Rabu, Januari 23, 2013

MENGUKUR MINAT BACA DENGAN SISTEM READING RECORD (RR)


Oleh: Peng Kheng Sun
            Seperti sudah diketahui, minat baca masyarakat di Indonesia masih rendah. Mengenai hal ini banyak pihak telah berupaya mencari akar masalahnya dan menawarkan solusi untuk meningkatkan minat baca seperti membuat taman baca, rumah baca, perpustakaan, dan sebagainya. Selain itu, juga terdapat banyak buku yang isinya memotivasi orang untuk membaca. Masih kurang? Masih ada istilah bulan Gemar Membaca dan Duta Buku, serta berbagai atribut konvensional lainnya. Hasilnya jelas, yakni kenyataannya sampai saat ini minat baca masyarakat Indonesia masih berjalan di tempat.
            Nah, mengapa minat baca di Indonesia tetap rendah? Jawaban yang paling sederhana tapi logis dan amat jelas adalah orang-orang yang gemar membaca di Indonesia justru mengalami sejumlah kerugian tanpa konpensasi yang nyata. Jika membaca malah menderita kerugian, siapa yang mau dirinya disuruh memikul beban kerugian? Di Indonesia tanpa banyak membaca pun orang-orang bisa menjadi juara kelas, mahasiswa berprestasi tinggi, artis dan presenter top, guru teladan,  PNS teladan,  pejabat papan atas, atau apa saja bahkan termasuk menjadi penulis buku best seller! Lantas apa manfaat nyata yang bisa diharapkan dari membaca? Jawabannya: Tidak ada, atau setidaknya tidak ada manfaat yang tampak signifikan, kecuali hanya sedikit manfaat yang dicari-cari dengan susah payah. Keadaan ini masih diperburuk lagi dengan policy perbukuan yang sangat kental aroma komersialnya sehingga benar-benar bikin sial saja.
            Sejumlah slogan basi masih terus bergema dengan nafas Senin-Kamis dan wajah frustrasi mejeng di perpustakaan-perpustakaan sekolah dan umum. Buku adalah Jendela Dunia, Membaca Memperluas Wawasan, Membaca sangat penting bagi setiap orang, dan berbagai ocehan lainnya yang semakin tidak karuan sehingga jelas tidak perlu dipedulikan lagi. Mengapa? Karena masalahnya bukan terletak di situ. Masalahnya terletak pada: Apa perbedaan nyata dari orang-orang yang gemar membaca dengan orang-orang yang tidak gemar membaca? Pengalaman puluhan tahun saya menjual buku membuat saya paham, banyak orang suka mengklaim dirinya suka membaca walau kenyataannya sama sekali tidak ada minat terhadap buku apalagi mempunyai perpustakaan pribadi. Artinya, selama ini memang tidak kentara antara orang-orang yang gemar membaca dengan mereka yang tidak gemar membaca. Di sinilah letak ruginya menjadi orang-orang yang benar-benar gemar membaca, yakni:
  1. Mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli buku.
  2. Mereka harus merelakan sejumlah waktunya untuk membaca.
  3. Buku-buku mereka biasanya dipinjam orang-orang yang kurang gemar membaca dan sering tidak dikembalikan lagi.
Nah, logikanya dengan kerugian yang begitu nyata, siapa sih yang mau menjadi individu yang gemar membaca? Orang-orang yang gemar membaca hanyalah mereka yang memang dari sononya sudah memiliki hobi membaca atau setidaknya karena terpaksa seperti tuntutan tugas yang harus dikerjakan. Akan tetapi, mereka yang tidak mempunyai hobi membaca tapi masih waras tentu malas memasuki ranah yang cuma menghabiskan uang dan waktunya. Benar begitu, bukan? Sistem Reading Record (RR) adalah sistem yang menciptakan kontras (perbedaan yang benar-benar nyata) di antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak. Dengan sistem RR, keuntungan membaca menjadi jelas atau setidaknya sudah ada perbedaan yang tampak nyata antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak.
MANFAAT RR
Tujuan utama RR adalah mengukur kegemaran membaca seseorang. Jika seseorang mengaku gemar membaca, maka hal itu bisa dilihat dari RR yang dibuatnya. Dengan demikian, RR akan secara kontras menunjukkan siapa saja individu yang gemar membaca dan yang tidak. Hal ini sama saja dengan orang-orang yang membuat berbagai macam perbedaan seperti: master dan non-master untuk dunia catur, bintang dan non-bintang untuk hotel, pangkat untuk militer, best seller dan non-bestseller untuk buku (walau ini adalah jenis perbedaan yang menyesatkan). Dalam buku The Power of Creativity (bagian lampiran), saya menyarankan membuat  Reading Record (RR). Ternyata banyak pembaca yang sudah mencoba membuat dan merasakan manfaatnya secara nyata bagi mereka. Bahkan RR kini sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah dan juga digunakan oleh para pelamar kerja. Berikut ini adalah manfaat-manfaat RR.
Mempermudah Distribusi Informasi Buku
Dengan menggunakan RR untuk mencatat setiap buku koleksi pribadi yang telah selesai dibaca, pembaca bisa mendistribusikan informasi tentang judul-judul buku tersebut kepada pihak lain yang mungkin membutuhkannya. Sebaliknya, kita juga bisa melihat RR pihak lain untuk mencari informasi judul buku-buku yang kita perlukan. Dengan adanya RR, penyebaran informasi judul-judul buku menjadi sangat praktis dilakukan oleh siapa saja.
Mempermudah Menemukan Referensi
Dengan membuat RR, kita dengan mudah menemukan berbagai referensi bacaan yang diperlukan untuk menulis berbagai macam tulisan. Jika kita sedang mencari referensi untuk suatu tema, cobalah periksa RR kita yang terbaru. Jadi, RR menolong kita mengelola buku-buku koleksi kita secara efisien dan efektif.
Mengukur Minat Baca
RR bermanfaat untuk mengukur keaktifan atau minat baca kita. Apakah minat kita dari waktu ke waktu meningkat atau malah menurun? Dalam RR kita bisa melihat seberapa banyak persisnya jumlah judul dan jumlah halaman buku yang sudah selesai kita baca. Kita juga bisa mengetahui jumlah buku yang kita baca dalam jangka waktu tertentu, misal selama tiga bulan atau setengah tahun.
Merangsang Minat Baca
RR merangsang pembaca semakin giat membaca dan mencintai bacaan. Dengan membuat RR, kita menjadi lebih termotivasi untuk membaca lebih banyak. Kita ingin skor RR kita terus meningkat. Dengan membuat RR, perkembangan minat dan kemajuan membaca kita terdokumentasikan dengan baik dan rapi.
Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Terhadap Bacaan
RR meningkatkan kemampuan apresiasi kita terhadap kualitas bacaan. Dengan membuat RR, kemampuan kita menilai buku akan lebih terasah. Kita bisa membedakan mana buku yang berkualitas dan mana yang hanya ditulis secara asal-asalan. RR juga memungkinkan kita membandingkan berbagai macam judul buku yang telah kita baca.
Berfungsi seperti Curriculum Vitae (CV)
RR merupakan salah satu data diri seperti curriculum vitae (CV), yakni catatan tentang buku yang sudah pernah kita baca. RR menunjukkan jenis buku apa saja yang menjadi minat kita serta seberapa banyak kita telah membacanya. Semakin banyak kita membaca buku-buku yang membahas suatu subjek, maka semakin luas pula wawasan kita di bidang itu. Misal, jika RR kita menunjukkan bahwa kita sudah membaca 125 judul buku tentang menulis, maka wawasan kita tentang menulis adalah seluas itu.  Pencatatan ini juga memungkinkan klasifikasi bacaan yang dikoleksi.
Mencatat Jumlah Buku Koleksi
RR juga berfungsi untuk mencatat jumlah buku koleksi kita, termasuk menunjukkan buku-buku yang belum selesai dibaca. Buku yang sudah selesai dibaca dikasih tanda angka 1, sedangkan buku yang belum selesai dibaca bisa dikasih tanda angka 0 atau tidak diisi.
Contoh Reading Record
Reading Record (RR) -  Peng Kheng Sun                                                                                                             Topik: Kreativitas                                                




