Minggu, April 19, 2009

Nasihat Arvan Bagi (Calon) Politisi

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 16 April 2009
Judul: Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: 130 hlm.
----------------

Setelah selesai pemilu calon legislator (caleg) pada 9 April 2009, tiba-tiba marak sekali pemberitaan di media massa mengenai para mantan caleg yang menderita gangguan jiwa, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Hal itu disebabkan pendapatan suara mereka di bawah rata-rata, alias minus, sehingga mereka tidak bisa lolos menjadi anggota dewan. Kenyataan itu mengindikasikan adanya ketidaksiapan para caleg untuk kalah dalam bertarung.

Mestinya, mereka yang gagal menjadi anggota dewan bersyukur, karena menjadi politisi tidaklah mudah, penuh dengan godaan dan tantangan. Dengan kata lain, kebahagiaan akan teramat sulit untuk diraih jika sudah berada dalam tampuk kekuasaan. Sebaliknya, bagi mereka yang akan terpilih menjadi anggota dewan tidak perlu besar kepala. Justru mereka harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi hidup “sengsara”, alih-alih mendapatkan kebahagiaan.

Buku Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi karya Arvan Pradiansyah akan membuktikannya. Ia mengatakan bahwa seorang politisi tidak akan mendapatkan kebahagiaan jika praktik untuk mendapatkan status sebagai politisi dilakukan dengan prinsip ‘demi kepentingan dan kekuasaan’ semata. Logikanya, bahwa pada saat nyaleg dan masa kampanye para caleg mengeluarkan dana yang sangat besar. Harga yang harus dibayar seorang caleg untuk mendapatkan kursi di DPR saja sedikitnya Rp 1 miliar, sedangkan untuk menduduki kursi di DPRD, paling sedikit Rp 500 juta. Belum lagi untuk biaya kampanyenya yang kurang lebih jumlahnya sama dengan ongkos daftar jadi caleg tersebut.

Materi yang sangat tidak sedikit itu sangat berdampak pada saat si caleg itu memenangkan pemilunya (jika sekiranya memang menang). Pada saat si caleg sudah menjadi resmi menjadi anggota legislatif, kira-kira apa yang ada dalam benaknya itu? Arvan menduga kuat bahwa para anggota legislatif yang baru memenangkan pemilu itu mengawali agenda pribadinya dulu, yaitu membalikkan modal yang pernah ia keluarkan dahulu saat daftar jadi caleg dan kampanye. “… Kalau Anda mengatakan bahwa Anda akan langsung berjuang untuk rakyat, saya yakin semua orang tahu bahwa Anda sedang berbohong. Bukannya saya tidak percaya bahwa ada orang yang mau berjuang untuk rakyat. Sama sekali tidak. Tapi, saya yakin bahwa sebelum Anda memulai perjuangan yang suci itu, ada sebuah ‘perjuangan’ lain yang sedang berkecamuk di dalam diri Anda. Perjuangan yang saya maksud adalah berjuang untuk mendapatkan uang Anda kembali!” (hlm. 17).

Nampaknya sangat logis pernyataan Arvan di atas. Pasalnya, sebagaimana hukum bisnis, bahwa tidak mungkin ada orang di dunia ini yang mau mengorbankan uang dalam jumlah yang sangat besar bila ia tidak yakin akan mendapatkan keuntungan yang besar pula, minimal sepadan.

Selain itu, Arvan pun menerapkan tujuh konsep kebahagiaan yang ia ciptakan—yaitu dalam buku The 7 Laws of Happines (2008)—untuk memperkuat argumentasinya, dalam rangka menjawab mengapa para politisi tidak akan bahagia meskipun mereka telah duduk di lembaga legislatif ?

Tujuh konsep kebahagiaan yang Arvan maksud, pertama adalah sabar. Bagi Arvan, bersabar adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Apakah para politisi dapat melakukannya? Ternyata tidak. Mereka sangat sulit untuk menyatukan badan dan pikirannya. Saat badannya sedang berhadapan dengan rakyat tapi pikirannya sibuk dengan hal lain. Saat penghitungan suara pemilu caleg masih berlangsung, namun para sudah meributkan koalisi, berbagi jabatan (presiden dan wapres), serta berbagi kekuasaan.

Kedua, adalah syukur. Kata Arvan, salah satu hal yang dapat menimbulkan rasa syukur adalah selalu melihat ke bawah, karena dengan begitu kita akan mampu berdamai dengan segala kekurangan kita dan merasa puas dengan apa adanya kita. Tapi, bagi politisi kata-kata puas sangat jauh dari hidup mereka, “Kalau mereka selalu puas, bagaimana mereka bisa berpolitik” ujar Arvan.

Ketiga, adalah sederhana, baik dalam cara berpikir maupun gaya hidup. Sudah dapat dipastikan konsep kebahagiaan ini sangat sulit diterapkan oleh politisi. Kondisinya amat sangat tidak memungkinkan untuk hidup berpola sederhana.

Keempat, adalah cinta. Kita semua sudah mafhum bahwa dasar dari hubungan antarmanusia adalah cinta. Dan dengan memberikan cintalah kita akan merasakan kebahagiaan. Tapi, bagi politisi menerapkan cinta adalah yang kesekian, bahkan boleh jadi tidak ada. Dalam berpolitik yang menjadi dasar dari hubungan antarmanusia adalah kepentingan. ‘Tidak ada persahabatan abadi yang ada adalah kepentingan abadi’, barangkali adagium itu pas dalam menggambarkan dunia politik.

Kelima adalah memberi. Dalam artian memberi tanpa mengharap balasan. Inilah tindakan memberi yang tertinggi. Nampaknya, konsep ini pun teramat sulit untuk dilakukan politisi, karena rumus utama dalam politik bukanlah memberi (giving), tapi mendapatkan (getting).

Keenam adalah memaafkan. Untuk meraih kebahagiaan sifat pemaaf sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Karena, sejatinya memaafkan bukanlah untuk kepentingan orang yang menyakiti kita, tapi untuk kita sendiri. Dalam dunia politik, seringkali amat sulit menjadi pribadi yang pemaaf. Justru yang ada adalah menyerang balik atas apa yang dilakukan lawan politiknya, seperti mengungkit masa lalunya yang negatif.

Ketujuh adalah berserah atau pasrah kepada Tuhan. Menurut Arvan, berserah yang paling membahagiakan bukanlah meminta sesuatu kepada Tuhan, melainkan benar-benar berserah. Sedang bagi politisi jauh dari berserah semacam itu. Doa mereka hanya satu: Meminta kemenangan kepada Tuhan, tak peduli kemenangan tersebut baik atau buruk bagi mereka. Hal ini akan sangat tidak membahagiakan saat mereka tidak dikabulkan doanya.

Namun, Arvan menggarisbawahi bahwa tujuh konsep kebahagiaan itu bukan harga mati yang tidak bisa diupayakan oleh politisi. Mereka bisa mengupayakannya, dengan catatan mereka mampu meningkatkan derajat statusnya bukan sebagai politisi, tapi negarawan yang semangat hidupnya mempraktikan ketujuh konsep tersebut, di mana salah satunya adalah senang memberi tanpa pamrih.

Buku Arvan ini sangat layak direkomendasikan pada para politisi baik yang baru memenangkan pemilu kemarin maupun yang sudah berpengalaman.***

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang


Minggu, April 12, 2009

Rekonstruksi Sejarah Indonesia

Resensi ini dimuat di Koran Seputar Indonesia pada Minggu 10 Mei 2009
Judul: The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan
Penulis: R.E. Elson
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: xxxiii + 543 hlm. (termasuk indeks)
-----------------------------------------

Tak dapat dipungkiri bahwa yang paling banyak mengetahui sejarah terbentuknya Indonesia adalah justru kaum sejarawan yang bukan berasal dari Indonesia. Ironisnya, kenyataan itu sama sekali tidak membangkitkan emosi para sejarawan Indonesia.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah para cendekiawan Indonesia sudah puas dengan kehidupannya sekarang ini, atau kah sibuk dengan urusan pragmatis semisal proyek-proyek yang menggiurkan demi memenuhi hasrat para penguasa? Padahal perihal merekonstruksi asal-usul Indonesia sangatlah penting ditulis oleh orang Indonesia, agar tidak bias dengan hasil-hasil penelitian dari pihak asing.

Dampak dari ketiadaan para sejarawan Indonesia adalah banyaknya generasi muda tercerabut dari pemahaman akar sejarah Indonesia sendiri.


Salah satu teranyar dari sejarawan asing mengenai asal-usul terbentuknya Indonesia adalah The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan karya R.E. Elson. Buku ini hendak berusaha mengenalkan kembali serta mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Tidak hanya itu, ia juga menelusuri lebih jauh tentang berbagai jalan berliku yang telah dilalui Indonesia hingga mampu eksis sampai sekarang.

Menurut Elson esksistensi Indonesia menjadi suatu negara-bangsa merupakan sebuah keajaiban dan kemukjizatan. Hal yang menjadi pertimbangannya adalah banyaknya tantangan serta bentuk-bentuk pemerintahan yang dilaluinya teramat rumit dan musykil untuk dilalui. Kemunculan nama ‘Indonesia’ sendiri menjadi bahan silang pendapat antar sejarawan.

Sebut saja, JR Logan, misalnya, sejawaran Belanda dan editor majalah The Journal of the Indian Archipelago and eastern Asia, disebut sebagai orang pertama yang menggunakan istilah “Indonesia” bagi nama penghuni dan wilayah gugusan nusantara secara geografis. Logan mengatakan, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shirter synonym for the Indians or the Indian archipelago… , we thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Logan menyebut Nusantara sebagai kepulauan Hindia-Timur, karena sebagian besar dari penghuninya adalah dari ras Melayu yang kemudian berbaur dengan ras Polinesia. Ia pun membagi Indonesia dalam empat wilayah geografis: Indonesia Barat (Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa dan pulau-pulau antara), Indonesia Timur-Laut (Formosa hingga gugusan kepulauan Sulu dan Mindanao, termasuk Filipina hingga kepulauan Visaya); Indonesia Barat-Daya (dari pantai Timur Kalimantan hingga Papua Nugini, termasuk gugusan kepulauan di Papua Barat, Kai dan Aru); Indonesia Selatan (gugusan kepulauan selatan Tans Jawa, antara Jawa dengan Papua Nugini atau dari Bali hingga gugusan kepulauan Timor).

Hal senada juga dikatakan Windsor Earl bahwa ”Indu-nesians” menerangkan penduduk kepulauan nusantara termasuk ciri etnografis yang merupakan bagian dari rumpun Polinesia yang berkulit sawo matang. Earl mempermasalahkan bahwa penduduk di kepulauan nusantara ini tidak dapat disamakan dengan penghuni kepulauan Ceylon (kini Sri Lanka), Maldives atau Laccadives di Samudera Hindia dari ras India. Sedang antropolog Prancis, E.T. Hamy pada 1877 mendefinisikan kata ”Indonesia” sebagai rumpun pre-Melayu yang menghuni nusantara. Pendapat ini juga diikuti antropolog Inggris, A.H. Keane pada 1880.

Multatuli (nama lain dari Eduard Douwes Dekker), melalui karya monumentalnya, Max Havelaar (1859) memperkuat teori Logan tersebut. Multatuli menyimpulkan bahwa semua yang digagaskan JR Logan merupakan sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran yang semakin menguatkan seluruh masyarakat dunia bahwa pada dasarnya gagasan Indonesia terbentuk jauh pada abad-abad lampau.

Istilah Indonesia lambat laun mulai berkembang dan sejak 1910-an digunakan oleh antropolog Belanda seperti Wilken, Kern, Snouck Hurgronje, Kruyt, dan yang lainnya, semuanya dengan makna yang sama. Dari situ pula, telah didirikan Fakultas Indologi di Universitas Leiden untuk mempelajari Indonesia.

Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna politis (dalam bentuk 'Hindia' yang harus merdeka) oleh Abdul Rivai, Kartini, Abdul Moeis, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, Ratulangie dan lain-lain antara 1903-1913. Nama 'Indonesia' mulai santer, namun dengan bobot politis yang sama dengan 'Hindia', di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Leiden semasa Perang Dunia I sekitar 1917. Sam Ratulangie yang juga termasuk dalam kelompok peduli Indonesia di Belanda giat pula mempopulerkan nama Indonesia di tanah air. Misalnya ketika mendirikan perusahaan asuransi di Bandung dengan nama, Indonesia pada 1925.

Nama Indonesia mulai berkembang sebagai perangkat perjuangan identitas bangsa yang terdiri dari masyarakat berbudaya majemuk dilandasi semangat solidaritas kebersamaan. Sebagai hasilnya, Indische Vereeniging, berubah menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia pada 1918. Namun dalam perkembangannya hingga kini, terminologi Indonesia lebih dilekatkan pada negara Indonesia. Indonesia dalam terminologi Logan berubah menjadi beberapa negara, termasuk Indonesia, Singapura dan Malaysia. Penang masuk Malaysia. Semenanjung Malaka dan Pulau Sumatra, yang kebudayaannya kental Melayu, terpisah menjadi dua negara. Papua Barat, yang sama sekali tak masuk dalam khayalan Logan, malah masuk wilayah Indonesia. Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara berbeda karena mulanya mereka disatukan secara administrasi oleh dua kerajaan Eropa yang berbeda: Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda.

Setelah puas memaparkan asal-usul istilah Indonesia dan cakupannya dari pelbagai pendapat, pada bab-bab selanjutnya Elson melangkah pada bahasan mengenai sejarah intelektual Indonesia awal dari gagasan dan ide terbentuknya Negara Indonesia dengan begitu detail dan komprehensif. Sungguh, usaha ini patut diacungi jempol, karena dilakukan olehnya yang notabene-nya sebagai sejarawan non-Indonesia dan pembahasan mengenai ini telah luput dari pandangan sejarawan Indonesia sendiri.

Hal yang patut diapresiasi juga adalah cara penyajian Elson dalam membedah politik Indonesia yang sangat memukau. Ia piawai pula cara menggambarkan para tokoh politik Indonesia saat berkomunikasi dengan rakyatnya. Buku ini merupakan sejarah Indonesia penting untuk ditelaah, agar masyarakat Indonesia tidak melupakan sejarah nenek moyang terlebih para sejarawan Indonesia.

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, keturunan jawa-sunda, Tinggal di Yogyakarta

Selasa, April 07, 2009

Taubatnya Mantan Bandit Ekonomi Dunia

Judul : John Perkins; Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional
Penulis : John Perkins
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Tahun : I, Maret 2009
Tebal : xxviii + 465 halaman
----------------------------

John Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia.

Buku ini adalah buku keduanya, setelah Confessions of an Economic Hit Man (2004). Dan boleh dikata buku ini sebagai lanjutan dari buku pertamanya tersebut. Perkins menyebut dirinya sebagai bandit ekonomi (Economic Hit Man; EHM) yang bekerja di perusahaan konsultan MAIN yang bermarkas di Boston, AS.

Sebagaimana halnya buku pertamanya, buku keduanya juga merupakan sebentuk pengakuan dosa dan kesaksian seorang ekonom bayaran Amerika Serikat yang ditugasi untuk menciptakan ketergantungan ekonomi negara Dunia Ketiga dan terbelakang melalui politik utang kepada negara adikuasa.

Perkins menceritakan bagaimana profil seorang agen terselubung hasil rekrutmen National Security Agency (NSA), organisasi spionase Amerika yang paling sedikit diketahui tapi terbesar. Perkins dan teman-temannya berperan sebagai agen spionase terselubung. Mereka membuat economics forecast untuk suatu negara klien korporatokrasi. Dan tugas utama mereka adalah menerapkan kebijakan yang mempromosikan kepentingan korporatokrasi (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi) Amerika sambil menyatakan minat mereka untuk mengurangi derajat kemiskinan di negara Dunia Ketiga yang kaya akan sumber daya alamnya, baik yang ada di Asia, Afrika, Timur Tengah, maupun Amerika Latin.

Bantuan utang luar negeri yang selama ini ditawarkan lembaga-lembaga donor seperti IMF dan World Bank telah dikondisikan agar negara penerima donor menjadi sangat bergantung pada negara penyokong donor. Negara pendonor akan berada di atas angin. Ia bebas mendiktekan kebijakan ekonomi dan menuntut ketaatan negara penerima bantuan. Salah satu diktenya adalah negara yang diberi donor tersebut diharuskan mengizinkan perusahaan-perusahaan global untuk membangun proyek-proyek yang menciptakan laba sangat besar untuk para kontraktornya dan memperkaya sekelompok kecil elite dari bangsa penerima utang luar negeri.

Dari situ dapat dipastikan bahwa yang menjadi tujuan pendonor dana adalah agar negara penerima utang memiliki kesetiaan politik untuk jangka panjang sampai kekayaan alamnya habis. Indonesia adalah korban pertama Perkins. Ia menyebutkan, Indonesia merupakan negeri kepulauan terbesar yang kaya sumber daya alam, khususnya minyak. Hal ini membuat pendulum—Amerika Serikat (AS)—berdenyut. Perkins kali pertama menginjakkan kakinya di Indonesia pada 1971 mengaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi seperangkat alat ampuh untuk membangkrutkan Indonesia.

Perkins membuat laporan fiktif untuk IMF atau Bank Dunia agar mengucurkan utang yang tak mampu dibayar oleh negara Indonesia. Setelah tersandera, Indonesia ditekan mendukung AS di DK PBB atau menjual ladang minyak ke MNC Barat. Aksi ini dilakukan Perkins dalam tiga bulan pertama sejak 1971 berada di Indonesia.

Ketergantungan pada pendonor dana semenjak masa Soeharto ternyata masih berlanjut hingga pemerintahan SBY. Di antaranya adalah kasus Paiton, blog Cepu, dan lain-lain. Pemerintah dibuat tidak berkutik menghadapi gempuran para korporator, lantaran sudah dijebak dengan utang. Dalam kasus lain bisa kita lihat pada saat terjadi tsunami di Aceh. Menurut Perkins, pemerintah Indonesia cepat-cepat mengambil keuntungan dari peristiwa ini. Pasukan baru diterbangkan dari kawasan Indonesia lainnya. Dalam hitungan bulan, mereka akan mendapat bantuan personel militer dan prajurit upahan dari AS, seperti Neil. Meskipun angkatan bersenjata memegang komando dengan dalih meringankan korban bencana, agenda terselubung mereka tak lain menumpas GAM.
November 2005, Washington mencabut embargo senjata dan melanjutkan hubungan penuh dengan militer Indonesia. Perkins melihat GAM lahir dari hasrat untuk merdeka dari pemerintah yang dianggap berlaku eksploitatif dalam urusan ekonomi dan menindas dengan brutal. Meski lingkungan dan budaya mereka rusak akibat tangan-tangan korporasi asing, keuntungan yang diterima rakyat Aceh hanya sedikit. Salah satu proyek sumber daya terbesar di Indonesia, fasilitas gas alam cair (LNG), berlokasi di Aceh. Namun hanya sedikit keuntungan LNG itu yang disalurkan ke sekolah, rumah sakit, dan investasi lokal lainnya untuk membantu rakyat Aceh sebagai pihak yang terkena dampak paling besar dari perusahaan itu.

Mirip dengan Indonesia, Perkins dan kawan-kawannya juga mengendalikan sejumlah peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian Presiden Panama, Omar Torrijos, dan invasi militer Amerika ke Panama dan Irak. Namun, aksi kejahatannya seperti itu yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat nuraninya terusik. Ia merasa dirinya kontradiktif. Pemanasan global benar-benar menyadarkan dirinya lebih dalam lagi untuk menyerang balik para pelaku korporasi, lantaran bumi secara perlahan telah habis dieksploitasi oleh mereka. Dalam bukunya ini, sekaligus yang membedakan dengan buku pertamanya, Perkins mengajak warga dunia memerangi korporatokrasi yang terbukti menjadi senjata penjajahan paling mutakhir untuk membangkrutkan sebuah negeri.

Pada bab terakhir, Perkins menawarkan berbagai solusi menghadapi kejahatan korporatokrasi, mulai dari hal terkecil hingga yang paling besar (lihat hlm. 443-445). Sungguh, membaca buku ini membuka kesadaran kita akan mafia bisnis perusahaan multinasional dalam merusak ekonomi suatu negara. Untuk itu, buku ini sangat layak dibaca bagi siapa pun yang menginginkan kesadaran akan keselamatan dunia. Di samping itu, pengemasan buku dan penyajian bahasanya yang naratif membuat pembaca terbantu untuk menuntaskan rasa ingin tahunya dan enggan berhenti di tengah jalan.***

M IQBAL DAWAMI
Staf pengajar STIS Magelang, tinggal di Yogyakarta

Minggu, Maret 29, 2009

Di Bawah Ketiak IMF

Judul : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Jalan Baru Membangun Indonesia
Penulis : Ishak Rafick
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan : II, Desember 2008
Tebal : xxviii + 417 hlm.
--------------------------
Buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Jalan Baru Membangun Indonesia memang sangat luar biasa. Sejak terbit pertama kali (cetakan I, Januari 2008) respons pembaca teramat positif atas buku ini. Walhasil, tak lebih setahun, mengalami cetak ulang.

Buku yang sesungguhnya tidak ringan ini ternyata mampu menyadarkan masyarakat Indonesia akan permainan politik Indonesia di kancah dunia. Konkritnya, buku ini menyadarkan kita akan kelemahan struktural yang laten di bawah kepemimpinan lima Presiden Indonesia.

Lantas, apa sesungguhnya yang menjadi keistimewaan buku ini sehingga masyarakat meminta penerbitnya untuk mencetak ulang? Tak lain, lantaran buku ini "menelanjangi" kelemahan lima presiden Indonesia dalam mengelola bangsa Indonesia.

Penulisnya memotret semua perkembangan yang terjadi di Indonesia dalam kurun 1997-2007. Menurut penulisnya, bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi semasa Orde Baru, berbagai ketimpangan dan kerawanan di bidang ekonomi maupun sosial terjadi, meski di permukaan seolah baik-baik saja. Dan pasca-reformasi semua kerawanan itu terjadi. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah telah gagal dalam membangun perekonomian nasional. Kegagalan kelompok ekonom yang merumuskan arah pembangunan nasional selama 40 tahun, sekaligus telah mewariskan potensi sebagai sebuah negara yang gagal (failed state).

Akibat kegagalan itu, Indonesia batal tinggal landas meski Orde Baru telah tumbang. Padahal, pada 1967, negara-negara utama di Asia nyaris memiliki posisi yang hampir sama secara sosial dan ekonomi dengan Indonesia. Pada waktu itu, GNP per kapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan China nyaris sama yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, GNP per kapita negara-negara tersebut pada 2004, Indonesia mencapai sekitar US$ 1.100, Malaysia US$4.520, Korea Selatan US$14.000, Thailand US$2.490, Taiwan US$14.590, dan China US$1.500.

Ishak Rafick menyimpulkan bahwa kemerosotan ekonomi Indonesia tak lain adalah akibat para penguasa yang mau-maunya meminta bantuan pada IMF (International Monetery Fund). Padahal bantuan IMF tak lain adalah ibarat duri dalam daging. Contohnya adalah utang para konglomerasi senilai Rp 600 triliun akibat restrukturisasi perbankan, yang kemudian diubah menjadi utang rakyat. Pemerintah kemudian menerima resep rekapitalisasi perbankan dari IMF. IMF kemudian memaksa pemerintah mengeluarkan obligasi senilai Rp 430 trilyun. Bersama bunganya obligasi rekapitalisasi itu kemudian bernilai Rp 600 trilyun. Langkah IMF kemudian memaksa pemerintah menjual bank-bank, salah satunya Bank BCA yang telah menelan dana pemerintah Rp 58 triliun dan pembelinya kemudiaan menikmati bunga obligasi rekap.

Menurut skenario awal, obligasi itu dipakai hanya sebagai instrumen yang bisa ditarik kembali bila bank-bank sudah sehat. Tapi, belakangan, setelah bank-bank sehat dan bebas dari kredit macet, IMF mendesak pemerintah menjual bank-bank tadi bersama obligasinya. Perkembangan selanjutnya, bank-bank itu dibeli asing. Dengan cara itu, pemerintah telah mengubah utang swasta menjadi utang publik yang baru di samping utang luar negeri senilai US$ 137 milyar. Walhasil, pemerintah menanggung semua kerugiannya. Dan IMF lepas tangan.

Menurut Rafik pemerintah Indonesia mudah sekali dipengaruhi oleh pandangan ortodoks dan neoliberal. Imbasnya, negara ini pun hanya memperjuangkan kepentingan segelintir elite, sedangkan rakyat diserahkan kepada belas kasihan mekanisme pasar (market mechanism). Dan jika negeri ini masih meminta belas kasihan kepada IMF, World Trade Organization (WTO), dan Wordl Bank (Bank Dunia), maka sesungguhnya kita telah menggali kuburan sendiri.

Sisi lain, dalam buku ini diungkap kasus-kasus bagaimana pihak IMF, asing, dan para kapitalis menguasai kekayaan yang menjadi kebutuhan hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh, bagaimana SBY dengan mudahnya memberikan Blok Cepu ke tangan Exxon Mobil Corporation.

Beberapa negara membuktikan bahwa sebetulnya tanpa bantuan IMF mereka bisa memperbaiki ekonominya sendiri. Malaysia adalah salah satu contohnya. Saat krisis ekonomi melanda Asia pada 1997, Malaysia menolak resep IMF, karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia. Hasilnya sangat menggembirakan. Ekonomi Malaysia tetap stabil. Bahkan lebih dari itu, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja meningkat.

Ishak menyoroti sikap dan kebijakan-kebijakan yang diambil tim-tim ekonomi di bawah lima presiden: Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan terakhir Yudhoyono. Terutama dalam kaitan dengan IMF. Intinya sama: tim-tim ekonomi itu umumnya selalu tunduk pada kemauan IMF (kecuali masa Gus Dur). Dan itulah inti persoalan yang membuat kekisruhan ekonomi Indonesia seperti tak berkesudahan hingga kini.

Dalam korporatokrasi, kedaulatan tidak lagi berada di tangan rakyat, tapi di tangan berbagai perusahaan besar yang menguasai pasar. Suara rakyat hanya diperlukan menjelang pemilihan umum seperti saat ini. Untuk itu, buku ini menemukan relevansinya pada saat ini, karena bisa dijadikan referensi penting sebelum pemilihan calon legislatif dan calon presiden. Bukankah seekor rusa saja tak pernah masuk pada lobang yang sama, bagaimana dengan kita?

M Iqbal Dawami
Staf pengajar STIS Magelang, pegiat “Diskusi Ilmiah Dosen” Jum’at malam di UIN Sunan Kalijaga, tinggal di Jogjakarta

Sabtu, Maret 21, 2009

Kematian Iklan Politik

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Selasa 24 maret 2009

Judul: Iklan Politik dalam Realitas Media
Penulis: Sumbo Tinarbuko
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: 1, Maret 2009
Tebal: xix + 120 hlm.
----------------------

Pemilu 2009 yang diawali dengan pemilihan calon legislatif tinggal menghitung hari. Saat menjelang pemilu ini, bangsa Indonesia memasuki zaman narsisme, sebuah zaman yang mensyaratkan kecintaan kepada diri sendiri. Untuk itu, agar kecintaan pada diri sendiri mendapatkan permakluman, banyak di antara mereka menebarkan jaring pesona kepada siapa pun. Mereka itu adalah calon legislatif yang mengkampanyekan dirinya lewat rumusan konsep narsisme.

Salah satu implikasi dari narsisme politik tersebut adalah menjadikan Indonesia sebagai negeri spanduk. Hal itu disebabkan saking banyaknya spanduk dan papan iklan bertebaran di tiap sudut dan pinggir jalan. Spanduk dan iklan politik bersaing keras dengan papan iklan rokok dan iklan kartu SIM telepon genggam. Buku Iklan Politik dalam Realitas Media karya Sumbo Tinarbuko ini mencoba membongkar aksi narsis para politis dengan melihat dari sisi iklan dan pencitraan. Kedua hal ini, memang, sangat diperlukan dalam usaha untuk mengkampanyekan para calon legislatif ataupun presiden menjelang pemilu ini. Namun, apakah kedua hal itu sudah berjalan efektif, proporsional, dan sesuai prosedur? Buku ini mencoba menjawabnya.


Dalam teori komunikasi, iklan pada prinsipnya berusaha untuk mempengaruhi persepsi dan emosi yang akan menentukan tindakan pihak yang menjadi target iklan tadi. Isi dari iklan tersebut secara langsung akan memberikan efek stimulatif bagi masyarakat. Iklan yang isinya buruk akan mempengaruhi persepsi yang tidak baik dalam masyarakat kepada dirinya, lingkungan dan pihak yang melemparkan iklan tersebut. Demikian juga sebaliknya, iklan yang baik secara stimulatif akan memberikan efek yang baik bagi ketiga kelompok tersebut.

Hakikatnya, iklan politik mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tidak jarang masyarakat diberi iming-iming bahwa tokohnya mampu ”menyulap” kesengsaraan menjadi kemakmuran dalam sekejap. Dan layaknya dunia bisnis, kampanye politik pun sebenarnya menggunakan prinsip marketing, seperti: marketing research, market segmentation, targeting, positioning, strategy development dan implementation. Dalam hal ini televisi adalah media yang paling efektif. Sudah dapat dipastikan hampir di setiap rumah tangga ada televisi. Oleh karena itu, iklan politik di televisi menjadi sangat efektif untuk menjangkau rakyat pemilih. Bagi pengelola televisi, tidaklah penting apakah itu iklan politik atau bisnis. Mereka membebankan tarif untuk panjangnya waktu iklan bukan jenis iklan. Tarif untuk iklan politik akan sama mahalnya dengan tarif iklan bisnis jika waktu yang digunakan sama. Perang iklan politik di televisi antar calon presiden membuat biaya kampanye membumbung tinggi.

Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil ini, besarnya pengeluaran untuk biaya iklan tersebut secara tidak langsung menunjukkan ketidakpekaan para kandidat. Terlepas dari pencitraan diri kandidat, tidak dapat dimungkiri bahwa iklan hanya memberikan pengenalan terbatas tentang kandidat dan isu-isu yang diusungnya. Kampanye politik tidak memberikan informasi yang memadai tentang latar belakang, serta visi dan misi kandidat terkait. Tentu saja, penulis buku ini sangat menyayangkan hal itu.

Sumbo, sang penulis, mengakui bahwa di satu sisi, penggunaan media massa sebagai alat kampanye ikut membantu jangkauan dan popularitas kandidat. Di sisi lain, popularitas kandidat yang merupakan dampak dari iklan politik di media massa tidak otomatis menjamin elektabilitas atau keterpilihan kandidat yang bersangkutan. Bahkan, boleh jadi, iklan kampanye politik di media massa mungkin menimbulkan kesan terbiasa akan sosok yang diangkat.

Iklan politik, apapun bentuknya, sebetulnya bukan tanpa sesuatu yang positif. Jika disertai dengan gagasan yang utuh, memerhatikan etika, dan menghindari hal-hal yang menimbulkan keresahan dan permusuhan, ia adalah sarana yang cukup baik untuk melakukan promosi politik. Advertensi politik juga dinilai lebih efektif dan aman bagi masyarakat dibandingkan dengan pengerahan massa.

Namun, Sumbo menilai bahwa iklan politik saat ini tim sukses para caleg dan kandidat presiden, melakukan aktivitas kampanye yang cenderung memroduksi sampah visual. Bahkan hal itu mengarah pada perilaku teror visual dengan modus operandinya menempelkan dan memasang sebanyak mungkin billboard, baliho, spanduk, umbul-umbul, poster, dan flyer tanpa mengindahkan dogma sebuah dekorasi dan grafis kota yang mengedepankan estetika kota ramah lingkungan. Anggota tim sukses cenderung mengabaikan ergonomi pemasangan media luar ruang yang artistik, komunikatif dan persuasif. Hal itu justru menurunkan citra para caleg dan kandidat presiden sendiri, yang (mungkin) mempunyai cita-cita mulia untuk membangun Indonesia agar rakyatnya makmur, aman dan sejahtera.

Dalam dunia pencitraan sendiri, citra dan realitas menjadi dua kutub yang terus tarik menarik. Citra telah berubah menjadi sebuah mesin politis yang bergerak kian cepat. Strategi pencitraan dan teknologi pencitraan dikemas sedemikian rupa untuk mempengaruhi persepsi, emosi, kesadaran, dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan dan keputusan politik tertentu. Citraan-citraan itulah yang dijual dalam pencalonan, kampanye dan janji-janji politiknya.

Memang, politik pencitraan sangat penting dalam demokrasi abad informasi karena melaluinya aneka kepentingan, ideologi, dan pesan politik dapat dikomunikasikan. Akan tetapi, dengan meminjam kalimat Yasraf A. Piliang, “Ia harus dilandasi etika politik karena tugas politik tidak hanya menghimpun konstituen sebanyak mungkin tetapi lebih penting lagi membangun masyarakat politik yang sehat, cerdas, dan berkelanjutan” (hlm. xi).

Akhirnya, Sumbo menyimpulkan bahwa iklan politik dengan memajang wajah mengindikasikan si pengiklan tidak merakyat. Mereka mengutamakan idologi bukan ideologi. Beriklan itu sesungguhnya amat penting, karena beriklan sama dengan berinvestasi. Hanya saja, lanjut Sumbo, beriklan itu tidak sama dengan cara kerja petani yang menanam padi lantas 3-4 bulan kemudian panen. Beriklan dalam politik seperti menanam pohon jati. Lama dan perlu dirawat (hlm. 112).

M IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, pencinta buku, tinggal di Jogjakarta

Minggu, Maret 15, 2009

Membongkar Rahasia Kekayaan Godfather Asia

Resensi ini dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 Juni 2009
Judul: Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa
Penulis: Joe Studwell
Penerjemah: Yanto Musthofa
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: xli + 387 (termasuk indeks)
---------------------------------

Pada 1996, setahun sebelum ‘krisis finansial Asia’ mengubah wajah ekonomi kawasan Asia, majalah Forbes, dalam rilis tahunannya tentang individu-individu terkaya, mendaftar delapan pengusaha Asia Tenggara di antara dua puluh lima teratas dunia dan dan tiga belas di antara lima puluh teratas. Sebuah kawasan kecil, yang secara bersama-sama, tak sanggup mengangkat satu pun perusahaan non-negara di antara 500 perusahaan teratas global.

Namun ternyata, mereka mampu menyumbang sepertiga dari dua lusin orang terkaya di planet ini. Inilah barisan terdepan para godfather Asia, yang masing-masing memiliki harta pribadi lebih dari empat miliar dolar Amerika.


Perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina dikendalikan hanya oleh segelintir konglomerat. Mereka dikenal sebagai godfather Asia. Pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka bisa seperkasa itu? Buku Asian Godfather: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan penguasa mencoba menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Ini adalah sebuah buku tentang sekelompok kecil orang-orang yang sangat kaya—para miliarder Asia—yang muncul dan mendominasi ekonomi kawasan mereka di era pasca Perang Dunia Kedua. Untuk keperluan pembahasan buku ini, Asia Tenggara didefinisikan sebagai lima negara anggota asal Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)—Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina—plus Hong Kong, sebuah tempat yang secara tradisional menjadi pusara sehingga memungkinkannya menjadi bagian dari ‘Cina Raya’ dan Asia Tenggara, sesuai dengan kepentingan dirinya.
Keenam entitas inilah yang menentukan cerita ekonomi kawasan mereka. Menjadi kontributor-kontributor, di kawasan tenggara, yang pada 1993 mendapat julukan sebagai ‘keajaiban Asia Timur’ dari Bank Dunia. Adapun godfather (para miliarder Asia) yang dimaksud di atas (di antaranya) adalah Li Ka-shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Liem Sioe Liong, Tan Yu, Kwek Leng Beng, dan masih ada beberapa lagi.

Berpengalaman sebagai reporter selama belasan tahun di kawasan Asia, Joe Studwell—penulis buku ini—melukiskan secara detail potret diri dan lakon bisnis para godfather : keberanian, kekejaman, kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun kongsi, serta komitmen dan pengkhianatan terhadap politisi, preman, juga triad dan sindikat.

Penggunaan istilah godfather dalam buku ini bertujuan untuk merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia. Adapun inspirasi judul buku ini adalah dari novel dan film Mario Puzo, dengan judul yang sama, Godfather.

Berdasarkan pengamatan Studwill, para godfather Asia adalah elite yang tidak khas, sebuah aristokrasi ekonomi dari orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal. Secara kultural, para godfather Asia adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, berbahasa lebih dari satu dan sepenuhnya terisolasi dari perhatian membosankan dari orang-orang yang dianggap sanak mereka. Lebih dari itu—dan berlawanan dengan prasangka umum—para taipan di kawasan itu jauh dari sifat ke-Cinaan. Hanya minor yang benar-benar Cina dengan afiliasi kultural serta linguistik yang kuat pada Cina.

Para taipan lain memang benar-benar Cina, tapi telah kehilangan banyak afiliasi kultural mereka. Banyak dari mereka orang Eurasia, meski garis darah non-Cina kadang-kadang dipandang sebagai sumber kerendahan martabat dan dinistakan. Terutama dalam sebuah tatanan Cina. Ada pula godfather-godfather yang sama sekali bukan Cina. Buku ini menunjukkan bahwa perilaku mayoritas etnis Cina di kalangan taipan tidak berbeda secara substantif dari ‘para taipan’ Inggris atau Skotlandia di Hong Kong, godfather etnis Spanyol di Filipina atau orang terkaya di Malaysia, yang merupakan orang Tamil Sri Lanka. Mereka didefinisikan, pertama, dalam konteks ke-godfather-an dan, kedua, berdasarkan ras.

Dalam bagian awal, Studwell berusaha mengemukakan struktur organisasi tiap negara atau tiap godfather. Dia mengorganisasinya dengan tema-tema. Sedang bagian dua, yang berjudul “Bagaimana Menjadi Godfather Pascaperang, menggambarkan bagaimana para godfather mengembangkan aliran kas inti, membangun organisasi yang tepat dan mengembangkan kapabilitas perbankan, dengan contoh-contoh untuk mendukung setiap pernyataannya. Semangatnya untuk menghadirkan kasus yang koheren dan memasukkan empat lusin individu ke dalam deskripsi tematis, membuat hasil yang dicapai Studwell terkadang melampui masalah yang digambarkan. Terkadang dengan membuat generalisasi tanpa pendukung, seperti pernyataan Studwell bahwa para godfather tidak memiliki keseimbangan spiritual, justru dalam hal ini Studwell memberikan amunisi kepada mereka yang ingin menghilangkan tuduhan adanya kelas kleptokrasi.

Studwell menghabiskan bertahun-tahun untuk membuat buku yang penting ini yang layak untuk diperhatikan secara serius. Sepuluh persen dari populasi dunia hidup di Asia Tenggara, elite-elite yang sedang berkuasa menyalahgunakan populasi tersebut, dan Studwell melakukan persiapan-persiapan yang solid dalam menunjukkan kepada kita bagaimana penyalahgunaan itu terjadi. Dia berharap karyanya akan menghasilkan pengaruh yang cukup untuk menandingi Lytton Strachey’s Eminent Victorian beberapa abad yang lalu, yang menggunakan karakter-karakter untuk mengecam pembersihan secara luas Victorian English.

Studwell mengemukakan fakta dan pendapatnya bahwa: penciptaan kekayaan riil mestinya menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB); PDB di Asia Tenggara sangat terkait dengan nilai ekspor dari tahun ke tahun (dia mendorong para pembaca untuk mengingat grafik dalam apendik yang membuktikan kasus tersebut); Para godfather tidak memainkan peran dalam sektor bisnis ekspor karena memiliki kompetisi yang ketat, beda halnya dengan sektor monopoli yang tanpa persaingan; Mereka tidak memiliki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah; dan pemerintahan yang lemah (korporasi dan politik) membuat mereka tetap meneruskan monopoli mereka terhadap aset-aset yang mereka kelola.

Pada akhirnya, Studwell menolak bahwa menjadi orang Cina memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan dalam ekonomi, sambil menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis Cina di antara para godfather adalah berasal dari masa kolonial dan pola-pola emigrasi dan bukan dari sifat genetis).

Buku ini kaya dengan data-data dan poin-poin tematis yang luas diberikan secara cukup jelas. Sebuah kajian yang sangat berharga. Tak aneh jika Jeff Andrew, pengamat Asia, dalam endorsement buku ini berkomentar bahwa karya Studwell ini merupakan, “Reportase yang utuh dengan kepekaan sejarah menyangkut orang-orang hebat di balik perekonomian Asia.”

M. IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, pengelola blog http://resensor.blogspot.com

Senin, Maret 09, 2009

Kunci Memenangkan Kampanye Pemilihan

Judul: Komunikasi Politik: Media Massa Dan Kampanye Pemilihan
Penulis: Pawito, Ph.D.
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: xi + 328 (termasuk indeks)
--------------------------------
Sejak dua minggu menjelang diadakannya pemilu presiden Amerika Serikat 2008, hampir semua media di Amerika merilis tajuk rencananya yang berisi dukungan atas Barack Obama.

Sebagian besar media AS sepakat bahwa Obama adalah kandidat presiden yang paling tepat untuk mengurai kekusutan masalah, baik ekonomi maupun geopoltik, di AS. Sebelumnya, Obama dalam kampanyenya membuat slogan yang mampu menyihir warga Amerika, dengan menggantungkan nasibnya pada Obama. Slogan tersebut hanya satu kata, change. Slogan ini sangat efektif karena warga Amerika memang menginginkan perubahan dari pemerintahan sebelumnya yang hampir menenggelamkan negara itu dalam keterpurukan.

Sisi lain, pengemasan pesannya itu, ia hantarkan lewat media baik cetak, elektronik, maupun digital. Di antaranya yang paling efektif adalah melalui YouTube dan Facebook. Kedua media tersebut sangat digandrungi oleh masyarakat luas, dan dapat diakses oleh siapa pun. Belum lagi melalui tokoh-tokoh selebriti baik dari dunia politik, artis, maupun media, ia merangkul dan mendengar aspirasi mereka.

Kemenangan Obama menjadi presiden Amerika dinilai sebagai kemenangan komunikasi politik. Berbagai piranti dan saluran komunikasi, baik yang tradisional maupun non-konvensional, dimanfaatkan secara optimal. Strategi komunikasi politik tim kampanye Obama dan eksekusinya di lapangan sungguh merupakan pameran pemanfaatan media dan elaborasi isu-isu yang efektif dan cukup inovatif.

Fenomena Obama di atas menyiratkan satu hal bahwa komunikasi politik adalah suatu hal penting yang mesti dipelajari bagi siapa pun yang menghendaki pemahaman atas sebuah fakta politik baik sebagai subjek mapun objek. Untuk itu, buku Komunikasi Politik : Media Massa Dan Kampanye Pemilihan ini sangat penting untuk dijadikan referensi. Di dalamnya bukan saja membicarakan realitas komunikasi politik secara umum, tetapi juga memuat tentang konteks keindonesiaan. Dan ini sangat jarang dilakukan oleh penulis lain. Oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat mengisi kekosongan yang sudah lama dirasakan secara luas baik di kalangan akademik maupun kalangan politisi di Indonesia.

Melalui buku ini dijelaskan bahwa komunikasi politik merupakan suatu sub-disiplin ilmu yang tergolong ke dalam ilmu perilaku. Komunikasi politik sebagai sub-dispilin ini lebih berorientasi pada persoalan bagaimana manusia saling berbagi atau menyampaikan pesan-pesan berkenaan dengan urusan penjatahan sumber daya publik, walau pesannya senantiasa tidak steril dari kepentingan (siapa memperoleh apa).

Komunikasi politik sebagai suatu sub-disiplin ilmu berpijak pada dua disiplin ilmu: Ilmu komunikasi dan ilmu politik. Namun, kita sulit mengidentifikasi apakah komunikasi politik lebih dekat dengan ilmu politik ataukah lebih dekat dengan ilmu komunikasi. Perlu diingat bahwa baik ilmu komunikasi maupun ilmu politik adalah sama-sama ilmu perilaku yang karenanya bersifat interdispliner, konsekuensinya, konsep-konsep, pandangan-pandangan teoritik, serta prosedur-prosedur, metodologis pada kedua ilmu sangat dipengaruhi oleh cabang-cabang ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, sejarah, dan ekonomi. Hal demikian sudah tentu berlaku juga pada komunikasi politik sebagai suatu sub-disiplin ilmu.

Buku ini diawali dengan membahas tentang pengertian komunikasi politik serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Secara umum komunikasi politik dipandang sebagai suatu proses. Komunikasi politik merupakan kegiatan yang terus-menerus berlangsung. Artinya, apa yang terjadi sekarang sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang terjadi sebelumnya dan semua akan disambung dengan apa yang terjadi di waktu yang akan datang. Sebagai suatu proses, komunikasi politik dapat dipahami dengan melibatkan setidaknya lima unsur: Pelibat (aktor dan partisipan), pesan, saluran, situasi atau konteks, dan pengaruh atau efek.

Pada bab selanjutnya, buku ini membicarakan tentang pendekatan dan metode penelitian komunikasi. Ada banyak pendekatan dan metode penelitian yang dapat digunakan dalam ranah komunikasi politik. Dalam pendekatan, misalnya, ada pendekatan fungsional, linguistik, lingkungan, institusional, konstruktivisme, uses and gratifications, framing, dan posmodernisme. Sedang dalam metode penelitian, misalnya, kuantitatif, kualitatif, dan multiple-methods.

Kemudian, yang tak kalah penting untuk dibaca dalam buku ini adalah perihal keterkaitan antara media massa dan kampanye, serta pemasaran politik. Mafhum, media massa memiliki kedudukan istimewa dalam kancah politik, terutama pada periode pemilihan, seperti di Indonesia saat ini. Dan kajian mengenai media massa dalam konteks kampanye pemilihan dapat dilakukan dengan menitikberatkan pada, di antaranya: Dampak media terhadap strategi dan jalannya kampanye, pengaruh media terhadap pemilih, iklan kampanye, reportase kampanye, dan isu-isu berkaitan dengan teori demokrasi yang muncul sebagai konsekuensi dari kehadiran media massa.

Melalui buku ini, pembaca diharapkan dapat memahami komunikasi politik sebagai bidang studi yang mencoba berdiri sendiri. Melalui buku ini pula, kita dapat mengetahui para politisi menggunakan komunikasi politiknya, misalnya, pendekatan mana yang digunakan tergantung siapa yang menyampaikan pesan politik dan kepada siapa pesan itu ditujukan. Muatan pesan politisi juga menentukan paradigma komunikasi mana yang digunakan.

Buku ini sangat relevan dengan kondisi negeri kita saat ini, yang sedang beranjak pada periode pemilihan. Para praktisi dan elite politik serta kalangan akademik dan media sangat dianjurkan untuk membaca buku ini. Dengan mengetahui arti dan manfaatnya komunikasi politik dalam tatanan kehidupan politik diharapkan masyarakat sudah menangkap dengan jelas keberadaan model-model komunikasi yang ditimbulkan dalam perpolitikan. Sungguh, peran komunikasi memegang peran penting dalam mengupayakan kepekaan setiap kejadian politik yang berlangsung dewasa ini.

M IQBAL DAWAMI
Dosen STIS Magelang, pengelola blog http://resensor.blogspot.com

Rabu, Maret 04, 2009

Jalan Hidup Seorang Samurai

Judul: The Way Of The Warrior
Penulis: Andrew Matthew
Penerbit: Matahati
Tahun: Desember 2008
Tebal: 199 halaman
--------------------
The Way of The Warrior, sebuah novel legendaris dari negeri sakura yang berlatar belakang peristiwa pertempuran Mikata ga Hara pada tahun 1572. Novel ini berkisah tentang jalan hidup seorang samurai yang diyakini sebagai kelas tertinggi di masa keshogunan Tokugawa.

Menjadi samurai dikenal sebagai jalan ksatria yang berbekal kepiwaian berperang dengan didasarkan loyalitas dan kepatuhan yang tinggi terhadap sang penguasa. Kewajiban utamanya adalah pengabdian yang tanpa ragu kepada tuannya, sampai pada taraf dimana ia bersedia mengorbankan nyawanya jika itu yang diminta darinya.

Seorang samurai akan teguh berpegang pada kode bahwa segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan kehormatan.

Shimomura Jimmu, anak laki-laki berusia 10 tahun putra dari keluarga Shimomura Lord Kensu, kehilangan segalanya ketika sang ayah melakukan seppuku akibat dipermalukan oleh Choju Ankan. Sang ayah dianggap sudah mencorengkan aib keluarganya.

Begitu memalukan hingga sang kaisar memutuskan bahwa nama Shimomura tak boleh lagi ada, dan seluruh harta bendanya harus dikorbankan. Lord Kensu menikam perutnya sendiri, dengan tanto—belati—miliknya. Hanya dengan merobek tubuhnya ia bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa jiwanya akan tetap berani dan murni dalam menghadapi kecemaran. Dan ibunya menelan racun terlebih dahulu, menjalani kematian secara perlahan sekaligus menyakitkan.

Setelah semuanya lenyap, Jimmu hanya punya satu tujuan suci yaitu menjadi seorang samurai untuk membalaskan dendam sang ayah serta memulihkan nama baik keluarganya. Ia melatih diri bersama Araki Nichiren, guru sekaligus ayah pengganti yang dulunya adalah pengawal samurai kepercayaan ayahnya. Jimmu menjalani tujuh tahun lebih dalam gemblengan Nichiren. Sampai usianya yang ke tujuh belas, ketika Nichiren akhirnya menjadi lemah dan menemui kematiannya, Jimmu nyaris bisa mendengar Nichiren melangkah di sampingnya dengan mengulang kata-kata: “Darah Lord Ankan akan membersihkan aib ayahmu, kau harus membalaskan dendam ayahmu dengan membunuh orang itu, dan barulah kau pantas disebut putra Lord Kensu, dan kematianmu akan jadi suatu kebanggaan.”

Dengan modal keahliannya bertarung, Jimmu bertekad menemukan Lord Ankan dan menyamar sebagai samurai yang ingin mengabdi kepada Lord Ankan. Jimmu diterima menjadi penjaga kastil Mitsukage keluarga Choju Ankan dan mulai membuat perencanaan untuk mengintai mangsanya. Ia sudah mempersiapkan segalanya, mempelajari tata letak kastil dan menyelidiki keadaan.

Takdir yang dipilihkan untuk Jimmu telah menyeretnya berada di tengah-tengah kastil Mitsukage, di antara gerombolan penjaga kastil yang seolah melemahkan dirinya sebagai bocah petani yang hina. Namun di situlah Jimmu memperjuangkan reputasinya sebagai samurai tangguh yang tak mudah dikalahkan. Ia mendapatkan kepercayaan berlebih dari Lord Ankan, dan dipercaya menjadi pengawal putri kesayangannya. Gadis yang telah mengagetkannya di tengah malam ketika ia berlatih membuat rute pembunuhan Lord Ankan.

Kisah ini nyaris berjalan mulus dengan peristiwa-peristiwanya yang cukup melegakan perasaan pembacanya. Hanya saja klimaks dari novel ini akan cukup mengagetkan pembaca. Ada intrik yang begitu menegangkan semenjak meletusnya pertempuran antara pasukan Takeda dengan pasukan Ieyasu dan sekutu-sekutunya. Takdir telah menentukan kalau Jimmu harus terjun ke medan perang bersama Choju Ankan. Dan inilah kesempatan yang sudah dinanti-nantikannya, Ankan akan mati di tangannya tanpa sempat mencicipi manisnya kemenangan dalam peperangan ataupun pahitnya kekalahan. Akan tetapi kenyataan menjadi lain, ketika Lord Ankan menunjukkan keberaniannya dan rela mati demi sekutu-sekutunya.

Menjelang akhir kisah ini Jimmu seolah mempertanyakan takdir yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Ia merasa ada sebuah penghianatan dan kebohongan besar dalam kehidupan masa lalunya. Pergulatan batinnya berbicara lain, bertentangan dengan keyakinan yang sudah dicekokkan selama hidupnya bersama Nichiren. Sosok Lord Ankan yang diyakininya sebagai musuh yang keji dan licik justru menampakkan pemandangan yang amat mengesankannya. Jimmu dapat melihat ketulusan yang memancar dari mata Choju Ankan, jauh dengan kenangan dirinya sendiri bersama ayahnya yang kaku dan keras. Terlebih putri Lord Ankan sendiri, Jimmu kerap memimpikannya dan terpesona oleh kecantikannya.

Jimmu gagal menghabisi nyawa Lord Ankan di tengah perang yang memberinya banyak kesempatan untuk membayar semuanya. Perasaannya menjadi kabur, kekuatan dan keteguhan hatinya mendadak surut. Seluruh latihan, perencanaan, serta perjuangannya sia-sia. Semuanya menjadi jelas bahwa ia hanya diperalat oleh pengawal ayahnya yang sangat membenci Lord Ankan saudara tirinya sendiri. Kebohongan Nichiren sudah mengubah diri Jimmu menjadi seseorang yang bukan dirinya. Pada akhirnya Jimmu telah menemukan kebenaran, ia bertekad menjadi samurai Choju Ankan dan bersumpah untuk mengabdikan diri sepenuhnya.

Novel ini sarat nilai sejarah, memiliki gaya bahasa yang menarik dan mudah dimengerti. Banyak hal dalam novel ini yang bisa dipelajari selain dari yang telah penulis sebutkan. Di antaranya kebiasaan bunuh diri di kalangan ksatria Jepang dengan membelah perutnya, yang dikenal dengan istilah seppuku. Juga bagaimana kesetiaan para samurai terhadap tuannya.

M Iqbal Dawami
Penikmat sastra, tinggal di Jogjakarta

Rabu, Februari 11, 2009

Rahasia Di Balik Keberanian Munir

Resensi ini dimuat di surat kabar Koran Jakarta (Rabu, 18 Februari 2009)
----------------------
Judul: Keberanian Bernama Munir:Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir
Penulis: Meicky Shoreamanis Panggabean
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Desember 2008
Tebal: 277 hlm.
--------------------

Angka tahun masehi sudah memasuki 2009. Artinya, lima tahun sudah berlalu kasus Munir. Namun semenjak kematiannya, kini kasus Munir masih saja menggantung. Kasus tersebut berhenti pada Pollycarpus sebagai tersangka. Hal ini menyisakan tanda tanya bagi sebagian besar orang, mungkinkah Pollycarpus seorang diri mengatur kejahatan itu? Sekali lagi, mungkinkah?

Tapi, baiklah, pertanyaan itu kita serahkan saja pada pihak-pihak yang berwenang untuk menjawabnya. Bagi kita saat ini yang paling penting adalah apa yang bisa kita ambil dari mendiang pribadi Munir? Terutama, rahasia apa di balik keberanian Munir dalam memperjuangkan kaum tertindas? Salah satunya adalah melalui buku ini.

Buku karangan Meicky Shoreamanis Panggabean ini mempunyai perspektif berbeda ketimbang buku-buku lain perihal Munir yang sudah ada. Buku ini lebih memotret personalitas Munir dalam kehidupan sehari-hari, mulai sejak kecil hingga dewasa, serta pandangan ia atas beberapa persoalan hidup.

‘De Mortuis nil nisi bonum’, begitulah bunyi sebuah ungkapan Latin, yang bermakna bahwa ‘katakan hanya yang baik saja bagi mereka yang telah mati’. Nampaknya, ungkapan tersebut tidak berlaku untuk disandangkan pada buku ini. Kenyataannya, buku ini memang cukup berimbang dalam menyampaikan sosok almarhum Munir. Sang penulis tidak hanya memotret sisi kelebihannya saja dari sosok Munir, melainkan juga sisi kekurangannya. Oleh karena itu, buku ini bisa diibaratkan sebagai sebuah cermin Munir yang menggambarkan dirinya sebagaimana adanya. Justru, di sinilah sebetulnya keunggulan buku ini, karena ada hal-hal yang kemungkinan besar belum diketahui oleh publik mengenai sosok Munir.

Ada satu ciri yang melekat dari cermin Munir yang sudah diakui oleh semua orang, yaitu keberanian. Munir dikenal sebagai sosok yang berani pada siapa pun, tak terkecuali pada pemerintah (beserta kepolisian dan TNI). Dengan bendera KontraS (Komite untuk Orang-orang Hilang dan Tindak Kekerasan) ia melawan penguasa yang menindas kaum dhu’afa (baca: lemah), seperti para buruh dan petani, serta korban penculikan. Keberanian itulah yang kemudian menjadikan dirinya terpilih sebagai sebagai Man of the The Year 1999 versi majalah Ummat dan The Right Livelihood Award di Swedia (2000), serta penghargaan lainnya.

Penulis buku ini, Meicky Shoreamanis Panggabean, adalah seorang guru dan mantan relawan KontraS saat Munir masih hidup. Oleh karena itu, tulisannya banyak mengungkap hal-hal keseharian Munir. Meicky dengan mudah mewawancarai Munir maupun orang-orang terdekat Munir sebagai narasumbernya. Buku ini juga banyak dihiasi beberapa wawancara eksklusif baik dengan Munir maupun orang lain yang terkait dengan hal-hal sederhana, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini.

Misalnya, siapa saja yang berperan dalam kehidupan Munir sehingga ia terbentuk menjadi pribadi yang fenomenal. Betapa peran ayah-ibu, kakak-kakak, lingkungan, sekolah, guru, istri, anak-anak, dan sahabat-sahabatnya membentuk kepribadian Munir. Hal itu menyiratkan ternyata ada begitu banyak silent heroes (pahlawan tak dikenal) dalam hidup Munir.

Buku yang mencatatat personalitas Munir ini menginspirasikan kita untuk peduli atas kehidupan bermasyarakat dan berani melawan ketidakadilan. Sebenarnya, Munir seperti halnya kita, mempunyai rasa takut, tapi ketakutannya itu dinalar, lalu dikalahkan. “Aku harus bersikap tenang walaupun takut … untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, cuma yang coba aku temukan adalah merasionalisasikan rasa takut …” (hlm. 61).

Selain pandangan di atas, ada hal menarik dari beberapa pernyataan lainnya yang diutarakan Munir mengenai subjek lain. Tentang cinta, misalnya, ia mengatakan tanpa cinta, manusia hanya sekadar hidup, bukan bertumbuh. Tanpa cinta, manusia hanya sekadar bergerak, bukan berkembang. Coba kita simak langsung pandangan dia selanjutnya tentang cinta, perkawinan, dan jodoh. “Kawin itu bukan cita-cita, melainkan sesuatu yang datang sendiri dan nggak bisa dihindari. Kawin datang ketika cinta dan kontraktual untuk bersama ditemukan. Cinta dan perkawinan itu bukan soal fisik, melainkan kebenaran dalam kejujuran menemukan kesesuaian. Ok, jangan berdoa untuk dapat jodoh, tapi berdoalah untuk kebenaran. Karena di situ, cinta akan ditemukan” (hlm. 80-81).

