Sabtu, Juni 20, 2009

Legenda Manusia Abadi

Judul Buku : The Alchemyst: The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel
Penulis : Michael Scott
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : 503 hlm.
------------------

Legenda itu masih ada. Konon sang Alkemis, manusia abadi yang usianya lebih dari 600 tahun, dikabarkan meninggal tahun 1418, tetapi ketika dibongkar ternyata makamnya kosong. Sejak itu sang Alkemis yang tak lain adalah Nicholas Flamel menjadi desas desus dan rumor bahwa dirinya masih ada dan memperoleh keabadian sampai sekarang. Buku Michael Scott berjudul The Alchemyst: The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel ini menjadi dokumen sejarah yang akan menguak rahasia di balik keabadian sang Alkemis. Namun tentu saja buku ini bukanlah buku sejarah yang berdebu. Buku ini diramu dengan fantasi kontemporer, suatu fantasi yang diseting dengan sangat kuat pada masa sekarang. Tokohnya, sang Alkemis benar-benar nyata dan disejajarkan dengan dua remaja kembar modern sebagai pahlawan penyelamat, tokoh yang ada dalam bayangan sang penulis.

Dahulu, Flamel hanyalah manusia biasa. Namun kemudian ia menemukan sebuah buku Abraham sang Magus, yang disebut Codex. Sejak saat itu berbagai hal berubah. Flamel dan istrinya, Perenelle, menjadi Alkemis—perpaduan ahli ilmu alam dan sihir—yang menemukan rahasia batu bertuah yang tersembunyi di dalam buku sihir kuno itu. Ia menemukan rahasia mengubah logam menjadi emas, mengubah batu kerikil menjadi batu permata yang berharga, bahkan sampah pun jika disentuh oleh sang Alkemis akan menjadi barang berharga. Tetapi yang jauh lebih penting, Flamel dan istrinya menemukan resep ramuan untuk hidup abadi.

Sampai kemudian, terjadi kegemparan di toko buku milik Nicholas Flamel. Buku Codex telah dirampas dari tangan Flamel oleh Dr. John Dee, murid Flamel sendiri yang juga seorang alkemis. Sedangkan Perenelle diculik John Dee dan pembantunya, manusia lumpur (Golem). Peristiwa ini yang akhirnya menjebak Sophie dan Josh—dua saudara kembar—masuk ke dalam dunia mustahil antara dua orang alkemis yang saling berseteru. Dan secara tidak sengaja Josh berhasil merobek dan menyelamatkan lembaran terakhir Codex. Perburuan Dee yang sudah direncanakan sekian lama menjadi berantakan. Codex yang di tangannya tidak lengkap. Dee melewatkan bagian Final Summoning—pemanggilan terakhir—lembaran terpenting dari buku tersebut. Menyadari hal ini Dee semakin geram dan berbalik mengejar Flamel dan si kembar.

Betapa mengejutkan, kehadiran Josh dan Sophie di tengah perseteruan itu bukanlah kebetulan, karena mereka saudara kembar dari ramalan kuno buku Codex yang memiliki aura murni emas dan perak. Dalam sekejab Sophie dan Josh mendadak menjadi jauh lebih penting, bukan hanya bagi Flamel, melainkan juga bagi John Dee dan tetua gelap, sekutu dan majikan Dee. Dalam Codex, si kembar adalah dua yang menjadi satu, namun kemudian yang satu akan menyelamatkan dunia, sementara satunya lagi memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia.

Michael Scott secara khas menjalin fakta sejarah dengan mitos dan legenda untuk menciptakan novel-novel petualangan fantasi yang menusuk. Seluruh isi novel ini berkisah tentang perburuan Dee dan pelarian Flamel dengan si kembar. Petualangan yang lebih menghebohkan lagi, ketika Flamel dan si kembar harus mencari tempat persembunyian dari kejaran Dee. Bersama Scathach—salah satu anggota ras tetua jenis vampir yang dikutuk menjadi gadis selamanya—Flamel dan si kembar menuju Alam Bayangan tempat persemayaman Hekate, sang dewi berwajah tiga. Namun di sisi lain, tanpa Codex kekuatan mantra keabadian Flamel telah memudar. Flamel dan istrinya akan bertambah tua, dan sangat tua satu tahun untuk setiap hari yang dilaluinya.

Flamel membujuk Hekate untuk membangkitkan aura murni Josh dan Sophie. Aura si kembar yang mengandung potensi sihir luar biasa inilah yang dapat mencegah Dee memanggil Tetua Gelap untuk menghancurkan manusia. Dengan Codex, Dee dan tetua gelap majikannya akan membentuk kembali dunia ini menjadi seperti pada masa lalu yang tidak terbayangkan lagi, di mana satu-satunya tempat bagi manusia adalah menjadi budak atau makanan. Dan dunia akan dapat bangkit kembali, saat dua yang menjadi satu dan satu yang mencakup semuanya datang, saat aura emas dan perak milik si kembar bersatu.

Kisah dalam novel ini mengalir cepat, dengan bumbu sihir dan kekuatan gaib. Sejarah bangsa-bangsa besar di dunia lama yang dihadirkan menjadi daya tarik tersendiri. Di dalamnya juga terdapat tokoh-tokoh mitologi seperti Vampir, Torc Alta, Gargoyle, Golem, dan Naga-Nathair. Lalu, ada juga cerita tentang Atlantis dan pedang Excalibur. Selain itu, novel ini juga mengaitkan beberapa peristiwa penting dalam sejarah seperti kebakaran besar kota london (Great Fire) tahun 1666 dan penobatan Ratu Elizabeth I tanggal 15 januari 1559. Bahkan buku ini mengaitkan antara Flamel-Dee-Shakespare serta asal usul kode agen rahasia paling populer, 007.

Sebenarnya formula campuran fakta dan fiksi sudah banyak dilakukan. Contohnya novel-novel Dan Brown. Tapi tak cuma formula fakta-fiksi, novel ini juga mencampurkannya dengan kisah fantasi layaknya saga Harry Potter. Dan tahukah bahwa tokoh Nicholas Flamel pun ada dalam kisah Harry Potter? Michael Scott dengan lincah meramu fiksi dan fakta sejarah menjadi sebuah buku yang menarik.

The Alchemyst merupakan novel pertama dari seri The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, di mana di dalamnya menceritakan tokoh-tokoh sejarah yang telah mencapai keabadian dan terlibat dalam perjuangan pada masa sekarang untuk menentukan nasib dunia. Hal yang lebih menarik adalah legenda di balik buku ini yaitu mengenai Nicholas Flamel, seorang Alkemis yang memang pernah hidup di Perancis pada abad ke 14.

Michael Scott adalah seorang penulis novel dan cerpen yang produktif untuk dewasa dan anak-anak, dalam berbagai genre. Tiga buku pertamanya merupakan puncak dari perjalanannya selama beberapa tahun melewati seluruh bagian Irlandia, bekerja sebagai dealer buku antik dan langka yang membawanya berkenalan dengan sebagian besar mitos dan legenda orang Irlandia. Hal ini memunculkan pesona abadi Scott dengan banyak mitologi-mitologi dunia.***

M.Iqbal Dawami, Penikmat Sastra dan blogger buku di http://resensor.blogspot.com

Sabtu, Juni 13, 2009

Belajar Kearifan Pada Enzo

Judul : Enzo: The Art of Racing in the Rain
Pengarang: Garth Stein
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan : I, April 2009
Tebal: 408 hlm.
------------------

Kearifan bisa kita dapatkan dari mana saja. Tak terkecuali dari pelbagai binatang. Kita dapat belajar dari semut yang selalu bergotong royong, lebah yang setia pada ratunya, bunglon yang pandai beradaptasi, dan yang lainnya. Begitu pula dengan anjing.

Buku Enzo: The Art of Racing in the Rain adalah buku yang dapat mengajarkan kearifan hidup dari seekor anjing yang bernama Enzo. Anjing yang dapat berpikir dan mempunyai perasaan layaknya manusia. Dia mampu berpikir filosofis dan terobsesi dengan TV dan balapan mobil (F1). Di sini, Enzo menjadi sang narator yang tidak saja mengungkap kehidupannya sebagai anjing, tapi juga kehidupan dan konflik keluarga yang memeliharanya.

Bab ini dimulai dengan Enzo yang sedang sakit, dan mengetahui dirinya akan segera mati. Pada suatu malam di pembaringannya, dia menengok kembali perjalanan hidupnya mulai dari masa kecil hingga masa tuanya. Ketika Enzo masih kecil, dia diadopsi oleh Denny Swift, seorang pembalap mobil profesional. Saat bertemu, mereka merasa telah ditakdirkan untuk bersama. Dari situlah persahabatan antara keduanya mulai terjalin. Mereka saling menyayangi dan melindungi.

