Rabu, Mei 06, 2009

Sejarah Islam Yang Terukir Di Malam Hari

Judul: The Great Nights; 24 Malam Yang Mengubah Dunia Islam
Penulis: DR. Husain Mu’nis
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, maret 2009
Tebal: 180 hlm.
-----------------

“Sejarah direncanakan di malam hari dan terlaksana pada siang hari” (Montesque)

Boleh jadi belum pernah ada buku yang khusus mengulas cuplikan sejarah dari perspektif waktu kejadian, seperti apakah kejatuhan Soeharto terjadi pada waktu pagi, siang, atau sore hari? Jam berapakah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dikumandangkan? Atau dalam dunia Islam, misalnya, kapan wafatnya sang Nabi Saw, pagi, siang, atau malam? dan seterusnya.

Imaji kita seringkali mentahbiskan bahwa acapkali sejarah selalu terjadi pada siang hari. Semua peristiwa seolah-olah hanya dimiliki siang. Dan malam hilang dari pusaran sejarah. Realitasnya, banyak terukir sejarah di malam hari. Tidak terhitung urusan yang direncanakan di malam hari. Buku The Great Nights; 24 Malam Yang Mengubah Dunia Islam yang ditulis Husain Mu’nis hendak membuktikan hal itu. Betapa banyak kejadian-kejadian penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada malam hari. Boleh jadi kejadian itu dirasa sepele, namun sesungguhnya amatlah menentukan.


Di antara kejadian itu adalah kesepakatan di Aqabah yang di dalamnya terdapat rekonsiliasi antara penduduk Yatsrib (Madinah) dengan Rasul Saw. Peristiwa itu terjadi di pertengahan malam. Dan juga saat Shalahuddin al-Ayyubi mengerahkan pasukannya untuk menyerbu ke benteng lawan, ternyata berakhir di malam hari, di mana sebelumnya sudah terjadi pertempuran kecil antara tentara Muslim dengan tentara Salib.

Buku yang ditulis oleh pakar sejarah Islam ini lebih terfokus pada persoalan “sejarah yang tercipta di malam hari”. Ide penulisan subjek ini sendiri muncul ketika sang penulis membaca berbagai buku sejarah Islam, di mana banyak sekali sejarah Islam yang terjadi di malam hari.

Buku ini memuat 24 kisah dunia Islam yang dibagi ke dalam enam bagian. Tapi, pembagian tersebut tidak begitu jelas, berdasarkan kategori apa pembagian itu? Karena setiap bagiannya tidak diberi judul. Untung saja, buku ini langsung membius saya dengan sebuah kisah menarik di bagian pertama, meski tidak diurutan pertama. Kisah itu diberi judul “Selesainya Buku Muqaddimah Karya Ibn Khaldun”.

Nama Ibn Khaldun begitu mendunia. Ia termasuk tokoh yang paling banyak disebut dalam sejarah intelektual. Reputasinya sangat dikagumi oleh kalangan intelektual timur maupun barat, kalangan muslim maupun non muslim. Dirinya bukan saja dikenal sebagai Bapak sosiologi, tetapi juga Bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Ibn Khaldun sejatinya pemikir dan ulama peletak dasar Ilmu Sosiologi dan Politik melalui karya magnum opus-nya, Muqaddimah.
Dalam buku ini diceritakan bagaimana saat-saat terakhir Ibn Khaldun menyelesaikan karyanya itu. “Dengan diterangi sebuah pelita dari lampu minyak, lelaki itu hanyut dalam barisan kertas yang ia tulis. Ia tenggelam dalam buku rujukan yang ia kutip untuk lembaran akhir dari buku yang tengah ia tulis. ‘Telah selesai juz pertama yang mencakup dari pembukaan yang ditulis dalam waktu lima bulan di pertengahan tahun 779 Hijriah. Alhamdulillah, semua ini ditulis pada malam kesembilan dari bulan Jumadilakhir, pada tahun yang telah disebut oleh hamba yang fakir dan senantiasa mengharap rahmat…’” (hlm.33).

Demikianlah, di tengah kebisuan malam, Ibn Khaldun telah dapat menyelesaikan karya master piece-nya. Ia menyelesaikan buku tersebut dalam ketenangan malam, di antara tahun 1373-1378 Masehi.

Kisah yang menarik lain lagi adalah “Wafatnya Ratu Mumtaz Mahal”, yang tak lain cikal bakal dibangunnya Taj Mahal di India. Mumtaz Mahal yang bernama aslinya Arjuman Bano Begum adalah istri seorang raja India dari Dinasti Mughal bernama Shah Jehan. Pada masa itu Islam sedang mengalami kejayaannya. Sejak menjadi pangeran, panglima perang, hingga menjadi raja, Shah Jehan selalu didampingi Mumtaz Mahal baik dalam keadaan senang maupun susah. Kisah cinta mereka tersiar di semua kalangan.

Mumtaz Mahal selalu berada di samping suaminya setiap kali suaminya mendapat ujian hidup. Oleh karenanya, kehidupan sang raja di kerajaan aman dari makar, rasa iri dan dengki. Ia sering memberikan nasihat untuk suaminya. Ia juga sangat memerhatikan kehidupan para wanita fakir. Ia membangun sepuluh pabrik tenun dan sajadah sebagai tempat untuk mempekerjakan para fakir wanita.

Ia pula orang yang kali pertama membangun kantor untuk konsultasi dan penampungan bagi para janda. Ia termasuk perintis gerakan kewanitaan menyamakan taraf hidup wanita dengan kaum lelaki pada waktu itu, seperti mendirikan sekolah dan mengajarkan kepada wanita India untuk membaca dan menulis. Melihat kesetiaan dan prestasinya itu, sang suami begitu kehilangan saat istrinya meninggal. Kematian menjemputnya pada tengah malam, sesaat setelah melahirkan.

Untuk mengabadikan cintanya kepada sang istri, Shah Jehan membangun monumen yang bernama Taj Mahal, yang tak lain diambil dari nama istrinya. Sebanyak 43 jenis batu permata, termasuknya berlian, jed, kristal, topaz dan nilam telah digunakan untuk memperindah Taj Mahal. Pembuatan Taj Mahal memakan waktu selama 22 tahun. “Monumen cinta” ini menjadi salah satu dari Tujuh keajaiban dunia dan termasuk warisan kebudayaan Islam.

Selain dua kisah di atas, masih ada 22 kisah yang tak kalah menariknya, di mana masing-masing kisahnya mempunyai keunikan dan pesan yang berbeda. Misalnya, kisah Al-Maqrizi, ulama tersohor pada masa Daulah Mamalik di Mesir, yang berhasil menulis kitab dengan ketebalan 80 halaman hanya dalam satu malam. Bagaimana prosesnya serta apa saja yang ditulisnya dapat kita baca dalam buku ini. Ada pula kisah seorang wanita yang mampu membiayai sendiri untuk membangun masjid Jami’ di Turki. Dan itu berawal dari sebuah mimpi yang menggetarkan dirinya pada pertengahan malam di bulan Ramadhan.
***

Buku ini selayaknya mendapat apresiasi yang mendalam. Tidak hanya keunikannya karena menulis subjek yang jarang digarap oleh kebanyakan penulis Arab, tetapi juga pesan yang hendak disampaikannya. Maka, tak heran buku dalam edisi aslinya (berbahasa Arab) menjadi bestseller di Timur Tengah, sejak tahun 2002 hingga sekarang, dan mengalami beberapa kali cetak ulang.

Spirit Islam sangat terasa dalam buku ini, meski barangkali penulisnya tidak menyadarinya, karena dalam pendahuluan maupun penutupnya sama sekali tidak menyinggung ajaran Islam yang sejatinya Islam begitu mengistimewakan malam hari. Di antaranya, shalat malam (qiyamullail);yang begitu dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, turunnya Al-Qur’an;kitab suci yang menjadi pedoman hidup dan inspirasi, serta perjalanannya Nabi Muhammad ke Sidartul Muntaha; cikal bakal perintahnya shalat lima waktu.

Tidak hanya itu, di dalam Al-Qur'an pun ada 114 kata ‘malam’, dengan berbagai macam informasinya, antara lain: Waktu yang paling tepat untuk bersujud (Ali-Imran:113), bertasbih (Al-Anbiyaa:20; Thaha:130), mencari hikmah (Adh-Dhukhan:4), mohon ampun (Adz-Dzariyaat:18), beristirahat (An-Naml:86), dijadikan sebagai pelajaran dan mensyukuri nikmat Allah (Al-Furqan:62), merenungi tanda-tanda kebesaran Allah (Al-Isra':1), dan lain-lain.

Dari berbagai informasi tersebut, tampaklah bahwa waktu malam adalah waktu yang istimewa. Suatu waktu yang hebat untuk melakukan perubahan diri menuju kebaikan. Dan buku inilah yang akan menginsiprasi Anda untuk melakukan perubahan itu.***

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, sering menulis dan “bermuhasabah cinta” di pertengahan malam

Minggu, Mei 03, 2009

Menyuarakan Fakta yang Tersembunyi

Judul: Gelegar Gaza; Denyut Perlawanan Palestina
Penulis: Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman
Penerbit: Zahra
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: 196 hlm.
----------------

Di penghujung 2008, dunia tersentak oleh sebuah aksi barbar tentara Israel atas penduduk Gaza, Palestina. Olmert dan para pemimpin Israel lainnya menggempur Gaza selama 22 hari dalam sebuah kampung besar yang tertutup rapat dari semua penjuru. Hasilnya, lebih dari 1500 anak-anak, wanita, dan warga sipil meregang nyawa akibat serbuan peluru dari darat, laut, dan udara. Dan lebih dari 5000 manusia cedera dan cacat.

Aksi demonstrasi untuk mengutuk kekejaman Israel dari Australia hingga Panama membahana. Namun penulis buku ini membeberkan hal yang ironis, di antaranya, di saat maraknya demonstrasi, namun mulut para pemimpin dunia tergagap. Dan lebih parahnya lagi, para pemimpin Arab seolah membiarkan genosida itu, bahkan memberkatinya.

Buku ini mengajak pembaca memasuki lorong waktu penjarahan Palestina sejak berdirinya monster struktural bernama zionisme hingga tragedi genosida di Gaza secara blak-blakan. Buku ini niscaya akan menghentak pembaca dengan pengungkapan fakta yang lebih utuh seputar konflik Palestina, berikut “kabut konspirasi” yang melingkupinya, dan mendudukan persoalan Palestina secara objektif dan adil. Tak lain, usaha ini diakui oleh penulisnya sebagai salah satu bentuk dukungan moral.

Selain di atas, ada hal yang lebih penting lagi dari buku ini, yaitu keprihatinan sang penulis melihat ketidakseimbangan informasi dan opini seputar Agresi Israel atas Gaza. Tidak sedikit orang yang termakan oleh media pro Israel dan Imperialisme AS sehingga beranggapan bahwa serangan Israel atas Gaza yang menelan korban wafat 1500 orang lebih itu merupakan reaksi dari serangan roket Hamas terhadap Israel. Padahal, menurut penulis buku ini, serangan roket-roket sederhana itu merupakan reaksi dari blokade Israel atas darat, udara dan laut Gaza selama lebih dari 2 tahun.

Buku ini terdiri dari lima bagian. Pertama, mengulas legalitas Opsi perlawanan terhadap pendudukan dan penjajahan. Kedua, menggelar dua organisasi Palestina yang memilih perjuangan bersenjata. Ketiga, memaparkan proses demokrasi dan kedudukan politik Hamas di mata publik Palestina. Keempat, mengupas agresi Israel atas Gaza. Kelima, membahas peta politik Timur Tengah antara kubu “moderat”; Mesir—Saudi—Jordan—Fatah, dan kubu “perlawanan”; Iran—Suriah—Hizbullah—Hamas dan Jihad Islami.

Melalui buku ini terungkap bahwa setelah perang 2006, Israel benar-benar gatal untuk menjajal Hizbullah kembali, tetapi tidak memiliki dalih militer atas milisi Syiah itu. Pada pertengahan 2008, Israel berusaha keras memprovokasi pemerintah Presiden George W. Bush untuk menyerang dengan dalih program nuklir Iran yang dicurigai bertujuan militer; sebuah serangan yang nantinya diharapkan akan memprovokasi Hizbullah juga. Namun kali ini, Washington masih sedikit waras.

Tekanan krisis keuangan dan jatuhnya popularitas Bush di mata rakyat AS setidaknya menjadi faktor keengganan AS untuk menuruti keinginan Israel. Tinggallah Israel gigit jari. Kredibilitas Israel untuk melakukan teror turun satu tingkat lagi. Bagi Israel, tampaknya inilah saat yang tepat untuk menemukan sebuah target yang lemah sebagai sasaran penghancuran. Dan Gaza adalah “lokasi latihan menembak” favorit Israel, meskipun di sana ada pejuang-pejuang Palestina yang pada Juni 2008 memaksa Israel untuk menyepakati gencatan senjata.

Sejak pertengahan 2007, jalur Gaza, sebuah wilayah yang tidak mencapai setengah luas Jakarta dan padat dihuni oleh lebih dari 1,5 juta populasi, diblokade dari darat, laut, dan udara. Penduduknya dipaksa bergantung hidup dari bantuan kemanusiaan yang aksesnya juga dibatasi. Hidup tanpa pilihan di bawah blokade yang ketat seperti itu mengharuskan mereka bertindak, dan perlawanan adalah satu-satunya pilihan. Mereka menggali terowongan-terowongan sempit melintasi perbatasan demi meneriakkan perlawanan terhadap ketidakadilan yang ditimpakkan kepada mereka.

Walhasil, membaca buku ini kita menjadi maklum mengapa penduduk Palestina melakukan perlawanan. Selain hal di atas, perlawanan mereka sebenarnya dilegitimasi Resolusi PBB no. 37/43 yang berbunyi: “Menegaskan lagi legitimasi perjuangan bangsa-bangsa bagi kemerdekaan, integritas teritorial, kesatuan nasional, dan kebebasan dari penjajahan dan dominasi asing dengan semua cara yang tersedia, termasuk perjuangan bersenjata” (hlm. 16). ***

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang



Rabu, April 29, 2009

Belajar Pada Klub Sepakbola Eropa

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 23 Mei 2009
Judul: Raksasa Klub Bola Eropa
Penulis: Zaidan Almahdi
Penerbit: Harmoni
Cetakan: I, 2008
Tebal: 215 hlm.
------------------

Kini, Liga Champions Eropa sudah memasuki semi final. Anehnya, dari tahun ke tahun hanya klub-klub itu saja yang menjadi langganan perdelapan final hingga final, seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Bayern Munchen. Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang mengapa tim-tim di atas tersebut selalu mendominasi babak-babak akhir Liga Champions? Apa sesungguhnya rahasianya?

Dalam buku ini terdapat jawaban atas pertanyaan di atas. Zaidan Almahdi, penulis buku ini, mengungkapkan bahwa salah satu rahasia mengapa tim-tim di atas tersebut selalu mendominasi babak-babak akhir Liga Champions, tak lain terletak pada bisnis yang dijalankan oleh tim tersebut.

Kombinasi penghasilan dari hak siar televisi, penonton yang berlimpah, serta pemasaran merchandise membuat tim-tim tersebut berlimpah uang. Dengan uang itu mereka bisa mengontrak pemain bagus dan manajer hebat.

Di benua Eropa, sepakbola sudah menjadi industri besar yang menghasilkan uang jutaan dolar baik bagi pemain, manajer, maupun klub. Michael Ballack, misalnya, dari Chelsea FC mendapat gaji perpekan sebesar 2 miliar rupiah. Padahal masih ada 10 pemain lagi yang harus dibayar oleh Chelsea FC. Hal ini memberi sinyal bahwa pemasukan klub Chelsea FC amat luar biasa.

Buku ini berbicara mengenai legenda-legenda klub raksasa di Eropa, yaitu Manchester United (MU), Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Bayern Munchen. Dijelaskan di dalamnya bahwa klub-klub tersebut sebetulnya berawal dari klub kecil yang kenyang dengan kekalahan dan kebangkrutan. Tapi mereka terus belajar dan belajar sehingga berkembang menjadi legenda-legenda Eropa dan menjuarai berbagai macam kompetisi baik tingkat domestik maupun internasional, bahkan kejuaraan antar klub dunia. MU, misalnya, pada awalnya hanya tim yang terdiri dari para pekerja jalan Kereta Api. Di awal-awal tahun pendiriannya mereka selalu kalah dari klub-klub lainnya. Namun, seiring waktu berjalan, klub ini menjadi klub raksasa hingga saat ini.

Klub-klub yang disebutkan di atas menjadi besar ternyata didukung oleh manajemen yang baik, pemilik klub yang punya visi dan misi, serta pendukung yang fanatik. Semuanya itu akan membentuk suasana kondusif bagi para pemain bintang untuk menorehkan prestasi di lapangan hijau dan mengeluarkan segala kemampuannya. Para klub raksasa itu tidak hanya mendapatkan penghasilan dari tiket penonton di stadionnya, tapi mereka juga dibanjiri uang dari setiap tayangan pertandingan yang disiarkan di televisi, pemasukan saham dari bursa efek, kontrak dari sponsorship, dan penjualan merchandise. Misalnya saja untuk Football Association (FA) di Inggris, Barclaycard, sebuah perusahaan bonafid, berani menandatangani kontrak sebesar 49 juta poun untuk 3 musim di tahun 2001, itu belum termasuk sponsor bagi para klub raksasa ini yang jumlahnya jauh lebih besar. Tidak heran jika para klub ini mampu membeli dan menggaji tinggi para pemain bintang.

Melalui buku ini semoga kita dapat mengambil pelajaran bagi dunia sepakbola tanah air, yang semakin gersang prestasi dan (malah) semakin subur kerusuhan baik yang disebabkan oleh suporter maupun pemain. Mengaca pada manajemen klub-klub Eropa di atas, kita harus mendorong klub-klub sepakbola di Indonesia agar menjadi profesional dan tidak menggantungkan pada APBD saja, tapi bisa mencari sponsor sendiri dari perusahaan-perusahaan daerah atau nasional, menjual merchandise-nya, dan mendapat hak tayang dari televisi. Untuk itu, buku ini sangat layak dijadikan daftar bacaan bagi yang peduli atas nasib sepakbola Indonesia dan yang hobi dengan dunia sepakbola.***

M. IQBAL DAWAMI
Staf pengajar STIS Magelang, mantan pemain sepakbola amatiran tingkat desa dan kecamatan di Pandeglang

Minggu, April 26, 2009

Hegemoni Yahudi

Resensi ini dimuat di surat kabar Seputar Indonesia pada 03 Mei 2009

Judul : Rahasia Bisnis Yahudi; Bagaimana Pengusaha Yahudi Mengendalikan Amerika, Negara-Negara Muslim&Dunia Dengan Kekuatan Ekonomi
Penulis : Anton A. Ramdan
Penerbit : Zahra
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 208 halaman
-----------------------

Cina dan Yahudi adalah sampel yang tepat untuk masuk pada kategori pernyataan berikut ini: Jika suatu bangsa memiliki sistem bisnis yang kuat, maka walaupun tidak memiliki komoditas sendiri mereka bisa mengolah komoditas bangsa lain demi menghasilkan keuntungan. Bahkan, keuntungan yang mereka dapat jauh lebih besar dibanding bangsa yang memiliki komoditas itu sendiri.

Harus diakui, saat ini, di antara bangsa-bangsa di dunia, Cina dan Yahudi terlihat memiliki kekuatan bisnis yang lebih unggul dan bernilai lebih. Semua orang sudah mengetahui bagaimana kehebatan bisnis orang-orang Cina di setiap negara yang mereka tempati. Mereka selalu bisa beradaptasi untuk menjalankan bisnisnya. Seringkali bisnis yang mereka jalankan lebih hebat dibanding bisnis yang dilakukan oleh orang-orang asli atau pribumi.

Nah, begitu juga dengan Yahudi. Penulis buku ini, Anton A. Ramdan, mengatakan bahwa bangsa Yahudi memiliki hegemoni yang lebih kuat lagi ketimbang Cina, bahkan bisa dibilang merajai bisnis seluruh dunia. Apalagi pasca Perang Dunia II, sepak terjang para pebisnis Yahudi terlihat semakin menjadi-jadi. Perusahaan demi perusahaan mereka bangun hingga akhirnya menjadi kerajaan bisnis yang luas hingga ke setiap negara di dunia. Berbagai bidang bisnis pun mereka kuasai, dari bisnis retail, barang tambang, industri, perbankan, hingga teknologi mutakhir.

Di setiap bidang bisnis, selalu pebisnis Yahudi yang berjaya. Dan tidak hanya lahan bisnis, para pebisnis Yahudi juga mengendalikan berbagai institusi pendukung bisnis, seperti IMF dan World Bank. Lebih nekat lagi, mereka pun berani mempengaruhi institusi politik apa pun taruhannya, asalkan bisa mendukung kemajuan bisnis mereka. Contohnya Amerika Serikat. Melalui negara ini, para pebisnis Yahudi mampu mempengaruhi institusi politik berkelas internasional lainnya, seperti IMF dan World Bank.

Kaum Yahudi dapat melakukan itu semua karena mereka memiliki satu sistem bisnis dan ikatan kebangsaan yang lebih kuat dari bangsa mana pun. Mereka memiliki suatu sistem bisnis buatan mereka sendiri yang kemudian mereka sebarkan ke seluruh negara di dunia, dengan harapan bangsa-bangsa lain tunduk di bawah sistem tersebut.

Secara nalar, jika bangsa Yahudi merupakan pembuat sistem bisnis yang kini berlaku di seluruh dunia, maka pastinya merekalah yang paling jago menjalankan sistem ini. Contohnya sistem perbankan dengan riba (bunga?). Sistem riba merupakan sistem bisnis terkuat yang dimiliki oleh tangan-tangan bisnis bangsa Yahudi. Sistem itu diperkuat dengan adanya ikatan kuat di antara mereka, yang tidak lain adalah ikatan berdasarkan ras atau etnis yang terjalin sejak dahulu kala ketika pertama kali peradaban mereka terbentuk.

Ketika Muhammad diutus oleh Tuhan ke tanah Arab, di sana sudah hidup dan menetap orang-orang Yahudi. Kehidupan bisnis di Madinah dikuasai oleh bangsa Yahudi. Komoditas-komoditas penting mereka kuasai. Mereka juga memberi dana pinjaman dengan riba kepada kabilah-kabilah Arab yang sedang berperang dan tentu juga dengan jaminan. Biasanya, dana tersebut digunakan untuk membiayai semua keperluan peperangan. Hal ini sangat merugikan kabilah-kabilah Arab yang sedang berperang, mereka harus mengembalikan dana yang dipinjamkan oleh kaum Yahudi tersebut. Dengan demikian, tidak heran jika kondisi sosial dan ekonomi bangsa Arab ketika itu sangat memprihatinkan sebagai akibat praktik riba yang dijalankan oleh orang Yahudi. Keadaan ini sangat menguntungkan kaum Yahudi, karena dengannya mereka dapat mengendalikan bisnis dan perpolitikan di Madinah ketika itu.

Nampaknya kedigdayaan Yahudi semakin menjadi-jadi pada abad 19 hingga saat ini. Motivasi mereka tidak saja meraup materi, tetapi juga non-materi. Di satu sisi mereka berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan uang, dan di sisi lain mereka juga berjuang untuk menguatkan fanatisme ras. Kedua motivasi tersebut saling melengkapi dan saling mendukung. Motivasi seperti inilah yang mampu membentuk kekuatan mereka sehingga mereka mampu mendirikan sebuah imperium bisnis di mana-mana.

Kelompok mayoritas dari orang-orang Yahudi yang bermotivasi ganda ini kemudian dikenal dengan nama zionis. Kelompok zionis ini memiliki banyak SDM berkelas internasional. Tidak hanya pebisnis, tetapi juga para politikus, dokter, ekonom, penulis, jurnalis, teknokrat, dan beragam profesi lainnya. Para tokoh berpaham zionisme inilah yang berusaha dengan segala cara untuk menggenggam dunia dan memainkannya sesuka hati mereka.

Etnis Yahudi hidup menyebar di berbagai penjuru dunia. Mereka hidup dan tinggal di berbagai negara di semua benua: Amerika, Eropa, Australia, Afrika, dan Asia. Penyebaran orang-orang Yahudi di berbagai wilayah dunia turut membawa penyebaran bisnis mereka ke berbagai negara yang mereka tempati.

Dengan jaringan bisnis waralaba (franchise) dan Multi Level Marketing (MLM), Yahudi telah melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di antara perusahaan-perusahaan milik Yahudi yaitu: General Electric, Carrefour, Nestle, Caltex, Exxon, Coca-Cola Company, dan McDonalds. Tidak lupa pula dengan perusahaan telepon genggam terlaris, Nokia, yang didirikan oleh keturunan yahudi, Fredrik Idestam.

Hampir di semua aspek Yahudi menguasainya. Dalam media massa, Yahudi telah menguasai American Broadcasting Companies (ABC), Columbia Broadcasting System (CBS), National Broadcasting Company (NBC), The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Pos. Dunia hiburan nomor satu sejagat bernama Hollywood juga dikuasai oleh mereka. Sebut saja produser dan sutradara film seperti Steven Spielberg, William Selig, Jesse Lasky, Samuel Goldwyn, dan Adolph Zukor. Di dalam bisnis penerbitan, Yahudi juga menunjukkan dominasinya, seperti Random House, Simon&Schuster, dan Time Book, inc. Ketiga penerbit ini mempunyai jaringan yang luas dan kuat. Dengan penguasaan media, Yahudi dapat mengendalikan opini publik di media cetak maupun elektronik.

