704' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3032126703547853704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3032126703547853704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/08/maryamah-sang-pendobrak-budaya.html' title='Maryamah, Sang Pendobrak Budaya Patriarki'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TF9Y0hz8P8I/AAAAAAAAAjo/_AcDQtfu7Zc/s72-c/cover_cinta+dalam+gelas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5522054899195594951</id><published>2010-07-22T06:55:00.000+07:00</published><updated>2010-07-22T06:55:08.637+07:00</updated><title type='text'>Ikal, si Pencemburu Buta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeImJoE3hI/AAAAAAAAAjY/_1fOkVKVG5E/s1600/cover_padang+bulan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeImJoE3hI/AAAAAAAAAjY/_1fOkVKVG5E/s320/cover_padang+bulan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Koran Jakarta, Kamis, 15 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Padang Bulan&lt;br /&gt;Penulis : Andrea Hirata&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal : 254 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp76.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama yang saya dapatkan setelah membaca novel Padang Bulan (2010) ini adalah kecerdasan sang pengarang, Andrea Hirata, dalam meramu mozaik hidupnya menjadi sebuah novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini dibuka dengan kisah Enong. Enong adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah buruh timah bernama Zamzami. Enong masih duduk di kelas enam SD. Ia senang sekali dengan pelajaran bahasa Inggris. Kelak, ia ingin menjadi guru bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Namun, suatu ketika ayahnya meninggal karena tertimbun tanah saat bekerja di tambang timah. Ekonomi keluarganya menjadi rapuh. Akhirnya, ia drop out dari SD. Ia harus menghidupi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini kemudian bergulir ke kisah Ikal yang berusaha mengejar cinta sejatinya, A Ling. Ayah Ikal sebetulnya melarang untuk mendekati gadis keturunan Tionghoa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ikal tidak menurut. Ia malah hendak melarikan A Ling ke Jakarta. Ya, mereka hendak backstreet atau kawin lari. Begitulah kira-kira dalam benak Ikal. Ia lakukan itu lantaran hubungannya tidak direstui orang tuanya. A Ling ternyata tidak ada di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tetangganya, ada seorang pria menjemputnya dengan sepeda. Kontan, ia cemburu. Sangat cemburu. Siapa gerangan lelaki itu yang beraniberaninya mencoba merebut kekasihnya? Ia pun meminta bantuan M Nur, detektif (-detektifan). Sang detektif memberi tahu bahwa laki-laki itu bernama Zinar, calon suami A Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui orangnya, Ikal tibatiba menjadi minder dan mengamini hubungan mereka. Betapa tidak, dari segi fi sik ia sangat kalah. Tampan dan tinggi seperti Chow Yun Fat, aktor film China. Lelaki itu terkenal juga dalam kejuaraan catur, tenis meja, voli, dan sepak bola pada 17 Agustus-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal putus asa. Ia pun berniat mencari pekerjaan ke Jakarta. Namun, tepat sebelum nakhoda kapal mengangkat sauh, Ikal berubah pikiran. Tiba-tiba ia mendapat ilham. Dalam rangka mendapat simpati A Ling, ia akan mengalahkan Zinar pada perlombaan Agustus-an kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus mengalahkan Zinar dalam tanding catur. Via Internet, Ikal belajar catur pada temannya, Ninochka Stronovsky, asal Georgia. Dia adalah teman Ikal ketika ia sekolah di Universitas Sorbonne. Tapi, sayang, dalam pertandingan, Ikal kalah sama Zinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ikal menantangnya dalam lomba tenis meja. Ia merasa percaya diri dalam cabang olah raga itu karena sejak dulu ia sudah mahir. Pada saat pertandingan, Ikal ternyata kalah lihai dengan Zinar. Walhasil, Ikal kalah telak. Terakhir adalah sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sayang, ia hanya menjadi cadangan dan tidak pernah dimainkan. Ikal pasrah dan putus asa. Ia mengalami demam. Ia meratapi nasibnya. Namun, suatu ketika ia menemukan brosur iklan yang menawarkan alat peninggi badan. Ia senang bukan main. Paling tidak, pikirnya, dari segi postur dirinya sama dengan Zinar. Ia pun memesan alat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nahas, tatkala alatnya dipakai, malah membuat ia sekarat akibat kesalahan teknis. Alat itu menjerat lehernya, dan terlihat akan gantung diri. Untunglah bisa diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir novel ini, terbongkarlah misteri A Ling dan Zinar yang sebenarnya, yang membuat Ikal senang bukan kepalang. Membaca novel ini, kita serasa berada di tengah-tengah para tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui novel ini, Andera Hirata semakin meneguhkan dirinya menjadi seorang novelis yang mengangkat budaya masyakarat Indonesia, khususnya budaya Melayu di tanah Belitung.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi adalah M Iqbal Dawami, pencinta buku. Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5522054899195594951?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5522054899195594951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5522054899195594951' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5522054899195594951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5522054899195594951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/07/ikal-si-pencemburu-buta.html' title='Ikal, si Pencemburu Buta'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeImJoE3hI/AAAAAAAAAjY/_1fOkVKVG5E/s72-c/cover_padang+bulan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8305718487221781322</id><published>2010-07-14T20:03:00.000+07:00</published><updated>2010-07-14T20:03:33.504+07:00</updated><title type='text'>Melatih Harta Nirwujud</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TD21WU0zIcI/AAAAAAAAAjQ/wU3j-8qpL10/s1600/cover_myelin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TD21WU0zIcI/AAAAAAAAAjQ/wU3j-8qpL10/s320/cover_myelin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Myelin; Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan&lt;br /&gt;Penulis: Rhenald Kasali&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetak: I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal: 346 hlm (termasuk indeks) &lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aset atau kekayaan selalu dipersuasikan pada sesuatu yang berwujud (tangibles). Baik itu  barang, materi (uang), bangunan, fasilitas, maupun yang lainnya. &lt;br /&gt;Pandangan hidup seperti itu sangatlah rapuh dan mudah goyah. Apabila anda mempunyai perusahaan, maka perusahaan anda akan rapuh, lantaran anda hanya fokus pada aset-aset yang kasat mata. Sementara aset-aset yang tidak kasat mata (intangibles) justru terlupakan.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, aset-aset yang tidak kasat mata sama pentingnya dengan aset-aset kasat mata. Para entrepeneur atau wirausaha sebaiknya jangan tersesat dalam perangkat tangibles. Demikian ditulis Rhenald Kasali dalam buku terbarunya yang berjudul Myelin; Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan (2010). Buku ini merupakan rangkaian dari buku tentang perubahan (Change!) yang pernah ditulis Rhenald sebelumnya, yaitu Change (2004), Recode Your Change DNA (2007), dan Mutasi DNA Powerhouse (2008).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rhenald Kasali, pakar bisnis dan Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Manajemen FE-UI, melakukan riset sepanjang 2009. Hasil temuannya adalah bahwa ada kesalahan mendasar yang telah kita lakukan dan masih terus kita diamkan dalam mengisi diri kita, anak-anak didik kita, karyawan, dan para eksekutif. Kesalahan itu menyangkut soal memory. Penelitiannya ia jabarkan dalam buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah memberi singgasana terhormat hanya pada suatu memory saja, yaitu brain memory. Ujar Rhenald. Brain memory adalah sebuah sistem dan pengatur informasi yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun temuan-temuan terbaru dalam ilmu biologi menunjukkan ada memori lain yang tak kalah penting, yaitu muscle memory yang terletak di seluruh jaringan otot kita. Brain memory terbentuk dari pengetahuan, sedangkan muscle memory terbentuk karena latihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muscle memory itulah yang Rhenald maksud sebagai Myelin. Myelin adalah sumber dari segala talenta yang dibentuk melalui deep practice. Myelin tersebar merata dalam bentuk sistem syaraf pada otot-otot kita yang memberi perintah dan menyimpan informasi. Inilah konsep yang mendapat perhatian besar para ahli biologi sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ini sangat penting untuk menjelaskan bagaimana manusia, lembaga, dan perusahaan menghasilkan serta memupuk intangibles-nya. Setiap kali manusia mengulangi gerakan-gerakannya dan terlibat dalam suatu latihan fisik, mereka akan membentuk Myelin. Myelin itu seperti insulasi yang membungkus arus listrik. Ia berfungsi sebagai broadband alami yang kekuatan dan kapabilitasnya ditentukan oleh lapisan insulasi di bagian luarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intangibles adalah ruh anda, ruh usaha anda. Seperti ruh yang ada pada jiwa kita, ia tidak terlihat, tidak berwujud. Ia tidak tampak secara fisik seperti kepala, tangan, atau kaki kita. Ia juga bukan aset seperti mobil, rumah, gedung, atau tanah yang selalu dianggap sebagai ukuran kekayaan manusia. Dalam bidang kebudayaan, di kalangan kesenian dan kepariwisataan, ia disebut harta tak benda. Dalam ilmu manajemen ia biasa disebut harta nirwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan yang stagnan berfokus pada harta-harta fisik, yaitu kekayaan-kekayaan yang kasatmata (tangibles); sedangkan, perusahaan yang progresif memobilisasi harta-harta nirwujud. Harta benda berwujud menjadi miliki pemegang saham, sedangkan harta nirwujud atau harta-harta tak kasatmata atau intangibles melekat pada manusia di dalam maupun di luar perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memaparkan intangibles secara mendalam pada dua perusahaan, yaitu Blue Bird dan PT. Wijaya Karya (WIKA). Di Blue Bird diperlihatkan bagaimana Myelin berkembang dalam bentuk pelayanan kepada pelanggan dan tata nilai (kejujuran). Sementara itu di WIKA, Myelin bekerja mulai utak-atik mesin menjadi keterampilan membuat segala peralatan teknologi energi, mulai dari energi listrik, matahari, hydro, sampai bahan bakar batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WIKA juga membuat tiang listrik sampai membuat tiang pancang dan dikenal sebagai ahli beton. Di WIKA dikenal Myelin kedisiplinan dan kerapian. Berkat Myelin itulah mereka mampu mengelola usaha EPC yang menuntut keahlian yang utuh mulai dari mendesain, membangun, mengombinasikan teknologi sampai menjalankan pabrik. Mereka bukan hanya ahli membangun tapi juga membangun output performance-nya. Saat memasuki dunia internasional mereka sekali lagi melatih diri membangun Myelin baru, tahan bekerja dengan speed tinggi di udara terbuka yang cuacanya ekstrem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhenald juga membuktikan bahwa kehebatan seseorang tidak harus dicapai dengan IQ tinggi. Raihan sukses dapat dapat dilakukan oleh orang biasa-biasa saja namun mempunyai Myelin. Ia selalu berlatih setiap waktu atas apa yang diimpikannya sehingga menjadi bagian dari hidupnya. Lihatlah Brazil yang tidak pernah putus melahirkan mahabintang dalam jagat mengolah si kulit bundar. Sesuai dengan pengamatannya langsung ke Brazil, Rhenald mengatakan bahwa pesepakbola profesional di Brazil bermain bola sepanjang 8 jam perhari. Sementara untuk masyarakat biasa setidaknya bermain sepak bola 2 jam per hari.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Myelin atau Muscle memory dapat dibangun di dunia kesenian, olahraga, akademis, dan tentu saja di dunia usaha. Sungguh, buku ini patut dibaca oleh direktur, pengusaha, olahragawan, dan siapa saja yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya WIKA dan Blue Bird saja yang dijadikan sampel perusahaan yang memiliki intangibles di dalam buku ini (meski kedua perusahaan tersebut mendominasi), kita juga akan menjumpai Toyota, Adira, Dexa, ISS, Bank Mandiri, Merck, dan perusahaan-perusahaan besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perusahaan, Rhenald juga menilik kesuksesan personal yang disebabkan oleh Myelin atau intangibles-nya, seperti Susan Boyle (artis tua bersuara emas), Pele (legenda sepak bola dunia), Se Ri Pek (pegolf perempuan Korea Selatan), Richard Branson (pemilik Virgin Group Companies, yang menyediakan jasa tur ke angkasa), dan masih banyak lagi.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami, pengusaha penetasan bebek, pencinta buku, aktif di “Kere Hore Jungle Tracker Community” Yogyakarta  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8305718487221781322?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8305718487221781322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8305718487221781322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8305718487221781322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8305718487221781322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/07/melatih-harta-nirwujud.html' title='Melatih Harta Nirwujud'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TD21WU0zIcI/AAAAAAAAAjQ/wU3j-8qpL10/s72-c/cover_myelin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6971719269953584983</id><published>2010-06-22T17:19:00.000+07:00</published><updated>2010-06-22T17:19:31.088+07:00</updated><title type='text'>Menyegarkan Kembali Kritik Sastra Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TCCNoMU16dI/AAAAAAAAAjI/oFZOtBlW3fw/s1600/cover_darah+daging+sastra.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TCCNoMU16dI/AAAAAAAAAjI/oFZOtBlW3fw/s320/cover_darah+daging+sastra.jpg" width="234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Judul: Darah-Daging Sastra Indonesia&lt;br /&gt;Penulis: Damhuri Muhammad&lt;br /&gt;Penerbit: Jalasutra&lt;br /&gt;Cetakan: I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal: 166 hlm.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, kemunculan kritik sastra dengan karya sastra sangat tidak berimbang. Tidaklah berlebihan apabila ada yang mengatakan kalau beberapa tahun belakangan ini telah terjadi krisis kritik sastra, ketimbang karya sastra. Karya sastra hari demi hari terus mewabah tak kenal musim, sedang kritik sastra sebaliknya, muncul dalam rentang waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hadirnya buku ini sangat penting dalam konteks kekosongan buku-buku kritik sastra (Indonesia), terlebih yang ditulis oleh penulis Indonesia. Buku berjudul Darah-Daging Sastra Indonesia karya Damhuri Muhammad ini berisikan apresiasi atas karya-karya sastra (Indonesia) yang telah dipublikasikan (hanya ada 3 esai yang tidak dipublikasikan) di media cetak, baik itu novel, cerpen, maupun puisi. Buku ini mengemas 38 esai yang terbagi dalam empat bagian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Bagian pertama, berjudul Sastra Indonesia, Mau Ke Mana? Pembahasan dalam bab ini menyoal, misalnya, dari mana akar sastra Indonesia? Damhuri mencoba menelisiknya sembari mengutip dari beberapa sastrawan, di antaranya Maman S. Mahayana, bahwa akar sastra Indonesia adalah “sastra etnik”. Jelajah tematik dan eksplorasi estetik para sastrawan tak lepas dari latar etnik yang melahirkan dan membesarkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, misalnya, “Tokoh Ajo Sidi dalam cerpen Robohnya Surau Kami (AA Navis) yang tak lepas dari kultur Minang. Demikian pula yang dilakukan Chairul Harun (Warisan, 1979), Darman Moenir (Bako, 1983), dan Wisran Hadi (Orang-Orang Blanti, 2000). Eksplorasi kultur etnik adalah peluang yang menjanjikan lahan berlimpah. Tengok pula Arswendo Atmowiloto (Canting, 1986), Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1982), dan Umar Kayam (Para Priyayi, 1992), beberapa pengarang yang menggauli kultur Jawa dengan amat cerdas.” Ujar Damhuri Muhammad. (hlm. 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta di atas, Damhuri hendak membuktikan bahwa sastra Indonesia tidak melulu dikaitkan dan dipengaruhi oleh sastra Barat yang selalu kita agung-agungkan dan gaung-gaungkan. Oleh karena itu, Damhuri menegaskan pentingnya sejarah sastra. Sebab, hanya dengan pelacakan dan penulisan sejarahlah dapat diformulasikan sebuah konsep sastra Indonesia yang beridentitas, kokoh, orisinal.&lt;br /&gt;Esai-esai pada bab ini mengangkat kembali diskursus sastra Indonesia yang beberapa tahun belakangan hangat dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua, berjudul Lelaku Kepengarangan. Di dalamnya membincangkan tentang kepengarangan seseorang yang dikaitkan dengan karyanya masing-masing. Misalnya, prihal Prosa Pasca Bencana. Damhuri mengkritik para pengarang yang menggunakan bencana sebagai stamina kepengarangannya. Para novelis begitu menyala-nyala selepas bencana melanda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah bencana tsunami di Aceh. Banyak peluncuran buku-buku sastra semisal puisi, cerpen, dan novel yang terbit lantaran luka akibat musibah tsunami di Aceh. Dan banyak pula para penyair “karbitan”, yang tiba-tiba muncul dalam sebuah “proyek” antologi puisi tsunami. Fenomena itu dikritik pula oleh Radhar Panca Dahana yang mengatakan sastrawan seperti itu seperti gadis pesolek yang segera ke salon begitu ada warna rambur terbaru. Begitu mudahnya kesenian tenggelam dalam satu isu yang sedang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik dalam bab ini adalah perihal novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El-Shirazy. Penjualan novel AAC bisa menembus lebih dari 400.000 eksemplar. Fenomena itu dimanfaatkan para penulis lain (kongsi dengan penerbitnya) untuk mendompleng dan mengekor novel AAC, baik dari segi pengisahan, judul, kaver, maupun nama pengarangnya. Salah satunya, kata Damhuri, novel Bait-Bait Cinta (2008) karya Geidurrahman El Mishry. Novel ini dari segi pengisahan memang berbeda dengan AAC, bahkan menjadi wacana tandingan AAC. Tapi, dari segi nama pengarangnya masih mengekor pada AAC, Geidurrahman El Mishry (mirip dengan Habiburrahman El Mishry). “Semestinya, pengarang berani memosisikan novel ini sebagai karya yang mampu tegak di atas kaki sendiri, tak haarus terjangkiti oleh Sindrom Ayat-Ayat Cinta.” Ujar Damhuri (hlm. 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga tentang Rekam Jejak Cerpen, yaitu menyoal cerpen-cerpen yang ditulis oleh penulis Indonesia. Salah satunya adalah persoalan teks cerpen yang diposisikan sebagai berita atau kabar. Jadi, cerpenis adalah seorang “juru kabar” layaknya wartawan, namun perbedaannya, ia mengabarkan sesuatu (baik atau buruk) dengan estetika. Kabar petaka, bilamana penyampaiannya dikemas dengan bahasa yang teduh, sejuk, dan memukau boleh jadi tetap (seolah-olah) terdengar seperti ‘kabar baik’.&lt;br /&gt;Sebaliknya, kabar gembira bila medium pengabarannya cacat dan tak memadai bisa saja tersiar seperti kabar buruk (hlm. 121). Seorang cerpenis harus mampu mengisahkan “kabar”nya dengan apik, tanpa terjebak pada simbolisme, realisme, seperti yang dilakukan para wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira teknik pengisahan itulah yang menjadi media komunikasi seorang cerpenis atas pembacanya, sehingga pembaca dapat menikmatinya. Walau serupa membincangkan sastra secara umum, tapi dunia cerpen Indonesia cukup banyak dibicarakan dalam bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian keempat, perihal Estetika Puisi. Pembaca akan disuguhi proses kreatif para penulis sastra dalam menciptakan percikan-percikan ide yang memiliki nilai estetika puisi. Di dalam bab ini, pembicaraan tentang kesaksian kreatif berpuisi dalam memahami warna lokal sastra, latar sosial, dan religi dalam karya sastra juga mendapat tempat. Dibanding dengan bab-bab sebelumnya, bab ini sangatlah sedikit porsinya. Boleh jadi hal ini menandakan bahwa sang penulis memang kurang berminat untuk mengkritisi dan mengapresiasi puisi ketimbang novel dan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, buku ini mampu memperlihatkan isu-isu dunia sastra Indonesia dan makna yang terkandung dalam suatu karya sastra Indonesia. Menurut Budi Darma, kritik yang baik adalah kritik yang bisa membangkitkan siklus mencipta: karya sastra bisa melahirkan kritik, dan kritik bisa merangsang sebuah karya baru. Tak berlebihan, kiranya buku ini bisa dimasukkan dalam konteks itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini patut dijadikan referensi bagi peminat dunia sastra Indonesia, karena akan menyegarkan dahaga kita yang selama ini mengalami kekurangan kritik sastra.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat teh, gogodoh, dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6971719269953584983?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6971719269953584983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6971719269953584983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6971719269953584983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6971719269953584983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/06/menyegarkan-kembali-kritik-sastra.html' title='Menyegarkan Kembali Kritik Sastra Indonesia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TCCNoMU16dI/AAAAAAAAAjI/oFZOtBlW3fw/s72-c/cover_darah+daging+sastra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5249649175532140111</id><published>2010-05-23T04:13:00.000+07:00</published><updated>2010-05-23T04:13:11.957+07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Arti Jihad</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S_hIs6Xhg-I/AAAAAAAAAiw/eFQJbOpx1Nk/s1600/cover_fiqih+jihad.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S_hIs6Xhg-I/AAAAAAAAAiw/eFQJbOpx1Nk/s320/cover_fiqih+jihad.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KORAN JAKARTA, Jum'at 21 Mei 2010&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;========================&lt;span id="goog_483351194"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_483351195"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju&lt;span id="goog_483351186"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_483351187"&gt;&lt;/span&gt;dul: Fiqih Jihad&lt;br /&gt;Penulis: Yusuf Qardhawi&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan&lt;br /&gt;Cetakan: I, April 2010&lt;br /&gt;Tebal: 1260 halaman (termasuk indeks)&lt;br /&gt;========================&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Inilah buku teraktual yang membahas tentang jihad. Tidak hanya itu, buku ini pun boleh disebut buku babon perihal jihad. Betapa tidak, buku setebal 1260 halaman “hanya” berisikan jihad dari pelbagai sisi. Tak aneh, Yusuf Qardhawi, sang penulisnya, menyatakan bahwa buku termutakhirnya ini sebagai masterpiece-nya.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lahir dari kegelisahan-intelektual Yusuf Qardhawi akan maraknya berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Ditulis dalam waktu yang sangat panjang—sekitar 6 tahun—dan sempat terhenti untuk melihat relevansi pembahasan dengan realitas yang terjadi, Yusuf Qardhawi dalam buku ini ingin menjawab kebutuhan umat Islam terhadap penjelasan mengenai Islam dan pandangan tentang jihad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, jihad seolah identik dengan perang. Pandangan mainstream seperti itu berakibat fatal, karena menganggap Islam sebagai agama teroris dan mengajarkan kekerasan. Fiqih Jihad mencoba mengubah mainstream itu dengan meletakkan jihad dalam konteks yang lebih luas. Bahkan, tidak hanya itu, Qardhawi, pemikir terkemuka fiqih di Dunia Muslim kontemporer ini, membahas dan sekaligus mendudukkan kembali pengertian, ajaran, dan praksis jihad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardhawi membedakan jihad dengan perang (qital) baik dari segi bahasa maupun syari’at (hukum Islam). Jihad menurut bahasa adalah bentuk mashdar dari jahada-yujahidu-jihadan-mu&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;jahadatan, dan bentuk musytaq (derivatif) dari kata jahada-yajhadu-jahdan yang berarti menanggung kesulitan atau mencurahkan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qital adalah bentuk mashdar dengan wazn (timbangan) fi’al dari qatala-yuqatilu-qitalan-mu&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;qatalatan, dan bentuk musytaq dari kata qatala-yaqtulu-qatalan yang berarti menghilangkan jiwa orang lain. Jadi secara bahasa, kedua kata tersebut berlainan makna, baik secara derivasi maupun semantik. &lt;br /&gt;Kedua kata tersebut secara syari’at juga berlainan maknanya. Jihad bukan bermakna perang (qital) adalah penyebutan kata jihad pada ayat-ayat makiyyah (yang turun di Makkah) sebelum disyari’atkannya qital (perang) di Madinah. Salah satunya disebut dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Tuhanmu pelindung bagi orang-orang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang (qital) hanyalah salah satu bagian dari Jihad. Akan tetapi, hal ini tidak menafikan bahwa hukum keduanya tersebut berlainan dari sudut pandang realisasi dan perincian, dan bahwa cakupan jihad lebih luas daripada perang (qital) dan tingkatan jihad yang lain. Pembahasan kedua kata ini dijabarkan dengan cukup panjang dan argumentatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini, Yusuf Qardhawi, ingin menghadirkan Islam yang toleran, moderat, realistis, da&lt;span id="goog_483351190"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_483351191"&gt;&lt;/span&gt;n ramah, tanpa mengabaikan pakem-pakem syari’at yang sudah ditetapkan. Dalam bahasa Qardhawi syariat Islam memuat hal-hal yang permanen (tsawabit), tetapi memberikan pula ruang-ruang yang bisa berubah (mutaghayyirat). Misalnya, syari’at jihad.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di “Kere Hore Jungle Tracker Community” Yogyakarta &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5249649175532140111?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5249649175532140111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5249649175532140111' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5249649175532140111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5249649175532140111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/05/meluruskan-arti-jihad.html' title='Meluruskan Arti Jihad'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S_hIs6Xhg-I/AAAAAAAAAiw/eFQJbOpx1Nk/s72-c/cover_fiqih+jihad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-3694017535230699158</id><published>2010-05-16T18:28:00.000+07:00</published><updated>2010-05-16T18:28:45.942+07:00</updated><title type='text'>Menguak BUMN Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S-_VyhROxgI/AAAAAAAAAio/29IkyeUcWDo/s1600/cover_BUMN+Expose.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S-_VyhROxgI/AAAAAAAAAio/29IkyeUcWDo/s320/cover_BUMN+Expose.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KORAN JAKARTA, 27 April 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;=========================&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul : BUMN Expose; Menguak&lt;br /&gt;Pengelolaan Aset Negara&lt;br /&gt;Senilai 2.000 Triliun Lebih&lt;br /&gt;Penulis : Ishak Rafi ck&amp;amp;Baso Amir&lt;br /&gt;Penerbit : Ufuk Press&lt;br /&gt;Tahun : I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal : 306 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp94.900&lt;br /&gt;=========================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Wikipedia.com disebutkan bahwa pascakrisis moneter 1998, pemerintah giat melakukan privatisasi dan mengakhiri berbagai praktik persaingan tidak sehat. Fungsi regulasi usaha dipisahkan dari badan usaha milik negara (BUMN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akibatnya, banyak BUMN yang terancam gulung tikar, tetapi beberapa BUMN lain berhasil memperkokoh posisi bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki 160 lebih BUMN. Dengan jumlah seperti itu mestinya BUMN dapat menghidupi rakyat Indonesia menuju hidup sejahtera. Namun kenyataannya ibarat panggang jauh dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat negara lain yang memiliki perusahaan- perusahaan BUMN. Singapura, misalnya. Negara ini mempunyai Singapore Airline dan Singapore Telcom di bawah BUMN, kini kedua perusahaan tersebut berkinerja bagus dan paling efisien di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, keduanya adalah BUMN. Demikian pula dengan China dan India, dua negara yang kini menjadi tumpuan harapan dunia setelah jatuhnya kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat AS). Keduanya telah berkembang pesat berkat keberhasilan BUMN-BUMN mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding negara lain, BUMN Indonesia bergerak hampir di seluruh sektor ekonomi, mulai dari pertanian, manufaktur, pertambangan, perdagangan, keuangan (bank dan nonbank), telekomunikasi, transportasi, sampai listrik, konstruksi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku BUMN Expose; Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilai 2.000 Triliun Lebih berusaha menyoroti BUMN luar-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengajak pembaca untuk menelusuri zaman kegelapan BUMN. Perusahaan-perusahaan BUMN dari masa awal kemerdekaan sampai akhir masa Orde Baru diulas tuntas di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perusahaan-perusahaan itu berdiri, peranannya dalam pembangunan ekonomi bangsa, sistem tata kelolanya dalam hubungannya dengan penguasa, dan lain-lain. Menurut buku ini, saat itu, tidak ada transparansi dalam pengelolaan BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang, perusahaan-perusahaan itu pun terserak di 17 departemen teknis. Sedang BUMN pada zaman ini hanya menjadi sapi perah dan sumber dana non-budgeter yang bisa digunakan untuk apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buku ini membahas pula upaya pembenahan BUMN sejak krisis memorak porandakan dunia usaha sampai akhir Kabinet Reformasi Pembangunan Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diulas pula perjalanan Bank Mandiri sebagai salah satu BUMN, sampai ke bentuknya sekarang sebagai salah satu bank terbesar dan terbaik di Republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUMN tidak seperti laiknya usaha bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan. Bayangkan, total aset seluruh BUMN Indonesia pada 2004 mencapai 1.313 triliun rupiah, tapi laba bersihnya hanya mencapai 25 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja return on asset (ROA)-nya sangat rendah, sehingga BUMN menjadi entitas yang gemuk tapi tidak lincah menghasilkan profil atau keuntungan.Walhasil, jika saja BUMN dikelola secara modern dan profesional, hal seperti itu tidak seharusnya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membuka wawasan kita bahwa Indonesia memerlukan terobosan dan gagasan baru dalam mengembangkan BUMN, sebagaimana dikatakan Hendri Saparini, sehingga mampu mewujudkan perekonomian Indonesia yang mandiri dan berdaya saing.[]&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;M Iqbal Dawami, pencinta buku, bergiat di “Kere Hore Jungle Tracker Community” Yogyakarta &amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-3694017535230699158?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/3694017535230699158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=3694017535230699158' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3694017535230699158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3694017535230699158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/05/menguak-bumn-indonesia.html' title='Menguak BUMN Indonesia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S-_VyhROxgI/AAAAAAAAAio/29IkyeUcWDo/s72-c/cover_BUMN+Expose.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5549434924943114643</id><published>2010-04-20T10:22:00.001+07:00</published><updated>2010-04-20T10:24:38.916+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Manusia Produktif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S80d7UvZlAI/AAAAAAAAAig/rqTgeaV_O_4/s1600/cover_Beyond+Productivity.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S80d7UvZlAI/AAAAAAAAAig/rqTgeaV_O_4/s320/cover_Beyond+Productivity.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SINDO, Minggu, 18 April 2010&lt;br /&gt;===========================&lt;br /&gt;Judul: Beyond Productivity&lt;br /&gt;Penulis: Sugeng Santoso&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal: 174 hlm.&lt;br /&gt;===========================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANDA&lt;/b&gt; mungkin pernah melihat orang yang sudah berusia lanjut, tapi tidak banyak menghasilkan apa-apa pada masa muda hingga tuanya entah itu berupa karya, prestasi, maupun finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun juga,anda mungkin pernah melihat orang yang masih muda, tetapi sudah banyak menghasilkan halhal yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain, entah itu karya,prestasi,maupun kekayaan. Kenyataan di atas tak lain menyangkut produktivitas seseorang dalam mengelola hidupnya.Faktor produktivitas sangat tergantung kepada manajemen waktu,motivasi, kemampuan koordinasi sumber daya, serta kualitas-kuantitas yang dihasilkan seseorang. Dengan kata lain, produktivitas berhubungan erat dengan kesuksesan.Atau bisa juga dibalik,kesuksesan terkait erat dengan produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal penting dalam hidup ini adalah soal produktivitas dalam pekerjaan.Seberapa efektifkah kita dalam berkarya setiap hari? Sudah optimalkah produktivitas kerja kita? Mengapa waktu bekerja begitu banyak,namun penghasilan kita tidak kunjung meningkat? Pertanyaan- pertanyaan tersebut sering diajukan oleh khalayak orang sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan produktivitas mereka. Sugeng Santoso, melalui bukunya Beyond Productivity, memberikan solusi perihal masalah produktivitas tersebut. Banyak para top performer dunia, kata Sugeng, dapat menyelesaikan pekerjaannya beberapa kali lebih cepat dibandingkan dengan kebanyakan orang. Hal itu disebabkan mereka mengerti dan melakukan keahliankeahlian (skill) yang berbeda dari kebanyakan orang di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sugeng, ada sepuluh faktor kunci yang membedakan orang-orang dengan produktivitas tertinggi—seperti top performer dunia—dengan orang-orang yang produktivitasnya rata-rata. Kesepuluh faktor kunci tersebut antara lain memahami dua aturan dasar dalam produktivitas (too much things to do,too little time dan ketika anda menjadi lebih baik anda akan menarik lebih banyak tanggung jawab), memiliki kejelasan,kenali dan miliki kemampuan/kompetensi anda, mengetahui faktor penghambat terbesar dalam diri anda, milikilah kreativitas, miliki keberanian, selalu selesaikan pekerjaan terpenting anda, miliki pembimbing, dan miliki hati yang mau melayani. Namun, dari kesepuluh faktor tersebut, ada dua hal yang patut dijadikan perhatian besar.Karena banyak orang seringkali mengabaikannya. Pertama, memahami dua aturan dasar dalam produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugeng mengatakan bahwa banyak orang selalu merasa mempunyai begitu banyak hal yang harus diselesaikan dan selalu merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan semua hal tersebut.Padahal,kita akanselalukekuranganwaktuuntuk menyelesaikan semua pekerjaan kita, tetapi kita akan selalu memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita yang paling penting dan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatandanhasilyangkitainginkan. Dalam hal ini, hukum Pareto, yaitu prinsip 80/20, bisa diterapkan. Hukum itu mengatakan bahwa 80% akibat berasal dari 20% penyebab.&lt;br /&gt;Hukum Pareto tersebut ditemukan pada 1897 oleh seorang ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto dari Universitas Lausanne saat ia mencari pola kekayaan dan penghasilan di Inggris. Jadi, silakan ajukan pada diri anda,“Apa 20% dari aktivitas yang saya lakukan yang menghasilkan 80% income yang saya dapatkan selama ini?”Ujar Sugeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan melihat bahwa dari usaha yang konsisten terus-menerus untuk hal-hal kecil akan memberikan hasil terbesar.Anda akan memperoleh produktivitas yang tinggi bila anda memperhatikannya terus menerus. Kedua, milikilah hati yang mau melayani. Betapa banyak orang hanya fokus pada imbalan atas apa yang mereka lakukan. Dan ketika orang fokus hanya terhadap imbalan, maka secara otomatis ia akan kehilangan nilai ketulusan dari tindakannya. Menurut Sugeng, imbalan, hasil, uang atau pendapatan kita adalah sebuah akibat saja. Hal ini hanya dapat kita peroleh dan secara otomatis akan meningkat drastis apabila kita berfokus pada tindakan melayani orang lain, melayani pelanggan-pelanggan kita baik internal maupun eksternal dengan lebih baik dan lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sisi positif lainnya adalah kita akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan yang tiada tara. Jadi, produktivitas ternyata tidak hanya seberapa besar yang dihasilkan dan seberapa besar hasil yang didapat, tapi juga berkait dengan kepuasan untuk memberi yang terbaik dan kepuasan menerima penghargaan yang baik. Kesepuluh faktor kunci yang dipaparkan Sugeng dalam bukunya itu akan menjamin anda bisa hidup produktif, asalkan dilakukan secara kontinu dan bertahap. Dan hasilnya,anda akan mengusahakan segala sesuatunya bisa efektif, efisien,dan berkualitas. Menjadi lebih produktif sudah tentu merupakan keinginan semua orang. Sayangnya, hanya sedikit orang saja yang bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kegagalan mencapai produktivitas disebabkan oleh banyaknya hambatan, baik hambatan itu berasal dari dalam diri maupun dari luar. Buku yang ditulis Sugeng ini sangat berharga dan layak dibaca dan dijadikan panduan bagi siapa saja yang menginginkan hidupnya produktif, terlebih dalam hal pekerjaannya. Penting pula dibaca bagi mereka yang menginginkan untuk melakukan lompatan besar. Buku ini menawarkan suatu pesan penuh harapan dan rasa percaya diri. Buku ini membuat anda akan menjadi manusia yang lebih baik.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5549434924943114643?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5549434924943114643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5549434924943114643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5549434924943114643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5549434924943114643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/04/sindo-minggu-18-april-2010-judul-beyond.html' title='Menjadi Manusia Produktif'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S80d7UvZlAI/AAAAAAAAAig/rqTgeaV_O_4/s72-c/cover_Beyond+Productivity.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8317850953270052058</id><published>2010-03-21T18:41:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T18:41:12.947+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Sukses Donald Trump</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: orange;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;KORAN SEPUTAR INDONESIA, 21/3/2010&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S6YFV8PizGI/AAAAAAAAAiQ/0hHHiQM39wQ/s1600-h/cover_Think+Like+A+Champion.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S6YFV8PizGI/AAAAAAAAAiQ/0hHHiQM39wQ/s320/cover_Think+Like+A+Champion.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Think Like A Champion!&lt;br /&gt;Penulis: Donald Trump&lt;br /&gt;Penerbit: Daras Books&lt;br /&gt;Cetakan: I, Januari 2010&lt;br /&gt;Tebal: 211 hlm.&lt;br /&gt;================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JUJUR&lt;/b&gt; pada diri sendiri dan pekerjaan anda sendiri merupakan sebuah aset.Tindakan dan ucapan akhirnya akan mengarahkan seseorang menuju reputasi dan memiliki integritas. Demikian di kemukakan Donald Trump.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trump merasakan hal itu bahwa betapa bernilainya kejujuran. Sebagai pebisnis,itu adalah kekuatan yang bisa membawa Trump melintasi segala hal. Sekarang, nama Trump adalah garansi level kualitas tertentu. Donald Trump adalah seorang pebisnis real estate, pertelevisian, dan beberapa bisnis lainnya.Dia menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) atas bisnis besarnya yang terwadahi dalam Trump Organization. Selain itu, ia juga pemilik yayasan Miss Universe Organization bersama National Broadcasting Company (NBC). Acara reality show The Apprentice adalah salah satu program suksesnya, di mana Trump duduk sebagai Excetive Director.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Trump juga menjadi brand sejumlah produk,di antaranya Donald J Trump Men’s Collection (pakaian), Trump Ice Bottled Water(Es Krim),Trump Magazine( majalah),Trump Golf (golf), Trump University (Perguruan tinggi), dan brand-brand lainnya. Lewat bisnis tersebut, ia tercatat sebagai raksasa bisnis AS, dalam berbagai bidang. Belum cukup sampai di situ kesuksesannya. Dalam real estate, Trump dipandang sebagai investor paling terkemuka di dunia. Ia adalah negosiator tanpa tanding, dan seorang yang dermawan. Ia terkenal sebagai pebisnis yang tanpa henti meningkatkan standar kesempurnaan kerjanya, terutama pada era 1980-an sampai 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya masuk dalam daftar orang Amerika terkaya versi majalah Forbes yang ke-88 dari 400. Apa sesungguhnya rahasia sukses Donald Trump? Buku inilah jawabannya. Melalui buku ini,Trump membeberkan semua rahasia suksesnya itu. Buku ini adalah sebuah indikasi proses pemikiran yang Trump percaya bisa mengarahkan orang pada kesuksesan, sebagaimana dirinya. Buku ini juga merupakan sisi lain kepribadian Trump—sisi yang lebih reflektif yang mengungkap sumber-sumber daya Trump dan bagaimana ia menerapkannya pada gambaran besar,yaitu kehidupan. Di antara rahasia sukses Trump adalah pentingnya sebuah aset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Trump membaca sebuah esai yang ditulis Stephen king, novelis dan cerpenis produktif Amerika.Inti esai King adalah bahwa dalam mengkaji kondisi cerpen dewasa ini, menurutnya cerpencerpen itu sepertinya “terasa ingin pamer, serta ditulis untuk para editor dan guru, bukan untuk pembaca.” Stephen King dengan cerdas menyadari bahwa para penulis cerpen dewasa ini tengah melindungi aset mereka dengan menargetkan penulisan mereka pada orang-orang yang akan paling mungkin mampu mencetaknya. Pertimbangan kedua mereka adalah pembaca, karena, bila mereka tidak mempertimbangkan editor dulu, pembaca tidak akan pernah punya peluang melihat cerpen mereka, tak peduli betapa mengagumkannya cerpen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah komentar menohok dan membuat Trump mengamini kritikan King di atas.Ketika Trump membangun sebuah gedung tempat tinggal,misalnya,ia mula-mula akan mempertimbangkan siapa yang akan tinggal di sana. Ia mempelajari demografi, seperti halnya orang bisnis mana pun, apakah berada dalam manajemen properti tempat tinggal ataukah periklanan. Untuk menyampaikan pesan, Trump juga harus menarik orangorang yang akan memilih—atau tidak memilih—untuk mempromosikan gedung itu. Rahasia penting lain yang dimiliki Trump adalah pandai bernegosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trump menerima banyak permohonan yang menanyai dirinya tentang keahlian negosiasinya, dan ada keseimbangan pada negosiasi sukses yang tidak dilihat banyak orang. Negosiasi terbaik, kata Trump adalah ketika kedua belah pihak menang. Ada kompromi di dalamnya, yang berarti mendengar dengan hati-hati, dan ketika itu dicapai anda akan melihat hasil yang sukses. Bisnis adalah seni—dengan sendirinya, dan keahlian negosiasi yang kuat adalah salah satu teknik yang diperlukan untuk memfasilitasi sukses. Trump juga menyampaikan tentang pentingnya kegairahan. Jika anda tidak menyukai apa yang anda lakukan,margin sukses anda akan berkurang signifikan, dan masa-masa sulit akan jauh lebih susah dilalui. Nah, kegairahan akan memberikan ketahanan yang diperlukan untuk mencapai halhal hebat. Michelangelo, misalnya dikenang di masa kita melebihi Paus atau politikus mana pun di masanya,hanya karena ia memberi begitu banyak hal pada dunia— meskipun kemungkinannya amat kecil.Orang ini keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diragukan, ia bergairah melakukan apa yang ia lakukan. Menurut Trump,ketika semua terlihat sulit, ada baiknya mengingatkan diri anda tentang orang-orang seperti itu, seseorang yang mempertahankan integritas seninya terlebih dulu, dan yang terutama dalam pikiran dan tindakannya. Rahasia lainnya adalah anda tidak boleh menyerah. Trump mengatasi sejumlah kemunduran besarnya hanya dengan menjadi keras kepala.Ia menolak menyerah atau angkat tangan. Baginya, itu adalah integritas tujuan yang tak bisa dikalahkan atau dicampuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsistensi dalam niat bisa mendatangkan hasil-hasil akhir. Di dalam dunia kompetitif anda bisa disalip dan bisa pula dikalahkan. Dengan mengecamkan itu, kata Trump, akan menjamin anda berada dalam bentuk terbaik pada persaingan. Meskipun anda saat ini adalah orang utama, berlagaklah seolah anda underdog.Hal itu akan memperbaiki wawasan anda maupun visi Anda. Think Like A Champion adalah sebuah contoh pendekatan kehidupan dan bisnis ala Trump. Di dalam penyajiannya, ia mengambil sebuah topik,memikirkannya,menelaahnya, dan mengembalikannya ke sebuah rumusan yang menjadi hal yang Trump, yakni merupakan saran yang solid, dan bisa dipraktikkan oleh siapa pun. Sungguh,ini sebuah buku yang sangat inspiratif, enak dibaca, dan menggugah semangat berwirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini,Donald Trump mengajak kita untuk melihat dunia bisnis dengan semangat integritas, dan belajar menciptakan situasi yang terbaik dan siap untuk hal yang terburuk. Dengan penyampaiannya yang mengalir dan bahasanya yang renyah, cocok sekali membaca buku ini, misalnya, pada pagi hari di akhir pekan sembari minum teh.(*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8317850953270052058?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8317850953270052058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8317850953270052058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8317850953270052058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8317850953270052058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/03/rahasia-sukses-donald-trump.html' title='Rahasia Sukses Donald Trump'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S6YFV8PizGI/AAAAAAAAAiQ/0hHHiQM39wQ/s72-c/cover_Think+Like+A+Champion.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8890914747668641146</id><published>2010-03-01T18:23:00.001+07:00</published><updated>2010-03-01T18:25:26.290+07:00</updated><title type='text'>Berpikir Positif Meraih Bahagia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4ujMvEyU_I/AAAAAAAAAiI/m5_uY9PZZKE/s1600-h/cover_365+hari+berpikir+positif.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: orange;"&gt;Resensi ini dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu 28 Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4ujMvEyU_I/AAAAAAAAAiI/m5_uY9PZZKE/s1600-h/cover_365+hari+berpikir+positif.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4ujMvEyU_I/AAAAAAAAAiI/m5_uY9PZZKE/s320/cover_365+hari+berpikir+positif.jpg" width="237" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Judul: 365 Hari Berpikir Positif&lt;/div&gt;Penulis: Brook Noel&lt;br /&gt;Penerjemah: Maria Asri&amp;amp;Nyi Indah Kristiani&lt;br /&gt;Penerbit: Daras Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tebal: 340 halaman&lt;/div&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESUKSESAN&lt;/b&gt; maupun kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Robert J Hasting mengatakan, “Begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang.” Salah satu cara berpikir yang ampuh adalah berpikir positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hal ini dibuktikan, misalnya, oleh Miss Universe tahun 2005, Natalie Glebova, saat ditanya oleh juri, “Apa yang Anda anggap paling penting dalam hidup Anda?” Dengan yakin dia menjawab,“Saya selalu belajar dan mencoba untuk berpikir positif. Dengan berpikir positif akan memberikan dampak cukup kuat pada kedamaian dunia.” Konon, jawaban itulah yang membuatnya terpilih menjadi Miss Universe tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih perlu bukti tentang dahsyatnya berpikir positif? Kali ini datang dari para ilmuwan yang telah membuat kesimpulan atas riset selama puluhan tahun tentang manfaat berpikir positif dan optimisme bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa seorang yang optimistis (baca: berpikir positif) lebih sehat dan lebih panjang umur dibanding orang lain apalagi dibanding dengan orang pesimis. Para peneliti juga memperhatikan bahwa orang yang optimistis lebih sanggup menghadapi stres dan lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya agar senantiasa berpikir positif setiap hari? Brook Noel, penulis Barat, memberikan solusinya, yaitu dengan menulis catatan harian. Cara ini sangat berguna untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Dengan catatan harian, kita bisa menilai dengan lebih baik semua niat, reaksi, kelemahan, dan kekuatan yang kita miliki, di mana kesemuanya itu bermuara pada perilaku positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan harian bagaikan rekaman video yang terus menerus merekam semua perilaku dan aktivitas kita. Rekaman seperti itulah yang kita butuhkan untuk mengevaluasi setiap langkah yang kita ambil. Rekaman itu akan membantu kita untuk tetap terjaga dan memungkinkan kita untuk secara bertahap mengurangi dan menghilangkan hal-hal negatif yang ada dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brook Noel adalah penulis buku, khusus dalam manajemen dan keseimbangan hidup bagi wanita karier. Ia memberikan motivasi gratis. Tanya jawab online, interaksi lewat pesan, bertemu sambil minum kopi ketika ia bepergian, dan newsletter gratis yang rutin dikirimkan kepada puluhan sampai ribuan pembaca. Noel mulai dikenal pada tahun 2003 sebagai salah satu dari 40 Pengusaha sukses berusia di bawah 40 tahun oleh Business Journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan juru bicara dalam Home Business Association dan juga seorang pengusaha sukses. Bukunya ini menawarkan insipirasi, konsep, dan strategi yang cemerlang untuk membantu anda menjalani kehidupan terbaik anda setiap hari dengan pengharapan yang positif. Dengan menjalaninya, maka anda diarahkan untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam setiap hari yang anda jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noel menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan tekad dalam bentuk tertulis, 86 persen lebih mungkin untuk mencapai apa yang mereka tulis dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan pernyataan tegas tertulis. Dia memberikan contoh konkrit mulai dari awal tahun hingga akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Januari, misalnya, dia membuat komitmen untuk menyisihkan setiap harinya untuk merencanakan masa depannya. Dia mulai mencicilnya hari itu juga. Dia juga menunjukkan sembari menyarankan pembaca juga untuk membuat daftar lima tempat di rumah anda yang masih berantakan dan anda rencanakan untuk dirapikan pada bulan itu. Untuk membantu anda mewujudkan rencana ini, tulislah daftar tersebut di agenda anda atau tempel di kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bantuan maksimal, libatkan anggota keluarga untuk mewujudkan rencana anda. Pada diary-nya yang tertanggal 5 januari, Noel berusaha agar dirinya dan pembaca juga tidak membiarkan masa lalu atau pun masa depan mengendalikan kehidupannya sehari-hari. Kita bisa belajar dari masa lalu dan memberikannya energi untuk kembali terulang dalam kehidupan kita yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mari kita menarik pelajaran dari masa lalu itu dan menerapkannya hari ini. Pada intinya, buku ini adalah semacam panduan menuju hidup lebih baik dari hari ke hari. Dengan mencatat visi dan misi, masalah dan solusi, serta rencana-rencana, diharapkan kita meraih segala keinginan-keinginan kita yang positif tersebut. W W Ziege pernah berkata, ”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Ziege, anda akan mendapatkan pesan positif dalam buku ini setiap hari dalam setahun, 365 hari. Dalam biodata Noel dikatakan bahwa sudah banyak orang yang telah menyadari manfaat buku ini, menjadi orang yang sukses dan bahagia. Kini, saatnya anda membuktikan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpikir positif, kita akan termotivasi untuk melihat jauh ke depan, sehingga kesulitan hari ini tidak akan menjadi batu sandungan bagi kita untuk maju. Ibarat menyeruput secangkir teh di pagi hari sembari makan pisang goreng, buku ini adalah aktivitas anda yang bisa anda nikmati setiap pagi sebagai sumber kekuatan mental dalam menjalani hari yang penuh tantangan.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Penikmat teh dan gogodoh &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8890914747668641146?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8890914747668641146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8890914747668641146' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8890914747668641146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8890914747668641146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/03/berpikir-positif-meraih-bahagia.html' title='Berpikir Positif Meraih Bahagia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4ujMvEyU_I/AAAAAAAAAiI/m5_uY9PZZKE/s72-c/cover_365+hari+berpikir+positif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5301318458519136881</id><published>2010-02-21T19:26:00.000+07:00</published><updated>2010-02-21T19:26:06.808+07:00</updated><title type='text'>Memahami Bahasa Tubuh untuk Kesuksesan</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: orange;"&gt;Dimuat di SINDO, Minggu 14 Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4EmJ-tLKUI/AAAAAAAAAiA/RETmSRhs9_g/s1600-h/19074_1219799211249_1116968343_30530175_2889246_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4EmJ-tLKUI/AAAAAAAAAiA/RETmSRhs9_g/s320/19074_1219799211249_1116968343_30530175_2889246_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: The Magic of Talking&lt;br /&gt;Penulis: Leil Lowndes&lt;br /&gt;Penerjemah: Ratih Ramelan, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit: Ufuk, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Desember 2009&lt;br /&gt;Tebal: 574 halaman&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun silam, guru drama Leil Lowndes begitu kecewa atas akting buruknya. Ia pun berteriak,“Tidak! Tidak! Tubuhmu bertentangan dengan kata-katamu. Setiap gerakan kecil dan setiap posisi tubuh mencerminkan pikiranmu. Wajahmu dapat membentuk tujuh ribu ekspresi yang berbeda, dan setiap darinya menampilkan secaratepatsiapadirimudanapa yang sedang kau pikirkan.” Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah Lowndes lupakan, “Dan tubuhmu! Caramu bergerak merupakan otobiografimu dalam bentuk gerakan.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lowndes diam-diam mengamini perkataan gurunya itu. Dan dari situ ia menyadari betapa pentingnya bahasa tubuh menyokong kesuksesan hidup seseorang. Dalam panggung kehidupan setiap gerakan yang dilakukan,tanpa disadari menceritakan kisah hidup. Anjing dapat mendengar suara yang tidak bisa kita dengar. Kelelawar mampu melihat bendabenda dalam kegelapan yang tak mampu kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, manusia melakukan gerakan di bawah sadar, tetapi mampu memberikan daya luar biasa dalam menarik atau menolak. Setiap senyum, cemberut, dan setiap kata yang diucapkan, dapat mengarahkan orang lain kepada anda atau menjauhkan mereka dari anda. Lowndes bercerita jika ada dua orang yang berada dalam kotak, yang dihubungkan dengan rangkaian untuk merekam aliran sinyal di antara keduanya, maka sebanyak 10.000 unit informasi akan mengalir per detiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mengutip salah seorang pakar komunikasi dari University of Pennsylvania, “Kemungkinan besar, upaya-upaya seumur hidup dari separuh populasi orang dewasa di Amerika akan diperlukan untuk menyortir unit-unit interaksi antara dua subjek dalam satu jam.” Dengan sejuta aksi cerdik dan reaksi di antara manusia,dapatkah kita memunculkan kiat-kiat konkret demi membuat komunikasi kita jelas, mantap, kredibel, dan karismatik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menemukan jawaban atas pertanyaan di atas,Lowndes membaca setiap buku tentang kecakapan komunikasi,karisma,dan keselarasan di antara manusia.Ia juga melakukan ratusan studi di seluruh dunia terhadap kualitas yang terkait dengan kepemimpinan dan kredibilitas. Para pakar sosial pun tidak kenal lelah dalam mencari formulanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lowndes menyadari bahwa dunia saat ini sudah berbeda dengan abad ke-19 sehingga kita memerlukan formula baru dalam meraih kesuksesan.Demi menemukannya, ia mengamati para superstar saat ini. Ia amati cara-cara yang digunakan oleh para sales ternama, pembicara ulung, agamawan terkemuka, pemikat andal, dan para atlet berprestasi. Selain itu, saat bersama para pemimpin sukses,Lowndes menganalisis bahasa tubuh dan ekspresi wajah mereka. ia mendengarkan dengan saksama percakapan,waktu, dan pilihan kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat saat mereka berurusan dengan keluarga, teman, rekan, dan lawan mereka. Setiap kali ia meliha tkeajaiban dalam komunikasi mereka, “Saya meminta mereka untuk menjelaskannya”. Kemudian mereka sama-sama menganalisis, dan ia pun lalu mengubahnya menjadi kiat-kiat yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Penemuannya itu ia tuangkan dalam buku ini. Lewat karyanya ini, Lowndes mendapati bangunan kualitas yang mendorong kesuksesan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membangun kiat-kiat tersebut, ia mulai memperkenalkannya kepada orang-orang di penjuru negeri. Hasilnya, klien-kliennya pun banyak dari mereka para eksekutif perusahaan dan kalangan lainnya. Secara spesifik, buku ini membimbing kita tentang, misalnya bagaimana menarik seseorang tanpa kata-kata; bagaimana mengetahui apa yang harus dikatakan anda mengatakan “Hai”; bagaimana berbicara layaknya orang penting; bagaimana bisa ikut ambil bagian dalam percakapan apa pun; bagaimana agar terdengar, seperti bagian dari mereka; bagaimana membedakan antara pujian dan kata-kata menjilat; dan bagaimana menjadikan pesta menguntungkan sebagaimana seorang politisi memperluas jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku menyadarkan kita betapa pentingnya menggunakan bahasa tubuh yang baik. Memperbaiki bahasa tubuh dapat membuat perbedaan yang besar ketika seseorang menilai kepribadian anda. Bahasa tubuh yang baik dapat menunjukkan bahwa anda memiliki kecakapan, daya pikat dan suasana hati yang positif. Sebagai contoh: jika anda sering tersenyum, anda akan merasakan lebih bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda duduk dengan tegap, anda akan merasakan lebih energik. Jika anda melambatkan gerakan anda (tidak terburu-buru), anda akan merasakan lebih tenang. Contoh yang lebih konkret lagi adalah perihal beberapa bahasa tubuh yang perlu anda perhatikan ketika berbicara dengan seseorang. Ketika ada orang terkoneksi dan melakukan hubungan pembicaraan yang positif,mereka secara tidak sadar akan saling berkaca satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti anda akan sedikit meniru bahasa tubuh lawan bicara anda,begitu juga sebaliknya. Dari situ anda dapat juga melakukan teknik berkaca yang proaktif (dengan sadar) untuk lebih meningkatkan kualitas hubungan anda dan lawan bicara anda. Sebagai contoh, jika lawan bicara anda sedikit mencondongkan badannya ke depan, anda dapat juga mencondongkan badan anda ke depan. Jika lawan bicara anda menaruh satu tangannya di atas meja, anda juga dapat melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,tetap perlu diingat, jangan melakukan gerakan tiruan dengan jeda waktu yang sangat singkat dan hampir semua gerakan ditiru. Apa yang anda rasakan akan tersalur lewat bahasa tubuh dan dapat menjadi perbedaan yang besar terhadap kualitas hubungan anda dan lawan bicara anda.Tetaplah jaga sikap yang positif, terbuka dan santai.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5301318458519136881?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5301318458519136881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5301318458519136881' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5301318458519136881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5301318458519136881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/02/memahami-bahasa-tubuh-untuk-kesuksesan.html' title='Memahami Bahasa Tubuh untuk Kesuksesan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S4EmJ-tLKUI/AAAAAAAAAiA/RETmSRhs9_g/s72-c/19074_1219799211249_1116968343_30530175_2889246_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5132364408752244368</id><published>2010-02-15T10:54:00.000+07:00</published><updated>2010-02-15T10:54:20.623+07:00</updated><title type='text'>Mengungkap Misteri Freemasonry</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: orange;"&gt;Resensi ini dimuat di KORAN JAKARTA, Sabtu 13 Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3jE1jP3z8I/AAAAAAAAAh4/ZF72Ep2xOgM/s1600-h/cover_the_lost_symbol.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3jE1jP3z8I/AAAAAAAAAh4/ZF72Ep2xOgM/s320/cover_the_lost_symbol.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Judul: The Lost Symbol&lt;br /&gt;Penulis: Dan Brown&lt;br /&gt;Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno&lt;br /&gt;Penerbit: PT Bentang Pustaka&lt;br /&gt;Cetakan: I, Januari 2010&lt;br /&gt;Tebal: 705 halaman&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;The&lt;/b&gt; Lost Symbol adalah novel kelima karya Dan Brown, dan novel ketiganya yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels &amp;amp; Demons dan The Da Vinci Code. Permulaan kisah dalam novel ini dimulai dengan Robert Langdon yang dipanggil ke Washington DC untuk mengisi ceramah, sembari menemui temannya Peter Solomon, tepatnya di gedung Capitol. Namun, ternyata undangan tersebut hanyalah kebohongan belaka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di gedung tersebut seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason. Langdon ternyata akan diperalat. Langdon dihubungi oleh seseorang yang mengaku sedang menyandera Peter Solomon. Penyanderaan tersebut tak lain sebagai jaminan agar Langdon memecahkan teka-teki tentang “Ancient Mysteries” yang dimiliki organisasi Freemason. Penyandera Peter Solomon tersebut ternyata juga mengejar adik Peter Solomon, Katherine. Kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia. Secara umum, alur novel ini masih sama seperti novel-novel sebelumnya, Th e Da Vinci Code dan Angels and Demons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan semalam diburu waktu untuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang tak diduga dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Dan tokoh perempuan yang menemani petualangan sang tokoh utama pria. Kali ini, organisasi yang hendak dibongkar misterinya adalah Freemasonry. Menurut Encyclopaedia Britannica, Freemason merupakan perhimpunan rahasia terbesar di dunia, berkembang dari loji-loji tukang batu pembangun katedral di Abad Pertengahan. Sebagian kecil loji itu mengembangkan ajaran kebatinan yang memungut ritus-ritus dan pernak-pernik ordo keagamaan kuno dan kelompok persaudaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loji Agung, persatuan beberapa loji, pertama berdiri di Inggris pada 1717, dan Freemason pun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Robert Langdon berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sahabatnya yang telah ditawan. Maka dimulailah petualangan semalam suntuk Robert Langdon di Washington. Selain itu, Direktur CIA menekan dia untuk segera mengungkap siapa penyandera tersebut dan segera memenuhi permintaan sang penculik karena penculikan Solomon adalah masalah keamanan nasional. Nahasnya, sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan melayang, dan rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Langdon mencari teka-teki itu, pembaca akan “diajak” melihat terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington. Pembaca akan merasa berdebar-debar saat mengikuti penelusuran Robert Langdon. Buku The Lost Symbol ini dikisahkan secara menarik dan penuh kejutan-kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5132364408752244368?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5132364408752244368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5132364408752244368' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5132364408752244368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5132364408752244368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/02/mengungkap-misteri-freemasonry.html' title='Mengungkap Misteri Freemasonry'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3jE1jP3z8I/AAAAAAAAAh4/ZF72Ep2xOgM/s72-c/cover_the_lost_symbol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-1123731954187011148</id><published>2010-02-11T19:58:00.000+07:00</published><updated>2010-02-11T19:58:14.412+07:00</updated><title type='text'>Pamuk dan Istanbul</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P-y9nqw2I/AAAAAAAAAhw/9fQ33FxKVRY/s1600-h/is.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P-y9nqw2I/AAAAAAAAAhw/9fQ33FxKVRY/s320/is.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Istanbul : Kenangan Sebuah Kota&lt;br /&gt;Penulis: Orhan Pamuk&lt;br /&gt;Penerjemah: Rahmani Astuti&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal: 563 halaman&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BUKU&lt;/b&gt; ini adalah memoar seorang peraih nobel bidang sastra tahun 2006, Orhan Pamuk, kelahiran Turki. Dalam memoarnya, Pamuk banyak berkisah tentang dirinya—seperti keluarga dan cinta pertamanya—dan tempat kelahirannya yang sekaligus menjadi judul buku ini, Istanbul. Ia mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya di Istanbul antara 1950 hingga 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ferit Orhan Pamuk, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Istanbul pada 7 Juni 1952. Ia terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang makmur. Ayahnya adalah direktur utama pertama IBM Turki. Ia kuliah di Universitas Teknik Istanbul jurusan arsitektur. Namun, ia berhenti setelah tiga tahun kuliah dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis sepenuh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?” Ujar sang ibu suatu ketika menyarankan Pamuk. Pamuk mengakui bahwa dirinya dan Istanbul sudah tidak bisa dipisahkan. Istanbul adalah takdirnya, karena kota tersebut telah menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Pamuk dan kota Istanbul telah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamuk berbeda dengan para penulis dunia lainnya semacam Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, dan V.S. Naipul. Mereka adalah penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antar-bahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaaan akar. Oleh karena itu, Inspirasi Pamuk hanyalah kota Istanbul, yang sudah dikenal dengan detail. Maka, tak heran dalam memoarnya ini pula ia banyak mengulas Istanbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang diulas oleh Pamuk mengenai Istanbul adalah sisi kemuramannya alias huzun. Baginya, orang boleh bangga dengan kemegahan Turki yang dibangun pada masa Kesultanan Usmani (Ottoman), tapi saat ini di mana Kesultanan Usmani sudah ambruk, Istanbul tak lain hanyalah kota miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi Pamuk, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pandangan sinisnya atas Istanbul (umumnya Turki) baik melalui karya-karya maupun wawancaranya, Pamuk menuai kritikan. Banyak orang menanyakan mengapa ia sering mengkritik Turki dari sisi negatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pamuk Sebagai Penulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak banyak membicarakan perjalanan kepenulisannya, dalam memoarnya tersirat embrio Pamuk akan menjadi penulis besar. Berawal dari perpustakaan ayahnya, pada usia 17 tahun ia mulai mencurahkan waktunya untuk membaca dan melahap habis buku-buku yang ada dalam perpustakaan tersebut. Pada 1970, saat berusia 18 tahun, dia mulai menulis puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuannya, Pamuk sangat menyukai buku-buku puisi yang ramping dan kusam dari para penyair yang dikenal di Turki sebagai bagian dari gelombang pertama tahun 1940 hingga 1950 dan gelombang kedua tahun 1960 sampai 1970. Pamuk kemudian menulis puisi-puisi dengan cara yang sama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak tahun 1970, Pamuk menambah koleksi perpustakaan keluarganya. Terutama buku-buku yang berkaitan dengan bangsa Turki. Membaca buku-buku yang terkait Turki membuka pikirannya. Sejumlah pertanyaan selalu menggelayut dalam otaknya, seperti mengapa Turki begitu miskin, kumuh, suram, dan kacau balau. Menurutnya, adalah benar bahwa orang seharusnya memandang rendah dirinya karena tak memikirkan apa pun kecuali memikirkan negerinya sendiri dan gagal melihat hubungan antara negerinya dengan bagian dunia yang lain. Semenjak itu, ia mulai serius menulis novel yang bersettingkan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, buku ini patut dibaca oleh siapa saja (seperti penulis, sosiolog, dan antropolog), terlebih yang mau mengenal lebih jauh siapa Orhan Pamuk dan negeri Turki (baca: Istanbul).[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Penikmat teh dan gogodoh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-1123731954187011148?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/1123731954187011148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=1123731954187011148' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1123731954187011148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1123731954187011148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/02/pamuk-dan-istanbul.html' title='Pamuk dan Istanbul'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P-y9nqw2I/AAAAAAAAAhw/9fQ33FxKVRY/s72-c/is.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-7414186445212827455</id><published>2010-02-11T19:42:00.000+07:00</published><updated>2010-02-11T19:42:31.753+07:00</updated><title type='text'>Pemberontakan Istri Kesembilan Belas</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="CONTENT-TYPE"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)" name="GENERATOR"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;style type="text/css"&gt;	&lt;!--		@page { margin: 0.79in }		P { margin-bottom: 0.08in }	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s1600-h/cover_The_19th_Wife.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s320/cover_The_19th_Wife.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Judul: The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife: Istri Ke-19&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penulis: David Ebershoff&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penerjemah: Ibnu Setiawan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penerbit: Bentang, Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Cetakan: I, November 2009&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tebal: 590 hlm.&lt;/div&gt;---------------- &lt;br /&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Suatu &lt;/b&gt;ketika David Ebershoff, seorang penulis dan pengajar di Columbia University, berbicara dengan seorang profesor di bidang sejarah perempuan abad ke-19. Mereka berdua melakukan pembicaraan yang sangat panjang, dan profesor itu memberitahu semua cerita yang menakjubkan mengenai kaum perempuan Amerika pada abad ke-19. Kemudian dia menyebutkan Ann Eliza Young, yang saat itu terkenal sebagai istri ke-19.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Istri ke-19? Sungguh sebuah angka yang aneh di depan kata istri. Selanjutnya Ebershoff ingin mendalami lagi siapa yang dimaksud dengan istri ke-19 itu? Kemudian dia mulai berandai-andai, bagaimana rasanya menjadi istri ke-19? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini di otaknya, dia kemudian menulis novel dengan judul The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Lembut dan puitis, enak dibaca dan tidak terlupakan. Itulah kesan saya ketika selesai membaca novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife karya David Ebershoff. Sang penulis menggabungkan fiksi sejarah epik dengan misteri pembunuhan modern untuk menciptakan sebuah novel yang brilian dari segi ketegangan cerita.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Saat itu tahun 1875, dan Ann Eliza Young baru saja berpisah dari suaminya yang penuh kekuatan, Brigham Young, kepala pendeta dan pemimpin Gereja Mormon. Diusir dan dibuang dari masyarakat, Ann Eliza memulai usaha perjuangan suci untuk mengakhiri poligami di Amerika Serikat. Sebuah cerita penuh makna dari sejarah keluarga pelaku poligami disampaikan, termasuk bagaimana seorang perempuan muda menjadi istri yang kesekian tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Segera setelah cerita Ann Eliza dimulai, narasi kedua yang indah sekali dibuka – sebuah cerita mengenai pembunuhan yang melibatkan keluarga pelaku poligami yang tinggal di Utah pada masa kini. Jordan Scott, seorang lelaki muda yang dibuang dari sekte fundamentalisnya beberapa tahun yang lalu, harus memasuki kembali dunia yang bisa membawanya ke dalam sekte tersebut untuk menyingkap kebenaran di balik meninggalnya ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan sebagai narasi Ann Eliza yang terjalin dengan pencarian Jordan, para pembaca ditarik lebih dalam memasuki misteri cinta dan iman.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini membawa kita melewati hidup Eliza, dimulai sebelum dia lahir saat kedua orang tuanya mulai memeluk kepercayaan Mormon, berjumpa di gereja hingga akhirnya menikah. Ann Eliza adalah seorang perempuan berpikiran kuat yang menekuni kepercayaannya dengan serius. Bagaimanapun juga, dia menentang poligami, sebuah institusi yang didukung oleh Pendeta Joseph Smith, pendiri Gereja Yesus Kristus Latter-Day Saints (LDS), pada tahun-tahun terakhirnya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Melalui pengalaman kedua orang tuanya dan pengalamannya sendiri, dia mengetahui kerusakan yang bisa disebabkan oleh poligami. Selanjutnya dia akan mengambil sikap menentang praktik perkawinan dengan banyak pasangan, meninggalkan hampir segala sesuatu yang dulunya dia ketahui dan dia pegang teguh, termasuk imannya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Hubungan antara praktik dan doktrin mengarahkan kepada perpecahan di tubuh gereja. Beberapa kelompok kecil yang mendukung dan percaya bahwa praktik perkawinan dengan banyak pasangan diwahyukan secara mutlak dari Tuhan, memisahkan diri dari Gereja LDS dan membentuk kelompok sendiri. Poligami masih ada saat ini.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Hal inilah yang membawa kepada cerita Jordan Scott. Dia adalah seorang anak hilang, dibuang oleh ibunya di tepi jalan ketika dia masih berusia 14 tahun atas perintah kepala pendeta. Jordan tumbuh dalam kelompok yang terasing di Utah. Ibunya adalah istri kesembilan belas dari seorang laki-laki terhormat dalam kelompok Mesadale. Setelah dewasa dan tinggal di California, Jordan merasa pasti bahwa dia tidak akan pernah melihat ibunya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Bagaimanapun juga, ketika kabar sampai kepada Jordan bahwa ibunya ditahan karena tuduhan telah membunuh ayahnya, Jordan memutuskan untuk kembali ke tempat yang sangat dia benci. Dia mengepak barang-barangnya, melompat ke dalam mobil, bergabung dengan rekannya yang sangat dipercaya, Elecktra, dan menuju Utah. Dia tidak yakin apa yang akan dia lakukan, namun setelah bertemu dengan ibunya dan berbicara dengan pengacaranya, dia memutuskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu sendiri. Untuk melakukan ini, Jordan harus menghadapi masa lalunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Kedua cerita mengalir bersamaan melalui isi novel, menimbulkan hubungan yang muncul di sana-sini. Pengarang membawakan kedua cerita bersamaan dengan cara yang kreatif dan tidak bisa diterka.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Cerita yang dituturkan Ann Eliza membuat pembaca terpesona, terutama ketika dia menempati posisi yang penting dalam cerita dirinya. Dalam novel, dia tampil sebagai perempuan kuat yang tentu saja tetap mempunyai kelemahan, namun dia juga mengetahui pemikirannya sendiri. Saya mengagumi semangatnya dalam membela apa yang dia yakini. Saya bahkan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dia karena meninggalkan kehidupan dan keimanan yang membentuk dunianya – satu-satunya hal yang pernah dia ketahui.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Ada banyak sekali materi dalam novel ini, melebihi apa yang bisa saya katakan. Saat poligami barangkali menjadi materi yang terlalu banyak dibahas dalam novel, cerita-cerita pribadi di dalamnya lah yang benar-benar menjadikannya sebuah novel. Saya sungguh-sungguh merekomendasikan novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife karya David Ebershoff ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife ini tidak memberikan kesimpulan akhir mengenai poligami, sebaliknya justru memunculkan isu dari berbagai sudut pandang dan membiarkan pembaca membentuk idenya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini secara tidak langsung mendedah sejarah poligami di Amerika Serikat, terutama poligami yang dijalankan oleh pengikut Gereja Mormon. Namun sejarah itu tidak berakhir pada tahun 1890, ketika Gereja Mormon mengubah sikapnya terhadap poligami. Sejak saat itu praktik poligami bagi warga Amerika merupakan tindakan sekunder. Para pelaku poligami saat ini tentu saja bukan penganut paham Mormon. Dan perlu diketahui juga, aliran Mormon saat ini tidak melakukan poligami.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini bergerak maju-mundur di antara sekian abad. Ini mungkin merupakan trik penulis agar bisa bercerita bolak-balik. Begitu sebuah momentum dibangun di atas salah satu sisi cerita, pembaca langsung dihadapkan pada sisi yang lain ketika membalik halaman berikutnya. Waktu demi waktu juga dibangun di atas poin yang sangat kuat sekadar untuk menerima perubahan narasi. Namun, kita mendapatkan kedua sisi cerita tersebut sama-sama menarik.[]&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-7414186445212827455?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/7414186445212827455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=7414186445212827455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7414186445212827455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/7414186445212827455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/02/pemberontakan-istri-kesembilan-belas.html' title='Pemberontakan Istri Kesembilan Belas'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s72-c/cover_The_19th_Wife.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2082726601474488441</id><published>2010-01-31T20:29:00.001+07:00</published><updated>2010-01-31T20:29:37.835+07:00</updated><title type='text'>stri Kesembilan Belas</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="CONTENT-TYPE"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)" name="GENERATOR"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;style type="text/css"&gt;	&lt;!--		@page { margin: 0.79in }		P { margin-bottom: 0.08in }	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s1600-h/cover_The_19th_Wife.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s320/cover_The_19th_Wife.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Judul: The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife: Istri Ke-19&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penulis: David Ebershoff&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penerjemah: Ibnu Setiawan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penerbit: Bentang, Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Cetakan: I, November 2009&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tebal: 590 hlm.&lt;/div&gt;---------------- &lt;br /&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Suatu &lt;/b&gt;ketika David Ebershoff, seorang penulis dan pengajar di Columbia University, berbicara dengan seorang profesor di bidang sejarah perempuan abad ke-19. Mereka berdua melakukan pembicaraan yang sangat panjang, dan profesor itu memberitahu semua cerita yang menakjubkan mengenai kaum perempuan Amerika pada abad ke-19. Kemudian dia menyebutkan Ann Eliza Young, yang saat itu terkenal sebagai istri ke-19.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Istri ke-19? Sungguh sebuah angka yang aneh di depan kata istri. Selanjutnya Ebershoff ingin mendalami lagi siapa yang dimaksud dengan istri ke-19 itu? Kemudian dia mulai berandai-andai, bagaimana rasanya menjadi istri ke-19? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini di otaknya, dia kemudian menulis novel dengan judul The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Lembut dan puitis, enak dibaca dan tidak terlupakan. Itulah kesan saya ketika selesai membaca novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife karya David Ebershoff. Sang penulis menggabungkan fiksi sejarah epik dengan misteri pembunuhan modern untuk menciptakan sebuah novel yang brilian dari segi ketegangan cerita.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Saat itu tahun 1875, dan Ann Eliza Young baru saja berpisah dari suaminya yang penuh kekuatan, Brigham Young, kepala pendeta dan pemimpin Gereja Mormon. Diusir dan dibuang dari masyarakat, Ann Eliza memulai usaha perjuangan suci untuk mengakhiri poligami di Amerika Serikat. Sebuah cerita penuh makna dari sejarah keluarga pelaku poligami disampaikan, termasuk bagaimana seorang perempuan muda menjadi istri yang kesekian tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Segera setelah cerita Ann Eliza dimulai, narasi kedua yang indah sekali dibuka – sebuah cerita mengenai pembunuhan yang melibatkan keluarga pelaku poligami yang tinggal di Utah pada masa kini. Jordan Scott, seorang lelaki muda yang dibuang dari sekte fundamentalisnya beberapa tahun yang lalu, harus memasuki kembali dunia yang bisa membawanya ke dalam sekte tersebut untuk menyingkap kebenaran di balik meninggalnya ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan sebagai narasi Ann Eliza yang terjalin dengan pencarian Jordan, para pembaca ditarik lebih dalam memasuki misteri cinta dan iman.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini membawa kita melewati hidup Eliza, dimulai sebelum dia lahir saat kedua orang tuanya mulai memeluk kepercayaan Mormon, berjumpa di gereja hingga akhirnya menikah. Ann Eliza adalah seorang perempuan berpikiran kuat yang menekuni kepercayaannya dengan serius. Bagaimanapun juga, dia menentang poligami, sebuah institusi yang didukung oleh Pendeta Joseph Smith, pendiri Gereja Yesus Kristus Latter-Day Saints (LDS), pada tahun-tahun terakhirnya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Melalui pengalaman kedua orang tuanya dan pengalamannya sendiri, dia mengetahui kerusakan yang bisa disebabkan oleh poligami. Selanjutnya dia akan mengambil sikap menentang praktik perkawinan dengan banyak pasangan, meninggalkan hampir segala sesuatu yang dulunya dia ketahui dan dia pegang teguh, termasuk imannya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Hubungan antara praktik dan doktrin mengarahkan kepada perpecahan di tubuh gereja. Beberapa kelompok kecil yang mendukung dan percaya bahwa praktik perkawinan dengan banyak pasangan diwahyukan secara mutlak dari Tuhan, memisahkan diri dari Gereja LDS dan membentuk kelompok sendiri. Poligami masih ada saat ini.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Hal inilah yang membawa kepada cerita Jordan Scott. Dia adalah seorang anak hilang, dibuang oleh ibunya di tepi jalan ketika dia masih berusia 14 tahun atas perintah kepala pendeta. Jordan tumbuh dalam kelompok yang terasing di Utah. Ibunya adalah istri kesembilan belas dari seorang laki-laki terhormat dalam kelompok Mesadale. Setelah dewasa dan tinggal di California, Jordan merasa pasti bahwa dia tidak akan pernah melihat ibunya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Bagaimanapun juga, ketika kabar sampai kepada Jordan bahwa ibunya ditahan karena tuduhan telah membunuh ayahnya, Jordan memutuskan untuk kembali ke tempat yang sangat dia benci. Dia mengepak barang-barangnya, melompat ke dalam mobil, bergabung dengan rekannya yang sangat dipercaya, Elecktra, dan menuju Utah. Dia tidak yakin apa yang akan dia lakukan, namun setelah bertemu dengan ibunya dan berbicara dengan pengacaranya, dia memutuskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu sendiri. Untuk melakukan ini, Jordan harus menghadapi masa lalunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Kedua cerita mengalir bersamaan melalui isi novel, menimbulkan hubungan yang muncul di sana-sini. Pengarang membawakan kedua cerita bersamaan dengan cara yang kreatif dan tidak bisa diterka.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Cerita yang dituturkan Ann Eliza membuat pembaca terpesona, terutama ketika dia menempati posisi yang penting dalam cerita dirinya. Dalam novel, dia tampil sebagai perempuan kuat yang tentu saja tetap mempunyai kelemahan, namun dia juga mengetahui pemikirannya sendiri. Saya mengagumi semangatnya dalam membela apa yang dia yakini. Saya bahkan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dia karena meninggalkan kehidupan dan keimanan yang membentuk dunianya – satu-satunya hal yang pernah dia ketahui.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Ada banyak sekali materi dalam novel ini, melebihi apa yang bisa saya katakan. Saat poligami barangkali menjadi materi yang terlalu banyak dibahas dalam novel, cerita-cerita pribadi di dalamnya lah yang benar-benar menjadikannya sebuah novel. Saya sungguh-sungguh merekomendasikan novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife karya David Ebershoff ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel The 19&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Wife ini tidak memberikan kesimpulan akhir mengenai poligami, sebaliknya justru memunculkan isu dari berbagai sudut pandang dan membiarkan pembaca membentuk idenya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini secara tidak langsung mendedah sejarah poligami di Amerika Serikat, terutama poligami yang dijalankan oleh pengikut Gereja Mormon. Namun sejarah itu tidak berakhir pada tahun 1890, ketika Gereja Mormon mengubah sikapnya terhadap poligami. Sejak saat itu praktik poligami bagi warga Amerika merupakan tindakan sekunder. Para pelaku poligami saat ini tentu saja bukan penganut paham Mormon. Dan perlu diketahui juga, aliran Mormon saat ini tidak melakukan poligami.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Novel ini bergerak maju-mundur di antara sekian abad. Ini mungkin merupakan trik penulis agar bisa bercerita bolak-balik. Begitu sebuah momentum dibangun di atas salah satu sisi cerita, pembaca langsung dihadapkan pada sisi yang lain ketika membalik halaman berikutnya. Waktu demi waktu juga dibangun di atas poin yang sangat kuat sekadar untuk menerima perubahan narasi. Namun, kita mendapatkan kedua sisi cerita tersebut sama-sama menarik.[]&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2082726601474488441?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2082726601474488441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2082726601474488441' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2082726601474488441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2082726601474488441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/01/stri-kesembilan-belas.html' title='stri Kesembilan Belas'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WFhqh9AeI/AAAAAAAAAhY/QNEEVRqm9qY/s72-c/cover_The_19th_Wife.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2616379888882577618</id><published>2010-01-17T09:16:00.000+07:00</published><updated>2010-01-17T09:16:38.977+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Sukses Investor Dunia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S1JyKWjZpJI/AAAAAAAAAhQ/Fvy7g2-03T4/s1600-h/buku.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S1JyKWjZpJI/AAAAAAAAAhQ/Fvy7g2-03T4/s320/buku.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #eeeeee; color: blue;"&gt;Dimuat di &lt;b&gt;Seputar Indonesia&lt;/b&gt;, 17 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Judul: The Secrets of Investment Legends&lt;br /&gt;Penulis: Barrie Dunstan&lt;br /&gt;Penerjemah: Epic Mustika Putro&lt;span style="background-color: #f3f3f3;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Daras Books&lt;br /&gt;Cetakan: I, Desember 2009&lt;br /&gt;Tebal: 344 hlm. (termasuk indeks)&lt;br /&gt;-------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berinvestasi&lt;/b&gt; ibarat seni atau ilmu pengetahuan. Investasinya kadang merefleksikan barang dan jasa yang paling dasar,mulai dari produk-produk berorientasi konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Barrie Dunstan ini memang mumpuni dalam hal dunia investasi. Kita diajak berkenalan dengan pelbagai investor dunia. Sebagai seorang wartawan profesional, Dunstan menulis secara teratur untuk Australian Financial Review tentang investasi dan pengelola investasi. Ia terlibat dalam penelitian tentang para investor paling menarik di dunia bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membangun reputasi internasional sebagai jurnalis terkemuka di negaranya,Australia. Dunstan mempelajari ide-ide terbaik para investor dunia dan bagaimana berinvestasi dengan sukses ala mereka, kita mendapatkan manfaat serta memiliki pedoman yang bijak dan berwawasan darinya. Adapun kaum investor yang digali oleh Dunstan adalah: Peter Bernstein,Barton Biggs,John C Bogle, Anthony Bolton, Sir Ronald Brierley,Gary Brinson,Warren Buffet, Abby Joseph Cohen, Ray Dalio, Marc Faber, David Fisher, Jeremy Grantham, Bill Gross, Martin Leibowitz,dan Lewis Sanders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di atas yang dipilih Dunstan tentu bukan tanpa alasan. Ia memilih mereka didasarkan pada pelbagai pencapaian. Orangorang seperti Warren Buffet dan Charlie Munger, plus Anthony Bolton dari Fidelity International dan David Fisher dari Capital Group International,memiliki rekor yang begitu dahsyat karena secara konsisten mendapatkan keuntungan investasi di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya menggunakan ide mereka dan menerapkannya untuk membangun atau membantu membentuk lembaga-lembaga investasi besar. Bill Gross di PIMCO, Gary Brinson di Brinson Partners,dan Jack Bogle di Vanguard adalah contoh-contoh orang yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat karyanya, terlihat Dunstan berusaha mencari tahu apa yang membentuk mereka selama hidup dan pendidikan mereka,apa yang membawa mereka ke dalam industri ini,secuil filsafat investasi mereka, orang yang telah memengaruhi selama karier mereka,dan siapa di antara rekan-rekan mereka yang mereka kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar legenda investor dalam buku ini mengungkap sesuatu tentang kualitas yang diperlukan untuk berinvestasi dengan sukses serta membangun bisnis dan portofolio investasi yang sukses.Mereka memiliki ide yang amat kuat tentang bagaimana menangani investasi. Warren Buffet, misalnya hampir memiliki kategorinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah menjadi narasumber di ratusan buku dan merupakan pengelola investasi paling terkenal dan menonjol di dunia, seperti ditunjukkan oleh status multimiliardernya. Ia memiliki ingatan ensiklopedis untuk keputusan investasi. Ketika Buffet pada usia 77 tahun ditanya apa yang akan dikerjakan 10 tahun mendatang,“Saya akan melakukan persis dengan apa yang saya lakukan sekarang karena saya sekarang melakukan persis apa yang saya sukai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan strategi Buffet paling dasar adalah berinvestasi di perusahaan yang diyakini akan menyediakan nilai investasi jangka panjang. Prinsip investasinya adalah “Jauh lebih baik membeli perusahaan yang menakjubkan di harga yang wajar daripada membeli perusahaan yang wajar di harga yang menakjubkan.” Investor lainnya,Gary Brinson, mengungkapkan sedikit contoh tentang penilaian ekstrem dalam kehidupan investasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charlie Munger percaya investor harus mengikuti aturan petaruh sukses di pacuan kuda yang menunggu hingga mereka bisa melihat taruhan yang baik.Bahkan para penentang yang nyata, seperti Marc Faber menekankan agar anda perlu paham kekuatan pasar dan ekonomi sebelum melawan arus utama. Selanjutnya Ray Dalio memperjelas bahwa penting untuk memastikan anda tahu bagaimana serta kapan bertaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar semua pengelola aktif yang berusaha menemukan saham yang tepat di antara ribuan saham, Jack Bogle berpendapat bahwa lebih baik membeli seluruh jerami dalam dana indeks daripada menghabiskan waktu dan uang mencaricari jarum di tumpukan jerami itu. Meskipun ada banyak glamor dalam pembicaraan para pengelola aktif, untuk investor rata-rata, pendekatan Bogle adalah titik awal yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti,konsentrasikan upaya anda padaapayangbisaandakendalikan, terutama biaya dan pajak. Para legenda ini telah memainkan peran besar dalam membentuk bisnis manajemen investasi, baik dalam teori maupun praktik. Ada yang menjadi pemain pasar, menyesuaikan dan mempelajari keahlian baru selama bertahun- tahun.Lainnya—seperti Gary Brinson dan Marty Leibowitz— memperluas batas pemikiran investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Gross adalah salah seorang yang pertama kali mengenali penerapan teori menghitung alfa dan mengalihkannya pada kelaskelas aset. Demikian pula Ray Dalio mengenal sejak dini bagaimana perbedaan sumber keuntungan investasi alfa dan beta bisa digunakan dalam investasi praktis— dan menemukan istilah sendiri untuk hal ini: teori portofolio pascamodern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan para legenda ini adalah anda seharusnya mengambil keputusan investasi yang besar dan signifikan hanya bila anda bisa menyadari bahwa pasar atau saham itu berada di titik ekstremnya— dan titik ekstrem ini tidak sangat sering terjadi. Konsekuensinya sederhana, jadilah investor jangka panjang,bukan hanya spekulan jangka pendek. Memang pelajaran yang agak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, itu terus-menerus diulang-ulang dari wawancara ke wawancara.Demikian kesimpulan Dunstan. Buku ini dapat memandu pembaca untuk seolah belajar langsung dan menyelami pikiran para investor sukses tersebut dan mengetahui apa saja yang dibutuhkan agar bisa super-sukses di dunia finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi buku ini disarikan dari praktik dan pengalaman para legenda itu selama puluhan tahun dan boleh jadi tidak bisa didapatkan dalam sekolah-sekolah bisnis. Pembaca dapat mengambil manfaatnya; bagaimana berinvestasi, memilih saham,dan menghasilkan keuntungan yang sinambung dari pasar finansial.(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2616379888882577618?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2616379888882577618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2616379888882577618' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2616379888882577618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2616379888882577618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/01/rahasia-sukses-investor-dunia.html' title='Rahasia Sukses Investor Dunia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S1JyKWjZpJI/AAAAAAAAAhQ/Fvy7g2-03T4/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6801174152355743250</id><published>2010-01-11T18:45:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T18:45:19.469+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Spiritual Seekor Lebah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S0sO27t6SbI/AAAAAAAAAhI/l0LGqAeLFtg/s1600-h/cover_to+bee+or+not+to+bee.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S0sO27t6SbI/AAAAAAAAAhI/l0LGqAeLFtg/s320/cover_to+bee+or+not+to+bee.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="CONTENT-TYPE"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)" name="GENERATOR"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;style type="text/css"&gt;	&lt;!--		@page { margin: 0.79in }		P { margin-bottom: 0.08in }	--&gt;	&lt;/style&gt; &lt;br /&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Judul: To Bee or Not to Bee; Lebah yang Bosan Mencari Madu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penulis: John Penberthy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penerjemah: Mila Hidajat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cetakan: I, 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tebal: 154 hlm.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-------------------&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;JIKA kisah ini benar-benar terjadi alias bukan fabel, betapa kita akan dibuat malu oleh seekor lebah yang satu ini. Lebah memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dengungan, sengatan dan madunya begitu familiar dalam kehidupan kita. Namun di balik semua keunikannya, kita akan terkagum-kagum dengan pengalaman seekor lebah yang menjadi aktor utama dalam karya John Penberthy ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lebah itu Buzz Bee. Dia merasa tersisih dari masyarakat koloninya karena kegelisahannya menanggapi pertanyaan-pertanyaan filosofi yang tiba-tiba muncul dalam dirinya: ‘Siapa sih aku sebenarnya? Mengapa aku berada di sini? Dari mana asalnya? Mengapa segala sesuatunya ada?’ Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuatnya sangat berbeda dari tingkah laku seekor lebah pekerja seperti dirinya. Dan, Buzz sering kali mendapati pikirannya berkelana tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buzz merasa jengah dan muak dengan pemandangan yang setiap hari ia lihat dalam masyarakat koloninya. Lebah-lebah pekerja berdengung menjelajahi padang rumput untuk mencari bunga-bunga yang tepat, merunduk ke dalam bunga-bunga untuk mengambil madu dan serbuk sarinya, lalu kembali ke sarang sarat dengan muatan nutrisi. Ada semacam perasaan mati rasa yang muncul dari diri Buzz. Ia kelelahan namun tidak bisa puas bekerja setiap saat seperti para lebah lainnya. Batinnya selalu mengatakan ada yang lebih penting dalam kehidupan ini selain membangun sarang dan merawat anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teka teki dalam diri Buzz bertambah pelik ketika ia mulai berpikir tentang hakikat Tuhan, surga dan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tak habis pikir, Buzz dan masyarakat koloninya selalu dihadapkan dengan masalah mendasar; menyelamatkan dan mempertahankan sarang dari gangguan si Boris Bear, beruang pemangsa madu. Buzz sangat tidak berdaya melihat Boris dalam waktu sepuluh menit menghancurkan sesuatu yang dibangun dengan menghabiskan waktu seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kekalutannya, Buzz dikejutkan oleh kehadiran Bert, seekor lebah tua dengan satu antena bengkok di kepalanya yang bakal menjadi teman sekaligus guru yang mengajarkannya banyak hal. Buzz dan Bert mempunyai kecenderungan yang sama. Sama-sama terobsesi menemukan hakikat hidup dan sulit mempercayai sesuatu yang tidak logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengan Bert menjadi awal petualangan Buzz dalam kisahnya mencari Tuhan dan teka-teki yang menggantung dalam benaknya. Akal sehat Buzz seperti dijungkirbalikkan menanggapi pernyataan-pernyataan Bert yang bermakna ganda dan sangat membingungkan. Rasa frustrasinya semakin memuncak ketika Buzz menyadari bahwa ia tak akan bisa kembali ke kehidupan normal seperti yang dijalaninya dulu. Buzz sudah tahu terlalu banyak dan mau tidak mau ia diseret habis-habisan memasuki sebuah kenyataan yang pada akhirnya disadari menjadi pelajaran yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Bert, Buzz mulai berpikir dan menemukan tekad baru untuk melakukan perubahan, mencari impiannya yang sudah lama terkubur di sela-sela kesibukannya. Buzz terbang melintasi puncak gunung bergerigi yang sangat ganas. Bagi lebah sepertinya, terbang setinggi dua ribu kaki dengan medan yang sangat berat dan penuh bebatuan terjal, hanya akan mencari mati dan menemui kesia-siaan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, pelajaran demi pelajaran memang harus dilalui, bagaimanapun kerasnya. Buzz dihantam dan dihempaskan begitu saja oleh amukan badai yang datang secara membabi buta. Sebuah celah sempit di antara retakan di lereng gunung telah menyelamatkannya dan cukup membuatnya terselip aman sebelum ia menyadari banyak keajaiban menimpa dirinya. Buzz sangat tercengang mendapati sekumpulan kecil tiga batang bunga liar yang mungil dengan ajaib melekat pada batu granit yang dingin dan tak bernyawa. Dan anehnya, madu yang keluar dari bunga itu adalah madu dengan rasa khas yang sama dengan yang pernah ia rasakan ketika Bert meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Buzz sungguh mengusik relung kesadaran kita sebagai manusia yang sejatinya diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. John Penberthy berhasil menggali pelajaran-pelajaran berharga yang dapat dapat kita petik melalui penjelmaan seekor lebah. Buku ini pun sangat cocok sebagai bahan renungan untuk menengok dan menilik kembali misi hidup kita yang sebenarnya. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran untuk memperoleh cara pandang berbeda mengenai kesempurnaan, perjalanan hidup, kebahagiaan, bahkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang dari covernya beserta ilustrasi di dalamnya nampak seperti buku anak-anak ini penuh dengan aforisma dan pesan moral. Di antara aforismanya, seperti, “Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi merupakan majikan yang payah,” dan “Kehidupan adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Penberthy adalah seorang relawan yang menangani proyek penambahan vitamin A (mencegah kebutaan) untuk yayasan Hellen Keller International di Indonesia. Usaha kerasnya untuk melihat Tuhan dalam segala hal menuntunnya menulis buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penberthy mampu menerjemahkan kehidupan seorang manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya, membuat kita merasa lebah itu tidak ada bedanya dengan kita. Boleh dikata, Buzz adalah cerminan orang ‘biasa’ yang jenuh bekerja siang malam untuk mencari nafkah dan menjalani hidupnya, yang kemudian mencoba mencari jawaban dengan melakukan pemikiran dan perjalanan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekeras apapun kita bekerja, selayaknya kita jalani sebagai proses untuk meraih kesempurnaan hidup. Namun, alangkah naifnya jika di tengah-tengah kesibukan yang nyaris merampas semua waktu dan tenaga, kita begitu mudah terlena tanpa menyadari arti hidup ini. Karena, tanpa kesadaran itu hidup kita akan terasa hampa dan tak bermakna. Mengetahui semua itu membawa kita berpikir dan menyadari bahwa dunia ini bukan akhir segalanya. Akan tetapi dunia juga merupakan alat untuk belajar, sebuah kendaraan untuk kesadaran yang lebih besar.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6801174152355743250?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6801174152355743250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6801174152355743250' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6801174152355743250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6801174152355743250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2010/01/perjalanan-spiritual-seekor-lebah.html' title='Perjalanan Spiritual Seekor Lebah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S0sO27t6SbI/AAAAAAAAAhI/l0LGqAeLFtg/s72-c/cover_to+bee+or+not+to+bee.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6584332505513392956</id><published>2009-12-22T05:27:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T05:27:53.989+07:00</updated><title type='text'>Wali Songo Ternyata Para Sufi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sy_2KztJSBI/AAAAAAAAAgw/CGNcyD5HbDo/s1600-h/cover+akar+tasawuf+di+indonesia.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sy_2KztJSBI/AAAAAAAAAgw/CGNcyD5HbDo/s320/cover+akar+tasawuf+di+indonesia.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul: Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi; Akar Tasawuf di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis: Alwi Shihab&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka IIMaN&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal: xxvi+343 hlm. (termasuk indeks)&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Para sejarawan&lt;/b&gt; dan peneliti bermufakat bahwa tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Bahkan di Indonesia lebih dari itu. Islam yang pertama diperkenalkan di Jawa adalah Islam yang bercorak sufi. Alwi Shihab, dalam buku ini, hendak membuktikannya. Alwi memaparkan bahwa para pelopor dakwah Islam pertama di Indonesia berasal dari Arab, dari keturunan Imam Ahmad ibn ‘Isa al-Muhajir al-Alawi (cucu Imam Ja’far ash-Shadiq), seorang pendiri tarekat ‘alawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alwi, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi-Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur laut bagian barat. Hal itu berdasarkan manuskrip Cina pada periode Dinasti Tang. Manuskrip Cina itu mensyaratkan adanya permukiman sufi-Arab di Cina. Cina yang dimaksudkan dalam manuskrip pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-14 M ditandai dengan kedatangan tokoh-tokoh asyraf, keturunan Ali dan Fathimah binti Rasulullah Muhammad Saw. yang lazim dikenal dengan sebutan ‘alawiyyin. Pada periode ini, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga dapat tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Wali Songo pun ternyata masih keturunan Imam Al-Muhajir.  Kita tahu Wali Songo  telah memberikan kontribusi terbesar bagi proses Islamisasi di wilayah Nusantara. Demi proses asimilasi dengan masyarakat Indonesia yang dialami keturunannya, mereka bersedia menghapus identitas kearabannya sehingga larut dalam struktur masyarat setempat. Hal ini terutama bermotif untuk mengamankan diri dari ancaman pengejaran penjajah Belanda atas tuduhan subversif sebagai pemicu gerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak memakai nama arab lagi, tetapi memakai nama Jawa atau Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Songo tidak dikenal sebagai sufi karena istilah itu belum populer di kalangan orang-orang Indonesia kecuali pada tahun-tahun belakangan. Di kalangan masyarakat umum istilah yang lebih dikenal adalah istilah “wali” yang dalam pengertian Indonesia tidak berbeda dengan konotasinya dalam bahasa arab. Ini membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka dapat dengan mudah diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa? Alwi mengatakan bahwa Islam dalam corak sufi paling mampu memikat lapisan bawah, menengah dan bahkan bangsawan sekalipun. Sifat-sifat dan sikap kaum sufi lebih kompromis dan penuh kasih sayang. Tasawuf memang memiliki kecenderungan yang tumbuh dan berorientasi kosmopolitan, tak mempersoalkan perbedaan etnis, ras, bahasa, dan letak geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh mereka, idiom-idiom budaya lama (animis, Hindu, dan Budha) yang berkaitan dengan pandangan dunia (world view) berikut kosmologi, mitologi dan keyakinan takhayul diubah secara hati-hati. Wadah-wadah lama yang dipakai isinya diganti. Peninggalan kejeniusan masa silam masih bisa terlihat dalam upacara daur hidup, upacara desa dan semacamnya. Dalam upacara tersebut masih disediakan sesaji, tetapi doanya bukan untuk para "dewa-dewa" namun ditujukan sebagai permohonan kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta, dan sesajinya "biasanya berupa makanan" dimakan bersama-sama setelah memanjat doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di atas menunjukkan kearifan dan kemampuan mereka dalam memahami spirit Islam sehingga dapat berbicara sesuai dengan kapasitas para audiens-nya. Mereka melakukan modifikasi adat istiadat dan tradisi setempat sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang menarik dari buku ini saat membahas tasawuf. Tasawuf di Indonesia terbagi dalam dua golongan, yaitu “tasawuf sunni” dan “tasawuf falsafi”. Dikatakan sebagai tasawuf sunni, karena mereka mengaku sebagai pengikut ahlussunnah wal jama’ah, di mana mereka banyak sekali mengambil ajaran-ajaran Al-Ghazali yang memang menjadi rujukan yang baku dalam pengajian-pengajian di pesantren. Ajaran Al-Gazhali ini tertuang dalam karya monumentalnya, Ihya ‘Ulumuddin. Kemudian, dilengkapi dengan dua karya lainnya, Minhajul ‘Abidin dan Bidayatul Hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang tasawuf falsafi merujuk pada konsep tasawuf yang dihubungkan dengan mistisisme panteistik Ibnu Arabi. Ibnu Arabi dikenal ahli mistik Islam yang mengajarkan "kesatuan hamba dan Tuhan". Tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. &lt;br /&gt;Dalam perkembangannya penganut tasawuf sunni dan falsafi sempat mengalami konflik. Pada akhir abad ke-6 H bermunculan tarekat-tarekat yang sebagian besar mulai mengorientasikan pandangannya pada fiqih dan syari'at. Ar-Raniri, yang berada di sudut sunni menolak dan mencela tasawuf  falsafinya Hamzah Fansuri, yang berada di sudut falsafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf Sunni lebih banyak memberikan kontribusi dalam proses Islamisasi di Indonesia. Para pelopor dakwah itu menjabarkan ajaran-ajaran Islam dengan cara praktik dan keteladanan serta pengajaran yang lebih baik. Orientasi seperti ini jelas terikat oleh tradisi dan petunjuk-petunjuk Nabi Saw. Dan yang demikian adalah model pengajaran tasawuf Sunni yang diperkenalkan para da’i ‘Alawiyyin yang memotori proses Islamisasi di Nusantara sejak abad ke-13 M di Sumatra dan mengalami kemajuan pesat di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 dengan tokoh-tokoh sentralnya Wali Songo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini boleh dikata sangat mumpuni dalam menelusuri dan memetakan sejarah tasawuf di Indonesia. Oleh karena itu, sangat layak dijadikan sumber “referensi utama” prihal seluk beluk tasawuf di Indonesia, khususnya, dan sejarah Islam di Indonesia, umumnya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, staf pengajar STIS Magelang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6584332505513392956?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6584332505513392956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6584332505513392956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6584332505513392956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6584332505513392956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/12/wali-songo-ternyata-para-sufi.html' title='Wali Songo Ternyata Para Sufi'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sy_2KztJSBI/AAAAAAAAAgw/CGNcyD5HbDo/s72-c/cover+akar+tasawuf+di+indonesia.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-1764564625208936915</id><published>2009-12-14T08:09:00.000+07:00</published><updated>2009-12-14T08:09:26.897+07:00</updated><title type='text'>Kearifan di Balik Musibah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyWQJW5AuPI/AAAAAAAAAgo/GmQLWWJMUeU/s1600-h/cover_Catatan-Cinta-Istri.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyWQJW5AuPI/AAAAAAAAAgo/GmQLWWJMUeU/s320/cover_Catatan-Cinta-Istri.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Judul: Catatan Cinta Istri&lt;br /&gt;Penulis: Sari Meutia&lt;br /&gt;Penerbit: Lingkar Pena Kreativa&lt;br /&gt;Cetakan: I, November 2009&lt;br /&gt;Tebal: xxvii+166 hlm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh yang meneladaninya"(Muhammad SAW)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terkadang&lt;/b&gt; apa yang kita yakini sebagai fase aman dalam hidup kita, mendadak kacau akibat musibah yang menimpa kita. Kehidupan yang sekian lama berjalan sesuai dengan harapan dan cita-cita, tiba-tiba menjadi sangat rentan. Harta, cinta, keluarga dan karier yang tertata sedemikian rapinya, semuanya bisa luput dari genggaman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah apa gerangan sebab musabab di balik bencana yang datangnya sangat tak terduga? Sebuah teka-teki yang sangat menuntut kesadaran kita untuk menilik dan merenungkan kembali sepak terjang kehidupan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari Meutia sangat tidak percaya kalau suaminya divonis Gagal Ginjal Terminal (GGT) nyaris tanpa aba-aba sebelumnya. Bagaimana mungkin orang yang sangat concern terhadap kesehatan dan terhadap apa yang diasupnya, baik makanan maupun minuman, bahkan menyukai olah raga renang, tiba-tiba mengidap sakit yang sangat kronis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi ginjalnya diperkirakan tinggal 15-30 % sehingga diharuskan menjalani cuci darah seumur hidupnya. Meski begitu, Sari tidak serta merta menerima hasil lab yang ditunjukkan dokter padanya. Dia bahkan tidak ingin membenarkan vonis itu dan berharap ada kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai referensi ia lacak. Teman, kerabat dan para dokter yang menyandang gelar professor spesialis ginjal dan hipertensi didatanginya demi mendapatkan sebuah titik terang. Namun pupus sudah harapan, karena hasil tes GFR (Gromerular Filtration Rate)—tes yang menggambarkan kecepatan ginjal membersihkan darah—menunjukkan angka 14,98 %, di mana ginjal kiri berfungsi 6 % dan ginjal kanan 8,98 %. Artinya, sangat tegas ada indikasi cuci darah atau cara lainnya yaitu melakukan operasi transplantasi (cangkok ginjal).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat bom atom jatuh dari langit. Nyaris semua rencana, harapan dan cita-cita, seperti runtuh seketika. Sari harus menerima vonis itu, meski menurutnya mustahil. Karena kejadian ini hanya berselang empat puluh hari sepulang mereka dari menjalankan ibadah haji. Ironisnya lagi suaminya tidak pernah sakit kurang lebih selama sepuluh tahun terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun harus ada jalan keluar dari semua masalah ini. Sari tidak ingin suaminya harus menderita seumur hidup. Akhirnya, cangkok ginjal pun menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat sekali melakukan cuci darah, Sari membawa terbang suaminya ke negeri Cina. Sungguh perjuangan seorang istri yang tak tanggung-tanggung. Di samping harus tetap tegar, dan berusaha menjaga emosi positifnya, lalu menularkannya kepada suami, anak-anak dan keluarganya, bahwa seakan-akan tidak ada yang sakit dari keluarganya, Sari pun menanggung beban harus  mengumpulkan dana yang sangat besar jumlahnya untuk biaya cangkok. Mengingat, operasi akan dilakukan di Cina dan waktu yang ada pun sangat mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi pun dapat dibilang lancar. Ternyata, operasi cangkok ginjal di Cina sesederhana operasi usus buntu yang sering ditemui Sari dan suaminya. Akan tetapi puncak operasi justru pada pasca operasinya, yaitu masa-masa pemuliah. Dengan menguras tenaga dan emosinya, Sari terus bersabar menghadapi sang suami yang sering mengerang kesakitan, berhalusinasi, bahkan tak jarang, sering marah-marah padanya.dan, pada akhirnya, semuanya berhasil dilewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan sebuah catatan harian seorang istri di tengah kegalauan mendampingi suaminya yang mengalami gagal ginjal. Banyak alasan Sari menulis buku ini. Selain sangat bermanfaat bagi orang yang mengalami permasalahan ginjal—karena di dalamnya dipaparkan pula tentang panduan dan hal-hal penting seputar gejala dan cara-cara menyikapinya—Sari merasa harus mengungkapkan rasa syukurnya atas nikmat dan anugrah yang diberikan Tuhan selama ini. Tulisan dalam buku ini pun menjadi terapi yang mengingatkannya untuk terus bersyukur atas apa pun yang dialaminya dan ikhlas menjalani kehendak-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kehidupan memang tidak selamanya too good to be true, seperti halnya pengalaman penulis buku ini. Wanita yang menjadi salah satu pimpinan PT Mizan Media Utama (MMU) ini,  dikenal sangat organized (teratur) dalam mengatur berbagai rencana hidupnya yang kehidupannya nyaris berjalan sesuai yang diharapkannya, pun  tidak luput dari deraan yang datangnya sangat tiba-tiba. Semua pengalamannya seakan menggugah keterlenaan yang dirasakannya selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah nyata yang dituturkan  lewat  buku ini pun mengandung hikmah yang sangat dalam dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja. Karena di balik setiap cobaan dan kejadian tentu ada peringatan dan pelajaran yang harus kita petik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia pasti akanmengalami musibah. Tidak ada manusia yang bebas dari musibah. Oleh karena itu, hanya dengan kearifan kita akan sadar bahwa Tuhan sedang mengingatkan hamba-hamba-Nya. Setiap musibah yang terjadi adalah kehendakNya, tidak ada yang kebetulan. Karena boleh jadi, hal itu sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Tuhan.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Pencinta buku, tinggal di Yogyakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-1764564625208936915?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/1764564625208936915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=1764564625208936915' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1764564625208936915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1764564625208936915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/12/kearifan-di-balik-musibah.html' title='Kearifan di Balik Musibah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyWQJW5AuPI/AAAAAAAAAgo/GmQLWWJMUeU/s72-c/cover_Catatan-Cinta-Istri.gif' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4060679313230514753</id><published>2009-12-10T09:41:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T09:41:58.402+07:00</updated><title type='text'>Cinta Sepanjang Hayat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBfsFyebnI/AAAAAAAAAgg/WwRc1I97bE0/s1600-h/Cover_Live-Through-This.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBfsFyebnI/AAAAAAAAAgg/WwRc1I97bE0/s320/Cover_Live-Through-This.gif" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Live Through This; Kekuatan Cinta Seorang Ibu&lt;br /&gt;Penulis: Debra Gwartney&lt;br /&gt;Penerjemah: Rahmani Astuti&lt;br /&gt;Penerbit: Mahda Books&lt;br /&gt;Cetakan: I, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal: 351 hlm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;Kemarahan para nabi itu seperti kemarahan para ibu,&lt;br /&gt;Kemarahan yang dipenuhi kasih sayang bagi anaknya tercinta&lt;br /&gt;Sebab tidak ada ibu yang memarahi anaknya hanya untuk mendapatkan kesenangan,&lt;br /&gt;Melainkan untuk membantunya mengerti.&lt;br /&gt;Akankah dia membiarkan anaknya berlumuran darah jika dia tidak tahu&lt;br /&gt;Bahwa sedikit rasa sakit dapat mendatangkan kebaikan pada anak itu?&lt;br /&gt;(Jalaluddin Rumi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang selalu mengingat kita dalam doa panjangnya dan mengkhawatirkan kita pula di sepanjang waktu. Belaian kasih sayangnya begitu tulus mengiringi setiap jengkal langkah kita. Siapakah yang dalam malam - malam panjangnya setia menjaga dan terjaga untuk kita di kala kecil dulu. Dialah sang ibu yang segenap jiwa dan raganya ia baktikan demi kebahagiaan anak-anaknya. Inilah sebuah buku memoar yang berisikan lika-liku hidup dan perjuangan seorang ibu yang ingin menyelamatkan anak-anaknya dari kehidupan brutal di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu dari empat putrid—Amanda, Stephanie, Mary, dan Mollie—menjadi single parent karena gagal mempertahankan keharmonisan pernikahannya. Ia bercerai dengan suaminya yang telah lama dikenal sebagai teman mahasiswa di masa-masa kuliah. Sejak itu sang ibu yang tak lain adalah penulis buku ini, harus mengambil alih semua tugas sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah untuk putri-putrinya.&lt;br /&gt;Namun perceraiannya itu justru menyulut kemarahan dan pemberontakan dua putri sulungnya, Amanda dan Stephanie, gadis berumur 14 dan 12 tahun, yang nekad kabur dari rumah dan berkeliaran di jalanan. Mereka bergabung dengan para gelandangan yang memberi mereka kemudahan untuk mendapatkan bir, narkoba, tinta untuk tato, cat rambut dengan segala macam warna, dan sudut-sudut paling tepat untuk memperoleh uang dari orang tak dikenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya sang ibu mengira bahwa pemberontakan putrinya hanyalah bagian dari fase yang secepatnya akan berlalu dengan beberapa koreksi. Namun semakin lama mereka semakin dalam terlibat dengan kelompok-kelompok punk di kota-kota. &lt;br /&gt;Malam demi malam Amanda dan Stephanie sudah tidak lagi pulang ke rumah. Mereka tidur dan tinggal di sudut-sudut kota yang disinggahinya. Melompat dari satu kereta ke kereta dan keluar-masuk distrik sampai ke kota Tenderloin di San Francisco, di mana narkoba lebih dekat dan amat mudah mereka dapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sang ibu harus berjuang menyelamatkan putri-putrinya dan membawa mereka kembali pulang ke rumah? Live Through This merupakan lukisan tentang usaha habis-habisan Gwartney untuk menemukan kembali putri-putrinya yang begitu dicintainya. Gwartney begitu lihai mengemas detail cerita di dalam buku ini menjadi episode-episode sejarah masa lalunya yang sarat dengan tantangan dan pengorbanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang tahun-tahun kehilangan putrinya itu, ia tak henti-hentinya melakukan pencarian, menyisir jalan sampai menjelajahi tempat-tempat penampungan remaja dan kantor-kantor polisi dengan membawa foto mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukannya karena tuntutan kerja,  sang ibu tetap bertekad mencari Amanda dan Stephanie sampai ke pelosok-pelosok negeri mana pun. Berbagai terapi dan metode ia jalankan. Karena kekhawatiran terus menyergapnya. Bagaimana pun ia tak akan pernah bisa membiarkan putri-putrinya menderita di luar sana. Dan bagaimana pun juga ia tak akan pernah membiarkan putrinya kena pukul, ditusuk, disayat, diperkosa, atau pun dibunuh di luar sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menjadi gambaran nyata cinta kasih seorang ibu kepada anak-anaknya. Ibulah yang setiap saat selalu memastikan rasa aman bagi anak-anaknya, menanyakan keberadaan anak-anaknya setiap kali jauh darinya. Akan tetapi di balik semua itu seorang anak kerap kali menyakiti hatinya, dan membiarkannya terlunta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, buku ini ditulis sebagai persembahan untuk putri-putrinya yang pada akhirnya kembali menjalani hidup secara normal. Buku ini pun dapat menjadi pelecut bagi setiap anak yang begitu mudah mengabaikan cinta dan pengorbanannya. Dari sini pula, kita dapat belajar darinya tentang kegigihan, ketabahan, dan kesabaran seorang ibu. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat buku, tinggal di Yogyakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4060679313230514753?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4060679313230514753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4060679313230514753' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4060679313230514753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4060679313230514753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/12/cinta-sepanjang-hayat.html' title='Cinta Sepanjang Hayat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBfsFyebnI/AAAAAAAAAgg/WwRc1I97bE0/s72-c/Cover_Live-Through-This.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-8190764681472384333</id><published>2009-12-04T18:58:00.004+07:00</published><updated>2009-12-10T09:28:41.135+07:00</updated><title type='text'>Pelarian yang Membawa Manfaat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBcwiw3o9I/AAAAAAAAAgQ/X1jaJ_I03AY/s1600-h/cover+how+the+makes+love.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 260px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBcwiw3o9I/AAAAAAAAAgQ/X1jaJ_I03AY/s320/cover+how+the+makes+love.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413428741134590930" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: How the World Makes Love; Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta&lt;br /&gt;Penulis: Franz Wisner&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2009&lt;br /&gt;Tebal: 496 hlm.&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kira-kira&lt;/span&gt;, apa yang anda lakukan ketika calon pasangan anda membatalkan untuk menikah dengan anda? Frustrasi? Stress? Bunuh diri? Atau Balas dendam? Tentu itu semua bukan cara yang positif. Alangkah hebatnya jika kekecewaan anda dijawantahkan kepada hal-hal positif nan manfaat. Seperti yang dilakukan Franz Wisner. Lantaran dicampakkan oleh calon istrinya yang telah dipacari selama 13 tahun, ia bertualang keliling dunia. Hebat bukan?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah “oleh-oleh” yang kedua dari hasil petualangannya yang kedua pula. Petualangan periode pertama, diniatkan untuk mengobati luka hati akibat dicampakkan oleh calon istrinya itu, sedang petualangannya yang kedua ini hendak mempelajari lebih dalam kisah cinta dan perilaku-perilaku percintaan di negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani adiknya, Franz bertualang ke Negara Brazil, India, Nikaragua, Republik Cheska, Mesir, Selandia Baru, dan Botswana. Tanpa alasan yang jelas mengapa dia memilih negara-negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meneliti Negara-negara di benua Eropa dan Amerika, seperti Brazil, Republik Cheska, dan Selandia Baru, Franz tidak begitu “sumringah” untuk melakukan identifikasi. Karena, prihal “percintaan” di sana hampir sama, di mana cinta selalu diidentikan dengan seks. Simpel dan praktis. Franz “hanya” menemukan kisah-kisah baru nan unik yang belum pernah didengar maupun dialami sebelumnya di negara-negara di luar benua eropa dan amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India, misalnya, dia mendapatkan informasi bahwa segala urusan cinta dan pernikahan masih dimulai dan diakhiri oleh orangtua. Kebanyakan pernikahan di India merupakan hasil perjodohan, meskipun pasangan yang bersangkutan mendapatkan semakin banyak hak untuk berpendapat dalam hal ini, memperluas kesempatan untuk memveto atau menyarankan, dan waktu tambahan untuk berpacaran atau menjajaki hubungan sebelum mereka menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang di Botswana, sebuah negara di Afrika, Franz mengetahui kalau kita mengatakan kepada wanita bahwa dia gendut, berarti kita memberinya pujian besar. Kebanyakan pria justru menyukai wanita yang gendut untuk dijadikan istri, karena dianggap akan rajin mengurus rumah tangga. Dalam pikiran mereka, wanita yang kurus akan lebih mencintai tubuhnya daripada pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda ingin menikah dengan orang Botswana, anda akan memerlukan keluarga yang sangat dekat. Seorang abang atau sepupu yang bisa bernegosiasi akan dapat membantu. Yang lebih penting lagi adalah anda harus memerlukan hewan ternak berupa sapi. Di Botswana dan sebagian besar Afrika, sapi penting untuk pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad, adat istiadat di sana mengharuskan mempelai pria menghadiahkan sekawanan kecil sapi kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol penghormatan karena mereka telah mengizinkan putri mereka dinikahi. Tradisi itu disebut bogadi atau lobala, sebagai cara untuk memperkuat ikatan antara kedua keluarga dan sebuah keharusan untuk berbagi kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya di Mesir, sebuah Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Franz mendapatkan budaya di sana jika ada seorang wanita yang tertangkap basah sedang memandangi pria akan dianggap sebagai wanita jalang dan dikecam oleh masyarakat di sekitarnya. Mayoritas wanita kelas menengah ke bawah di sana memakai cadar dan jubah. Franz bertanya-tanya dan begitu penasaran, bagaimana para pria memastikan wanita impiannya jika seluruh tubuh wanita itu tertutup cadar dan jubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menanyakan hal itu, para pria Mesir mengatakan bahwa mereka bisa melihat kecantikan seorang wanita meski mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Pergelangan tangan dan kaki, kata mereka, menyembunyikan lekuk-lekuk yang tersembunyi. Dan mata mengungkapkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pria Mesir memperhatikan bagian belakang pergelangan kaki wanita. Jika bentuknya bulat, berarti tubuhnya indah. Jika bentuknya lurus, berarti tubuhnya terlalu kurus. Pria dan wanita Mesir memandang kerampingan sebagai indikasi kemisikinan dan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Oleh karena itu, para wanita saling menyemangati untuk mengenakan pakaian berlapis-lapis dan makan lebih banyak agar badan mereka semakin gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perkampungan Mesir, masyarakatnya tidak mengenal istilah kencan. Mereka langsung menikah. Ajaran Islam benar-benar mereka pegang. Mereka sering mengutip Hadis Nabi, “Jika seorang pria yang beriman dan berkelakuan terpuji mendatangimu, nikahkanlah dia dengan putrimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa? Franz benar-benar terperangah. Apakah tidak ada penyesalan yang akan datang di kemudian hari? Apakah yang terjadi jika mereka mendapati bahwa mereka tidak memiliki kesamaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak masalah, kata orang Mesir. Itulah gunanya pertunangan. Bagi banyak orang Mesir, ini adalah Rencana B. Pertunangan hanyalah tahap pacaran resmi dengan selubung rencana pernikahan untuk mengurangi peluang kehilangan kehormatan bagi seorang wanita atau keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya lagi, di Negara muslim ini, Franz menemukan bahwa prihal seks begitu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapa pun yang memikirkan tentang seks di dunia Muslim adalah bahwa banyak instruksi eksplisit dan dorongan. Tidak ada pesan tersembunyi di sini. Faktanya, sejarah telah membuktikan bahwa umat Muslim jauh lebih terbuka daripada orang-orang beragama lain tentang seks dan peranan yang selayaknya dipegangnya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku hasil observasi ini begitu nikmat dibaca, karena dipaparkan dengan bahasa yang ringan, naratif, dan bertaburan humor. Selain itu, ia menyajikan kesimpulan hasil perjalanannya itu yang dapat kita ambil, di antaranya bahwa di seluruh dunia, nasihat pasangan yang awet ternyata sama: Komitmen, dan pengertian. Dan untuk mencapai hal itu butuh kerja keras. Kita cenderung menyembunyikan emosi di balik harta benda dan menampilkan kesan yang tidak akan dikecam oleh dunia kita. Sering kali, kita lebih mementingkan gaya hidup dari pada kehidupan di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah akhir petualangan Franz Wisner? Pelajaran cinta apakah yang di dapatnya dari berbagai penjuru dunia? Lantas, berhasilkah dia menemukan cinta sejatinya? Temukan jawabannya dalam buku ini.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-8190764681472384333?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/8190764681472384333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=8190764681472384333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8190764681472384333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/8190764681472384333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/12/pelarian-yang-membawa-manfaat.html' title='Pelarian yang Membawa Manfaat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SyBcwiw3o9I/AAAAAAAAAgQ/X1jaJ_I03AY/s72-c/cover+how+the+makes+love.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-4831841508424566565</id><published>2009-11-23T10:40:00.003+07:00</published><updated>2009-11-23T10:43:54.702+07:00</updated><title type='text'>Mentalitas Bangsa Pintar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwoE6WFH82I/AAAAAAAAAeo/Gq-a0BDi3Vc/s1600/cover+menjadi+bangsa+pintar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 85px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwoE6WFH82I/AAAAAAAAAeo/Gq-a0BDi3Vc/s400/cover+menjadi+bangsa+pintar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407139703017698146" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Menjadi Bangsa Pintar&lt;br /&gt;Penulis: Heppy Trenggono&lt;br /&gt;Penerbit: Republika&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal: 164 hlm. &lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA Heppy Trenggono, penulis buku ini, pertama kali mengunjungi negara-negara Eropa—tepatnya di Belanda—sempat kaget dan kecewa luar biasa begitu tahu bahwa sebuah bangsa yang telah menjajah Indonesia selama beratus-ratus tahun ternyata hanyalah bangsa dari negara kecil yang memiliki wilayah sekitar 1/48 dari wilayah Indonesia, jumlah penduduknya hanya 9 juta jiwa dan luasnya hanya 41.526 km persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa bangsa Indonesia bisa dijajah oleh bangsa yang lebih kecil?” begitulah ia berujar dalam hati saat melihat negeri Belanda. Parahnya lagi, kesengsaraan bangsa Indonesia yang sejak sebelum kemerdekaan seolah-olah menjadi warisan turun temurun hingga saat ini. Dengan kata lain, meski Negara kita sudah merdeka, tapi kenyataannya kita masih saja terjajah tanpa disadari. Tidak hanya itu, warisan negatif dari penjajah juga terwariskan pada pribumi, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah mafhum kalau bangsa Indonesia kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Kekayaan alam Indoneia melimpah ruah. Luas wilayahnya yang mencapai hampir 2 juta km dari Sabang sampai Merauke itu sebagian besar tanahnya subur dan cocok untuk semua tanaman pangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lautnya yang kaya dengan ikan terbentang seluas 2/3 luas wilayah Negara ini. Cadangan minyaknya diperkirakan mencapai lebih dari 45 miliar barel. Kekayaan batubaranya terbesar keempat di dunia. Timah nomor dua dunia. Dan masih banyak lainnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa Indonesia masih saja terpuruk dan berjalan di tempat? Bahkan nyaris tertinggal jauh dari negara-negara yang berada di sekitarnya. Menurut Heppy Trenggono, ini adalah persoalan mentalitas. ‘Mentalitas’, lanjut Heppy, menjadi kata kunci yang membedakan antara bangsa-bangsa yang mampu meraih kejayaannya dan bangsa-bangsa yang tetap bertahan dalam keterpurukan, dalam hal ini adalah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas bangsa Indonesia harus dibangun, di antaranya mentalitas pejuang, mentalitas pemenang, bangsa yang berbudi luhur, bangsa yang mampu bersaing, bangsa yang produktif. Dalam buku ini, mentalitas dari semua sisi itu mengkristal pada satu hal, yaitu menjadi bangsa pintar. Menjadi bangsa pintar inilah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh untuk keluar dari keterpurukan dan meraih kejayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heppy mengatakan bahwa kejayaan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa berlimpah sumber daya alam yang dimiliki. Tidak juga ditentukan oleh seberapa luas wilayah yang dimiliki, tapi ditentukan oleh mentalitas bangsanya; apakah bangsa itu memiliki mentalitas pemenang atau pecundang, apakah memiliki mentalitas kaya ataukah mentalitas miskin, apakah memiliki mentalitas membangun atau mentalitas merusak, apakah memiliki mentalitas sebagai pekerja keras atau pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat negara-negara lain. Jepang, misalnya. Pada Agustus 1945 Jepang mengalami kehancuran total setelah dua kota besarnya, Hiroshima dan Nagasaki, dibom oleh tentara sekutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak meyakini bahwa peristiwa itu sebagai akhir kejayaan Jepang. Namun kenyataan yang terjadi justru di luar perkiraan. Beberapa tahun kemudian, ternyata Jepang bangkit dari keterpurukan dan berubah menjadi Negara kuat dengan kemajuan industri melebihi kekuatan militernya pada perang dunia kedua. Sejak saat itu Jepang bangkit sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Swiss. Negeri ini dikenal sebagai Negara penghasil coklat terbaik di dunia. Padahal hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami. Uniknya lagi mereka tidak memiliki lahan yang tidak dapat ditanami coklat. Selain itu, Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia adalah Negara paling dekat dengan Indonesia. Mentalitasnya sungguh luar biasa. Negara yang merdeka belakangan dari Indonesia ini sudah melesat sebagai Negara jaya. Nilai ekspor Malaysia saat ini mencapai 1,5 kali lebih besar dari Indonesia. Di sektor perkebunan, Malaysia telah mengubah sebagian besar lahan tidur yang tidak produktif menjadi area perkebunan kelapa sawit. Kawasan di sekitar bandara internasional Kuala Lumpur saja dikelilingi oleh perkebunan sawit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia juga mengembangkan sektor pariwisata. Keyakinan dan spirit “Malaysia Trully Asia” mengidentifikasikan dirinya seolah-olah merupakan negeri yang mewakili Asia dalam sektor pelancongan tersebut. Malaysia kini mampu meraup tidak kurang dari 150 juta ringgit per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heppy, selain belajar dari negara lain, Negara Indonesia juga harus membasmi mentalitas buruknya, yaitu korupsi dan hutang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi di Indonesia tumbuh subur hampir di semua tempat. Secara horizontal, bila dahulu korupsi hanya terjadi di satu ranah kekuasaan (eksekutif) saja, kini korupsi juga ditemukan di lembaga legislatif dan yudikatif. Sedangkan secara vertikal, era otonomi daerah telah menggeser praktek korupsi dari korupsi terpusat (centralized corruption) menjadi korupsi terdesentralisasi (decentralized corruption).