Enzo banyak belajar dari Denny tentang apa saja, termasuk mencintai balap mobil. Apa yang disukai Denny, disukai pula oleh Enzo. Selain Speed Channel yang menayangkan balap, Enzo juga menonton pelbagai saluran TV seperti Discovery Channel, National Geographic, dan saluran yang memutar film-film yang dimainkan aktor-aktor favoritnya, yaitu Steve McQueen, Al Pacino, Paul Newman, George Clooney, Dustin Hoffman, dan Peter Falk.

Seiring waktu berjalan, Enzo sadar bahwa dirinya berbeda dengan anjing-anjing lain: seekor filsuf yang mirip dengan jiwa manusia, mampu mendidik dirinya sendiri dengan banyak menonton televisi, dan dengan mendengarkan kata-kata pemiliknya, Denny Swift.

Melalui Denny, Enzo mendapatkan wawasan yang luas terhadap kondisi manusia, dan dia melihat kehidupan layaknya suatu balapan, yang tidak mudah untuk melaju dengan cepat dan diperlukan teknik-teknik pada lintasan balap agar seseorang dapat sukses melalui semua cobaan hidup. The Art of Racing in the Rain ini segera menarik pembaca ke dalam dunia Enzo.

Saat Eve menikah dengan Denny, Enzo begitu cemburu. Karena perhatian Denny menjadi pecah, tidak seperti dulu. Namun, lambat laun Enzo dapat menerima kehadiran Eve yang ternyata begitu baik. Bahkan lebih dari itu, dia mencintainya juga layaknya kepada Denny. Saat mereka mempunyai anak yang diberi nama Zoe, Enzo turut senang dan begitu melindungi anak mereka.

Insting Enzo hancur ketika dia dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Eve. Enzo dapat mencium kanker otak jauh sebelum ada orang yang tahu dari keluarga tersebut. Akan tetapi dia tidak dapat memberikan peringatan kepada Denny.

Setelah kanker otak Eve muncul, dan perawatan medis dimulai, Eve dibawa pulang ke rumah orangtuanya untuk melewati bulan terakhirnya, dan atas dorongan orangtuanya, Zoe tetap beserta ibunya dan kakek-neneknya, meninggalkan Denny dan Enzo sendiri. Setelah Eve meninggal, mulailah konflik antara Denny dan orangtua Eve perihal hak asuh Zoe. Orangtua Eve bersikeras merawat Zoe secara penuh. Danny dan Enzo tanpa ada hak sedikit pun berkomunikasi atau berkunjung terhadap anak perempuannya. Sisi lain, Denny mengalami kesulitan finansial untuk membayar pengacara, menafkahi putrinya, dan merawat Enzo yang sakit. Pekerjaannya sebagai pembalap, karyawan, dan guru mengemudi tidak cukup untuk membiayai semuanya. Melalui semua cobaannya, Denny selalu membawa Enzo di sisinya, yang memberikan dukungan dan cinta tak bersyarat.

Sebagai pembaca, tentu mudah untuk bersimpati dengan Denny yang dilanda cobaan. Akan tetapi Enzo dengan bijak menegaskan bahwa ketika pada suatu waktu seseorang tengah kehilangan kesempatan, maka semua hal itu terjadi karena satu alasan. Dan apa yang ditakdirkan untuk terjadi maka akan terjadi. Kisah ini menyampaikan dosis spiritual yang tepat, diseimbangkan dengan indah antara banyaknya balapan dengan humor anjing, di antaranya.

Di seluruh buku ini tersebar bab-bab tertentu yang mengungkapkan analisa Enzo tentang taktik atau teknik balapan. Sering kali penjelasan-penjelasan ini sejajar secara emosional dengan perjuangan yang dilalui Denny terhadap kanker yang diderita istrinya, dan perjuangan hak asuh anaknya dengan mertuanya. Denny dan Enzo selalu melihat rekaman balapan Denny, belajar dari kesalahan-kesalahan yang selalu dipaparkan Denny tentang ketahanan mental seorang pembalap. Dan itu dapat dipraktikan pada saat mendapat masalah hidup.

Karena kisah tersebut diceritakan melalui sudut pandang Enzo, kita hanya melihat pendangan sekilas tentang komunikasi manusia. Kita hanya dapat melihat perasaan Enzo yang tajam. Boleh jadi insting alami seekor anjing jauh lebih maju dari manusia. Mereka lebih terbiasa dengan emosi yang tak terucapkan dan lebih peka dengan lingkungan yang tidak seimbang dan tidak sehat.

Buku ini merupakan buku yang tidak bisa kita abaikan lantaran dongeng sang anjing. Justru melalui pandangan Enzo, kita dapat melihat dan belajar lebih banyak tentang sifat manusia, insting dan moralitasnya. Kisah Enzo begitu lembut, karakter-karakternya juga menimbulkan rasa simpati. Enzo adalah narator yang mengagumkan, yang membuat rujukan dan hubungan dengan budaya pop, membuat penilaian-penilaian psikologis dan filosofis yang tajam terhadap manusia di sekitarnya.

Sedang sang penulis buku ini, Garth Stein, patut pula diacungi jempol. Dia mampu menceritakan kisah ini dengan cara yang menyentuh hati. Gaya narasinya sederhana dan elegan, mengalir seindah lap balapan mobil yang dilalui dengan baik.

Pembaca akan terkesan dengan cara dia menggabungkan simbolisme dalam novel ini. Pembaca akan memberikan apresiasinya terhadap bagaimana dia mampu menghubungkan seni mengemudikan mobil balap (F1) dengan menjalani kehidupan dengan segala kesenangan dan kesedihannya. “Kehidupan, seperti balapan, tidaklah mudah untuk melaju cepat. Dengan menggunakan teknik-teknik yang diperlukan pada lintasan balap tersebut barulah seseorang dapat berhasil mengemudikan semua cobaan hidup” ujar Enzo.

Kisah ini memiliki akhir yang indah dan memuaskan. Namun, bukan di situ letak pentingnya. Kisah Enzo lebih tepatnya adalah mengenai proses – balapan – daripada garis finish. Bahwa melakukan apa yang kita sukai dalam kehidupan ini sesungguhnya adalah sebuah kemenangan.

Pada malam kematiannya, Enzo menggunakan sisa hidupnya, mengingat semua yang dia dan Denny telah lalui: pengorbanan yang telah dilakukan Denny hingga mendapatkan keberhasilan secara profesional; kehilangan istri Denny, Eve, yang tidak diharapkan, pertempuran selama tiga tahun terhadap anak perempuan Danny, Zoe, yang kakek dan nenek dari pihak ibu berusaha mendapatkan hak asuh.

Enzo hadir secara heroik untuk memelihara keluarga Denny Swift, mendekap mimpi-mimpinya dalam hati bahwa Denny akan menjadi seorang juara balap mobil dengan Zoe di sisinya. Setelah belajar apa yang harus dilalui untuk menjadi orang yang berbelas kasih dan sukses, anjing yang bijak tersebut hampir tidak dapat menunggu kehidupan berikutnya, ketika dia yakin akan kembali hidup sebagai seorang manusia.

Buku ini sebuah kisah tentang keluarga, cinta, kesetiaan dan harapan yang sangat menggugah, lucu tetapi membuka hati. Art of Racing in the Rain digubah dengan indah dan menawan, melihat keajaiban dan absurditas kehidupan manusia. Kisah Enzo ini menyiratkan suatu pertanyaan reflektif, ‘mengapa saat ini banyak manusia yang menjadi binatang padahal binatang sendiri ingin menjadi manusia?’***

M. Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang

Rabu, Juni 03, 2009

Memoar Wanita Luar Biasa

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 17 Juni 2009
Judul: Footnotes
Penulis: Lena Maria
Penerbit: Dastan Books
Cetakan: I, Mei 2009
Tebal: 247 hlm.
----------------

Manusia ibarat teh celup, berfungsi optimal setelah “disiram” dengan ujian. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca memoar Lena Maria ini; seorang wanita yang lahir tanpa lengan dan hanya satu kaki saja yang normal. Namun di balik kecacatannya, terselip segudang talenta dan prestasi yang luar biasa. Dia perenang, penyanyi, pelukis, dan penulis. Masing-masing dari talentanya itu pernah menyabet beberapa prestasi dan penghargaan dari beberapa negara. Di buku inilah semua kisahnya dia ceritakan sendiri.

Lena Maria lahir tahun 1968 di Stockholm, Swedia. Saat kelahirannya, sang dokter memberi tahu orangtua Lena atas kondisinya. Dokter sudah bersiap menawarkan obat penenang jika memang orangtuanya merasa membutuhkannya akibat tak sanggup mendengar kenyataan itu. Dokter sendiri tidak bisa menjamin apakah Lena sanggup bertahan, mereka terlebih dulu harus memeriksa apakah organ dalamnya juga mengalami kerusakan. Dokter juga menginformasikan bahwa jika Lena selamat, para orangtua diizinkan untuk menitipkan anaknya dengan kecacatan parah seperti Lena di sebuah institusi khusus.