Kol
Judul Buku


Hal
Penulis
Penerbit
Terbit
Koleksi

Rp. 000
1
The Power of Creativity
1
A
150
Peng Kheng Sun
ANDI
2010
2010
32
2
Cracking Creativity
1
A
308
M. Michalco
ANDI
2010
2010
65
3
The Art of Innovation
1
A
379
Tom Kelly
Gramedia
2002
2010
67
4
Exploiting Chaos
1
A
278
Jeremy Gutsche
Gramedia
2010
2010
95
5
Knowledge & Innovation
1
B
485
Zuhal
Gramedia
2010
2010
140
6
Berpikir Lateral
1
B
296
Edward De Bono
Erlangga
1991
1995
30
7
Bengkel Kreativitas
1
A
311
Jordan E. Ayan
Kaifa
2003
2008
57
8
How to Mind Map
1
C
76
Tony Buzan
Gramedia
2004
2010
30
9
Mengembangkan Kreativitas
0


David Campbell
Kanisius
1993
2010
25
10
Thinker Toys
1
A
416
M Michalco
Kaifa
2009
2010
86
11
Mind Map at Works
1
B
194
Tony Buzan
Gramedia
2006
2010
55
12
Mind Map
1
A
148
Sutanto Windura
Elex Media
2009
2010
60
13
Be An Absolute Genius!
0


Sutanto Windura
Elex Media
2009
2010
60
14
The Art of Creative Thunking
1
C
134
John Adair
Golden B
2008
2009
27
15
7 Hal Gratis yang Menentukan Kesuksesan Anda
1
A
244
Peng Kheng Sun
Gramedia
2012
2012
44
16
Buku Pintar Mind Map
1
B
225
Tony Buzan
Gramedia
2009
2010
50
17
Cara Belajar Cepat
1
A
412
Ricki Linksman
Dahara P.
2004
2005
30
18
Menikmati Belajar secara Kreatif
1
A
94
Peng Kheng Sun
Samudra Biru
2011
2011
20


16

4150




973
25 Oktober 2012
Memetakan Ragam Bacaan
Dengan membuat RR, kita bisa memetakan jenis bacaan apa saja yang kita baca. Kita bisa membuat beberapa RR sesuai dengan jenis bacaan. Misal, kita bisa membuat RR tentang buku pemasaran, kreativitas, menulis, umum, dan sebagainya. Kemudian, kita membuat Rekapitulasi RR. Dengan demikian, kita bisa memetakan secara jelas berbagai ragam bacaan yang kita baca. Kita bisa menganalisis ragam bacaan yang kurang dibaca. Contoh, untuk buku Komputer, dari 45 judul buku, saya baru selesai membaca 18 judul atau baru 40%. Sedangkan buku Kepemimpinan, dari 59 judul, saya telah membaca 58 judul atau 98%.
Rekapitulasi RR

REKAPITULASI READING RECORD - PENG KHENG SUN



Buku
Buku
Jumlah

TOPIK BUKU
Koleksi
Dibaca
Halaman
1
Komputer
45
18
40%
3,319
2
Rohani
59
58
98%
12,066
3
Menulis
99
91
92%
15,849
4
Pemasaran
30
23
32%
2,190
5
Kreativitas
18
16
89%
4,410
6
Umum
24
7
29%
2,674

Jumlah
275
213
77%
40,508

25 Oktober 2012



Informasi Bacaan Penulis
            Dengan mencantumkan RR dalam karyanya, seorang penulis telah memberikan informasi buku-buku yang dibacanya. Informasi ini bisa menjadi petunjuk bagi pembaca untuk memahami ide-ide sang penulis dan sumber-sumbernya. Selain itu, jika setiap kali menerbitkan bukunya penulis mencantumkan RR terbarunya, maka pembaca bisa menilai seberapa besar peningkatan bacaan buku sang penulis. Jika jumlah buku yang dicantumkan di RR sangat banyak, penulis bisa menyertakannya dalam bentuk kepingan CD. Intinya, karena buku-buku yang kita baca akan mempengaruhi cara berpikir kita, maka penting bagi kita sebagai pembaca mengetahui buku-buku yang dibaca oleh sang penulis. Dengan kata lain, kita perlu tahu buku-buku apa saja yang berkontribusi terhadap pemikiran sang penulis buku yang sedang kita baca.  
PERKEMBANGAN RR
            Sejak pertama kali diciptakan hingga kini RR telah digunakan oleh siswa/mahasiswa, orangtua, guru/dosen, karyawan/calon karyawan, atasan, pembicara, pengusaha, ibu rumah tangga, dan setiap orang yang ingin mendokumentasikan pengalamannya membaca buku. Siswa yang membuat RR akan memudahkan guru memantau seberapa besar kegemaran membaca dan buku-buku bertema apa yang menjadi minatnya. Guru atau dosen yang membuat RR bisa memberikan informasi kepada murid-murid sumber bacaannya yang dimilikinya. Pihak perusahaan bisa mendapatkan informasi wawasan calon karyawannya dengan membaca RR calon karyawan. Singkat kata, RR memberikan informasi yang membuat perbedaan antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak.
***

Senin, September 03, 2012

Membangun Spirit Wirausaha

Judul: B.O.M.: Business Owner Mentality
Penulis: Hendrik Lim, MBA
Penerbit: Elex Media
Cetakan: I, Juli 2012
Tebal: xii + 506 halaman

Sebuah survey di London menunjukkan bahwa sekitar 80% pekerja “tidak merasakan apa-apa” saat pergi ke tempat kerja. Ini sama dengan mengatakan bahwa mereka tidak begitu senang harus pergi ke tempat kerja. Pergi bekerja hanya sebuah kewajiban. Bahkan bisa menjadi sebuah beban yang harus dihadapi dan tidak ada pilihan lain.

Sedang dalam sebuah riset lainnya dikatakan bahwa perusahaan yang bisa memiliki perilaku organisasi Business Owner Mentality selalu berkinerja hebat. Mereka punya iklim kerja yang menggairahkan dan profitable. Mereka senang dengan pekerjaannya. Mereka menjalankan perusahaan dengan akuntabilitas dan ownership seperti menjalankan perusahaan milik sendiri.

