Senin, Februari 15, 2010

Mengungkap Misteri Freemasonry

Resensi ini dimuat di KORAN JAKARTA, Sabtu 13 Februari 2010

 Judul: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 705 halaman
-------------------
The Lost Symbol adalah novel kelima karya Dan Brown, dan novel ketiganya yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code. Permulaan kisah dalam novel ini dimulai dengan Robert Langdon yang dipanggil ke Washington DC untuk mengisi ceramah, sembari menemui temannya Peter Solomon, tepatnya di gedung Capitol. Namun, ternyata undangan tersebut hanyalah kebohongan belaka.

Di gedung tersebut seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason. Langdon ternyata akan diperalat. Langdon dihubungi oleh seseorang yang mengaku sedang menyandera Peter Solomon. Penyanderaan tersebut tak lain sebagai jaminan agar Langdon memecahkan teka-teki tentang “Ancient Mysteries” yang dimiliki organisasi Freemason. Penyandera Peter Solomon tersebut ternyata juga mengejar adik Peter Solomon, Katherine. Kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia. Secara umum, alur novel ini masih sama seperti novel-novel sebelumnya, Th e Da Vinci Code dan Angels and Demons.

Petualangan semalam diburu waktu untuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang tak diduga dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Dan tokoh perempuan yang menemani petualangan sang tokoh utama pria. Kali ini, organisasi yang hendak dibongkar misterinya adalah Freemasonry. Menurut Encyclopaedia Britannica, Freemason merupakan perhimpunan rahasia terbesar di dunia, berkembang dari loji-loji tukang batu pembangun katedral di Abad Pertengahan. Sebagian kecil loji itu mengembangkan ajaran kebatinan yang memungut ritus-ritus dan pernak-pernik ordo keagamaan kuno dan kelompok persaudaraan.

Loji Agung, persatuan beberapa loji, pertama berdiri di Inggris pada 1717, dan Freemason pun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Robert Langdon berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sahabatnya yang telah ditawan. Maka dimulailah petualangan semalam suntuk Robert Langdon di Washington. Selain itu, Direktur CIA menekan dia untuk segera mengungkap siapa penyandera tersebut dan segera memenuhi permintaan sang penculik karena penculikan Solomon adalah masalah keamanan nasional. Nahasnya, sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan melayang, dan rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.

Pada saat Langdon mencari teka-teki itu, pembaca akan “diajak” melihat terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington. Pembaca akan merasa berdebar-debar saat mengikuti penelusuran Robert Langdon. Buku The Lost Symbol ini dikisahkan secara menarik dan penuh kejutan-kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.[]

M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh

Kamis, Februari 11, 2010

Pamuk dan Istanbul

Judul: Istanbul : Kenangan Sebuah Kota
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: I, Februari 2009
Tebal: 563 halaman
------------------------

BUKU ini adalah memoar seorang peraih nobel bidang sastra tahun 2006, Orhan Pamuk, kelahiran Turki. Dalam memoarnya, Pamuk banyak berkisah tentang dirinya—seperti keluarga dan cinta pertamanya—dan tempat kelahirannya yang sekaligus menjadi judul buku ini, Istanbul. Ia mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya di Istanbul antara 1950 hingga 1970-an.

Ferit Orhan Pamuk, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Istanbul pada 7 Juni 1952. Ia terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang makmur. Ayahnya adalah direktur utama pertama IBM Turki. Ia kuliah di Universitas Teknik Istanbul jurusan arsitektur. Namun, ia berhenti setelah tiga tahun kuliah dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis sepenuh waktu.

“Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?” Ujar sang ibu suatu ketika menyarankan Pamuk. Pamuk mengakui bahwa dirinya dan Istanbul sudah tidak bisa dipisahkan. Istanbul adalah takdirnya, karena kota tersebut telah menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Pamuk dan kota Istanbul telah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Pamuk berbeda dengan para penulis dunia lainnya semacam Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, dan V.S. Naipul. Mereka adalah penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antar-bahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaaan akar. Oleh karena itu, Inspirasi Pamuk hanyalah kota Istanbul, yang sudah dikenal dengan detail. Maka, tak heran dalam memoarnya ini pula ia banyak mengulas Istanbul.

Salah satu yang diulas oleh Pamuk mengenai Istanbul adalah sisi kemuramannya alias huzun. Baginya, orang boleh bangga dengan kemegahan Turki yang dibangun pada masa Kesultanan Usmani (Ottoman), tapi saat ini di mana Kesultanan Usmani sudah ambruk, Istanbul tak lain hanyalah kota miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi Pamuk, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan.

Karena pandangan sinisnya atas Istanbul (umumnya Turki) baik melalui karya-karya maupun wawancaranya, Pamuk menuai kritikan. Banyak orang menanyakan mengapa ia sering mengkritik Turki dari sisi negatifnya.

Pamuk Sebagai Penulis
Meski tidak banyak membicarakan perjalanan kepenulisannya, dalam memoarnya tersirat embrio Pamuk akan menjadi penulis besar. Berawal dari perpustakaan ayahnya, pada usia 17 tahun ia mulai mencurahkan waktunya untuk membaca dan melahap habis buku-buku yang ada dalam perpustakaan tersebut. Pada 1970, saat berusia 18 tahun, dia mulai menulis puisi.

Menurut pengakuannya, Pamuk sangat menyukai buku-buku puisi yang ramping dan kusam dari para penyair yang dikenal di Turki sebagai bagian dari gelombang pertama tahun 1940 hingga 1950 dan gelombang kedua tahun 1960 sampai 1970. Pamuk kemudian menulis puisi-puisi dengan cara yang sama dengan mereka.

Semenjak tahun 1970, Pamuk menambah koleksi perpustakaan keluarganya. Terutama buku-buku yang berkaitan dengan bangsa Turki. Membaca buku-buku yang terkait Turki membuka pikirannya. Sejumlah pertanyaan selalu menggelayut dalam otaknya, seperti mengapa Turki begitu miskin, kumuh, suram, dan kacau balau. Menurutnya, adalah benar bahwa orang seharusnya memandang rendah dirinya karena tak memikirkan apa pun kecuali memikirkan negerinya sendiri dan gagal melihat hubungan antara negerinya dengan bagian dunia yang lain. Semenjak itu, ia mulai serius menulis novel yang bersettingkan Turki.

Walhasil, buku ini patut dibaca oleh siapa saja (seperti penulis, sosiolog, dan antropolog), terlebih yang mau mengenal lebih jauh siapa Orhan Pamuk dan negeri Turki (baca: Istanbul).[]

M. Iqbal Dawami,
Penikmat teh dan gogodoh

Pemberontakan Istri Kesembilan Belas


Judul: The 19th Wife: Istri Ke-19
Penulis: David Ebershoff
Penerjemah: Ibnu Setiawan
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Cetakan: I, November 2009
Tebal: 590 hlm.
----------------

Suatu ketika David Ebershoff, seorang penulis dan pengajar di Columbia University, berbicara dengan seorang profesor di bidang sejarah perempuan abad ke-19. Mereka berdua melakukan pembicaraan yang sangat panjang, dan profesor itu memberitahu semua cerita yang menakjubkan mengenai kaum perempuan Amerika pada abad ke-19. Kemudian dia menyebutkan Ann Eliza Young, yang saat itu terkenal sebagai istri ke-19.
Istri ke-19? Sungguh sebuah angka yang aneh di depan kata istri. Selanjutnya Ebershoff ingin mendalami lagi siapa yang dimaksud dengan istri ke-19 itu? Kemudian dia mulai berandai-andai, bagaimana rasanya menjadi istri ke-19? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini di otaknya, dia kemudian menulis novel dengan judul The 19th Wife.
Lembut dan puitis, enak dibaca dan tidak terlupakan. Itulah kesan saya ketika selesai membaca novel The 19th Wife karya David Ebershoff. Sang penulis menggabungkan fiksi sejarah epik dengan misteri pembunuhan modern untuk menciptakan sebuah novel yang brilian dari segi ketegangan cerita.
Saat itu tahun 1875, dan Ann Eliza Young baru saja berpisah dari suaminya yang penuh kekuatan, Brigham Young, kepala pendeta dan pemimpin Gereja Mormon. Diusir dan dibuang dari masyarakat, Ann Eliza memulai usaha perjuangan suci untuk mengakhiri poligami di Amerika Serikat. Sebuah cerita penuh makna dari sejarah keluarga pelaku poligami disampaikan, termasuk bagaimana seorang perempuan muda menjadi istri yang kesekian tersebut.
Segera setelah cerita Ann Eliza dimulai, narasi kedua yang indah sekali dibuka – sebuah cerita mengenai pembunuhan yang melibatkan keluarga pelaku poligami yang tinggal di Utah pada masa kini. Jordan Scott, seorang lelaki muda yang dibuang dari sekte fundamentalisnya beberapa tahun yang lalu, harus memasuki kembali dunia yang bisa membawanya ke dalam sekte tersebut untuk menyingkap kebenaran di balik meninggalnya ayahnya.
Dan sebagai narasi Ann Eliza yang terjalin dengan pencarian Jordan, para pembaca ditarik lebih dalam memasuki misteri cinta dan iman.
Novel ini membawa kita melewati hidup Eliza, dimulai sebelum dia lahir saat kedua orang tuanya mulai memeluk kepercayaan Mormon, berjumpa di gereja hingga akhirnya menikah. Ann Eliza adalah seorang perempuan berpikiran kuat yang menekuni kepercayaannya dengan serius. Bagaimanapun juga, dia menentang poligami, sebuah institusi yang didukung oleh Pendeta Joseph Smith, pendiri Gereja Yesus Kristus Latter-Day Saints (LDS), pada tahun-tahun terakhirnya.
Melalui pengalaman kedua orang tuanya dan pengalamannya sendiri, dia mengetahui kerusakan yang bisa disebabkan oleh poligami. Selanjutnya dia akan mengambil sikap menentang praktik perkawinan dengan banyak pasangan, meninggalkan hampir segala sesuatu yang dulunya dia ketahui dan dia pegang teguh, termasuk imannya.
Hubungan antara praktik dan doktrin mengarahkan kepada perpecahan di tubuh gereja. Beberapa kelompok kecil yang mendukung dan percaya bahwa praktik perkawinan dengan banyak pasangan diwahyukan secara mutlak dari Tuhan, memisahkan diri dari Gereja LDS dan membentuk kelompok sendiri. Poligami masih ada saat ini.
Hal inilah yang membawa kepada cerita Jordan Scott. Dia adalah seorang anak hilang, dibuang oleh ibunya di tepi jalan ketika dia masih berusia 14 tahun atas perintah kepala pendeta. Jordan tumbuh dalam kelompok yang terasing di Utah. Ibunya adalah istri kesembilan belas dari seorang laki-laki terhormat dalam kelompok Mesadale. Setelah dewasa dan tinggal di California, Jordan merasa pasti bahwa dia tidak akan pernah melihat ibunya lagi.
Bagaimanapun juga, ketika kabar sampai kepada Jordan bahwa ibunya ditahan karena tuduhan telah membunuh ayahnya, Jordan memutuskan untuk kembali ke tempat yang sangat dia benci. Dia mengepak barang-barangnya, melompat ke dalam mobil, bergabung dengan rekannya yang sangat dipercaya, Elecktra, dan menuju Utah. Dia tidak yakin apa yang akan dia lakukan, namun setelah bertemu dengan ibunya dan berbicara dengan pengacaranya, dia memutuskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu sendiri. Untuk melakukan ini, Jordan harus menghadapi masa lalunya.
Kedua cerita mengalir bersamaan melalui isi novel, menimbulkan hubungan yang muncul di sana-sini. Pengarang membawakan kedua cerita bersamaan dengan cara yang kreatif dan tidak bisa diterka.
Cerita yang dituturkan Ann Eliza membuat pembaca terpesona, terutama ketika dia menempati posisi yang penting dalam cerita dirinya. Dalam novel, dia tampil sebagai perempuan kuat yang tentu saja tetap mempunyai kelemahan, namun dia juga mengetahui pemikirannya sendiri. Saya mengagumi semangatnya dalam membela apa yang dia yakini. Saya bahkan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dia karena meninggalkan kehidupan dan keimanan yang membentuk dunianya – satu-satunya hal yang pernah dia ketahui.
Ada banyak sekali materi dalam novel ini, melebihi apa yang bisa saya katakan. Saat poligami barangkali menjadi materi yang terlalu banyak dibahas dalam novel, cerita-cerita pribadi di dalamnya lah yang benar-benar menjadikannya sebuah novel. Saya sungguh-sungguh merekomendasikan novel The 19th Wife karya David Ebershoff ini.
Novel The 19th Wife ini tidak memberikan kesimpulan akhir mengenai poligami, sebaliknya justru memunculkan isu dari berbagai sudut pandang dan membiarkan pembaca membentuk idenya sendiri.
Novel ini secara tidak langsung mendedah sejarah poligami di Amerika Serikat, terutama poligami yang dijalankan oleh pengikut Gereja Mormon. Namun sejarah itu tidak berakhir pada tahun 1890, ketika Gereja Mormon mengubah sikapnya terhadap poligami. Sejak saat itu praktik poligami bagi warga Amerika merupakan tindakan sekunder. Para pelaku poligami saat ini tentu saja bukan penganut paham Mormon. Dan perlu diketahui juga, aliran Mormon saat ini tidak melakukan poligami.
Novel ini bergerak maju-mundur di antara sekian abad. Ini mungkin merupakan trik penulis agar bisa bercerita bolak-balik. Begitu sebuah momentum dibangun di atas salah satu sisi cerita, pembaca langsung dihadapkan pada sisi yang lain ketika membalik halaman berikutnya. Waktu demi waktu juga dibangun di atas poin yang sangat kuat sekadar untuk menerima perubahan narasi. Namun, kita mendapatkan kedua sisi cerita tersebut sama-sama menarik.[]

M. Iqbal Dawami,
Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta



Minggu, Januari 31, 2010

stri Kesembilan Belas


Judul: The 19th Wife: Istri Ke-19
Penulis: David Ebershoff
Penerjemah: Ibnu Setiawan
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Cetakan: I, November 2009
Tebal: 590 hlm.
----------------

