Senin, Maret 09, 2009

Kunci Memenangkan Kampanye Pemilihan

Judul: Komunikasi Politik: Media Massa Dan Kampanye Pemilihan
Penulis: Pawito, Ph.D.
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: xi + 328 (termasuk indeks)
--------------------------------
Sejak dua minggu menjelang diadakannya pemilu presiden Amerika Serikat 2008, hampir semua media di Amerika merilis tajuk rencananya yang berisi dukungan atas Barack Obama.

Sebagian besar media AS sepakat bahwa Obama adalah kandidat presiden yang paling tepat untuk mengurai kekusutan masalah, baik ekonomi maupun geopoltik, di AS. Sebelumnya, Obama dalam kampanyenya membuat slogan yang mampu menyihir warga Amerika, dengan menggantungkan nasibnya pada Obama. Slogan tersebut hanya satu kata, change. Slogan ini sangat efektif karena warga Amerika memang menginginkan perubahan dari pemerintahan sebelumnya yang hampir menenggelamkan negara itu dalam keterpurukan.

Sisi lain, pengemasan pesannya itu, ia hantarkan lewat media baik cetak, elektronik, maupun digital. Di antaranya yang paling efektif adalah melalui YouTube dan Facebook. Kedua media tersebut sangat digandrungi oleh masyarakat luas, dan dapat diakses oleh siapa pun. Belum lagi melalui tokoh-tokoh selebriti baik dari dunia politik, artis, maupun media, ia merangkul dan mendengar aspirasi mereka.

Kemenangan Obama menjadi presiden Amerika dinilai sebagai kemenangan komunikasi politik. Berbagai piranti dan saluran komunikasi, baik yang tradisional maupun non-konvensional, dimanfaatkan secara optimal. Strategi komunikasi politik tim kampanye Obama dan eksekusinya di lapangan sungguh merupakan pameran pemanfaatan media dan elaborasi isu-isu yang efektif dan cukup inovatif.

Fenomena Obama di atas menyiratkan satu hal bahwa komunikasi politik adalah suatu hal penting yang mesti dipelajari bagi siapa pun yang menghendaki pemahaman atas sebuah fakta politik baik sebagai subjek mapun objek. Untuk itu, buku Komunikasi Politik : Media Massa Dan Kampanye Pemilihan ini sangat penting untuk dijadikan referensi. Di dalamnya bukan saja membicarakan realitas komunikasi politik secara umum, tetapi juga memuat tentang konteks keindonesiaan. Dan ini sangat jarang dilakukan oleh penulis lain. Oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat mengisi kekosongan yang sudah lama dirasakan secara luas baik di kalangan akademik maupun kalangan politisi di Indonesia.

Melalui buku ini dijelaskan bahwa komunikasi politik merupakan suatu sub-disiplin ilmu yang tergolong ke dalam ilmu perilaku. Komunikasi politik sebagai sub-dispilin ini lebih berorientasi pada persoalan bagaimana manusia saling berbagi atau menyampaikan pesan-pesan berkenaan dengan urusan penjatahan sumber daya publik, walau pesannya senantiasa tidak steril dari kepentingan (siapa memperoleh apa).

Komunikasi politik sebagai suatu sub-disiplin ilmu berpijak pada dua disiplin ilmu: Ilmu komunikasi dan ilmu politik. Namun, kita sulit mengidentifikasi apakah komunikasi politik lebih dekat dengan ilmu politik ataukah lebih dekat dengan ilmu komunikasi. Perlu diingat bahwa baik ilmu komunikasi maupun ilmu politik adalah sama-sama ilmu perilaku yang karenanya bersifat interdispliner, konsekuensinya, konsep-konsep, pandangan-pandangan teoritik, serta prosedur-prosedur, metodologis pada kedua ilmu sangat dipengaruhi oleh cabang-cabang ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, sejarah, dan ekonomi. Hal demikian sudah tentu berlaku juga pada komunikasi politik sebagai suatu sub-disiplin ilmu.

Buku ini diawali dengan membahas tentang pengertian komunikasi politik serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Secara umum komunikasi politik dipandang sebagai suatu proses. Komunikasi politik merupakan kegiatan yang terus-menerus berlangsung. Artinya, apa yang terjadi sekarang sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang terjadi sebelumnya dan semua akan disambung dengan apa yang terjadi di waktu yang akan datang. Sebagai suatu proses, komunikasi politik dapat dipahami dengan melibatkan setidaknya lima unsur: Pelibat (aktor dan partisipan), pesan, saluran, situasi atau konteks, dan pengaruh atau efek.

Pada bab selanjutnya, buku ini membicarakan tentang pendekatan dan metode penelitian komunikasi. Ada banyak pendekatan dan metode penelitian yang dapat digunakan dalam ranah komunikasi politik. Dalam pendekatan, misalnya, ada pendekatan fungsional, linguistik, lingkungan, institusional, konstruktivisme, uses and gratifications, framing, dan posmodernisme. Sedang dalam metode penelitian, misalnya, kuantitatif, kualitatif, dan multiple-methods.

Kemudian, yang tak kalah penting untuk dibaca dalam buku ini adalah perihal keterkaitan antara media massa dan kampanye, serta pemasaran politik. Mafhum, media massa memiliki kedudukan istimewa dalam kancah politik, terutama pada periode pemilihan, seperti di Indonesia saat ini. Dan kajian mengenai media massa dalam konteks kampanye pemilihan dapat dilakukan dengan menitikberatkan pada, di antaranya: Dampak media terhadap strategi dan jalannya kampanye, pengaruh media terhadap pemilih, iklan kampanye, reportase kampanye, dan isu-isu berkaitan dengan teori demokrasi yang muncul sebagai konsekuensi dari kehadiran media massa.

Melalui buku ini, pembaca diharapkan dapat memahami komunikasi politik sebagai bidang studi yang mencoba berdiri sendiri. Melalui buku ini pula, kita dapat mengetahui para politisi menggunakan komunikasi politiknya, misalnya, pendekatan mana yang digunakan tergantung siapa yang menyampaikan pesan politik dan kepada siapa pesan itu ditujukan. Muatan pesan politisi juga menentukan paradigma komunikasi mana yang digunakan.

Buku ini sangat relevan dengan kondisi negeri kita saat ini, yang sedang beranjak pada periode pemilihan. Para praktisi dan elite politik serta kalangan akademik dan media sangat dianjurkan untuk membaca buku ini. Dengan mengetahui arti dan manfaatnya komunikasi politik dalam tatanan kehidupan politik diharapkan masyarakat sudah menangkap dengan jelas keberadaan model-model komunikasi yang ditimbulkan dalam perpolitikan. Sungguh, peran komunikasi memegang peran penting dalam mengupayakan kepekaan setiap kejadian politik yang berlangsung dewasa ini.

M IQBAL DAWAMI
Dosen STIS Magelang, pengelola blog http://resensor.blogspot.com

Rabu, Maret 04, 2009

Jalan Hidup Seorang Samurai

Judul: The Way Of The Warrior
Penulis: Andrew Matthew
Penerbit: Matahati
Tahun: Desember 2008
Tebal: 199 halaman
--------------------
The Way of The Warrior, sebuah novel legendaris dari negeri sakura yang berlatar belakang peristiwa pertempuran Mikata ga Hara pada tahun 1572. Novel ini berkisah tentang jalan hidup seorang samurai yang diyakini sebagai kelas tertinggi di masa keshogunan Tokugawa.

Menjadi samurai dikenal sebagai jalan ksatria yang berbekal kepiwaian berperang dengan didasarkan loyalitas dan kepatuhan yang tinggi terhadap sang penguasa. Kewajiban utamanya adalah pengabdian yang tanpa ragu kepada tuannya, sampai pada taraf dimana ia bersedia mengorbankan nyawanya jika itu yang diminta darinya.