 Dari dua penelitian di atas sangat jelas jika sebuah perusahaan menginginkan kemajuan, hal yang harus dibenahi dulu adalah sumber daya manusianya, terutama mentalitas dan cara berpikirnya. Hal ini diamini oleh seorang mantan CEO di kelompok anak perusahaan Djarum Group dan GM Asia Pacific, Hendrik Lim. Dia mengatakan bahwa pola pikir, mentalitas dan mindset amat berpengaruh terhadap kelangsungan dan kebesaran sebuah perusahaan. Dia telah bekerja sama dengan banyak perusahaan. Dia mendapat kehormatan membantu mereka mendesain organizational behavior dan corporate culture agar iklim kerja menjadi vibrant. 

Tentu, Hendrik memahami betul mengapa para pekerja “tidak merasakan apa-apa” saat bekerja. Hendrik mengatakan, “Ketika ritme sebuah kerja itu menunjukkan pola yang sama, dan hal-hal yang bersifat risk taking seperti mencoba hal-hal baru yang inovatif tidak dicoba dalam diri kita, maka orang akan kelelahan mental. Ini wajar saja kalau orang mengerjakan sesuatu yang berulang-ulang tanpa tantangan. Ia akan burn out. Salah satu indikasi kelelahan mental: hari Sabtu atau Minggu, ia akan tidur seharian dan tidak merencanakan kegiatan apa pun bersama keluarga. Dan memulai lagi hal yang sama pada hari Senin,” (hlm.81). 

Lantas, bagaimana pemecahannya? Tak lain, yaitu membangun mental entrepreneur di semua lini, termasuk pekerja, ujar Hendrik. Entrepreneur adalaha sikap mental. Ini bisa dimiliki oleh semua orang dan profesi, bukan hanya pengusaha. Seseorang yang memiliki karakter entrepreneur akan selalu sukses dimanapun mereka berada, apa pun profesinya. 

Hal itulah yang hendak dibahas Hendrik dalam buku ini. Dia mengatakan bahwa siapa pun bisa menjadi entrepreneur, dan bisa mengadopsi mentalitas tersebut di mana pun ia bekerja. Oleh karena itu, sebuah perusahaan bisa mengadopsi entrepreneurial spirit ini, dan mengombinasikannya dengan praktik management leadership. 

Engagement
Saat ini sudah bukan zamannya lagi seorang direktur/CEO memimpin dengan rigid dan status quo, serta otoriter. Zaman yang semakin kompetitif ini dibutuhkan inovasi dan kreativitas agar sebuah perusahaan tetap bersaing. Maka, seorang pemimpin harus melibatkan seluruh komponen perusahaan, salah satunya adalah meng-engage pekerja dan executive dalam mencapai target dan cita-cita organisasi. Engagement adalah mengajak seluruh komponen untuk ikut terlibat secara aktif dalam sebuah pencapaian. 

Engagement hadir dalam level pikiran, perasaan, kehendak, dan semangat dalam diri pekerja. Direktur maupun karyawan harus menyadari bahwa mereka tidak bisa mengembangkan konsep diri sebagai "ambtenar" yang menunggu instruksi dari "pusat" atau "atas". Setiap individu, apa pun dan di mana pun posisinya, harus sudah menjadi pemain dalam bisnis yang dijalankan perusahaan. Ini berarti mereka sendiri yang mesti punya visi mengenai seperti mereka nantinya di masa datang. 

Hendrik mengibaratkan proses engagement itu mirip mengarahkan uap air panas secara kolektif dan menyalurkannya pada outlet tertentu, tidak membiarkannya buyar bergerak bebas, melainkan ternavigasi ke sebuah sasaran yang jelas. Sebagai orang yang sudah banyak “makan garam”, Hendrik menyadari betul bahwa tidak banyak hal besar yang bisa dihasilkan kalau sebuah organisasi hanya bisa ‘membeli’ badan dan tangan pekerja, tapi tanpa mendapatkan pikiran dan jiwanya. Oleh karena itu, membekali pekerja/profesi dengan pengetahuan dan keterampilan sudut pandang seperti yang dimiliki pemilik perusahaan akan melengkapi kemampuan executive management menjadi semakin lengkap.  

Intangible  
Mengembangkan mentalitas entrepreneur berarti mengajak setiap individu untuk melihat dirinya sebagai profesional sukses, di mana kesuksesan tersebut sambung-menyambung dan terus hidup untuk menyambut tantangan baru. Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd Consultant, memberi contoh, pengusaha kripik home-industry di Bandung, yang bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah per hari. Mereka mengembangkan pemasaran dari rekan-rekan dan karyawan yang mereka sebut sebagai “jendral”. Para “jendral” dengan mentalitas entrepreneur yang terus berpikir kreatif inilah yang menghidupkan bisnis dan terus memperluas jaringan. 

Melalui buku ini Hendrik sesungguhnya mengajak para pebisnis untuk bertansformasi yang sampai menyentuh pada intangibles (aset nirwujud yang terekam dalam mental dan karakter). Rhenald Kasali (2010) menjelaskan bahwa perusahaan yang progresif adalah perusahaan yang memobilisasi harta-harta nirwujudnya. Sementara perusahaan yang semata memfokuskan perhatian pada tangible assets akan menjadi stagnan. Karakteristik intangibles misalnya: keberanian, kreatif, tidak menunggu, antusias, tidak egois, dan lain-lain. Buku ini sangat layak dijadikan referensi guna mendapatkan insight, menumbuhkan karir dan bisnis.[] 

M. Iqbal Dawami Direktur Iqro’ Corporation

Rabu, Juni 27, 2012

Renungan dari Sang Peziarah

Judul: Seperti Sungai yang Mengalir; Buah Pikiran dan Renungan
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2012
Tebal: XVII + 303 halaman

Buku ini merupakan karya novelis ternama asal Brasil, yang terkenal dengan novelnya berjudul Alkemis. Hanya saja buku bukan berupa novel, melainkan kumpulan renungan dan cerita pendek, kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Buku ini ditulis dengan nada yang kadang humoris, kadang serius, tapi selalu dalam dan mengungkapkan artinya mengalami hidup dengan sepenuh-penuhnya.

Ia menawarkan refleksi pribadinya pada berbagai mata pelajaran dari busur panah dan musik untuk keanggunan, bepergian dan sifat baik dan jahat. Dikisahkan, seorang wanita tua menjelaskan kepada cucunya bagaimana pensil hanya dapat menunjukkan kepadanya jalan menuju kebahagiaan! Petunjuk tentang cara untuk mendaki gunung mengungkapkan rahasia untuk membuat impian Anda menjadi kenyataan. 