“Anda harus mempertimbangkan kemungkinan harus mengurusnya selama 20 tahun lebih, jika anda memutuskan untuk merawatnya sendiri,” jelas sang dokter kepada orangtua Lena. Namun, ayahnya menjawab dengan mantap, “Memiliki tangan ataupun tidak, dia pasti membutuhkan tempat tinggal” (hlm. 23).

Kedua orangtua Lena memantapkan keputusannya untuk merawat dan membawanya pulang. Mereka sadar bahwa tindakan itu bukan tanpa risiko. Mereka sudah banyak berbicara dengan petugas dari institusi perawatan khusus, dan keduanya pun tahu dengan pasti bahwa merawat anak dengan tingkat kecacatan yang parah seperti anaknya adalah sebuah perjuangan yang berat dan melelahkan.

Keputusan mereka benar-benar dilakukannya. Walhasil, Lena menikmati masa kecilnya dengan luar biasa menyenangkan. Orangtuanya benar-benar memberi kasih sayang dan perhatian berlimpah.

Bukan hal yang mudah mengasuh seorang anak cacat. Boleh jadi ada juga orangtua yang tidak sanggup melakukannya. Tapi orangtua Lena sejak awal bertekad untuk sebisa mungkin memperlakukannya seperti anak normal lainnya. Mereka menganggapnya sebagai Lena, putri mereka yang kebetulan memiliki kekurangan—bukan sekadar anak cacat. Terlihat sekali bahwa mereka mencintainya apa adanya, bukan berdasarkan apa yang bisa atau tidak bisa dia lakukan. Semua itu membuatnya merasa lebih percaya diri.

Sejak awal, Lena sudah didorong untuk melakukan apa pun yang dia sukai. Hasilnya, dia tidak pernah merasa marah atau menyesali keadaan yang tidak normal. Dia juga tidak menganggap kecacatannya sebagai aib yang memalukan. Dia selalu berpikir bahwa dirinya sama seperti manusia yang lain. Hanya saja dia melakukan segala sesuatu dengan cara yang sedikit berbeda. Lena tidak pernah merasa kecil hati. Dia bahkan merasa Tuhan sangat mengasihinya sehingga dia masih diberikan kesempatan untuk hidup, menikmati hidup, dan berkarya. Sungguh, sebuah cara berpikir yang matang.

Semenjak balita, dia sudah mengikuti kelas renang dan terus berlatih hingga tak terhitung jumlahnya. Hasilnya, dia mampu menjadi perenang profesional dan sering memenangkan berbagai medali dalam berbagai kejuaraan renang. Karier puncaknya dalam renang adalah ketika dia mengikuti Paralympic Games (Olimpiade untuk para penyandang cacat) 1988 di Seoul, Korea Selatan, dengan meraih medali emas.

Selain renang, Lena juga mengembangkan kemampuannya di bidang musik. Dan berkat latihannya yang keras pula, dia mampu menembus perguruan tinggi musik di Stockholm di mana tidak semua orang bisa meraihnya. Keseriusannya itu berhasil membuahkan beberapa album sebagai penyanyi profesional yang cukup laris, baik di Eropa, Amerika, maupun Asia. Kariernya terus memuncak. Dia sering diundang untuk mengadakan konser baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam kesehariannya, Lena selalu berusaha melakukan sesuatu untuk tidak terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Dus, hampir semua aktivitas dia pelajari, dan nampaknya cukup berhasil. Lena bisa menjahit, menulis, melukis, mengemudi mobil, bermain piano, dan yang lainnya. Sungguh, kehidupan kesehariannya layaknya manusia normal.

Kisah prestasi hidupnya yang kontra dengan kondisi fisiknya itu menarik beberapa media untuk membuat film dokumenternya. Dan setelah film tersebut disebarluaskan, tiba-tiba saja banyak surat berdatangan kepada Lena dari pelbagai negara. Dia pun sering menerima undangan dari pelbagai negara. Mereka takjub melihat bagaimana Lena bisa memandang hidup dengan cara positif dan bagaimana Lena bisa sukses di pelbagai bidang, padahal ada banyak kekurangan yang dimilikinya yang akan menghambat kegiatannya. Fenomena Lena Maria adalah gambaran, suri teladan dan pelajaran hidup dari manusia penyandang cacat yang memutuskan untuk menjalani kehidupannya secara mandiri. Dia berhasil menyingkirkan kesan rendah diri, rasa kasihan, dan kemalangan.

Dalam bab akhirnya, ada refleksi yang mendalam mengapa dia berhasil mengatasi ketidaksempurnaan fisiknya itu yang sejatinya dapat berpengaruh pada kondisi psikis dan sosialnya, bahkan lebih dari itu Lena dapat terus berpikiran positif dan meraih kesuksesan. Pertama, manusia terlahir berbeda satu sama lain. Lena mengaku dirinya merupakan tipe orang yang jika menghadapi suatu hambatan, lebih memilih untuk mencari jalan keluar daripada hanya terpaku pada hambatan tersebut. Dia tidak suka memperumit keadaan yang sudah rumit.

Kedua, orangtua. Sikap orangtua yang tidak menganggap kekurangan Lena sebagai aib dan selalu memperlakukannya sama seperti anak normal lain, banyak membantu Lena untuk bisa menjadi dirinya. Mereka membuat Lena memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Mereka mendorongnya untuk meraih kesuksesan, tapi tetap mau menerima kegagalannya.

Ketiga, Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan sudah menjadi bagian dalam diri Lena. Lena belajar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berharga dan tidak peduli siapa dirinya atau bagaimana rupanya. Sebagian orang mungkin menolak keyakinan mereka jika menghadapi permasalahan seperti itu. Akan tetapi Lena percaya bahwa Tuhan tidak pernah berbuat salah, dan hidupnya merupakan bagian dari rencana khusus Tuhan kepadanya.

Sejak edisi pertama diterbitkan di Swedia, buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, di antaranya bahasa Norwegia, Denmark, Jerman, Prancis, Thailand, Jepang, Estonia, Inggris, Indonesia, dan lain-lain.***

M Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang



Minggu, Mei 31, 2009

Bocah Cilik Penangkap Hantu

Judul Buku : The Spook Apprentice
Penulis : Joseph Delaney
Penerbit: Matahati,Jakarta
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 326 hlm
----------------

The Spook’s Apprentice ditulis berdasarkan cerita rakyat (folklore) bangsa Inggris di masa lampau. Novel karya Joseph Delaney ini merupakan seri pertama yang ditulisnya dalam rangkaian serial legenda Wardstone, sebuah titik tertinggi di County yang menyimpan misteri. Alur cerita dari novel ini berpusat pada bocah laki-laki yang berusia 13 tahun bernama Tom yang tinggal bersama keluarga besarnya di County, sebuah wilayah pedalaman Inggris di kota Lancashire.

Tom adalah putra ketujuh dari seorang ayah yang juga putra ketujuh. Sebuah keistimewaan bagi bocah itu, karena diyakini ia mempunyai kemampuan melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang lain, semisal makhluk-makhluk gaib: Boggart, ghast, ghost dan lain-lain.

Kisah ini bermula dari kunjungan sang Spook ke rumah Tom untuk menjadikannya sebagai murid Spook. Sang Spook tak lain adalah Mr. Gregory, lelaki tua berjubah yang selalu membawa tongkat kayu berkeliling County, menjaga penduduk lokal dari kejahatan yang muncul di malam hari; hantu (ghast, ghost), boggart dan sihir jahat.

Menjadi Spook adalah pekerjaan berat dan membahayakan bahkan kerap diasingkan banyak orang. Dalam kesehariannya sang Spook berkecimpung dengan dunia gaib, mengusir roh-roh jahat, hantu dan semacamnya. Banyak orang yang gagal menjadi murid Spook, menyerah dan menemui kematiannya menjadi korban kekejian Boggart.

Bukan kemauan Tom menjalani pekerjaan sebagai Spook, namun risiko yang harus ditanggungnya sebagai putra di keluarga besar menuntut dirinya untuk hidup mandiri. Dan bakat yang dimilikinya sebagai putra ketujuh dari putra ketujuh pula, turut menentukan takdirnya menjalani profesi sebagai seorang Spook.

Tom meninggalkan keluarganya, pergi bersama sang Spook dan menjalani masa pengujian di rumah tua yang dihuni banyak hantu. Horor pun dimulai. Tom terseok-seok dalam ketakutan yang nyaris meruntuhkan sendi-sendinya. Tapi Tom ingin melewati ujian dari sang Spook, karena ia tahu orang tuanya sangat menginginkan dirinya menjadi Spook. Walau patah arang, Tom terus berjuang menjadi murid yang tak akan mengecewakan guru dan orang tuanya.