Seorang samurai akan teguh berpegang pada kode bahwa segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan kehormatan.

Shimomura Jimmu, anak laki-laki berusia 10 tahun putra dari keluarga Shimomura Lord Kensu, kehilangan segalanya ketika sang ayah melakukan seppuku akibat dipermalukan oleh Choju Ankan. Sang ayah dianggap sudah mencorengkan aib keluarganya.

Begitu memalukan hingga sang kaisar memutuskan bahwa nama Shimomura tak boleh lagi ada, dan seluruh harta bendanya harus dikorbankan. Lord Kensu menikam perutnya sendiri, dengan tanto—belati—miliknya. Hanya dengan merobek tubuhnya ia bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa jiwanya akan tetap berani dan murni dalam menghadapi kecemaran. Dan ibunya menelan racun terlebih dahulu, menjalani kematian secara perlahan sekaligus menyakitkan.

Setelah semuanya lenyap, Jimmu hanya punya satu tujuan suci yaitu menjadi seorang samurai untuk membalaskan dendam sang ayah serta memulihkan nama baik keluarganya. Ia melatih diri bersama Araki Nichiren, guru sekaligus ayah pengganti yang dulunya adalah pengawal samurai kepercayaan ayahnya. Jimmu menjalani tujuh tahun lebih dalam gemblengan Nichiren. Sampai usianya yang ke tujuh belas, ketika Nichiren akhirnya menjadi lemah dan menemui kematiannya, Jimmu nyaris bisa mendengar Nichiren melangkah di sampingnya dengan mengulang kata-kata: “Darah Lord Ankan akan membersihkan aib ayahmu, kau harus membalaskan dendam ayahmu dengan membunuh orang itu, dan barulah kau pantas disebut putra Lord Kensu, dan kematianmu akan jadi suatu kebanggaan.”

Dengan modal keahliannya bertarung, Jimmu bertekad menemukan Lord Ankan dan menyamar sebagai samurai yang ingin mengabdi kepada Lord Ankan. Jimmu diterima menjadi penjaga kastil Mitsukage keluarga Choju Ankan dan mulai membuat perencanaan untuk mengintai mangsanya. Ia sudah mempersiapkan segalanya, mempelajari tata letak kastil dan menyelidiki keadaan.

Takdir yang dipilihkan untuk Jimmu telah menyeretnya berada di tengah-tengah kastil Mitsukage, di antara gerombolan penjaga kastil yang seolah melemahkan dirinya sebagai bocah petani yang hina. Namun di situlah Jimmu memperjuangkan reputasinya sebagai samurai tangguh yang tak mudah dikalahkan. Ia mendapatkan kepercayaan berlebih dari Lord Ankan, dan dipercaya menjadi pengawal putri kesayangannya. Gadis yang telah mengagetkannya di tengah malam ketika ia berlatih membuat rute pembunuhan Lord Ankan.

Kisah ini nyaris berjalan mulus dengan peristiwa-peristiwanya yang cukup melegakan perasaan pembacanya. Hanya saja klimaks dari novel ini akan cukup mengagetkan pembaca. Ada intrik yang begitu menegangkan semenjak meletusnya pertempuran antara pasukan Takeda dengan pasukan Ieyasu dan sekutu-sekutunya. Takdir telah menentukan kalau Jimmu harus terjun ke medan perang bersama Choju Ankan. Dan inilah kesempatan yang sudah dinanti-nantikannya, Ankan akan mati di tangannya tanpa sempat mencicipi manisnya kemenangan dalam peperangan ataupun pahitnya kekalahan. Akan tetapi kenyataan menjadi lain, ketika Lord Ankan menunjukkan keberaniannya dan rela mati demi sekutu-sekutunya.

Menjelang akhir kisah ini Jimmu seolah mempertanyakan takdir yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Ia merasa ada sebuah penghianatan dan kebohongan besar dalam kehidupan masa lalunya. Pergulatan batinnya berbicara lain, bertentangan dengan keyakinan yang sudah dicekokkan selama hidupnya bersama Nichiren. Sosok Lord Ankan yang diyakininya sebagai musuh yang keji dan licik justru menampakkan pemandangan yang amat mengesankannya. Jimmu dapat melihat ketulusan yang memancar dari mata Choju Ankan, jauh dengan kenangan dirinya sendiri bersama ayahnya yang kaku dan keras. Terlebih putri Lord Ankan sendiri, Jimmu kerap memimpikannya dan terpesona oleh kecantikannya.

Jimmu gagal menghabisi nyawa Lord Ankan di tengah perang yang memberinya banyak kesempatan untuk membayar semuanya. Perasaannya menjadi kabur, kekuatan dan keteguhan hatinya mendadak surut. Seluruh latihan, perencanaan, serta perjuangannya sia-sia. Semuanya menjadi jelas bahwa ia hanya diperalat oleh pengawal ayahnya yang sangat membenci Lord Ankan saudara tirinya sendiri. Kebohongan Nichiren sudah mengubah diri Jimmu menjadi seseorang yang bukan dirinya. Pada akhirnya Jimmu telah menemukan kebenaran, ia bertekad menjadi samurai Choju Ankan dan bersumpah untuk mengabdikan diri sepenuhnya.

Novel ini sarat nilai sejarah, memiliki gaya bahasa yang menarik dan mudah dimengerti. Banyak hal dalam novel ini yang bisa dipelajari selain dari yang telah penulis sebutkan. Di antaranya kebiasaan bunuh diri di kalangan ksatria Jepang dengan membelah perutnya, yang dikenal dengan istilah seppuku. Juga bagaimana kesetiaan para samurai terhadap tuannya.

M Iqbal Dawami
Penikmat sastra, tinggal di Jogjakarta

Rabu, Februari 11, 2009

Rahasia Di Balik Keberanian Munir

Resensi ini dimuat di surat kabar Koran Jakarta (Rabu, 18 Februari 2009)
----------------------
Judul: Keberanian Bernama Munir:Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir
Penulis: Meicky Shoreamanis Panggabean
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Desember 2008
Tebal: 277 hlm.
--------------------

Angka tahun masehi sudah memasuki 2009. Artinya, lima tahun sudah berlalu kasus Munir. Namun semenjak kematiannya, kini kasus Munir masih saja menggantung. Kasus tersebut berhenti pada Pollycarpus sebagai tersangka. Hal ini menyisakan tanda tanya bagi sebagian besar orang, mungkinkah Pollycarpus seorang diri mengatur kejahatan itu? Sekali lagi, mungkinkah?

Tapi, baiklah, pertanyaan itu kita serahkan saja pada pihak-pihak yang berwenang untuk menjawabnya. Bagi kita saat ini yang paling penting adalah apa yang bisa kita ambil dari mendiang pribadi Munir? Terutama, rahasia apa di balik keberanian Munir dalam memperjuangkan kaum tertindas? Salah satunya adalah melalui buku ini.

Buku karangan Meicky Shoreamanis Panggabean ini mempunyai perspektif berbeda ketimbang buku-buku lain perihal Munir yang sudah ada. Buku ini lebih memotret personalitas Munir dalam kehidupan sehari-hari, mulai sejak kecil hingga dewasa, serta pandangan ia atas beberapa persoalan hidup.

‘De Mortuis nil nisi bonum’, begitulah bunyi sebuah ungkapan Latin, yang bermakna bahwa ‘katakan hanya yang baik saja bagi mereka yang telah mati’. Nampaknya, ungkapan tersebut tidak berlaku untuk disandangkan pada buku ini. Kenyataannya, buku ini memang cukup berimbang dalam menyampaikan sosok almarhum Munir. Sang penulis tidak hanya memotret sisi kelebihannya saja dari sosok Munir, melainkan juga sisi kekurangannya. Oleh karena itu, buku ini bisa diibaratkan sebagai sebuah cermin Munir yang menggambarkan dirinya sebagaimana adanya. Justru, di sinilah sebetulnya keunggulan buku ini, karena ada hal-hal yang kemungkinan besar belum diketahui oleh publik mengenai sosok Munir.