Karya ini menyajikan kisah Ghengis Khan dan Falcon yang mengajarkan tentang kebodohan akibat dari rasa amarah— seni persahabatan, dan seorang pianis yang melakukan contoh dalam memenuhi takdirnya. Paulo belajar tiga pelajaran penting ketika ia pergi untuk menyelamatkan seorang pria di jalan. Paulo menunjukkan kepada kita bagaimana kehidupan memiliki pelajaran untuk kita dalami, dari pengalaman terbesar, terkecil dan paling tidak biasa. Setelah membacanya, Anda akan mengerti, bahwa keindahan dan kebahagiaan ternyata ada dalam hal-hal sederhana. Kebijaksanaan ternyata sering bersembunyi di tempat-tempat tak terlihat. Kisah Upacara Minum Teh menunjukkan hal itu, pada saat Paulo berkunjung ke Jepang. “Upacara minum teh bertujuan untuk menghormati hal-hal yang indah dan sederhana” (hlm. 212). 


Simak juga bab berjudul “Genghis Khan dan Burung Rajawalinya” (hal. 32). Dikisahkan, Genghis Khan suatu pagi pergi berburu membawa burung rajawali kesayangannya. Saat sedang beristirahat di tengah hutan, ia tak bisa menemukan sumber air karena semua mata air saat itu sudah mengering dalam terkaman musim panas. Tiba-tiba Genghis Khan melihat ada air menetes-netes dari bebatuan di depannya. Ia lalu melepaskan rajawalinya dan mulai menampung tetesan air itu dalam cangkir yang selalu ia bawa. Setelah penuh terisi, ia pun meminumnya. 


Namun sebelum air itu sempat masuk ke mulutnya, rajawalinya menyambar cangkir itu sampai jatuh. Hal ini dilakukan berkali-kali hingga Genghis Khan murka. Ia pun menghunus pedangnya dan membunuh binatang kesayangannya itu. Karena tetesan air itu sudah berhenti, Khan penasaran dan naik ke atas bebatuan untuk mencari sumber air itu. Alangkah kagetnya Khan ketika menemukan bangkai ular berbisa di tengah genangan air di atas bebatuan—salah satu jenis ular paling berbisa di daerah sekitar situ. Ia bisa saja mati terkena bisa ular yang bercampur dengan air. Khan lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuat patung emas burung itu. Di salah satu sayapnya ia meminta dituliskan kalimat ini: Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu. Di sayap yang satu lagi, ada tulisan: Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan. 


Dalam bab berjudul “Orang Katolik dan Orang Muslim” (hal. 277), Coelho menegaskan pentingnya kerukunan umat beragama. Ia mengisahkan pada saat itu ia sedang makan siang bersama seorang pastor Katolik dan seorang rekan beragama Islam. Rekannya yang Muslim ini sedang berpuasa sehingga tak ikut makan. Selesai makan, ada orang yang berkomentar pedas melihat si orang Muslim ini. “Kalian lihat betapa fanatiknya orang Muslim itu! Untunglah kalian orang-orang Katolik tidak seperti mereka.” 


Si pastor membalas perkataan tak sopan tersebut. “Tetapi kami pun sama. Dia berusaha mematuhi Tuhan, sama seperti saya. Hanya saja kami mengikuti hukum-hukum yang berbeda.” Lalu ia berkata kepada Coelho, “Sayang sekali orang hanya melihat perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka. Seandainya kita memandang dengan kasih yang lebih besar, kita akan lebih banyak melihat kesamaan-kesamaan, dan sebagian dari masalah-masalah di dunia akan terselesaikan.” 


Paulo ingin dikenal sebagai peziarah ketimbang novelis dan spiritualis, karena dari ziarah itulah dia mendapatkan pencerahan hidup, terutama saat ziarah ke Santiago, tempat peziarahan umat Katolik. Dan melalui buku ini kita banyak diajak berziarah ke pelbagai tempat di dunia yang menyimpan hikmah dan pelajaran.[] 


M. Iqbal Dawami Pencinta buku, penikmat secangkir teh.

Agar Bahagia dalam Bekerja

Judul: I Love Monday; Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: x + 299 hlm.

“Sebab aku percaya satu-satunya cara berbagi cinta personal kita adalah dengan melalui kerja,” ujar Paulo Coelho, novelis ternama asal Brasil. Ya, bekerja sejatinya adalah sebentuk ekspresi berbagi kepada khalayak manusia. Dengan bekerja, kita menjadi bahagia, karena sudah memberikan hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian bekerja adalah alasan kita berada di dunia ini. Namun, kenyataannya masih banyak orang bekerja dalam keadaan tidak bahagia. Mereka bekerja dengan perasaan galau, tidak bahagia dengan apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka membenci hari senin, sebagai awal hari dimulainya bekerja, setelah sehari-dua hari sebelumnya mereka berlibur. Sungguh ironik.


Yang membuat orang tidak bahagia dalam bekerja sesungguhnya bukanlah karena pekerjaan itu sendiri, melainkan paradigmanya terhadap pekerjaan. Bagaimana bisa bahagia jika seseorang melihat pekerjaannya hanya sebagai setumpuk tugas yang harus diselesaikan? Arvan Pradiansyah, seorang motivator, trainer, dan Happiness Inspirer, dalam buku terbarunya I Love Monday (2012) memaparkan sisi-sisi indah sebuah pekerjaan. Ia membuat tipologi manusia melihat pekerjaan yakni job, career, dan calling. 


Pertama, melihat pekerjaan sebagai job. Tipe pekerja seperti ini adalah tipe orang yang menjalankan skenario orang lain. Dia datang ke kantor hanya sekadar menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Tidak ada greget untuk meningkatkan performanya. Yang penting adalah pekerjaan selesai, mendapat gaji, dan merindukan hari libur. Mereka hanya menjalani rutinitas, tidak menyukai pekerjaannya, terlebih menikmatinya. Walhasil, mereka bekerja dengan beban berat. 


Kedua, melihat pekerjaan sebagai career. Tipe pekerja seperti ini adalah tipe orang yang menjalankan skenarionya sendiri. Dia tidak hanya bekerja, tetapi juga mempunya inisiatif, inovatif, dan kreatif. Mengapa orang jenis ini melakukan seperti itu? Karena dia mempunya mimpi dan cita-cita. Dia tidak sebatas hendak bekerja seperti itu selamanya. Dia mempunyai misi bagaimana perusahaan tempat dia bekerja bisa maju. Dan secara tidak langsung, hal itu akan meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Konsekuensinya adalah kesuksesan. 


Ketiga, melihat pekerjaan sebagai calling. Tipe pekerja seperti ini adalah tipe orang yang menjalankan skenario Tuhan. Dia tidak lagi berfokus pada diri sendiri, melainkan pada orang lain. Dia bekerja di bidang tersebut karena memang panggilan (hidup). Tipe pekerja jenis ini sadar bahwa dirinya sesungguhnya adalah utusan Tuhan yang dikirimkan-Nya ke dunia ini karena sebuah maksud tertentu. Orang yang melihat dunia seperti itu akan beroleh kebahagiaan dalam bekerja, dan api semangatnya tak pernah padam. Dia tidak hanya mendatangkan kesuksesan hidup, tetapi juga kebahagiaan hidup. 


Uang
Bekerja adalah tujuan terpenting penciptaan manusia di alam semesta ini. Sesungguhnya, bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini. Setiap orang, sejatinya adalah manusia hebat jika mereka mampu menemukan panggilan jiwa mereka dan mengelolanya dengan baik. Tetapi, menemukan panggilan jiwa bukanlah hal mudah. Ini adalah perjalanan kita untuk menemukan jati diri kita. Ini adalah perjalanan spiritual seumur hidup kita. Tentu saja, ada banyak kendala yang sering menghadang kita. Salah satu yang terbesar bernama uang. 