Buku ini pun dilengkapi pelbagai pandangan orang-orang terhadap sosok Munir, mulai dari ibunya, kakak dan adiknya, koleganya, dan istrinya. Anisa, kakak Munir, bercerita tentang sifat Munir masa kecil, “Munir nggak nakal, tapi kalo diganggu, dia nggak keberatan untuk berkelahi. Tapi nggak pernah inisiatif duluan”. (hlm.92). Sedang Jamal, adik Munir, menceritakan, “Dia itu berantemnya profesional, bukan berantem sembarangan. Berantemnya itu spesifik, dia nggak bisa melihat sesuatu yang nggak benar menurut dia. Dia berani, apa pun risikonya, walaupun berantemnya nggak seimbang.” (hlm. 93).

Di mata sang istri, Suci, Munir adalah sosok seorang suami yang begitu mengesankan. Suci bercerita, “Dia adalah seorang ayah bagi anak-anakku. Dia sangat akrab karena pada saat-saat tertentu dia memandikan anak saya, menyuapi anak saya. Bangun pagi, kami nggak langsung bangun, tapi bercengkrama di kamar tidur. Anak-anak berkumpul di dalam kamar terus kita bercanda. Yang paling dia sukai itu memeluk dari belakang. Memeluk anaknya, memeluk istrinya” (hlm. 128). Bahkan tidak hanya itu, di setiap hari libur, Munir mengajak istri dan anak-anaknya menonton, memutar musik keras-keras sambil mengajak anak-anak dan istrinya berjoget.

Kisah kesaksian Suci di atas menyiratkan bahwa sosok Munir bukan hanya keberanian saja yang dapat kita teladani, tetapi juga keharmonisannya dalam keluarga. Semoga kedua hal itu dapat menginspirasi tunas-tunas Munir-Munir muda di Indonesia ini.

Jumat, Februari 06, 2009

Bangkitnya Naga dan Gajah

Judul: The Elephant And The Dragon: Fenomena Kebangkitan India Dan Cina Yang Luar Biasa Serta Pengaruhnya Terhadap Kita
Penulis: Robyn Meredith
Penerjemah: Haris Priyatna&Asep Nugraha
Penerbit: quacana
Cetakan: I, 2008
Tebal: xx + 240
------------------

Awal tahun ini pebisnis Cina telah menancapkan kuku di Benua Afrika. Ekspansi bisnisnya terus berlanjut meski krisis ekonomi global sedang terjadi. Ekspansi ini kebalikan dari tindakan pemodal Barat yang berhamburan keluar dari Afrika.

Visi pebisnis Cina berjangka panjang sehingga krisis tidak menyurutkan minat mereka memperkuat pijakan di benua yang kaya sumber daya alam mineral itu. Alasan utama ekspansi itu adalah mengamankan kebutuhan energi jangka panjang Cina. Visi ini tidak luntur hanya karena krisis ekonomi global, yang memang turut menghunjam sektor keuangan perusahaan Cina. Perdagangan bilateral Cina-Benua Afrika naik 30 persen per tahun sepanjang dekade 2000-an menjadi sekitar 107 miliar dollar AS pada 2008.

Minat Cina di Afrika tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga pembangunan infrastruktur dan teknologi. Huawei Technologies, perusahaan telekomunikasi Cina yang berbasis di Shenzen, juga terus menancapkan kuku bisnisnya di tanah Afrika. Korporasi Cina kini terus sibuk berburu kesempatan baru di Afrika.
Pebisnis India juga senada dengan Cina.

Mereka melakukan ekspansi bisnisnya ke Afrika. Salah satu perusahaan India menyatakan minatnya untuk mengambil alih Luanshya Copper Mines, perusahaan tembaga Zambia, yang berhenti beroperasi Desember 2008. Pada januari 2007, Tata Steel yang pernah melemah membeli bekas British Steel. Saat ini India membuat tiga kali lipat baja dari yang dihasilkan oleh bekas penjajahnya, Inggris. India saat ini mempunyai pabrik baja terbesar di dunia yang dimiliki oleh Arcellor Mittal. Menurut majalah Forbes, Mittal saat ini merupakan orang terkaya nomor empat dunia dengan nilai kekayaan 45 miliar dollar AS.

Sekadar untuk diketahui, India saat ini menjadi negara pencetak milyarder paling cepat. Laporan Kekayaan Asia-Pasifik, yang disusun bank investasi AS, Merril Lynch, dan para konsultan Capgemini menunjukkan sekitar 123.000 milyarder di India pada akhir 2007. Angka tersebut naik 22,7 persen daripada setahun sebelumnya
Melalui buku ini, fenomena di atas menunjukkan bahwa Cina dan India telah menjadi negara besar dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di planet ini.

Karena helai-helai ekonomi global kini telah terajut, perubahan di India dan Cina membentuk masa depan untuk seluruh dunia. Tidak pernah sebelumnya pasar global terhubung begitu eratnya. Dan coba bayangkan apabila perdagangan besar pada jalan sutra digabungkan dengan yang melintasi jalur rempah, dan gabungan perdagangan global ini diperkuat dengan teknologi modern. Kini apa yang dijual oleh India dan Cina ke Barat tidak lagi diangkat dengan unta atau galleon (kapal layar), namun dengan penerbangan kargo, kapal-kapal peti kemas, atau melalui internet.

Buku ini berusaha membantu pembaca memahami betapa dunia kita sedang dibentuk oleh kebangkitan India dan Cina—dua negara yang potensi pengaruhnya pada dekade-dekade mendatang ditakuti sekaligus diremehkan. The Elepehant and The Dragon memerlihatkan bahwa seluruh dunia dapat menyesuaikan diri dengan kebangkitan India dan Cina ini. Melalui buku ini kita dapat memahami mengapa kedua negara itu mengalami transformasi yang begitu cepat.

Metamorfosis Cina dari Negara pertanian ke Negara industri berjalan begitu cepat. Pada tahun 2000, 30 persen pasokan mainan dunia datang dari Cina. Lima tahun kemudian, secara mengejutkan 75 persen dari seluruh mainan baru adalah buatan Cina. Hal ini terjadi pula pada produk-produk lainnya. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir, Cina telah menjadi pembuat sepatu dunia, pengekspor satu dari setiap tiga pasang sepatu di dunia. Cina mengekspor senilai 1,3 miliar dolar suku cadang kendaraan pada 2001, namun mencapai hampir 9 miliar dolar hanya dalam waktu 4 tahun kemudian. Pada 1996, Cina mengekspor komputer, telepon seluler, dan CD player serta barang elektronik lainnya senilai 20 miliar dolar. Hingga 2004 Cina mengekspor senilai 180 milyar dolar, lebih dari Negara manapun di dunia. Negara itu terus mendominasi manufakturing dari satu industri ke industri yang lain.

Sedang embrio kebangkitan India diawali pasca pembunuhan Rajiv Gandhi, Juli 1991. Dari situ kemudian India membuka diri dari dunia. Pemerintah mengizinkan perusahaan-perusahaan dari beberapa industri untuk 100 persen dimiliki oleh orang asing di mana sebelumnya perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di India harus menyerahkan kendali operasi perusahaannya ke tangan pemerintah.

Di sisi lain India juga mencari inspirasi ke Cina. Pada 1994, kepala Negara bagian Andhra Pradesh, N. Chandrababu Naidu, mulai mengirimkan pejabat pemerintahan menuju Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Dia mengirim seluruh legislatornya ke Cina dengan mandat bahwa saat kembali masing-masing harus memberinya paling sedikit dua ide bagaimana India bisa memperbaiki diri. India juga mengizinkan perusahaan swasta dalam bidang telekomunikasi. Implikasinya, pengguna telepon seluler menggelembung dengan pesat. Biaya hubungan jarak jauh turun sampai tiga kali lipat dalam lima tahun, dan tarif untuk mengirim pesan merosot sampai 80 persen. India hanya memiliki 300.000 telepon genggam pada 1996, namun pada 2007, meningkat sampai 150 juta dan orang India membeli hampir tujuh juta telepon genggam setiap bulan. Dari situlah India bangun dari peraduannya.

Melihat fakta di atas, jika India dan Cina yang pernah tertinggal dapat mentransformasi diri, lantas bagaimana dengan Indonesia?