Ada satu ciri yang melekat dari cermin Munir yang sudah diakui oleh semua orang, yaitu keberanian. Munir dikenal sebagai sosok yang berani pada siapa pun, tak terkecuali pada pemerintah (beserta kepolisian dan TNI). Dengan bendera KontraS (Komite untuk Orang-orang Hilang dan Tindak Kekerasan) ia melawan penguasa yang menindas kaum dhu’afa (baca: lemah), seperti para buruh dan petani, serta korban penculikan. Keberanian itulah yang kemudian menjadikan dirinya terpilih sebagai sebagai Man of the The Year 1999 versi majalah Ummat dan The Right Livelihood Award di Swedia (2000), serta penghargaan lainnya.

Penulis buku ini, Meicky Shoreamanis Panggabean, adalah seorang guru dan mantan relawan KontraS saat Munir masih hidup. Oleh karena itu, tulisannya banyak mengungkap hal-hal keseharian Munir. Meicky dengan mudah mewawancarai Munir maupun orang-orang terdekat Munir sebagai narasumbernya. Buku ini juga banyak dihiasi beberapa wawancara eksklusif baik dengan Munir maupun orang lain yang terkait dengan hal-hal sederhana, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini.

Misalnya, siapa saja yang berperan dalam kehidupan Munir sehingga ia terbentuk menjadi pribadi yang fenomenal. Betapa peran ayah-ibu, kakak-kakak, lingkungan, sekolah, guru, istri, anak-anak, dan sahabat-sahabatnya membentuk kepribadian Munir. Hal itu menyiratkan ternyata ada begitu banyak silent heroes (pahlawan tak dikenal) dalam hidup Munir.

Buku yang mencatatat personalitas Munir ini menginspirasikan kita untuk peduli atas kehidupan bermasyarakat dan berani melawan ketidakadilan. Sebenarnya, Munir seperti halnya kita, mempunyai rasa takut, tapi ketakutannya itu dinalar, lalu dikalahkan. “Aku harus bersikap tenang walaupun takut … untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, cuma yang coba aku temukan adalah merasionalisasikan rasa takut …” (hlm. 61).

Selain pandangan di atas, ada hal menarik dari beberapa pernyataan lainnya yang diutarakan Munir mengenai subjek lain. Tentang cinta, misalnya, ia mengatakan tanpa cinta, manusia hanya sekadar hidup, bukan bertumbuh. Tanpa cinta, manusia hanya sekadar bergerak, bukan berkembang. Coba kita simak langsung pandangan dia selanjutnya tentang cinta, perkawinan, dan jodoh. “Kawin itu bukan cita-cita, melainkan sesuatu yang datang sendiri dan nggak bisa dihindari. Kawin datang ketika cinta dan kontraktual untuk bersama ditemukan. Cinta dan perkawinan itu bukan soal fisik, melainkan kebenaran dalam kejujuran menemukan kesesuaian. Ok, jangan berdoa untuk dapat jodoh, tapi berdoalah untuk kebenaran. Karena di situ, cinta akan ditemukan” (hlm. 80-81).

Buku ini pun dilengkapi pelbagai pandangan orang-orang terhadap sosok Munir, mulai dari ibunya, kakak dan adiknya, koleganya, dan istrinya. Anisa, kakak Munir, bercerita tentang sifat Munir masa kecil, “Munir nggak nakal, tapi kalo diganggu, dia nggak keberatan untuk berkelahi. Tapi nggak pernah inisiatif duluan”. (hlm.92). Sedang Jamal, adik Munir, menceritakan, “Dia itu berantemnya profesional, bukan berantem sembarangan. Berantemnya itu spesifik, dia nggak bisa melihat sesuatu yang nggak benar menurut dia. Dia berani, apa pun risikonya, walaupun berantemnya nggak seimbang.” (hlm. 93).

Di mata sang istri, Suci, Munir adalah sosok seorang suami yang begitu mengesankan. Suci bercerita, “Dia adalah seorang ayah bagi anak-anakku. Dia sangat akrab karena pada saat-saat tertentu dia memandikan anak saya, menyuapi anak saya. Bangun pagi, kami nggak langsung bangun, tapi bercengkrama di kamar tidur. Anak-anak berkumpul di dalam kamar terus kita bercanda. Yang paling dia sukai itu memeluk dari belakang. Memeluk anaknya, memeluk istrinya” (hlm. 128). Bahkan tidak hanya itu, di setiap hari libur, Munir mengajak istri dan anak-anaknya menonton, memutar musik keras-keras sambil mengajak anak-anak dan istrinya berjoget.

Kisah kesaksian Suci di atas menyiratkan bahwa sosok Munir bukan hanya keberanian saja yang dapat kita teladani, tetapi juga keharmonisannya dalam keluarga. Semoga kedua hal itu dapat menginspirasi tunas-tunas Munir-Munir muda di Indonesia ini.

Jumat, Februari 06, 2009

Bangkitnya Naga dan Gajah

Judul: The Elephant And The Dragon: Fenomena Kebangkitan India Dan Cina Yang Luar Biasa Serta Pengaruhnya Terhadap Kita
Penulis: Robyn Meredith
Penerjemah: Haris Priyatna&Asep Nugraha
Penerbit: quacana
Cetakan: I, 2008
Tebal: xx + 240
------------------

Awal tahun ini pebisnis Cina telah menancapkan kuku di Benua Afrika. Ekspansi bisnisnya terus berlanjut meski krisis ekonomi global sedang terjadi. Ekspansi ini kebalikan dari tindakan pemodal Barat yang berhamburan keluar dari Afrika.

Visi pebisnis Cina berjangka panjang sehingga krisis tidak menyurutkan minat mereka memperkuat pijakan di benua yang kaya sumber daya alam mineral itu. Alasan utama ekspansi itu adalah mengamankan kebutuhan energi jangka panjang Cina. Visi ini tidak luntur hanya karena krisis ekonomi global, yang memang turut menghunjam sektor keuangan perusahaan Cina. Perdagangan bilateral Cina-Benua Afrika naik 30 persen per tahun sepanjang dekade 2000-an menjadi sekitar 107 miliar dollar AS pada 2008.

Minat Cina di Afrika tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga pembangunan infrastruktur dan teknologi. Huawei Technologies, perusahaan telekomunikasi Cina yang berbasis di Shenzen, juga terus menancapkan kuku bisnisnya di tanah Afrika. Korporasi Cina kini terus sibuk berburu kesempatan baru di Afrika.
Pebisnis India juga senada dengan Cina.

Mereka melakukan ekspansi bisnisnya ke Afrika. Salah satu perusahaan India menyatakan minatnya untuk mengambil alih Luanshya Copper Mines, perusahaan tembaga Zambia, yang berhenti beroperasi Desember 2008. Pada januari 2007, Tata Steel yang pernah melemah membeli bekas British Steel. Saat ini India membuat tiga kali lipat baja dari yang dihasilkan oleh bekas penjajahnya, Inggris. India saat ini mempunyai pabrik baja terbesar di dunia yang dimiliki oleh Arcellor Mittal. Menurut majalah Forbes, Mittal saat ini merupakan orang terkaya nomor empat dunia dengan nilai kekayaan 45 miliar dollar AS.

Sekadar untuk diketahui, India saat ini menjadi negara pencetak milyarder paling cepat. Laporan Kekayaan Asia-Pasifik, yang disusun bank investasi AS, Merril Lynch, dan para konsultan Capgemini menunjukkan sekitar 123.000 milyarder di India pada akhir 2007. Angka tersebut naik 22,7 persen daripada setahun sebelumnya
Melalui buku ini, fenomena di atas menunjukkan bahwa Cina dan India telah menjadi negara besar dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di planet ini.

