Jumat, Februari 24, 2012

Mengupas Intisari Ajaran Agama

Judul: Compassion; 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 247 halaman

Tahun 2007 penghargaan TED (Technology, Entertainment, Design) diberikan kepada sejarawan agama yaitu Karen Armstrong. TED adalah sebuah organisasi nirlaba swasta yang setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada orang-orang yang dianggap membuat perbedaan dan ide-idenya pantas disebarluaskan. Atas penghargaan tersebut, Karen Armstrong menulis buku ini. Sejak bukunya A History of God diterbitkan pada tahun 1993, ia telah menetapkan dirinya sebagai seorang sejarawan agama. Ia telah menghasilkan serangkaian teks yang sudah ditandai tidak hanya oleh kedalaman penelitian dan pemahaman, tetapi dengan kebijaksanaan dan kewarasan. Ini penting terutama pada saat perang agama telah pecah dengan semua kepahitan masa lalu yang kini dilancarkan dengan senjata baru dan lebih merusak. Dia telah memposisikan dirinya sebagai mediator independen yang menafsirkan agama dengan kecerdasan yang menawan nan berbudaya.


Karen Armstrong berujar bahwa kita dapat mengejar tujuan yang sulit dipahami dengan belajar dari tradisi agama kita. Setiap tradisi, katanya, menawarkan mitos yang mengajarkan kita kebaikan dan empati. Tidak peduli sebanyak apa mitos tersebut, karena, semua tradisi agama, filosofis, dan etis didasarkan pada prinsip belas kasih. Hanya saja belas kasih menjadi luntur mana kala direcoki perihal ekonomi yang berbasis pasar alias kapitalisme. 

Ekonomi berbasis pasar didorong oleh keserakahan, bankir dan pedagang terkunci dalam persaingan tanpa henti dan tanpa kasihan memangsa satu sama lain. Dan peran agama muncul dalam masalah itu. Islam, misalnya, mengajarkan etos belas kasih yang dibawa oleh Nabi Muhammad, di mana pada waktu itu yakni abad keenam Mekkah telah menjadi pusat "kerajaan komersial." Nabi Muhammad menerima wahyu untuk melawan kapitalisme agresif tersebut.

Jika kita bisa bicara tentang proyek Armstrong, tampaknya ada dua papan utama dalam platform-nya, keduanya dibangun kokoh ke dalam buku barunya ini. Yang pertama adalah konsepnya dari mitos yang bertentangan dengan logos sebagai bahasa agama. Logos adalah faktual, pengetahuan ilmiah, sedangkan mitos adalah "upaya untuk mengungkapkan beberapa aspek yang lebih sulit dipahami hidup yang tidak dapat dengan mudah disajikan secara logis diskursif". Misalnya, ia membahas mitos Yunani Demeter, dewi panen dan biji-bijian, dan putrinya, Persephone. Dia mengatakan bahwa untuk meminta orang-orang Yunani apakah ada dasar historis untuk mitos akan menjadi tumpul. Bukti kebenaran dari mitos adalah cara dunia datang untuk lahir di musim semi setelah kematian musim dingin. Saya setuju bahwa cerita Demeter adalah mitos yang tepat, salah satu yang menggunakan narasi untuk mengungkapkan suatu kebenaran abadi.

Papan kedua dalam platform-nya adalah bahwa kasih sayang atau belas kasih adalah inti sari dari agama-agama besar dunia. Dia adalah manusia yang sangat penyayang, dan baru-baru ini meraih piagam “Kasih Sayang” tersebut, karenanya ia menempatkan itu dalam kata pengantar buku ini, hendak mengembalikan kasih sayang kepada jantung kehidupan agama dan moral. Dua belas Langkah untuk Hidup Penuh Kasih adalah baik manifesto dan manual self-help. Sebagai manifesto, itu mempromosikan kampanyenya untuk menempatkan kasih di jantung agama; sebagai panduan dimodelkan pada program 12 langkah, ia menawarkan latihan ditujukan untuk meningkatkan kasih sayang kita sendiri. Ini akan membuat panduan brilian untuk pemimpin spiritual dan lokakarya tentang kehidupan penuh kasih, dan sebagai repositori kebijaksanaan dicerna dari agama-agama dunia.

Dalam buku 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih ini, Armstrong mengesampingkan perdebatan tentang doktrin dan sejarah agama. Tujuannya adalah untuk menanam keinginan berakar untuk ekuitas. Dia berusaha untuk mengubah mereka yang telah mengeras menjadi memihak kepada kebenaran. Baginya agama adalah yang terbaik ketika dapat membantu menampilkan peta dan terus dalam pencarian dan akan menjadi buruk ketika mencoba mencari jawabannya secara otoritatif dan dogmatis.

Dua belas langkah ini mencoba untuk mengupas belenggu ego dan memperbesar kapasitas simpatik kita. Baginya, ketika kita melampaui orang-orang yang tidak suka, diri kita tumbuh dan perspektif kita keluar. Komitmennya untuk tujuan menuju hidup penuh kasih ini begitu sengit, kasih sayang untuknya bukan hanya hangat-hangat kuku saja melainkan energik. Arsmtrong meyakini bahwa kasih mendorong kita untuk bekerja tanpa lelah untuk meringankan penderitaan sesama makhluk hidup, untuk menurunkan takhta diri kita sendiri dari pusat dunia kita dan untuk menghormati kesucian, memperlakukan semua orang, tanpa kecuali, dengan keadilan, kesetaraan dan rasa hormat.

Salah satu poinnya yang menarik adalah bahwa setiap interpretasi dari kitab suci yang menyebabkan penghinaan itu tidak lah sah. Kitab suci harus dibaca dengan amal dan niat baik. Armstrong membantah dogma bahwa kita tertanam untuk keegoisan, tapi tidak altruisme atau belas kasih. Kita ini menanam kebaikan, katanya.

Buku ini ditutup dengan contoh-contoh dari tokoh politik transenden seperti Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi, dan lain-lain. Hal yang bisa kita pelajari para tokoh tersebut bahwa mencaci musuh kita hanyalah bayangan dari keinginan kita sendiri yang ingin terpenuhi. Beberapa orang mungkin menganggap proyek ini sebagai utopia belaka. Dalam buku ini dia berusaha untuk melatih kita dari pandangan ego yang berbahan bakar dari keberpihakan dan prasangka kepada kemanusiaan.

Saya kira buku ini sangat relevan untuk konsumsi masyarakat Indonesia, agar tercipta dan terjaga kedamaian antar sesama. Sungguh, buku yang patut untuk dibaca dan dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. []

M. Iqbal Dawami, pencinta buku, tinggal di Yogyakarta.

Senin, Januari 30, 2012

Menjadi Pribadi Visioner


Judul: Start from the Finish Line; Saatnya Menciptakan Hidup Hidup Sesuai Pilihan Anda
Penulis: Mohamad Ramdan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 206 hlm

Saat usia 17, Sidney Sheldon, novelis ternama, pernah melakukan percobaan bunuh diri. Hal yang mendorong untuk melakukan itu adalah karena ia merasa hidupnya tidak bahagia. Cita-citanya saat itu adalah ingin kuliah dan menjadi penulis. Tapi keinginannya itu seperti membentur tembok, lantaran ekonomi keluarga tidak mendukung.
Saat pulang kerja, ia mempersiapkan percobaan bunuh dirinya. Saat itu orangtuanya hendak silaturrahmi ke rumah saudaranya. Ketika mereka semua sudah pergi, maka ia mengeluarkan minuman yang bisa langsung mematikannya. Dan ketika hendak meminumnya, tiba-tiba ayahnya muncul. Keduanya sama-sama terkejut. Sheldon tak menyangka ayahnya akan balik lagi. Ayahnya pun tak menduga kalau Sheldon hendak mengakhiri hidupnya. Ayahnya bertanya mengapa ia ingin bunuh diri?

Ia lalu mengajak Sheldon jalan-jalan sembari menasihatinya. “Hidup ini seperti novel,” ujar ayahnya, “Penuh ketegangan. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi hingga kau buka halamannya. Setiap hari adalah halaman yang berbeda, Sidney, dan setiap hari bisa penuh kejutan, kau tak pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kau buka halaman itu, ” ujar ayahnya. Mulai saat itu hidup Sheldon bersemangat lagi. Kata-kata itu terus dikenangnya hingga Sheldon beranjak senja.


Kisah di atas mengisyaratkan tentang pentingnya membangun visi dalam hidup ini. Jika tidak mempunyai visi, maka hidup mudah goyah, tanpa arah, dan cenderung pasrah (saat keadaan buruk datang). Salah satu cara agar bisa melaksanakan visi adalah dengan memulai sesuatu dengan tujuan akhir. Mohamad Ramdan, dalam buku ini, memberikan ilustrasi soal itu. Dia mengibaratkannya dengan gawang dalam pertandingan sepak bola. Pertandingan akan berlangsung ngawur dan membosankan jika tidak ada gawangnya; tidak ada target yang hendak dituju.

Hal yang sama juga dalam hidup. Jalan cerita hidup dari sekarang hingga akhir nanti tidak akan ngawur dan membosankan apabila kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Semua tujuan hidup kita tersebut hanya akan dapat dinikmati hasilnya apabila kita membingkainya dalam batas-batas waktu dan kriteria target yang jelas. Betapa sebenarnya hidup kita berpusat kepada tujuan akhir yang kita tetapkan sekarang. Dari tujuan akhir itulah kita akan menentukan rute terbaik yang harus kita tempuh untuk selanjutnya menyiapkan strategi dan amunisi yang tepat untuk menjalaninya (hlm. 33).

Dengan becermin pada peristiwa yang dialami Sheldon di atas, penjelasan Ramdan menemukan signifikansinya. Ramdan mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki rancangan peta jalan hidup yang jelas, sering kali mendapatkan diri mereka dalam keadaan kebingungan karena tidak memiliki arah hidup yang jelas, perasaan hampa karena tidak mengerjakan sesuatu sesuai dengan minatnya, putus asa karena minimnya persiapan menjalani pola hidup yang ekstrem, sampai kepada menyalahkan Tuhan atau nasib karena merasa diperlakukan tidak adil.

Proaktif
Dia mengingatkan bahwa di saat mengalami peristiwa buruk kita harus menjaga diri agar tidak reaktif. Orang yang reaktif cenderung membiarkan pengaruh-pengaruh dari luar untuk mengendalikan respons mereka. Orang reaktif akan selalu menempatkan dirinya sebagai korban dari stimulus negatif maupun positif saat mereka menemukan fakta bahwa ternyata hasil dari respons mereka tidak menguntungkan dirinya. Sebaliknya, kita harus bersikap proaktif. Karena, orang proaktif paham bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk mengendalikan respons terhadap stimulus yang dihadapinya. Bagi mereka, baik stimulus negatif maupun positif tetap menyisakan ruang yang dapat digunakan untuk menentukan pilihan dalam memberi respons.

Ramdan mempraktikkan hal itu. Saat baru satu bulan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, dia merasakan betapa beratnya menjalani hidup. Apabila sebelumnya hanya tinggal mendelegasikan pekerjaan kepada anak buah, maka saat baru merintis usaha sebagai konsultan, dia harus terlibat 100% di semua detail pekerjaan. Pada waktu dia merasa kelelahan dan putus asa karena begitu sulitnya mendapatkan klien, tiba-tiba salah seorang sahabatnya menelepon dan menawarkan sebuah pekerjaan dengan posisi dan gaji yang cukup menggoda bagi seorang yang sedang dilanda kesulitan seperti dia saat itu.

Saat dalam posisi dilematis itu, tiba-tiba dia diingatkan kembali akan tujuan akhirnya tentang keinginan untuk menjadi konsultan dan trainer di bidang ilmu kepemimpinan (leadership). Apabila dia kembali menjadi karyawan, mungkin masalah yang dia hadapi saat itu seketika akan hilang, namun mungkin dia tidak akan pernah sampai kepada tujuan akhir yang dia cita-citakan. Ibarat kapal, dia hanya tertambat di dermaga. Berlindung dari ombak besar yang sebenarnya berpotensi membawanya ke sebuah pulau harapan. Dia pun memutuskan menolak tawaran menggiurkan itu dan memilih untuk tetap teguh menjalankan pilihan kariernya yang baru, demi mengejar tujuan akhir hidupnya sebagai pemilik perusahaan konsultan dan training di bidang leadership.

Buku yang berjudul Start from the Finish Line; Saatnya Menciptakan Hidup Hidup Sesuai Pilihan Anda ini diambil dari pengalaman hidup si penulisnya sendiri. Ramdan merumuskan perjalanan hidup suksesnya, terutama dalam kariernya. Oleh karena itu, buku ini penuh dengan kisah nyata yang diambil dari pengalamannya sendiri maupun orang-orang yang ada di lingkungannya. Buku ini mengajak kita untuk bermain-main dengan “remote control kehidupan” yang dapat kita gunakan untuk membawa diri kita “melompat” ke masa depan dan melihat bagaimana akhir dari kisah hidup kita di dunia ini. Begitu kita mendapatkan gambaran yang jelas akan akhir kisah hidup kita di masa depan, maka kita pun dapat kembali ke masa sekarang dan merancang peta jalan hidup yang akan membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki.

Saat bermain-main dengan “remote control kehidupan”, kita akan benar-benar menyadari bahwa pada hakikatnya semua nasib yang akan kita alami di akhir kehidupan kita di dunia, sebagian besar adalah konsekuensi alamiah dari serentetan pilihan yang kita ambil sepanjang hidup. Melalui buku ini kita akan akan menemukan rahasia-rahasia bijak bagaimana cara menjadi manusia yang memiliki kendali penuh terhadap sebagian besar akhir kisah hidup kita. Selain itu, kita juga diberikan cara-cara agar mempunyai pribadi yang visioner, yakni sebuah pribadi yang mampu merancang dan mewujudkan kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup yang kita yakini membawa kebahagiaan.

Buku ini layak Anda baca sebagai bekal agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi. Dengan tuturan bahasannya yang enak, buku ini cocok sekali dibaca sembari menyesap teh hangat dan sepiring pisang goreng di pagi hari. Selamat membaca.[]

M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta

Perjalanan Mencari Kebahagiaan


Judul: The Geography of Bliss
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 512 hlm.

Eric Weiner, seorang jurnalis Amerika, ingin melihat dunia dengan niat untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murung. Buku ini campuran antara catatan perjalanan, psikologi, sains, dan humor. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India, dan Amerika.



Setiap negara yang hendak dituju, ia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik, seperti apakah orang-orang Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan? 


Menurutnya di Belanda kebahagiaan adalah angka, di Swiss kebahagiaan adalah kebosanan, di Bhutan kebahagiaan adalah kebijakan, di Qatar kebahagiaan adalah menang lotre, di Moldova kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lain, di Thailand kebahagiaan adalah tidak berpikir, di Britania Raya kebahagiaan adalah karya yang sedang berlangsung, di India kebahagiaan adalah kontradiksi, dan di Amerika kebahagiaan adalah rumah. 


Kesimpulan itu berdasar pengamatannya di masyarakat masing-masing negara dalam lingkungan tertentu. Jadi, penelitiannya ini tidak bisa dijadikan patokan kekhasan soal kebahagiaan menurut pandangan Weiner. Pandangan setiap orang pasti berbeda dalam melihat dan menilai sesuatu. Tapi, paling tidak lewat buku ini kita bisa mengetahui barometer masing-masing negara apa makna kebahagiaan yang dirasakan dan dipikirkannya.
Pada saat di Belanda dia menemui Ruut Veenhoven, seorang profesor “kebahagiaan” yang mempunyai “World Database of Happiness”. Sejumlah waktunya dihabiskan untuk meneliti soal kebahagiaan di seluruh dunia.

Menemuinya bermanfaat sekali untuk bekal perjalanan Weiner ke pelbagai negara. Bagi Weiner Belanda adalah negara yang terlalu bebas. Dia sudah merasakan ketidaknyamanannya, dan tidak bisa membayangkan andai dia tinggal di sana. Dia membayangkan setiap harinya akan mengisap mariyuana, dengan pelacur di samping kiri dan kanannya. 


Di Swiss, negara yang demokratis, dan tertata segala sesuatunya. Masyarakat di sana betah dengan kondisi demikian. Namun, Weiner tidak. Baginya, keadaan itu sungguh membosankan. Tidak ada tantangan yang membuat dirinya terpacu untuk menjadi lebih baik. Di sana segala sesuatu terlalu datar. Setelah Bhutan, Weiner kemudian mengunjungi Qatar. Qatar adalah negara kaya karena sumber daya minyak yang melimpah. Para penduduknya banyak yang kaya mendadak. Ada pergeseran budaya dan gaya di sana. Mereka hidup mewah. Segala sesuatu bisa dibeli. Itulah kebahagiaan bagi mereka, dalam penilaian Weiner.  


Setelah melakukan perjalanan mencari kebahagiaan ke pelbagai negara, apakah Weiner menemukan kebahagiaan? Yang manakah yang cocok baginya dari macam-macam kebahagiaan yang ditemuinya? Jawabannya Anda dapat temukan di buku ini. Pada akhirnya, budaya yang berbeda memang mengikuti jalan yang berbeda untuk meraih kebahagiaan.

M. Iqbal Dawami, pecinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.

Rabu, Desember 21, 2011

Menemukan Potensi dalam Diri


Judul: Winning with Passion
Penulis: Jimmy Gani & Ervin A. Priambodo
Penerbit: Esensi
Cetakan: 1, 2011
Tebal: xxvi + 284 hlm.

Setiap orang dilahirkan dengan potensi untuk menjadi pemenang. Sayangnya, kebanyakan dari kita terlalu sibuk memelihara keyakinan yang sebaliknya, bahwa kita tidak layak menang. Alhasil, kita pun menjadi pecundang, menggenapi keyakinan yang kita pegang. Jimmy Gani dan Ervin A. Priambodo mencoba mematahkan mitos yang Anda percayai dan membantu Anda meyakini potensi pemenang dalam diri Anda. Melalui enam cetak biru praktis dan teruji, kepercayaan diri Anda dipulihkan dan semangat Anda digelorakan kembali untuk mengenali, menggali, serta memaksimalkan potensi pemenang di dalam diri Anda.


Membaca buku ini akan menyadarkan Anda bahwa kemenangan sudah ada di depan mata jika Anda memiliki passion. Buku ini dapat menjadi solusi bagi mereka yang pernah gagal dan ingin bangkit dari keterpurukannya. Tulisan-tulisan di dalamnya memacu kita untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Mengubah mindset, mengenali kekuatam diri, selalu optimistis, lalu terus berbaik sangka kepada Tuhan, diibaratkan sebuah jalan tol yang mempercepat mencapai kemenangan. Buku ini bermanfaat bagi generasi muda penerus bangsa dan siapa pun yang membacanya, agar Indonesia mampu menyetarakan potensi dan realisasinya sehingga setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Seseorang yang percaya bahwa harapan sudah tidak ada, otomatis akan kehilangan gairah. Tentu hal ini memengaruhi proses pencapaian tujuan yang pada akhirnya memengaruhi hasil akhir yang dicapai. Jadi gairah seseorang bergantung pada state of mind-nya. Semakin positif state of mind seseorang, semakin bergairah orang tersebut dan semakin besar peluangnya untuk mencapai sasaran maupun impian.

Winning with Passion adalah sebuah metode mengelola sumber daya dengan penuh gairah. Kunci dari kemampuan seseorang untuk bisa melakukan manajemen dengan gairah adalah berfokus pada pencapaian impian yang ia tetapkan dengan mindset yang senantiasa positif. Winning with Passion dapat dirangkum dengan penerapan konsep: winning mindset: berprasangka baik kepada Tuhan bahwa setiap usaha dan doa akan ia kabulkan dengan memberikan yang terbaik. Selain itu, kita harus memiliki mindset yang positif ketika memandang berbagai hal dan permasalahan yang dihadapi.

Winning behavior: membangun sebuah perilaku yang positif hingga membentuk dan menjalankan perilaku layaknya seorang juara: jujur, unggul, amanah, risk taker, rendah hati, dan adil. Winning attitude in change: mampu melihat, mengamati dan terlibat aktif dalam suatu perubahan dari sudut pandang passion seorang juara. Winning mentality: membangun mental dan passion layaknya seorang juara, berpendirian teguh dalam kebenaran dan mampu menyalakan api kehidupan, mengenal potensi diri, serta berkarya menjadi mulia.

Winning way: usaha untuk mencapai harapan dengan menerapkan langkah dan metode sistematis yakni dengan melakukan Niat, Doa, Ikhtiar, Pasrah, Syukur, Ikhlas. Winning system: mencoba untuk menetapkan impian dan sasaran yang SMART (Specific, Measureable, Agreeable, Realistic, Traceable) sejelas-jelasnya hingga dapat diwujudkan.[]

M. Iqbal Dawami, pecinta buku, tinggal di Yogyakarta

Jumat, Desember 02, 2011

Kepemimpinan Dahlan Iskan di PLN

Judul: Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, November 2011
Tebal: xiii + 349 hlm.
Harga: Rp. 64.800,-

Buku berjudul Dua Tangis Ribuan Tawa ini merupakan kumpulan CEO noted yang dibuat oleh Dahlan Iskan—mantan direktur PLN yang sekarang menjabat Menteri BUMN—selama dia memimpin PLN. Bahasanya yang sederhana, jenaka, namun berbobot, Dahlan membahas pengalaman dan usaha yang dilakukan segenap jajaran karyawan dalam melakukan reformasi di PLN, termasuk rintangan dan keberhasilannya.
 

Dahlan Iskan bukan ahli listrik tetapi wartawan dan entrepreneur media yang menjadi CEO PLN, dengan memakai logika dan common sense dalam menyelesaikan persoalan. Dengan gayanya yang mudah dimengerti ia menulis CEO Noted bagi seluruh karyawannya untuk memberi motivasi. Demikian yang dikatakan M. Jusuf Kalla, mantan wakil Presiden RI dan juga seorang pengusaha. Namun lebih dari itu, CEO Noted tersebut juga menjadi inspirasi perubahan bagi seluruh karyawan PLN untuk menjadi lebih baik memenuhi kebutuhan energi di daerah dan seluruh Indonesia. 

Di dalam buku ini kuyup dengan kisah-kisah suka-duka Dahlan Iskan dan para pegawai PLN (yang dikisahkan Dahlan) yang memerlihatkan betapa keputusan-keputusan yang mereka ambil membawa perubahan yang signifikan; pesimis menjadi optimis, lamban menjadi cepat, cacian menjadi pujian, dan sebagainya. Maka secara tidak langsung, ini bisa juga dikatakan kiat-kiat CEO PLN dalam meningkatkan “perusahaan”-nya. Dan melalui CEO Noted inilah pola komunikasi antara pimpinan dan karyawan tetap terjaga secara baik, terbuka, dan blak-blakan.
 

Di CEO Noted ini Dahlan memilih bentuk komunikasi yang tidak langsung. Bentuknya tidak seperti sambutan, tidak seperti imbauan dan bukan pula berisi instruksi. Dia juga menghindari khotbah di dalamnya. 
 

Masalah yang paling sederhananya misalnya mengenai pengadaan baju seragam PLN. Banyak di antara karyawan PLN yang hampir 50.000 orang itu mempersoalkan pengadaan baju seragam. Ada yang bilang telah terjadi KKN di situ. Juga permainan komisi. Ada yang menghendaki agar baju seragam diatur per provinsi. Jangan dipusatkan. Bahkan ada yang minta agar seragam diberikan dalam bentuk uang. Masing-masing karyawan bisa membuat sendiri. Permintaan manakah yang Dahlan penuhi?
 


Jika dipenuhi salah satunya akan menimbulkan ketidakpuasan yang lain, dan akan menjadi pembicaraan di kalangan wartawan yang tak henti-hentinya, mengalahkan pembicaraan untuk mengatasi krisis listrik. Maka Dahlan memutuskan: baju seragam dihapus!
 

Dahlan mengatakan bahwa tulisan menjadi sarana paling efektif dan efisien untuk menjangkau karyawan PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunikasi lewat tulisan sangat penting agar pikiran-pikiran pemimpin tertinggi di perusahaan bisa menjangkau seluruh karyawan, bahkan hingga level terbawah.
 

Terkait judul buku ini, “Dua Tangis dan Ribuan Tawa” diambil dari salah satu tulisannya ketika enam bulan menjabat Dirut PLN. Selama enam bulan itu, Dahlan menangis dua kali, tetapi bisa tertawa bahagia ribuan kali. Mengapa Dahlan menangis hingga dua kali? Silakan pembaca membacanya langsung.
 

Dan selama di PLN, Dahlan menangis tiga kali. Yang ketiga yaitu saat dirinya harus meninggalkan PLN karena ditunjuk menjadi menteri negara (Menneg) BUMN. []
 

M. Iqbal Dawami, esais. 

Senin, November 14, 2011

Hamka Plagiat?

Judul: Aku Mendakwa Hamka Plagiat; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis: Muhidin M Dahlan
Penerbit: Scripta Manent
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 238 hlm.

Buku ini diakui oleh penulisnya, Muhidin M Dahlan, sebagai pengantar untuk niat Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan “Lentera” membukukan polemik berkepanjangan perihal plagiasi yang dilakukan Hamka, sastrawan cum ulama. Bahkan bagi saya yang tidak menyaksikan polemik itu lantaran hidup pada masa kini, bukan hanya pengantar, tapi juga penyambung lidah Pram untuk mengangkat isu skandal tersebut ke masa kini.
 

Semua bermula dari esei Pram yang dimuat di Bintang Timur pada Jumat 10 Oktober 1962 berjudul “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”. Dari situ terus bermunculan tulisan-tulisan lainnya yang ditulis para penulis lain, namun isunya cuma satu bahwa roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (TKvDW) adalah plagiasi dari roman yang ditulis pengarang Prancis Aplhonse Karr, Sous less Tilleuls. Ditengarai para pendakwa, Hamka mengambilnya dari hasil saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) berjudul Al-Majdulin (Magdalena).
 

Abdullah Sp, di antara salah satu penulis yang turut mengkritisi novel TKvDW. Ia mengirimkan satu resensi-esei dengan judul “Sekali lagi membaca buah tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?” Dalam esei pertama itu, mula-mula Abdullah Sp menceritakan pengalamannya sewaktu jadi santri di “santri asrama”, Majalengka, Jawa Barat, dan menemukan roman karya Hamka.
 

“Karya Hamka itu (cetakan pertama, th 1938), entah, sudah tujuh kali kubaca, kutelentang-telungkupkan, kutelentang-bukakan lagi, kubaca lagi, tak jemu2nya laksana surat Al-Fatihah. Begitu asik aku dipukau HAMKA. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, pernah pula pada suatu hari—sesudah membacanya—menangis sendirian di sudut sunyi…!” (hlm. 30-31)
 

Namun kekagumannya kepada Hamka itu berubah menjadi rasa muak setelah Abdullah tahu dalam salah satu film yang diadaptasi dari karya Al-Manfaluthi yang ditontonnya suatu hari “mirip” dengan karya Hamka. Film itu berjudul: Dumu el- Hub (Airmata Cinta) (hlm. 31). Dan dia menyimpulkan bahwa Hamka melakukan plagiasi secara mentah-mentah.
 

Sepekan kemudian Abdullah Sp mengirim tulisan lagi, dimana kali ini dia membandingkan di antara kedua karya tersebut (karya Hamka dan karya Al-Manfaluthi). Klimaks tulisannya adalah pemuatan yang ketiga, yakni dua pekan kemudian di Bintang Timur. Judul tulisannya langsung menohok, “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” Ia menguraikan dan membandingkan bagaimana novel Hamka TKvDW dijiplak dari karya Manfaluthi berjudul Magdalena.
 

Dari sinilah kemudian para pegiat sastra terbelalak. Reaksi bermunculan, baik yang pro maupun kontra. Dari kubu yang kontra dengan mazhab Pram yakni yang diimami HB Jassin tak jelas sikapnya, apakah karya Hamka plagiat, jiplakan, saduran, atau terjemahan? Jassin hanya mengatakan bahwa novel tersebut adalah pengalaman khas Hamka. Abdullah Sp langsung menjawab bahwa “khas Hamka” itu ditimba dari pengalaman Karr/Manfaluthi.
 

Lantas, bagaimana sikap Hamka? Hamka tidak melayani tuduhan tersebut. Hamka hanya menjawab bahwa itu adalah tugas “Panitia Kesusasteraan” untuk menyelidikinya.
 

Pramoedya sebenarnya waktu itu sudah menyiapkan buku berjudul Hamka Plagiator. Tapi, sampai saat ini tidak ada yang tahu kemana rimbanya. Penulis hanya mendapatkan sepotong guntingan koran di Bintang Timur/”Lentera” yang menandaskan bahwa tentara di bawah korps Peperda (Penguasa Perang Daerah) Jakarta Raya melarang diteruskannya usaha “Lentera” membersihkan “daki2 sastra Indonesia”.
 

Hingga saat ini persoalan “Hamka Plagiat” anti-klimaks. Buku ini memang tidak mengkritisi hal-ihwal soal itu, tapi hanya mengajak pembaca untuk membuka kembali suatu peristiwa penting dalam sejarah sastra Indonesia, sebuah polemik yang berkepanjangan. Jadi, paparannya deskriptif semata. Namun, buku ini sangat penting dibaca dan menjadi khazanah berharga bagi generasi muda, terlebih bagi yang concern dengan sejarah Kesusastraan Indonesia. Layak dibaca.[]

M. Iqbal Dawami, penikmat sastra.  

Agama Itu Seperti Seni

Judul: Masa Depan Tuhan
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2011
Tebal: 608 hlm.

Inilah buku yang membahas “sejarah” Tuhan dari masa ke masa. Saya akui pengklasifikasiannya luar biasa, runut dan sistematis, mulai dari “Tuhan yang tidak diketahui”—dari 30.000 SM hingga 1500 M—hingga “Tuhan Modern”—dari 1500 M hingga sekarang.
 

Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari kita menemukan kemampuan baru pikiran dan hati. Inilah yang menjadi salah satu tema buku ini. Menurut Karen Armstrong tidak ada gunanya menimbang ajaran-ajaran agama secara otoritatif untuk menilai kebenaran atau kepalsuannya sebelum menjalani cara hidup religius. Anda akan menemukan kebenaran—atau ketiadaan kebenaran—di dalamnya hanya setelah Anda menerjemahkannya ke dalam ritual atau perbuatan etis. Tak berbeda dengan setiap keterampilan, agama memerlukan ketekunan, kerja keras, dan disiplin. Sebagian orang cakap dalam hal itu dibanding yang lain, sebagian lagi sangat tidak berbakat, dan yang lain sama sekali luput darinya.
 

Kaum Daois perdana memandang agama sebagai semacam “kecakapan” yang diperoleh melalui latihan terus-menerus. Zhuangzi salah satu tokoh terpenting dalam sejarah spiritual Cina, menjelaskan bahwa tidak ada gunanya berusaha untuk menganalisis agama secara logis.
 

Dia mengutip Bian si tukang kayu: “Ketika saya mengerjakan sebuah roda, jika saya menekan terlalu pelan, meskipun nyaman, saya tidak akan menghasilkan roda yang baik. Jika saya menekan terlalu keras, saya jadi lelah dan hasilnya tidak bagus! Jadi, jangan terlalu pelan, jangan terlalu keras. Saya memegangnya di tangan saya dan merasakannya dan merasakannya di dalam hati saya. Saya tidak dapat menyatakan ini dengan perkataan di mulut, saya hanya tahu. Si bungkuk yang menangkap tonggeret di hutan dengan tongkat berujung lengket tidak pernah meleset sekali pun. Dia telah menyempurnakan konsentrasinya sehingga dirinya larut di dalam pekerjaannya, dan tangannya seolah-olah bergerak dengan sendirinya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana dia melakukan itu, tetapi hanya mengetahui bahwa dia telah memperoleh keahlian itu setelah berlatih berbulan-bulan. Keadaan kehilangan-diri ini, jelas Zhuangzi, adalah sebuah ekstasis yang memungkinkan Anda untuk “melangkah keluar” dari prisma ego dan mengalami yang Ilahi.
 

Patut disesalkan Dawkins, Harris, dan Hitchens mengekspresikan diri mereka dengan terlalu garang, sebab beberapa dari kritik mereka memang sah. Orang beragama memang telah melakukan berbagai kekejaman dan kejahatan, dan teologi fundamentalis yang diserang kaum ateis baru memang “tidak cakap”, meminjam istilah Buddha. Namun, mereka menolak, pada prinssipnya, untuk berdialog dengan para teolog yang lebih mewakili tradisi arus utama. Sebagai akibatnya, analisi mereka sayangnya menjadi dangkal karena didasarkan pada teologi yang begitu rapuh.
 

Amstrong dapat bersimpati pada kejengkelan kaum ateis baru karena selama bertahun-tahun dia sendiri pernah berkeinginan untuk tidak punya hubungan apa-apa dengan agama, dan beberapa buku pertamanya jelas-jelas cenderung ke arah Dawkins-esque. Tetapi, pengkajiannya tentang agama-agama dunia selama dua puluh tahun terakhir telah mendorongnya untuk merevisi pendapatnya yang terdahulu. Itu bukan hanya telah membukakan pikirannya pada berbagai aspek agama seperti yang dipraktikkan dalam tradisi-tradisi yang dipandang sebagai iman yang terbatas dan dogmatis dari masa kecilnya, tetapi penilaian yang saksama atas bukti itu telah membuat dia melihat Kekristenan secara berbeda. Salah satu hal yang dia pelajari adalah bahwa bertengkar tentang agama tidak ada manfaatnya dan tidak kondusif bagi pencerahan. Bukan hanya membuat pengalaman religius yang autentik menjadi mustahil, hal itu juga melanggar tradisi rasionalis Socratik.
 

Pada bagian pertama buku ini, Armstrong mencoba menunjukkan bagaimana orang-orang berpikir tentang Tuhan di dunia pramodern dalam cara yang, dia harap, memberi kejelasan tentang beberapa isu yang kini dirasa orang-orang bermasalah—kitab suci, inspirasi, penciptaan, mukjizat, wahyu, iman, kepercayaan, dan misteri—dan juga menunjukkan bagaimana agama menjadi kacau.
 

Pada bagian kedua, dia menelusuri kebangkitan “Tuhan modern”, yang menggulingkan begitu banyak persangkaan agama tradisional. Ini, tentu saja, tidak dapat menjadi uraian yang lengkap. Arsmtrong berfokus pada Kristen, sebab itu merupakan tradisi yang paling terkena dampak bangkitnya modernitas ilmiah dan juga dihantam pukulan keras dari serangan ateistik baru. Lebih jauh, di dalam tradisi Kristen, dia berkonsentrasi pada tema dan tradisi yang berbicara secara langsung tentang masalah-masalah religius kontemporer kita.
Kita telah terbiasa berpikir bahwa agama harus menyediakan informasi bagi kita. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Tetapi, ini adalah penyimpangan modern. Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos. 

Tugas agama, sangat mirip dengan seni, adalah membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan: kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan pada ketidakadilan dan kekejaman kehidupan.
 

Rasionalitas ilmiah dapat memberi tahu kita mengapa kita menderita kanker, bahkan dapat menyembuhkan kita dari penyakit. Tetapi tidak dapat meredakan kengerian, kekecewaan, dan kesedihan yang datang bersama diagnosis itu, juga tidak dapat membantu kita untuk mati dengan baik. Itu tidak berada dalam wewenangnya. Akan tetapi, agama tidak akan bekerja secara otomatis; ia membutuhkan upaya besar dan tidak akan berhasil jika ia dangkal, palsu, memberhala, atau memperturutkan kehendak sendiri.
 

Agama adalah disiplin amaliah, dan wawasannya tidak berasal dari spekulasi abstrak, tetapi dari latihan spiritual dan gaya hidup yang berdedikasi. Tanpa amalan seperti itu, mustahil untuk memahami kebenaran ajarannya. Hal ini juga berlaku untuk filsafat rasionalisme. Orang-orang datang kepada Socrates bukan untuk belajar sesuatu—dia selalu menekankan bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diajarkan kepada mereka—melainkan untuk mengalami perubahan pikiran.
 

Pemahaman agama tidak hanya menuntut upaya intelektual yang berdedikasi untuk melampaui “berhala-berhala pikiran”, tetapi juga gaya hidup penuh kasih yang memungkinkan kita keluar dari prisma kedirian. Logos yang agresif, yang berusaha untuk menguasai, mengontrol, dan membunuh oposisi, tidak dapat membawakan wawasan transenden ini. Pengalaman membukuktikan bahwa ini hanya mungkin jika orang menumbuhkan sikap reseptif, mendengarkan, tidak berbeda dengan cara kita mendekati seni, musik, atau puisi. Agama memerlukan kenosis, “kapabilitas negatif”, “kepasifan yang bijak”, dan hati yang “mengamati dan menerima”. []

M. Iqbal Dawami,
alumnus Tafsir-Hadis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Selasa, November 01, 2011

Tafsir Sufi sebagai Kritik Sosial


Judul: Tafsir Al-Jailani
Penulis: Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Penerjemah: Aguk Irawan
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2011
Tebal: 299 hlm.

Saya baru tahu kalau Syekh Abdul Qadir al-Jailani mempunyai kitab tafsir. Sebelumnya saya hanya tahu kitab-kitabnya mengenai dunia tasawuf, seperti al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, Jala' al-Khawathir, Sirr al-Asrar, dan Asror Al Asror. Awal 2009 salah satu penerbit Turki menerbitkan Tafsir al-Jailani, yang diambil dari manuskrip yang ditemukan di Vatikan Italia, perpustakaan Qadiriyyah, dan India.  

            Tentu saja penerbitan (dan bahkan penemuan) tafsir tersebut saya sambut dengan bahagia, dan kebahagiaan saya berlipat saat penebit zaman menerbitkan edisi bahasa Indonesianya. Para pengkaji tafsir era klasik maupun modern sedikit sekali (untuk mengatakan tidak ada) membahas tafsir Abdul Qadir al-Jailani ini. Husain al-Dzahabi, penulis kitab al-Tafsir wa a-Mufassirun yang menjadi rujukan para pengkaji tafsir, tidak menyebutkan tafsir ini. Orientalis bernama Ignaz Goldziher, yang juga karyanya (sudah diterjemahkan oleh ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mazhab Tafsir; Dari Aliran Klasik Hingga Modern, Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) dianggap representatif perihal karya dan aliran tafsir luput dari tafsir ini. Ia tidak menyebutkannya. 

Di kalangan umat Islam Indonesia (khususnya NU) sudah tidak asing lagi dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (ada juga yang menyebut “al-Jilani”). Beliau adalah seorang sufi besar asal Jailan, Iran. Namanya selalu disebut—dijadikan wasilah—saat kaum muslim mengadakan tahlilan. Beliau juga pendiri tarekat Qodiriyah. Dengan latar belakang seorang sufi, karya-karya al-Jailani pun sangat kental dengan nuansa kesufian. Termasuk karya tafsirnya ini.

            Dalam buku ini dia mencoba mencari makna Ta’awwudz, Basmalah, Tobat, dan Takwa. Sebagaimana menjadi ciri khas tafsir sufi, tafsir Al-Jailani ini menekankan dzauq (rasa) dan aspek esoteris (ruhani, batiniah).  Al-Jailani mampu menyibak “rahasia-rahasia” di balik ayat (literal) yang maknanya tak aus oleh dinamika perubahan zaman.
            Misalnya tentang “Ta’awwudz”, Al-Jailani mengatakan bahwa ibadah pada dasarnya perbuatan melawan godaan setan dan hawa nafsu. Perlawanan itu disebut jihad atau mujahadah. Dan inilah sebesar-besarnya jihad, bahkan dari jihad perang sekali pun. Mengapa bisa dikatakan begitu? Al-Jailani memberikan alasan bahwa jihad melawan hawa nafsu bersifat terus-menerus, memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih besar. Sebab, jika nafsu tak diperangi, dikhawatirkan, ketika meninggal, seseorang akan berada dalam kondisi su’ul khatimah.
            Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan manusia untuk memohon perlindungan dari godaan setan. Sedikitnya disebutkan oleh al-Jailani ada 3 ayat yang menunjukkan hal itu sesuai dengan konteksnya masing-masing, yakni surah an-Nahl [16]: 98, Ali Imran [3]: 36, dan al-A’raf [7]: 17. Rasulullah bersabda, “Barang siapa beristiadzah sekali maka Allah akan menjaganya sepanjang hari.” “Tutuplah pintu-pintu kemaksiatan dengan ta’awwudz dan bukalah pintu-pintu ketaatan dengan bismillah.”
Yang ditakuti dan diwaspadai setan adalah permohonan perlindungan seorang hamba kepada Allah dan pancaran cahaya makrifat orang-orang ‘arif (orang yang mengenal Allah dengan baik), ujar al-Jailani. Dan itu, apabila tidak termasuk orang yang ‘arif, mohonlah perlindungan sebagaimana isti’adzah orang-orang bertakwa (al-muttaqin), niscaya derajat terangkat ke tingkatan ‘arif (hlm.17). Dan hanya dengan itulah pancaran cahaya hati dapat mematahkan kekuatan setan, mengalahkan pasukannya, membinasakan para pendukungnya, serta mengikis habis segala rayuannya. Ia bahkan bisa jadi cahaya untuk memenjara setan sehingga tidak mampu lagi menggoda dirimu, saudaramu, dan pengikutmu. (hlm. 19)
Menurut a-Jailani seeorang agar mencapai kebebasan dari godaan setan ada beberapa hal yang harus diamalkan, yakni: selalu mengucap kalimat ikhlas (la ilaha illallah)dan zikir kepada Allah, memperbanyak bacaan bismillah, dan membuang hasrat dan keinginan meraih karunia dari para penggemar duniawi.   
Penafsiran makna ta’awwudz dengan aroma kesturi sufi ini sungguh relevan dalam kondisi zaman saat ini. Karena jika ditilik kepada situasi kondisi sosial al-Jailani hidup, nampaknya tidak jauh beda dengan saat ini, yakni krisis dalam pelbagai dimensi kehidupan, meski kehidupan sudah modern di zamannya pada saat itu. Dan untuk itulah barangkali al-Jailani membuat tafsirannya bercorak sufistik yang lebih mengedepankan hal-hal dasar dan esoteris.
Inilah karya al-Jailani dalam bidang tafsir yang boleh jadi sebagai kritik sosial atas zamannya. Dan saya kira buku ini menemukan relevansinya pada saat ini, di mana kekuasaan dan uang sebagai panglima. Oleh karena itu sangat layak dibaca dan dijadikan tafsir alternatif, di tengah serbuan tafsir yang mengedepankan sisi hukum “kapitalistik” yang tidak menyentuh ke sisi batiniah.
Wa ila hadroti Sulthonil Auliya’ Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani, lahu alfatihah.[]

M. Iqbal Dawami, pencinta buku.


Minggu, Oktober 30, 2011

Mendidik ala China

Judul: Battle Hymn of The Tiger Mother
Penulis: Amy Chua
Penerjemah: Maria Sundah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 237 hlm.

Masyarakat Amerika gempar saat buku ini terbit. Padahal isinya “hanya” kisah pribadi dan menceritakan perjalanan hidup penulisnya dalam mendidik kedua putrinya yang bernama Sophia dan Lulu. Hanya saja penulis buku ini tidak sembarang mendidik. Cara mendidik kedua anaknya terbilang ekstrem. Terlebih dilihat dari kacamata masyarakat Barat.
 

Penulis buku ini, Amy Chua, adalah seorang akademisi keturunan China yang menikah dengan keturunan Yahudi. Keduanya sepakat kalau anaknya akan dididik secara China. Amy mengatakan bahwa cara-cara seorang ibu Amerika dalam mendidik anak sangat jauh berbeda dengan cara-cara seorang ibu dari warga negara keturunan China. Seorang ibu keturunan China, seperti Amy, akan sangat memaksa agar anak-anaknya memperoleh nilai A, belajar piano dan biola dan menjadi nomor 1 di kelasnya untuk segala bidang.
 

Sang ibu dari keturunan China akan sangat cerewet, galak dan keras kepada anak-anaknya untuk mengejar target tersebut. Tidak ada kesempatan bagi sang anak dalam keluarga ini, untuk misalnya bermain game dan menonton Televisi. Filosofinya, seorang anak akan menjadi hebat kalau terus menerus tekun belajar.
 

Buku ini menginisiasi perdebatan dalam cara orangtua Amerika mendidik anak-anaknya, untuk menghadapi persaingan di masa mendatang. Banyak anak-anak di Amerika dibebaskan oleh orangtuanya untuk seharian bermain game, menonton televisi, tidak pernah belajar dan terkadang hidup dengan berpesta dan melakukan seks bebas.
 

Amy menceritakan bagaimana dirinya dulu dididik dengan sangat keras oleh orangtuanya. Berkat kesuksesannya saat ini tidak lepas dari campur tangan orangtuanya dalam mendidiknya. Nah, Amy ingin pula menerapkan pada kedua anaknya. Ia menerapkan aturan yang sangat ketat serta mengatur segala hal dalam kehidupan anak-anaknya. Cerita-cerita lain yang ia lakukan terhadap dua putrinya cukup menakutkan dan membuatnya mendapat julukan "tiger mom".
 

Amy menggambarkan bagaimana ia mengharuskan kedua putrinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV, dan banyak lagi hal yang biasa diizinkan oleh ibu Amerika. Anaknya harus mendapat nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah.
 

Buku ini mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua sebagai ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Tapi Amy menolak disebut monster yang tanpa kasih sayang kepada anak-anaknya. Ia cuma tidak mau menjadikan anak-anaknya orang-orang lemah yang berkembang menjadi pecundang dalam kehidupan yang penuh persaingan. Ia dulu malah mengalami pendidikan yang lebih keras dari ibu-bapaknya. Kini, Sophia, anak pertamanya menjadi pianis yang adi luhung dari usia 14 tahun, sedang Lulu, anak kedunya, pemain biola berbakat.
 

Buku ini meroket ke puncak buku terlaris di New York Times Bestsellers’ list, bahkan menduduki rangking nomor 2 terpopuler, versi koran tersebut, untuk kategori non-fiksi.
 

Buku ini menjawab rasa penasaran saya dengan prestasi China dalam segala bidang, terutama olahraga dan musik. Membaca buku ini saya menjadi tahu apa yang dilakukan orangtua China sampai-sampai berhasil menjadikan begitu banyak juara dalam cabang olahraga, matematika, dan musik.[]

M. Iqbal Dawami, pengamat pendidikan. 

Bukan Sekadar Panduan

Judul: Berguru Pada Pesohor; Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis: Diana AV Sasa&Muhidin M Dahlan
Penerbit: 1#dbuku
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 266 hlm.

Masih bingung dan tidak tahu bagaimana meresensi buku? Bacalah buku ini! Ingin tahu rekam jejak sejarah resensi di Indonesia? Bacalah buku ini. Ya, buku ini mengandung dua hal itu. Jadi, boleh dikata buku ini merupakan kiat meresensi buku plus-plus. Kita tidak hanya diberi tahu bagaimana cara meresensi buku, tetapi juga informasi pelbagai kisah dunia resensi tempo doeloe di Indonesia. Gabungan keduanya menjadikan unik dan istimewanya buku ini. Haqqul yaqin, suatu hal yang tidak bisa ditemukan dalam buku-buku sejenisnya.   
 

Buku yang ditulis oleh dua orang ini diawali dengan “iming-iming” apa manfaat dan keuntungan meresensi buku, dilihat dari sisi psikologi, jaringan, ekonomi, dan keilmuan. Meresensi memberi suntikan spiritualitas bagi penulisnya (psikologi), mengetahui bagaimana cara menulis buku (keilmuan), di samping mendapatkan kemasyhuran (jaringan), dan meraup rupiah (ekonomi).
 

Setelah itu, dijelaskan syarat sah dan rukun meresensi buku. Syarat sahnya cuma satu, yakni membaca. Ya, membaca buku yang hendak diresensi. Membaca hukumnya fardhu ‘ain. “Membaca bagi peresensi adalah pekerjaan mutlak. Bukan peresensi buku kalau tak membaca buku yang diresensinya.” (hlm. 23). Membaca tidak sembarang membaca. Membaca seorang peresensi itu membaca tingkat tinggi. Kedua penulis ini mengibaratkan mata baca seorang peresensi buku itu gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Satu sisi memuji, sisi lain mengeritik. Tangan kanan memberikan madu, tangan kiri menyuguhkan racun.
 

Sedang rukun meresensi buku yakni membuat judul menggugah, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, dan mengunci paragraf terakhir. Ada beberapa jenis judul yang kerap muncul di media massa yang bisa kita tiru, di antaranya: sarkastis; “Aku Menuduh Hamka Plagiat!” (Abdullah SP, Bintang Timur, 7 September 1962), ironi; “Cina, Komunis yang Pro-Adam Smith” (Elba Damhuri, Republika, 23 November 2008), dan tindakan tokoh; “Menyelami Pikiran Kiki Syahnakri” (Moh. Samsul Arifin, Jawa Pos, 18 Januari 2009).
 

Ada juga yang membuat judul dari segi waktu; “Hikayat Orang Indonesia di Negeri Belanda” (Ahmad Musthofa Haroen, Ruang Baca Koran Tempo, 4 Desember 2008), penulis; “Mencederai Kundera” (Nirwan Dewanto, Tempo, 22 Januari 2001), pertanyaan; “Siapa di Balik Kematian Tan Malaka?” (Yunior Hafidh Hery, Suara Pembaruan Online, 15 April 2007), metafora; “Menulis itu Seperti Para Darwis yang Menari sampai Trance” (Muhidin M Dahlan, Kompas, 1 Juli 2001), dan lain-lain.
 

Tak jarang orang masih bingung dan kesulitan bagaimana membuat kalimat pertama yang kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Tidak hanya itu, bagaimana membuat paragraf pertama yang membuat orang “jatuh cinta” pada pandangan pertamanya. Ya, paragraf pertama menurut penulis buku ini ibarat halaman rumah. Halaman harus asri nan elok dan memikat; tidak hanya bersih tapi juga harus sesuai “fengshui”-nya, agar orang merasa nyaman saat hendak memasuki rumahnya.
 

Pembahasan ini menjadi penting, karena ternyata dibutuhkan keahlian dalam membuka paragraf pertama. Penulis buku ini mengumpulkan model-model paragraf pertama yang kerap dipakai oleh para peresensi di pelbagai media massa, yaitu model tema dan metode, pertanyaan, penulis buku, gaya penulisan, deskripsi, kisah yang paling menarik, fisik buku, kritik, kutipan, keunggulan buku, perbandingan, angka unik, dan puisi. 
Tidak ada alasan lagi bukan untuk merasa kesulitan membuka paragraf pertama?
Tentu saja ada hal yang lebih penting lagi yaitu membuat tubuh resensi. Pembuatannya haruslah fokus, mengarah pada satu sasaran. Tubuh resensi bisa difokuskan pada soal jenis buku (Saleh A. Djamhari, Tempo, 04 Maret 1989), metode penulisan (Muhidin M Dahlan, Jawa Pos, 21 September 2008), tema (Redaksi, Tempo, 21 November 1992), bagian vital (Gatot Widayanto, Ruang Baca Koran Tempo, 28 Desember 2010), atau juga kisah pribadi peresensi yang dikaitkan dengan buku yang diresensinya (Hasan Aspahani, Ruang Baca Koran Tempo, 25 Februari 2009). Dan masih banyak lagi. 
 

Setelah menyelesaikan tubuh resensi, kini tinggal mengunci paragraf terakhir. Paragraf ini berisikan tiga hal: pertama, kepada siapa buku tersebut ditujukan. Rincinya, buku tersebut pas untuk pembaca seperti apa, dilihat dari tema, isi, penyajian, atau bahkan nilai ekonomis. Kedua, kritikan. Hal ini bisa mengeritik pendekatan, terjemahan, desain, riset naskah, maupun tata bahasa. Ketiga, pujian, bisa memuji pendekatan, terjemahan, dan lainnya sebagaimana mengeritik.
 

Rukun yang terakhir adalah proses akhir penulisan resensi. Jika resensi sudah selesai, tugas selanjutnya adalah pengendapan. Silakan Anda beristirahat sampai pikiran Anda jernih kembali, entah itu tidur, jalan-jalan, maupun kegiatan lainnya. Nah, setelah segar, silakan lihat kembali resensi Anda secara keseluruhan untuk direvisi, siapa tahu ada yang harus dibenahi. Kedua penulis ini menyarankan dua hal dalam proses editing: membaca dengan mengeluarkan suara dan meminta orang lain untuk membacakannya.
 

Sebagaimana dikatakan di muka bahwa buku ini sejatinya bukan sekadar panduan meresensi buku, tetapi juga tempias dengan kisah-kisah seputar dunia resensi. Misalnya, resensi pembunuh buku yang legendaris yaitu resensi Puradisastra berjudul “Dari Barat, atau Islam?” (Tempo, 16 september 1978). Resensi tersebut membuat bukunya ditarik kembali dari pasaran. Atau resensi “Aku Menuduh Hamka Plagiat” (Bintang Timur, 7 September 1962) karya Abdullah SP. Resensi ini menyulut kontroversial selama bertahun-tahun. Data historis semacam itu menjadi kelebihan tersendiri buku ini.
 

Buku ini merupakan sumbangsih yang amat berharga bagi siapa saja yang mau belajar menulis resensi buku. Sebuah buku yang pantas dibaca juga bagi insan-insan peresensi buku, umumnya pencinta buku. Akhirul kalam, janganlah putus asa dan merasa tak punya bakat meresensi sebelum membaca buku ini. Iqra![]

M Iqbal Dawami, peresensi buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta