Selasa, September 16, 2008

Saatnya Memilih Presiden Muda


Judul: Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!:Soekarno, Semaoen, Moh Natsir
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2008
Tebal: 264 halaman
------------------------
Pemilu 2009 nampaknya akan diramaikan oleh calon presiden muda. Hal itu telah nampak saat ini juga. Beberapa nama seperti Sutrisno Bachir, Fajroel Rahman, Rizal Malarangeng, dan lain-lainnya, telah mencuat secara blak-blakan mencalonkan dirinya sebagai calon presiden 2009. Hal ini menjadi trend baru dalam sejarah perpolitikan Negara Indonesia.

Menurut saya, paling tidak ada dua hal yang menyebabkan trend itu muncul: Pertama, kaum muda Indonesia sudah bosan dipimpin oleh kaum tua terus yang tidak sepenuh hati mementingkan rakyat. Kedua, kaum muda terinspirasi Barack Obama, calon presiden AS, yang berhasil mengalahkan rival-rivalnya di kubu demokrat untuk mendekati kursi kepresidenan AS.


Dua hal inilah saya kira yang menjadi amunisi kaum muda untuk berani tampil di kancah politik Indonesia, baik melalui jalur partai maupun independen.

Harus diakui, masalah kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sosial, hegomoni asing, serta sederet masalah lainnya di negeri ini membuat banyak pihak prihatin. Negara Indonesia seperti berjalan di tempat. Semua kebijakan oleh setiap peralihan pemerintah tetap saja tidak ada perubahan berarti. Naasnya, setiap pemilu ke pemilu Indonesia dipimpin oleh orang yang itu-itu saja. Hal ini menimbulkan rasa bosan bagi pelbagai pihak.

Pemilu 2009 adalah kesempatan untuk mengadakan regenerasi pemimpin. Maka tak ayal lagi, figur muda yang dianggap sebagai progresif, dinamis, dan berani, harus memenangkan pemilu tersebut. Dalam konteks inilah, Eko Prasetyo menulis buku berjudul Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!:Soekarno, Semaoen, Moh Natsir (2008). Krisis kepemimpinan yang notabene-nya kaum tua itu dari waktu ke waktu terasa menjengkelkan untuk seorang Eko. Dia membeberkan beberapa kenyataan para pemimpin Bangsa Indonesia, di antaranya bahwa mereka telah tergoda untuk menyalahgunakan tiga hal, di mana ketiga hal itu kemudian menjelma menjadi "setan". Ketiga "setan" itu adalah kapitalisme (kemakmuran untuk segelintir orang), militerisme (bersenjata siap mengamankan modal), dan feodalisme (watak kolot yang memasung demokrasi).

Walhasil, akibat terpedaya oleh ketiga "setan" tersebut, kaum tua itu lupa daratan sehingga gagal menjalankan peran transformatifnya dalam mengawal perubahan Indonesia. Bagi Eko, pemimpin muda adalah sebuah keniscayaan. Uniknya, selain melihat fenomena di atas, Eko juga menelusuri lewat sejarah Indonesia sendiri. Adalah sebuah fakta bahwa Bangsa Indonesia pada awal pasca kemerdekaan dipimpin oleh para kaum muda. Sedikitnya ada tiga tokoh yang disebutkan Eko, yaitu Soekarno, Semaoen, dan Moh Natsir. Ketiganya masih berusia belia kala itu, sekitar 20-an, saat melakukan perubahan sosial di Indonesia.

Maka, sudah sejatinya kaum muda berguru pada ketiga tokoh legendaris Indonesia tesebut yang terbukti mampu membawa Indonesia keluar dari belenggu penjajahan (pada waktu itu). Ketiganya pula mampu menjinakkan tiga "setan" yang telah disebutkan di atas yang hendak merongrong Indonesia. Kolonialisasi pun tidak mampu menjungkirbalikkan mereka. Mereka juga sangat dekat dengan rakyat. Hal itu dapat dibuktikan dengan life style ketiganya, yaitu populis, kekeluargaan, dan proletarian. Konon, Bung Karno menaruh di atas meja makannya sebuah lukisan pengemis, agar dia selalu ingat pada rakyat saat dirinya tengah makan.

Semaoen pun tak jauh beda dengan Soekarno, dia sangat memerhatikan kaum tertindas, marginal, petani, buruh, dan semacamnya. Gagasan-gagasannya dia sampaikan dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisannya, serta dijawantahkan lewat partai Sarikat Islam. Begitu pun dengan Moh Natsir yang memperjuangkan spirit sosialisme Islamnya. Tak aneh jika dia dekat dengan siapa pun, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas; dengan kalangan Islam sendiri maupun dengan non-Islam. Dnegan begitu sosoknya begitu dikagumi oleh siapa pun, baik kawan maupun "lawan".

Sekali lagi, ketiga orang tersebut mampu "membunuh ketiga setan" di usianya yang relatif muda. Tentu saja, pada waktu itu tidak hanya ketiga orang muda itu saja, tetapi masih banyak kaum muda lainnya yang ikut ambil bagian dalam pembebasan tanah air Indonesia dari penjajahan.

Senin, September 15, 2008

Islam Agama Toleran


Judul Buku :Al-Qur’an Kitab Toleransi Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : Fitrah, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 520 Halaman
------------------------
Dalam umat beragama teks mempunyai posisi signifikan yang dapat menentukan kapasitas seseorang dalam menyikapi hidupnya. Dimulai dari kitab suci beserta tafsirannya hingga buku-buku keagamaan lainnya adalah sebuah bukti bahwa teks benar-benar mempunyai “kekuatan” untuk mengubah paradigma seseorang di dalam berpikir dan bertindak. Tidak berhenti di situ saja, teks juga mampu membuat gaya hidup (life style) seseorang dalam hal beragama.

Jika kita tilik sejarah Islam, teks dijadikan pesan untuk kehidupan umat muslim. Hal itu dapat kita lihat adanya ribuan tafsir yang beraneka ragam dari berbagai daerah yang berpenduduk muslim, padahal itu hanya berasal dari satu teks, yaitu Alquran.



Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang pada hakekatnya tak lain adalah sebuah teks dijadikan sebagai pedoman hidup kaum muslim di dunia. Melihat fenomena yang istimewa itu, Nasr Hamid Abu Zayd, seorang Cendekiawan Mesir yang tinggal di Belanda, mengatakan bahwa peradaban Islam sesungguhnya adalah peradaban teks. Hal ini dapat kita maklumi karena pada kenyataannya semua teks keagamaan di dalam Islam dijadikan poros utamanya.

Melihat kenyataan di atas timbul persoalan bagaimana cara “membaca” teks keagamaan yang baik? Pertanyaan ini penting untuk kita ajukan karena tidak sedikit di sekitar kita yang membaca teks keagamaan secara otoriter sehingga terjebak pada otoritarianisme. Mereka yang terjebak pada paham ini menafsirkan secara otoriter, yaitu memaksakan hasil ‘pembacaannya’ dari teks keagamaan pada orang lain tanpa tedeng aling-aling. Dalam benak mereka, kebenaran hanya ada dalam pembacaannya. Maka dapat dipastikan sikap seperti itu sama sekali tidak akan mempunyai sikap toleransi pada orang yang bersebrangan hasil pembacaannya. Mereka cenderung puritan dan mudah mencap seseorang dengan label kafir, munafik, murtad, dan yang lainnya.