Karena helai-helai ekonomi global kini telah terajut, perubahan di India dan Cina membentuk masa depan untuk seluruh dunia. Tidak pernah sebelumnya pasar global terhubung begitu eratnya. Dan coba bayangkan apabila perdagangan besar pada jalan sutra digabungkan dengan yang melintasi jalur rempah, dan gabungan perdagangan global ini diperkuat dengan teknologi modern. Kini apa yang dijual oleh India dan Cina ke Barat tidak lagi diangkat dengan unta atau galleon (kapal layar), namun dengan penerbangan kargo, kapal-kapal peti kemas, atau melalui internet.

Buku ini berusaha membantu pembaca memahami betapa dunia kita sedang dibentuk oleh kebangkitan India dan Cina—dua negara yang potensi pengaruhnya pada dekade-dekade mendatang ditakuti sekaligus diremehkan. The Elepehant and The Dragon memerlihatkan bahwa seluruh dunia dapat menyesuaikan diri dengan kebangkitan India dan Cina ini. Melalui buku ini kita dapat memahami mengapa kedua negara itu mengalami transformasi yang begitu cepat.

Metamorfosis Cina dari Negara pertanian ke Negara industri berjalan begitu cepat. Pada tahun 2000, 30 persen pasokan mainan dunia datang dari Cina. Lima tahun kemudian, secara mengejutkan 75 persen dari seluruh mainan baru adalah buatan Cina. Hal ini terjadi pula pada produk-produk lainnya. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir, Cina telah menjadi pembuat sepatu dunia, pengekspor satu dari setiap tiga pasang sepatu di dunia. Cina mengekspor senilai 1,3 miliar dolar suku cadang kendaraan pada 2001, namun mencapai hampir 9 miliar dolar hanya dalam waktu 4 tahun kemudian. Pada 1996, Cina mengekspor komputer, telepon seluler, dan CD player serta barang elektronik lainnya senilai 20 miliar dolar. Hingga 2004 Cina mengekspor senilai 180 milyar dolar, lebih dari Negara manapun di dunia. Negara itu terus mendominasi manufakturing dari satu industri ke industri yang lain.

Sedang embrio kebangkitan India diawali pasca pembunuhan Rajiv Gandhi, Juli 1991. Dari situ kemudian India membuka diri dari dunia. Pemerintah mengizinkan perusahaan-perusahaan dari beberapa industri untuk 100 persen dimiliki oleh orang asing di mana sebelumnya perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di India harus menyerahkan kendali operasi perusahaannya ke tangan pemerintah.

Di sisi lain India juga mencari inspirasi ke Cina. Pada 1994, kepala Negara bagian Andhra Pradesh, N. Chandrababu Naidu, mulai mengirimkan pejabat pemerintahan menuju Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Dia mengirim seluruh legislatornya ke Cina dengan mandat bahwa saat kembali masing-masing harus memberinya paling sedikit dua ide bagaimana India bisa memperbaiki diri. India juga mengizinkan perusahaan swasta dalam bidang telekomunikasi. Implikasinya, pengguna telepon seluler menggelembung dengan pesat. Biaya hubungan jarak jauh turun sampai tiga kali lipat dalam lima tahun, dan tarif untuk mengirim pesan merosot sampai 80 persen. India hanya memiliki 300.000 telepon genggam pada 1996, namun pada 2007, meningkat sampai 150 juta dan orang India membeli hampir tujuh juta telepon genggam setiap bulan. Dari situlah India bangun dari peraduannya.

Melihat fakta di atas, jika India dan Cina yang pernah tertinggal dapat mentransformasi diri, lantas bagaimana dengan Indonesia?

Senin, Januari 26, 2009

Sepatu Spesial untuk Bush

Resensi ini dimuat di Media Indonesia pada Sabtu 24 Januari 2009
-------------------------
Judul : Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad
Penulis : Muhsin Labib
Penerbit : Rajut Publishing House
Cetakan : I, Januari 2009
Tebal : 96 hlm
------------------------------
Masih ingatkah anda dengan peristiwa lemparan sepatu milik wartawan al-Zaidi kepada Presiden Bush, di Irak? Peristiwa ‘sepatu buat Bush’ itu telah mengantarkan Muntahar al Zaidi menjadi terkenal di dunia.

Peristiwa yang ikut menandai lengsernya Presiden George Walker Bush Junior itu, akan selalu dikenang dunia. Dan, nama al Zaidi kini menjadi hero di Irak, bahkan di negara-negara arab lainnya. Al Zaidi muncul sebagai tokoh pembangkang yang berani melawan Bush-Amerika. Saking tingginya daya tarik peristiwa itu, kini tahukah anda sepatu tersebut dilelang dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 110 miliar.

Bagaimana kronologi peristiwa pelemparan sepatu tersebut? Siapa sesungguhnya Muntahar al-Zaidi? Terus, bagaimana reaksi setelah peristiwa itu? Dalam buku inilah ketiga pertanyaan di atas dapat ditemukan jawabannya.


Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS, Air Force One. Tujuan utama Bush adalah, selain hendak pamitan, untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki hendak melakukan konferensi pers. Seluruh petugas di situ juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum yang lengkap dengan peralatan canggihnya. Maka, hampir dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada bom, pistol, atau barang apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar al-Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , “Good bye, dog!” Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, beruntunglah Bush dapat menghindarinya sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Peristiwa tersebut diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia. Dan dapat dipastikan berita itu telah tersebar dengan cepat, dan menghibur banyak pemirsa, serta segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjang sejarah kepresidenan AS.

Dalam budaya arab, tapak kaki (serta yang membungkusnya: Sandal dan sepatu) adalah sebuah penghinaan. Kita tahu, setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka. Nah, Bush pun mengalami nasib yang sama dengan Sadam.

Pelemparan sepatu Zaidi merupakan perlawanan simbolik untuk merontokkan kewibawaan Bush. Pesan yang disampaikan tindakan itu adalah hegemoni politik Amerika tidak bisa serta merta beroperasi secara total bagi seluruh rakyat Irak. Negara bisa ditawan dan dikuasai, namun tidak untuk seluruh rakyatnya. Al Zaidi merupakan martir simbolik. Wajar jika kemudian rakyat Irak memberikan dukungan atas tindakan al Zaidi tersebut.
Saat ini kita dapat membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku. Buku karangan Mushin Labib ini disertai pula pelbagai informasi yang mengitari peristiwa ‘pelemparan sepatu tersebut’. Buku ini disebut dengan ‘flash book’, dengan dibuat secara cepat untuk menangkap sebuah momen yang masih aktual, yang mampu diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Sungguh luar biasa.

Di awal buku ini diperlihatkan peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak beserta polemik-polemiknya. Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Tampaknya ini buku pertama di Indonesia yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak informasi yang mungkin hanya bisa diperoleh dalam buku ini saja. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh, melalui buku ini pula kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

Di Bagian ketiga dalam buku ini memuat profil singkat pelempar sepatu, Muntahar al Zaidi dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan. Terkait dengan dirinya, beberapa fenomena menarik juga direkam dalam buku ini, seperti banyak ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi, pabrik pembuat sepatu yang mereknya sama dengan yang digunakan al Zaidi kebanjiran order, sehingga pesanan jenis sepatu tersebut dinaikkan hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawanan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para intifadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu.

Selain itu terungkap pula bahwa sejatinya kejadian aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut.

Kasus ‘sepatu al Zaidi’ itu memang tidak otomatis merontokkan kewibawaan Amerika baik secara ekonomi, politik, militer dan budaya. Sebagaimana yang dikatakan Indra Tranggono, budayawan Jogja, bahwa mereka terlalu digdaya. Namun, lanjutnya, secara politik dan kultural peristiwa itu telah menjadi interupsi penting bagi Amerika bahwa sebuah bangsa dan negara mempunyai harga diri yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena. Semoga kasus ini menjadi bahan renungan bagi Barrack Obama.