Saat musim panas tiba, petualangan Tom berlanjut di rumah sang Spook, di Chipenden. Rumah yang dipenuhi kekuatan magic dan dijaga ketat oleh para boggart yang tak terlihat. Kisah yang paling menarik di sini adalah Tom harus selalu waspada dengan tanda lonceng yang dibunyikan sebagai jadwal makan. Karena begitu ia terlambat atau terlalu cepat mendatanginya, Tom akan merasakan akibatnya berduel dengan boggart yang misterius.

Beberapa bulan Tom menjalani training di Chipenden. Di saat sang spook pergi menyelesaikan urusannya untuk beberapa lama, Tom dihadapkan dengan gadis misterius bernama Alice yang membujuknya untuk memberikan kue-kue kepada nenek sihir yang ditahan sang Spook, di lubang sekitar taman rumah. Tom ragu akan membuat kesalahan jika melanggar peraturan yang sudah diwanti-wanti gurunya. Namun suatu malam ia nekat menjatuhkan kue-kue tersebut ke lubang nenek sihir, Mother Malkin, karena terikat janji dengan Alice.

Mother Malkin, tercatat sebagai penyihir paling jahat yang mengkonsumsi darah segar manusia. Begitu pula Bony Lizzie, cucu dari Mother Malkin yang juga bibi Alice. Bony Lizzie mempraktikkan sihir tulang yang didapatkan dari tulang-tulang manusia yang sudah dikulitinya. Horor semakin memuncak ketika Tom mengetahui bahwa Mother Malkin mulai menampakkan kekuatannya setelah melahap kue-kue yang belakangan diketahui berasal dari racikan darah manusia. Seorang anak berumur 3 tahun hilang, dan sebelumnya seorang bayi diduga telah diculik oleh penyihir jahat. Tom semakin gusar dan ketakutan. Sedangkan Mother Malkin telah berhasil keluar dari jeratan di dalam lubangnya. Tom pun harus bertindak cepat, menyelamatkan bocah tersebut dan menangkap kembali Mother Malkin tepat sebelum jatuh korban.

Kisah horor pun tidak serta merta berakhir. Secara mengejutkan Tom disekap oleh Tusk, makhluk menyeramkan peliharaan Lizzie dengan gigi-gigi yang terlalu banyak untuk muat di dalam mulutnya. Tom dilemparkan ke dalam lubang dengan kedalaman dua meter untuk dikuliti keesokan harinya sebelum matahari terbit. Semalaman Tom berada di dalam lubang antara hidup dan mati, menghadapi hantu Billy, murid terakhir sang Spook.

Tom diselamatkan Alice yang tiba-tiba berubah pikiran. Sedangkan Bony Lizzie dan Tusk berhasil diringkus sang Spook dan dimasukkan ke lubang penahanan. Pada akhirnya Tom mendapatkan cuti libur dan diperbolehkan pulang selama beberapa hari. Namun pulang ke rumah pun tidak lantas memberikan rasa aman bagi Tom. Ruh Mother Malkin datang menuntut balas padanya, dan siap merasuki tubuh siapapun yang ada di rumahnya.

Pelajaran terpenting yang dapat diambil adalah Tom tidak pernah ragu mengambil inisiatif, dan selalu berpegang pada apa yang telah diajarkan gurunya. Tom pun menyadari bahwa seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan tidak pernah berbuat apa-apa. Dia merasa bahwa kegelapan akan terus mengumpulkan kekuatannya, dan pekerjaannya akan semakin sulit. Tapi Tom akan terus belajar dan belajar seperti yang dipesankan ibunya.

Novel ini mutlak menyoroti dunia mistik dan tahayul yang berlangsung pada abad pertengahan di Inggris. Tema-tema magic dan kekuatan sihir memang menjadi daya tarik tersendiri yang sering dihadirkan dalam cerita novel bergenre horror. Kisahnya mengungkap petualangan yang mendebarkan sekaligus memikat. Penulis pun dengan lihai menyuguhkan figur keberanian sang tokoh utama dan kekejian sang penyihir sehingga mampu mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi semua pembaca baik anak-anak maupun kalangan dewasa. Deskripsi tentang petualangan, marabahaya, cinta dan keberanian sangat mudah dirasakan begitu membaca novel ini dari awal sampai akhir.

Terdapat 5 seri novel lainnya yang ditulis Joseph Delaney setelah novel The Spook Apprentice ini. Dari seri-seri tersebut semuanya diangkat berdasarkan latar belakang sebuah tempat yang benar-benar nyata di Lancashire. Inspirasi novel serial sejarah Wardstone ini berkembang dari cerita dan legenda tentang hantu (ghast, ghost) setempat.***

Rabu, Mei 27, 2009

Kematian yang Indah

Judul: Temukan Lima Rahasia Sebelum Mati
Penulis: John Izzo
Penerjemah: Arif Subiyanto
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: 1, 2008
Tebal: viii + 270 hlm.
-----------------------

Mencari bimbingan kepada para tetua merupakan suatu masa yang dihormati dan praktik bijak yang sayangnya tidak terlalu sering dilakukan saat ini, terutama di Barat. John Izzo mendorong kita untuk kembali kepada tradisi tersebut melalui bukunya Temukan Lima Rahasia Sebelum Mati. Buku ini telah menjadi daftar bestseller di Benua Amerika dan Eropa. Pembicara dan penulis inspirasional ini mengarahkan suatu diskusi yang menggairahkan mengenai makna hidup dalam seri televisi yang kemudian difilmkan untuk Biography Channel.

Pembaca akan belajar lima rahasia ini yang dia percaya semua orang harus tahu untuk mendapatkan yang terbesar dari kehidupan: lebih merenung, lebih mengambil resiko, lebih mencintai, lebih menikmati, dan lebih memberi. Izzo mewawancarai seribu orang hingga dia mengerucutkan mereka menjadi 235 orang tua yang bijak yang menemukan makna dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Dia terinspirasi untuk lebih fokus pada apa yang paling bermakna setelah istrinya mengalami stroke hingga ulang tahunnya yang ke-50.

Mereka yang diwawancarai Izzo dikenal oleh teman-teman dan keluarganya sebagai “seseorang yang mereka ketahui telah menemukan kebahagiaan dan makna.” Orang-orang ini ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti: “Apa yang membuat anda sampai pada pengertian makna terbesar dan tujuan dalam hidup?” dan “Apa ketakutan terbesar pada akhir hidup anda?” Mereka juga diminta untuk menyelesaikan kalimat: “Andaikan saya dulu…”. Orang-orang tua ini berasal dari beragam pekerjaan: pengarang, profesor, pemilik bisnis, perawat, pemimpin spiritual, ahli psikologi, biologi, dan seorang tukang potong rambut yang fenomenal, serta orang yang selamat dari Holocoust dan korban rasisme.

Lima rahasia tersebut adalah, pertama, jujurlah pada diri sendiri. Ini adalah kalimat yang umum. Izzo membantu kita mengeksplorasi apakah kita benar-benar jujur terhadap diri kita sendiri dengan mengajukan pertanyaan apakah kita mengikuti kata hati kita dan berfokus pada apa yang benar-benar bermakna? Kedua, jangan ada penyesalan. Hal ini mensyaratkan hidup dengan keberanian dan tanpa ketakutan.
Kebanyakan orang memiliki beberapa hal yang mereka lakukan berbeda, akan tetapi Izzo mengingatkan bahwa orang yang bahagia tidak tinggal dalam penyesalan. Seorang wanita bernama Elsa, misalnya, dalam usia ketujuh puluhnya mengatakan bahwa dia menerima nasehat yang paling bernilai dari anak perempuannya. “Bu.., ibu harus menyapu debu sendiri dan bangkit kembali”.

Ketiga, jadilah cinta. Ini adalah satu rahasia terpenting. Dr. Izzo membantu mendefinisikan cinta menjadi lebih dari sekadar kata, karena di dalamnya sarat makna. Namun Izzo mengingatkan bahwa kita harus membedakan antara emosi cinta dan keputusan untuk mencinta. “Masyarakat umum hanya melihat cinta sebagai emosi semata. Kita biasa mengatakan kata-kata seperti “dia benar-benar cinta pada pria itu,” tak ubahnya kita mengatakan bahwa kita “suka pada golf dan pizza”, atau keranjingan berpesta,” dan sebagainya. Padahal yang kita bicarakan itu hanya sekadar emosi perasaan cinta atau suka. Namun, setelah menyimak penuturan sekian banyak narasumber itu, saya mulai menyadari ketika mereka membahas tentang pentingnya cinta dalam hidup mereka, sesungguhnya mereka lebih memaknai cinta sebagai suatu keputusan daripada hanya sekadar perasaan,” ujar Izzo (hlm. 105). Rahasia untuk meraih hidup bahagia dan penuh makna adalah memilih untuk menjadi orang yang penuh cinta, atau dengan kata lain menjelma menjadi cinta itu sendiri.