Penulis buku ini mengingatkan bahwa ada satu hal yang mesti dipahami oleh pembaca bahwa Zionisme mempunyai tim yang ditugaskan untuk melakukan lobi ke lingkaran elite negara. Tim ini bertujuan agar semua rencana bisnis zionis dapat berjalan lancar. Di Amerika Serikat, kaum zionis memiliki tim lobi khusus yang dikenal dengan sebutan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). AIPAC sangat berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan di kongres Amerika.

Tidak hanya itu mereka juga mengendalikan PBB, IMF, dan World Bank. Mereka memainkan pasar modal dan uang, misalnya, apa yang dilakukan oleh George Soros, seorang Yahudi, dalam meluluhlantahkan perekonomian Asia dengan berspekulasi di pasar mata uang. Anton juga mengingatkan bahwa kaum Yahudi juga menjerat negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Negara-negara ini terus menderita karena terjerat utang yang disodorkan oleh IMF dan World Bank yang dikendalikan zionis tersebut.

Buku ini sangat layak untuk dijadikan referensi mengenai peta jaringan bisnis Yahudi. Misi penulis buku ini barangkali hendak mengajak masyarakat Indonesia untuk bangun dari tidur panjangnya, dan memperlihatkan peristiwa di balik yang terjadi di dunia saat ini, baik secara politik maupun ekonomi, yang tak lain adalah adanya campur tangan Yahudi.***

M. IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, tinggal di Yogyakarta

Minggu, April 19, 2009

Nasihat Arvan Bagi (Calon) Politisi

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 16 April 2009
Judul: Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: 130 hlm.
----------------

Setelah selesai pemilu calon legislator (caleg) pada 9 April 2009, tiba-tiba marak sekali pemberitaan di media massa mengenai para mantan caleg yang menderita gangguan jiwa, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Hal itu disebabkan pendapatan suara mereka di bawah rata-rata, alias minus, sehingga mereka tidak bisa lolos menjadi anggota dewan. Kenyataan itu mengindikasikan adanya ketidaksiapan para caleg untuk kalah dalam bertarung.

Mestinya, mereka yang gagal menjadi anggota dewan bersyukur, karena menjadi politisi tidaklah mudah, penuh dengan godaan dan tantangan. Dengan kata lain, kebahagiaan akan teramat sulit untuk diraih jika sudah berada dalam tampuk kekuasaan. Sebaliknya, bagi mereka yang akan terpilih menjadi anggota dewan tidak perlu besar kepala. Justru mereka harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi hidup “sengsara”, alih-alih mendapatkan kebahagiaan.

Buku Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi karya Arvan Pradiansyah akan membuktikannya. Ia mengatakan bahwa seorang politisi tidak akan mendapatkan kebahagiaan jika praktik untuk mendapatkan status sebagai politisi dilakukan dengan prinsip ‘demi kepentingan dan kekuasaan’ semata. Logikanya, bahwa pada saat nyaleg dan masa kampanye para caleg mengeluarkan dana yang sangat besar. Harga yang harus dibayar seorang caleg untuk mendapatkan kursi di DPR saja sedikitnya Rp 1 miliar, sedangkan untuk menduduki kursi di DPRD, paling sedikit Rp 500 juta. Belum lagi untuk biaya kampanyenya yang kurang lebih jumlahnya sama dengan ongkos daftar jadi caleg tersebut.

Materi yang sangat tidak sedikit itu sangat berdampak pada saat si caleg itu memenangkan pemilunya (jika sekiranya memang menang). Pada saat si caleg sudah menjadi resmi menjadi anggota legislatif, kira-kira apa yang ada dalam benaknya itu? Arvan menduga kuat bahwa para anggota legislatif yang baru memenangkan pemilu itu mengawali agenda pribadinya dulu, yaitu membalikkan modal yang pernah ia keluarkan dahulu saat daftar jadi caleg dan kampanye. “… Kalau Anda mengatakan bahwa Anda akan langsung berjuang untuk rakyat, saya yakin semua orang tahu bahwa Anda sedang berbohong. Bukannya saya tidak percaya bahwa ada orang yang mau berjuang untuk rakyat. Sama sekali tidak. Tapi, saya yakin bahwa sebelum Anda memulai perjuangan yang suci itu, ada sebuah ‘perjuangan’ lain yang sedang berkecamuk di dalam diri Anda. Perjuangan yang saya maksud adalah berjuang untuk mendapatkan uang Anda kembali!” (hlm. 17).

Nampaknya sangat logis pernyataan Arvan di atas. Pasalnya, sebagaimana hukum bisnis, bahwa tidak mungkin ada orang di dunia ini yang mau mengorbankan uang dalam jumlah yang sangat besar bila ia tidak yakin akan mendapatkan keuntungan yang besar pula, minimal sepadan.

Selain itu, Arvan pun menerapkan tujuh konsep kebahagiaan yang ia ciptakan—yaitu dalam buku The 7 Laws of Happines (2008)—untuk memperkuat argumentasinya, dalam rangka menjawab mengapa para politisi tidak akan bahagia meskipun mereka telah duduk di lembaga legislatif ?

Tujuh konsep kebahagiaan yang Arvan maksud, pertama adalah sabar. Bagi Arvan, bersabar adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Apakah para politisi dapat melakukannya? Ternyata tidak. Mereka sangat sulit untuk menyatukan badan dan pikirannya. Saat badannya sedang berhadapan dengan rakyat tapi pikirannya sibuk dengan hal lain. Saat penghitungan suara pemilu caleg masih berlangsung, namun para sudah meributkan koalisi, berbagi jabatan (presiden dan wapres), serta berbagi kekuasaan.

Kedua, adalah syukur. Kata Arvan, salah satu hal yang dapat menimbulkan rasa syukur adalah selalu melihat ke bawah, karena dengan begitu kita akan mampu berdamai dengan segala kekurangan kita dan merasa puas dengan apa adanya kita. Tapi, bagi politisi kata-kata puas sangat jauh dari hidup mereka, “Kalau mereka selalu puas, bagaimana mereka bisa berpolitik” ujar Arvan.

Ketiga, adalah sederhana, baik dalam cara berpikir maupun gaya hidup. Sudah dapat dipastikan konsep kebahagiaan ini sangat sulit diterapkan oleh politisi. Kondisinya amat sangat tidak memungkinkan untuk hidup berpola sederhana.

Keempat, adalah cinta. Kita semua sudah mafhum bahwa dasar dari hubungan antarmanusia adalah cinta. Dan dengan memberikan cintalah kita akan merasakan kebahagiaan. Tapi, bagi politisi menerapkan cinta adalah yang kesekian, bahkan boleh jadi tidak ada. Dalam berpolitik yang menjadi dasar dari hubungan antarmanusia adalah kepentingan. ‘Tidak ada persahabatan abadi yang ada adalah kepentingan abadi’, barangkali adagium itu pas dalam menggambarkan dunia politik.

Kelima adalah memberi. Dalam artian memberi tanpa mengharap balasan. Inilah tindakan memberi yang tertinggi. Nampaknya, konsep ini pun teramat sulit untuk dilakukan politisi, karena rumus utama dalam politik bukanlah memberi (giving), tapi mendapatkan (getting).

Keenam adalah memaafkan. Untuk meraih kebahagiaan sifat pemaaf sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Karena, sejatinya memaafkan bukanlah untuk kepentingan orang yang menyakiti kita, tapi untuk kita sendiri. Dalam dunia politik, seringkali amat sulit menjadi pribadi yang pemaaf. Justru yang ada adalah menyerang balik atas apa yang dilakukan lawan politiknya, seperti mengungkit masa lalunya yang negatif.

Ketujuh adalah berserah atau pasrah kepada Tuhan. Menurut Arvan, berserah yang paling membahagiakan bukanlah meminta sesuatu kepada Tuhan, melainkan benar-benar berserah. Sedang bagi politisi jauh dari berserah semacam itu. Doa mereka hanya satu: Meminta kemenangan kepada Tuhan, tak peduli kemenangan tersebut baik atau buruk bagi mereka. Hal ini akan sangat tidak membahagiakan saat mereka tidak dikabulkan doanya.

Namun, Arvan menggarisbawahi bahwa tujuh konsep kebahagiaan itu bukan harga mati yang tidak bisa diupayakan oleh politisi. Mereka bisa mengupayakannya, dengan catatan mereka mampu meningkatkan derajat statusnya bukan sebagai politisi, tapi negarawan yang semangat hidupnya mempraktikan ketujuh konsep tersebut, di mana salah satunya adalah senang memberi tanpa pamrih.