Suatu ketika David Ebershoff, seorang penulis dan pengajar di Columbia University, berbicara dengan seorang profesor di bidang sejarah perempuan abad ke-19. Mereka berdua melakukan pembicaraan yang sangat panjang, dan profesor itu memberitahu semua cerita yang menakjubkan mengenai kaum perempuan Amerika pada abad ke-19. Kemudian dia menyebutkan Ann Eliza Young, yang saat itu terkenal sebagai istri ke-19.
Istri ke-19? Sungguh sebuah angka yang aneh di depan kata istri. Selanjutnya Ebershoff ingin mendalami lagi siapa yang dimaksud dengan istri ke-19 itu? Kemudian dia mulai berandai-andai, bagaimana rasanya menjadi istri ke-19? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini di otaknya, dia kemudian menulis novel dengan judul The 19th Wife.
Lembut dan puitis, enak dibaca dan tidak terlupakan. Itulah kesan saya ketika selesai membaca novel The 19th Wife karya David Ebershoff. Sang penulis menggabungkan fiksi sejarah epik dengan misteri pembunuhan modern untuk menciptakan sebuah novel yang brilian dari segi ketegangan cerita.
Saat itu tahun 1875, dan Ann Eliza Young baru saja berpisah dari suaminya yang penuh kekuatan, Brigham Young, kepala pendeta dan pemimpin Gereja Mormon. Diusir dan dibuang dari masyarakat, Ann Eliza memulai usaha perjuangan suci untuk mengakhiri poligami di Amerika Serikat. Sebuah cerita penuh makna dari sejarah keluarga pelaku poligami disampaikan, termasuk bagaimana seorang perempuan muda menjadi istri yang kesekian tersebut.
Segera setelah cerita Ann Eliza dimulai, narasi kedua yang indah sekali dibuka – sebuah cerita mengenai pembunuhan yang melibatkan keluarga pelaku poligami yang tinggal di Utah pada masa kini. Jordan Scott, seorang lelaki muda yang dibuang dari sekte fundamentalisnya beberapa tahun yang lalu, harus memasuki kembali dunia yang bisa membawanya ke dalam sekte tersebut untuk menyingkap kebenaran di balik meninggalnya ayahnya.
Dan sebagai narasi Ann Eliza yang terjalin dengan pencarian Jordan, para pembaca ditarik lebih dalam memasuki misteri cinta dan iman.
Novel ini membawa kita melewati hidup Eliza, dimulai sebelum dia lahir saat kedua orang tuanya mulai memeluk kepercayaan Mormon, berjumpa di gereja hingga akhirnya menikah. Ann Eliza adalah seorang perempuan berpikiran kuat yang menekuni kepercayaannya dengan serius. Bagaimanapun juga, dia menentang poligami, sebuah institusi yang didukung oleh Pendeta Joseph Smith, pendiri Gereja Yesus Kristus Latter-Day Saints (LDS), pada tahun-tahun terakhirnya.
Melalui pengalaman kedua orang tuanya dan pengalamannya sendiri, dia mengetahui kerusakan yang bisa disebabkan oleh poligami. Selanjutnya dia akan mengambil sikap menentang praktik perkawinan dengan banyak pasangan, meninggalkan hampir segala sesuatu yang dulunya dia ketahui dan dia pegang teguh, termasuk imannya.
Hubungan antara praktik dan doktrin mengarahkan kepada perpecahan di tubuh gereja. Beberapa kelompok kecil yang mendukung dan percaya bahwa praktik perkawinan dengan banyak pasangan diwahyukan secara mutlak dari Tuhan, memisahkan diri dari Gereja LDS dan membentuk kelompok sendiri. Poligami masih ada saat ini.
Hal inilah yang membawa kepada cerita Jordan Scott. Dia adalah seorang anak hilang, dibuang oleh ibunya di tepi jalan ketika dia masih berusia 14 tahun atas perintah kepala pendeta. Jordan tumbuh dalam kelompok yang terasing di Utah. Ibunya adalah istri kesembilan belas dari seorang laki-laki terhormat dalam kelompok Mesadale. Setelah dewasa dan tinggal di California, Jordan merasa pasti bahwa dia tidak akan pernah melihat ibunya lagi.
Bagaimanapun juga, ketika kabar sampai kepada Jordan bahwa ibunya ditahan karena tuduhan telah membunuh ayahnya, Jordan memutuskan untuk kembali ke tempat yang sangat dia benci. Dia mengepak barang-barangnya, melompat ke dalam mobil, bergabung dengan rekannya yang sangat dipercaya, Elecktra, dan menuju Utah. Dia tidak yakin apa yang akan dia lakukan, namun setelah bertemu dengan ibunya dan berbicara dengan pengacaranya, dia memutuskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu sendiri. Untuk melakukan ini, Jordan harus menghadapi masa lalunya.
Kedua cerita mengalir bersamaan melalui isi novel, menimbulkan hubungan yang muncul di sana-sini. Pengarang membawakan kedua cerita bersamaan dengan cara yang kreatif dan tidak bisa diterka.
Cerita yang dituturkan Ann Eliza membuat pembaca terpesona, terutama ketika dia menempati posisi yang penting dalam cerita dirinya. Dalam novel, dia tampil sebagai perempuan kuat yang tentu saja tetap mempunyai kelemahan, namun dia juga mengetahui pemikirannya sendiri. Saya mengagumi semangatnya dalam membela apa yang dia yakini. Saya bahkan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya dia karena meninggalkan kehidupan dan keimanan yang membentuk dunianya – satu-satunya hal yang pernah dia ketahui.
Ada banyak sekali materi dalam novel ini, melebihi apa yang bisa saya katakan. Saat poligami barangkali menjadi materi yang terlalu banyak dibahas dalam novel, cerita-cerita pribadi di dalamnya lah yang benar-benar menjadikannya sebuah novel. Saya sungguh-sungguh merekomendasikan novel The 19th Wife karya David Ebershoff ini.
Novel The 19th Wife ini tidak memberikan kesimpulan akhir mengenai poligami, sebaliknya justru memunculkan isu dari berbagai sudut pandang dan membiarkan pembaca membentuk idenya sendiri.
Novel ini secara tidak langsung mendedah sejarah poligami di Amerika Serikat, terutama poligami yang dijalankan oleh pengikut Gereja Mormon. Namun sejarah itu tidak berakhir pada tahun 1890, ketika Gereja Mormon mengubah sikapnya terhadap poligami. Sejak saat itu praktik poligami bagi warga Amerika merupakan tindakan sekunder. Para pelaku poligami saat ini tentu saja bukan penganut paham Mormon. Dan perlu diketahui juga, aliran Mormon saat ini tidak melakukan poligami.
Novel ini bergerak maju-mundur di antara sekian abad. Ini mungkin merupakan trik penulis agar bisa bercerita bolak-balik. Begitu sebuah momentum dibangun di atas salah satu sisi cerita, pembaca langsung dihadapkan pada sisi yang lain ketika membalik halaman berikutnya. Waktu demi waktu juga dibangun di atas poin yang sangat kuat sekadar untuk menerima perubahan narasi. Namun, kita mendapatkan kedua sisi cerita tersebut sama-sama menarik.[]

M. Iqbal Dawami,
Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta



Minggu, Januari 17, 2010

Rahasia Sukses Investor Dunia


Dimuat di Seputar Indonesia, 17 Januari 2010

Judul: The Secrets of Investment Legends
Penulis: Barrie Dunstan
Penerjemah: Epic Mustika Putro
Penerbit: Daras Books
Cetakan: I, Desember 2009
Tebal: 344 hlm. (termasuk indeks)
-------------------------------

Berinvestasi ibarat seni atau ilmu pengetahuan. Investasinya kadang merefleksikan barang dan jasa yang paling dasar,mulai dari produk-produk berorientasi konsumen.