Keempat, jalanilah hidup dengan sepenuh hati. Hal ini berarti menjalani, menghayati, dan mensyukuri setiap detik kehidupan kita, bukannya menilai atau melaknati kehidupan, melainkan menjalaninya dengan sepenuh hati. Jika hidup memang begitu singkat, maka salah satu rahasia untuk meraih bahagia adalah dengan semaksimal mungkin menikmati dan memanfaatkan waktu yang sempit itu, dan mengupayakan agar setiap detik dan hari yang kita lalui benar-benar menjadi sebuah anugerah.
Kelima, berikan lebih banyak dari yang anda dapatkan. Ini adalah rahasia kelima yang didapatkan Izzo saat mewawancarai para tetua nan bijak. Apabila kita semakin banyak memberi, kita juga akan semakin banyak mendapatkan berkah, dan kita akan menyatu dan terkait dengan kisah akbar kemanusiaan yang memberi makna bagi kehidupan. “Saya menjadi sadar bahwa kita semua dapat meleburkan diri dengan sempurna ke dalam kisah besar kemanusiaan ini.” Ujar Izzo (hlm. 182).

Buku ini ibarat mutiara. Di sini, terdapat kisah-kisah yang semuanya berisikan tentang hidup dengan bijak, hidup dalam momen tersebut, ada yang lucu dan ada yang sedih. Semuanya akan menjadi bahan pikiran kita. Konsistensi pelajaran memberikan pemahaman yang mudah dan skema yang mudah dicerna. Mengambil satu rahasia pada suatu waktu untuk dipraktikkan mungkin sangat baik bagi sebagian orang, berhenti sebentar mengonsumsi buku ini untuk ketika menerapkan rahasia tersebut. Yang lain mungkin melahap seluruh buku sekali duduk dan kembali merefleksikan secara lebih cermat ketika mereka memikirkan pesannya.

Tidak seperti kebanyakan buku-buku psikologi populer, buku Izzo mulai dengan sebuah deskripsi menyeluruh mengenai mengapa dan bagaimana tepatnya dia dan para asistennya melakukan studinya. Premisnya kelihatan cukup sederhana: jika terdapat orang-orang di dunia ini yang panjang umur dan berhasil dalam menemukan makna dan kebahagiaan selama itu, kenapa tidak menanyakan apa yang telah mereka singkap dan bagaimana? Tak lain semua itu agar kita pada saatnya meraih kematian yang indah.***

M.Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang, penulis buku “Cita-Cita; The Secret and Power Within” (2009)

Minggu, Mei 24, 2009

Seni Memimpin Dari Legenda Jepang

Judul buku : The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao diedit oleh Tim Clark
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal buku : 256 halaman
-----------------------

Jepang, dalam kebanyakan sejarahnya, telah dikuasai oleh para kaisar yang powerfull. Akan tetapi dalam abad XVI – yang disebut orang Jepang sebagai masa peperangan antar-klan (Age of Warring Clans) – penguasa regional (baca: Shogun) berperang satu sama lain dengan sedikit tentara pejuang samurai mereka. Terdapat salah satu pemimpin legendaris Jepang yang berhasil menyatukan antar-klan di abad XVI, yaitu Toyotomi Hideyoshi.

Buku The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI ini bercerita tentang bagaimana Toyotomi Hideyoshi melakukan hal itu. Hideyoshi dilahirkan dari keluarga petani pada 1537 yang menjadi seorang samurai meskipun dia tidak mempunyai keturunan darah samurai. Dengan perawakan pendek, petarung yang payah, dan tidak cukup menarik untuk dipandang, membuat dirinya menjadi bahan olokan, dan sering disebut “monyet.” Namun, di balik itu, dengan berbekal hasrat belajar yang besar, Hideyoshi berhasil melejitkan potensinya sehingga dia mencapai status wakil kaisar yang memungkinkan dia menghentikan pertikaian di antara para klan yang telah lama berperang di seluruh pelosok Jepang pada waktu itu.

Hideyoshi dianggap sebagai Swordless Samurai; seorang samurai tanpa pedang, di mana kemampuannya tidak terletak pada kelihaian memainkan pedangnya melainkan otaknya. Dia menapaki tangga batasan kelas yang kuat tanpa bantuan sama sekali. Dia seorang petani asli, yang mengabdi pada Lord Nobunaga yang sangat berkuasa, dan menjadi orang yang terus semakin berguna baginya. Hideyoshi mendapatkan dukungan yang kuat. Kemudian, dia menghancurkan semua batasan kelas dan akhirnya menjadi orang yang paling kuat di Jepang.

Hideyoshi mampu mencapai semua itu melalui kecakapannya yang hebat sebagai seorang perencana dan negosiator, dan kemampuannya untuk memimpin kelompok-kelompok subordinat yang besar melalui komunikasi yang cerdik, bukan melalui kekuatan militer atau pun ketakutan akan pembalasan. Beberapa tindakan heroiknya yang terkenal di antaranya merekrut sejumlah petani untuk mengalihkan aliran sungai dan membanjiri wilayah di sekitar kastil musuh, sehingga dapat menghentikan suplai dan bala bantuan bagi musuhnya, yang kemudian memaksa mereka untuk menyerah.

Selain itu, dalam sebuah pertempuran tanpa pertumpahan darah, dia beberapa kali mengirim pasukannya untuk menyamar sebagai pedagang untuk membeli semua beras musuh. Benteng pertahanan musuh menjual semua beras mereka dari gudang persediaan. Hideyoshi dan tentaranya kemudian hanya menunggu musuhnya kelaparan dan menyerah dengan sendirinya. Legenda lainnya adalah saat dia memerintahkan kepada tentara untuk membangun benteng di sebuah posisi yang strategis hanya dalam semalam. Bagaimana cara dia melakukan hal itu, dipaparkan secara gamblang di buku ini.
Tim Clark, editor edisi bahasa Inggris dari buku ini, memberi catatan bahwa “Swordless Samurai” adalah istilah yang dia temukan sendiri. Hideyoshi tidak pernah dikenal dengan nama itu dan tidak ada persamaannya dalam bahasa Jepang. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menyimpulkan filosofi Hideyoshi yang menggunakan perencanaan yang cermat dan tindakan yang menentukan dalam mengganti kekerasan yang telah menjadi cara samurai.

Penulis buku ini, Kitami Masao berhasil menciptakan sebuah autobiografi yang melacak kehidupan Hideyoshi yang mengagumkan dari awal mula sebagai seorang yang sederhana hingga mencapai puncak kekuasaan, dan selanjutnya kemunduran yang berasal dari upaya perluasan kekuasaannya menuju Korea. Masing-masing bab ditandai dengan pepatah yang mencita-citakan seorang eksekutif bisnis seperti “Jadilah seorang pemimpin, bukan seorang yang superior,” dan “Ubahlah kelemahan menjadi kekuatan.” Sebagaian kecil dari pepatah tersebut menjadi ciri khas perusahaan Jepang pada masa kini, misalnya, “Rendahkan kepentinganmu berada di bawah kepentingan pemimpinmu.”

Kitami mengakui bahwa hampir tidak ada yang mengetahui tentang Hideyoshi yang sebenarnya pada masa-masa awal. Beberapa dari pencapaiannya yang lebih spektakuler terlihat sangat meragukan di mata sejarawan. Namun Kitami menerima informasi yang dapat diperoleh dari nilai dan usahanya mengenai kecakapan-kecakapan dalam memimpin dan bernegosiasi. Kitami juga berusaha membahas kelemahan dan kejatuhan Toyotomi dalam bab-bab terakhir, sebagai sebuah aforisme.

Sosok Hideyoshi sejatinya merupakan model bagi pemimpin bisnis masa kini. Para pebisnis saat ini dalam membidik posisi pemimpin, terutama jika mereka terkait dengan perusahaan dan praktik bisnis Jepang akan secara meyakinkan menemukan sesuatu yang dapat diterapkan dalam kerja mereka dari buku ini. Kepemimpinan Hideyoshi dan ajaran kesuksesannya diungkapkan dalam bentuk narasi ketika Hideyoshi mendapatkan banyak kemenangan dan menganalisa kemunculannya menjadi pemimpin yang tertinggi. Intuisinya yang tepat terhadap apa yang terjadi—kemampuan, kecerdasan, antisipasi, dan determinasi—dapat dengan mudah dipahami para pebisnis masa sekarang.

Meskipun kita tidak tertarik dalam aspek untuk membantu pengembangan sendiri (self-help) dari buku ini, kita mungkin mengapresiasi buku ini sebagai sebuah pengantar yang sangat perlu dibaca mengenai seorang figur yang sangat penting dalam sejarah Jepang pada masanya. Untuk itu, kehadiran buku ini dalam edisi Bahasa Indonesia patut dipuji, sebagaimana halnya pujian yang diberikan oleh Arvan Pradiansyah dan Andy F. Noya dalam endorsement buku ini.***

M. Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang

Rabu, Mei 20, 2009

Petualangan Ranger Muda

Judul Buku : Ranger’s Apprentice; Reruntuhan Gorlan
Penulis : John Flanagan
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 384 hlm
------------------

Ranger’s Apprentice adalah novel serial anak-anak yang sarat dengan petualangan. Sebuah epik fantasi yang mampu membangkitkan imajinasi setiap pembacanya. Tokoh utamanya adalah Will, seorang ranger muda yang pemberani. Ia sering berhadapan dengan berbagai ancaman dari monster mengerikan yang selama itu hanya ada dalam legenda dan mitos.

Sebenarnya menjadi ranger bukanlah impian Will. Bocah laki-laki 15 tahun yang dibesarkan sebagai anak asuh di kastil Redmont, sangat terobsesi menjadi ksatria prajurit berbaju besi seperti sosok ayah yang dibanggakannya. Will tahu ranger adalah sekelompok orang misterius yang kehadirannya ditakuti banyak orang. Namun di hari pemilihan yang menegangkan, ia terpilih menjadi murid ranger dan menjalani pelatihannya berpetualang di dunia yang sangat fantastis.

Lima belas tahun yang lalu Will ditemukan terbungkus dalam selimut kecil dan diletakkan dalam keranjang di tangga bangunan ward (nama bangsal). Sebuah catatan dilekatkan di selimutnya: Ibunya meninggal saat melahirkan. Ayahnya meninggal sebagai pahlawan, tolong pelihara dia. Namanya Will. Fakta inilah yang diketahuinya. Bocah yatim piatu ini bahkan tidak pernah tahu latar belakang dirinya dan sejarah keluarganya. Oleh karenanya ia kerap menanggung malu menghadapi olok-olok dari Horace, teman sesama anggota ward. Tubuhnya yang kecil amat merisaukan konsentrasinya di hari pemilihan sekolah. Keadaan itu disadarinya bahwa kecil kemungkinan ia diterima di sekolah tempur. Namun menjadi ksatria pejuang adalah satu-satunya impian yang didambakannya untuk mengikuti jejak sang ayah yang tak pernah dikenalnya.

Hanya Will yang tersisa di hari pemilihan. Dan ia sudah membayangkan takdirnya akan berakhir menjadi buruh tani dan ternak di desa sekitar. Itulah resiko bagi anggota ward yang tidak terpilih oleh guru keahlian di kastil Redmont. Tapi di saat itulah ia dikejutkan oleh sosok ranger yang muncul tiba-tiba di ruang pemilihan dan menyodorkan secarik kertas kepada Baron Arald, sang pemimpin kastil. Will yakin kertas itu berkaitan dengan nasib yang bakal didapatkannya.

Walau bertubuh kecil, Will adalah anak pemberani, gesit, cerdik dan selalu ingin tahu terhadap setiap hal. Dipicu oleh misteri secarik kertas, Will menyelinap dan memanjat dinding menara kastil yang menjulang tinggi, memperdayai penjaga, lalu masuk ke ruangan sang baron. Namun ketika catatan itu ditemukannya, Will dikejutkan oleh ranger yang tiba-tiba menghalau tangannya.

Ulah Will memanjat dan menyelinap yang tak sedikitpun terlihat mata, menjadi titik balik yang menentukan bakatnya sebagai murid ranger-Halt. Will terpilih sebagai murid Halt, meninggalkan kastil dan menjalani latihan sebagai ranger. Di sinilah babak petualangan ranger muda telah dimulai. Berbulan-bulan Will menjalani latihan keras: memanah, memainkan pisau ranger, dan mengasah kemampuannya bergerak tak terlihat.

Satu hal yang tak bisa diabaikan dari novel ini adalah kisah pertemanan Will dengan Horace, salah satu temannya yang diterima di sekolah tempur. Meskipun awalnya Horace adalah musuh yang amat dibencinya karena perangainya yang arogan. John Flanagan, penulis novel ini dengan lihai membelokkan karakter tokoh Horace yang memicu kebencian setiap orang, menjadi anak yang mampu mengundang simpati pembacanya. Sejak peristiwa perburuan di hutan, Horace menyadari keberanian Will yang telah menyelamatkan hidupnya dari ancaman monster babi. Ketika Will dan Horace dipertemukan lagi, keduanya menjadi tim kompak yang harus menjaga keselamatan satu sama lain.

Selama dalam gemblengan Halt, Will menampakkan bakat yang sangat mengagumkan. Namanya mencuat di kalangan kastil Redmont dan penduduk sekitar pun mengeluk-elukkan keberaniannya. Ketika kerajaan Araluen mendapat teror dari Kalkara, monster tak terkalahkan yang berasal dari campuran beruang dan kera, Will dan Halt menjalankan aksi petualangan yang sangat mendebarkan. Keduanya harus bergerak cepat mencari jejak monster di antara semak-semak di dataran terpencil, melewati kawasan seruling bebatuan yang mengeluarkan dentingan suara mencekam.

Rupanya desas desus monster itu sudah beredar di sebuah pertemuan korps ranger yang diadakan secara rutin. Morgarath, penguasa Pegunungan Hujan dan Malam, sekaligus mantan Baron Gorlan di Kerajaan Araluen, melancarkan aksi balas dendam dengan mengirim monster jahat yang siap menerkam mangsa incarannya. Dalam satu adegan klimaks, Will, Halt dan Gilan, salah satu anggota korps ranger, terlibat perburuan mencari jejak Kalkara yang ditengarai bersembunyi di puing-puing reruntuhan Gorlan, bekas kerajaan Morgarath. Bentrokan antara ranger dan monster pun tak dapat dielakkan. Halt pontang panting dan diselamatkan Baron Arald serta Sir Rodney yang didatangkan Will dari Kastil Redmont. Namun pada akhirnya Will muncul sebagai pemenang yang menyelamatkan guru sekaligus kedua ksatria tangguh dengan panah berapi yang dihujamkan ke tubuh Kalkara.

Jiwa petualang sekaligus pemberani yang diusung novel ini menjadi menu bacaan yang sangat layak bagi anak-anak. Perannya sangat penting untuk memotivasi anak gemar membaca. Seperti disampaikan penulisnya, penulisan novel ini pada dasarnya untuk memotivasi putranya yang berumur 12 tahun agar suka membaca. Meski begitu novel ini juga cukup menghebohkan bagi setiap pembaca dari semua tingkatan umur. Novel ini di dalamnya mengundang selera pembaca yang memiliki hobi berpetualang. Didukung dengan atmosfir alam yang mengagumkan. Dan detail novel ini seolah-olah mampu dirasakan setiap pembacanya secara riil.

Novel ini merupakan seri pertama dari beberapa seri Ranger’s Apprentice yang ditulis John Flanagan. Serial ini sudah muncul dalam daftar terlaris New York Times dan secara rutin terdaftar dalam penghargaan buku anak-anak di Australia dan negeri lainnya***

M.IQBAL DAWAMI
Staf pengajar STIS Magelang

Minggu, Mei 17, 2009

Sang Pengubah Mitos

Judul buku : The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao diedit oleh Tim Clark
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal buku : 256 halaman
-----------------------

Siapa sangka seorang bocah petani mampu menjadi penakluk dan penguasa tertinggi Jepang. Dan siapa pula yang mengira seorang samurai tak berpedang menjadi pemenang tunggal dari perang berkepanjangan dan berhasil menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik selama lebih dari 100 tahun. Dialah Toyotomi Hideyoshi, anak petani yang bertubuh kecil, tak berotot, berwajah jelek, dan tak berpendidikan. Bahkan tak ada sejengkal pun dari tubuhnya yang meninggalkan kesan seorang samurai. Namun, segala kekurangannya itu diubah menjadi kekuatan besar yang dapat mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa seluruh Jepang.

Hideyoshi lahir di tengah berkecamuknya masa peperangan antar klan, zaman di mana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Ia lahir di Nakamura, provinsi Owari tercatat tahun 1536 dan saat usianya tujuh tahun ayahnya meninggal sehingga ia harus mendapati ayah tiri yang kerap bertengkar dengannya.

Ia mengerti betul betapa keras hidup keluarganya, terutama ibu yang dikasihinya. Satu saat ia membuat keputusan untuk pergi mencari pekerjaan di saat berusia 15 tahun. Hideyoshi telah bertekad untuk meringankan beban orang tuanya, keluar dari belenggu kemiskinan yang menjeratnya.