Buku Arvan ini sangat layak direkomendasikan pada para politisi baik yang baru memenangkan pemilu kemarin maupun yang sudah berpengalaman.***

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang


Minggu, April 12, 2009

Rekonstruksi Sejarah Indonesia

Resensi ini dimuat di Koran Seputar Indonesia pada Minggu 10 Mei 2009
Judul: The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan
Penulis: R.E. Elson
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: xxxiii + 543 hlm. (termasuk indeks)
-----------------------------------------

Tak dapat dipungkiri bahwa yang paling banyak mengetahui sejarah terbentuknya Indonesia adalah justru kaum sejarawan yang bukan berasal dari Indonesia. Ironisnya, kenyataan itu sama sekali tidak membangkitkan emosi para sejarawan Indonesia.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah para cendekiawan Indonesia sudah puas dengan kehidupannya sekarang ini, atau kah sibuk dengan urusan pragmatis semisal proyek-proyek yang menggiurkan demi memenuhi hasrat para penguasa? Padahal perihal merekonstruksi asal-usul Indonesia sangatlah penting ditulis oleh orang Indonesia, agar tidak bias dengan hasil-hasil penelitian dari pihak asing.

Dampak dari ketiadaan para sejarawan Indonesia adalah banyaknya generasi muda tercerabut dari pemahaman akar sejarah Indonesia sendiri.


Salah satu teranyar dari sejarawan asing mengenai asal-usul terbentuknya Indonesia adalah The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan karya R.E. Elson. Buku ini hendak berusaha mengenalkan kembali serta mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Tidak hanya itu, ia juga menelusuri lebih jauh tentang berbagai jalan berliku yang telah dilalui Indonesia hingga mampu eksis sampai sekarang.

Menurut Elson esksistensi Indonesia menjadi suatu negara-bangsa merupakan sebuah keajaiban dan kemukjizatan. Hal yang menjadi pertimbangannya adalah banyaknya tantangan serta bentuk-bentuk pemerintahan yang dilaluinya teramat rumit dan musykil untuk dilalui. Kemunculan nama ‘Indonesia’ sendiri menjadi bahan silang pendapat antar sejarawan.

Sebut saja, JR Logan, misalnya, sejawaran Belanda dan editor majalah The Journal of the Indian Archipelago and eastern Asia, disebut sebagai orang pertama yang menggunakan istilah “Indonesia” bagi nama penghuni dan wilayah gugusan nusantara secara geografis. Logan mengatakan, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shirter synonym for the Indians or the Indian archipelago… , we thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Logan menyebut Nusantara sebagai kepulauan Hindia-Timur, karena sebagian besar dari penghuninya adalah dari ras Melayu yang kemudian berbaur dengan ras Polinesia. Ia pun membagi Indonesia dalam empat wilayah geografis: Indonesia Barat (Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa dan pulau-pulau antara), Indonesia Timur-Laut (Formosa hingga gugusan kepulauan Sulu dan Mindanao, termasuk Filipina hingga kepulauan Visaya); Indonesia Barat-Daya (dari pantai Timur Kalimantan hingga Papua Nugini, termasuk gugusan kepulauan di Papua Barat, Kai dan Aru); Indonesia Selatan (gugusan kepulauan selatan Tans Jawa, antara Jawa dengan Papua Nugini atau dari Bali hingga gugusan kepulauan Timor).

Hal senada juga dikatakan Windsor Earl bahwa ”Indu-nesians” menerangkan penduduk kepulauan nusantara termasuk ciri etnografis yang merupakan bagian dari rumpun Polinesia yang berkulit sawo matang. Earl mempermasalahkan bahwa penduduk di kepulauan nusantara ini tidak dapat disamakan dengan penghuni kepulauan Ceylon (kini Sri Lanka), Maldives atau Laccadives di Samudera Hindia dari ras India. Sedang antropolog Prancis, E.T. Hamy pada 1877 mendefinisikan kata ”Indonesia” sebagai rumpun pre-Melayu yang menghuni nusantara. Pendapat ini juga diikuti antropolog Inggris, A.H. Keane pada 1880.

Multatuli (nama lain dari Eduard Douwes Dekker), melalui karya monumentalnya, Max Havelaar (1859) memperkuat teori Logan tersebut. Multatuli menyimpulkan bahwa semua yang digagaskan JR Logan merupakan sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran yang semakin menguatkan seluruh masyarakat dunia bahwa pada dasarnya gagasan Indonesia terbentuk jauh pada abad-abad lampau.

Istilah Indonesia lambat laun mulai berkembang dan sejak 1910-an digunakan oleh antropolog Belanda seperti Wilken, Kern, Snouck Hurgronje, Kruyt, dan yang lainnya, semuanya dengan makna yang sama. Dari situ pula, telah didirikan Fakultas Indologi di Universitas Leiden untuk mempelajari Indonesia.

Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna politis (dalam bentuk 'Hindia' yang harus merdeka) oleh Abdul Rivai, Kartini, Abdul Moeis, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, Ratulangie dan lain-lain antara 1903-1913. Nama 'Indonesia' mulai santer, namun dengan bobot politis yang sama dengan 'Hindia', di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Leiden semasa Perang Dunia I sekitar 1917. Sam Ratulangie yang juga termasuk dalam kelompok peduli Indonesia di Belanda giat pula mempopulerkan nama Indonesia di tanah air. Misalnya ketika mendirikan perusahaan asuransi di Bandung dengan nama, Indonesia pada 1925.

Nama Indonesia mulai berkembang sebagai perangkat perjuangan identitas bangsa yang terdiri dari masyarakat berbudaya majemuk dilandasi semangat solidaritas kebersamaan. Sebagai hasilnya, Indische Vereeniging, berubah menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia pada 1918. Namun dalam perkembangannya hingga kini, terminologi Indonesia lebih dilekatkan pada negara Indonesia. Indonesia dalam terminologi Logan berubah menjadi beberapa negara, termasuk Indonesia, Singapura dan Malaysia. Penang masuk Malaysia. Semenanjung Malaka dan Pulau Sumatra, yang kebudayaannya kental Melayu, terpisah menjadi dua negara. Papua Barat, yang sama sekali tak masuk dalam khayalan Logan, malah masuk wilayah Indonesia. Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara berbeda karena mulanya mereka disatukan secara administrasi oleh dua kerajaan Eropa yang berbeda: Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda.

Setelah puas memaparkan asal-usul istilah Indonesia dan cakupannya dari pelbagai pendapat, pada bab-bab selanjutnya Elson melangkah pada bahasan mengenai sejarah intelektual Indonesia awal dari gagasan dan ide terbentuknya Negara Indonesia dengan begitu detail dan komprehensif. Sungguh, usaha ini patut diacungi jempol, karena dilakukan olehnya yang notabene-nya sebagai sejarawan non-Indonesia dan pembahasan mengenai ini telah luput dari pandangan sejarawan Indonesia sendiri.

Hal yang patut diapresiasi juga adalah cara penyajian Elson dalam membedah politik Indonesia yang sangat memukau. Ia piawai pula cara menggambarkan para tokoh politik Indonesia saat berkomunikasi dengan rakyatnya. Buku ini merupakan sejarah Indonesia penting untuk ditelaah, agar masyarakat Indonesia tidak melupakan sejarah nenek moyang terlebih para sejarawan Indonesia.

M.IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, keturunan jawa-sunda, Tinggal di Yogyakarta

Selasa, April 07, 2009

Taubatnya Mantan Bandit Ekonomi Dunia

Judul : John Perkins; Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional
Penulis : John Perkins
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Tahun : I, Maret 2009
Tebal : xxviii + 465 halaman
----------------------------

John Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia.

Buku ini adalah buku keduanya, setelah Confessions of an Economic Hit Man (2004). Dan boleh dikata buku ini sebagai lanjutan dari buku pertamanya tersebut. Perkins menyebut dirinya sebagai bandit ekonomi (Economic Hit Man; EHM) yang bekerja di perusahaan konsultan MAIN yang bermarkas di Boston, AS.

Sebagaimana halnya buku pertamanya, buku keduanya juga merupakan sebentuk pengakuan dosa dan kesaksian seorang ekonom bayaran Amerika Serikat yang ditugasi untuk menciptakan ketergantungan ekonomi negara Dunia Ketiga dan terbelakang melalui politik utang kepada negara adikuasa.