Buku Barrie Dunstan ini memang mumpuni dalam hal dunia investasi. Kita diajak berkenalan dengan pelbagai investor dunia. Sebagai seorang wartawan profesional, Dunstan menulis secara teratur untuk Australian Financial Review tentang investasi dan pengelola investasi. Ia terlibat dalam penelitian tentang para investor paling menarik di dunia bertahun-tahun.

Ia membangun reputasi internasional sebagai jurnalis terkemuka di negaranya,Australia. Dunstan mempelajari ide-ide terbaik para investor dunia dan bagaimana berinvestasi dengan sukses ala mereka, kita mendapatkan manfaat serta memiliki pedoman yang bijak dan berwawasan darinya. Adapun kaum investor yang digali oleh Dunstan adalah: Peter Bernstein,Barton Biggs,John C Bogle, Anthony Bolton, Sir Ronald Brierley,Gary Brinson,Warren Buffet, Abby Joseph Cohen, Ray Dalio, Marc Faber, David Fisher, Jeremy Grantham, Bill Gross, Martin Leibowitz,dan Lewis Sanders.

Orang-orang di atas yang dipilih Dunstan tentu bukan tanpa alasan. Ia memilih mereka didasarkan pada pelbagai pencapaian. Orangorang seperti Warren Buffet dan Charlie Munger, plus Anthony Bolton dari Fidelity International dan David Fisher dari Capital Group International,memiliki rekor yang begitu dahsyat karena secara konsisten mendapatkan keuntungan investasi di atas rata-rata.

Lainnya menggunakan ide mereka dan menerapkannya untuk membangun atau membantu membentuk lembaga-lembaga investasi besar. Bill Gross di PIMCO, Gary Brinson di Brinson Partners,dan Jack Bogle di Vanguard adalah contoh-contoh orang yang terkenal.

Lewat karyanya, terlihat Dunstan berusaha mencari tahu apa yang membentuk mereka selama hidup dan pendidikan mereka,apa yang membawa mereka ke dalam industri ini,secuil filsafat investasi mereka, orang yang telah memengaruhi selama karier mereka,dan siapa di antara rekan-rekan mereka yang mereka kagumi.

Sebagian besar legenda investor dalam buku ini mengungkap sesuatu tentang kualitas yang diperlukan untuk berinvestasi dengan sukses serta membangun bisnis dan portofolio investasi yang sukses.Mereka memiliki ide yang amat kuat tentang bagaimana menangani investasi. Warren Buffet, misalnya hampir memiliki kategorinya sendiri.

Ia telah menjadi narasumber di ratusan buku dan merupakan pengelola investasi paling terkenal dan menonjol di dunia, seperti ditunjukkan oleh status multimiliardernya. Ia memiliki ingatan ensiklopedis untuk keputusan investasi. Ketika Buffet pada usia 77 tahun ditanya apa yang akan dikerjakan 10 tahun mendatang,“Saya akan melakukan persis dengan apa yang saya lakukan sekarang karena saya sekarang melakukan persis apa yang saya sukai”.

Landasan strategi Buffet paling dasar adalah berinvestasi di perusahaan yang diyakini akan menyediakan nilai investasi jangka panjang. Prinsip investasinya adalah “Jauh lebih baik membeli perusahaan yang menakjubkan di harga yang wajar daripada membeli perusahaan yang wajar di harga yang menakjubkan.” Investor lainnya,Gary Brinson, mengungkapkan sedikit contoh tentang penilaian ekstrem dalam kehidupan investasinya.

Charlie Munger percaya investor harus mengikuti aturan petaruh sukses di pacuan kuda yang menunggu hingga mereka bisa melihat taruhan yang baik.Bahkan para penentang yang nyata, seperti Marc Faber menekankan agar anda perlu paham kekuatan pasar dan ekonomi sebelum melawan arus utama. Selanjutnya Ray Dalio memperjelas bahwa penting untuk memastikan anda tahu bagaimana serta kapan bertaruh.

Di luar semua pengelola aktif yang berusaha menemukan saham yang tepat di antara ribuan saham, Jack Bogle berpendapat bahwa lebih baik membeli seluruh jerami dalam dana indeks daripada menghabiskan waktu dan uang mencaricari jarum di tumpukan jerami itu. Meskipun ada banyak glamor dalam pembicaraan para pengelola aktif, untuk investor rata-rata, pendekatan Bogle adalah titik awal yang baik.

Seperti,konsentrasikan upaya anda padaapayangbisaandakendalikan, terutama biaya dan pajak. Para legenda ini telah memainkan peran besar dalam membentuk bisnis manajemen investasi, baik dalam teori maupun praktik. Ada yang menjadi pemain pasar, menyesuaikan dan mempelajari keahlian baru selama bertahun- tahun.Lainnya—seperti Gary Brinson dan Marty Leibowitz— memperluas batas pemikiran investasi.

Bill Gross adalah salah seorang yang pertama kali mengenali penerapan teori menghitung alfa dan mengalihkannya pada kelaskelas aset. Demikian pula Ray Dalio mengenal sejak dini bagaimana perbedaan sumber keuntungan investasi alfa dan beta bisa digunakan dalam investasi praktis— dan menemukan istilah sendiri untuk hal ini: teori portofolio pascamodern.

Pesan para legenda ini adalah anda seharusnya mengambil keputusan investasi yang besar dan signifikan hanya bila anda bisa menyadari bahwa pasar atau saham itu berada di titik ekstremnya— dan titik ekstrem ini tidak sangat sering terjadi. Konsekuensinya sederhana, jadilah investor jangka panjang,bukan hanya spekulan jangka pendek. Memang pelajaran yang agak membosankan.

Namun, itu terus-menerus diulang-ulang dari wawancara ke wawancara.Demikian kesimpulan Dunstan. Buku ini dapat memandu pembaca untuk seolah belajar langsung dan menyelami pikiran para investor sukses tersebut dan mengetahui apa saja yang dibutuhkan agar bisa super-sukses di dunia finansial.

Isi buku ini disarikan dari praktik dan pengalaman para legenda itu selama puluhan tahun dan boleh jadi tidak bisa didapatkan dalam sekolah-sekolah bisnis. Pembaca dapat mengambil manfaatnya; bagaimana berinvestasi, memilih saham,dan menghasilkan keuntungan yang sinambung dari pasar finansial.(*)

Senin, Januari 11, 2010

Perjalanan Spiritual Seekor Lebah




Judul: To Bee or Not to Bee; Lebah yang Bosan Mencari Madu
Penulis: John Penberthy
Penerjemah: Mila Hidajat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2009
Tebal: 154 hlm. 
-------------------

JIKA kisah ini benar-benar terjadi alias bukan fabel, betapa kita akan dibuat malu oleh seekor lebah yang satu ini. Lebah memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dengungan, sengatan dan madunya begitu familiar dalam kehidupan kita. Namun di balik semua keunikannya, kita akan terkagum-kagum dengan pengalaman seekor lebah yang menjadi aktor utama dalam karya John Penberthy ini.

Nama lebah itu Buzz Bee. Dia merasa tersisih dari masyarakat koloninya karena kegelisahannya menanggapi pertanyaan-pertanyaan filosofi yang tiba-tiba muncul dalam dirinya: ‘Siapa sih aku sebenarnya? Mengapa aku berada di sini? Dari mana asalnya? Mengapa segala sesuatunya ada?’ Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuatnya sangat berbeda dari tingkah laku seekor lebah pekerja seperti dirinya. Dan, Buzz sering kali mendapati pikirannya berkelana tanpa henti.

Buzz merasa jengah dan muak dengan pemandangan yang setiap hari ia lihat dalam masyarakat koloninya. Lebah-lebah pekerja berdengung menjelajahi padang rumput untuk mencari bunga-bunga yang tepat, merunduk ke dalam bunga-bunga untuk mengambil madu dan serbuk sarinya, lalu kembali ke sarang sarat dengan muatan nutrisi. Ada semacam perasaan mati rasa yang muncul dari diri Buzz. Ia kelelahan namun tidak bisa puas bekerja setiap saat seperti para lebah lainnya. Batinnya selalu mengatakan ada yang lebih penting dalam kehidupan ini selain membangun sarang dan merawat anak-anak.

Teka teki dalam diri Buzz bertambah pelik ketika ia mulai berpikir tentang hakikat Tuhan, surga dan neraka.

Bahkan tak habis pikir, Buzz dan masyarakat koloninya selalu dihadapkan dengan masalah mendasar; menyelamatkan dan mempertahankan sarang dari gangguan si Boris Bear, beruang pemangsa madu. Buzz sangat tidak berdaya melihat Boris dalam waktu sepuluh menit menghancurkan sesuatu yang dibangun dengan menghabiskan waktu seumur hidup.

Di tengah kekalutannya, Buzz dikejutkan oleh kehadiran Bert, seekor lebah tua dengan satu antena bengkok di kepalanya yang bakal menjadi teman sekaligus guru yang mengajarkannya banyak hal. Buzz dan Bert mempunyai kecenderungan yang sama. Sama-sama terobsesi menemukan hakikat hidup dan sulit mempercayai sesuatu yang tidak logis.

Pertemuan dengan Bert menjadi awal petualangan Buzz dalam kisahnya mencari Tuhan dan teka-teki yang menggantung dalam benaknya. Akal sehat Buzz seperti dijungkirbalikkan menanggapi pernyataan-pernyataan Bert yang bermakna ganda dan sangat membingungkan. Rasa frustrasinya semakin memuncak ketika Buzz menyadari bahwa ia tak akan bisa kembali ke kehidupan normal seperti yang dijalaninya dulu. Buzz sudah tahu terlalu banyak dan mau tidak mau ia diseret habis-habisan memasuki sebuah kenyataan yang pada akhirnya disadari menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Sepeninggal Bert, Buzz mulai berpikir dan menemukan tekad baru untuk melakukan perubahan, mencari impiannya yang sudah lama terkubur di sela-sela kesibukannya. Buzz terbang melintasi puncak gunung bergerigi yang sangat ganas. Bagi lebah sepertinya, terbang setinggi dua ribu kaki dengan medan yang sangat berat dan penuh bebatuan terjal, hanya akan mencari mati dan menemui kesia-siaan saja.

Meski begitu, pelajaran demi pelajaran memang harus dilalui, bagaimanapun kerasnya. Buzz dihantam dan dihempaskan begitu saja oleh amukan badai yang datang secara membabi buta. Sebuah celah sempit di antara retakan di lereng gunung telah menyelamatkannya dan cukup membuatnya terselip aman sebelum ia menyadari banyak keajaiban menimpa dirinya. Buzz sangat tercengang mendapati sekumpulan kecil tiga batang bunga liar yang mungil dengan ajaib melekat pada batu granit yang dingin dan tak bernyawa. Dan anehnya, madu yang keluar dari bunga itu adalah madu dengan rasa khas yang sama dengan yang pernah ia rasakan ketika Bert meninggal.

Pengalaman Buzz sungguh mengusik relung kesadaran kita sebagai manusia yang sejatinya diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. John Penberthy berhasil menggali pelajaran-pelajaran berharga yang dapat dapat kita petik melalui penjelmaan seekor lebah. Buku ini pun sangat cocok sebagai bahan renungan untuk menengok dan menilik kembali misi hidup kita yang sebenarnya. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran untuk memperoleh cara pandang berbeda mengenai kesempurnaan, perjalanan hidup, kebahagiaan, bahkan kematian.

Buku yang dari covernya beserta ilustrasi di dalamnya nampak seperti buku anak-anak ini penuh dengan aforisma dan pesan moral. Di antara aforismanya, seperti, “Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi merupakan majikan yang payah,” dan “Kehidupan adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.”

John Penberthy adalah seorang relawan yang menangani proyek penambahan vitamin A (mencegah kebutaan) untuk yayasan Hellen Keller International di Indonesia. Usaha kerasnya untuk melihat Tuhan dalam segala hal menuntunnya menulis buku ini.

Penberthy mampu menerjemahkan kehidupan seorang manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya, membuat kita merasa lebah itu tidak ada bedanya dengan kita. Boleh dikata, Buzz adalah cerminan orang ‘biasa’ yang jenuh bekerja siang malam untuk mencari nafkah dan menjalani hidupnya, yang kemudian mencoba mencari jawaban dengan melakukan pemikiran dan perjalanan spiritual.

Sekeras apapun kita bekerja, selayaknya kita jalani sebagai proses untuk meraih kesempurnaan hidup. Namun, alangkah naifnya jika di tengah-tengah kesibukan yang nyaris merampas semua waktu dan tenaga, kita begitu mudah terlena tanpa menyadari arti hidup ini. Karena, tanpa kesadaran itu hidup kita akan terasa hampa dan tak bermakna. Mengetahui semua itu membawa kita berpikir dan menyadari bahwa dunia ini bukan akhir segalanya. Akan tetapi dunia juga merupakan alat untuk belajar, sebuah kendaraan untuk kesadaran yang lebih besar.[]


M. Iqbal Dawami, penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta

Selasa, Desember 22, 2009

Wali Songo Ternyata Para Sufi


Judul: Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi; Akar Tasawuf di Indonesia
Penulis: Alwi Shihab
Penerbit: Pustaka IIMaN
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal: xxvi+343 hlm. (termasuk indeks)
------------------------------------

Para sejarawan dan peneliti bermufakat bahwa tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Bahkan di Indonesia lebih dari itu. Islam yang pertama diperkenalkan di Jawa adalah Islam yang bercorak sufi. Alwi Shihab, dalam buku ini, hendak membuktikannya. Alwi memaparkan bahwa para pelopor dakwah Islam pertama di Indonesia berasal dari Arab, dari keturunan Imam Ahmad ibn ‘Isa al-Muhajir al-Alawi (cucu Imam Ja’far ash-Shadiq), seorang pendiri tarekat ‘alawiyah.

Menurut Alwi, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi-Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur laut bagian barat. Hal itu berdasarkan manuskrip Cina pada periode Dinasti Tang. Manuskrip Cina itu mensyaratkan adanya permukiman sufi-Arab di Cina. Cina yang dimaksudkan dalam manuskrip pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia.

Pada abad ke-14 M ditandai dengan kedatangan tokoh-tokoh asyraf, keturunan Ali dan Fathimah binti Rasulullah Muhammad Saw. yang lazim dikenal dengan sebutan ‘alawiyyin. Pada periode ini, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga dapat tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara.

Para Wali Songo pun ternyata masih keturunan Imam Al-Muhajir. Kita tahu Wali Songo telah memberikan kontribusi terbesar bagi proses Islamisasi di wilayah Nusantara. Demi proses asimilasi dengan masyarakat Indonesia yang dialami keturunannya, mereka bersedia menghapus identitas kearabannya sehingga larut dalam struktur masyarat setempat. Hal ini terutama bermotif untuk mengamankan diri dari ancaman pengejaran penjajah Belanda atas tuduhan subversif sebagai pemicu gerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak memakai nama arab lagi, tetapi memakai nama Jawa atau Indonesia.

Wali Songo tidak dikenal sebagai sufi karena istilah itu belum populer di kalangan orang-orang Indonesia kecuali pada tahun-tahun belakangan. Di kalangan masyarakat umum istilah yang lebih dikenal adalah istilah “wali” yang dalam pengertian Indonesia tidak berbeda dengan konotasinya dalam bahasa arab. Ini membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah sufi.

Satu hal yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka dapat dengan mudah diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa? Alwi mengatakan bahwa Islam dalam corak sufi paling mampu memikat lapisan bawah, menengah dan bahkan bangsawan sekalipun. Sifat-sifat dan sikap kaum sufi lebih kompromis dan penuh kasih sayang. Tasawuf memang memiliki kecenderungan yang tumbuh dan berorientasi kosmopolitan, tak mempersoalkan perbedaan etnis, ras, bahasa, dan letak geografis.

Oleh mereka, idiom-idiom budaya lama (animis, Hindu, dan Budha) yang berkaitan dengan pandangan dunia (world view) berikut kosmologi, mitologi dan keyakinan takhayul diubah secara hati-hati. Wadah-wadah lama yang dipakai isinya diganti. Peninggalan kejeniusan masa silam masih bisa terlihat dalam upacara daur hidup, upacara desa dan semacamnya. Dalam upacara tersebut masih disediakan sesaji, tetapi doanya bukan untuk para "dewa-dewa" namun ditujukan sebagai permohonan kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta, dan sesajinya "biasanya berupa makanan" dimakan bersama-sama setelah memanjat doa.

Hal-hal di atas menunjukkan kearifan dan kemampuan mereka dalam memahami spirit Islam sehingga dapat berbicara sesuai dengan kapasitas para audiens-nya. Mereka melakukan modifikasi adat istiadat dan tradisi setempat sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

Ada hal yang menarik dari buku ini saat membahas tasawuf. Tasawuf di Indonesia terbagi dalam dua golongan, yaitu “tasawuf sunni” dan “tasawuf falsafi”. Dikatakan sebagai tasawuf sunni, karena mereka mengaku sebagai pengikut ahlussunnah wal jama’ah, di mana mereka banyak sekali mengambil ajaran-ajaran Al-Ghazali yang memang menjadi rujukan yang baku dalam pengajian-pengajian di pesantren. Ajaran Al-Gazhali ini tertuang dalam karya monumentalnya, Ihya ‘Ulumuddin. Kemudian, dilengkapi dengan dua karya lainnya, Minhajul ‘Abidin dan Bidayatul Hidayah.

Sedang tasawuf falsafi merujuk pada konsep tasawuf yang dihubungkan dengan mistisisme panteistik Ibnu Arabi. Ibnu Arabi dikenal ahli mistik Islam yang mengajarkan "kesatuan hamba dan Tuhan". Tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis.
Dalam perkembangannya penganut tasawuf sunni dan falsafi sempat mengalami konflik. Pada akhir abad ke-6 H bermunculan tarekat-tarekat yang sebagian besar mulai mengorientasikan pandangannya pada fiqih dan syari'at. Ar-Raniri, yang berada di sudut sunni menolak dan mencela tasawuf falsafinya Hamzah Fansuri, yang berada di sudut falsafi.

Tasawuf Sunni lebih banyak memberikan kontribusi dalam proses Islamisasi di Indonesia. Para pelopor dakwah itu menjabarkan ajaran-ajaran Islam dengan cara praktik dan keteladanan serta pengajaran yang lebih baik. Orientasi seperti ini jelas terikat oleh tradisi dan petunjuk-petunjuk Nabi Saw. Dan yang demikian adalah model pengajaran tasawuf Sunni yang diperkenalkan para da’i ‘Alawiyyin yang memotori proses Islamisasi di Nusantara sejak abad ke-13 M di Sumatra dan mengalami kemajuan pesat di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 dengan tokoh-tokoh sentralnya Wali Songo.

Buku ini boleh dikata sangat mumpuni dalam menelusuri dan memetakan sejarah tasawuf di Indonesia. Oleh karena itu, sangat layak dijadikan sumber “referensi utama” prihal seluk beluk tasawuf di Indonesia, khususnya, dan sejarah Islam di Indonesia, umumnya.[]

M. Iqbal Dawami, staf pengajar STIS Magelang

Senin, Desember 14, 2009

Kearifan di Balik Musibah


Judul: Catatan Cinta Istri
Penulis: Sari Meutia
Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Cetakan: I, November 2009
Tebal: xxvii+166 hlm.

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh yang meneladaninya"(Muhammad SAW)

Terkadang apa yang kita yakini sebagai fase aman dalam hidup kita, mendadak kacau akibat musibah yang menimpa kita. Kehidupan yang sekian lama berjalan sesuai dengan harapan dan cita-cita, tiba-tiba menjadi sangat rentan. Harta, cinta, keluarga dan karier yang tertata sedemikian rapinya, semuanya bisa luput dari genggaman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah apa gerangan sebab musabab di balik bencana yang datangnya sangat tak terduga? Sebuah teka-teki yang sangat menuntut kesadaran kita untuk menilik dan merenungkan kembali sepak terjang kehidupan kita.

Sari Meutia sangat tidak percaya kalau suaminya divonis Gagal Ginjal Terminal (GGT) nyaris tanpa aba-aba sebelumnya. Bagaimana mungkin orang yang sangat concern terhadap kesehatan dan terhadap apa yang diasupnya, baik makanan maupun minuman, bahkan menyukai olah raga renang, tiba-tiba mengidap sakit yang sangat kronis.

Fungsi ginjalnya diperkirakan tinggal 15-30 % sehingga diharuskan menjalani cuci darah seumur hidupnya. Meski begitu, Sari tidak serta merta menerima hasil lab yang ditunjukkan dokter padanya. Dia bahkan tidak ingin membenarkan vonis itu dan berharap ada kesalahan.

Berbagai referensi ia lacak. Teman, kerabat dan para dokter yang menyandang gelar professor spesialis ginjal dan hipertensi didatanginya demi mendapatkan sebuah titik terang. Namun pupus sudah harapan, karena hasil tes GFR (Gromerular Filtration Rate)—tes yang menggambarkan kecepatan ginjal membersihkan darah—menunjukkan angka 14,98 %, di mana ginjal kiri berfungsi 6 % dan ginjal kanan 8,98 %. Artinya, sangat tegas ada indikasi cuci darah atau cara lainnya yaitu melakukan operasi transplantasi (cangkok ginjal).

Ibarat bom atom jatuh dari langit. Nyaris semua rencana, harapan dan cita-cita, seperti runtuh seketika. Sari harus menerima vonis itu, meski menurutnya mustahil. Karena kejadian ini hanya berselang empat puluh hari sepulang mereka dari menjalankan ibadah haji. Ironisnya lagi suaminya tidak pernah sakit kurang lebih selama sepuluh tahun terakhir.

Bagaimana pun harus ada jalan keluar dari semua masalah ini. Sari tidak ingin suaminya harus menderita seumur hidup. Akhirnya, cangkok ginjal pun menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuhnya.

Setelah sempat sekali melakukan cuci darah, Sari membawa terbang suaminya ke negeri Cina. Sungguh perjuangan seorang istri yang tak tanggung-tanggung. Di samping harus tetap tegar, dan berusaha menjaga emosi positifnya, lalu menularkannya kepada suami, anak-anak dan keluarganya, bahwa seakan-akan tidak ada yang sakit dari keluarganya, Sari pun menanggung beban harus mengumpulkan dana yang sangat besar jumlahnya untuk biaya cangkok. Mengingat, operasi akan dilakukan di Cina dan waktu yang ada pun sangat mendesak.

Operasi pun dapat dibilang lancar. Ternyata, operasi cangkok ginjal di Cina sesederhana operasi usus buntu yang sering ditemui Sari dan suaminya. Akan tetapi puncak operasi justru pada pasca operasinya, yaitu masa-masa pemuliah. Dengan menguras tenaga dan emosinya, Sari terus bersabar menghadapi sang suami yang sering mengerang kesakitan, berhalusinasi, bahkan tak jarang, sering marah-marah padanya.dan, pada akhirnya, semuanya berhasil dilewati.

Buku ini merupakan sebuah catatan harian seorang istri di tengah kegalauan mendampingi suaminya yang mengalami gagal ginjal. Banyak alasan Sari menulis buku ini. Selain sangat bermanfaat bagi orang yang mengalami permasalahan ginjal—karena di dalamnya dipaparkan pula tentang panduan dan hal-hal penting seputar gejala dan cara-cara menyikapinya—Sari merasa harus mengungkapkan rasa syukurnya atas nikmat dan anugrah yang diberikan Tuhan selama ini. Tulisan dalam buku ini pun menjadi terapi yang mengingatkannya untuk terus bersyukur atas apa pun yang dialaminya dan ikhlas menjalani kehendak-Nya.

Pada akhirnya kehidupan memang tidak selamanya too good to be true, seperti halnya pengalaman penulis buku ini. Wanita yang menjadi salah satu pimpinan PT Mizan Media Utama (MMU) ini, dikenal sangat organized (teratur) dalam mengatur berbagai rencana hidupnya yang kehidupannya nyaris berjalan sesuai yang diharapkannya, pun tidak luput dari deraan yang datangnya sangat tiba-tiba. Semua pengalamannya seakan menggugah keterlenaan yang dirasakannya selama ini.

Kisah nyata yang dituturkan lewat buku ini pun mengandung hikmah yang sangat dalam dan dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja. Karena di balik setiap cobaan dan kejadian tentu ada peringatan dan pelajaran yang harus kita petik.

Setiap manusia pasti akanmengalami musibah. Tidak ada manusia yang bebas dari musibah. Oleh karena itu, hanya dengan kearifan kita akan sadar bahwa Tuhan sedang mengingatkan hamba-hamba-Nya. Setiap musibah yang terjadi adalah kehendakNya, tidak ada yang kebetulan. Karena boleh jadi, hal itu sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Tuhan.[]

M. Iqbal Dawami
Pencinta buku, tinggal di Yogyakarta

Kamis, Desember 10, 2009

Cinta Sepanjang Hayat

Judul: Live Through This; Kekuatan Cinta Seorang Ibu
Penulis: Debra Gwartney
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Mahda Books
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 351 hlm.

-----------------------
Kemarahan para nabi itu seperti kemarahan para ibu,
Kemarahan yang dipenuhi kasih sayang bagi anaknya tercinta
Sebab tidak ada ibu yang memarahi anaknya hanya untuk mendapatkan kesenangan,
Melainkan untuk membantunya mengerti.
Akankah dia membiarkan anaknya berlumuran darah jika dia tidak tahu
Bahwa sedikit rasa sakit dapat mendatangkan kebaikan pada anak itu?
(Jalaluddin Rumi)

Siapakah yang selalu mengingat kita dalam doa panjangnya dan mengkhawatirkan kita pula di sepanjang waktu. Belaian kasih sayangnya begitu tulus mengiringi setiap jengkal langkah kita. Siapakah yang dalam malam - malam panjangnya setia menjaga dan terjaga untuk kita di kala kecil dulu. Dialah sang ibu yang segenap jiwa dan raganya ia baktikan demi kebahagiaan anak-anaknya. Inilah sebuah buku memoar yang berisikan lika-liku hidup dan perjuangan seorang ibu yang ingin menyelamatkan anak-anaknya dari kehidupan brutal di jalanan.

Seorang ibu dari empat putrid—Amanda, Stephanie, Mary, dan Mollie—menjadi single parent karena gagal mempertahankan keharmonisan pernikahannya. Ia bercerai dengan suaminya yang telah lama dikenal sebagai teman mahasiswa di masa-masa kuliah. Sejak itu sang ibu yang tak lain adalah penulis buku ini, harus mengambil alih semua tugas sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah untuk putri-putrinya.
Namun perceraiannya itu justru menyulut kemarahan dan pemberontakan dua putri sulungnya, Amanda dan Stephanie, gadis berumur 14 dan 12 tahun, yang nekad kabur dari rumah dan berkeliaran di jalanan. Mereka bergabung dengan para gelandangan yang memberi mereka kemudahan untuk mendapatkan bir, narkoba, tinta untuk tato, cat rambut dengan segala macam warna, dan sudut-sudut paling tepat untuk memperoleh uang dari orang tak dikenal.

Pada mulanya sang ibu mengira bahwa pemberontakan putrinya hanyalah bagian dari fase yang secepatnya akan berlalu dengan beberapa koreksi. Namun semakin lama mereka semakin dalam terlibat dengan kelompok-kelompok punk di kota-kota.
Malam demi malam Amanda dan Stephanie sudah tidak lagi pulang ke rumah. Mereka tidur dan tinggal di sudut-sudut kota yang disinggahinya. Melompat dari satu kereta ke kereta dan keluar-masuk distrik sampai ke kota Tenderloin di San Francisco, di mana narkoba lebih dekat dan amat mudah mereka dapatkan.

Bagaimana sang ibu harus berjuang menyelamatkan putri-putrinya dan membawa mereka kembali pulang ke rumah? Live Through This merupakan lukisan tentang usaha habis-habisan Gwartney untuk menemukan kembali putri-putrinya yang begitu dicintainya. Gwartney begitu lihai mengemas detail cerita di dalam buku ini menjadi episode-episode sejarah masa lalunya yang sarat dengan tantangan dan pengorbanan.

Sepanjang tahun-tahun kehilangan putrinya itu, ia tak henti-hentinya melakukan pencarian, menyisir jalan sampai menjelajahi tempat-tempat penampungan remaja dan kantor-kantor polisi dengan membawa foto mereka.

Di tengah kesibukannya karena tuntutan kerja, sang ibu tetap bertekad mencari Amanda dan Stephanie sampai ke pelosok-pelosok negeri mana pun. Berbagai terapi dan metode ia jalankan. Karena kekhawatiran terus menyergapnya. Bagaimana pun ia tak akan pernah bisa membiarkan putri-putrinya menderita di luar sana. Dan bagaimana pun juga ia tak akan pernah membiarkan putrinya kena pukul, ditusuk, disayat, diperkosa, atau pun dibunuh di luar sana.

Buku ini menjadi gambaran nyata cinta kasih seorang ibu kepada anak-anaknya. Ibulah yang setiap saat selalu memastikan rasa aman bagi anak-anaknya, menanyakan keberadaan anak-anaknya setiap kali jauh darinya. Akan tetapi di balik semua itu seorang anak kerap kali menyakiti hatinya, dan membiarkannya terlunta.

Oleh karenanya, buku ini ditulis sebagai persembahan untuk putri-putrinya yang pada akhirnya kembali menjalani hidup secara normal. Buku ini pun dapat menjadi pelecut bagi setiap anak yang begitu mudah mengabaikan cinta dan pengorbanannya. Dari sini pula, kita dapat belajar darinya tentang kegigihan, ketabahan, dan kesabaran seorang ibu. []

M. Iqbal Dawami, penikmat buku, tinggal di Yogyakarta

Jumat, Desember 04, 2009

Pelarian yang Membawa Manfaat

Judul: How the World Makes Love; Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta
Penulis: Franz Wisner
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2009
Tebal: 496 hlm.
------------------

Kira-kira, apa yang anda lakukan ketika calon pasangan anda membatalkan untuk menikah dengan anda? Frustrasi? Stress? Bunuh diri? Atau Balas dendam? Tentu itu semua bukan cara yang positif. Alangkah hebatnya jika kekecewaan anda dijawantahkan kepada hal-hal positif nan manfaat. Seperti yang dilakukan Franz Wisner. Lantaran dicampakkan oleh calon istrinya yang telah dipacari selama 13 tahun, ia bertualang keliling dunia. Hebat bukan?

Buku ini adalah “oleh-oleh” yang kedua dari hasil petualangannya yang kedua pula. Petualangan periode pertama, diniatkan untuk mengobati luka hati akibat dicampakkan oleh calon istrinya itu, sedang petualangannya yang kedua ini hendak mempelajari lebih dalam kisah cinta dan perilaku-perilaku percintaan di negara-negara lain.

Ditemani adiknya, Franz bertualang ke Negara Brazil, India, Nikaragua, Republik Cheska, Mesir, Selandia Baru, dan Botswana. Tanpa alasan yang jelas mengapa dia memilih negara-negara itu.

Dalam meneliti Negara-negara di benua Eropa dan Amerika, seperti Brazil, Republik Cheska, dan Selandia Baru, Franz tidak begitu “sumringah” untuk melakukan identifikasi. Karena, prihal “percintaan” di sana hampir sama, di mana cinta selalu diidentikan dengan seks. Simpel dan praktis. Franz “hanya” menemukan kisah-kisah baru nan unik yang belum pernah didengar maupun dialami sebelumnya di negara-negara di luar benua eropa dan amerika.

Di India, misalnya, dia mendapatkan informasi bahwa segala urusan cinta dan pernikahan masih dimulai dan diakhiri oleh orangtua. Kebanyakan pernikahan di India merupakan hasil perjodohan, meskipun pasangan yang bersangkutan mendapatkan semakin banyak hak untuk berpendapat dalam hal ini, memperluas kesempatan untuk memveto atau menyarankan, dan waktu tambahan untuk berpacaran atau menjajaki hubungan sebelum mereka menikah.

Sedang di Botswana, sebuah negara di Afrika, Franz mengetahui kalau kita mengatakan kepada wanita bahwa dia gendut, berarti kita memberinya pujian besar. Kebanyakan pria justru menyukai wanita yang gendut untuk dijadikan istri, karena dianggap akan rajin mengurus rumah tangga. Dalam pikiran mereka, wanita yang kurus akan lebih mencintai tubuhnya daripada pasangannya.

Kalau anda ingin menikah dengan orang Botswana, anda akan memerlukan keluarga yang sangat dekat. Seorang abang atau sepupu yang bisa bernegosiasi akan dapat membantu. Yang lebih penting lagi adalah anda harus memerlukan hewan ternak berupa sapi. Di Botswana dan sebagian besar Afrika, sapi penting untuk pernikahan.

Selama berabad-abad, adat istiadat di sana mengharuskan mempelai pria menghadiahkan sekawanan kecil sapi kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol penghormatan karena mereka telah mengizinkan putri mereka dinikahi. Tradisi itu disebut bogadi atau lobala, sebagai cara untuk memperkuat ikatan antara kedua keluarga dan sebuah keharusan untuk berbagi kekayaan.

Lain halnya di Mesir, sebuah Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Franz mendapatkan budaya di sana jika ada seorang wanita yang tertangkap basah sedang memandangi pria akan dianggap sebagai wanita jalang dan dikecam oleh masyarakat di sekitarnya. Mayoritas wanita kelas menengah ke bawah di sana memakai cadar dan jubah. Franz bertanya-tanya dan begitu penasaran, bagaimana para pria memastikan wanita impiannya jika seluruh tubuh wanita itu tertutup cadar dan jubah?

Saat menanyakan hal itu, para pria Mesir mengatakan bahwa mereka bisa melihat kecantikan seorang wanita meski mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Pergelangan tangan dan kaki, kata mereka, menyembunyikan lekuk-lekuk yang tersembunyi. Dan mata mengungkapkan segalanya.

Sebagian pria Mesir memperhatikan bagian belakang pergelangan kaki wanita. Jika bentuknya bulat, berarti tubuhnya indah. Jika bentuknya lurus, berarti tubuhnya terlalu kurus. Pria dan wanita Mesir memandang kerampingan sebagai indikasi kemisikinan dan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Oleh karena itu, para wanita saling menyemangati untuk mengenakan pakaian berlapis-lapis dan makan lebih banyak agar badan mereka semakin gemuk.

Di perkampungan Mesir, masyarakatnya tidak mengenal istilah kencan. Mereka langsung menikah. Ajaran Islam benar-benar mereka pegang. Mereka sering mengutip Hadis Nabi, “Jika seorang pria yang beriman dan berkelakuan terpuji mendatangimu, nikahkanlah dia dengan putrimu.”

Bagaimana bisa? Franz benar-benar terperangah. Apakah tidak ada penyesalan yang akan datang di kemudian hari? Apakah yang terjadi jika mereka mendapati bahwa mereka tidak memiliki kesamaan?

Tidak masalah, kata orang Mesir. Itulah gunanya pertunangan. Bagi banyak orang Mesir, ini adalah Rencana B. Pertunangan hanyalah tahap pacaran resmi dengan selubung rencana pernikahan untuk mengurangi peluang kehilangan kehormatan bagi seorang wanita atau keluarganya.

Uniknya lagi, di Negara muslim ini, Franz menemukan bahwa prihal seks begitu terbuka.

Bagi siapa pun yang memikirkan tentang seks di dunia Muslim adalah bahwa banyak instruksi eksplisit dan dorongan. Tidak ada pesan tersembunyi di sini. Faktanya, sejarah telah membuktikan bahwa umat Muslim jauh lebih terbuka daripada orang-orang beragama lain tentang seks dan peranan yang selayaknya dipegangnya dalam masyarakat.

Buku hasil observasi ini begitu nikmat dibaca, karena dipaparkan dengan bahasa yang ringan, naratif, dan bertaburan humor. Selain itu, ia menyajikan kesimpulan hasil perjalanannya itu yang dapat kita ambil, di antaranya bahwa di seluruh dunia, nasihat pasangan yang awet ternyata sama: Komitmen, dan pengertian. Dan untuk mencapai hal itu butuh kerja keras. Kita cenderung menyembunyikan emosi di balik harta benda dan menampilkan kesan yang tidak akan dikecam oleh dunia kita. Sering kali, kita lebih mementingkan gaya hidup dari pada kehidupan di belakangnya.

Bagaimanakah akhir petualangan Franz Wisner? Pelajaran cinta apakah yang di dapatnya dari berbagai penjuru dunia? Lantas, berhasilkah dia menemukan cinta sejatinya? Temukan jawabannya dalam buku ini.[]