Kamis, Januari 20, 2011

Cinta-Syukur Sumber Kekuatan


Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu, 16 Januari 2011

Judul: The Power
Penulis: Rhonda Byrne
Penerjemah: Rani Moerdiarta
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2010
Tebal: 290 hlm

ADA dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini,yaitu cinta dan syukur. Oleh keduanya,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa.

Setelah debut buku pertamanya The Secret (2007) berhasil menjadi Mega Bestseller, kali ini Rhonda Byrne membuat sekuelnya berjudul The Power (2010).Walau titik tekannya berbeda, tapi benang merahnya sama, yaitu perihal hukum magnetik—tarik-menarik (Law of Attraction). Rhonda sangat yakin bahwa hukum tarik-menarik tak pernah gagal memberi kita setiap hal dalam hidup kita berdasarkan yang kita ungkapkan. Kita menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup kita, berdasarkan pikiran dan perasaan yang kita ungkapkan. Dalam The Secret Rhonda mengungkapkan rahasia orangorang sukses di masa lalu dengan hukum tarik-menarik (the law of attraction).

Dia membahas 24 pembicara kelas dunia untuk mengupas hukum tarik-menarik itu perihal menyembuhkan penyakit, mendapatkan kekayaan, mengatasi hambatan, dan mencapai sesuatu yang dianggap mustahil. Latar belakang mereka beranekaragam seperti psikolog,metafisika, pakar fungshui, pengusaha, filsuf, visionary, pakar fisika kuantum, sampai dokter spesialis syaraf. Dalam buku ini, Rhonda membahas perihal daya. Menurutnya, hidup kita dikendalikan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yaitu daya. Lantaran daya kita ada di bumi. Karena daya pula kita dapat memiliki yang kita inginkan. Dalam pengantar Rhonda mengatakan,“ Tanpa Daya,Anda takkan pernah lahir.Tanpa Daya,tiada satu pun manusia di planet ini. Setiap penciptaan,penemuan, dan kreasi manusia berasal dari Daya”. Menurut Rhonda,ada dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini, yaitu cinta dan syukur.

Dengan cinta,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa. Semakin besar pancaran itu, semakin besar pula kekuatan yang kita dapatkan. Tidak ada yang terlalu besar bagi kekuatan cinta. Tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada rintangan yang tak dapat diatasi, waktu pun tak akan dapat menghalangi. Anda dapat mengubah apa pun dalam hidup Anda dengan memanfaatkan kekuatan tertinggi di alam semesta ini dan yang harus Anda lakukan hanyalah mengungkapkan rasa cinta! (halaman 94-95). Rhonda mengibaratkan cinta bak air dalam gelas dan gelas itu adalah tubuh Anda.Sewaktu gelas itu hanya berisi sedikit air,gelas itu kekurangan air. Anda tidak dapat mengubah jumlah air di gelas dengan melawan kekosongan dan mencoba mengosongkan kekosongan. Kekosongan itu akan lenyap dengan mengisi gelas dengan air.

Sewaktu Anda merasakan perasaan buruk,Anda sedang kekurangan cinta sehingga ketika Anda menuangkan cinta kepada diri sendiri, perasaan buruk itu pun lenyap. Dengan syukur, kita dapat mengundang daya yang besar dalam hidup kita. Rhonda sudah sering melihat orang-orang yang benar- benar dalam keadaan miskin berubah menjadi kaya-raya lewat rasa syukur: orang-orang yang membalikkan bisnis yang akan bangkrut, dan orang-orang yang telah seumur hidupnya kesulitan keuangan menjadi orang berpenghasilan berlimpah. Orang-orang yang telah menderita kecemasan dan berbagai gangguan jiwa pulih kesehatan jiwanya lewat rasa syukur. Dalam keadaan buruk pun kita tetap bersyukur. Mengapa? Karena tanpa perasaan itu, kita tidak pernah tahu rasanya merasa senang itu.

Kita hanya akan merasakan “datar” sepanjang waktu karena tidak memiliki perbandingan perasaan.Lewat perasaan sedihlah Anda dapat mengetahui betapa nikmatnya perasaan bahagia. Kita tidak akan pernah dapat menepiskan buruk dari hidup karena perasaan buruk adalah bagian dari hidup,dan tanpa perasaan itu,kita tidak akan pernah merasakan perasaan baik. Lanjut Rhonda. (halaman 103) Paduan cinta dan syukur akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang berkualitas. Semakin sering kita bersyukur, semakin kuat kita merasakannya,dan semakin besar cinta yang akan kita berikan.

Ada tiga cara untuk menggunakan kekuatan rasa syukur dan masing-masingnya mengungkapkan rasa cinta: bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda telah terima di dalam hidup (masa lalu), bersyukurlah atas segala sesuatu yang sedang Anda terima (sekarang), dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda inginkan di dalam hidup seakan-akan sudah menerimanya.(hlm.149) Rhonda juga menjelaskan dengan apik bagaimana daya itu diterapkan dalam ketiga hal yang biasanya terjadi persoalan, yaitu uang,jalinan hubungan,dan kesehatan.

Hukum tarik-menarik berlaku dalam segala bidang, tak terkecuali dengan ketiga hal tersebut. Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa Anda menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup Anda, berdasarkan pikiran dan perasaan yang Anda ungkapkan. Pemikiran tersebut sangat relevan dengan Sabda Tuhan, “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha,” (QS. Al-Isra’:7). Jika kamu berbuat baik,kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri,dan jika kamu berbuat jahat,kejahatan itu juga akan kembali kepadamu.

Tampaknya buku ini diterbitkan dengan cukup serius, terlihat dari cara pengemasannya, mulai dari pilihan kertasnya yang super, ilustrasi isi yang warna-warni—dapat ditemukan hari di setiap halaman dan sampulnya yang lux. Rhonda melengkapi pembahasannya dengan kutipan katakata dari orang-orang bijak, filsuf, seniman, sastrawan, dan ilmuwan. Sungguh, buku ini sangat menuntun dan mencerahkan. Buku ini juga bisa dijadikan bekal dalam menjalani hidup di awal tahun ini. Penting dibaca bagi siapa saja yang memilih berhenti sejenak untuk melakukan lompatan besar.(*)

M Iqbal Dawami,
bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

Jumat, Desember 31, 2010

Spiritualitas, Esensi Beragama


Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu 26 Desember 2010

Judul:  You are Not Alone; 30 Renungan Tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2010
Tebal: xvi + 249 halaman

KETIKA manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.

“Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!” Begitu bunyi status Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis Rusia,secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku ini mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.

Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, “Tuhan, tolonglah aku!” Kisah Stalin itu menandakan bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan. Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat agama. Hanya saja kemudian Arvan mempertanyakan (lebih tepatnya merenungkan),mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?

Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah narkoba?

Agama Minus Spiritualitas

Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang baik.Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [halaman 7–8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah- masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.

Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk,dia sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt,Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari spiritualitas,padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [halaman 112].

Melalui buku ini,Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.

“Agama spiritualis” yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu “tajalli”. Kata “tajalli” berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain,Tuhan seolah-olah telah menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat Tuhan, seperti mencintai, menyayangi,menolong,dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr,yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai kebajikan.

Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya.Namun,semuanya menarik pembaca kepada renunganrenungan soal ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat relevan dengan situasi yang ada sekarang.Selamat membaca.(*)

M Iqbal Dawami,
bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

Balas Budi Mortenson

Dimuat di KORAN JAKARTA, Kamis, 23 Desember 2010

Judul : Stones into Schools
Penulis : Greg Mortenson
Penerbit : Hikmah, 2010
Tebal : 475 halaman
Harga : Rp69.000

Buku Three Cups of Tea (Hikmah, 2008) menceritakan serangkaian kisah dari kehidupan seorang pendaki gunung bernama Greg Mortenson. Pada 1993, setelah gagal dalam mencoba mendaki Gunung K2, sebutan lain untuk Gunung Himalaya, Mortenson tersesat dan hinggap di desa kecil dan terpencil di pegunungan Pakistan. Secara tidak sengaja dia menemukan desa tersebut.

Dia disambut oleh penduduk setempat yang sangat ramah, disuguhi makan dan istirahat. Padahal, penduduk tersebut penuh dengan kemiskinan. Mortenson ingin membayar mereka dalam beberapa cara, dan bersumpah untuk membantu kebutuhan yang paling mereka butuhkan lebih dari sekadar makanan. Melawan segala rintangan, ia mengumpulkan uang di Amerika Serikat dan kemudian kembali dengan sebuah truk penuh bahan bangunan.

Ia hendak membuat sekolah. Balas budi Mortenson adalah pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendidikan. Ia membangun sekolah tidak hanya satu, tetapi lima puluh lima sekolah. Buku tersebut merinci tantangan yang dihadapinya dan bagaimana dia mengatasinya. Ia adalah seorang individu luar biasa yang melimpah dengan semangat dan pengabdian. Buku itu merupakan bagian petualangannya.

Beberapa tahun telah berlalu, dan Mortenson menemukan ketenaran, terutama setelah bukunya selama tiga tahun berada di daftar penjualan terlaris New York Times. Pada akhir 2009 ia kemudian menerbitkan buku Stones into Schools, sekuel Three Cups of Tea. Sebagai sekuel, buku ini sangat mirip dengan pendahulunya—begitu banyak sehingga saya tidak yakin apa yang harus dikatakan dalam rangka untuk membedakan antara keduanya.

Mortenson mengisahkan dirinya berjalan, berkuda, dan berkeliling di belantara Pakistan dan Afghanistan. Hati dan pikirannya benar-benar hanya untuk sekolah, terutama sekolah untuk anak perempuan, yang terpinggirkan. Mortenson, melalui memoar ini, berkeyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi salah satu kunci untuk transformasi kehidupan yang lebih baik.

Apa yang begitu menggembirakannya adalah tindakannya menginspirasi begitu banyak warga Afghanistan. Mereka tahu pendidikan adalah jalan keluar dari penderitaan mereka. Ada bagian ketika Mortenson menceritakan pertemuan dengan Laksamana AS Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan. Laksamana itu selalu saja mendapat laporan berita buruk dari Afghanistan, dan ia menginginkan berita baik lewat Mortenson.

Mortenson menceritakan bahwa pada puncak kekuasaan Taliban pada 2000, kurang dari 800.000 anak-anak terdaftar di sekolah—semua dari mereka anak laki-laki—dan pendaftaran siswa baru di seluruh negeri itu mendekati delapan juta anak, 2,4 juta di antaranya adalah perempuan. Buku ini menceritakan tentang bagaimana Mortenson pergi ke Afghanistan yang berbahaya dan tidak stabil. Melalui lembaganya, ia telah membangun lebih dari 130 sekolah untuk mendidik 58.000 anak, terutama anak perempuan.

Peresensi M Iqbal Dawami, Pengasuh blog http://resensor. blogspot.com/

Selasa, November 09, 2010

Terapi Penyakit Fisik dan Psikis

Dimuat di Seputar Indonesia, 07 November 2010

Judul: The Miracle of Touch: Panduan Menerapkan Keajaiban EFT
Penulis: Eddy Iskandar
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, September 2010
Tebal: 193 halaman
==================

DIMENSI sumber daya manusia (SDM) adalah bagian yang paling rumit untuk diubah secara cepat karena menyangkut persoalan kebiasaan (habit)manusia. Hal ini berhubungan erat dengan pola pikir (mind set) sistem otak yang lebih dikenal dengan pikiran bawah sadar (subconsious mind-SCM).

Begitulah yang dikatakan Prof Dr Rushami Zien Yusoff dalam pengantar buku ini. Banyak sekali para pakar membuat teknik yang digunakan untuk mengondisikan SCM ini.Di antaranya adalah melalui terapi emotional freedom techniques (EFT).Emotional freedom techniques atau teknik kebebasan emosi yang biasa disingkat menjadi EFT ini adalah alat terapi psikologi yang diterapkan berdasarkan teori yang menyatakan bahwa emosi yang berlebihan pada dasarnya bersifat negatif.

Begitulah Eddy Iskandar,penulis buku ini,mendefinisikan EFT. Ketika kita merasa kesal,marah,sedih,atau stres,tubuh kita sering kali turut terganggu.Hal itu disebabkan adanya gangguan sistem energi di dalam tubuh kita.
Nah,melaluiEFT,kataEddy,akan memperlancar jalur yang menghambat kemampuan otak dan tenaga kita saat kita melakukan kegiatan.Hal ini disebabkan EFT mengusung pendekatan sistemik antara pikiran dan tubuh. EFT adalah perangkat yang paling mudah dipelajari dan sangat efektif serta cepat hasilnya.

Holistic Life
Pendekatan holistik memberikan makna bahwa tubuh terdiri dari tiga bagian utama,yaitu pikiran,badan, dan jiwa.Ketiganya telah menjadi suatu sistem. Berdasarkan pengertian ini, apabila ada persoalan pada tubuh atau diri kita, maka tidak cukup meninjaunya dari subsistemnya semata,umpamanya persoalan fisik saja, atau persoalan emosi atau pikiran saja, dan mengabaikan persoalan jiwa.

Pendekatan holistik dapat diwujudkan dalam kehidupan seharihari dengan pola atau gaya hidup yang sering diistilahkan sebagai holistic life.Ukuran penting dalam menjalankan holistic lifebukan saja pencapaian kuantitatif,melainkan juga keselarasan (tawazun), yang artinya selaras antara aspek kuantitatif (sukses, sehat) dan kualitatif (bahagia,sejahtera secara lahir dan batin). Semua itu dapat terjadi sebagai dampak dari pola makan, pola hidup, dan pola pikir yang dikelola dengan baik.

Buku tentang EFT ini dapat membantu kira dalam mengelola kehidupan holistik. Secara khusus, teknik-teknik EFT bisa membantu kita dengan cepat melepaskan semua emosi serta gejala penyakit atau sinyal-sinyal ketidakmampuan tubuh dan pikiran dalam menerima kelebihan tekanan hidup. EFT merupakan perangkat yang dapat digunakan untuk membersihkan virus-virus (emosi negatif) dalam tubuh kita dengan relatif singkat dan mudah. Anda pun dapat memprogram SCM Anda dengan program positif yang Anda inginkan.

Melakukan terapi penyakitpenyakit emosi yang berhubungan dengan perilaku, EFT sungguh dapat diandalkan. Buku ini adalah panduan untuk mempelajari EFT secara konkret. Melalui buku ini Anda akan diajak bagaimana cara melakukan penyembuhan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain dengan metode EFT. Penulis buku ini,Dr Eddy Iskandar, adalah seorang International EFT Trainer & Advanced Practitioner (AAMET) yang mendalami EFT di Malaysia dan Hong Kong,sampai London, Inggris. Ketua Asosiasi Praktisi EFT Indonesia (APEI) ini adalah Managing Partner CPM Consulting dan Founder Pusratu Wellness Center Indonesia.

Metode EFT
EFT memberikan metode penyembuhan yang disebut tapping (ketukan ringan),yaitu dengan cara mengetuk-ngetuk titik-titik energi meridian tubuh. Energi meridian adalah jalur lalu lintas energi di dalam tubuh. Seperti halnya lalu lintas, pada meridian pun ada jalur, hambatan,persimpangan,titik awal, titik akhir,dan sebagainya.Jika jalan energi pada meridian lancar, akan tercipta keharmonisan dalam tubuh dan tubuh kita mampu melawan penyakit.

Sebaliknya, jika terjadi hambatan pada meridian,akan muncul gangguan pada kesehatan. EFT diciptakan dengan dasar dua metode tapping, yakni urutan pendek dan urutan lengkap.Kedua rangkaian itu sama-sama berfungsi meringankan berbagai masalah emosi dan penyakit. Teknik EFT hanya mengetuk-ngetuk ringan dengan dua atau tiga jari pada titiktitik yang telah ditentukan.

Ketika Anda melakukan tapping, hanya ada 10–18 titik kunci yang harus Anda ketuk di sepanjang 12 energi meridian,yang meliputi: jantung, usus kecil, kandung kemih, ginjal, sirkulasi seks, triple warmer, empedu, hati, paru-paru, usus besar,lambung,dan limpa. Dalam bab empat anda akan diberi contoh konkret bagaimana mempraktikkan metode EFT tersebut. Dalam bab ini juga diberi pelbagai gambar posisi jari dan bagianbagian yang harus diketuk.

Dan untuk mempermudah lagi,buku ini disertai CD yang berisikan video (audio visual) sehingga diharapkan Anda bisa mempraktikkannya dengan benar dan cepat. Ada hal yang harus diperhatikan dalam proses EFT ini,yaitu afirmasi. Ketika Anda melakukan tapping, Anda harus pasrah dan ikhlas sembari memberikan sugesti positif. Dengan begitu, proses penyembuhan akan berlangsung cepat. Tanpa afirmasi akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal.

Menurut Eddy, melalui metode EFT ini, banyak orang telah merasakan manfaatnya. Misalnya,orang yang terkena penyakit diare, posisi bayi sungsang, pecandu rokok, insomnia, fobia, krisis percaya diri, stres,stroke,dan sebagainya. Oleh karena itu, buku ini patut dibaca oleh siapa pun.Metode EFT ini sendiri bisa diterapkan kepada siapa pun, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa.(*)

M Iqbal Dawami,
pecinta alam,aktif di Kere Hore Jungle
Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

Rabu, November 03, 2010

Kisah Pendiri Muhammadiyah


Judul: Sang Pencerah; Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: 461 hlm.

Sang Pencerah merupakan sebuah novel yang mengangkat kisah Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Sebuah novel yang akan mengenalkan kita pada sosok yang sudah berkontribusi besar bagi pendidikan di Indonesia. KH Ahmad Dahlan adalah orang yang memberikan pendidikan pada rakyat kelas bawah melalui pesantren dan sekolah dasarnya.
 

Novel ini menggunakan sudut pandang ‘aku’ yang bernama Muhammad Darwis. Ia adalah anak dari seorang khatib Mesjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Kiai Haji Abu Bakar, yang silsilahnya sampai pada Maulana Malik Ibrahim, salah seorang Wali Songo.
 

Darwis sudah pandai membaca Al-Quran sejak usia 10 tahun. Selain itu, ia dikaruniai otak yang cerdas, melebihi anak-anak seusia yang berada di lingkungannya. Seringkali ia menanyakan sesuatu yang tak lazim ditanyakan oleh khalayak umum, baik tingkat anak-anak maupun dewasa.

Misalnya, pada waktu ikut tahlilan di rumah seorang kawan yang bapaknya meninggal, dalam perjalanan pulang ia bertanya-tanya: mengapa untuk mengadakan yasinan 40 hari seorang anggota keluarga yang sudah wafat, anggota keluarga yang masih hidup harus meminjam uang kepada orang lain? Apakah hal ini memang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad panutan umat manusia?
 

Bagaimana kalau keluarga itu setelah berusaha tetap tidak punya uang untuk membuat acara 40 hari atau 100 hari bagi yang sudah mati? Mengapa pula keluarga yang sedang berduka itu harus membuat makanan yang mewah seperti ayam rebus, padahal dalam keadaan sehari-hari ayam bukanlah makanan yang biasa mereka makan. Mengapa tidak jamaah yang justru membawakan makanan untuk mengurangi penderitaan mereka?
Ia merasa kasihan pada Ibu Pono, kawan Darwis, harus meminjam uang ke rentenir untuk kebutuhan yasinan 40 hari, 100 hari, dan 1.000 hari.
 

Semakin beranjak dewasa, Darwis semakin kritis terhadap tradisi yang mengatasnamakan agama. Seperti pada tradisi ruwatan, padusan, nyadran yang biasa dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Darwis mempertanyakan hal itu semua.
 

Darwis kemudian berhaji ke Makkah sembari belajar agama Islam kepada ulama-ulama yang ada di sana, salah satunya kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Dari Syaikh ini lah Muhammad Darwis diganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Mulai dari sinilah namanya berubah. Saat itu ada kebiasaan bahwa setiap nama santri berasal dari daerah non-arab, akan diarabkan supaya terdengar lebih afdol.
 

Setelah lima tahun di Makkah, Dahlan kemudian pulang ke Yogyakarta. Semenjak kepulangan inilah, kehidupan Dahlan mulai bergolak. Terutama setelah ia diangkat menjadi Khatib Mesjid Gedhe, menggantikan ayahnya yang telah wafat. Ia berani menentang tradisi-tradisi yang dianggap melenceng dari ajaran Islam.
 

“Aku tidak anti-tradisi, Mas Noor. Aku hanya keberatan terhadap tradisi yang memberatkan rakyat tapi harus dilakukan atas nama agama. Karena kalau begitu caranya, bagaimana akal kita bisa menerima sebuah agama yang memberatkan penganutnya sendiri?” jawab Dahlan pada saat banyak yang protes atas perilakunya yang menentang tradisi-tradisi yang telah turun-temurun.
 

Adapun klimaks novel ini mulai di halaman 199, yaitu pada saat ia hendak mengubah arah kiblat. Dari pengamatannya, mesjid Gedhe Kauman mengarah lurus ke barat, padahal kiblatnya tidak persis ke barat tapi agak serong ke kanan (barat laut). Soal kiblat inilah Dahlan mendapat perlawanan dari Kia Siraj Pakualaman, dan Kiai-Kiai lainnya, terutama Kiai Penghulu Kamaludiningrat, selaku Kiai yang paling tinggi status sosialnya.
 

Pada malam Ramadhan banyak warga yang memilih ikut shalat tarawih di Langgar Kidul pimpinan Dahlan. 
Hal ini membuat jamaah di Mesjid Gedhe menurun. Lantaran shalat tarawihnya versi 11 rakaat, bukan 23 rakaat. Novel ini terus bergulir, hingga mengerucut pada pertemuan Dahlan dengan organisasi Budi Utomo.
 

Dan dari situlah, Dahlan terinspirasi untuk membuat sekolah ibtidaiyah diniyah di rumahnya, yang muridnya pada waktu itu kebanyakan dari kalangan rakyat kecil. Setelah itu Dahlan membuat persyarikatan/perkumpulan. Sangidu, adik tirinya, mengusulkan nama perkumpulannya Muhammadiyah. Artinya, pengikut kanjeng Nabi.
 

Kehadiran novel biografi ini patut diapresiasi, mengingat masyarakat kita butuh bacaan yang menunjukkan nilai perjuangan bangsa dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Sungguh, menulis novel yang diangkat dari kisah dan sejarah tokoh bangsa Indonesia patut dicontoh oleh para penulis lainnya, agar kita dan generasi yang akan datang tidak kehilangan akar sejarah bangsanya. Melalui novel lah nilai-nilai tersebut dapat dengan mudah terserap oleh semua kalangan.Semoga.
 

Aduhai, novel ini sangat nikmat sekali dibaca, terutama dilakukan sembari minum teh dan makan gogodoh, baik di pagi hari maupun sore hari.Selamat membaca.[]

M. Iqbal Dawami, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta

Inovasi dan Aset Nirwujud Sumber Kekuatan

Judul: Knowledge and Innovation ; Kekuatan Daya Saing
Penulis: Zuhal
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2010
Tebal: 485 halaman

Zuhal, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) pada kabinet Reformasi menjelaskan dalam buku ini bahwa saat ini kita sedang berada pada era baru kemunculan berbagai bentuk kompetisi global yang mengalir ke segala arah. Perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) terbang ke seluruh dunia, keluar dari pusat-pusat korporasi induknya, mencari tempat bertengger baru yang lebih kompetitif. Mereka membidik pusat-pusat pertumbuhan yang lebih menjanjikan low-cost manufacturing dan low-end markets. Realitas global baru yang berbeda itu dikenal dengan globality.

Globality, lanjut Zuhal, didasarkan pada dunia yang menyatu tanpa batas. Sebuah dunia baru yang direkat oleh jaringan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) antarkontinen. Jaringan TIK inilah yang kelak meniupkan karakter baru dalam persaingan ekonomi di era globality: jaringan TIK dengan cepat mampu menyediakan informasi tentang bagaimana berkompetisi secara sempurna atau informasi tentang siapa yang terbaik, kreatif, dan efektif di muka Bumi. Tatkala informasi telah begitu “telanjang”, maka kompetisi di era globality pun menemukan wajahnya yang lain: persaingan menjadi jauh lebih ketat, di arena yang menyerupai “bidang datar” (global arena).

Tak pelak lagi, inovasi menjadi hal yang sangat penting dalam kompetisi global. Inovasi adalah ciptaan-ciptaan baru (dalam bentuk materi ataupun intangible) yang memiliki nilai ekonomi yang berarti (signifikan), yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau kadang-kadang oleh para individu (Edquist, 200). Inovasi juga dapat diartikan sebagai transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru; tindakan menggunakan sesuatu yang baru (Rosenfeld, 2002).

Kita bisa mengaca pada perusahaan Coca-Cola Indonesia, misalnya. Inovasi adalah salah satu kunci keberhasilannya. Melalui riset dan pengembangan (Research & Development), Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, serta perlengkapan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif, serta mempunyai ciri khas tersendiri.

Dengan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen, serta potensi kekayaan alam Indonesia, Coca-Cola berinovasi dengan menciptakan produk-produk baru yang menjadikan produk minuman cepat saji Coca-Cola mempunyai rasa dan pilihan yang beragam. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara lebih spesifik, pada tahun 2002 Coca-Cola meluncurkan AQUARIUS, minuman isotonik yang diperuntukkan bagi mereka yang aktif dan gemar berolahraga.

Pada tahun yang sama, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Frestea, teh dalam kemasan botol dengan aroma bunga melati yang khas. Pada tahun 2003, Fanta menghadirkan campuran dua rasa buah, orange dan mango, yang disebut "Fanta Oranggo", setelah pada tahun sebelumnya sukses meluncurkan Fanta Nanas. Pada tahun berikutnya, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Sunfill - produk minuman Sirup dan Serbuk instan rasa buah.

Dengan inovasi, Coca-Cola yakin bahwa produk-produk yang ditawarkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia.

Aset Nirwujud
Mengapa daya saing bangsa Indonesia tidak kunjung meningkat, padahal sejumlah indikator ekonomi cukup menunjukkan perbaikan? Faktor nirwujud ternyata berperan besar. Zuhal memberikan nasihatnya bahwa perusahaan, misalnya, tidak sepatutnya hanya terbuai melihat aspek-aspek yang berhubungan dengan pangsa pasar dan tujuan-tujuan keuntungan finansial semata. Perusahaan mesti mengalihkan perhatiannya—dalam porsi lebih besar—pada aset-aset tersembunyi seperti sumber daya manusia (SDM), budaya korporat, serta aset intelektual lainnya. Ada pergeseran yang cukup fundamental yang bergerak ke arah human capital oriented.

Kemunduran indikator nirwujud daya saing—pendidikan, kesehatan, dan riset—sejatinya memicu efek domino yang merembet ke pelbagai lini. Merosotnya kualitas pendidikan pendidikan, kesehatan, dan riset berimplikasi terhadap menurunnya kemampuan SDM, yang pada gilrannya menyumbang saham kepada rendahnya efisiensi pemerintahan dan merosotnya efisiensi bisnis. Semua itu mengakibatkan terus menurunnya daya saing Indonesia secara keseluruhan. Dan, sulit dipungkiri, indikator merosotnya daya saing bangsa ini secara gamblang tercermin pada tren menurunnya peringkat Human Development Index (HDI), indeks teknologi, atau posisi peringkat daya saing umumnya, terutama sejak 1996.

Isu nasional ini memang bersifat nirwujud (intangible). Pemerintah masih lebih suka mencari solusi-solusi jangka pendek, seperti memfokuskan diri hanya pada indikator-indikatior sistem ekonomi klasik yang tangible, alih-alih memberi arah dan panduan strategis terkait gejala menurunnya aset nirwujud. Mind-set lama ini mesti diubah.

Secara keseluruhan buku ini berbicara tentang “platform daya saing” yang berkaitan dengan aspek penguasaan knowledge, kreativitas, dan inovasi yang diperlukan menjawab tantangan sistem ekonomi baru. Selain itu, terkait pentingnya soal inovasi, Zuhal juga memberikan konsep Sistem Inovasi Nasional (Sinas) Indonesia yang berbasis keunggulan komperatif benua maritime. Juga dipaparkan kajian pelbagai bentuk institusi, organisasi, dan aspek knowledge management yang menunjang Sistem Inovasi.[]

M Iqbal Dawami,
Staf pengajar STIS Magelang

Dosen Indonesia Harum di Jepang

Judul: Soetanto Effect; Ubah Orang Buangan Jadi Rebutan
Penulis: Ken Kawan Soetanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, Agustus 2010
Tebal: 179 hlm.

Di Jepang, pada saat penerimaan karyawan, banyak perusahaan berkeliling ke semua perguruan tinggi dan selalu tidak puas dengan para lulusannya. Namun ketika mereka datang ke perguruan tinggi tempat Soetanto mengajar, yang kebanyakan mahasiswanya dikatakan tidak mempunyai semangat untuk belajar, mereka malah meminta para mahasiswanya itu untuk bekerja di perusahaan mereka.

Apa sesungguhnya yang menjadi ketertarikan perusahaan untuk merekrut dari para mahasiswa Soetanto? Usut punya usut ternyata mereka—para mahasiswa yang di bawah bimbingan Soetanto—bekerja dengan cerdas dan penuh semangat.

Nah, lewat buku inilah dikisahkan bagaimana para mahasiswa itu dididik. Awal mula Soetanto mengajar di perguruan tinggi Universitas Tuin Yokohama, Jepang, 80 persen mahasiswanya tidak punya semangat untuk belajar. Dari situ dia mencari tahu sebab-musababnya dan dicari solusinya. Tidak lama kemudian, dengan perasaan puas, dia akhirnya mencapai pemahaman bahwa jika diberikan stimulus yang tepat, semangat belajar ke 80 persen mahasiswa itu akan muncul.

Usaha yang dia lakukan pertama kali adalah memberikan metode terapi kejut (shock therapy). Misalnya dengan pertanyaan, “Apakah kalian ingin 20 orang di antara kalian keluar dari kelas ini?” Lewat pertanyaan yang tak disangka-sangka itu, membuat mata mereka terbelalak. Atau Soetanto juga memakai kata-kata, “Jika kalian mengambil mata kuliah ini dengan setengah hati, maka saat ini juga kalian lebih baik meninggalkan kelas dan berhenti!”

Dengan terapi kejut semacam di atas para mahasiswa secara spontan akan terpacu untuk serius dalam belajarnya. Mereka lebih perhatian atas apa yang dipelajarinya. Itu adalah langkah pertama yang dilakukan Soetanto dalam usaha “penyadaran” mahasiswanya atas pentingnya pengetahuan yang mereka pelajari.

Seiring berjalannya waktu, keseriusan mereka dalam belajar menjadi sebuah kebiasaan yang barangkali berawal dari rasa tertekan dan terbebani, namun berakhir dengan rasa senang dan bahagia, karena hasilnya terasa. Proses perkuliahan ala Soetanto itu tidak lagi dianggap sebuah keterpaksaan maupun tekanan, tapi sebuah hal yang menyenangkan, karena dalam perjalanannya Soetanto ternyata sangat mengesankan dan mengasyikkan, jauh dari kesan “killer”.

Memang, dengan sekuat tenaga Soetanto berusaha membuat proses belajar menjadi lebih mudah dimengerti dan menarik. Sebagai seorang dosen, dia menginginkan penampilannya yang terbaik di depan mahasiswa. Mengeluarkan semua yang dia punya.

Soetanto juga sering memotivasi mahasiswanya pada saat perkuliahan berlangsung, sehingga materi-materi yang diajarkannya terserap dengan baik, karena hati dan pikiran para mahasiswa dalam suasana menyenangkan. Soetanto sadar bahwa untuk membuat pelajaran yang bagus dan sukses, harus ada kerja sama antara kedua pihak, yaitu dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, dia menyadari begitu pentingnya menstimulus semangat belajar para mahasiswanya.

Untuk membangkitkan semangat mahasiswa, Soetanto menuruh mereka menulis “Pesan-Kesan Tiga Baris” atas materi dan karakter dia dalam mengajar. Kontan, semuanya berkonsentrasi dalam perkuliahan, mati-matian memutar otak, demi menuliskankan tiga baris pesan-kesan tersebut. Hal itu menjadi sebuah latihan untuk menyusun dan menuangkan pikiran sendiri. Menulis tiga baris pesan-kesan tersebut merupakan suatu kemajuan tersendiri.

Dengan hanya tiga baris pernyataan itu, mereka bisa membuat pengakuan dan berterus terang mengenai hal yang sebenarnya dari dalam lubuk hati mereka. Watarai-kun, salah satu mahasiswanya menulis, “Darah di seluruh tubuh saya mendidih dan bergejolak”.

Mahasiswa yang dulunya dikatakan tidak punya harapan dan terus-menerus berpikir bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa, sekarang sudah menyadari kekeliruannya. Ternyata metode pesan-kesan ini mewujudkan “jendela hati” mereka, dan dapat membesarkan hati mereka pula.

80 persen mahasiswa yang dulu dikatakan tidak punya harapan dan tidak punya semangat, berubah menjadi 80 persen mahasiswa yang mulai memupuk semangat dan menggali harapan masing-masing.

Melalui buku ini, Soetanto berhasil merumuskan hal-hal yang bisa dilakukan oleh para pengajar dalam membantu para anak didiknya. Rumusan tersebut tentu bisa dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk para pendidik Indonesia yang diharapkan dapat memajukan kualitas pendidikan di Indonesia ini.

Metode mengajar ala Soetanto ini kemudian terkenal dengan istilah Soetanto Effect. Istilah ini dimaknai dengan suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik, yang mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Metode ini berhasil diterapkan di sebagain besar perguruan tinggi Jepang.

Soetanto yang bernama lengkapnya Ken Kawan Soetanto adalah warga negara Indonesia yang hidup di Jepang yang meraih gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang.

Dari pengembangan interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi, dia menghasilkan 29 paten di Jepang dan 2 paten di AS. Pencapaian riset dengan paten paling mutakhir diakui di Jepang, yakni The Nano-Micro Bubble Contrast Agent. Pemerintah Jepang melalui NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.

Buku ini patut dibaca oleh dosen, guru, ustadz, tentor, dan siapa saja yang menginginkan kemajuan pendidikan di Indonesia. Dari buku ini kita dapat belajar bagaimana cara mengajar para peserta didik yang baik, yang dapat membangkitkan semangat peserta didik dalam belajarnya, sehingga berhasil mencapai segala cita-cita yang diimpikannya.

M. Iqbal Dawami, staf pengajar STIS Magelang.

Jumat, Oktober 01, 2010

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Judul: Tafsir Kebahagiaan; Pesan Alquran Menyikapi Kesulitan Hidup
Penulis: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 201 hlm.
=============
Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘usri yusro. Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab.(Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan. Jika telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap) (Q.S. Al-Insyirah: 5 - 8).

Dalam ayat di atas, kenapa Allah mendahulukan kesulitan atau penderitaan (al-‘Usr) ketimbang kemudahan atau kebahagiaan (al-Yusr)? Apa yang bisa kita pelajari dari penempatan seperti itu?

Lewat buku ini, Jalaluddin Rakhmat—biasa dipanggil Kang Jalal, menjelaskan secara panjang lebar dan komprehensif rahasia redaksi ayat di atas. Ia mengatakan bahwa sudah menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memerhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan. Sebuah gigi yang sakit akan lebih diperhatikan daripada sekian gigi yang sehat. Satu anggota badan yang sakit akan lebih menyita perhatian daripada anggota-anggota badan lain yang tak sakit. Begitu pula dengan penderitaan dan kesulitan yang kita alami. Terkadang penderitaan dan kesulitan membuat orang berputus asa, merasa hidupnya sempit dan buntu.

Oleh karena itu Tuhan mendahulukan kata ‘kesulitan’ ketimbang ‘kemudahan’ dengan angapan bahwa kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan. Bahkan, Tuhan perlu mengatakan itu dengan kalimat-kalimat penegasan.

Dalam redaksi ayatnya, kita lihat ada dua tanda penegasan: pertama kata ‘inna’ yang diartikan dengan ‘sungguh’ atau ‘benar-benar’. Yang kedua adalah pengulangan kalimat ‘kesulitan akan ada kemudahan’. Penegasan itu meyakinkan agar seseorang selalu optimis dan tak sepatutnya larut dalam duka musibah dan bencana.

Ayat ini bersinambung dengan surat selanjutnya, Al-Dhuha. Di dalam surat ini ada simbol yang melambangkan perjalanan hidup manusia sejak mulai dari ayat pertama, ‘Wa al-Dhuha’—Demi waktu dhuha. Waktu ‘dhuha’ yaitu pada saat matahari naik seukuran galah dengan sinarnya yang benderang, memancarkan kesegaran. Ketika Tuhan bersumpah demi matahari yang baru tampak sepenggalah, ada makna tersirat bahwa agar kita menengok saat sebelumnya, yaitu malam yang kelam. Dengan demikian, kita akan lebih dalam memaknai arti matahari-pagi itu.

Tafsir Kang Jalal atas ayat di atas adalah itu semua menggambarkan bahwa kesulitan dan penderitaan akan berakhir dengan kemudahan dan kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan hanyalah pengantar menuju kemudahan dan kebahagiaan. Dan kemudahan dan kebahagiaan akan betul-betul terasa nikmatnya jika diawali dengan kesulitan dan penderitaan.

Bersabar terhadap musibah, meski pun berat, itu hal biasa dan tak istimewa, sebagaimana bersyukur terhadap karunia. Yang istimewa adalah jika bersyukur terhadap musibah. Bagaimana caranya bersyukur saat ditimpa musibah? Kata Kang Jalal, yaitu dengan melihat sisi-sisi positif dan kebaikan dalam musibah itu, seperti dalam doa Imam Ali Zainal Abidin saat ia sakit, “Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku ini. Sebab, berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai kenistaan, aku lebih punya banyak waktu untuk berzikir dan berkumpul bersama keluarga.”

Maka, benarlah jika dikatakan, musibah itu keniscayaan, sedangkan penderitaan adalah sikap dan pilihan. Tak semua orang akan terpuruk dan menderita oleh musibah yang mendera, dan mungkin kehidupan selanjutnya justru lebih baik, karena kejiwaan dan pola pikirnya mengarahkan pada pilihan itu. Dan, tentu saja tak sedikit barangkali yang terpuruk dan menderita oleh musibah. Sebabnya sama: kejiwaan dan pola pikirnya memilih demikian.

Pada akhirnya, lanjut Kang Jalal, musibah mengubah cara pandang seseorang dalam memahami kehidupan atau bahkan lebih mencerahkannya dalam menilai kehidupan. Semua itu bermula dari pola pikir. Maka, berpikirlah positif, yaitu dengan bersyukur dan bertawakal.

Sungguh, buku ini memberikan perspektif baru soal penderitaan dan kesedihan. Di zaman yang bergelimang material tapi kering spiritual ini, buku ini patut anda baca, agar tahu hakikat penderitaan dan kesedihan yang sering kita alami dari dulu hingga kini. Saya jamin anda akan tercerahkan, sebagaimana halnya saya.[]

M. Iqbal Dawami, penulis buku Sang Pengubah Mitos (2010)

Senin, Agustus 30, 2010

Filsafat Bisnis ala Soros

Dimuat di Seputar Indonesia, Minggu, 08 Agustus 2010
========
Judul: The Alchemy of Finance
Penulis: George Soros
Penerjemah: Syamsul Wardi&Yelvi Andri
Penerbit: Daras Books
Cetakan: I, 2010
Tebal: 407 hlm.
========

PADA Juli 2010,George Soros telah mengunjungi Indonesia. Dia mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, dan menemui beberapa pejabat negara,seperti presiden,wakil presiden,dan menteri keuangan.

Ia datang karena ingin mengetahui secara langsung situasi ekonomi Indonesia yang sangat potensial untuk investasi. Soros memang sangat piawai dalam berinvestasi.Keputusannya dalam berinvestasi di perusahaan tertentu selalu tepat. Dan kabar teranyar, dia berniat untuk membeli saham Dubai Holding sebesar 4% lewat Bombay Stock Exchange (BSE).Tidak hanya seorang investor ulung, Soros juga terkenal dengan spekulator mata uang, pengusaha, dermawan, filsuf, dan aktivis politik. Raihan sebutan yang disematkan padanya, tentu tidak mudah. Ada rentang waktu yang lama untuk meraihnya.

Namun, jika dilacak, tonggak kesuksesannya berada pada titik hijrahnya dari Inggris ke Amerika,terutama pada tahun 1959, yaitu pada waktu dia bekerja sebagai seorang analis bisnis, sembari bekerja pada perusahaan Arnhold dan S Bleichroeder, dari tahun 1963 hingga 1973. Pada waktu itu pula, Soros menulis kerangka konseptual filsafatnya bernama ”refleksivitas”, yang kemudian menjadi sebuah buku berjudul The Alchemy of Finance. Teorinya ini berdasarkan gagasan Karl Kopper, seorang filsuf, yang dia dapatkan pada waktu kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi London,di Inggris. Lewat buku ini, Soros menjelaskan berbagai masalah pelik keuangan internasional yang selama ini kurang diperhatikan.

Dia mengkritik teori-teori keseimbangan (equilibrium) saat ini mengenai pasar keuangan serta melemparkan argumentasi untuk pergeseran paradigma. Dalam konteks ini, Soros juga menelaah kelemahannya dalam argumentasi awalnya.Lalu dia meletakkan dasar bagi sebuah paradigma baru berdasarkan kesadaran bahwa pemahaman kita tidak pernah berkorespondensi dengan realitas, dan keberagaman itu merupakan sebuah faktor penting, namun tidak menentukan dalam pembentukan alur peristiwa. Implikasi paradigma ini mencapai jauh keluar dari pasar keuangan. Akhirnya, Soros menjelajahi seni—untuk membedakan dari ilmu— keuangan lebih jauh. Dia melakukan eksperimen realtime yang memberi penjelasan terperinci mengenai berbagai keputusan investasi yang dia ambil selama suatu periode.

Soros mengembangkan sebuah bingkai teoretis yang didasarkan pada konsep refleksivitas untuk menjelaskan hubungan antara pemikiran dan realitas. Dia menggunakan pasar keuangan sebagai sebuah laboratorium untuk menguji teorinya.Menurut soros, paradigma ini berada dalam masalah besar. Ide bahwa pasar keuangan cenderung bergerak ke satu keseimbangan (equilibrium) tampaknya bertentangan dengan bukti yang ada. Kebanyakan ekonom menyadari bahwa pasar keuangan mampu menghasilkan multikeseimbangan. Namun, ide bahwa pasar bebas tanpa regulasi memastikan alokasi aset secara maksimal belum juga ditanggalkan.

Sudah banyak upaya keras dilakukan untuk menyatukan perilaku aktual pasar keuangan dengan hipotesis pasar efisien, dengan mengadopsi definisi yang lebih elastis mengenai rasionalitas dan definisi yang lebih longgar lagi mengenai efisiensi. Berbagai modifikasi ini tidak banyak berguna. Untuk itu, The Alchemy of Financedimaksudkan sebagai sebuah serangan langsung terhadap paradigma yang berlaku saat ini.Buku ini juga merupakan sebuah sejarah ekonomi dan politik kontemporer yang bagus.

Mulai dari secara naif menyediakan cetak biru mengenai bagaimana bencana simpanpinjam di Amerika Serikat seharusnya dapat dipecahkan enam tahun lebih cepat, hingga memprediksi keruntuhan pasar saham tahun 1987 dua tahun sebelumnya. Melalui buku ini, Soros menunjukkan dirinya sebagai visioner pasar yang hebat di masa kini.

Teori Refleksivitas
George Soros menawarkan sebuah paradigma baru yang disebut teori refleksivitas.Teori ini merupakan sebuah lingkaran atau hubungan timbal balik dua arah antara pandangan partisipan dan kondisi sebenarnya.Teori ini menggarisbawahi bahwa pengamat pasar adalah bagian dari pasar itu sendiri.

Ia bukanlah pengamat independen dari suatu sistem yang tertutup. Dengan demikian, hasil pengamatan dan tindakannya memengaruhi pasar itu sendiri.Demikian seterusnya sehingga hal ini bisa dianalogikan sebagai pemantulan/ refleksivitas. Dengan teori ini, Soros berasumsi adanya ruang ketidakpastian yang terkait dengan fallibility regulator dan partisipan pasar. Paradigma yang dipegang teguh selama ini hanya mengakui risiko yang diketahui dan tidak memedulikan defisiensi dan kesalahpandangannya sendiri.Paradigma itulah yang kemudian mengakibatkan krisis global terjadi, sebagai titik infeksi atau persimpangan, bukan hanya dalam gelembung perumahan tetapi juga dalam supergelembung jangka panjang.

Soros menyebut krisis ini adalah akhir dari sebuah era. Teori keseimbangan (equilibrium teory) dan fundamentalisme pasar tidak dapat menjelaskan kondisi saat ini. Para pedagang menghasilkan uang dengan mengikuti tren yang berlaku. Pasar bereaksi terhadap ekspektasi partisipan, dan persepsi itu memengaruhi harga, yang cenderung memvalidasi diri sendiri dalam sebuah proses yang memperkuat diri hingga beberapa peristiwa yang tidak terduga mendongkel ekspektasi.

Teori Soros didukung oleh fakta empiris mengenai berbagai fluktuasi dalam nilai tukar pasar yang sulit dijelaskan dengan fundamental- fundamental ataupun dengan berbagai konsep pasar efisien yang selama ini dipahami. Sawidji Widioatmodjo (2005) menelaah teori ini, bahwa jika defisit neraca perdagangan meningkat menyebabkan nilai tukar mata uang melemah (dalam jangka panjang). Jika semua orang meyakini kebenaran teori ini, semua orang akan tahu,bahwa mata uang akan jatuh. Karena semua orang tahu mata uang itu, rasionalnya mereka akan buru-buru menjual mata uang itu. Nah akibat penjualan serentak itu, akan menjatuhkan mata uang tersebut.

Akhirnya orang banyak mengambil keputusan untuk menahan penjualan. Inilah yang menyebabkan mengapa dolar AS bukannya melemah di saat defisit neraca perdagangan AS membengkak, tetapi malah sebaliknya meroket.(*)

M Iqbal Dawami,
Staf pengajar STIS Magelang