Selasa, Januari 20, 2009

Lepas Dari Jebakan Wajah

Judul: The Face of Another – Wajah Lelaki Lain
Penulis: Kobo Abe
Penerjemah: Wawan Eko Yulianto
Penerbit: Jalasutra
Tahun: I, 2008
Tebal: 350 hlm
----------------

Sebegitu pentingkah wajah bagi seseorang? Secara umum memang ya. Karena boleh dibilang wajah adalah gerbang untuk menjalin akses dengan dunia. Wajah merupakan pantulan jiwa dan seluruh raga, juga cermin bagi setiap orang yang memantulkan segenap cipta, rasa dan karsanya.

Paradigma seperti inilah yang selama ini telah diterima masyarakat luas secara konvensional. Akan tetapi Kobo Abe dalam novelnya menulis lain falsafah tentang wajah. Abe menghadirkan tokoh “Aku” dalam keadaannya yang tanpa wajah. Benarkah wajah menjadi prasyarat penting bagi kelayakan manusia?

“Aku” seperti dikisahkan Abe dikenal sebagai kepala Institut Riset Molekuler Tinggi di Jepang, mengalami ledakan ketika sedang melakukan percobaan kimia di laboratoriumnya. Wajahnya hancur, melepuh dan berubah menjadi jaringan daging yang menjijikkan. Sehingga menyebabkannya menjadi monster mengerikan yang berjalan kemana-mana dengan wajah dibalut berlapis-lapis perban. Hubungan dengan orang lain rusak, dan istrinya menolak ketika diajak bercinta. Ia dicampakkan lingkungannya karena kekurangan hal sepele, menjadi lelaki yang tak berwajah.

Si “Aku” memerlukan sesuatu untuk menyingkirkan halangan bekas luka keloid yang membengkak dan mengembalikan lagi jalan penghubung menuju orang lain. Ia terusik oleh alergi psikologis dan gagal menghentikan penderitaan meski sudah muak terhadap segalanya—walau telah berkali-kali mencoba meyakinkan dengan tindakan bahwa wajah hanyalah layar, sebuah ilusi sia-sia—Pada akhirnya ia melanjutkan hidup di buku dan pulau terpencil dengan menyewa kamar di sebuah apartemen. Di tempat persembunyiannya itu ia mencetuskan ide membuat topeng yang nyaris tak dapat dibedakan dengan wajah asli, lengkap dengan ekspresi yang diinginkannya. Ia menghubungkan topeng karyanya dengan otot yang mengatur ekspresi, sesuatu yang bisa melebar dan menegang bebas, tertawa dan menangis.

Tak pelak, penulis begitu lihai menampilkan karakter tokohnya dengan alegori eksistensial yang sangat utuh dan terwujud begitu hidup. Dengan kesuksesannya menciptakan topeng, si “Aku” tampil dalam pementasan topengnya, namun dialah satu-satunya pemain. Dia menguji kecanggihan topengnya dan terlahir sebagai sosok dirinya yang lain, sosok si topeng yang melancarkan aksi melakukan balas dendam kepada istri yang telah menolaknya. Si topeng berani menjamin istrinya bakal terpedaya dengan kesempurnaan wajah barunya. Namun di balik semuanya “Aku” justru telah mengamati penyerongan yang telah dilakukan istrinya.

Sangat mungkin bagi “Aku” mengubah standar nilai dan minat orang pada wajah asli beralih menjadi topeng yang bisa diubah-ubah. Di zaman topeng, kita bisa memakai tampang baru yang lepas dengan masa lalu atau hari esok. Topeng akan memperoleh kemasyhuran luar biasa dan pabrik yang memproduksinya pun akan tumbuh semakin besar.
Kita bisa memesan jenis dan rupa wajah dari yang terpopuler sampai terjelek sekalipun, dari tampang kota maupun tampang desa. Dan jauh lebih wajar saja jika aktor populer akan ngotot mendapatkan hak cipta wajah dan mulai menggelar gerakan menentang produksi bebas topeng mereka.

Si “Aku” menemukan kepercayaan dirinya dan berfikir jika ada yang harus menanggung malu dan menderita, bukannya lebih kepada dunia yang telah menguburnya hidup-hidup, yang tak mengenali kepribadian lelaki tanpa paspor bernama wajah. “Aku” nyaris sulit percaya bahwa wajah itu begitu penting bagi keberadaan manusia. Bukankah kelayakan manusia harusnya diukur berdasarkan isi karyanya. “Aku” berterima kasih seutuhnya bahwa ia telah meraih kesempatan mengangkat sauh sementara pantai masih terlihat.

Dan fakta yang tak bisa lagi dipungkiri bahwa wajah manusia—jenis berubah-ubah harmoni—adalah juga topeng. Di sini seakan ditemukan sebuah metafora tentang wajah yang tak lebih hanyalah sebagian kecil dari kapsul manusia. Wajah tidak lebih hebat dengan bebatan perban atau topeng ciptaan manusia. Karena hanya kulit luar yang terang-terangan menyembunyikan isinya dan kerap dimanipulasi demi kepentingan-kepentingan untuk mendapatkan kesan karismatik. Membaca novel ini seakan membuat kita tahu makna seraut wajah, dan kemunafikan yang disembunyikan di balik senyum yang menawan.

Kini beribu-ribu wajah calon legislatif (caleg) sedang dipampangkan lewat aneka poster dan spanduk, dijajakan di setiap sudut-sudut dan pinggiran kota serta di desa-desa. Akankah ia benar-benar mencerminkan jati diri dan pesona karakter yang ditampilkannya? Ataukah orang malah melihatnya sebagai topeng-topeng menggelikan dan hanya memedihkan mata setiap yang memandang? Oleh karena itu, novel ini mendapatkan tempat di masyarakat kita pada saat ini yang sedang ramai berlomba memajang wajah-wajah para caleg dari masing-masing partai. Membaca buku ini membuat kita akan berkata kepada poster-poster caleg itu, ‘jika anda ingin dipilih rakyat tolong buka dulu wajah (topeng)mu itu!’.

Jenghis Khan Leluhur Dua Benua

Judul: Jenghis Khan, Legenda Sang Penakluk dari Mongolia
Penulis: John Man
Penerjemah: Kunti Saptoworini
Penyunting: Indi Aunullah
Penerbit: Alvabet, 2008
-----------------------

Buku ini merupakan kajian komprehensif yang mampu memadukan pendekatan sosiologis, antropologis, bahkan historis mengenai seorang sosok legendaris dunia, yang oleh sebagian orang dicaci tapi oleh sebagian lainnya justru dipuji. Sosok tersebut adalah Jenghis Khan.

Ada dua fakta yang tak dapat dibantah bahwa Jenghis Khan merupakan orang yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, termasuk kaum Muslim, kurun 1209 - 1227. Pun di Negara-negara taklukan lainnya. Namun, dia juga adalah orang pertama yang menghubungkan perdagangan antara dataran Cina dan bangsa-bangsa di kawasan Eurasia melalui jalur sutra. Dia adalah pria yang menjamin keamanan dan perdamaian di sepanjang jalur tersebut.

Buku karya John Man ini dibuka dengan laporan sebuah artikel pada Maret 2003, di American Journal of Human Genetics. Artikel tersebut menceritakan bahwa dari sebanyak 2.000 pria di seluruh Eurasia yang diuji DNA-nya, ditemukan beberapa lusin pria di antaranya mempunyai struktur genetik yang mirip.

Struktur yang juga dimiliki tidak kurang dari 16 kelompok populasi yang menyebar antara Laut Kaspia dan Samudera Pasifik. Fakta tersebut membuktikan terdapat keluarga yang sangat besar yang berasal dari satu gen. Penelitian pun terus dilanjutkan dan berhenti pada satu kesimpulan bahwa gen tersebut berasal dari seorang pria bernama Jenghis Khan, seseorang yang pernah berkuasa di daerah tersebut sekitar abad ke-12 yang dalam setiap penaklukannya, wanita cantik merupakan bagian dari harta rampasan dalam peperangan dan merupakan persembahan dari perwira bawahan sebagai sebuah pernyataan kepemimpinannya.

Dari rasa penasaran itulah buku ini beranjak menuju penelitian lapangan, hendak menyusuri tanah kelahiran Jenghis Khan di Mongol sembari membuka pelbagai referensi prihal Jenghis Khan. Alkisah, petualangan Jenghis Khan dalam melakukan ekspansinya adalah dimulai dari daratan Cina pada 1211. Dan untuk mengepung Kota Terlarang itu dia menggunakan kuda dan busur kecil yang dapat melontarkan anak panah berkilo-kilo meter. Adapun cara melakukan koordinasi antarpasukan, dia menggunakan kurir yang mampu mengantarkan pesan berjarak ratusan kilometer dalam sehari. Selain itu, dia juga mengadaptasi alat pelontar batu, busur raksasa, serta tangga besar yang digunakannya dalam setiap pengepungan kota.

Keberhasilannya dalam menaklukan dataran Cina mengantarkan dia sebagai salah satu bapak pendiri dinasti di Cina. Tak lain itu merupakan efek dari penyerangan tersebut yang efektif dan elegan.

Pada 1218, Jenghis mulai bergerak ke wilayah barat. Ada hal baru dari analisa John Man yang sedikit melawan pendapat main stream, bahwa pembantaian jutaan kaum muslim di Khwarazem (sekarang Baghdad), oleh Jenghis Khan adalah karena sikap pimpinan kota Khwarazem lah yang terlalu paranoid dengan kedatangan Jenghis Khan sampai membunuh utusan Jenghis. Kronologinya adalah saat utusan pimpinan bangsa Mongol mendekati pimpinan Khwarazem yang sebetulnya berniat menawarkan kerja sama dalam bidang perdagangan dengan membuka jalur sutra, malah dibunuh oleh pimpinan Khwarazem.

Jenghis yang sangat mengagungkan kesetiaan akhirnya membalas dendam atas penghinaan itu dengan membantai hampir 1,3 juta Muslim. Jadi, sama sekali tidak benar jika ada anggapan bahwa pembantaian tersebut berdasarkan agama atau rasisme.

Jenghis Khan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah gelar kebesaran bangsa Mongol yang berarti sang pemimpin. Istilah ‘Jenghis Khan’ sendiri diawali dari seorang anak jalanan bernama Temujin. Dia seorang pesakitan yang terus hidup dengan dendam dari orang-orang yang pernah menyiksa dan menganiayanya.

Singkat cerita, seiring waktu dan pencapaiannya selama 10 tahun menyatukan bangsa Mongol yang terpisah-pisah karena kesukuan, Temujin diangkat menjadi Jenghis Khan (sang pemimpin). Perang saudara memang sudah biasa terjadi di antara suku-suku di Mongol. Oleh karena itu, dia ingin membuat hukum dan menyatukan bangsa Mongol di bawah kendalinya. Hukum itulah yang kemudian membawanya ke tampuk kepemimpinan. Nampaknya segala beban dan pengalaman hidup pahit masa kecil itulah yang menyumbang banyak dalam pembentukan karakternya kelak.

Dalam kepemimpinannya, Jenghis Khan merupakan pemimpin yang sangat loyal atas bawahannya. Sebelum menuntut kesetiaan pada bawahannya, ia sendiri memberi teladan terlebih dahulu untuk setia pada mereka. Maka, terjadilah hubungan yang kokoh antara Jenghis Khan dan bawahannya. Semua bawahannya hampir dipastikan tidak ada yang berontak atas kepemimpinannya. Semua jenderalnya merasa puas atas kepemimpinannya. Hal itu juga ia lakukan atas suku-suku yang bergabung dengan dirinya dengan sebuah kesetiaan yang tinggi.

Di saat sakit dan mendekati ajalnya, Jenghis berwasiat kepada para jenderalnya untuk merahasiakan kematiannya kelak agar rencana-rencana penaklukannya bisa terus berjalan melalui penggantinya. Dan sepeninggalnya, Jenghis Khan telah membangun sebuah kerajaan yang mampu menguasai kawasan dari Laut Kaspia hingga Samudera Pasifik. Dia adalah orang yang menaklukkan daratan Cina hingga sebagian Eurasia.
Sesuai penelitiannya, John Man berani mengatakan bahwa daerah kekuasaan Jenghis empat kali lebih besar dari Alexander Agung, dan dua kali lebih besar dari imperium Roma.

Jenghis Khan juga tercatat sebagai pemimpin jenius yang melakukan pembaharuan sistem pemerintahan sangat maju untuk zamannya. Ia mengenalkan penggunaan bubuk mesiu, uang kertas, serta kitab hukum yang mengatur tentang pemerintahan, dan undang-undang, Yassa Agung.

Namun, terlepas dari segala prestasi yang diukirnya (termasuk pemberani dalam medan perang), terdapat fakta bahwa Jenghis Khan ternyata sangat takut pada anjing.

Jumat, Januari 02, 2009

Harry Potter Menjadi CEO

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta,Kamis 8 Januari 2009

----------------------
Judul: Harry Potter is Back, And Now he’s the CEO of the General Electric
Penulis: Tom Morris
Penerbit: Quacana,
Cetakan: I, November 2008
Halaman: 406 halaman
--------------------


Harry Potter selebritas dalam dunia sihir, masih terus booming dalam kiprahnya membangun hikmah dan kearifan hidup para pembacanya. Tom Morris satu dari sekian banyak pembaca karya-karya Rowling yang berhasil mengeksplorasi pesona sihir Harry Potter menjadi sebuah karya nyata yang menginspirasi semua kalangan pembacanya.

Di tangan Morris kisah Harry Potter belum berhenti. Petualangan-petualangannya di sekolah Hogwarts--setelah ia berhasil menundukkan Voldemort--telah mengantarkannya menjadi CEO General Electric, sebuah perusahaan besar kelas dunia. Penulis buku ini begitu yakin Harry Potter telah dipersiapkan menjadi “pemain bintang” dalam dunia bisnis, juga menjadi pemimpin muda yang sangat mengesankan.

Apa kira-kira yang akan dilakukan Harry sebagai pemimpin perusahaan? Apa kiat-kiat bisnis, manajemen, dan kepemimpinan yang bisa diambil dari Harry Potter? Di buku inilah jawabannya akan ditemukan.

Apa yang dituturkan dalam kisah-kisah Harry Potter menurut Morris adalah kebaikan-kebaikan yang selalu menyebar tepat di pusat kehidupan beretika. Dan dari pengamatannya, ia tercengang, lantaran menemukan banyak pelajaran berharga dan ajaran-ajaran filosofis dalam karya-karya Rowling yang menjadi modal dasar kepemimpinan. Bagaimana Dumbledore telah mengilhami Harry rasa percaya diri, karakter, semangat dan keteguhan dalam kemandiriannya, sehingga ia dapat mengatur dan memimpin perlawanan tanpa henti terhadap kekuatan jahat yang muncul sepanjang cerita.

Di balik jubah sihirnya, justru kisah-kisah Harry Potter ingin menunjukkan bahwa bukan sihir yang memberi kesuksesan dalam meraih impian, karena kita tahu kebanyakan dari kita tidak memiliki perangkat-perangkat sihir itu. Akan tetapi kearifan-kearifan yang terpancar di dalamnya sangat tepat untuk diaplikasikan pada tantangan-tantangan bisnis sekarang ini. Kita bisa melihat banyak petunjuk mengenai kebaikan-kebaikan, keberanian, etika, dan sifat-sifat kepemimpinan yang penuh integritas, yang banyak tersebar dalam kisah-kisah Harry Potter.