Pembacaan seperti di atas akan memunculkan radikalisme, fanatisme, fundamentalisme, bahkan ekstremisme. Teks-teks keagamaan, mereka tafsirkan secara tekstual, kaku, rigid dan tidak fleksibel. Penafsiran seperti itu sesungguhnya hanya pada tataran permukaan saja, dan sama sekali tidak menyentuh ‘makna dalam’nya (deap meaning).

Akibatnya sudah dapat diduga yaitu membuat konflik baik dengan sesama penganut agama yang berlainan penafsiran, maupun antarumat beragama karena memaksakan ‘kebenaran’nya dan tidak menerima ‘kebenaran’ orang lain. Sikap yang egois seperti itu akan menafikan pluralisme pemahaman keagamaan yang berada di tengah-tengah masyarakat heterogen dan dunia global. Selain itu sikap demikian tidak akan dapat membangun keharmonisan dalam kerukunan hidup antarumat beragama.

Zuhairi Misrawi, seorang cendekiawan muda Indonesia amat prihatin melihat fenomena umat beragama yang tidak toleran dan egois seperti di atas, terutama dalam memahami Alquran. Keprihatinannya itu ia gambarkan dengan apik dalam bukunya yang berjudul Al-Qur’an Kitab Toleransi Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme (2008). Oleh karena itu ia mencoba menggagas kembali bahwa Alquran harus dirumuskan kembali penafsirannya dengan mencari dan mengutamakan nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh semua pihak dalam rangka membangun masyarakat madani; terbuka dan toleran. Maka yang ia lakukan kemudian adalah menafsirkan beberapa ayat yang berbicara perihal toleransi.

Buku yang ditulis Zuhairi ini sangat representatif untuk dijadikan rujukan mengenai pandangan Alquran terhadap kehidupan umat beragama. Pembahasan mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan kata kunci “toleransi” begitu lengkap. Kata kunci itu begitu penting dan hakiki dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Maka di sinilah letak pentingnya buku ini, yaitu dapat menemukan kunci kehidupan umat beragama: toleransi. Dengan kata lain, toleransilah yang dapat mendamaikan kehidupan umat beragama.

Substansi dari toleransi adalah ketulusan, kejujuran, dan menerima perbedaan baik tindakan maupun pemikiran. Semua manusia, dalam konteks toleransi, tidak dipandang dari segi perbedaannya, melainkan segi persamaannya, yaitu sesama makhluk Tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal budi. Perbedaan tentu sudah menjadi keniscayaan dan kodrat dari Tuhan. Singkatnya, perbedaan adalah suatu hal yang sunnatullah (hlm. 11).
Harus disadari bahwa hidup ini identik dengan perbedaan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar sama, yang ada hanya ‘persis’ dan ‘nyaris’ saja. Itulah hukum alam yang sudah digariskan oleh Tuhan. Dari sini saja kita dapat mengambil hikmahnya. Karena itu, dalam konteks kerukunan umat beragama, untuk menyikapi perbedaan kita memerlukan sikap toleransi yang dapat mempersatukan antara satu dengan yang lainnya baik di lingkungan antaragama maupun intra-agama.

Salah satu perangkat lunak dari toleransi adalah inklusivisme, pluralisme, dan multikulturalisme. Tiga perangkat tersebut menerapkan suatu toleransi aktif, yaitu menyelenggarakannya secara terbuka dengan mengadakan model-model dialog dan kerjasama. Inilah buku yang secara panjang lebar dan mendalam menjelaskan ketiga perangkat dalam membangun toleransi, terutama dalam konteks antaragama dan intra-agama. Salah satu poin penting dari buku ini adalah hendak mengharapkan kebersamaan di tengah-tengah perbedaan dan keragaman. Indonesia membutuhkan hal semacam itu. Untuk itulah buku ini sangat penting dibaca untuk semua kalangan.

Menulis Buku Best Seller Untuk Orang Sibuk


Judul: Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller
Penulis: Edy Zaqeus
Kata pengantar: Jennie S. Bev
Cetakan: 1&II, September 2005
Penerbit: Gradien Books
Jumlah halaman: 183 halaman

Ada dua tema besar dalam buku ini: bisakah orang sibuk menulis? Dan bagaimana menjadikan bukunya menjadi best seller? Biasanya orang sibuk sering menggerutu ingin menulis buku tapi tak bisa menyempatkannya. Mereka punya banyak ide tapi saat ingin dituangkan pikirannya menjadi macet.

Untuk itu penulis buku ini memberikan beberapa triknya, di antaranya berani menyempatkan waktu menulis berapa pun durasinya, merekam terlebih dahulu apa yang ingin ditulis, serta mulai menulis dari hal yang disukainya apa yang kita tulis.
Edy Zaqeus, penulis buku ini, membagi tiga tipe orang sibuk. Pertama, tipe orang yang benar-benar full time sibuk dengan pekerjaannya secara totalitas. Orang jenis ini hampir tak ada waktu longgar untuk urusan di luar pekerjaannya.

Kedua, tipe orang yang sibuk namun mempunyai sedikit waktu luang, yang biasanya (waktu tersebut) dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Ketiga, tipe orang yang serupa dengan tipe kedua, namun perbedaannya orang ketiga ini tidak memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan produktif (hlm. 38).

Namun sebetulnya, ujar penulis buku ini, sesibuk apa pun, semua orang bisa menulis karena semua itu tergantung tekad dan hasrat orang tersebut. Lantas, Edy pun membuktikannya dengan dua hal. Pertama, ia melihat dari sisi waktu yang digunakan orang sibuk mulai dari bangun tidur, berangkat kerja, hingga beranjak tidur kembali (hlm. 46). Ternyata, banyak waktu sebetulnya yang bisa digunakan untuk menulis.

Misalnya, saat berada di perjalanan menuju kantor atau menunggu makan siang. Apalagi waktu pada hari libur di akhir pekan (sabtu-minggu). Tentu, sangat bisa sekali.

Kedua, ia melihat pada orang-orang sibuk yang produktif menulis seperti Hari Subagya dan Anand Krishna. Hari Subagya adalah direktur perusahaan kosmetik. Setiap harinya dihabiskan di kantornya. Namun, ia bisa menyempatkan menulis yaitu pada pukul 2 dini hari setelah ia melakukan shalat tahajud. Hasilnya adalah dua buku larisnya yaitu Time to Change dan Success Proposal.

Sementara Anand Krishna—mantan pengusaha dan sekarang menggeluti meditasi dan pembicara yang banyak mendapatkan udangan—membiasakan menulis antara pukul 22.00 hingga larut malam, bahkan disambung pada pagi harinya. Hasilnya, sekitar 40 buku telah diterbitkan.

Adapun cara-cara agar menulis buku bisa lancar ialah bisa dengan teknik wawancara dan tanya jawab. Teknik wawancara, misalnya, bisa digunakan oleh kita terhadap para pengusaha sukses yang kita tulis percikan-percikan pendapatnya mengenai kesuksesannya. Hasil wawancara tersebut kita tulis dan kumpulkan, maka lama kelamaan akan terkumpul banyak dan bisa menjadi buku. Membuat buku pun bisa berbentuk tanya jawab, seperti halnya yang dilakukan oleh penulis buku ini yang berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah (2004). Dan hasilnya sungguh luar biasa. Buku tersebut mengalami 6 kali cetak ulang dalam 4 bulan pertama, dan hingga Pebruari 2005 mencapai 8 kali cetak ulang.

Buku ini sangat kaya dengan pengalaman penulis dalam dunia teks mulai dari hal-hal teknis seperti cara mendapatkan ide hingga bagaimana menawarkan ke penerbit. Setiap di akhir babnya terdapat tips-tips yang merupakan kesimpulan atau hal-hal penting dari bab tersebut. Sungguh, pembuatan tips di akhir setiap bab sangat membantu pembaca untuk mencerap setiap pesan yang disampaikan. Terutama, untuk mengingat kembali hasil bacaan kita jika kita lupa atau malas kembali membacanya.

Menurut saya, hasil racikan dari Edy Zaqeus ini sangat mujarab bagi para pesibuk yang ingin benar-benar bisa menulis, bahkan menjadi penulis best seller sekaligus.

Selasa, September 09, 2008

Politisasi Beras


Judul:Ironi Negeri Beras
Penulis: Khudori,
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Tahun: Juni 2008
Tebal: x+366 halaman termasuk indeks

Khudori, dalam opininya yang berjudul Mental Pemburu (Koran tempo, 21 agustus 2008) menceritakan bahwa masyarakat Indonesia masih bermental pemburu, salah satunya manusia pertanian. Manusia pertanian bermental pemburu adalah manusia yang dimanjakan oleh alam. Semua jenis pangan dan keperluan hidup sudah tercukupi dari alam sekitarnya. Orang tidak perlu kerja keras. Cukup tidur-tiduran saat perut lapar, tinggal pergi ke hutan atau nyemplung ke laut.

Rakyat Indonesia yang mestinya perannya benar-benar bermental petani, yang mampu memanfaatkan alam dengan teknologi yang terus berkembang, tapi malah bermental pemburu yang tidak memerhatikan proses, inginnya serba cepat dan instant. Dan

menggantungkan pada alam sepenuhnya. Konsekuensinya saat pertanian kita paceklik, rakyat Indonesia tidak bisa apa-apa, akhirnya mereka menjadi menderita. Naasnya, pemerintah memperparah keadaan itu dengan mempolitisir keadaan. Hal yang paling mencolok adalah pangan beras.

Persoalan besar nampaknya sangat dimengerti oleh Khudori. Oleh karena itu dia menulis buku berjudul Ironi Negeri Beras (2008) yang secara khusus membahas beras di Indonesia. Ada banyak alasan, salah satunya adalah me-nasi-kan seluruh pangan rakyat dari Sabang sampai Serut (bukan Merauke lagi). Padahal tidak semua orang Indonesia makan nasi. Ada daerah tertentu sudah terbiasa makan gaplek (Lampung, Jateng, Jatim), jagung (Jateng, Jatim, NT), sagu (Maluku, Irian Jaya), cantle/sorgum (NT), talas dan ubi jalar (Irian Jaya), dan itu tidak disadari oleh pemerintah yang hendak me-nasi-kan seluruh rakyat Indonesia.

Sejatinya, pemerintah berinisiatif untuk mencari cara bagaimana kita semua bisa beralih ke pangan non-beras. Sungguh tidaklah mustahil untuk melakukan hal itu, apalagi bagi kalangan menengah ke atas yang notabene-nya telah mengenal pasta, bakmi atau kentang. Inilah salah satu ciri lagi mental pemburu, kata Khudori, yaitu sulit untuk berubah dari pola lama, dalam hal ini pangan beras.

Pemerintah memang tidak melek pangan. Pangan tidak dijadikan instrument penting untuk memperoleh loyalitas rakyat. Padahal, jika penguasanya sadar, bahwa pangan adalah suatu hal yang paling dekat dengan rakyat. Jika pangan aman, rakyat pun tentram dan percaya pada penguasa. Sebaliknya, jika pangan terganggu, maka rakyat pun akan bringas.

Bahkan lebih dari itu, pada halaman 206, Khudori mengatakan bahwa pangan tak kalah penting dengan bahaya teroris, sedikit saja ada yang salah atau melakukan kebijakan yang salah dalam hal pangan, maka tak kan heran jika terjadi chaos. Dia memberi contoh, jika saja roti atau mie instant yang kita makan sehari-hari sudah dicampuri bahan tertentu yang tidak halal, pasti runyam. Contoh lain yang masih aktual adalah jenis padi Super Toy, yang dapat tiga kali panen tanpa menabur benih baru. Saat ini menjadi masalah, lantaran untuk panen kedua hasilnya mengecewakan. Akibatnya para petani rugi besar.

Persoalan pangan sepertinya memang sepele. Tapi di balik itu, sebetulnya tersimpan sesuatu yang strategis. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang bersifat jasadi, guna manusia dapat meneruskan keberlangsungan hidup. Dengan kata lain, jika seseorang menguasai pangan, maka dia sesungguhnya akan dapat menguasai siapa pun. Penguasa pangan bisa berbuat apa saja, bisa memberi keuntungan dan bisa juga memberikan kerugian pada orang lain. (halaman 207)

Oleh karena itu, jangan sampai masalah pangan dapat dikendalikan oleh penguasa yang tidak mengutamakan kepentingan rakyat. Akibatnya bisa fatal, karena dapat mengguncang stabilitas politik Negara. Bangsa Indonesia sudah mengalami hal itu. Krisis pangan (baca: beras), mengguncang ekonomi dan politik kita, sehingga kita harus menjalani impor beras, sesuatu yang sangat ironis. Hal itu mengibaratkan bangsa kita seperti ayam mati di lumbung padi.

Tak ada jalan lain, sebagai bangsa agraris yang berbasis pangan, Indonesia harus bergerak menuju perbaikannya. Aparatur Negara harus mengomandonya, sambil terus memformulasi pelbagai cara guna mencapai ketahanan pangan, semua rencana dan rancangan pembangunan harus juga diarahkan untuk kepentingan kemajuan pangan. Terakhir, tentu saja rakyat pun menjadi bagian kemajuan pangan dalam hal ini yang mesti diberi motivasi kemudahan secara terus menerus.

Selasa, Agustus 26, 2008

Bisnis Berbasis Kerakyatan


Judul: Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita
Penulis: Muhammad Yunus
Penerjemah: Rani R Moediarta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal : xvii + 262 hlm

Pernahkah Anda mendapatkan sebuah korporasi yang benar-benar memihak rakyat? Saya yakin kebanyakan orang pasti belum mendapatkannya. Karena, mayoritas korporasi selalu mengedepankan keuntungan kepemilikannya, ketimbang yang lain.

Dalam era kapitalisme global ini, mana ada korporasi mengutamakan rakyat miskin, justru yang ada adalah merugikan dan menyengsarakan rakyat miskin. Jika tidak percaya, coba Anda lihat semua korporasi asing yang ada di Indonesia. Mereka sama sekali tidak menguntungkan Indonesia.

Nampaknya, Muhammad Yunus memberikan jawaban untuk pertanyaan di atas, bahwa ada sebuah korporasi yang benar-benar memihak rakyat miskin, yaitu Grameen. Grameen adalah sebuah korporasi yang berbasis kerakyatan; diperuntukkan kalangan menengah ke bawah, bahkan terutama kalangan miskin. Direkturnya tak lain adalah Muhammad Yunus sendiri. Melalui buku barunya Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita (2008) dia mengeksplorasi gagasannya secara detail dengan memadukan antara teori dan praktik serta kenyataan di lapangan. Tentu saja idealisme dirinya juga tertulis di sini.

Buku ini sungguh tidak hanya asal bertutur tanpa bukti. Tiga puluh tahun menjalankan korporasinya adalah sebuah jaminan, bahwa kata-katanya dalam buku tersebut benar-benar realistis. Karena itu, dia berani bermimpi dan berpikir ke depan untuk menanggulangi kemiskinan di dunia melalui langkah-langkah yang terus diperjuangkannya. Sungguh dia ingin sekali menghapus kemiskinan di seluruh penjuru dunia.

Muhammad Yunus merupakan pemerhati dan penolong kaum miskin. Dia sangat tahu betul bagaimana hidup orang miskin. Melalui Grameen-nya dia membantu mereka untuk bekerja dan berwiraswasta. Cara dia adalah memberikan kredit mikro tanpa agunan. Adapun bisnis yang dikelolanya di antaranya bank, asuransi, pabrik makanan, pendidikan, operator seluler, internet, elektronik, dan lain-lain. Melalui bisnis di bidang itulah Yunus bergerak membantu masyarakat miskin. Sungguh, sebuah upaya yang luar biasa.

Melihat kenyataan di atas, tak aneh jika Muhammad Yunus meraih nobel pada tahun 2006. Dan uniknya, dia mendapatkan nobel untuk perdamaian, bukan nobel untuk ekonomi. Lantas, apa alasannya? Yunus sepertinya sangat sadar dengan sabda Muhammad SAW, sang Nabi, bahwa kefakiran akan membawa kekafiran. Artinya, orang bisa saja menjadi menghalalkan segala cara akibat kondisi yang melarat. Dan dari situ, akan timbul konflik di tengah-tengah masyarakat. Kejahatan, seperti pencurian dan perampokan, timbul lebih banyak disebabkan faktor ekonomi ketimbang faktor lainnya. Orang akan nekad melakukan apa saja demi sesuap nasi.

Untuk itulah, Muhammad Yunus melalui korporasinya, terus berfikir dan berupaya menanggulangi kemiskinan. Kemudian dia membuat jargon bagi korporasinya yaitu semangat berinovasi dan bereksperimen yang tiada henti. Dengan jargon seperti itu, Grameen Group yang dipimpinnya terus mencari ide bisnis baru yang tetap mengutamakan kepentingan kaum miskin.

Muhammad Yunus sangat yakin akan usahanya ini bahwa lambat laun bisnisnya akan mengubah dunia. Karena perbaikan ekonomi, sejatinya, akan memperbaiki tatanan bidang lainnya: sosial, politik, dan budaya. Bangladesh adalah bukti nyata atas apa yang dilakukan Muhammad Yunus. Santai tapi pasti, Bangladesh mengalami kemajuan dalam semua bidang lantaran usaha-usaha kaum miskin tergalakkan. Sungguh, sebuah upaya yang patut dicontoh oleh pemerintah Indonesia.

Setelah kita melihat sistem ekonomi yang dilakukan oleh Bangladesh dengan terbukti ampuh itu, timbul pertanyaan, maukah di antara pemimpin bangsa Indonesia mencoba menerapkannya di negara kita—yang tercinta—ini?

Senin, Agustus 25, 2008

Bukan Kisah Biasa



Judul Buku: Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya
Penulis: Andy F.Noya
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: 1, Agustus 2008
Tebal: xii +148 halaman

Ada kabar gembira bagi pecinta Kick Andy di Metro TV maupun di website-nya, yang tidak punya waktu untuk menonton maupun membacanya di internet. Kini telah hadir dalam bentuk buku dengan judul Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya.

Tentu Andy's Corner versi cetak (baca: buku) patut disambut gembira, karena memberikan akses yang sangat luas. Semua kalangan dapat kesempatan untuk membacanya, terutama di kota-kota kecil maupun di pedesaan yang masih awam dengan dunia internet.

Namun harus diakui, buku setebal 148 halaman dan berisi 21 kumpulan tulisan Andy Noya ini diambil dan dipilah-pilah dari kolom Andy's Corner di website Kick Andy. Pemilihan tulisan-tulisannya sangat tepat dan beragam, bahkan tidak biasa kisah-kisah yang ditampilkannya. Pemimpin Timor Leste, Xanana Gusmao, misalnya, yang dianggap sebagai penjahat perang oleh kebanyakan orang, diangkat kisahnya oleh Andy Noya. Tujuannya adalah memberikan pelajaran hidup untuk arif dan bijaksana.

Hal yang tak kalah 'tidak biasanya' lagi adalah mengulas tokoh-tokoh eks PKI dengan mendatangkan tokoh PKI, Sobron Aidit. Sepintas pembaca akan bertanya-tanya, apa maksud Andy menyuguhkan kisah-kisah seperti itu? Pembaca akan mendapat jawabannya di setiap selesai kisah-kisahnya. Dan terkait dengan kisah di atas, jawabnya adalah bahwa bagaimanapun juga, dendam tidak akan membuat hidup kita menjadi lebih nyaman maupun bahagia.

Memang, kisah-kisah dalam buku Andy Noya yang satu ini tidak biasa. Dia melawan arus dari kesepakatan publik perihal kisah-kisahnya. Satunya lagi adalah kisah group musik Kangen Band. Group musik satu ini entah mengapa di kalangan remaja mendapat kesan negatif. Mereka mencaci dan memaki Kangen Band yang berasal dari Lampung ini.

Kebanyakan dari mereka adalah alasan yang tidak rasional, seperti sentimen atas para personilnya yang kebanyakan dari kelas "rendahan". Vokalisnya, misalnya adalah mantan pedagang es dawet.

Nah, justru Kick Andy merasa tertantang dengan keadaan seperti itu. Dan diangkatlah topik Kangen Band. Bagaimanapun, pikir Andy Noya, Kangen Band terlihat sukses dalam persaingan belantara musik Indonesia yang sangat ketat ini. Dan kesuksesannya itu adalah berkat kerja keras mereka. Untuk itulah, Kangen Band, layak diapresiasi dan patut dijadikan teladan.

Uniknya, buku yang ditulis Andy Noya ini, banyak bercerita juga mengenai kehidupan pribadinya. Dia menggambarkan dirinya sejak bocah hingga dewasa, mengangkat beberapa cuplikan pengalaman yang bisa dibilang kelabu.

Dia bercerita tentang masa kecilnya yang sudah mengalami broken home. Dia juga pemalu karena mempunyai ayah hanya seorang montir mesin tik. Hal itu adalah keadaan yang sebenarnya wajar dialami oleh anak-anak yang memang sedang membutuhkan sandaran dan perlindungan. Andy bercerita demikian sebenarnya untuk menunjukkan kepada seorang Fifi—siswa kelas 2 SMP—yang merasa malu sampai nekat mau bunuh diri karena mempunyai ayah seorang tukang bubur, bahwa dia tidaklah sendirian. Dirinya pun mengalami juga, dulu. Untuk itu Andy memberi palajaran pada Fifi agar tidak usah malu mempunyai ayah tukang bubur, tapi mestinya bangga, karena ayahnya—seperti halnya ayah Andy—bekerja demi dia, demi Fifi dan Andy.

Buku Andy's Corner adalah buku kedua Andy yang ditulisnya. Pada launching buku pertama, Wapres Yusuf Kalla adalah orang pertama yang diberinya, sedang pada launching buku keduanya, adalah Ibu Ana yang mendapat penghormatan tersebut dari Andy. Ibu Ana adalah guru kelas 4 SD Andy Noya. Tentu saja ada alasan mengapa ibu Ana yang dipilih Andy untuk mendapatkan penghargaan itu.

Bisa kita lihat pada buku ini sendiri, pada sub judul—laskar pelangi—bagi Andy ibu Ana adalah guru yang sangat berarti dibanding guru-gurunya yang lain. Betapa tidak, pada saat kelas 4 Andy kecil sering bolos sekolah. Suatu hari saat dia membolos selama 2 hari, ibu Ana dengan mencarter becak menuju rumah Andy. Dia membujuk Andy untuk sekolah, dan juga ikut lomba antar bintang kelas. Tentu saja bukan tanpa perhitungan ibu Ana menyuruh Andy untuk ikut lomba tersebut, karena memang Andy—walau sering bolos—adalah siswa yang cerdas.

Tidak hanya itu, ibu Ana pula yang sering memotivasi Andy untuk percaya diri dan rajin sekolah, agar kelak suatu saat Andy menjadi orang sukses. Bahkan ibu Ana juga yang "meramal" bahwa Andy akan sukses menjadi seorang wartawan. Dus, pantaslah Andy memberi buku keduanya kepada Ibu Ana sebagai orang pertama yang diberinya.

Walhasil, buku ini sungguh tak kalah istimewanya dengan buku pertamanya. Mesti tergolong tipis, buku Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya ini sangat berbobot. Kisah-kisahnya begitu menggugah dan inspiratif. Tak menutup kemungkinan bagi Anda yang kehilangan motivasi, akan terdongkrak kembali setelah membaca buku ini.

Minggu, Agustus 17, 2008

Menghargai Waktu Demi Kebahagiaan



Judul buku : Cherish Every Moment:Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : xxi+322 halaman

Masing-masing dari setiap individu adalah tanggung jawab dari dirinya sendiri. Bukan hanya saja hidup setelah mati, saat ini pun, ketika masih hidup kita semua seratus persen berada dalam tanggung jawab diri kita sendiri. Dengan kata lain, keberhasilan atau pun kegagalan seseorang dalam hidupnya sesungguhnya sangat bergantung dari bagaimana menyikapi hidupnya. Namun, terkadang sering kita tak menyadari hal di atas, dan justru kesadaran timbul saat kita telah mengetahui kegagalan yang kita alami atau saat hidup kita sudah diujung tanduk, alias mengalami kematian. Maka penyesalanlah yang dirasakannya sebagai hasil dari apa yang diperbuatnya.

Adalah Arvan Pradiansyah yang mencoba mengingatkan agar hal di atas tidak terjadi dalam hidup kita. Lewat bukunya Cherish Every Moment: Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat (Elek Media Komputindo:2007) ia mengingatkan bahwa kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup.

Dengan menghargainya maka diharapkan kita dapat menikmati hidup dengan indah (h. ix). Lantas, timbul pertanyaan, “Bagaimanakah cara menikmati hidup yang penuh dengan keindahan?”

Ardian mengingatkan bahwa Cherish Every Moment bukanlah suatu teori tetapi sesuatu yang harus kita alami sendiri. Kita harus menemukan keindahan dalam setiap detil kegiatan yang sedang kita lakukan saat ini dengan senantiasa mengingat-ingat arti hidup kita di dunia ini (h.xi). Tentu saja keinginan untuk menjadi manusia berguna atau bermanfaat adalah dambaan semua orang, tapi problemnya kita sering menyepelekan sang waktu, dengan menganggap waktu kita begitu banyak dan hidup kita masih panjang.

Misalnya, saja, cerita tentang seorang wanita karir yang banyak menghabiskan waktunya di dalam pekerjaannya. Ia mempunyai seorang anak berusia 6 tahun. Saking sibuknya ia jarang meluangkan waktunya dengan anaknya. Kebutuhan hidup anaknya sebetulnya selalu terpenuhi, namun kebersamaannyalah yang jarang terpenuhi. Si anak ingin sekali ibunya selalu memandikannya sebelum ia berangkat bekerja, namun hal itu tak bisa dipenuhi ibunya, karena pekerjaan menuntutnya untuk tepat waktu, walau sebenarnya sang ibu berjanji suatu saat nanti akan ia memandikannya. Pada suatu hari, saat ia berada di luar kota, anaknya sakit keras mengidap demam berdarah, yang kemudian mengantarkannya kepada kematian. Wanita itu pun sangat sedih. Namun yang lebih sedihnya lagi adalah ia tak bisa memenuhi janjinya, untuk memandikan anaknya, kecuali memandikan saat anaknya sudah menjadi mayat (h. 8)

Buku ini penuh dengan kisah-kisah yang sarat dengan nasihat dan teladan. Kisah-kisahnya sungguh tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Kisah-kisah yang ringan, realistis, dan sederhana namun padat oleh pesan-pesan moral. Dan lebih istimewanya lagi tak jauh dari apa yang sering kita lakukan. Sebagaimana penulisnya sendiri mengatakan bahwa tema-tema yang diangkat dalam buku ini adalah tema-tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada tema-tema yang berkaitan dengan cinta, hubungan antar pribadi, manajemen diri, Tuhan dan spiritualitas. Di mana semua hal di atas intinya adalah mengajak kita untuk merenungkan arti hidup ini, menemukan apa yang paling penting dan menikmati hidup yang penuh keindahan setiap saat (h. xv).

Setiap tulisan mempunyai rel yang sama dan bermuara pada satu hal, yaitu bagaimana menjadi manusia terbaik pada saat itu juga, bukan pada saat masa yang akan datang. Karena dengan seperti itu, segala waktu kita diisi dengan apik. Misalnya saja, dalam konteks interaksi dengan manusia, kita harus berlaku seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bagi kita. Dengan begitu, perlakuan kita akan selalu terkontrol dan menjadi manusia yang baik. Peradigma seperti itu dapat diterapkan dalam hal apa saja, baik hubungan dengan Tuhan maupun dengan makhluk lainnya.

Life is a Choice dan Do Now You’re Going To? adalah sekadar contoh tulisan sebagaimana yang telah digambarkan di atas dalam buku tersebut. Dalam Life is a Choice, misalnya, kita diingatkan agar berhati-hati dalam memilih, karena akan menentukan kualitas hidup kita. Misalnya, jika kita dalam keadaan ingin emosi, maka pilihan benar-benar ditentukan oleh kita yang mengantarkan baik dan tidaknya kualitas kita. Sedang dalam Do Know You’re Going To? Kita diajak merenung tentang hakikat hidup kita apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Dan kemana kita akan pergi setelah ini?

Selain hal di atas, tulisan-tulisan Arvan juga mengajak kita untuk berpikir positif (positive thinking) dan optimis dalam memandang sesuatu. Lihat saja, misalnya, dalam judul Tuhan Marahkah Kau Padaku? banyak orang menganggap bencana gempa bumi disusul tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogya itu adalah hukuman dari Tuhan atau cara Tuhan untuk mengakhiri penderitaan penduduk Aceh dari DOM (Daerah Operasi Militer) (h.78). Namun, Arvan memandang bahwa: pertama, itu adalah fenomena alam, dan Tuhan dengan kasih sayang-Nya telah memberikan tanda-tanda. Pada tahun 2003 misalnya, ada seorang pakar geologi dari Thailand yang telah melihat tanda-tanda itu. Pakar tersebut kemudian memprediksikan akan terjadinya tsunami di Asia di tahun 2004. Prediksinya terbukti (h. 79-80). Kedua, do the best and let god do the rest. Kita melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan dan membiarkan Tuhan melakukan sisanya. Ketiga, jangan sombong.

Jika dilihat dari kemasan tulisannya, buku ini terbilang unik, karena buku ini berbentuk wawancara, di mana faedahnya adalah kita bisa langsung merasakan manfaatnya sesuai dengan kebutuhan kita dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut.

Keunikan lainnya lagi adalah di setiap akhir tulisan terdapat kutipan kata-kata mutiara dari para tokoh dunia, yang sungguh sangat bermanfaat bagi kita untuk bahan pengingat dan penggugah. Tapi sayangnya kata-kata tersebut menggunakan Bahasa Inggris yang secara tidak langsung membatasi para pembaca yang belum mampu berbahasa tersebut. Namun, penulis menyadari hal itu, maka kemudian ia memberikan kutipan-kutipan yang dirasa penting di setiap sub judul halaman kedua-sisi kiri dan ketiga-sisi kanannya, yang diambil dari tulisan di dalam tulisan tersebut. Hal ini sangat membantu para pembaca untuk menemukan inti dari setiap masing-masing yang ada dalam judul tulisan tersebut.

Jumat, Agustus 15, 2008

Shahrur Dan Pembacaan Al-Quran Kontemporer

(mohon maaf tidak ada covernya)
Judul buku : Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur'an Kontemporer
Judul asli :Al- Kitab wa al-Qur'an:Qiro'ah Mu'ashiroh
Penulis : Dr.Ir. Muhammad Shahrur
Penerbit : ElSAQ Press, Yogyakarta, cetakan 1, Oktober 2004
Tebal : V+ 318 halaman

Wacana pemikiran tentang keislaman di dunia Arab-Islam semakin berkembang setelah sekian lama mengalami stagnasi yang telah menyebabkan kaum muslimin mengalami kemunduran. Namun kadang dengan maraknya pemikiran yang ditawarkan olah para cendikiawan Islam telah mengundang perdebatan yang tidak sehat.

Hal itu sangat wajar karena wacana keilmuan di dunia Arab selalu saja dibatasi oleh ideologi yang mereka anut, sehingga jika ada 'paham baru' maka mereka sama-sama mencurigainya. Sebut saja, misalnya, Abid Al Jabiri, Muhammad Arkoun, Fazlurrahman, Nasr Hamid Abu Zaid, dan Muhammad Shahrur, dimana mereka semua mendapat kritikan yang pedas gara-gara melontarkan ide – ide yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Nasr Hamid Abu Zaid telah mendapat pengalaman pahit gara-gara buku "Kritik Wacana Agama (Naqd al-Khitab al-Dini)" berisi tentang kritikan yang tajam terhadap wacana keagamaan di dunia Arab, khususnya mengenai pembacaan Al- Quran yang –katanya-- hanya sebatas pembacaan yang diulang-ulang (Al Mutakarrirah), tidak ada pemaknaan yang kontekstual.

Dalam buku "Al-Kitab Wa al-Qur'an: Qiro'ah Mu'ashirah" yang telah diterjemahkan menjadi "Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur'an Kontemporer" buah tangan Muhammad Shahrur ini telah memperkuat pendapat Nashr Hamid Abu Zaid walau pendekatannya agak berbeda. Hal itu disebabkan background Shahrur sebagai ahli teknik dan sains. Setelah itu dia menekuni filsafat dan linguistik yang kemudian memfokuskan penelitiannya pada studi Al-Qur'an.

Al-Qur'an, bagi Shahrur, mempunyai dua sisi kemukjizatan apabila dilihat dari aspek linguistik, yaitu sastrawi dan ilmiah. Dalam aspek sastrawi beliau menggunakan pendekatan deskriptif-signifikatif-yaitu melalui teori sastra dan gramatika, dan aspek ilmiahnya menggunakan pendekatan historis-ilmiah-merujuk pada asbab an-Nuzul (sebab turunnya ayat). Adapun terhadap ayat-ayat hukum beliau menggunakan teori limit (Nazariyat al-Hudud), yaitu batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi di dalamnya terdapat wilayah ijtihad yang bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis.

Bagi Shahrur, semua ayat dalam al-Qur'an bisa dipahami secara pluralistik, maknanya bisa berubah sesuai dengan ruang dan waktu, tidak mesti bermakna satu, yaitu ketika ayat itu turun. Sebenarnya yang dia inginkan dalam pembacaan ayat-ayat muhkamat bersifat produktif dan prospektif (qira’ah muntijah), bukan pembacaan repetitif dan restrospektif (qira’ah mutakarrirah).

Buku terjemahan ini merupakan buku pertama yang baru diterjemahkan sepertiga dari buku aslinya yaitu, Al-Kitab wa al-Qur'an:Qira'ah Mua'shirah, yang terdiri dari enam sub bab pokok, di antaranya perbedaan antara al-Qur'an, al-Kitab, al- Furqan, dan ad-Dzikr. Dan juga tentang Al Qur'an dan Sab'ul Matsani (tujuh ayat pembuka surat dalam al-Qur'an), kemudian tentang pembedaan antara kenabian dan kerasulan, konsep inzal dan tanzil, serta kemukjizatan al-Qur'an dan pentakwilannya.

Ia telah menolak sinonimitas dalam al-Quran, karena setiap kata mempunyai karakter dan makna tersendiri yang tidak bisa diartikan sama. Begitu juga kata al- Qur'an, al-Kitab, al-Furqan, dan ad-Dzikr yang mempunyai arti tersendiri walau semuanya merujuk pada satu kesatuan.

Buku ini begitu komprehensif, karena bukan hanya penafsirannya yang dia tulis tapi juga metodologinya, sehingga kita bisa meneliti apakah penafsirannya itu sesuai atau tidak dengan metodologi yang dia gunakan. Inilah kelebihan dan perbedaan buku Shahrur dari buku-buku lain yang membahas tentang Al-Qur'an.

Karya ini begitu monumental dan memancing kontroversial di dunia Arab-Islam bahkan di dunia Islam pada umumnya. Karena sesungguhnya buku ini merupakan penafsiran ulang (reinterpretasi) ayat-ayat al-Qura'n yang dia sesuaikan dengan perkembangan zaman dimana dia bercermin pada karya-karya sebelumnya.

Buku ini patut dibaca bagi siapapun yang ingin menggali ilmu-ilmu al-Qur'an karena selain kualitas buku ini sendiri yang menggunakan perspektif baru, juga didukung terjemahannya yang baik yang memudahkan kita untuk memahami proses transfer pengetahuan dari teks aslinya.

Melihat Virginia Lewat Dalloway


Percaya atau tidak ternyata menulis itu bisa menyembuhkan. Menulis seperti halnya obat atau terapi untuk menyembuhkan suatu penyakit. Tentunya bukan penyakit yang bersifat fisik yang ada luka di salah satu anggota tubuh. Penyakit yang bisa disembuhkan oleh aktivitas menulis ialah penyakit hati, penyakit yang diderita karena tekanan-tekanan hidup seperti kurangnya rasa percaya diri, sensitif, dan emosional.
Novelis Inggris telah membuktikannya. Dia bernama Virginia Woolf. Konon dia sering mencoba bunuh diri gara-gara tekanan hidup. Sering kali dia mengalami ketidaksadaran diri, emosional yang berlebihan, dan kehilangan harapan. Ketika mengalami hal demikian, maka satu-satunya obat ialah menulis.

Bagi dia menulis merupakan obat sekaligus pelarian. Menulis sebagai obat karena dia merasa kelegaan yang luar biasa ketika gejolak-gejolak emosinya keluar dengan deras. Dan menulis sebagai pelarian adalah lari dari kenyataan. Kenyataan dalam hidupnya yang sering menekan batin, memaksanya membuat dunianya sendiri, tak lain dan tak bukan medianya adalah menulis novel. Dan tak heran jika novel-novelnya kebanyakan bercerita tentang gejolak-gejolak emosi para tokoh dan pemberontakan terhadap realita.
Mrs. Dalloway adalah salah satu novel yang sangat fenomenal dan revolusioner yang lahir dari racikan tangan Virginia. Menurut Michael Cunningham, penulis The Hours, novel inilah yang telah mengantarkan Virginia memperoleh penghargaan hadiah Pulitzer pada 1999. Karena novel ini pula, Virginia dianggap sangat pantas untuk disejajarkan dengan para novelis Inggris lainnya, seperti William Shakespeare, T.S. Eliot, dan George Orwell. Novel ini memberi pengaruh kuat sastra modern abad ke-20. Stilistikanya yang indah dan jalinan ceritanya yang memukau, membuat novel ini banyak dipuji dan dijadikan inspirasi oleh para penulis lain. Novel ini telah pula diadaptasi menjadi sebuah film yang tokoh utamanya diperankan oleh bintang terkenal Nicole Kidman.
Dalam novel ini ada dua tokoh utama yang menjadi fokus cerita, yaitu Mrs. Dalloway, istri Richard yang merupakan anggota palemen, dan yang kedua Septimus Smith yang mengalami kegilaan akibat perang. Cerita diawali saat Mrs. Dalloway membeli bunga untuk persiapan pestanya. Dalam perjalanannya ke London, dia tiba-tiba teringat akan kenangan-kenangan lamanya saat seumuran Elizabeth, anaknya, dan terutama saat dia bersama Peter, kekasih masa lalunyua, serta perjumpaan-perjumpaan dengan yang lainnya yang telah memberikan kesan yang mendalam yang tak bisa dilupakan.
Cerita yang bergaya flash back ini menjadi pengamatan menarik bagi para pengamat sastra. Salah satu yang didapatkan dari novel ini ialah bahwa dia memakai gaya atau teknik stream of consciousness (arus kesadaran). Artinya, novel ini sebuah dialog batin yang jarang sekali membuat dialog secara langsung antar tokoh. Dengan teknik ini timbul beberapa efek yang mempengaruhi para pembaca, dan dengan teknik ini pula kita bisa memahami kondisi penulis itu sendiri.
Adalah seorang Mrs. Dalloway tengah mengalami kecamuk kejiwaan gara-gara realitas yang kadang merugikan dirinya. Dialog langsung dalam hatinya atau komunikasi hanya pada dirinya menandakan bahwa Dalloway tengah mengalami konflik kejiwaan. Ada pemberontakan dan kelainan jiwa. Pemberontakan saat ia tidak ingin menikah dengan Peter, karena bisa mereduksi kebebasan hidupnya, "… bahwa tepat baginya untuk tidak menikah dengan Peter. Dalam suatu pernikahan harus ada izin, sedikit kebebasan antara dua manusia hidup bersama hari demi hari di rumah yang sama; seperti yang ada antara Richar dan dirinya…, …tetapi dengan Peter, segalanya harus dibagi sama; semua harus dijalani bersama. Dan Clarissa tidak akan tahan akan hal itu, dan saat kejadian di taman di dekat air mancur, Clarissa harus melepaskan diri dari Peter atau mereka berdua akan hancur, mereka berdua akan rusak, Clarissa yakin benar akan hal ini."
Adapun kelainan jiwa yang dihadapinya ialah dia tengah mengalami perubahan ketertarikan, yaitu ketertarikan pada sesama jenis (lesbian). Clarissa menyukai Sally, teman akrab lamanya yang disukainya.
Tokoh utama kedua, Septimus Smith, diceritakan tengah mengalami tekanan batin yang sangat akut bahkan sudah mencapai kegilaan. Masa lalu yang menyebabkan ia begitu menderita menyebabkan istrinya kerepotan mengurusnya. Beberapa dokter mencoba menyembuhkannya tapi gagal semua. Namun cerita ini sungguh simbolik. Melalui tokoh Septimus, Virginia ingin—sekali lagi—protes terhadap realitas, "Pria tidak boleh menebang pohon. Tuhan itu ada. …ubahlah dunia. Tidak ada satu manusia pun yang boleh membunuh karena rasa benci. Beritahukanlah pada semua orang.(42-43).
Buku yang berjumlah 232 halaman ini agak sedikit sukar dipahami jika kita tidak benar-benar jeli membacanya, karena ini bukanlah novel pop yang mudah dicerna sambil menonton televisi. Ceritanya sungguh tidak mudah diikuti oleh alur pikiran kita apalagi membaca pada halaman-halaman awal. Inilah efek dari gaya bahasa yang berbeda dengan kebanyakan novel lain seperti yang telah disebutkan di atas. Namun itulah sesungguhnya yang menjadi kekhasan Virginia yang pantas dianggap disejajarkan kedudukannya dengan novelis dunia seperti William Shakespeare.
Sebuah karya sastra itu digali dari pengalaman batin sang penulisnya. Begitu pula dengan novel ini. Kita bisa melihat Virginia lewat novel ini, betapa berontaknya dia terhadap realitas. Jika kita tilik sejarahnya, banyak sekali karakter Virginia diwakili oleh Mrs. Dalloway dan Septimus. Dari Mrs. Dalloway, misalnya, sama-sama berontak terhadap norma-norma yang sudah mapan, seperti masalah perkawinan, jender, cinta, dan agama. Dan dari Septimus ialah sama-sama menderita akibat sosio-kultural. Satu hal lagi yang sesuai dengan sejarah hidupnya ialah ketika Mrs. Dalloway mencintai Sally. Dan dalam hidup Virginia, dia pernah menjalin hubungan intim dengan sesama jenis.
Tentu buku ini hanyalah sebuah fiktif belaka tidak bisa disamakan dengan biografi penulisnya. Namun yang perlu kita garis bawahi ialah betapa pentingnya buku ini untuk dibaca sebelum membaca karyanya yang lain, karena karya ini dianggap perintis dari gaya tradisional menuju gaya modern. Walau buku ini terjemahan namun tidak mereduksi kelezatan aromanya. Tapi, sekali lagi, buku ini membutuhkan pembacaan yang khusuk dan kontemplatif. Kita patut menyambut gembira atas diterbitkannya karya Virginia Woolf yang masih asing di tanah air kita ini.

Kamis, Agustus 14, 2008

Gereja Undercover


Judul Buku: Gereja dan Penegakan HAM
Penulis: George Junus Aditjondro, dkk
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2008
Tebal: 251 halaman

Percayakah Anda, bahwa institusi keagamaan pun dapat terjangkit virus korupsi? Jika tidak percaya, buku Gereja dan Penegakan HAM adalah jawabannya. Buku tersebut berisikan adanya korupsi di lingkungan gereja. Tak berlebihan jika buku tersebut diberi judul seperti itu, karena korupsi memang sebuah bentuk kejahatan yang dapat mencapai pada level Hak Asasi Manusia (HAM). Bagaimana tidak, jika salah seorang dalam institusi ada yang korupsi maka dia sesungguhnya telah merugikan institusi tersebut.

Nah, buku karangan George Junus Aditjonro, dkk. ini telah membongkar pelbagai peristiwa pelanggaran di lingkungan gereja, khususnya perihal korupsi, dan umumnya perihal HAM. Dan secara keseluruhan dapat kita lihat betapa "petinggi-petinggi" gereja telah menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, di antaranya adalah memanipulasi bantuan jemaahnya. Pada kasus dana bantuan dari jemaah Gereja Kristen Sulawesi (GKST) untuk korban tsunami Aceh, misalnya, telah disalahgunakan dana yang berjumlah 27.538.450 dari hasil pengumpulan jemaah di atas tidak disalurkan, malah masuk pada institusi yang dipercaya. Dalam hal ini adalah Majelis Sinode (MS) GKST.
Bahkan ternyata tidak hanya itu, MK GKST juga tidak menyalurkan sepenuhnya bantuan dari para jemaah untuk korban bom di Pasar Tentena. Jumlah Rp 338 juta tapi yang disalurkan hanya Rp162 juta. Sisanya, Rp. 25 juta masuk pada MS GKST. Fakta Itu hanyalah sekelumit bukti untuk satu lembaga mengenai korupsi yang terjadi di institusi keagamaan. Masih banyak lagi lembaga-lembaga lainnya yang dibeberkan dalam buku tersebut.
Sungguh ironis sebetulnya kenyataan di atas. Satu sisi gereja adalah tempat mendekatkan diri pada Tuhan dan penyucian jiwa, tapi ternyata sisi lain menjadi sarang koruptor yang membungkus pelakunya dengan baju agama. Berbagai bantuan materi jemaah yang dipercayakan kepada gereja, ternyata disalahgunakan. Sebuah hal yang paradoks itu, sungguh tak terduga dan tak disangka. Masyarakat seratus persen percaya bahwa menyalurkan bantuan melalui instansi keagamaan (baca: gereja) adalah langkah yang tepat. Mereka menganggap tak akan terjadi penyelewengan-penyelewengan karena orang-orangnya mesti paham dan mempraktikkan ajaran-ajaran agama.
Tapi ternyata praduga itu salah. Pesan agama, dalam hal ini adalah pesan Yesus, untuk mengasihi sesama manusia ternyata tak digubris juga. Pengelola gereja ternyata "mata duitan". Mereka menjadi serakah dan gelap mata saat melihat setumpuk uang di tengah kekuasaannya.
Penyebab terjadinya penyalahgunaan bantuan tersebut adalah tidak adanya transparansi tentang keluar-masuknya dana bantuan itu. Ketidakadaan itu dijadikan kesempatan oleh oknum-oknum gereja. Maka tak ayal lagi, para elite gereja harus menjadi suri tauladan dan pionir dalam hal ini. Mereka harus transparan, amanah, dan bertanggung jawab atas pengelolaan dana bantuan jemaahnya. Jika terjadi penyelewengan, mereka harus segera memprosesnya, bukan malah menutupinya. Jangan sampai kaum elit gereja, entah itu pendeta, maupun biarawati, menjadi rusak citranya dan kehilangan wibawa serta kepercayaan dari para jemaahnya, khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
Bahkan tidak berhenti di situ, citra Tuhan pun menjadi ikut rusak. Padahal, sebagaimana dikatakan Paulus bahwa citra Tuhan adalah menebarkan cinta kasih sayang terhadap seluruh alam semesta. Oleh karena itu, masalah korupsi ini harus benar-benar diperhatikan oleh semua elemen yang terkait dengan instansi keagamaan. Bahkan harus ditangani pengelolaannya secara profesional, agar tidak terjadi KKN.
Dus, buku ini sangat penting bagi pemerhati sosial-keagamaan. Lebih khususnya lagi adalah kaum Kristen. Namun, buku ini sesungguhnya menyentil bagi lembaga keagamaan apa pun, termasuk Islam. Karena, tak menutup kemungkinan di institusi keislaman pun terjadi praktik seperti ini. Terlebih-lebih masjid lebih banyak jumlahnya dibanding gereja. Belum lagi lembaga-lembaga lain yang mengatasnamakan atau berlabel Agama Islam. Oleh karena itu, fakta yang dibeberkan dalam buku ini menjadi cermin bagi umat Islam juga. Tidak mustahil terjadi, bukan?