Perkins menceritakan bagaimana profil seorang agen terselubung hasil rekrutmen National Security Agency (NSA), organisasi spionase Amerika yang paling sedikit diketahui tapi terbesar. Perkins dan teman-temannya berperan sebagai agen spionase terselubung. Mereka membuat economics forecast untuk suatu negara klien korporatokrasi. Dan tugas utama mereka adalah menerapkan kebijakan yang mempromosikan kepentingan korporatokrasi (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi) Amerika sambil menyatakan minat mereka untuk mengurangi derajat kemiskinan di negara Dunia Ketiga yang kaya akan sumber daya alamnya, baik yang ada di Asia, Afrika, Timur Tengah, maupun Amerika Latin.

Bantuan utang luar negeri yang selama ini ditawarkan lembaga-lembaga donor seperti IMF dan World Bank telah dikondisikan agar negara penerima donor menjadi sangat bergantung pada negara penyokong donor. Negara pendonor akan berada di atas angin. Ia bebas mendiktekan kebijakan ekonomi dan menuntut ketaatan negara penerima bantuan. Salah satu diktenya adalah negara yang diberi donor tersebut diharuskan mengizinkan perusahaan-perusahaan global untuk membangun proyek-proyek yang menciptakan laba sangat besar untuk para kontraktornya dan memperkaya sekelompok kecil elite dari bangsa penerima utang luar negeri.

Dari situ dapat dipastikan bahwa yang menjadi tujuan pendonor dana adalah agar negara penerima utang memiliki kesetiaan politik untuk jangka panjang sampai kekayaan alamnya habis. Indonesia adalah korban pertama Perkins. Ia menyebutkan, Indonesia merupakan negeri kepulauan terbesar yang kaya sumber daya alam, khususnya minyak. Hal ini membuat pendulum—Amerika Serikat (AS)—berdenyut. Perkins kali pertama menginjakkan kakinya di Indonesia pada 1971 mengaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi seperangkat alat ampuh untuk membangkrutkan Indonesia.

Perkins membuat laporan fiktif untuk IMF atau Bank Dunia agar mengucurkan utang yang tak mampu dibayar oleh negara Indonesia. Setelah tersandera, Indonesia ditekan mendukung AS di DK PBB atau menjual ladang minyak ke MNC Barat. Aksi ini dilakukan Perkins dalam tiga bulan pertama sejak 1971 berada di Indonesia.

Ketergantungan pada pendonor dana semenjak masa Soeharto ternyata masih berlanjut hingga pemerintahan SBY. Di antaranya adalah kasus Paiton, blog Cepu, dan lain-lain. Pemerintah dibuat tidak berkutik menghadapi gempuran para korporator, lantaran sudah dijebak dengan utang. Dalam kasus lain bisa kita lihat pada saat terjadi tsunami di Aceh. Menurut Perkins, pemerintah Indonesia cepat-cepat mengambil keuntungan dari peristiwa ini. Pasukan baru diterbangkan dari kawasan Indonesia lainnya. Dalam hitungan bulan, mereka akan mendapat bantuan personel militer dan prajurit upahan dari AS, seperti Neil. Meskipun angkatan bersenjata memegang komando dengan dalih meringankan korban bencana, agenda terselubung mereka tak lain menumpas GAM.
November 2005, Washington mencabut embargo senjata dan melanjutkan hubungan penuh dengan militer Indonesia. Perkins melihat GAM lahir dari hasrat untuk merdeka dari pemerintah yang dianggap berlaku eksploitatif dalam urusan ekonomi dan menindas dengan brutal. Meski lingkungan dan budaya mereka rusak akibat tangan-tangan korporasi asing, keuntungan yang diterima rakyat Aceh hanya sedikit. Salah satu proyek sumber daya terbesar di Indonesia, fasilitas gas alam cair (LNG), berlokasi di Aceh. Namun hanya sedikit keuntungan LNG itu yang disalurkan ke sekolah, rumah sakit, dan investasi lokal lainnya untuk membantu rakyat Aceh sebagai pihak yang terkena dampak paling besar dari perusahaan itu.

Mirip dengan Indonesia, Perkins dan kawan-kawannya juga mengendalikan sejumlah peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian Presiden Panama, Omar Torrijos, dan invasi militer Amerika ke Panama dan Irak. Namun, aksi kejahatannya seperti itu yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat nuraninya terusik. Ia merasa dirinya kontradiktif. Pemanasan global benar-benar menyadarkan dirinya lebih dalam lagi untuk menyerang balik para pelaku korporasi, lantaran bumi secara perlahan telah habis dieksploitasi oleh mereka. Dalam bukunya ini, sekaligus yang membedakan dengan buku pertamanya, Perkins mengajak warga dunia memerangi korporatokrasi yang terbukti menjadi senjata penjajahan paling mutakhir untuk membangkrutkan sebuah negeri.

Pada bab terakhir, Perkins menawarkan berbagai solusi menghadapi kejahatan korporatokrasi, mulai dari hal terkecil hingga yang paling besar (lihat hlm. 443-445). Sungguh, membaca buku ini membuka kesadaran kita akan mafia bisnis perusahaan multinasional dalam merusak ekonomi suatu negara. Untuk itu, buku ini sangat layak dibaca bagi siapa pun yang menginginkan kesadaran akan keselamatan dunia. Di samping itu, pengemasan buku dan penyajian bahasanya yang naratif membuat pembaca terbantu untuk menuntaskan rasa ingin tahunya dan enggan berhenti di tengah jalan.***

M IQBAL DAWAMI
Staf pengajar STIS Magelang, tinggal di Yogyakarta

Minggu, Maret 29, 2009

Di Bawah Ketiak IMF

Judul : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Jalan Baru Membangun Indonesia
Penulis : Ishak Rafick
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan : II, Desember 2008
Tebal : xxviii + 417 hlm.
--------------------------
Buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Jalan Baru Membangun Indonesia memang sangat luar biasa. Sejak terbit pertama kali (cetakan I, Januari 2008) respons pembaca teramat positif atas buku ini. Walhasil, tak lebih setahun, mengalami cetak ulang.

Buku yang sesungguhnya tidak ringan ini ternyata mampu menyadarkan masyarakat Indonesia akan permainan politik Indonesia di kancah dunia. Konkritnya, buku ini menyadarkan kita akan kelemahan struktural yang laten di bawah kepemimpinan lima Presiden Indonesia.

Lantas, apa sesungguhnya yang menjadi keistimewaan buku ini sehingga masyarakat meminta penerbitnya untuk mencetak ulang? Tak lain, lantaran buku ini "menelanjangi" kelemahan lima presiden Indonesia dalam mengelola bangsa Indonesia.

Penulisnya memotret semua perkembangan yang terjadi di Indonesia dalam kurun 1997-2007. Menurut penulisnya, bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi semasa Orde Baru, berbagai ketimpangan dan kerawanan di bidang ekonomi maupun sosial terjadi, meski di permukaan seolah baik-baik saja. Dan pasca-reformasi semua kerawanan itu terjadi. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah telah gagal dalam membangun perekonomian nasional. Kegagalan kelompok ekonom yang merumuskan arah pembangunan nasional selama 40 tahun, sekaligus telah mewariskan potensi sebagai sebuah negara yang gagal (failed state).

Akibat kegagalan itu, Indonesia batal tinggal landas meski Orde Baru telah tumbang. Padahal, pada 1967, negara-negara utama di Asia nyaris memiliki posisi yang hampir sama secara sosial dan ekonomi dengan Indonesia. Pada waktu itu, GNP per kapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan China nyaris sama yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, GNP per kapita negara-negara tersebut pada 2004, Indonesia mencapai sekitar US$ 1.100, Malaysia US$4.520, Korea Selatan US$14.000, Thailand US$2.490, Taiwan US$14.590, dan China US$1.500.

Ishak Rafick menyimpulkan bahwa kemerosotan ekonomi Indonesia tak lain adalah akibat para penguasa yang mau-maunya meminta bantuan pada IMF (International Monetery Fund). Padahal bantuan IMF tak lain adalah ibarat duri dalam daging. Contohnya adalah utang para konglomerasi senilai Rp 600 triliun akibat restrukturisasi perbankan, yang kemudian diubah menjadi utang rakyat. Pemerintah kemudian menerima resep rekapitalisasi perbankan dari IMF. IMF kemudian memaksa pemerintah mengeluarkan obligasi senilai Rp 430 trilyun. Bersama bunganya obligasi rekapitalisasi itu kemudian bernilai Rp 600 trilyun. Langkah IMF kemudian memaksa pemerintah menjual bank-bank, salah satunya Bank BCA yang telah menelan dana pemerintah Rp 58 triliun dan pembelinya kemudiaan menikmati bunga obligasi rekap.