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun mentalitas anti korupsi merupakan strategi preventif sekaligus kuratif terhadap kemungkinan lahir dan berkembangnya mentalitas korupsi yang menjadi cikal bakal korupsi. Perubahan mental perlu terus dilakukan dari waktu ke waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutang ternyata menghambat tumbuhnya ekonomi dan mengakibatkan kontraksi belanja sosial dan merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan sosial. Hutang juga mengakibatkan ketergantungan negara-negara dunia ke-3 pada modal asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia harus belajar pada Jepang. Jepang menjadi penghutang, karena membutuhkan pinjaman luar negeri untuk merekonstruksi pembangunan yang hancur akibat bom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun Negara itu berkomitmen untuk berhenti berhutang. Pada 1961 mulai menyicil, periode 1975 melunasi hutang luar negeri, dan sejak 1977 jadi Negara donor terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Indonesia perlu belajar pada Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Delapan tahun silam, segera setelah berkuasa pada 1999, Chavez telah membayar seluruh hutang Venezuela kepada IMF. Belum lama ini Venezuela juga telah melunasi hutangnya kepada Bank Dunia lima tahun lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Venezuela kapok untuk berhutang lagi ke IMF dan Bank Dunia. Kini, Venezuela terus berkembang dengan melesat, tanpa ada beban hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, buku ini hendak mengatakan bahwa Indonesia memiliki semua modal yang diperlukan untuk menjadi bangsa jaya sebagaimana sekarang dicapai oleh bangsa-bangsa lain seperti Amerika, Inggris, China, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Kunci untuk mewujudkan kejayaan Indonesia adalah komitmen untuk menjadi bangsa pintar, baik dari aspek kepemimpinan maupun mentalitas bangsanya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Pemilik blog http://resensor.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-4831841508424566565?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/4831841508424566565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=4831841508424566565' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4831841508424566565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/4831841508424566565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/11/mentalitas-bangsa-pintar.html' title='Mentalitas Bangsa Pintar'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwoE6WFH82I/AAAAAAAAAeo/Gq-a0BDi3Vc/s72-c/cover+menjadi+bangsa+pintar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2290709481096172570</id><published>2009-11-17T20:49:00.003+07:00</published><updated>2009-11-17T20:53:51.611+07:00</updated><title type='text'>Memburu Makna di Ruang Privat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwKqxj7GpOI/AAAAAAAAAeg/D8P48BkxZbs/s1600/cover_mengikat+makna+update.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 99px; height: 126px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwKqxj7GpOI/AAAAAAAAAeg/D8P48BkxZbs/s320/cover_mengikat+makna+update.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405070271231468770" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Mengikat Makna Update&lt;br /&gt;Penulis: Hernowo&lt;br /&gt;Penerbit: Kaifa, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan: I, Oktober 2009&lt;br /&gt;Tebal: xxxii+213 hal. (termasuk indeks)&lt;br /&gt;--------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKTIVITAS &lt;/span&gt;membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Kita dapat menulis suatu subjek akibat dari aktivitas membaca. Apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Nah, dalam bahasa Hernowo, aktivitas baca-tulis ini disebut sebagai aktivitas “mengikat makna”. Akar dari hal ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib:"Ilmu itu seperti hewan buruan, maka ikatlah ia (dengan menuliskannya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jagad kepenulisan, nama Hernowo sudah tidak asing lagi. Buku hasil racikannya sudah melimpah ruah. Dan dapat dipastikan, konsep "mengikat makna" bisa ditemukan di semua karyanya. Dan karya-karyanya pun adalah hasil dari pengamalan konsep “mengikat makna.” Bahkan beberapa judul bukunya menggunakan kata-kata ini. Buku-buku Hernowo disukai pembaca karena mempunyai bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah ditangkap maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hampir di semua bukunya ketika berbicara tentang membaca dan menulis, Hernowo selalu menekankan, bahwa menulis dan membaca bukanlah sebuah beban, apalagi hal membosankan, tapi aktivitas yang menyenangkan nan manfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep “mengikat makna” ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Hernowo saat bergumul dengan kegiatan membaca. Ketika selesai membaca, tiba-tiba saja banyak materi yang diperolehnya. Agar materi tersebut tidak lupa, maka ia harus dituliskan. Itulah yang dimaksud mengikat makna. Maka, secara tidak langsung kegiatan “mengikat makna” kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengikat makna” menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Hernowo, di mana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak ditulis (atau “diikat”). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Lebih dari itu, proses membaca dan menulis adalah upaya menghimpun hikmah yang berserak menjadi referensi dalam memperkaya hidup dan kehidupan. Secara gamblang jabaran konsep mengikat makna dapat dibaca dalam bukunya Mengikat Makna (2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa perbedaan buku terdahulunya (Mengikat Makna,2001) dengan buku terbarunya Mengikat Makna Update (2009) ini yang sama-sama membahas konsep “mengikat makna”. Tak lain, buku ini merupakan pengembangan konsep “mengikat makna” dalam buku pertamanya. Dari pengertian “makna” tidak ada perbedaan dengan terdahulu. Hanya, pada yang pertama rujukan pengertiannya filosofis, sedang dalam buku ini tampak lebih praktis. Poin-poin mengikat makna sendiri ada empat pilar: Pertama, “mengikat makna” adalah kegiatan yang memadukan membaca dan menulis. Pilar pertama ini dianggap sebagai pilar yang paling pokok dan merupakan “nyawa” konsep “mengikat makna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, “mengikat makna” adalah kegiatan yang sangat personal atau benar-benar diupayakan agar melibatkan diri pribadi yang paling dalam (inner-self). Ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan “mengikat makna”, dia harus menganggap bahwa dirinya sedang berada sendirian di muka bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, “mengikat makna” memerlukan kontinuitas dan konsistensi karena konsep ini adalah sebuah keterampilan sebagaimana memasak, menari, atau pun mengendarai mobil. Dengan melakukannya secara kontinu dan konsistenlah, seseorang akan merasakan manfaat  luar biasa. Keempat, “mengikat makna” akan efektif jika menggunakan teknik membaca dan menulis yang berbasiskan cara kerja otak, yang oleh Hernowo sebut sebagai “brain based writing”. Teknik “brain based writing”  sendiri sudah mencakup “reading”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di antara pengembangan dari keempat pilar di atas, yang paling penting dan bahkan inti dari buku ini adalah ada pada pengembangan pilar kedua, yaitu bahwa kegiatan “mengikat makna” perlu dilakukan di “ruang privat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang privat yang dimaksud adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita. Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menulis di ruang “privat” itulah kita dapat mengeluarkan segenap “diri kita” yang sesungguhnya, karena tak ada yang menilai tulisan kita seperti apa dan apa pula yang kita tulis. Dengan cara itu, pembelajaran menulis akan efektif dan kita akan merasakan plong yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruang privat” inilah yang kerap digunakan Hernowo untuk “mengikat makna”. Efeknya luar biasa, dia menjadi keranjingan membaca dan kemudian menuliskan apa saja—untuk mendapatkan makna—karena “mengikat makna” benar-benar menyelamatkan dirinya dari&lt;br /&gt;kebosanan membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah sebuah ketrampilan. Lewat “ruang privat” ini pula, Hernowo dapat menulis secara mencicil dan kontinu, sehingga dia dapat trampil dalam “mengikat makna”. Bagi kebanyakan orang, hal ini yang paling sulit. Harus diakui, untuk dapat  menghasilkan tulisan yang baik perlu waktu. Bahkan, perlu memperkaya tulisannya dengan banyak membaca. Oleh sebab itu, menulis di “ruang privat” ini dapat membantu menampung “bahan-bahan” yang belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini cocok sekali bagi siapa saja yang ingin belajar menulis bahkan yang sudah lama sekalipun berkecimpung dalam dunia baca-tulis. Buku Hernowo yang berbasis “privat” ini nampaknya selaras dengan apa yang dikatakan Virginia Woolf, penulis Inggris, bahwa cara terbaik untuk membaca adalah dengan menulis. Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan individual, pemikiran kritis yang independen, dan pembangkit kepekaan terhadap kemanusiaan. []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2290709481096172570?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2290709481096172570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2290709481096172570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2290709481096172570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2290709481096172570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/11/memburu-makna-di-ruang-privat.html' title='Memburu Makna di Ruang Privat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SwKqxj7GpOI/AAAAAAAAAeg/D8P48BkxZbs/s72-c/cover_mengikat+makna+update.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-631738374916648536</id><published>2009-11-07T08:03:00.003+07:00</published><updated>2009-11-07T08:07:01.599+07:00</updated><title type='text'>Bukan Cinta Biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SvTIGO6y6eI/AAAAAAAAAeY/c8ORcPllxzI/s1600-h/cover+gargoyle.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SvTIGO6y6eI/AAAAAAAAAeY/c8ORcPllxzI/s320/cover+gargoyle.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401161862533540322" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: The Gargoyle&lt;br /&gt;Penulis: Andrew Davidson&lt;br /&gt;Penerjemah: Ary Nilandari&lt;br /&gt;Penerbit: Kantera&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal: 605 hlm. &lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“L’amour&lt;/span&gt; n’est pas parce que mais melgre”, cinta itu bukan ‘karena’ tapi ‘walaupun’. Begitulah bunyi pepatah orang Perancis. Pepatah itu dapat dimaknai bahwa cinta (sejati) itu mau menerima pasangan kita dengan apa adanya dan tak lekang oleh ruang dan waktu. Itulah yang dilakukan Marianne Angel, seorang wanita yang mencintai laki-laki yang sekujur badannya telah gosong karena terbakar dalam novel The Gargoyle. Gargoyle adalah makhluk mitologi eropa yang biasanya dibuat patungnya di atap bangunan-bangunan kuno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel The Gargoyle adalah karya perdana Andrew Davidson yang sungguh memukau. Tak heran dia berhasil meraih penghargaan First Fiction Award pada 2008. Novel ini juga masuk dalam beberapa daftar best seller seperti di New York Time Best Seller, Publisher Weekly Best Seller, dan Canadian Best Seller dalam beberapa minggu. Sebagai debut pertama yang langsung menyabet penghargaan bergengsi patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi raihan penghargaan di atas, akibat sang penulis yang hendak ingin menjelaskan seperti apa cinta sejati itu. Dan kesimpulannya adalah bahwa cinta sejati itu bukan disebabkan karena keindahan; kecantikan, ketampanan, kecerdasan, dan sebagainya, apalagi kesempurnaan, melainkan sebaliknya: penuh kekurangan. Paradigma cinta yang diusung Andrew lewat The Gargoyle ini sungguh melawan arus dari kehidupan orang barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini diawali dengan dentuman dahsyat. Seorang bintang porno nekat menerjunkan mobilnya ke dalam jurang karena menghindari serbuan anak panah imajiner yang ada dalam halusinasinya. Tubuhnya terbakar. Sebotol barbon yang diapit di antara kedua pahanya serentak menghanguskan alat vitalnya seperti daging panggang. Namun sebelum sakaratul maut menjemputnya ia tersadar diri oleh dinginnya air sungai yang menyelamatkan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan pun tak terelakkan, seorang aktor porno—35 tahun—itu kehilangan semuanya. Karir dan keberuntungannya tamat. Kulit dan alat vitalnya (sebagai modal bintang film porno) yang menawan semuanya hangus terbakar. Tujuh minggu lamanya ia koma di rumah sakit. Sepanjang waktu di rumah sakit dihabiskannya untuk memikirkan metode bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keputusasaannya, muncul seorang pengunjung misterius yang bakal menghabiskan cerita dalam novel ini lebih dari 400 halaman. Pengunjung tersebut ternyata seorang pasien juga yang menderita skizofrenia dan manic-depressive bernama Marianne Angel. Ia muncul dengan rambut yang nyaris awut-awutan dan pandangan matanya yang sulit ditebak. Ia tiba-tiba membisikkan pada lelaki itu bahwa di antara mereka adalah sepasang kekasih di abad 14, di Jerman. “Aku telah menunggu begitu lamanya,” gadis itu berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu lelaki itu tak percaya meskipun gadis itu tengah mengenakan jubah yang menampakkan potongan abad pertengahan. Sang mantan aktor itu tetap berasumsi bahwa Marianne adalah penderita Skizrofenia. Pada awalnya, lelaki itu terus mengabaikan “si gila” Marianne Engel. Namun, lambat laun lelaki itu mulai percaya. Dan dengan kepercayaannya, menjadikannya dirinya menjadi manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini menjadi semakin menarik dan menggetarkan. Di sepanjang cerita yang terus berlanjut, Marianne tetap sebagai figur yang misterius. Kesehatan jiwanya terus dipertanyakan. Dunia kesehariannya adalah sebagai pemahat patung Gargoyle yang sangat ternama. Dia kerap tidur bertelanjang di atas lempengan batu yang akan dipahatnya di ruang bawah tanah kastil miliknya. “Aku menyerap mimpi-mimpi dari dalam batu itu…, dan gargoyle-gargoyle di dalamnya memberitahu hal-hal yang kuperlukan untuk membebaskan mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa syarat apa pun Marianne mencurahkan segenap perhatiannya untuk pria berbadan gosong yang diyakini sebagai kekasihnya. Ia kisahkan cerita-cerita fantastis tentang dongeng kesatriaan seorang pecinta sejati yang berakhir di tiang gantungan. Serta kisah-kisah romantis yang mengesankan cukup membuat mantan sang aktor porno itu mampu melupakan niatnya untuk melakukan bunuh diri. Marianne juga bercerita tentang bangsa Viking dan kekuasaan feodal Jepang yang sangat menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga petualangan memesona mengenai kisah romantik di antara mereka sendiri yang terjadi jauh di abad pertengahan, Jerman, Tepatnya ketika Marianne menjadi seorang penerjemah brilian di Biara Engelthal. Sedang lelaki itu adalah seorang prajurit bayaran yang tengah sekarat di terjang panah berapi, namun sebuah salinan buku Dante yang disematkan di sakunya telah menyelamatkannya. Di situlah getaran-getaran hati membawa mereka mengarungi hidup bersama meski banyak aral yang melintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marianne dan epik cintanya mampu menyeberangi jurang waktu dan tempat.  Cinta sejati yang menyatu di abad silam dan secara mengejutkan dipertemukan kembali di masa sekarang. Inilah novel yang sangat inspiratif untuk orang yang percaya adanya konsep cinta sejati; untuk orang yang percaya adanya sesuatu yang lebih kuat dan lebih bermakna dari sekadar seksualitas.&lt;br /&gt; Semua kisah yang ada di dalam novel ini menegaskan bahwa jangan ada lagi niat untuk melepaskan harapan. Pelajaran-pelajaran yang didengungkan, cinta yang dipertemukan, dan kepercayaan yang diungkap, semuanya menjadi sesi inti yang berasal dari kawah imajinasi sang penulis.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-631738374916648536?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/631738374916648536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=631738374916648536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/631738374916648536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/631738374916648536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/11/bukan-cinta-biasa.html' title='Bukan Cinta Biasa'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SvTIGO6y6eI/AAAAAAAAAeY/c8ORcPllxzI/s72-c/cover+gargoyle.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-2309524178624482708</id><published>2009-10-26T22:04:00.006+07:00</published><updated>2009-10-26T22:12:26.052+07:00</updated><title type='text'>Pudarnya Sejarah Islam di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SuW8GVLn_YI/AAAAAAAAAdw/IS2slCBY-W4/s1600-h/Buku+Api+Sejarah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SuW8GVLn_YI/AAAAAAAAAdw/IS2slCBY-W4/s320/Buku+Api+Sejarah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396926545424547202" /&gt;&lt;/a&gt;Judul : Api Sejarah&lt;br /&gt;Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara&lt;br /&gt;Penerbit : Salamadani&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal : xxii + 584 hlm.&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEJARAH&lt;/span&gt; memang hanya urusan masa lalu, karena sifatnya yang tak bisa diubah. Tapi, dampaknya boleh jadi akan terus dirasakan sampai kapan pun. Di sinilah perlunya untuk dipikirkan kembali prihal suatu sejarah yang telah mapan. Lebih-lebih jika sejarah itu menyangkut dan menempati posisi strategis dalam konteks berbangsa dan bernegara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, penulisan sejarah Islam Indonesia dan kiprah muslim dalam perjuangan melawan penjajah. Sejarah itu merupakan rekam jejak penting bagi kaum muslim Indonesia. Sejarah tumbuh, kembang, dan jatuh bangunnya peradaban Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kaum muslim terdahulu. Bahkan sejarah berdirinya Indonesia—diakui atau tidak—tidak dapat dilepaskan dari peranan kaum muslim.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, peradaban bangsa Indonesia yang kini ada merupakan proses panjang yang sarat nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai harganya oleh kaum muslim terdahulu. Namun, fakta-fakta penting bisa jadi masih belum terungkap dan terakses oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Kita hanya tahu bahwa kaum muslim ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ya, hanya sampai di situ. Dan kita pun manut dengan penulisan sejarah Islam tanpa menelaah lebih jauh. Padahal, hal itu menyisakan sejumlah pertanyaan dan masalah. Misalnya, dapatkah kita membedakan antara kemunculan Islam dan perkembangannya di Indonesia; mengapa situs-situs Islam terutama di Jawa Barat dan Banten tidak terawat, lainnya halnya dengan situs-situs Hindu dan Budha, semisal candi Borobudur dan Prambanan. Masih banyak lagi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itulah buku Api Sejarah ditulis. Ahmad Mansur Surya Negara, Sang penulisnya, memaparkan bahwa penulisan sejarah telah dijadikan alat oleh penjajah untuk mengubah wawasan generasi muda Islam Indonesia tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya. Maksud dari upaya penjajah tersebut adalah untuk menghilangkan kesadaran umat Islam dalam perjuangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah merancukan antara Islam masuk dan saat perkembangannya. Padahal, menurut Ahmad, kedua hal tersebut jauh berbeda pengertiannya. Beberapa fakta dia paparkan. Selama ini yang populer Islam masuk ke Indonesia adalah abad ke-13 melalui Aceh. Buktinya adalah terdapat kerajaan Samudra Pasai yang menganut ajaran Islam. Fakta tersebut ada yang patut dipertanyakan, mungkinkah Islam begitu masuk ke Samudra Pasai langsung mendirikan kekuasaan politik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ahmad ada fakta lain yang lebih shahih. Pada abad ke-11, di pulau Jawa telah berdiri pula kekuasaan politik Islam di Leran, Gresik, Jawa Timur yang didirikan oleh Fatimah binti Maimun.  Pendirian kekuasaan politik Islam tersebut hampir bersamaan waktunya dengan tahta kekuasaan politik Hindu di Kediri, Jawa Timur, di bawah Raja Airlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya kekuasaan politik Islam di Gresik jauh sebelum kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, pada 1294. Keberadaan nisan Fatimah binti Maimun (di Gresik) karena bersifat nisan tunggal, oleh sejarawan tidak diakui keberadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta sejarah ini, tergambarkan bahwa kekuasaan politik Hindu, Budha, dan Islam dapat dikatakan hampir mempunyai kesamaan waktu keberadaannya di Indonesia. Hanya dalam perjalanan sejarah berikutnya, agama Islam berhasil memenangkan massa mayoritas. Jadi, kemunculan Islam di Indonesia jauh melebihi yang kita perkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi memperkuat argumen di atas, Ahmad mencoba memetakan Indonesia dalam konteks global. Dia membahas terlebih dahulu perkembangan Islam di timur tengah, asia afrika, dan eropa sebelum dan sesudah meninggalnya Nabi Muhammad (632 H), setelah itu barulah masuk pembahasannya ke Indonesia. Ahmad menganggap bahwa pembahasan seperti itu perlu dilakukan karena segenap perubahan yang terjadi di timur tengah, asia afrika, dan eropa pada masa Nabi Muhammad sebelum dan sudah wafatnya sangat berpengaruh terhadap masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membahas eropa, ada hal yang menarik dari analisa Ahmad prihal imperialisme Barat. Jadi, pada saat pudarnya kekuasaan Hindu dan Budha serta berkembangnya kekuasaan Islam, datanglah prahara imperialisme Barat mulai menanamkan kekuasaannya di Indonesia. Diawali dengan masuknya Portugis menduduki Malaka, pada 1511. dan diikuti Belanda menduduki Jayakarta, pada 1619. Timbulnya imperialisme barat sendiri adalah sebentuk usaha untuk menaklukkan Islam. Ide ini dibangun oleh Vatikan, Portugis dan Spanyol pada abad ke-15 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Vatikan memberikan kewenangan kepada kerajaan Portugis untuk menguasai dunia belahan timur, sedang kerajaan Spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat. Dalam perkembangannya, gerakan komunis menentang imperialisme barat tersebut. Tidak heran jika Karl Marx, penganut komunisme, menolak ajaran agama. Dia menilai agama sebagai candu, dan agama identik dengan alat penjajahan, buat menidurkan rakyat yang ditindas oleh pemerintah penjajah yang didukung oleh Vatikan untuk merealisasikan tujuannya, yaitu tiga G: God, Glory, and Gospel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak heran ketika imperialisme barat (baca: Portugis dan Belanda) bercokol di Indonesia mencoba “menaklukkan” masyarakat muslim, di samping karena sering mendapat perlawanan yang sengit namun juga menjadi embiro istilah ‘nasionalisme’. Salah satu upayanya adalah “menghancurkan” situs-situs Islam dan menonjolkan situs-situs Hindu dan Budha. Di antara usaha itu adalah pemerintah Belanda memugar candi Borobudur dan candi Prambanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari upaya rekonstruksi sejarah, pemugaran candi dan patung, serta pembacaan ulang prasasti Hindu dan Budha, ditargetkan akan memudahkan upaya menghidupkan kembali ajaran Hindu dan Budha. Dengan demikian akan tergeserlah pengaruh Islam. Sebaliknya, peninggalan Islam dibiarkan begitu saja. Salah satunya peninggalan sejarah Banten, yaitu kerajaan Banten. Bekas kesultanan Banten itu pun dibiarkan rata dengan tanah. Jadi, kebangkitan semangat keislaman masyatakat Banten yang pernah berjaya diperhitungkan akan sangat membahayakan eksistensi Batavia pada waktu itu. Oleh karena itu harus dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, keberadaan Belanda akan aman dan tidak lagi menemui perlawanan karena kalangan penganut Hindu dan Budha ditargetkan akan berpihak kepada pemerintah Belanda. Sungguh, pemerintah Belanda sangat khawatir akan bangkitnya kesadaran sejarah masyarakat muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ketebalannya mencapai 584 halaman ini boleh dibilang sangat antusias untuk memaparkan sejarah Islam Indonesia dari kemunculannya hingga tahun 1950. Fakta-fakta lainnya dalam buku ini jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia sehingga cukup menggelitik untuk ditelaah lebih jauh. Namun, referensi yang dipakai sang penulis dalam menggunakan argumentasinya memaksa kita untuk berpikir dua kali untuk membantahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, patut disayangkan, buku ilmiah ini sedikit “ternoda” oleh ambisi sang penulis sendiri yang kentara sekali ingin memunculkan istilah ulama dan santri. Kesan yang saya tangkap bahwa yang dimaksud kaum muslim dalam perjuangan pada zaman pra dan pasca kemerdekaan hanyalah ulama dan santri. Tentu, hal itu mengecilkan kaum muslim sendiri yang notabene-nya banyak kaum muslim yang berada di luar dua kelompok itu. Mestinya, dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud ‘ulama’ dan ‘santri’ itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, beberapa hal juga sedikit mengganggu dalam membaca buku ini, seperti di halaman 100 paragraf kedua, mestinya di situ ditulis ‘sunni’ bukan ‘ahlush shunnah wal jama’aah’, karena dikontraskan dengan ‘syi’ah’. Dalam hal penulisan juga masih banyak ditemukan kesalahan, seperti ‘wirauswasta’ yang mungkin dimaksud adalah ‘wiraswasta’. Hal ini termasuk dalam judul. Jika di cover depannya tertulis judul kecilnya Buku yang akan Mengubah Drastis Pandangan Anda Tentang Sejarah Indonesia sedang di halaman Pembuka-nya (hlm. 23), sang penulis menulis judul kecilnya Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri, Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, mana yang benar? []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-2309524178624482708?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/2309524178624482708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=2309524178624482708' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2309524178624482708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/2309524178624482708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/10/pudarnya-sejarah-islam-di-indonesia.html' title='Pudarnya Sejarah Islam di Indonesia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SuW8GVLn_YI/AAAAAAAAAdw/IS2slCBY-W4/s72-c/Buku+Api+Sejarah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-1169989008723778629</id><published>2009-10-18T19:33:00.003+07:00</published><updated>2009-10-18T19:40:40.565+07:00</updated><title type='text'>Membongkar Organisasi Perusak Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StsMlbeRiiI/AAAAAAAAAdo/azoBlO3FQy4/s1600-h/cover_secret_societies.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StsMlbeRiiI/AAAAAAAAAdo/azoBlO3FQy4/s320/cover_secret_societies.