Bagi rakyat jelata sepertinya tak ada sedikit pun aset maupun ketrampilan yang dimiliki untuk bertahan hidup dan mencari peruntungan. Hidup di jalanan sebagai pedagang jarum dan menjalani pekerjaan serabutan, telah mengajarinya menjadi mahir dalam menilai karakter orang. Namun antusiasmenya begitu besar untuk menjadi pengikut salah satu klan penguasa yang dianggapnya akan menjadi pijakan karir hidupnya. Hideyoshi menjadi pengikut setia Oda Nobunaga, yang sebelumnya sempat menjadi pelayan keluarga Matsushita. Ia mengabdikan diri sepenuhnya dan memulai karir sebagai pelayan rendahan sembari mendapatkan julukan Monyet dari tuannya.

Meski dengan pekerjaan remeh—sebagai pembawa sandal—Hideyoshi menganggap tugasnya sebagai pijakan menuju jabatan yang lebih tinggi. Karenanya ia melakukan dengan ekstra keras sembari mencari peluang-peluang emas untuk mendemonstrasikan dedikasinya kepada tuannya. Bahkan ia jarang tidur nyenyak semalaman demi mengantisipasi saat-saat tidak biasa di mana sang majikan akan memerlukan bantuannya.

Bagi Hideyoshi, bergabung dengan klan Oda adalah titik balik yang menentukan perkembangannya sebagai seorang pemimpin. Nobunaga sangat mempercayai kompetensi bawahannya, memiliki visi ke depan dan memahami dedikasi. Di sinilah Hideyoshi berhasil mencapai banyak hal yang semestinya mustahil untuk diraih. Sikapnya yang keras terhadap dirinya sendiri membuahkan prestasi yang begitu mencengangkan. Bahkan ia menjadi tangan kanan Lord Nobunaga yang sangat terpercaya dan bersama-sama menjalankan misi menyatukan Jepang, membawa Jepang menuju hari yang baru.

Hideyoshi berhasil mengubah kesan kelemahannya menjadi kekuatan besar yang mengejutkan banyak orang. Karirnya melejit ke puncak kekuasaan, bermula dari panglima perang biasa menjadi pemimpin para penguasa; dari seorang pemimpin yang mengepalai puluhan menjadi penguasa jutaan. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Hideyoshi meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Dalam sejarah Jepang tercatat dirinya menjadi orang pertama yang menempati posisi itu tanpa pertalian darah dengan kaum bangsawan.

Buku ini seolah menjadi replika diri Hideyoshi sendiri yang mendeskripsikan filosofi seorang pemimpin legendaris Jepang di abad XVI. Kitami Masao, penulis buku ini, mengulas Hideyoshi dari sudut pandang orang pertama, sehingga kehadiran tokoh utamanya benar-benar dapat dirasakan oleh setiap pembacanya.

Kisah Hideyoshi menjadi inspirasi tersendiri untuk dapat diterapkan dalam jalan menuju kesuksesan. Kemauan yang keras dan kenekatannya mengubah keadaan telah menjadi kekuatan pendobrak yang mampu membalik mitos yang tak terbantahkan di zamannya. Dalam kamusnya, siapapun dan dari kalangan manapun mempunyai peluang yang sama dalam memperjuangkan cita-cita dan meraih kemenangan. Adapun pesan yang selalu didengungkan Hideyoshi adalah bekerja keras, bertindak berani dan bersyukur.
Warisan berharga lain yang dapat kita petik yaitu prinsip kepemimpinannya. Hideyoshi merupakan pemimpin yang berangkat dari karir pelayan. Maka inti dari kepemimpinannya adalah pengabdian. Dan yang terpenting lagi, seorang pemimpin harus
mendemonstrasikan integritas mereka dan memenuhi janji mereka berapapun harga yang harus dibayar.

Prinsip dan ajaran di atas menjadi warisan berharga setiap generasi yang menginginkan perubahan ke arah lebih baik. Buku ini sangat cocok bagi siapa pun yang menginginkan perubahan dalam dirinya menuju lebih baik. Arvan Pradiansyah dan Andy F. Noya pun—di dalam endorsement-nya merekomendasikan buku ini.***

M.Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang

Rabu, Mei 13, 2009

Al-Qur’an Bertutur Tentang Kesehatan

Judul: Al-Qur’an The Amazing Secret
Penulis: dr. Muhammad Suwardi
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, Februari 2009
Tebal: xxii + 223 hlm.
---------------------

Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa ada seorang manusia yang tidak pernah sakit semasa hidupnya, kecuali hanya sekali, yaitu saat menjelang ajalnya, padahal kesehariannya penuh dengan berbagai tanggung jawab: Utusan Tuhan (Rasulullah), kepala negara, kepala rumah tangga, dan lain-lain.

Manusia itu bernama Muhammad. Ia tidak pernah sakit, bukan hanya karena seorang Rasul yang selalu dijaga kesehatan oleh-Nya tanpa upaya untuk hidup sehat, tetapi memang karena dirinya selalu berusaha untuk menjadi sehat. Bukankah ia juga manusia seperti kita yang perlu makan dan minum? Lantas, apa sesungguhnya rahasia beliau?

Buku ini menyebutkan bahwa inti resep beliau agar tetap sehat adalah konsep makan yang dijalaninya. Hal ini senada dengan kesaksian yang terdapat dalam sebuah kisah bahwa raja Mesir bernama Muqauqis menghadiahi Rasulullah seorang dokter. Dokter itu tinggal di Madinah. Sang dokter tidak pernah bekerja sedikit pun meskipun telah sekian lama menetap. Mengapa demikian? Sebab, tidak ada seorang pun yang sakit di tempat itu. Sang dokter merasa heran dan bertanya kepada Rasulullah. beliau menjawab, “Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan tidak sampai kenyang.”

Kenyataan di atas menyadarkan Muhammad Suwardi untuk menulis buku ini. Pasalnya, ada keironisan saat melihat kenyataan saat ini bahwa banyak kaum muslimin yang tidak bisa menjaga kesehatannya, sehingga terkena banyak penyakit, padahal Nabinya begitu menjaga kesehatan. Dan, yang lebih memprihatinkan lagi adalah sebagian besar yang terkena penyakit itu masih usia produktif.

Sang penulis buku ini tahu betul kenyataan tersebut, lantaran ia sebagai dokter yang setiap hari menyaksikan hal itu. Ia mengatakan bahwa penyakit-penyakit kardiovaskular dan penyakit gangguan metabolik, seperti hipertensi, jantung koroner, stroke, kencing manis, asam urat, sampai kanker biasanya diderita boleh orang berusia lanjut. Namun, seiring kemajuan zaman penyakit-penyakit tersebut tidak lagi dimonopoli oleh mereka yang berusia lanjut, malah cenderung meningkat angka penderitanya pada usia muda atau usia produktif.

Suwardi mengajak kepada khalayak pembaca untuk belajar pada konsep dan pola makan yang diperlihatkan Rasulullah yang sejatinya merupakan pengejawantahan dari pesan-pesan Al-Qur’an. Nabi bersabda: “Panasnya buah yang satu ini (kurma) akan dihilangkan oleh dinginnya buah yang lain (melon), dan dinginnya buah yang satu ini (melon) akan dihilangkan oleh panasnya buah yang lain (kurma).” Secara alami dan medis, pola makan yang dilakukan oleh sang Nabi merupakan suatu kombinasi ideal karena berprinsip pada keseimbangan asam-basa. Tubuh akan sehat jika berada dalam kondisi seimbang. Menurunnya pH sedikit saja ke arah asam atau kenaikan pH ke arah basa akan mudah menimbulkan suatu penyakit.

Oleh karena itu, kita perlu menjaga keseimbangan asam-basa tubuh seperti yang dicontohkan Rasulullah. Beliau makan kurma yang bersifat panas sebagai asam karena mengandung banyak kalori, sedangkan melon atau mentimun yang bersifat dingin banyak mengandung air bertindak sebagai basa. Antara kurma dan mentimun atau melon saling menetralkan. Sungguh, suatu kombinasi yang menyehatkan.

“Seorang anak cucu Adam tidak pernah memenuhi satu bejana pun yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi seorang anak cucu Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan punggungnya. Jika dia harus makan, hendaklah sepertiga (dari perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara,” tutur sang Nabi.

Secara medis, apabila ketiga kata kunci dalam sabda di atas dilaksanakan dengan baik maka terbukti dapat menjaga kesehatan tubuh. Menurut Suwardi bahwa ketiga prinsip ini pada intinya untuk mengurangi asupan kalori secara berlebihan. Bahwa penurunan asupan kalori akan meningkatkan sistem detoksifikasi (penawaran atau penetralan toksin di dalam tubuh). Hal ini memberi perlindungan dari kanker, gangguan daya tahan tubuh, penyakit jantung, penyakit turunan, serta dapat memperpanjang usia hidup. Sebaliknya, terlalu banyak makan akan memudahkan timbulnya radikal bebas. Radikal bebas merupakan penyebab dasar dari penyakit-penyakit kanker, kardiovaskular, dan degeneratif (penyakit turunan).

“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Al-A’raf: 31). Larangan Allah dalam surah tersebut mengandung hikmah dan pelajaran yang berharga. Secara medis, ternyata makan dan minum yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan karena dapat menimbulkan berbagai macam penyakit di dalam tubuh. Penyakit karena pola makan yang salah ini disebut penyakit metabolik yang dapat diikuti dengan berbagai komplikasinya, seperti kencing manis, asam urat, hipertensi, dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Pada surah al-Jumu’ah ayat 10, kita diperintahkan bertebaran di muka bumi pada siang hari untuk mencari karunia Tuhan (baca: rezeki). Pola ini sebagai simbol fase pencernaan makanan. Pada siang hari, kita bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan, pada malam hari, kita diperintahkan untuk beristirahat, seperti pada surah Yunus ayat 67. Ini sebagai simbol fase penyerapan. Setelah beraktivitas di siang hari yang menguras tenaga, malam hari adalah saatnya menyerap dan charger energi untuk memulihkan sel-sel tubuh yang telah aus; mendetoksifikasi racun-racun, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar tubuh; dan selanjutnya pengeluaran pada pagi hari.

Kesimpulan dari buku ini adalah bahwa ada benang merah antara pola makan Rasulullah dengan ilmu kedokteran. Selain itu, buku ini mengajak pembaca agar meniru pola makan sang Nabi yang sejatinya beliau mengamalkan pesan-pesan Al-Qur’an. Dengan demikian, kita dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat.***

M. Iqbal Dawami,
Staf pengajar STIS Magelang, hobi makan tempe dan sayur bayam

Minggu, Mei 10, 2009

Petualangan Detektif Sugawara Akitada

Judul Buku : The Dragon Scroll
Penulis : I.J. Parker
Penerbit : Penerbit Kantera
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 484 hlm
--------------------------
Dengan mengambil latar budaya dan sejarah Jepang di abad kesebelas, novel ini mengisahkan tentang misteri-misteri dan intrik politik di lingkungan pemerintah. Di masa ini Jepang belum masuk pada era samurai. Novel ini mengangkat tema yang cukup modern pada masanya, diramu dengan kisah-kisah detektif dan kriminal.

Sugawara Akitada, seorang penyelidik muda di kementrian kehakiman kaisar ditugaskan ke Kisarazu propinsi Kazusa guna menyelidiki hilangnya pengiriman pajak selama tiga tahun berturut-turut. Sebuah tugas yang diterimanya dengan antusias karena—dia pikir—hal itu adalah suatu kehormatan, dan bukan kebetulan. Ada harapan besar untuk meningkatkan reputasinya sebagai seorang panitera dan melakukan perjalanan keluar Heian Kyo (Kyoto). Dia ditemani pelayan tuanya, Seimei. Di tengah perjalanan dia diserang perampok dan diselamatkan pemuda berandalan yang gagah berani, Tora, yang kemudian diangkat menjadi pelayannya.

Akitada adalah tokoh intelektual yang berpendidikan kota, seorang keturunan dari keluarga bangsawan kuno yang memiliki nilai-nilai yang inspiratif dan penuh introspeksi diri. Pada halaman-halaman pertama, aksi didatangkan dengan berlatar belakang budaya yang mengagumkan. Pembaca seolah diajak berpetualang tentang pembunuhan seorang bangsawan wanita sebagai misteri yang menjadi tantangan tersendiri bagi Akitada.

Awal kedatangannya di Kazusa, Akitada berspekulasi menjadikan gubernur Motosuke sebagai tersangka utama. Namun kecurigaan Akitada terhadap sang gubernur sulit dibuktikan. Bahkan Akitada dan pelayannya, Seimei, tercengang dengan efisiensi kerja para staf dan kerapian berkas-berkasnya. Alih-alih berhasil meringkus penjahat Negara, Akitada merasa misinya hanya akan berakhir sia-sia. Karena rumor yang beredar bahwa sudah lama pemerintah ingin kasus ini dilupakan. Kegelisahan Akitada untuk tetap menegakkan hukum semakin mendorongnya berfikir keras, menemukan dalang di balik kejahatan ini. Orang-orang lain yang patut dicurigai dan mulai dijadikan modus operandinya adalah Residen Ikeda, Kapten Yukinari—sang kepala Garnisun, Lord Tachibana—mantan Gubernur—beserta Lady Tachibana (istri mudanya yang cantik mempesona) serta master Joto, sang kepala biara Empat Wajah Kebijaksanaan.

Masalah semakin pelik ketika terjadi pembunuhan berantai. Mantan gubernur Lord Tachibana ditemukan tewas di ruang kerjanya saat Akitada mengunjunginya. Lalu seorang pelacur dibunuh dengan cara mengerikan. Begitu pula pembantaian yang terjadi di rumah Higekuro, pemilik perguruan bela diri bojutsu. Dan usaha pemerkosaan terhadap putrinya—gadis tunarungu—oleh beberapa rahib pengkhianat.

Apa motif di balik pembunuhan sang mantan gubernur? Firasat Akitada mengatakan bahwa aksi tersebut ada hubungannya dengan kasus perampokan pajak. Istri mantan gubernur pun ditengarai memiliki skandal dengan Kapten Yukinari dan Residen Ikeda. Kisah ini kemudian berkembang menjadi sebuah konspirasi yang juga melibatkan kepala biara Empat Wajah Kebijaksanaan. Hal itu berdasarkan fakta pembangunan biara yang meningkat drastis. Namun pada akhirnya Akitada memperoleh titik terang setelah ditemukannya sebuah sketsa lukisan Badai Naga karya Otomi, putri Higekuro. Sketsa itulah yang menjadi kunci penting dalam penyelidikan tersebut.

Ditemani Tora dan Ayako—gadis pesumo yang membuat Akitada jatuh cinta—Akitada menyusup ke dalam Biara Empat Wajah Kebijaksanaan dan menemukan bukti kebengalan para rahib. Kala segalanya terbuka, bentrokan pun tak terelakkan. Dalam satu adegan klimaks, yang terjadi pada sebuah perayaan biara yang besar, ketegangan mencapai puncaknya. Akitada dan kelompoknya berhasil membongkar monster jahat yang terselubung di balik kedok sang rahib suci. Misteri sekeping bunga biru pun menyingkap pembunuhan wanita bangsawan, Lady Asagao, selir kesayangan Kaisar. Tapi yang lebih buruk, upaya penyelidikan dan pengungkapan yang dilakukan Akitada malah mengancam hubungan cinta dan kariernya. Sungguh, sebuah ending yang mengharukan.
Akitada sangat shock karena mendapati sang menteri, atasannya, naik pitam mendengar kabar keberhasilannya. Akibatnya mimpi dan cita-cita Akitada kandas.
I.J. Parker, penulis novel ini, menciptakan narasi yang sangat tepat dan menggairahkan, sesuatu yang menarik perhatian pembaca saat melihat aksi atau pun penyampaian kultur dan tradisi Jepang Periode Heian (794-1185 M). Dalam proses mencapai kesimpulan, novel ini menginvestigasi kejahatan beserta pemberantasannya, dipadu dengan komedi, tragedi, petualangan dan roman.

Novel ini pun menyingkap Informasi yang mengagumkan tentang stratifikasi budaya dan pemisahan antara bangsawan dan orang biasa. Penulis juga sangat cermat menciptakan karakter-karakter yang seakan-akan hidup dan menggiring pembacanya untuk larut dengan mereka, meskipun ada jarak ratusan tahun antara aksi tersebut dengan kehidupan dan masa pembacanya.

Novel ini sebuah seri baru yang pantas mendapatkan tempat di hati pembaca. Misteri-misteri Sugawara Akitada begitu mengagumkan dan menggairahkan pembaca untuk menelisik lebih jauh. Parker amat lihai melibatkan pembacanya dalam peristiwa-peristiwa yang berasal dari ratusan tahun yang lalu. Dalam detail novel ini, seperti pemakaian kostum para tokoh, sarana transportasi, dan perilaku formal menambah rasa realitas tersendiri dalam benak setiap pembaca.

Novel The Dragon Scroll secara kronologis merupakan novel ketiga setelah Rashomon Gate (2002) dan the Hell Screen (2003), di mana kedua novel ini mendapatkan penghargaan dari St. Martin Monotaur. Semua novel Parker itu mempunyai tokoh utama yang sama, yaitu Sugawara Akitada, seorang pegawai rendahan kementerian kehakiman Kyoto abad kesebelas yang melakukan penyelidikan terhadap kejahatan yang berlatar Periode Heian Jepang (794-1185).***

M.Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang, penikmat sastra Jepang