Menurut skenario awal, obligasi itu dipakai hanya sebagai instrumen yang bisa ditarik kembali bila bank-bank sudah sehat. Tapi, belakangan, setelah bank-bank sehat dan bebas dari kredit macet, IMF mendesak pemerintah menjual bank-bank tadi bersama obligasinya. Perkembangan selanjutnya, bank-bank itu dibeli asing. Dengan cara itu, pemerintah telah mengubah utang swasta menjadi utang publik yang baru di samping utang luar negeri senilai US$ 137 milyar. Walhasil, pemerintah menanggung semua kerugiannya. Dan IMF lepas tangan.

Menurut Rafik pemerintah Indonesia mudah sekali dipengaruhi oleh pandangan ortodoks dan neoliberal. Imbasnya, negara ini pun hanya memperjuangkan kepentingan segelintir elite, sedangkan rakyat diserahkan kepada belas kasihan mekanisme pasar (market mechanism). Dan jika negeri ini masih meminta belas kasihan kepada IMF, World Trade Organization (WTO), dan Wordl Bank (Bank Dunia), maka sesungguhnya kita telah menggali kuburan sendiri.

Sisi lain, dalam buku ini diungkap kasus-kasus bagaimana pihak IMF, asing, dan para kapitalis menguasai kekayaan yang menjadi kebutuhan hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh, bagaimana SBY dengan mudahnya memberikan Blok Cepu ke tangan Exxon Mobil Corporation.

Beberapa negara membuktikan bahwa sebetulnya tanpa bantuan IMF mereka bisa memperbaiki ekonominya sendiri. Malaysia adalah salah satu contohnya. Saat krisis ekonomi melanda Asia pada 1997, Malaysia menolak resep IMF, karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia. Hasilnya sangat menggembirakan. Ekonomi Malaysia tetap stabil. Bahkan lebih dari itu, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja meningkat.

Ishak menyoroti sikap dan kebijakan-kebijakan yang diambil tim-tim ekonomi di bawah lima presiden: Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan terakhir Yudhoyono. Terutama dalam kaitan dengan IMF. Intinya sama: tim-tim ekonomi itu umumnya selalu tunduk pada kemauan IMF (kecuali masa Gus Dur). Dan itulah inti persoalan yang membuat kekisruhan ekonomi Indonesia seperti tak berkesudahan hingga kini.

Dalam korporatokrasi, kedaulatan tidak lagi berada di tangan rakyat, tapi di tangan berbagai perusahaan besar yang menguasai pasar. Suara rakyat hanya diperlukan menjelang pemilihan umum seperti saat ini. Untuk itu, buku ini menemukan relevansinya pada saat ini, karena bisa dijadikan referensi penting sebelum pemilihan calon legislatif dan calon presiden. Bukankah seekor rusa saja tak pernah masuk pada lobang yang sama, bagaimana dengan kita?

M Iqbal Dawami
Staf pengajar STIS Magelang, pegiat “Diskusi Ilmiah Dosen” Jum’at malam di UIN Sunan Kalijaga, tinggal di Jogjakarta

Sabtu, Maret 21, 2009

Kematian Iklan Politik

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Selasa 24 maret 2009

Judul: Iklan Politik dalam Realitas Media
Penulis: Sumbo Tinarbuko
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: 1, Maret 2009
Tebal: xix + 120 hlm.
----------------------

Pemilu 2009 yang diawali dengan pemilihan calon legislatif tinggal menghitung hari. Saat menjelang pemilu ini, bangsa Indonesia memasuki zaman narsisme, sebuah zaman yang mensyaratkan kecintaan kepada diri sendiri. Untuk itu, agar kecintaan pada diri sendiri mendapatkan permakluman, banyak di antara mereka menebarkan jaring pesona kepada siapa pun. Mereka itu adalah calon legislatif yang mengkampanyekan dirinya lewat rumusan konsep narsisme.

Salah satu implikasi dari narsisme politik tersebut adalah menjadikan Indonesia sebagai negeri spanduk. Hal itu disebabkan saking banyaknya spanduk dan papan iklan bertebaran di tiap sudut dan pinggir jalan. Spanduk dan iklan politik bersaing keras dengan papan iklan rokok dan iklan kartu SIM telepon genggam. Buku Iklan Politik dalam Realitas Media karya Sumbo Tinarbuko ini mencoba membongkar aksi narsis para politis dengan melihat dari sisi iklan dan pencitraan. Kedua hal ini, memang, sangat diperlukan dalam usaha untuk mengkampanyekan para calon legislatif ataupun presiden menjelang pemilu ini. Namun, apakah kedua hal itu sudah berjalan efektif, proporsional, dan sesuai prosedur? Buku ini mencoba menjawabnya.


Dalam teori komunikasi, iklan pada prinsipnya berusaha untuk mempengaruhi persepsi dan emosi yang akan menentukan tindakan pihak yang menjadi target iklan tadi. Isi dari iklan tersebut secara langsung akan memberikan efek stimulatif bagi masyarakat. Iklan yang isinya buruk akan mempengaruhi persepsi yang tidak baik dalam masyarakat kepada dirinya, lingkungan dan pihak yang melemparkan iklan tersebut. Demikian juga sebaliknya, iklan yang baik secara stimulatif akan memberikan efek yang baik bagi ketiga kelompok tersebut.

Hakikatnya, iklan politik mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tidak jarang masyarakat diberi iming-iming bahwa tokohnya mampu ”menyulap” kesengsaraan menjadi kemakmuran dalam sekejap. Dan layaknya dunia bisnis, kampanye politik pun sebenarnya menggunakan prinsip marketing, seperti: marketing research, market segmentation, targeting, positioning, strategy development dan implementation. Dalam hal ini televisi adalah media yang paling efektif. Sudah dapat dipastikan hampir di setiap rumah tangga ada televisi. Oleh karena itu, iklan politik di televisi menjadi sangat efektif untuk menjangkau rakyat pemilih. Bagi pengelola televisi, tidaklah penting apakah itu iklan politik atau bisnis. Mereka membebankan tarif untuk panjangnya waktu iklan bukan jenis iklan. Tarif untuk iklan politik akan sama mahalnya dengan tarif iklan bisnis jika waktu yang digunakan sama. Perang iklan politik di televisi antar calon presiden membuat biaya kampanye membumbung tinggi.

Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil ini, besarnya pengeluaran untuk biaya iklan tersebut secara tidak langsung menunjukkan ketidakpekaan para kandidat. Terlepas dari pencitraan diri kandidat, tidak dapat dimungkiri bahwa iklan hanya memberikan pengenalan terbatas tentang kandidat dan isu-isu yang diusungnya. Kampanye politik tidak memberikan informasi yang memadai tentang latar belakang, serta visi dan misi kandidat terkait. Tentu saja, penulis buku ini sangat menyayangkan hal itu.

Sumbo, sang penulis, mengakui bahwa di satu sisi, penggunaan media massa sebagai alat kampanye ikut membantu jangkauan dan popularitas kandidat. Di sisi lain, popularitas kandidat yang merupakan dampak dari iklan politik di media massa tidak otomatis menjamin elektabilitas atau keterpilihan kandidat yang bersangkutan. Bahkan, boleh jadi, iklan kampanye politik di media massa mungkin menimbulkan kesan terbiasa akan sosok yang diangkat.

Iklan politik, apapun bentuknya, sebetulnya bukan tanpa sesuatu yang positif. Jika disertai dengan gagasan yang utuh, memerhatikan etika, dan menghindari hal-hal yang menimbulkan keresahan dan permusuhan, ia adalah sarana yang cukup baik untuk melakukan promosi politik. Advertensi politik juga dinilai lebih efektif dan aman bagi masyarakat dibandingkan dengan pengerahan massa.

Namun, Sumbo menilai bahwa iklan politik saat ini tim sukses para caleg dan kandidat presiden, melakukan aktivitas kampanye yang cenderung memroduksi sampah visual. Bahkan hal itu mengarah pada perilaku teror visual dengan modus operandinya menempelkan dan memasang sebanyak mungkin billboard, baliho, spanduk, umbul-umbul, poster, dan flyer tanpa mengindahkan dogma sebuah dekorasi dan grafis kota yang mengedepankan estetika kota ramah lingkungan. Anggota tim sukses cenderung mengabaikan ergonomi pemasangan media luar ruang yang artistik, komunikatif dan persuasif. Hal itu justru menurunkan citra para caleg dan kandidat presiden sendiri, yang (mungkin) mempunyai cita-cita mulia untuk membangun Indonesia agar rakyatnya makmur, aman dan sejahtera.

Dalam dunia pencitraan sendiri, citra dan realitas menjadi dua kutub yang terus tarik menarik. Citra telah berubah menjadi sebuah mesin politis yang bergerak kian cepat. Strategi pencitraan dan teknologi pencitraan dikemas sedemikian rupa untuk mempengaruhi persepsi, emosi, kesadaran, dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan dan keputusan politik tertentu. Citraan-citraan itulah yang dijual dalam pencalonan, kampanye dan janji-janji politiknya.

Memang, politik pencitraan sangat penting dalam demokrasi abad informasi karena melaluinya aneka kepentingan, ideologi, dan pesan politik dapat dikomunikasikan. Akan tetapi, dengan meminjam kalimat Yasraf A. Piliang, “Ia harus dilandasi etika politik karena tugas politik tidak hanya menghimpun konstituen sebanyak mungkin tetapi lebih penting lagi membangun masyarakat politik yang sehat, cerdas, dan berkelanjutan” (hlm. xi).

Akhirnya, Sumbo menyimpulkan bahwa iklan politik dengan memajang wajah mengindikasikan si pengiklan tidak merakyat. Mereka mengutamakan idologi bukan ideologi. Beriklan itu sesungguhnya amat penting, karena beriklan sama dengan berinvestasi. Hanya saja, lanjut Sumbo, beriklan itu tidak sama dengan cara kerja petani yang menanam padi lantas 3-4 bulan kemudian panen. Beriklan dalam politik seperti menanam pohon jati. Lama dan perlu dirawat (hlm. 112).

M IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, pencinta buku, tinggal di Jogjakarta

Minggu, Maret 15, 2009

Membongkar Rahasia Kekayaan Godfather Asia

Resensi ini dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 Juni 2009
Judul: Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa
Penulis: Joe Studwell
Penerjemah: Yanto Musthofa
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: xli + 387 (termasuk indeks)
---------------------------------

Pada 1996, setahun sebelum ‘krisis finansial Asia’ mengubah wajah ekonomi kawasan Asia, majalah Forbes, dalam rilis tahunannya tentang individu-individu terkaya, mendaftar delapan pengusaha Asia Tenggara di antara dua puluh lima teratas dunia dan dan tiga belas di antara lima puluh teratas. Sebuah kawasan kecil, yang secara bersama-sama, tak sanggup mengangkat satu pun perusahaan non-negara di antara 500 perusahaan teratas global.

Namun ternyata, mereka mampu menyumbang sepertiga dari dua lusin orang terkaya di planet ini. Inilah barisan terdepan para godfather Asia, yang masing-masing memiliki harta pribadi lebih dari empat miliar dolar Amerika.


Perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina dikendalikan hanya oleh segelintir konglomerat. Mereka dikenal sebagai godfather Asia. Pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka bisa seperkasa itu? Buku Asian Godfather: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan penguasa mencoba menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Ini adalah sebuah buku tentang sekelompok kecil orang-orang yang sangat kaya—para miliarder Asia—yang muncul dan mendominasi ekonomi kawasan mereka di era pasca Perang Dunia Kedua. Untuk keperluan pembahasan buku ini, Asia Tenggara didefinisikan sebagai lima negara anggota asal Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)—Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina—plus Hong Kong, sebuah tempat yang secara tradisional menjadi pusara sehingga memungkinkannya menjadi bagian dari ‘Cina Raya’ dan Asia Tenggara, sesuai dengan kepentingan dirinya.
Keenam entitas inilah yang menentukan cerita ekonomi kawasan mereka. Menjadi kontributor-kontributor, di kawasan tenggara, yang pada 1993 mendapat julukan sebagai ‘keajaiban Asia Timur’ dari Bank Dunia. Adapun godfather (para miliarder Asia) yang dimaksud di atas (di antaranya) adalah Li Ka-shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Liem Sioe Liong, Tan Yu, Kwek Leng Beng, dan masih ada beberapa lagi.

Berpengalaman sebagai reporter selama belasan tahun di kawasan Asia, Joe Studwell—penulis buku ini—melukiskan secara detail potret diri dan lakon bisnis para godfather : keberanian, kekejaman, kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun kongsi, serta komitmen dan pengkhianatan terhadap politisi, preman, juga triad dan sindikat.

Penggunaan istilah godfather dalam buku ini bertujuan untuk merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia. Adapun inspirasi judul buku ini adalah dari novel dan film Mario Puzo, dengan judul yang sama, Godfather.

Berdasarkan pengamatan Studwill, para godfather Asia adalah elite yang tidak khas, sebuah aristokrasi ekonomi dari orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal. Secara kultural, para godfather Asia adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, berbahasa lebih dari satu dan sepenuhnya terisolasi dari perhatian membosankan dari orang-orang yang dianggap sanak mereka. Lebih dari itu—dan berlawanan dengan prasangka umum—para taipan di kawasan itu jauh dari sifat ke-Cinaan. Hanya minor yang benar-benar Cina dengan afiliasi kultural serta linguistik yang kuat pada Cina.

Para taipan lain memang benar-benar Cina, tapi telah kehilangan banyak afiliasi kultural mereka. Banyak dari mereka orang Eurasia, meski garis darah non-Cina kadang-kadang dipandang sebagai sumber kerendahan martabat dan dinistakan. Terutama dalam sebuah tatanan Cina. Ada pula godfather-godfather yang sama sekali bukan Cina. Buku ini menunjukkan bahwa perilaku mayoritas etnis Cina di kalangan taipan tidak berbeda secara substantif dari ‘para taipan’ Inggris atau Skotlandia di Hong Kong, godfather etnis Spanyol di Filipina atau orang terkaya di Malaysia, yang merupakan orang Tamil Sri Lanka. Mereka didefinisikan, pertama, dalam konteks ke-godfather-an dan, kedua, berdasarkan ras.

Dalam bagian awal, Studwell berusaha mengemukakan struktur organisasi tiap negara atau tiap godfather. Dia mengorganisasinya dengan tema-tema. Sedang bagian dua, yang berjudul “Bagaimana Menjadi Godfather Pascaperang, menggambarkan bagaimana para godfather mengembangkan aliran kas inti, membangun organisasi yang tepat dan mengembangkan kapabilitas perbankan, dengan contoh-contoh untuk mendukung setiap pernyataannya. Semangatnya untuk menghadirkan kasus yang koheren dan memasukkan empat lusin individu ke dalam deskripsi tematis, membuat hasil yang dicapai Studwell terkadang melampui masalah yang digambarkan. Terkadang dengan membuat generalisasi tanpa pendukung, seperti pernyataan Studwell bahwa para godfather tidak memiliki keseimbangan spiritual, justru dalam hal ini Studwell memberikan amunisi kepada mereka yang ingin menghilangkan tuduhan adanya kelas kleptokrasi.

Studwell menghabiskan bertahun-tahun untuk membuat buku yang penting ini yang layak untuk diperhatikan secara serius. Sepuluh persen dari populasi dunia hidup di Asia Tenggara, elite-elite yang sedang berkuasa menyalahgunakan populasi tersebut, dan Studwell melakukan persiapan-persiapan yang solid dalam menunjukkan kepada kita bagaimana penyalahgunaan itu terjadi. Dia berharap karyanya akan menghasilkan pengaruh yang cukup untuk menandingi Lytton Strachey’s Eminent Victorian beberapa abad yang lalu, yang menggunakan karakter-karakter untuk mengecam pembersihan secara luas Victorian English.

Studwell mengemukakan fakta dan pendapatnya bahwa: penciptaan kekayaan riil mestinya menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB); PDB di Asia Tenggara sangat terkait dengan nilai ekspor dari tahun ke tahun (dia mendorong para pembaca untuk mengingat grafik dalam apendik yang membuktikan kasus tersebut); Para godfather tidak memainkan peran dalam sektor bisnis ekspor karena memiliki kompetisi yang ketat, beda halnya dengan sektor monopoli yang tanpa persaingan; Mereka tidak memiliki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah; dan pemerintahan yang lemah (korporasi dan politik) membuat mereka tetap meneruskan monopoli mereka terhadap aset-aset yang mereka kelola.

Pada akhirnya, Studwell menolak bahwa menjadi orang Cina memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan dalam ekonomi, sambil menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis Cina di antara para godfather adalah berasal dari masa kolonial dan pola-pola emigrasi dan bukan dari sifat genetis).

Buku ini kaya dengan data-data dan poin-poin tematis yang luas diberikan secara cukup jelas. Sebuah kajian yang sangat berharga. Tak aneh jika Jeff Andrew, pengamat Asia, dalam endorsement buku ini berkomentar bahwa karya Studwell ini merupakan, “Reportase yang utuh dengan kepekaan sejarah menyangkut orang-orang hebat di balik perekonomian Asia.”

M. IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, pengelola blog http://resensor.blogspot.com