Uang, menurut Arvan, memang dapat menghasilkan kesenangan dan kenikmatan, tetapi kegiatan tersebut tidak akan menghasilkan perasaan berguna dan bermakna. Dan ketika Anda hanya mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, rasa bosan akan sering melanda diri Anda. Sembari memperkuat argumennya, Arvan mengutip kata-kata Steve Jobs, bahwa “Kepuasan kerja sejati tidak terletak pada uang yang dijanjikan, tetapi pada pengembangan diri untuk terus memperbaiki kualitas sumber daya sebagai bekal yang tidak terseret inflasi seiring perkembangan waktu.” 


Ia juga memaparkan hasil penelitian Tim Kasser dan Richard Ryan, bahwa orang yang menempatkan uang dalam daftar utama prioritas mereka sangat berisiko menderita depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Semakin mencari kepuasan dari sesuatu yang bersifat material, semakin sulitlah kita menemukannya. Tak salah memang kita bekerja dengan niat mendapatkan uang. Tapi, niat seperti itu mudah terkena “penyakit”, baik penyakit fisik maupun psikis, sebagaimana dipaparkan di atas. 


Pelayanan 
Arvan memberikan solusi yang bagus bahwa agar kita bekerja dengan dengan penuh makna dan bahagia yang nilainya jauh dari soal uang, yakni bekerja untuk melayani orang lain. Esensi bekerja bukanlah mencari uang, melainkan melayani sesama manusia yang membutuhkan. Dengan melayani, kita akan merasa penting, bermanfaat, dan berguna. Dan apabila Anda melayani orang lain, uang akan datang dengan sendirinya sebagai sebuah konsekuensi, karena melayani sesungguhnya adalah konsep bisnis. Mementingkan orang lain adalah rahasia bisnis terpenting sepanjang masa. 


Ketika Anda menemukan diri Anda bermanfaat bagi orang banyak, dalam diri Anda telah tercipta api semangat yang menyala-nyala dan tak akan pernah padam. Mencari manfaat dan makna adalah sesuatu yang paling besar yang dicari oleh manusia di dunia ini, jauh melebihi pencarian akan uang. Bekerja dengan niat melayani ini juga yang dimaksud Arvan termasuk pada kategor calling, yakni orang yang bekerja karena panggilan hidup, yang semata-mata melayani sesama sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Bukankah semua tindakan yang kita lakukan untuk membantu orang lain (baca: pelayanan) merupakan perwujudan dari ketundukan dan pelayanan kita kepada Tuhan itu sendiri? 


Buku ini akan mengubah paradigma Anda soal pekerjaan, yang tadinya pekerjaan dijadikan sebagai job, akan beralih ke career, dan yang career berhijrah ke calling. Jika sudah menganggap bekerja sebagai panggilan hidup, maka Anda akan mengucapkan dengan penuh antusias, “Selamat datang hari senin!”[] 


M. Iqbal Dawami Direktur Iqro Corporation

Selasa, April 24, 2012

Ketika Lan Fang Menulis Esai

Judul: Imlek tanpa Gus Dur
Penulis: Lan Fang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2012
Tebal: vi+112 hlm.  

Almarhumah Lan Fang, sastrawati asal Surabaya, lebih dikenal sebagai novelis dan cerpenis, ketimbang esais. Wajar, karena memang karya-karyanya banyak berupa novel dan kumpulan cerpen. Tapi, buku ini memperkenalkan kepada khalayak pembaca bahwa seorang Lan Fang juga sangat piawai dalam menulis non-fiksi, dalam hal ini esai. Ya, buku ini membuktikan hal itu. Di dalamnya adalah kumpulan esai yang berjumlah 22 tulisan. Dibuka dengan esai "Adat dan Adab Menulis" dan ditutup dengan esai "What is Bahasa Daerah".

Jika dicermati dari ragam judul tulisannya, Lan Fang mengangkat beberapa tema, di mana tema-tema tersebut tidak jauh dari kehidupan yang menyertai dirinya. Tema-tema tersebut banyak berbicara perihal ketionghoaan, sebut sebut saja, misalnya, "Ghirah Sastra Tionghoa Terus Menyala", "Makam Suci di Bukit Lingzhan", "Sastra Cina: Bangkit dari Mati Suri", dan lain-lain. 

Barangkali salah satu tulisan utama yang mengandung tema ketionghoaan adalah sebagaimana yang dijadikan judul buku ini yakni "Imlek Tanpa Gus Dur". Tulisan ini menjadi "maskot" buku ini. Hal ini wajar, karena Gus Dur adalah seorang pembaharu bagi warga Tionghoa, karena ia pada saat menjadi presiden mengeluarkan Keppres tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Ini sungguh luar biasa di mata warga keturunan Tionghoa, karena mereka merasa diakui sebagai bagian dari warga negara Indonesia. 

Untuk itulah, Lan Fang dalam tulisan "Imlek tanpa Gus Dur" berkisah secara personal yang menyeolahkan dirinya berbicara langsung dengan Gus Dur. Minggu, 14 februari 2010, adalah Imlek ke-8 diakui pemerintah sebagai hari libur nasional. Imlek kali itu berbeda yang dirasakan Lan Fang, sebab perayaannya tanpa Gus Dur. Lan Fang berkisah masa kecilnya di Banjarmasin. Toko orangtuanya ramai pembeli saat bulan puasa Ramadhan. Saat Idul Fitri, Lan Fang bertanya-tanya, "Saya juga ingin mempunyai hari raya, tetapi kenapa tidak pernah ada?" 

Namun, selama bertahun-tahun tidak ada yang bisa memberikan jawaban padanya. Termasuk orangtuanya. Sampai suatu ketika, keluarganya menyulut hiosua di pintu belakang toko, kemudian mereka makan misua dan telor rebus. Setelah itu, dia sungkem kepada orangtua dan para sesepuh lalu menyelipkan angpau di kantong Lan Fang. Pada hari itu, dia juga memakai baju bagus seperti pada saat Idul Fitri. Ketika itulah, orangtuanya menjelaskan bahwa dirinya sedang merayakan hari raya juga. 

Tapi, dia heran, kenapa "Idul Fitri" mereka sangat sepi? Bahkan sepertinya dirayakan dengan sembunyi-sembunyi. Hari raya yang dirayakan dengan diam-diam saja. Sampai pada saat Indonesia memasuki era reformasi dan Gud Dur menjadi presiden, Imlek baru dijadikan hari libur nasional. Hari raya yang sebelumnya hanya dirayakan dalam kesenyapan tiba-tiba menjadi gempita. Mengucapkan gong xi fa chai sama meriahnya dengan saat mengucapkan minal aidin wal faidzin atau merry christmas. Baju jibao menjadi salah satu trendsetter mode pakaian. Bahkan, pada saat perayaan Imlek, Gus Dur tampak tidak canggung memakai baju jibao tersebut. 

Bagi Lan Fang, Gus Dur adalah orangtuanya. Karena sudah memenuhi keinginan masa kecilnya terdahulu untuk merayakan Imlek layaknya Idul Fitri. Dalam tulisan ini Lan Fang, secara jujur, betapa inginnya dia sungkem kepada Gus Dur saat Imlek. Lan Fang begitu menghormati Gus Dur karena telah dia anggap sebagai ayahnya sendiri. 

Dalam tulisan lainnya, Lan Fang juga berkisah tentang lawatannya ke negeri Cina. Dia mengamati perjumpaan antara Cina dengan Islam. Dia bercerita tentang pusara suci sahabat Nabi Muhammad di Cina yang dahulu diutus untuk mengenalkan pesan damai Islam di sana. Dari tulisan-tulisan semacam ini, ada pesan yang bisa kita gali bahwa Lan Fang sangat menjunjung kerukunan umat beragama. Dia tidak canggung berdialog dan bergaul dengan keyakinan yang bukan dianutnya. Dia juga sudah biasa bicara di tengah masyarakat muslim, semisal di lingkungan pondok pesantren. ]

Walhasil, lewat esai-esainya yang terhimpun dalam buku ini, kita dapat melihat bahwa Lan Fang adalah pribadi yang terbuka dengan budaya dan keyakinan lain. Meski seorang penulis—yang identik penyendiri—ia ternyata mampu bersosialisasi dengan masyarakat luas tanpa ada rasa canggung. Perhatiannya terhadap multikultural, kesenian, kebudayaan, dan keberagamaan begitu besar. Satu hal lagi, adanya buku ini juga menandaskan bahwa ia tidak hanya piawai dalam menulis novel atau cerpen, tetapi juga esai. 

Namun sayang, buku ini tidak dilengkapi kata pengantar, biodata penulis, dan endorsement, sehingga terkesan asal naik cetak saja. Padahal, buku ini sungguh menarik dan mempunyai sumbangsih yang mendalam bagi dunia sastra, budaya, agama, dan seni.[]

M. Iqbal Dawami, esais dan pencinta sastra, tinggal di Pati.

Senin, April 16, 2012

Meraih Sukses Sejati


Sindo, 15 April 2012
===============
Judul: 7 Hal Gratis yang Menentukan Kesuksesan Anda
Penulis: Peng Kheng Sun
Penerbit: Elex Media
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: ix +244 hlm.
===============

SIAPA yang tidak ingin sukses? Barangkali tidak ada. Semua orang sepakat bahwa manusia dalam hidupnya pasti ingin sukses. Pelbagai cara dilakukan. Dan terkadang kita masih di tempat yang sama seolah kesuksesan semakin dikejar semakin menjauh. Padahal tahukah anda bahwa Tuhan telah menyediakan sejumlah hal gratis yang sangat bernilai bagi setiap orang yang mau memanfaatkannya untuk mendapat kesuksesan tersebut. Setiap orang memiliki kapasitas untuk mendapatkan semua hal gratis tersebut.

Buku ini dapat membantu siapa saja yang ingin meraih kesuksesan dalam pelbagai bidang kehidupan dengan memanfaatkan semua hal gratis yang sudah tersedia. Karena bisa mendapatkan sesuatu secara gratis, kita jadi kurang menghargai apa saja yang bisa didapatkan secara gratis. Jarang sekali orang bersyukur bisa mendapatkan berbagai gratis yang lain. Ketujuh hal gratis yang dimaksud adalah: ide, kesempatan, cita-cita, rencana, semangat, mental, dan sahabat.

Meski ide merupakan hal yang sangat luar biasa, tapi ide itu merupakan hal yang gratis. Artinya, setiap orang sebenarnya bisa menghasilkan ide sebanyak-banyaknya sesuai dengan keinginannya. Namun ide baru tidak datang begitu saja. Setiap orang perlu berusaha untuk mendapatkannya. Ide baru yang bisa diwujudkan dengan baik ibarat mata uang yang membuat anda mempunyai nilai tambah dan "laku" di masyarakat. Contoh, Hong Kong tidak mempunyai tempat-tempat wisata alam seperti di Indonesia, tapi mengapa banyak turis mancanegara tertarik mengunjungi Hong Kong? Tidak lain karena penguasa Hong Kong mempunyai ide cemerlang dengan menawarkan wisata jenis lain, yakni wisata menikmati keindahan kota Hong Kong.

Tanpa ide seperti itu, Hong Kong jelas bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ini fakta bahwa ide sungguh mampu membuat hasil yang berbeda. Sebaliknya, banyak daerah di Indonesia yang sudah mempunyai tempat wisata alam yang indah dan menarik, tapi karena Pemda setempat tidak mempunyai ide untuk memanfaatkannya secara maksimal, maka tidak menjadi tempat pariwisata yang menarik dan ramai dikunjungi orang. Jika anda hanya mengandalkan ide-ide lama yang sudah usang, tentu hasil yang akan anda lakukan dapatkan juga tidak maksimal. Ide-ide yang tidak ditindaklanjuti tidak ada manfaatnya betapapun bagusnya ide tersebut. Ide baru yang tidak pernah ditindaklanjuti sa,a saja dengan tidak mempunyai ide.

Ide adalah sesuatu yang dahsyat, bernilai dan sekaligus menemukan kesuksesan anda. Bahkan semua produk yang kita nikmati sekarang berawal dari ide-ide cemerlang. Ide juga mampu menjadi tambang emas bila anda mampu menggunakannya dengan baik. Bermodal ide membuat pencarian lebih mudah, Google menjadi raksasa internet. Keinginannya untuk menghubungkan orang lain membuat Mark Zuckerberg menjadi sosok termuda yang menjadi miliarder dalam sejarah. Ide jua yang membuat Hendy Setiono mengekspor kebabnya hingga ke luar negeri.

Penulis buku ini memberikan cara mendapatkan ide cemerlang yang menuntun pada kesuksesan tersebut, yaitu melalui pengamatan, menyimak, meniru dan memodifikasi ide orang lain, bermain, membaca dan menulis.

Kesempatan juga gratis. Namun anda perlu usaha dan mungkin juga biaya untuk mengolah kesempatan agar bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Anda akan menuai hasil yang besar dan memuaskan jika berhasil mengolah kesempatan menjadi nyata. Dengan demikian, keuntungan anda akan menjadi berkali lipat. Kesempatan tidak kasatmata, maka sering anda tidak menyadari kehadirannya.

Karena itu, banyak orang jarang berlatih mengenali berbagai kesempatan yang sebenarnya sangat dekat dengannya. Kesempatan yang sebenarnya bisa didapatkan secara gratis tapi justru sering disia-siakan. Kita sering melewatkan kesempatan-kesempatan emas dalam hidup yang singkat ini sampai semuanya menjadi sangat terlambat. Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa, "Penyesalan selalu datang terlambat". Penyesalan terjadi manakala orang gagal memanfaatkan kesempatan.

Cara mendapatkan kesempatan di antaranya: mulailah memanfaatkan kesempatan kecil, lakukan perbaikan-perbaikan kecil, menjadi pengamat yang terlatih, berinisiatif, dan memiliki kebiasaan yang baik. Jika Anda adalah seorang Penggemar permainan catur, anda mungkin mengenal nama Jose Raol Capablanca. Mantan juara dunia catur asal Kuba ini diakui oleh dunia catur sebagai salah satu pemain catur terkuat yang pernah ada. Salah satu kekuatannya terletak pada kemampuannya memanfaatkan kombinasi-kombinasi kecil untuk meruntuhkan pertahanan lawan. Cara inilah yang membuat Capablanca selalu mendapat kesempatan untuk mengalahkan lawan-lawannya dengan mengesankan.

Kesempatan-kesempatan kecil sangat mudah anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, jika anda ingin mendapatkan banyak kesempatan bagus, mulailah dari memanfaatkan kesempatan-kesempatan kecil dulu. Cita-cita dan semangat juga gratis. Dalam bidang apa pun, cita-cita akan memberikan semangat yang menyala-nyala kepada pemiliknya. Inilah yang menyebabkan orang yang memiliki cita-cita biasanya juga sekaligus memiliki semangat yang tinggi untuk mencapainya. Itu merupakan modal besar membuat mereka meraih kesuksesan.

Peng Kheng Sun, penulis buku ini, pernah bekerja sebagai analis kredit, dosen, pedagang buku, staf administrasi, penulis, dan sebagainya. Setidaknya ada sekitar sepuluh macam pekerjaan yang pernah dilakukannya. Namun dia selalu bisa menemukan cara untuk mencintai pekerjaan-pekerjaannya selama pekerjaan tersebut tidak bertentangan dengan hati nuraninya. karena itu, dia selalu bisa bekerja dengan semangat tinggi.

Penulis buku ini berpesan bahwa apa pun pekerjaan anda, selalu ada sisi menarik dan menyenangkan. Dengan kata lain, jika mau berusaha, anda juga pasti bisa menemukan cara untuk mencintai pekerjaan anda. Jika tetap tidak bisa, carilah pekerjaan yang benar-benar anda senangi sehingga anda bersemangat tinggi mengerjakannya.

Sahabat juga hal gratis. Dengan sahabat segala sesuatunya akan terasa mudah dan bias saling membantu kesuksesan kita. Bunda Teresa mengatakan: anda dapat melakukan apa yang tidak dapat saya lakukan. Saya dapat melakukan apa yang tidak dapat anda lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan perkara-perkara besar. Meski begitu tidak mudah sesungguhnya untuk menjalin persahabatan. Hal ini digambarkan dalam aforisme yang terkenal: persahabatan sejati adalah persahabatan yang telah teruji oleh waktu dan berbagai kondisi.

Buku ini sangat layak dibaca bagi siapa saja yang mau belajar meraih kesuksesan, bukan hanya lantaran diambil dari pengalaman orang-orang suskes, tetapi juga disaripatikan dari kehidupan si penulisnya sendiri. Inilah yang menjadi kekuatan emas buku ini.[]

M. Iqbal Dawami
Esais, tinggal di Pati.

Selasa, April 10, 2012

Merayakan Hidup dengan Gembira


Judul: 366 Reflections of Life
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: BIP
Cetakan: I, 2012
Tebal: x + 384 hlm.

BUKU ini adalah hasil serangkaian interaksi penulis (Sidik Nugroho) dengan pelbagai sisi kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia tidak saja menyuguhkan peristiwa, tetapi juga mampu merefleksikannya. Ada getaran-getaran syukur dan ikhlas tatkala membacanya. Setiap kali ia menuliskan cuplikan peristiwa selalu saja diakhiri dengan refleksi, yang berarti bahwa kita diajak merenung perihal anugerah hidup dan Maha Rahman dan Rahim-Nya Tuhan. Cuplikan peristiwa yang diangkat bisa dari pengalaman si penulis, buku-buku yang dibacanya, maupun film-film yang ditontonnya. Ia bisa menceritakan seorang tokoh, peristiwa bersejarah, atau pun hal-hal sederhana dalam keseharian.

Misalnya, saat ia dan keluarganya tengah berbahagia, lantaran telah lahir seorang putri dari kakaknya. Ia pun memberi kabar gembira kepada beberapa temannya. Dan salah satu temannya berujar,"...Seluruh dunia turut merayakannya." ketika memandangi keponakannya, ia teringat kata-kata Mahatma Gandhi: saya datang ke dunia dengan menangis dan semua orang tertawa; biarlah saya pergi dari dunia dengan tertawa dan orang lain menangis.

Sidik mengatakan bahwa semua manusia dewasa pernah menjadi bayi, dan kini mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Daya hidup diuji. Jika daya hidup besar, maka manusia akan tegar ketika badai datang. Contoh lainnya saat ia merefleksikan bahwa hidup ini sangat berharga, yaitu pada saat rumah tetangga kakaknya dilanda kebakaran. Kebakaran itu hampir mengenai rumah kakaknya. Ia dan kakaknya dengan sigap mengeluarkan barang-barang berharga untuk diselamatkan sebagai langkah antisipatif. Dari peristiwa itu ia merenung bahwa ketika dekat dengan bahaya yang mengancam hidup kita akan menyadari bahwa hidup ini sangat berharga.

Dalam tulisan "Keluasan Suatu Visi" ia mengajak kita untuk memiliki visi yang jelas. Hal itu ia dapatkan dari pengalamannya bolak-balik Malang-Sidoarjo. Dan dalam tulisan lainnya "Orang Gila di Warkop" ia bertutur tentang orang gila yang sedang ngopi bersamanya di warung kopi (warkop) dekat alun-alun Sidoarjo. Awalnya, ia tidak sadar kalau yang di sampingnya adalah orang gila, tapi bau pesing dan tingkahnya yang aneh, barulah ia ngeh bahwa ternyata yang berada di sampingnya adalah majnun alias gila. Sesampai di kos ia berpikir bagaimana nasib orang gila tersebut yang sedang kedinginan dan kelaparan saat turun hujan. Apakah kemudian orang gila itu diajak ke kosnya? Anda akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Sedang dari contoh film, misalnya dari film The Shawshank Redemption, ia mendapatkan pelajaran berharga dari anugerah Tuhan. Kesalahan masa lalu tidak harus membuat hidup menjadi berantakan di masa kini. Dari film Hannibal Rising mengajarkannya untuk tidak memiliki dua jiwa, lantaran menyimpan dendam masa lalu terhadap seseorang. Buku ini menunjukkan bahwa apa pun gerak kehidupan bisa dijadikan bahan renungan. Renungan itu menggerakkan kita untuk mensyukuri anugerah hidup ini, dan peristiwa-peristiwa yang kita alami terdahulu disadari atau tidak memberikan efeknya pada masa kini.

Buku ini sesungguhnya tidak hanya sekadar refleksi tetapi juga sebentuk kontemplasi yang bisa memberikan pencerahan bagi pembacanya. Kombinasi antara (mantan) pendakwah, guru, dan penulis, menjadikan ia piawai mengolah bahan-bahan peristiwa menjadi nutrisi yang bergizi bagi batin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meneduhkan.

Buku ini enak dibaca sembari menyesap secangkir teh dan sepiring gogodoh.

M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.

Sabtu, April 07, 2012

Kitab Sakti Menulis Novel


Judul: Menulis Fiksi itu Seksi
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2011.
Tebal: 255 hlm.

"KENAPA saya menulis? sebab dengan menulis, saya nggak akan kehabisan dunia. Saya selalu temukan ruang-ruang baru dengan sensasi mendebarkan. Menulis adalah cara yang indah untuk memperbarui hatimu dan memperluas cakrawala." Begitu buku ini dibuka. Kata-kata Alberthiene Endah, penulis buku ini, cukup membuat saya tersenyum, senyum kebersyukuran saya yang juga menggeluti dunia tulis menulis, meski dalam taraf tertentu saya tidak sepenuhnya mengamini. Ya hal itu wajar saja, karena pengalaman saya dan Endah berbeda. Keberbedaan itulah kiranya kita tak perlu memperuncing sedemikian rupa. Jadi, mari kita nikmati bersama suguhan Endah ini perihal pandangan dia terhadap dunia tulis menulis.

Endah menarasikan kisah hidupnya dalam dunia tulis menulis. Di dalamnya ada banyak pengalaman dia saat menulis novel-novelnya. Entah itu pendapatan ide, observasi yang dalam, dan keluhan-keluhan dia terhadap orang yang mengeluh perihal tulis menulis. Misalnya, terhadap orang yang tak kunjung menulis lantaran seabreg alasan: tidak ada mood, mentok, takut menuliskannya, dan lain sebagainya. Bagi Endah itu hanya alasan belaka, alasan untuk menutupi "sesuatu", dan sesuatu itu bernama malas.

Ya, orang mestinya harus mengakui kalau dirinya malas saat memulai menulis, tanpa perlu mengatakan tidak adanya mood, atau yang sebangsanya. Dengan begitu, ia akan selamat dari cibiran orang, terlebih dari para penulis kawakan semacam Endah itu. "Gue tahu, lo bukannya nggak mood...,(tapi) sama-sama depannya 'M'. Lo males," ujar Endah. Ya, mood alias suasana hati sering dijadikan kambing hitam dalam arena penulisan. Atas nama tidak ada mood, seorang penulis menunda karyanya sampai satu minggu, dua minggu, tiga bulan, setahun, dua tahun. Rahasia Endah agar tidak malas dan selalu moody adalah mengamalkam kredo ini: Tahap awal harus dilawan! Jangan biarkan rasa malas benar-benar mengunci kesempatan kamu.

Kiranya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa buku ini buku fardu kifayah, untuk tidak dikatakan fardu ain, karena sharing Endah atas dunia menulis fiksi (baca: novel) begitu berharga. Pengalamannya yang kaya bisa kita terapkan dalam proses kreatif kita. Bagi saya, buku ini memberi saya kekuatan dan keyakinan bahwa profesi menulis adalah profesi yang menjanjikan baik kesehatan finansial maupun kebahagiaan. Saya senada dengan apa yang dikatakan Endah: "Membaca dan menulis adalah dua kekuatan hebat yang membuat saya merasa hidup. Ada banyak hal yang bisa membuat kita mampu memaknai hidup, dan kita semua memiliki pilihan yang sesuai dengan kata hati" (hlm. 33).

Sayang sekali buku ini terlalu condong ke persoalan mentalitas menulis ketimbang teknis. Hal ini terkesan dangkal dan buru-buru menulisnya. Kurang sabaran penulisnya untuk mengeksplor lebih jauh, menjadikan buku ini serba canggung nan tanggung dipelajari oleh pembacanya. Menurut saya, idealnya, buku ini menyuguhkan pengalamannya secara berimbang antara persoalan mentalitas menulis dan teknisinya. Namun, harus dipahami, bahwa mentalitas sangat penting dalam dunia tulis menulis. Emha Ainun Nadjib, yang akrab dipanggil Cak Nun, pernah berkata, "Menulis itu lebih kepada persoalan mental ketimbang bakat dan teknik."

Walhasil, buku ini sangat layak dibaca bagi mereka yang ingin segera merealisasikan hasrat untuk menulis.[]

M. Iqbal Dawami, pecinta sastra.

Mencari Obat Galau


Judul: Rahasia Sepuluh Malam
Penulis: Achmad Chodjim
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 427 hlm.

APA yang dimaksud dengan sepuluh malam? Itu yang ada dalam benak saya tatkala membaca judul buku ini. Dan apa pula rahasianya? Inilah yang hendak digali dalam buku ini. Lembar demi lembar saya baca, 'sepuluh malam' itu saya temukan jawabannya pada halaman 14. Ternyata, buku ini berangkat dari Alquran surat Al-Fajr, utamanya ayat kedua. Ayat itu berbunyi "Demi malam yang sepuluh". Ada apa dengan sepuluh malam itu? Inilah yang hendak dicari Achmad Chodjim, sang penulis buku ini.

Menurut Chodjim, malam adalah simbol kegelapan atau ketidaksadaran. Kebutaan jiwa. Karena buta, hidup ini bagaikan berjalan di dalam terowongan gelap. Tapi, kita harus keluar dari terowongan yang gelap itu (hlm. 16). Di antara kegelapan itu adalah kebodohan. Kebodohan bisa dalam pengertian ketidaktahun dan ketidakmautahuan. Chodjim membagi ketidaktahuan menjadi tiga macam: ketidaktahuan terhadap keinginan, kesenangan, dan kepercayaannya. Ketiga macam inilah yang menjadi penyebab terjadinya kekecewaan, penderitaan, bahkan putus asa. Selain itu juga seringkali memunculkan penyakit-penyakit hati seperti rakus, kikir, kufur, bahkan zalim.

Kegelapan semacam itu harus ditembus dengan cahaya. Maka tugas manusialah yang mencari cahaya tersebut. Jadi, setelah kita tahu berbagai macam kegelapan yang menyelimuti kehidupan manusia, kita harus mencari jalan keluar. Kita harus keluar dari terowongan dan lorong yang gelap itu. Chodjim dalam buku ini menawarkan jalan keluarnya dengan membuka selubung rahasia sepuluh malam, yaitu: rahasia tobat, sabar, syukur, zuhud, rida, ikhlas, taslim, tawakal, fana, dan mahabbah (cinta).

Itulah sepuluh aksi untuk keluar dari kegelapan hidup, menurut Chodjim. Kesepuluh aksi tersebut boleh jadi tidak asing di telinga kita. Atau paling tidak hanya beberapa poin saja yang belum kita ketahui seperti taslim dan fana. Taslim adalah berserah diri secara total kepada Tuhan. Keberserahan itu dilakukan karena kita sadar bahwa daya dan kekuatan itu kepunyaan Allah. Sedang fana adalah mengosongkan dari sifat-sifat keduniawian dan mengisinya dengan sifat-sifat Allah dan Rasul. Lantas bagaimana proses dan prosedur agar bisa mempraktikkan taslim dan fana? kita akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Salah satu keistimewaan dan keunikan buku ini adalah kita dimanjakan dengan adanya latihan praktis bagaimana bisa mempraktikkan masing-masing kesepuluh hal itu. Jadi, buku ini tidak hanya memberikan solusi tapi juga menuntun kita untuk meraih kesepuluh solusi dari kegalauan hidup.

M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.