Sifat yang penting dalam dunia bisnis, sebagaimana ditulis Morris, adalah keberanian. Keberanian untuk mengambil resiko, juga seperangkat keberanian lainnya; mengatakan kebenaran dan bertingkah laku sesuai prinsip tanpa terpengaruh oleh orang lain. Harry sering terlihat bersedia menghadapi bahaya besar untuk menyelamatkan temannya. Harry mengerti apa yang sedang dihadapi dan bersedia melawannya karena sesuatu yang dia junjung tinggi. Inilah yang harus dijadikan tauladan seorang pelaku bisnis, CEO, dan pemimpin-pemimpin yang berada pada garda depan. Dalam hal ini tentunya termasuk berani untuk dapat menampilkan kenyataan yang benar, bukan hanya berlindung di balik penciptaan kesan yang benar.

Menjadi pribadi yang hebat, merupakan komitmen yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. Hebat yang mengacu kepada persaingan untuk menjadi yang terbaik. Membangun kepercayaan melalui kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta. Jeft Immelt, CEO perusahaan besar kelas dunia menawarkan lima buah saran yang ia sebut sebagai “lima buah nilai yang dijunjung tinggi”, yaitu: Berkomitmen kepada apa yang harus dipelajari; bekerja keras dengan rasa kasih sayang dan keberanian; jadilah si pemberi; anda harus memiliki kepercayaan diri; terakhir, jadilah orang yang optimistik.

Buku ini sangat berguna untuk semua orang yang ingin menemukan sedikit keajaiban dalam bisnis dan kehidupan. Jika Harry Potter dewasa yang matang memimpin General Electric, atau organisasi lain dalam dunia bisnis, pemerintahan, atau pelayanan masyarakat, sang penulis yakin kita akan melihat sebentuk kepemimpinan yang didasarkan pada sifat-sifat baik, yang tindakannya berani secara etis, dan dimotivasi serta diarahkan oleh cinta.

Minggu, November 30, 2008

Bahagia Dengan Otak Kanan


Judul : The 7 Laws of Happiness
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal : 428 hlm
-----------------------

Taufiq Pasiak (2006) mengatakan sedikitnya ada dua ilmu (sains) yang mengalami perkembangan pesat akhir-akhir ini jika dikaitkan dengan pengungkapan hakikat diri manusia.

Dua ilmu itu adalah fisika kuantum yang berkaitan dengan eksplorasi alam semesta dan selanjutnya berimplikasi pada posisi manusia di dalam universum (alam semesta) dan neurosains (ilmu tentang otak), terutama neurosains kognitif yang mempelajari otak manusia hingga tahap molekuler.

Neurosains mengkaji diri manusia sebagai proses yang berlangsung pada tingkat sel saraf. Neurosains bahkan mempelajari hingga proses perhubungan manusia dengan Tuhan. Pelbagai penemuan neurosains sangat berguna tidak saja dalam bidang kedokteran, tetapi juga dalam bidang lainnya, seperti manajemen dan bisnis, psikologi, filsafat, dan pendidikan.

Perkembangan dalam bidang neurosains meliputi salah satunya kajian tentang neurokimiawi, yang dapat mengetahui kegiatan-kegiatan otak, mulai dari kegiatan sederhana seperti bergerak, sensasi, hingga kegiatan tingkat tinggi seperti berbahasa dan berpikir. Apa yang disebut kegiatan-kegiatan “jiwa”, misalkan tampilan-tampilan emosi (marah, sedih, gembira, dan lain-lain), ternyata sangat berkaitan dengan zat kimia otak. Zat mirip morfin, namanya endorfin, yang dihasilkan otak diketahui ternyata berperanan dalam menimbulkan rasa gembira pada seorang manusia, atau adrenalin, dopamine, dan serotonin ternyata memainkan peran dalam menimbulkan rasa senang dan cemas, dan masih banyak lagi.

Sedang yang mengatur emosi manusia berada dalam sistem limbik, yaitu bagian otak mamalia yang dikelompokkan sebagai paleocerebri’ (‘otak tua’). Daerah ini relatif sama pada manusia dan mamalia lain. Ia mengatur aspek sosial maupun privat dari emosi manusia. Bagian sistem limbik bernama amygdale yang mengatur hubungan langsung dengan kulit otak sebagai pusat berpikir. Adanya komponen ini membuat manusia menjadi makhluk yang tidak melulu berpikir, tetapi juga merasa. Dimensi inilah yang membangun hubungan antara manusia.

Nampaknya paradigma keilmuan di atas dijadikan pijakan oleh Arvan Pradiansyah dalam bukunya ini. Arvan sesungguhnya menjabarkan neurosains yang dapat dipakai dalam bidang Sumber Daya Manusia (SDM). SDM seseorang sejatinya akan melejit jika dapat mengelola pikirannya. Dengan kata lain, pikiranlah yang sebenarnya sangat memainkan peran penting terhadap segala sesuatu yang menyangkut diri seseorang, baik menyangkut jasmani maupun rohani.

Kesadaran akan pentingnya pikiran tersebut, menggerakkan Arvan untuk membuat sebuah metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Pemilihan pikiran itu sendiri akan dapat merangsang terciptanya pola-pola baru, kombinasi-kombinasi baru antara sel-sel saraf dan neurotransmitter, yaitu zat kimiawi yang mengirimkan pesan-pesan di antara sel-sel saraf, khususnya dalam hal kebahagiaan.

Arvan sendiri mengakui bahwa The 7 Laws sebenarnya terinspirasi dari 7 Habits karya Stephen Covey. Namun, jika Covey menggambarkan perjalanan manusia yang dimulai dari dependensi menuju independensi dan berhenti di interdependensi sebagai suatu bentuk bentuk kematangan tertinggi manusia, sedang The 7 Laws menggambarkan sebuah perjalanan melingkar, yaitu dimulai dari dependensi ke independensi, ke interdependensi, dan kembali ke dependensi. Inilah yang membedakan dengan konsep 7 Habits karya Stephen Covey tersebut.

Rumusan Kebahagiaan
Setelah Arvan menjabarkan bangunan teorinya mengenai kekuatan pikiran, maka ia kemudian memasuki wilayah ‘bahagia’. Sungguh, tak bisa dipungkiri oleh siapa pun, bahwa inti hidup kita adalah sebenarnya mencari kebahagiaan. Terlepas jalannya seperti apa. Hal ini, secara tak langsung dipahami dengan baik oleh Arvan, bahwa buku mengenai kebahagiaan sangatlah sedikit, ketimbang buku tentang meraih kesukesan. Padahal, kesuksesan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang berbeda. Buktinya, banyak orang sukses tapi ternyata tidak bahagia. Kesuksesan hanyalah bagian kecil dari bahagia yang sifatnya relatif tersebut.

Selain itu, menurutnya, hakikat kebahagiaan yang sejati berasal dari pikiran, bukan dari hati. Hati itu tidak jelas letaknya di mana; di jantung, empedu, ginjal atau organ yang lainnya, dan sifatnya pun bisa bolak-balik. Sedang pikiran pasti menunjukkan pada satu tempat, yaitu otak. Maka kemudian, Arvan meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif. Dengan pikiran tersebut, kita akan senantiasa dipenuhi oleh rasa bahagia.

Arvan pun memberikan contoh konkrit, bahwa salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Dalam hal ini acara Empat Mata di stasiun televisi swasta kena damprat oleh Arvan, lantaran dianggap sebagai salah satu tontonan yang akan mematikan belas kasih. Untunglah, saat ini acara yang dipandu Tukul tersebut sudah dilarang tayang.

Buku ini secara terperinci memberikan pelatihan pikiran yang sistematis dan metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Sebaliknya, buku ini juga melatih bagaimana membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi. Arvan kemudian merumuskan hal tersebut dengan menyebutnya The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), Giving (Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).

Nah, Arvan memberikan jaminan bahwa ketujuh rumusannya itu akan mendatangkan kebahagaiaan, asalkan: Dipraktikan dan dilatih secara berulang-ulang. Hal itu senada dengan sebuah pernyataan yang dilontarkan Aristoteles bahwa keberhasilan hidup adalah memang sebuah kebiasaan yang diulang-ulang.

Buku ini sangat patut dibaca dan (lebih penting lagi) dipraktikan serta kemudian dilatih secara berulang-ulang dalam hidup kita. Jadi, harus menunggu apalagi jika anda ingin meraih bahagia?

Minggu, November 02, 2008

Ketika “Sang Pengikat Makna” Berhaji

Judul Buku: Terapi Hati Di Tanah Suci
Penulis: Hernowo
Penerbit :Lingkar Pena, September 2008
Tebal: 199 (termasuk indeks)
------------------------------
Tahukah Anda apa yang dipersiapkan bagi seorang penulis untuk berhaji? Ya, pena dan buku (tentang haji). Pena adalah untuk mencatat segala peristiwa yang tengah dialaminya, sedang buku untuk memperkaya wawasan mengenai rangkaian hajinya.

Keduanya itu hendak digunakan untuk mempersepsikan haji oleh dirinya. Itulah yang dilakukan Hernowo, sang “Pengikat Makna”, yang karyanya sudah lebih dari 30 buku.

Adapun hasil dari pengalaman dan persepsinya tentang haji dia bukukan dengan judul Terapi Hati Di Tanah Suci;Ya Allah, Jadikan Aku Cahaya (2008). Buku yang ditulis dengan “hati” ini mampu membuat seorang penulis lainnya menangis.

Hal itu lantaran dirinya iri dan menyesal mengapa dirinya tidak melakukan apa yang dilakukan Hernowo tersebut. Penulis tersebut bernama Asma Nadia. Dia mengatakan sebab keiriannya dalam Kata Pengantar buku ini, “Kenapa saya kurang menyiapkan bekal bacaan,… kedua, karena saya melewatkan beberapa doa yang diamalkan oleh Mas Hernowo di tanah suci dari hasil iqra’-nya yang panjang. Ketiga, perasaan menyesal karena buku ini tidak hadir sebelum saya menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 lalu”(hlm.7-8).

Terkait dengan ketiga alasa keirian Asma Nadia di atas, memang buku ini—terdiri dari tiga bagian—mampu membuat pembaca hanyut dalam dunia haji. Bagian pertama Mempersiapkan Bekal Berhaji, bagia kedua, Pesona Masjidil Haram, dan bagian ketiga Berkah Masjid Nabawi. Hernowo sebelum melaksanakan haji jauh hari sudah membekali dirinya dengan memperkaya wawasan mengenai haji. Tepatnya di bulan Ramadhan—beberapa bulan sebelum bulan haji. Paling tidak ada dua alasan mengapa dia melakukan pembekalannya di bulan tersebut. Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan mulia. Dengan begitu Hernowo termotivasi untuk membekali dirinya dengan sabaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dia yakin bahwa jika seseorang berminat untuk mengumpulkan “bekal” berhaji di bulan suci Ramadhan Tuhan pasti akan menyediakan sumber “bekal” itu secara sangat melimpah.

Kedua, turunnya pertama kali Alquran, yang diawali dengan ayat-ayat perintah membaca (Surat Al-‘Alaq ayat 1-5). Sudah bisa ditebak apa “bekal” yang dipersiapkan Hernowo tersebut, yaitu membaca buku-buku yang terkait dengan haji. Bahkan tidak hanya itu, dia juga membaca buku-buku tentang tanah suci, Masjidil Haram, Madinah, biografi Nabi Muhammad SAW, sejarah awal Islam, dan kebudayaan Islam. Nah, hasil dari bacaannya tersebut, dia menulis hal-hal yang penting dan berkesan. Sebagaimana kita tahu dalam buku-buku sebelumnya, aktivitas tersebut dia namakan dengan “mengikat makna”.

Oleh karena itu, dia “mengikat makna” segala hal yang berkenaan dengan haji. Di saat pembacaan dan penulisannya, dia membayangkan bahwa pada saat berhaji kelak, dia akan merasakan tanah tempatnya lahir Nabi SAW, dan kehidupan Nabi baik di Mekkah maupun Madinah. Bayangan tersebut dia alami saat dia berhaji. Maka tak ayal lagi, lahirlah dari tulisannya kalimat-kalimat yang “hidup”, yang mampu membangkitkan emosi pembacanya untuk merasakan juga apa yang dirasakan oleh Hernowo. Iihat saja misalnya saat dia membaca buku Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi karya O.Hashem, dan dia mendapatkan ihwal Raudhah, di mana dalam bab tersebut disampaikan lima sabda Rasulullah SAW: Pertama, “Antara rumah dan mimbarku adalah taman (Raudhah) di taman-taman surga”, Kedua, “antara kuburku dan mimbarku adalah taman-taman di surga,” Ketiga, “antara kamarku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman di surga,” keempat, “antara mimbarku dan rumah Aisyah adalah taman dari taman-taman di surga,” kelima, “barangsiapa ingin bergembira shalat dalam taman dari taman-taman di surga, maka shalatlah di antara kubur dan mimbarku” (hlm.65-67).

Nah, di halaman 131-132 dia mengakuinya bahwa saat masuk ke Raudhah begitu berkesan. Dia melakukan shalat dua rakaat dan berzikir serta merenung. Hasil renungannya itu adalah bahwa spirit Islam adalah spirit iqra’. Islam memerintahkan umatnya untuk tak henti-hentinya mencari ilmu, ke mana pun dan dari mana pun sumbernya.

Masih di Raudhah, Hernowo membayangkan dirinya berjejer dengan para sahabat sedang mendengar Rasulullah menyampaikan ilmu-ilmunya. Dan itu pun disebabkan oleh para sahabat kepada umat manusia.

“Doa Cahaya”
Saya kira ruh buku ini terletak pada sub-bab yang berjudul “Doa Cahaya”. Sub ini begitu penting, karena dapat mempertemukan dari sub-sub lainnya, bahkan seluruh komponen dalam kehidupan Hernowo, sebagai penulis yang produktif. “Doa Cahaya” merupakan doa yang berisikan permohonan agar dijadikan cahaya secara menyeluruh. Hernowo sangat terkesan dengan doa ini, karenanya dia mengaitkannya dengan keadaan dirinya.

Menjadi cahaya sangat identik dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dengan pengertian seperti itu, doa dia adalah doa logis yang dapat diwujudkan. Yang menjadi pertanyaanya adalah apakah doa yang dia panjatkan pada waktu berhaji pada 2002 benar-benar mewujud nyata pada saat ini?

Buku yang ke-34 ini adalah buah nyata bahwa Tuhan mengabulkan doanya. Waktu yang relatif singkat, dalam jangka enam tahun, Hernowo telah menghasilkan 34 buku. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Sebelum berhaji, dia baru satu buku yang dihasilkannya, yaitu Mengikat Makna. Tapi begitu selesai berhaji, goresan penanya tetap tidak berhenti dari waktu ke waktu. Ide-idenya mengalir dengan deras. Lalu muncullah setiap tahunnya buku demi buku. Nah, buku-buku yang diciptakannya itulah cahaya yang dapat menyinari dirinya dan orang lain. Dengan kata lain, cahaya tersebut adalah berbentuk buku. Dengan buku lah dia dapat menyinari alam semesta ini.