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393918815875729954" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Secret Societies: 21 Organisasi Perusak Dunia &lt;br /&gt;Penulis: Michael Bradley&lt;br /&gt;Penerjemah: Ety Triana&lt;br /&gt;Penerbit: Rajut Publishing House, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: IV, 2009&lt;br /&gt;Tebal: 209 hlm. (termasuk indeks)&lt;br /&gt;---------------------  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejak awal terbit&lt;/span&gt;, buku ini ternyata mampu menyita perhatian banyak orang. Terbukti, pada 2009, buku ini sudah mengalami cetak ulang yang keempat (dari tahun 2008). Rasa penasaran adalah hal yang menjadi daya magnet buku ini. Betapa tidak, buku berjudul Secret Societies:Organisasi Perusak Dunia ini hendak membuat penasaran kita, bahwa ada 21 organisasi rahasia yang terbukti telah merusak dunia baik secara lokal maupun inter-lokal dari pelbagai sisi: politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud Secret Societies oleh Michael Bradley—sang penulis buku ini—adalah sekumpulan organisasi sosial maupun (atas nama) keagamaan di seluruh dunia dari masa ke masa yang mewajibkan anggota-anggotanya untuk menyembunyikan aktifitas-aktifitas tertentu dari orang luar seperti ritual inisiasi atau upacara perkumpulan. Anggota-anggotanya mungkin diwajibkan untuk menyembunyikan atau menyangkal keanggotaan mereka dan sering disumpah untuk menjaga rahasia perkumpulannya. Biasanya, mereka identik dengan rencana-rencana politis;pembentukan pemerintahan global atau apa yang disebut dengan Tata Dunia Baru (The New World Order – NOW). Ciri khas mereka adalah mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dengan pelbagai cara, meski dengan cara kotor sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradley menulis buku ini dengan maksud agar masyarakat dunia mengenal komplotan – komplotan rahasia paling berbahaya di dunia. Merekalah para pengendali ekonomi, politik dan seluruh isu – isu global internasional. Secara kasat mata, komplotan itu menampilkan diri moderen dan terhormat di mata publik, namun berbeda dengan pekerjaan mereka sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi-organisasi yang mereka susun sangat rapi. Mereka memulai menjajah dan meneror, melalui politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya. Keduapuluh satu organisasi yang dimaksud adalah The Assasin, The Bilderbergers, The Bohemian Club, The Club of Rome, Council on Foreign Relations (CFR), Essex Junto, Freemasonry, The Golden Dawn, The Illuminati, Knight Templar, Ku Klux Klan, Mafia, Majestik-12 The Aviary and The Aquarium, Mensur, Opus Dei, The Order of Skull and Bones, Sionus Prioratus, The Rosicrucians, The Round Table, Triad, dan Trilateral Commision.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Assasin (abad 12-13), misalnya, sebuah organisasi yang berasal dari Syiria namun kekuasaannya meliputi negara-negara Islam di timur tengah. Organisasi ini disebut Nizariyah, karena mereka berusaha mengembalikan pangeran Nizar Al-Toyyib (dianggap sebagai reinkarnasi Nabi Ismail) ke tahta kekuasaan Mesir. Komplotan ini mulai disebut The Assasin karena mulai mencuci otak para pemuda untuk diperbudak dengan menempatkan mereka di istana layaknya surga dunia. Untuk mendapatkan kenikmatan surga tersebut mereka halalkan segala cara dan rela meski nyawa sebagai taruhannya. Pengaruh Assasin menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika The Assasin dan beberapa organisasi lainnya seperti The Bohemian Club, The Club of Rome, Essex Junto, The Golden Dawn, Ku Klux Klan eksis pada abad yang lampau, sedang—sekadar menyebut—The Bilderbergers, CFR (Council on Foreign Relationship), Freemasonry dan Trilateral Commission adalah beberapa organisasi yang eksis pada masa kini. Keempat organisasi ini memiliki hubungan erat dan saling berelasi. Mereka menguasai minyak &amp; mineral dunia, bank sentral dunia, media massa, teknologi persenjataan, dan penguasaan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bradley, anggota organisasi The Bilderbergers adalah orang-orang penting dalam pemerintahan di Eropa dan Amerika, seperti Bill Clinton mantan presiden AS, Pangeran Charles, Ratu Sophia dari Spanyol, Ratu Beatrix dari Belanda, keluarga Rockefeller Amerika dan Rothschild Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi ini didirikan pada tahun 1968 dan merupakan salah satu organisasi terbesar di dunia. Ada yang menyebutnya komplotan elit rahasia yang berambisi menguasai dunia. Untuk menjalankan misi, mereka berkedok "kerja sama" yang didukung oleh kalangan elit dunia, Bank Dunia hingga Dana Moneter Internasional (IMF).&lt;br /&gt;Banyak hal yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia—krisis ekonomi, pergantian rezim, perang, dan lain sebagainya—tak lepas dari peran kelompok rahasia ini. Semua ini demi memantapkan hegemoni mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hasil penelusurannya, komplotan Bilderberg ini tidak punya nama dan eksistensi resmi. Mereka beranggotakan politisi elite dunia yang berjumlah 100 orang lebih; terdiri dari para pakar keuangan internasional, bos-bos internasional, para pemimpin politik dan keluarga-keluarga kerajaan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya Bill Clinton. Saat masih menjadi gubernur, dia dijadikan alat organisasi ini guna menaklukkan North America Free Trade Agreement (NAFTA). Untuk itu, Clinton terpilih sebagai presiden AS. Mereka juga pernah menjebak Uni Soviet dengan bantuan finansial. Kompensasi yang harus dibayar adalah Uni Soviet menyerahkan sumber daya alam. Hal ini juga diterapkan pada negara-negara berkembang. Tujuan mereka agar negara-negara dunia ketiga lumpuh dan bergantung total kepada mereka. Setelah mendapat pinjaman dana dari IMF, penduduk negara-negara berkembang menjadi hamba sahaya abadi untuk melayani kepentingan mereka. Bukankah hal ini menjadi kenyataan pada masa kini, termasuk Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui informasi keduapuluh satu organisasi yang didapat dari buku ini memang tidak terlalu banyak. Ulasannya kurang mendalam. Oleh karena itu, buku ini hanya menjadi semacam pengantar saja, tak lebih. Secara tematis, buku ini pun kurang lengkap, karena tidak mencantumkan beberapa secret societies yang juga berpengaruh seperti: Jesuit, Zionist, CIA, MI-5, MI-6, MOSSAD, dan KGB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, buku ini dapat dipercaya informasinya. Bahkan, di akhir halaman buku ini, penulis menantang pembaca untuk mengumpulkan semua alasan, jika tak satupun fakta isi buku ini benar. Sebab, buku ini ditulis dengan menggunakan riset dan penelitian yang matang. Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang relevan dengan masing-masing organisasi yang disebutkan tersebut.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-1169989008723778629?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/1169989008723778629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=1169989008723778629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1169989008723778629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/1169989008723778629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/10/membongkar-organisasi-perusak-dunia.html' title='Membongkar Organisasi Perusak Dunia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StsMlbeRiiI/AAAAAAAAAdo/azoBlO3FQy4/s72-c/cover_secret_societies.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-3417439552881864002</id><published>2009-10-11T19:07:00.004+07:00</published><updated>2009-10-11T19:13:51.705+07:00</updated><title type='text'>Kiamat 2012</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StHLxwDaCYI/AAAAAAAAAdg/-Gzye2IIHF8/s1600-h/cover+2012.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 210px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StHLxwDaCYI/AAAAAAAAAdg/-Gzye2IIHF8/s320/cover+2012.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391314284512414082" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: The Mystery of 2012&lt;br /&gt;Penulis : Gregg Braden, dkk&lt;br /&gt;Penerbit : Ufuk Publishing House&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal : 579 Halaman&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DEMAM&lt;/span&gt; tahun 2012 telah melanda dunia. Tak terkecuali Indonesia. Tak ketinggalan pula para penulis mengulas fenomena 2012 tersebut. Walhasil, pelbagai buku menjelaskan 2012 ini dari pelbagai sudutnya. &lt;br /&gt;Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Hal ini bermula dari ramalan bangsa Maya yang meramalkan bahwa pada 21 Desember 2012 akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada waktu itu, tata surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000 tahun sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Maya adalah bangsa yang pernah ada di Amerika Tengah dan Meksiko. Dalam sejarahnya, bangsa ini pernah mengalami peradabannya. Salah satu buktinya adalah, tanpa teleskop dan mesin hitung, mereka bisa menyusun kalender melalui pengamatan benda langit dengan mata telanjang yang disusun secara sistematis. Suku Maya yang diketahui primitif, namun memiliki pengetahuan astronomi yang maju. Mereka memiliki sistem kalender sendiri dengan siklus 260 hari setahun yang dikenal tzolkin (baca = zolkeen) yang terdiri atas 13 angka dan 20 tanda hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, Kalender bangsa Maya tersebut hitungannya berakhir pada 2012. Hitungan tersebut bukan hanya ramalan Suku Maya Kuno belaka, tapi berdasarkan fakta yang logis secara hitungan kosmis dan siklus penanggalan mereka. Para ilmuwan pun berhasil membuktikannya. Tidak berhenti di situ saja, sistem penanggalan peradaban kuno Cina, India, dan Persia juga menunjukkan sesuatu yang besar akan terjadi di seputar tahun dan tanggal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu buku yang menjelaskan ihwal “kiamat” 2012 adalah The Mystery of 2012. Melalui buku ini, pembaca akan diberikan pemahaman yang lengkap bagaimana Suku Maya menetapkan kalender waktu dan prediksi apa yang akan terjadi sebelum dan setelah 2012. Tidak hanya itu, buku setebal 579 halaman ini menyajikan analisis dari prediksi 23 ahli tentang fenomena Kalender Maya tersebut. Para ahli dalam buku ini memberikan penjelasan logis yang mendasarkan tulisannya dari penelitian situs langsung, wawancara dan wacana keilmuan yang bersifat empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ervin Laszlo, Peneliti dan Kepala Evolution Research Group, misalnya, mengakui kebenaran siklus akhir kalender Maya. Bahwa pada saat itu terjadi "titik kekacauan" dalam kehidupan manusia. Bisa jadi "titik kekecauan" ini sebagai gejala akhir dunia. Hanya saja, dia menganalisis “titik kekacauan” itu bukan berarti sebagai waktu terjadinya hari akhir. Siklus itu hanya menandai terjadinya akhir hari dan masih ada hari berikutnya yang baru. Setelah 2012 akan ada masa yang lebih baik lagi bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang menurut Greg Braden, ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, sekaligus ketua tim investigasi untuk buku ini, bahwa 2012 akan membawa pembalikan kutub magnetik bumi. Kemagnetan planet akan membalik dan titik atau badai matahari akan jadi tanda bagi perubahan mendatang. Dia menarik dari bukti fisik, teori kuantum, dan kecenderungan sejarah untuk mengukur kemungkinan destruksi masif atau kemunculan realitas baru yang memberdayakan pada 2012. Dia juga menyatakan bahwa yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Russel mempunyai sudut pandang lain lagi. Dia lebih banyak bercerita tentang perubahan di tahun 2012 sebagai dampak evolusi yang berakselerasi. Hal yang lebih penting dari fenomena 2012 ini, menurut Russel, adalah sebagai permulaan zaman kearifan ketimbang menamai fenomena 2012 sebagai kiamat. Tiap fase baru dalam inteligensi yang berkembang berlangsung dalam pecahan waktu dari fase sebelumnya sehingga kita dapat mengharapkan permulaan Zaman Kearifan yang berlangsung selama berpuluh-puluh tahun yang akan berpijak di Zaman Informasi. Hal itu memungkinkan akan ada transformasi menuju spesies baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya multi tafsir mengenai fenomena 2012, kita sebenarnya diajak berpikir untuk memaknai pula fenomena tersebut, dengan pelbagai macam pemaknaan. Boleh jadi kita memahami hal itu sebagai ramalan yang terlalu dilebih-lebihkan karena memang kejadian pada tahun itu adalah sesuatu yang sunnatullah (hukum alam), namun boleh pula kita melihat dari sisi spiritualitas bahwa sudah saatnya manusia sungguh-sungguh introspeksi diri sembari melakukan perbaikan diri, untuk sesama maupun untuk alam sekitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, buku ini paling tidak memberi wawasan akan fenomena alam dan (lebih penting lagi) membuka kesadaran kita untuk hidup lebih sungguh-sungguh dalam menjaga alam sekitar kita.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-3417439552881864002?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/3417439552881864002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=3417439552881864002' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3417439552881864002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/3417439552881864002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/10/kiamat-2012.html' title='Kiamat 2012'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/StHLxwDaCYI/AAAAAAAAAdg/-Gzye2IIHF8/s72-c/cover+2012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5908683108126285871</id><published>2009-10-06T09:01:00.005+07:00</published><updated>2009-10-06T09:13:04.881+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Sukses Jack Welch</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SsqmUy6vLZI/AAAAAAAAAdY/iGZrvK_cwMo/s1600-h/cover_the+jack+welch.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SsqmUy6vLZI/AAAAAAAAAdY/iGZrvK_cwMo/s320/cover_the+jack+welch.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389302780297948562" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Jack Welch Secrets: 10 Rahasia Sukses CEO Paling Fenomenal di Zaman Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Stuart Crainer&lt;br /&gt;Penerjemah: Arfan Achyar&lt;br /&gt;Penerbit: Daras Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2009&lt;br /&gt;Tebal: 208 hlm.&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jack Welch &lt;/span&gt;adalah salah satu tokoh yang dikenal dalam dunia bisnis karena kepemimpinannya saat ia menjabat sebagai Pemimpin dan Ketua Eksekutif dari General Electric (GE), Amerika, pada periode 1981-2001. Reputasinya diraih berkat kecerdasan bisnis yang tinggi dan strategi kepemimpinannya di GE. Ia tetap menjadi tokoh yang disegani di kalangan bisnis mengingat strategi manajemennya yang inovatif dan gaya kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GE adalah perusahaan teknologi dan jasa dengan bidang usaha yang sangat luas, dari peralatan rumah tangga, lampu listrik, finansial, mesin jet pesawat, sampai pembangunan pembangkit nuklir. Nilai total perusahaan ini sekarang mencapai 500 miliar dolar. Jack sudah bekerja jadi teknisi di General Electric sejak 1960. Ia mulai benar-benar dari bawah. Dengan usahanya yang luar biasa, Jack berhasil naik terus ke puncak. Umur 37 tahun, ia sudah menjadi Vice President di GE. Dan pada 1981, Jack menjadi penguasa di GE, sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch sering dipanggil "Neutron Jack" karena gaya kepemimpinannya yang penuh ledakan, persis seperti bom neutron. Banyak tindakan besar yang drastis yang ia lakukan selama kepemimpinannya. Misalnya, ia memotong gaji 10 % eksekutif yang kerjanya terburuk tiap tahun. “Habisi semua yang tidak memberikan sumbangan pada perusahaan”. Ujar Jack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jack juga menjadikan perusahaan yang awalnya sangat tidak efisien, menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia. Jack adalah legenda dalam manajemen perusahaan. Jack sendiri berhenti dari GE tahun 2001. Sekarang, GE adalah salah satu perusahaan terbesar Amerika, bernilai hampir setengah triliun dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini kita akan mengetahui prinsip-prinsip yang dijalankan Jack Welch dalam mencapai semua hal di atas. Melalui buku ini pula, kita akan mengetahui gaya manajemen dan kepemimpinannya yang telah terbukti itu. Penulis buku ini, Stuart Crainer, adalah seorang pendiri Suntop Media, sebuah firma konsultasi, konsep, dan konten media di Amerika, yang telah menghasilkan beberapa buku juga mengenai bisnis dan manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit menukik ke belakang, GE didirikan oleh Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu, dan sudah berusia lebih dari satu abad. Sejak didirikan, perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi perusahaan raksasa. Tapi, akhir tahun 70-an, GE telah menjadi perusahaan raksasa yang gemuk dan sama sekali tidak efisien. Bisnisnya tidak fokus, birokrasinya besar dan bertingkat-tingkat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah juga lambat. GE adalah perusahaan besar yang akan segera ketinggalan zaman dan dilindas pesaingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada 1981, ada seorang pemimpin baru di GE. Namanya Jack Welch, dan ia akan segera menciptakan sejarah. Nah, dalam kepemimpinannya, nilai GE telah naik berkali-kali lipat. Saat Jack masuk, GE bernilai 14 miliar dolar dan saat Jack keluar GE bernilai 130 miliar. Tidak ada satu pun pemimpin bisnis di dunia, bahkan Bill Gates sekalipun, yang mampu menciptakan perkembangan nilai perusahaan yang sedahsyat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch diangkat menjadi vice president GE pada 1972, lalu senior vice president pada 1977, dan vice chairman pada 1979. Welch akhirnya menjadi chairman dan CEO termuda GE pada 1981. Saat pensiun pada 2004, gaji tahunannya US$ 4 juta. Kekayaan bersihnya kini ditaksir US$ 270 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berdasar capaian di atas, penulis buku ini mengidentifikasi ada sepuluh bumbu utama dari gaya manajerial Jack: berinvestasi pada manusia, dominasi pasar anda… atau enyah, tak pernah tinggal diam, pikirkan layanan, lupakan masa lalu, ciptakan masa depan, belajar dan memimpin, tanpa basa-basi, hilangkan birokrasi, tidak kemana-mana, dan mengurus toko kelontong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesepuluh gaya manajemen Jack, ada dua hal yang menjadi perhatian saya ketimbang yang lainnya yaitu, hilangkan birokrasi dan mengurus toko kelontong. Dua hal ini boleh dikata jarang saya temukan di dalam manajemen bisnis mana pun. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘hilangkan birokrasi’ dan ‘mengurus toko kelontong’? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direpotkan dengan birokrasi dan hierarki yang membuang waktu, Jack Welch hampir meninggalkan GE setelah setahun bekerja di sana. Ia berhasil dibujuk, tetapi kejengkelannya tetap bersemayam. Setelah mencapai puncak, Welch membuang aturan-aturan birokratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayangkan satu gedung. Perusahaan menambah jumlah lantai ketika bertambah besar. Ukuran menambah jumlah lantai. Kompleksitas menambah jumlah dinding. Kita semua membangun departemen—departemen transportasi, departemen riset. Itulah kompleksitas. Itulah tembok. Pekerjaan kita dalam bisnis adalah meratakan bangunan dan menghancurkan tembok. Jika melakukan itu, kita akan mendapatkan lebih banyak orang yang datang dengan lebih banyak ide untuk berbagai tindakan yang dibutuhkan oleh fungsi bisnis” (hlm. 168-169). Itulah salah satu terobosan Jack dalam upaya menghilangkan birokrasi. Dan terbukti menguntungkan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch mengelola GE layaknya sebuah toko kelontong. Hal yang harus diperhatikan sama. Kualitas dan pelayanan. Arus uang. Tahu betul tentang apa yang akan laku dijual, bisnis apa yang berhasil saat ini. Fakta bahwa kita menjual reaktor nuklir, bukan menjual permen, tidaklah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack dikenal sangat keras, tetapi adil. Keuntungan akan dikejar, tapi karyawan yang baik selalu diperhatikan. Untuk mereka, berbagai sistem promosi, bonus, dan saham di perusahaan diberikan secara kompetitif. Jack juga hafal nama dan pekerjaan dari hampir 1.000 orang yang bekerja di GE. Gabungan dari sistem reward dan punishment yang ekstrem ini membuat GE menjadi salah satu perusahaan terbesar Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Jack, semua pihak harus belajar jadi yang terbaik atau, jika tidak, akan dieliminasi. Eksekutif akan dipecat, anak perusahaan yang tidak mampu memberi keuntungan atau bukan dua besar dalam industrinya akan ditutup atau dijual. Semua harus belajar dengan cepat karena perusahaan seperti itulah yang akan unggul. Jadi, semua pihak di GE akan belajar mati-matian, atau ditendang keluar. Kalau bukan oleh pesaingnya, oleh Jack sendiri. Perusahaan pun bergerak semakin cepat, begitu pula keuntungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Jack, bahwa manajemen adalah sebuah seni. Dan hal itu (terkadang) tidak bisa dipelajari di buku, melainkan dari sebuah pengalaman.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-5908683108126285871?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/5908683108126285871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=5908683108126285871' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5908683108126285871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/5908683108126285871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/10/rahasia-sukses-jack-welch.html' title='Rahasia Sukses Jack Welch'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SsqmUy6vLZI/AAAAAAAAAdY/iGZrvK_cwMo/s72-c/cover_the+jack+welch.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6153326738814283065</id><published>2009-09-27T12:23:00.002+07:00</published><updated>2009-09-27T12:40:23.139+07:00</updated><title type='text'>Pewaris Mimpi Sang Ayah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sr76nGHBjiI/AAAAAAAAAdI/rdmpGhGNlR4/s1600-h/cover_dreams+from+my+father.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sr76nGHBjiI/AAAAAAAAAdI/rdmpGhGNlR4/s320/cover_dreams+from+my+father.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386017753943608866" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Dreams From My Father: Pergulatan Hidup Obama&lt;br /&gt;Penulis: Barack Obama&lt;br /&gt;Penerjemah: Miftahul Jannah Saleh, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan, Bandung &lt;br /&gt;Cetakan: I, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal: 493 hlm.&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inilah buku &lt;/span&gt;perjalanan hidup sang presiden Amerika Serikat (AS) saat ini, Barack Obama, yang ditulis oleh Obama sendiri. Selama ini banyak sekali buku mengenai Obama dari pelbagai sisi semenjak dia menjadi orang nomor satu di AS. Kisah hidup dan spekulasi kiprah politiknya menjadi daya tarik para penulis dari pelbagai dunia. Untuk itu, buku ini sebenarnya referensi utama buku tentang Obama dari sudut pandang dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pergulatan Obama ini menjadi inspirasi bagi pembaca, karena memiliki kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, serta toleransi yang nyata. Hal ini pula yang menjadikan buku ini bestseller versi New York Times sebagai peraih British Book Award 2009 kategori Biografi terbaik. Sungguh, sebuah prestasi yang prestisius.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, secara detail Obama menuturkan asal-usulnya, masa kecilnya di Hawaii, lalu kepindahannya ke Jakarta, serta kuliahnya di Chicago. Pria berayahkan pria kulit hitam asal Kenya dan ibu asli Amerika ini juga menelusuri perjalanan mencari akar budayanya di Afrika, di tengah-tengah kerabatnya yang muslim. Di buku ini, Obama yang akrab disapa Barry mengaku sempat kehilangan jati diri. Dia marah dan frustrasi akibat diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Obama tak mampu menuangkan amarahnya, karena selalu teringat ibunya yang berkulit putih. Logikanya, jika dia melampiaskan kebenciannya kepada orang-orang kulit putih, berarti sama saja benci terhadap ibunya. Padahal, ibunya adalah orang yang begitu dia cintai. Akibat dilema itu, dia kesal atas dirinya sendiri. Kekesalan itu membuat dirinya putus asa, hidup tak bersemangat, dan akrab dengan madat, serta minuman beralkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keadaan itu tidak menyembuhkan dirinya. Setelah jenuh dengan keadaan itu, dia sadar. Titik nadirnya itu menyadarkannya bahwa banyak hal positif bisa dilakukan ketimbang melakukan hal negatif yang sebenarnya merusak dirinya sendiri. Kemudian, dia bangkit. Pertama yang dilakukannya adalah merengkuh semangat persaudaraan yang melintasi warna kulit yang menyatukan ayah dan ibunya (kulit hitam dan kulit putih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan impian sang ayah yang belum tercapai. Ayahnya bercita-cita membuat persaudaraan antar-warna kulit, di mana masa itu rasisme begitu kental dan sering terjadi kekerasan dan diskriminasi yang menjadi konsumsi sehari-hari. Keinginan tersebut, ayah Obama merintisnya melalui jalur pendidikan dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama merasa menemukan kembali impian yang diwariskan ayahnya itu. Dulu, ayahnya seorang anak miskin kulit hitam dari desa terpencil di Kenya mengejar ilmu sampai ke Amerika. Obama pun mengikuti jejak sang ayah. Dia menjadi aktifis, satu-satunya senator dari kulit hitam, yang hingga kini kemudian menjadi presiden Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini pun, Obama menulis bagian khusus mengenai Indonesia. Dia menceritakan bahwa Ibunya menikah dengan Lolo Soetoro, asal Indonesia, yang bertemu saat di Hawaii. Awalnya, Obama menganggap Indonesia sebagai Negara miskin, belum berkembang yang sama sekali asing dibandingkan Negara lain. Namun, setelah menikmati hidup di Jakarta pandangannya pun berubah mengenai Indonesia. Bahkan, dia mengaku banyak pelajaran berharga yang dia dapatkan selama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama begitu sayang dan bangga kepada kedua orangtuanya—Barrack Hussein Obama Sr - Shirley Ann Dunham—meski keduanya telah berpisah saat Obama berusia dua tahun. Walaupun Obama tinggal dan dibesarkan oleh ibunya, namun hubungan dengan ayah dan keluarga besarnya yang masih tinggal di Kenya, Afrika, tak pernah putus. Dari sini pula Obama mengetahui ayahnya lebih mendalam dan impian yang belum tercapai. Impian-impian yang sejatinya menyangkut pada kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memoar Rasa Sastra&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Memoar ialah tulisan tentang peristiwa masa lalu yang menyerupai autobiografi, bahkan bisa dikatakan semi-autobiografi. Isinya bisa macam-macam. Bisa pendapat, kesan, atau kritikan terhadap peristiwa pada waktu yang diihat dan dialami si penulisnya. Yang membedakan di antara keduanya ialah pesannya. Autobiografi biasanya yang ingin perlihatkan adalah perjalanan sang tokoh tersebut, terutama perjalanan kesuksesannya. Sedangkan memoar menitikberatkan pada kesan sang tokoh tersebut terhadap sebuah peristiwa yang dia temui. Kesannya bisa berupa kritikan, gagasan, ataupun yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Obama ini dapat dikategorikan memoar. Dia mengisahkan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga masa mudanya. Tepatnya sampai pada awal-awal karier politik dan tunangannya dengan Michelle Robinson. Dia mengawali kisahnya dengan berita bahwa ayah kandungnya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil, padahal selama itu sosok ayahnya lebih merupakan mitos yang diceritakan ibunya daripada kenyataan. Kematian mendadak itu memberi dia inspirasi pengembaraan emosional, pertama-tama ke sebuah daerah kecil di Kansas, menapaki lagi perpindahan keluarga ibu ke Hawaii, kemudian ke Kenya, negeri tempat sisi Afrika dirinya berasal, berhadap-hadapan dengan kenyataan pahit kehidupan sang ayah, dan akhirnya menerima warisan terbelah dalam dirinya. Di sinilah dia bercerita tentang pertama kali merasakan arti rasisme dan artinya bagi seorang African American. Refleksi tentang ras dan hubungan antar-ras di AS banyak disinggung di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penikmat sastra akan mengetahui bahwa Obama menggunakan teknik penulisan sastra dalam penulisan buku ini. Narasinya begitu kuat dan memukau hingga pembaca bisa terbawa pada kegetiran, kekecewaan, dan kecemasan yang ditimbulkan oleh politik rasial dan kemiskinan di AS. Klimaks dalam memoar ini adalah terjadi di pedesaan Kenya, yang dia kunjungi sebelum masuk Harvard Law School. Perasaannya berkecamuk tatkala dia duduk di antara kuburan ayah dan kakeknya. Dia  menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengenang Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Dalam buku ini menyisihkan sub-bab yang berjudul Indonesia. Ketika Ibu Obama bercerai dengan ayah Obama, Ibunya kemudian menikah lagi dengan lelaki asal Indonesia, bernama Lolo Soetoro. Pernikahan tersebut menjadikan Obama mencicipi tanah Indonesia. Obama tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta, kira-kira empat tahun, yaitu pada 1967 hingga 1971, ketika berumur 6-10 tahun. Di Indonesia, dia sempat sekolah di dua SD, pertama SD Katolik Franciskus Assisi, dari kelas 1 hingga kelas 3, kemudian meneruskan sekolah di SDN 1 Menteng sampai pertengahan kelas 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, keluarga Obama awalnya tinggal di sekitar wilayah Warung Buncit, namun kemudian pindah ke kawasan Menteng. Di sini pengalaman masa kecilnya cukup banyak dikenang oleh Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tuturan pengalamannya di Indonesia, Obama nampaknya terkenal ramah, mudah bergaul, berjiwa pemimpin, dan suka membawa teman-teman main ke rumahnya; kalau tidak dia main-main dengan teman di lingkungan sekitar. Di sini dia terkenang suka main bola ketika hujan, becek-becekan, main lumpur di sawah, mengejar-ngejar ayam, dan permainan yang biasa dilakukan anak-anak Indonesia, misalnya, kelereng. Di sekolahnya, dia sering jadi pengatur barisan sebelum anak-anak masuk ke kelas dan suka melindungi anak lemah dari tekanan anak nakal. Kisah-kisah seperti itu memenuhi halaman 56 hingga 75. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Obama juga memotret realita yang ada di Indonesia pada masa itu dan mencoba merefleksikannya. Dia melihat pandangan kosong wajah-wajah petani pada tahun ketika hujan tak jua datang dan putus asa ketika tahun berikutnya hujan turun selama satu bulan, dan memenuhi sungai dan sawah. Korupsi, perubahan radikal polisi dan militer, seluruh industri dikelola oleh keluarga presiden dan pengikutnya, para pengemis, dan kualitas pelayanan Rumah Sakit, adalah sisi lain yang diingat Obama dalam memoarnya. Begitukah gambaran Indonesia di mata Obama?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, Indonesia juga mengajari dan memberikan wawasan dirinya untuk toleransi, kerja sama di masyarakat, dan rukun antar umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran Orangtua&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peran orangtua begitu memengaruhi karakter Obama. Membaca memoarnya, tidak heran jika Obama saat ini menjadi orang nomor satu di AS. Obama bukan berasal dari keluarga berada, tapi orangtuanya adalah orang-orang yang terpelajar. Ibunya menempuh pendidikan sampai doktor. Ayahnya setelah lulus dari Universitas Hawaii juga sempat melanjutkan ke Universitas Harvard. Ayah tirinya, Lolo Soetoro, juga lulusan Universitas Hawaii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, terlihat bahwa Obama berusaha mengenali sosok ayah kandungnya. Setelah mendapat kabar ayahnya telah meninggal karena kecelakaan, tak ada yang bisa diperbuatnya lagi. Dia hanya mengenalinya dari cerita-cerita ibu dan kakek-neneknya. Pesona ayahnya rupanya mengalir pula pada Obama yang di semasa kuliah pernah terlibat dalam kampanye mendukung gerakan pembebasan Afrika Selatan. Bahkan, dipercaya membuka sebuah rapat dengan sebuah orasi—pidato pertamanya—yang masih terekam dalam benaknya hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencuri perhatian teman-teman kulit putih Obama di kelas adalah sebuah bukti kehebatan dari sang ayah. Dan mencuri perhatian dunia, kini adalah sebuah bukti kehebatan Obama—presiden pertama AS dari kalangan kulit berwana. Ibunya, kerap bercerita kepada Obama tentang sosok ayah kandungnya.Tak ayal, bagi Obama, ayah kandungnya lebih menyerupai mitos daripada manusia. Ayah kandung Obama mewariskan semangat integrasi, cinta-kasih, dan perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perceraian baik dengan ayah kandungnya maupun dengan ayah tirinya membuat Obama lebih dekat kepada ibunya dan mengagumi sebagai perempuan yang luar biasa. Obama dilatih berempati kepada orang lain yang tertindas. Dia juga dilatih berdisiplin. Saat di Indonesia, misalnya, ibunya membangunkan dan mengajari Obama kecil dini hari jam 4 pagi belajar bahasa Inggris. Ibunya mengajarkan nilai-nilai kehidupan, kemandirian, tidak banyak menuntut, dan kesopanan. Ibunya juga mengajarkan untuk mengabaikan gabungan antara kebodohan dan kesombongan yang acap kali mencirikan orang Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ukuran font yang terlalu padat dan rapat sehingga membuat mata lelah, buku ini mampu menyihir saya dengan decak kagum akan kelihaian Obama menuturkan perjalanan hidupnya. Saya salut dengan kemampuan Obama dalam merekam balada hidupnya. Gaya bahasanya pun begitu hidup dan nyastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Obama menjadi presiden AS. Obama memiliki kesempatan besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi ayahnya yang belum terwujud sebagaimana dipaparkan dalam buku ini. Dunia sedang menunggunya.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6153326738814283065?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6153326738814283065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6153326738814283065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6153326738814283065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6153326738814283065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/09/pewaris-mimpi-sang-ayah.html' title='Pewaris Mimpi Sang Ayah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sr76nGHBjiI/AAAAAAAAAdI/rdmpGhGNlR4/s72-c/cover_dreams+from+my+father.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6511339280424496692</id><published>2009-09-23T15:59:00.002+07:00</published><updated>2009-09-23T16:04:41.849+07:00</updated><title type='text'>Fenomena Wikipedia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrnkcmgNzdI/AAAAAAAAAc4/HPKcY9WJ6dY/s1600-h/cover_kisah-sukses-wikipedia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 208px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrnkcmgNzdI/AAAAAAAAAc4/HPKcY9WJ6dY/s320/cover_kisah-sukses-wikipedia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384586009521278418" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Kisah Sukses Wikipedia :Ensiklopedia Gratis Terbesar Dan Terpopuler di Dunia&lt;br /&gt;Penulis: Andrew Lih&lt;br /&gt;Penerjemah: Alex Tri Kantjono W.&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2009&lt;br /&gt;Tebal: xxi + 287 hlm. &lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bayangkan &lt;/span&gt;sebuah dunia ketika setiap orang bisa mendapatkan semua pengetahuan yang telah dicapai oleh manusia secara cuma-cuma. Itulah yang sedang kami usahakan.”(Jimmy Wales, pendiri Wikipedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah kisah proyek ensiklopedia bebas dan multibahasa yang didukung oleh Yayasan Wikimedia. Nama situs Web ini menggabungkan makna dua kata, yakni Wiki (teknologi untuk menciptakan situs Web kolaboratif) dan Ensiklopedi. Sepuluh juta artikel Wikipedia telah ditulis secara kolaboratif oleh relawan-relawan dari seluruh dunia, dan hampir semua artikelnya dapat disunting oleh siapa pun yang dapat mengakses situs Web Wikipedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluncurkan pada tahun 2001 oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger, kini Wikipedia menjadi karya rujukan umum paling besar dan paling populer di Internet. Buku ini menapak tilas sukses fenomenal Wikipedia ke akar-akarnya, dan menampilkan orang-orang yang telah memberikan sumbangan mereka dalam meraih tujuan memberi setiap orang akses bebas ke kumpulan pengetahuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Andrew Lih, penulis buku ini, telah menjadi administrator (pengguna yang memperoleh kepercayaan untuk memiliki akses ke fasilitas-fasilitas teknis) di Wikipedia selama lebih dari empat tahun, selain menjadi pembawa acara tetap dalam mingguan Podcast Wikipedia. Dalam buku ini, ia merinci proses kelahiran situs Wikipedia pada tahun 2001, evolusinya, serta pertumbuhannya yang luar biasa, sambil menerangkan reaksi-reaksi budayanya yang lebih besar. Wikipedia tidak hanya sebuah situs web; Wikipedia juga komunitas global yang terdiri atas kontributor-kontributor yang sengaja bergabung berkat hasrat bersama untuk menjadikan pengetahuan sesuatu yang bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lebih dari 2.000.000 artikel tentang segala sesuatu dari Aa! (Sebuah kelompok penyanyi pop Jepang) hingga Zzyzx, California, yang ditulis oleh banyak sekali kontributor relawan, Wikipedia menjadi situs kedelapan paling populer di World Wide Web. Dibuat (dan dikoreksi) oleh siapa pun yang memiliki akses ke komputer, kumpulan pengetahuan dalam jumlah sangat mengesankan ini tumbuh dengan laju perkembangan yang memesona, lebih dari 30.000.000 kata dalam satu bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia adalah ensiklopedia bebas lisensi yang ditulis oleh sejumlah relawan dalam banyak bahasa. Sekarang Wikipedia besar sekali. Ensiklopedia ini berisi lebih dari satu miliar kata, yang menjadikannya beberapa kali lebih besar daripada gabungan Britannica dan Encarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu kurang dari satu dasawarsa Wikipedia telah melengkapi sekaligus mengubah dunia ensiklopedia, dengan melibas hampir setiap ensiklopedia yang sudah mapan dalam berbagai bahasa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia menjadi begitu populer sehingga tanpa disengaja orang mengambil informasi dari dalamnya setiap hari di internet, dan juga semakin sering dirujuk dalam buku-buku, dokumen-dokumen legal, bahkan budaya pop. Namun, hanya sebagian kecil masyarakat pengguna Wikipedia sadar bahwa Wikipedia sepenuhnya dibuat oleh sejumlah besar relawan yang tidak menerima bayaran, dan sering tidak ingin dikenal. Setiap artikel dalam Wikipedia mempunyai sebuah tombol bertuliskan “edit this page”, yang memungkinkan siapa pun, termasuk anonim yang semula hanya “numpang lewat”, menyunting isi setiap entri yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena telah menemukan cara untuk bekerja sama (co-labor), komunitas Wikipedia telah mampu menghasilkan kerja sama sehari-semalam yang lebih cepat daripada kantor pemberitaan mana pun yang bekerja dua puluh empat jam. Wikipedia tidak akan menjadi sepopuler hari ini tanpa laporan-laporan yang tepat waktu dan tersusun rapi secepat kejadian-kejadian yang sedang diberitakan. Dengan cara ini, Wikipedia melanggar peran tradisional sebuah ensiklopedia sebagai rangkuman sejarah yang sudah berlalu. Kebalikannya, Wikipedia bekerja secepat media pemberitaan. Secepat kejadian yang sedang berlangsung, seperti lebah pekerja yang sedang sibuk di sebuah sarang, Wikipedia mencatatkan, menyunting, dan mengorganisasikan berita-berita sampai detik terakhir ke dalam artikel-artikel di situs web ini. Fungsinya sebagai mesin pencatat sejarah yang terus berjalan betul-betul belum pernah memiliki tandingan dan secara unik mengisi “kesenjangan informasi” tradisional yang tercipta oleh selang waktu antara penerbitan surat kabar dan buku sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, dengan kegiatan yang tak kenal henti, artikel-artikelnya telah menjadi potret sesaat situasi dunia, yang bertindak sebagai catatan sejarah yang terus dilengkapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Wikipedia didominasi oleh sekelompok pengguna yang ahli dalam teknologi komputer. Akan tetapi, setelah menjadi besar dan makin dipandang penting, kelompok pengguna serius dan setia yang tumbuh belakangaan mencakup orang-orang non-teknik—mahasiswa, akademisi, pakar  hukum, dan seniman. Mereka yang menemukan kebahagiaan setelah menyumbangkan karya mereka ke dalam proyek ini secara online menemukan bahwa mereka juga ingin bertemu di dunia nyata. Wikipedia adalah sebuah produk maya di sebuah ruang maya, tetapi ia tetap mempunyai implikasi di “ruang pertemuan” fisik.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6511339280424496692?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6511339280424496692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6511339280424496692' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6511339280424496692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6511339280424496692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/09/fenomena-wikipedia.html' title='Fenomena Wikipedia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrnkcmgNzdI/AAAAAAAAAc4/HPKcY9WJ6dY/s72-c/cover_kisah-sukses-wikipedia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6951936504131804389</id><published>2009-09-16T21:43:00.004+07:00</published><updated>2009-10-04T07:53:46.745+07:00</updated><title type='text'>Filsafat Ketuhanan Whitehead</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrD7Se39qxI/AAAAAAAAAcw/6W21ILriVoM/s1600-h/cover_mencari+tuhan+sepanjang+zaman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 207px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrD7Se39qxI/AAAAAAAAAcw/6W21ILriVoM/s320/cover_mencari+tuhan+sepanjang+zaman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382077849651751698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;, Minggu, 04 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Mencari Tuhan Sepanjang Zaman: Dari Agama-Kesukuan Hingga Agama Universal&lt;br /&gt;Penulis: Alferd North Whitehead&lt;br /&gt;Penerjemah: Alois Agus Nugroho&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal: xxxiii+204 hlm. (termasuk indeks)&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku&lt;/span&gt; Mencari Tuhan Sepanjang Zaman ialah renungan tentang perkembangan agama dan penghayatan ketuhanan berdasarkan Kosmologi Proses. Berbeda dengan konsep evolusi Darwin, kosmologi proses menganggap alam semesta berevolusi menurut “hukum” kebaikan menuju suatu finalitas (tujuan). Pola atau hukum itu menjadi “format” dalam evolusi semesta, namun manusia yang merdeka harus jatuh bangun menafsirkannya. Sedangkan, tujuan itu ialah Tuhan sebagai “muara” dari kehidupan setiap makhluk, sehingga kehidupan duniawi ini tak sekadar gelembung sabun dari kesia-siaan yang tandas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whitehead melihat perkembangan “agama-agama dunia” dari kacamata pengalaman manusia dalam kebudayaan. Meskipun bertolak dari penghayatannya sebagai seorang Kristianis, yang dibicarakannya sebagai filosof sebenarnya adalah semua agama dunia. Dalam penafsiran Whitehead, agama-agama dunia berkembang dari “masa kanak-kanak” berupa “agama suku”, ke arah kesadaran bahwa agama bersangkutan adalah “rahmat bagi seluruh alam”. Dalam perkembangannya itu, agama semakin melengkapi diri selain dengan unsur-unsur ritual yang menggugah emosi, juga dengan pernyataan-pernyataan iman, dan akhirnya dengan penalaran-penalaran teologi atau ilmu kalam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Agama dari Whitehead ini mengantar pembaca pada Filsafat Ketuhanan yang oleh Charles Hartshorne diberi nama “Pan-en-theisme”. Filsafat Ketuhanan itu mereguk inspirasi spiritual dari agama-agama dunia yang lahir di Timur Tengah dan yang lahir di India. Tak berlebihan, kalau dalam zaman yang dieja oleh Habermas sebagai “the Post-secular Age” ini, membaca perenungan Whitehead akan menyegarkan iman kita masing-masing, betapa pun berbeda kosakata yang kita pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whitehead pada awalnya tidaklah dikenal sebagai filosof, apalagi metafisikawan. Pemikiran tentang metafisika, termasuk di dalamnya tentang agama dan Tuhan, barulah mengkristal pada periode ketiga dalam perkembangan hidup dan perkembangan pemikiran Whitehead. Dalam periode pertama, yang berlangsung sampai dengan 1910, Whitehead lebih dikenal sebagai seorang ahli matematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whitehead tidak hanya penulis produktif, melainkan juga pemikir orisinal dan sistematikawan ulung. Buku ini memperhalus dan mengembangkan tulisan sebelumnya,  Science and the Modern World, yakni tentang “Abstraksi” dan “Tuhan”. Whitehead menata pemikirannya ke dalam suatu keseluruhan yang sistematis yang di dalamnya sains dan agama menduduki tempat yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep “Tuhan” dalam sistem pemikiran Whitehead mula-mula berkait dengan sebab-sebab formal (formal cause) yang selama ini dikesampingkan oleh sains modern. Sains modern pada umumnya hanya memerhatikan sebab musabab material dan sebab musabab efisien, sambil menyisihkan sebab musabab formal, dan sebab musabab final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab formal itu berkait dengan keberadaan “eternal objects” atau “realm of forms”, yaitu bentuk-bentuk atau pola-pola yang tertuang dalam proses perwujudan suatu hal konkret. Sebagian kecil dari dunia kemungkinan yang tak terbatas itu “di-format-kan”, “di-informasi-kan”, dalam setiap proses perwujudan diri. Dunia kemungkinan ini sudah diisyaratkan sebagai dunia “idea-idea” dari Plato atau “universalia” Abad Pertengahan, meskipun bagi Whitehead, yang ada hanyalah yang aktual dan dunia bentuk hanyalah salah satu unsur formatif dari yang sungguh-sungguh ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep “Tuhan” dalam pemikiran Whitehead merupakan hasil dari intuisi dan sistematis. Sistematisasi boleh dikatakan mencapai bentuknya yang lebih ketat. Tuhan dalam sistem metafisika Whitehead pertama-tama dikaitkan dengan “permanensi”. Aspek pertama berkait dengan permanensi dari forma-forma yang tertata yang diformatkan, diinduksikan, diinformasikan, atau dipersuasikan kepada dunia semesta. Aspek kedua berhubungan dengan permanensi dari apa saja yang “menjadi”, semua yang pernah datang dan semua yang menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Whitehead tentang Tuhan tersebut diramu dari pelbagai intuisi tentang Tuhan di dalam sejarah metafisika dan sejarah agama-agama yang dewasa, yang dalam istilah Whitehead disebut sebagai “agama rasional”. Agama yang berkembang ke arah kedewasaaan, menurutnya, tetaplah peduli pada segi perasaan dan peribadatan dari hidup beragama, tetapi juga tidak menelantarkan segi doktrin atau ajaran. Peribadatan dan Perasaan malah dapat dikatakan perlu diintegrasikan dengan ajaran. Agama-agama dewasa menyadari pentingnya kesaksian iman dan dogma, namun lebih lebih dari itu, agama-agama mencapai kedewasaan dalam perkembangannya apabila tidak bersifat dogmatis. Artinya, agama dewasa terus-menerus menyusun dogma-dogma menjadi suatu sistem yang koheren, logis, adekuat, dan aplikatif. Jadi, agama sendiri adalah sesuatu yang berada dalam proses, sesuatu yang “menjadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ketuhanan Whitehead dan filsafat proses pada umumnya muncul dari pendekatan antara agama dan metafisika ini. Memang, dalam pemikiran Whitehead terjadi pendekatan antara dogma agama dan metafisika. Pendekatan agama dan metafisika itu pun dilakukan dalam rangka proyek yang lebih besar lagi, yakni pendekatan antar-semua cabang kebudayaan (agama, seni, ilmu pengetahuan, dan filsafat) yang masing-masing memberi kontribusi—dengan keterbatasan masing-masing pula—kepada hidup dan peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama yang dewasa pada intinya adalah agama yang mampu mengharmoniskan, mampu menyeimbangkan segi rasionalitas dengan perasaan, segi batin dengan ekspresi lahiriah, keheningan soliter dengan kolektivitas komunal. Yang batiniah, yang rasional, dan yang soliter dalam pengalaman beragama ini menurut Whitehead tidak akan menjadikan orang beriman individualistis atau egoistis. Justru sebaliknya. Pengalaman batiniah, rasionalitas, dan keheningan soliter itu akan menumbuhkan apa yang oleh Whitehead disebut sebagai “world loyalty”, yakni loyalitas yang tidak hanya tertuju kepada keluarga, puak, suku, ras, atau “umat” sendiri, melainkan merengkuh seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta. Para penyair berbicara tentang “peak experience” dan “epiphany”. Yang pertama muncul ketika kita merasa tubuh kita menyatu dengan alam yang mahaluas. Yang kedua muncul ketika kita menyadari pikiran kita menyatu dengan alam yang mahaluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, konsep Whitehead tentang “agama” dalam perkembangannya yang dewasa, boleh dikatakan merupakan jalan tengah di antara pandangan yang menekankan individu di satu pihak dan pandangan yang menekankan komunitas di pihak lain. Para pemikir semisal William James, Friedrich Schleimacher, dan Rudolf Otto memberi penekanan kuat pada segi perasaan dari pengalaman religius. Bagi mereka, agama lebih merupakan penghayatan pribadi. Sebaliknya, Max Weber dan Emile Durkheim memberi garis bawah tebal pada ritus, institusi, dan kesaksian iman. Bagi mereka ini, agama lebih merupakan gejala sosial. Whitehead menyadari bahwa kedua hal tersebut sama-sama berperanan. Satu sama lain saling memengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6951936504131804389?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6951936504131804389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6951936504131804389' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6951936504131804389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6951936504131804389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/09/filsafat-ketuhanan-whitehead.html' title='Filsafat Ketuhanan Whitehead'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SrD7Se39qxI/AAAAAAAAAcw/6W21ILriVoM/s72-c/cover_mencari+tuhan+sepanjang+zaman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-6625342867887336989</id><published>2009-09-05T20:33:00.005+07:00</published><updated>2009-09-05T20:39:35.072+07:00</updated><title type='text'>Asing Kuasai Pasar Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SqJqCtJHMvI/AAAAAAAAAcY/emYseb9yFGc/s1600-h/cover_di+bawah+cengkeraman+asing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 151px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SqJqCtJHMvI/AAAAAAAAAcY/emYseb9yFGc/s200/cover_di+bawah+cengkeraman+asing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377977499743892210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt;, Kamis, 03 September 2009&lt;br /&gt;-------------------------------------------&lt;br /&gt;Judul: Di Bawah Cengkeraman Asing&lt;br /&gt;Penulis: Wawan Tunggul Alam&lt;br /&gt;Penerbit: Ufuk Press, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal : 224 halaman&lt;br /&gt;---------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disadari atau tidak, &lt;/span&gt;kenyataan membuktikan bahwa Indonesia secara ekonomi masih dijajah oleh bangsa lain. Kini, negeri ini diduduki oleh para korporator dari negara-negara Barat.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, bangsa ini masih tetap bergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.&lt;br /&gt;“Pernahkah Anda menyadari, dari bangun tidur, beraktivitas, hingga tidur lagi, semuanya telah dikuasai perusahaan asing?” (hlm. 13). Begitulah Wawan membuka pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lihat, dari mulai minum Aqua (74 persen sahamnya dikuasai perusahaan Danone asal Prancis), atau minum teh Sariwangi (100 persen sahamnya milik Unilever, Inggris), minum susu SGM (milik Sari Husada yang 82 persen sahamnya dikuasai Numico, Belanda), mandi dengan sabun Lux, sikat gigi pakai Pepsodent (milik Unilever), dan merokok Sampoerna (97 persen sahamnya milik Philips Morris, Amerika Serikat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan lain membuktikan bahwa ternyata sumber daya alam kita digunakan sebagian besar bukan untuk kita, melainkan untuk negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan alam dikuras dan dijarah oleh korporasi asing. Bahkan tidak hanya itu, sektor-sektor vital ekonomi lainnya seperti perbankan dan industri juga dikuasai orang asing. Inilah model penjajahan akhir abad ke-20 dan ke-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap kebijakan domestik dan kebijakan luar negeri Indonesia selalu terpengaruhi untuk mengikuti aturan yang mereka buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hematnya, kepentingan asing selalu melemahkan kepentingan nasional bangsa kita sendiri. Indonesia telah terseret menjadi sekadar subordinat atau agen setia bagi kepentingan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan asing dalam bidang ekonomi yang terjalin dalam korporasi-korporasinya memang telah mendikte bukan saja perekonomian nasional—seperti perdagangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran, dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan nonmigas, dan lain-lain—tetapi juga pada kebijakan politik dan pertahanan. Lantas, masihkah Indonesia pantas disebut sudah merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa. Kemerdekaan yang telah kita lewati ini, mestinya kaum elite Indonesia sudah berhasil membawa Indonesia ke tahapan yang betul-betul merdeka. Tapi, kekayaan alam kita masih tak bisa kita nikmati dan mencukupi kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di dalam UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 sangat jelas dinyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya ternyata tidak demikian. Hampir semua aset negara sahamnya telah dikuasai oleh pihak asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau sekarang ini perusahahaan asing bisa merajalela menguasai lahan-lahan di Indonesia, tentu saja hal ini besar kemungkinannya ada unsur kesengajaan dari pihak kita. Dan, hal inilah yang dipertanyakan oleh Wawan: kenapa bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, disadari atau tidak, negeri kita ini telah mengalami penjajahan gaya baru. Penjajahan itu masuk melalui perusahaan-perusahaan asing yang mengisap kekayaan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang menyedihkan, mereka mulai masuk justru melalui pemerintahan atau melalui sistem politik yang berlaku, untuk melakukan pengisapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan masuk melalui pemerintahan dan sistem politik itu tujuannya tak lain untuk mengegolkan produk-produk hukum atau kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung pengeksploitasian habis-habisan sumber daya ekonomi kita.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Blogger buku di http://resensor.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1267379754358289335-6625342867887336989?l=resensor.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensor.blogspot.com/feeds/6625342867887336989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1267379754358289335&amp;postID=6625342867887336989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6625342867887336989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1267379754358289335/posts/default/6625342867887336989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensor.blogspot.com/2009/09/asing-kuasai-pasar-indonesia.html' title='Asing Kuasai Pasar Indonesia'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SqJqCtJHMvI/AAAAAAAAAcY/emYseb9yFGc/s72-c/cover_di+bawah+cengkeraman+asing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1267379754358289335.post-5036665295589580340</id><published>2009-08-24T10:29:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T10:31:04.765+07:00</updated><title type='text'>Mengubah Pola Pikir Kekayaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SpIJZup-noI/AAAAAAAAAcI/5yO4VRB0CSM/s1600-h/cover+I+can+Make+u+Rich.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SpIJZup-noI/AAAAAAAAAcI/5yO4VRB0CSM/s320/cover+I+can+Make+u+Rich.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373367643031903874" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: I Can Make You Rich&lt;br /&gt;Penulis: Paul McKenna&lt;br /&gt;Penerjemah: Barokah Ruziati &lt;br /&gt;Penerbit: Mozaik, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal: 291 hlm. &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold
