Sabtu, Agustus 30, 2014

Leader 3.0.



Judul: Everyone Can Lead
Penulis: Hasnul Suhaimi
Penerbit: B-First
Cetakan: I, 2013
Tebal: xvii + 192 hlm.

Sejak menjabat sebagai CEO perusahaan telekomunikasi, Hasnul Suhaimi terus menunjukkan gebrakan mengejutkan. Ia memangkas tarif telepon seluler menjadi Rp 100/menit, menjadikan perusahaan tersebut sebagai bagian dari tren anak muda, dan melejitkan marjin keuntungan perusahaan. Banyak yang menyangka bahwa keberhasilannya itu berkat “tangan besinya” yang kokoh. Namun ternyata, orang-orang di sekeliling Hasnul membuktikan bahwa ia adalah sosok atasan yang hangat dan mau mendengarkan. Hasnul sukses menularkan semangat “coopetation”.

Dalam buku berjudul Everyone Can Lead ini Hasnul membeberkan rahasia kesuksesannya. Bagi Hasnul siapa pun bisa menjadi pemimpin. Seperti halnya dirinya yang mempunyai latar belakang orang biasa, ia bisa mencapai posisi pemimpin di perusahaan besar. Dia menjalaninya setapak demi setapak, dari titik terendah di sebuah perusahan. Kini ia menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia, dan sebelumnya pernah memimpin beberapa perusahaan telekomunikasi terkemuka lainnya.

Menurut Hasnul seorang pemimpin biasanya memiliki kualitas tertentu di dalam dirinya yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya iktikad dan niat sungguh-sungguh untuk menjadi pemimpin maupun naluri bawaan bagi mereka yang terlahir lengkap dengan kualitas ini dalam dirinya. Sementara itu, faktor eksternal dapat berupa pola pengasuhan dalam keluarga, dorongan dari kelompok, serta kondisi genting.

Kualitas diri yang berkolaborasi dengan kedua faktor ini kemudian melahirkan karakter pemimpin. Contohnya, ada seseorang yang memiliki potensi menjadi pemimpin, mampu berpikir cepat dalam menyelesaikan masalah, tetapi tak terlalu percaya diri untuk speak up. Ketika ia didukung oleh lingkungan oleh lingkungan yang memercayai kemampuannya, lalu ia sendiri mendorong dirinya untuk mengasah kemampuan people management dan public speaking misalnya, ia tengah menjejaki anak tangga kepemimpinan.

Hasnul memberikan teladan konkrit. Paling tidak ada dua hal contoh hasil kepemimpinannya, yaitu membuat satu kode yang sama untuk semua operator. Jika pelanggan mau mengaktifkan RBT, tak perlu lagi ribet. Kita tinggal mengaktifkan satu kode, tidak peduli apa pun operator selulernya. Prinsip satu kode untuk semua ini memudahkan operator karena tak akan ada lagi macam-macam kode berjubel dalam iklan. Pemilik lagu pun akan diuntungkan karena dengan sekali pasang iklan ia sudah bisa menjangkau pelanggan dari semua operator seluler.

Contoh kedua, pembangunan tower pemancar base transceiver station (BTS). Satu tower dipakai secara berjamaah oleh banyak operator. Biaya pembangunan tower bisa dipapras, biaya operasional bisa dipangkas, dan ‘mengembalikan keindahan kota’ pun jadi tujuan pamungkas.

Melihat keberhasilan itu saya sepakat dengan komentar Hermawan Kartajaya dalam endorsement buku ini, yang mengatakan, “Buku ini menunjukkan bahwa Hasnul Suhaimi adalah Leader 3.0.”

@iqbalsheldon



Kamis, Agustus 28, 2014

DNA Abu Nawas




Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila
Penulis: Agus Mulyadi
Penerbit: B-First
Cetakan: I, Juli 2014
Tebal: xii x 309 hlm.
  



“Dengan wajah jelek ini, saya memang susah mendapatkan pacar. Tapi, saya enjoy saja. Terkadang saya berpikir, Percuma juga mempunyai wajah ganteng, tapi punya pacar sama-sama gantengnya,” ucap Agus Mulyadi. 

Anda tahu siapa Agus Mulyadi? Dia adalah seorang blogger, “lahir di Magelang, hidup di Magelang, dan besar dizalimi,” tulis dia dalam bab “Profil Penulis” di bukunya. Pada mulanya adalah jasa edit foto-bareng member JKT48. Banyak orang meminta jasanya. Walhasil, dari situ ia mulai dikenal. Namun, tak lama kemudian ia tobat menjalankan bisnis ini, karena menimbulkan pro&kontra. Bejonya, dia sudah terlanjur terkenal. Orang kemudian mengikuti postingan di blognya. Buku ini adalah kumpulan tulisan di blognya yang kemudian diterbitkan.

Unik. Lucu. Cerdas. Tiga kata itu barangkali bisa mewakili isi buku ini. Unik, karena cara penyajiannya betul-betul otentik. Agus Mulyadi, yang akrab dipanggil Gus Mul, “hanya” menulis cerita pengalamannya sendiri. Ia menulis by field research. Dari hal-hal remeh hingga “berat”ia tulis dengan narasi yang santai namun memikat. Ia menulis seperti bertutur, seolah sedang bercerita langsung kepada pembaca, di hadapannya. Tak jarang, sering kali ia memunculkan ungkapan-ungkapan Bahasa Jawa keseharian yang khas.  

Ia cerita, misalnya, tentang pengalaman bertemu orang Belanda gegara dia memposting sebuah tulisan tentang makam Van Der Steur. Orang Belanda itu memberi tahu bahwa wajah model Gus Mul itulah yang disukai wanita Belanda. Atau cerita tentang kucingnya yang lucu dan setia. Maksud setia di sini, setia menemani kejombloan tuannya.   

Lucu, karena kisah-kisahnya dilumuri dengan hal-hal lucu. Tak jarang di setiap babnya diselipkan ungkapan-ungkapan yang membikin pembaca tertawa. Dan lucunya juga unik, lantaran ia menertawakan dirinya sendiri. Misalnya, tentang kawannya yang pasang susuk. Gus Mul bertanya kepada kawannya, seandainya mau pasang susuk, diletakkan dimana? Jawaban temannya sungguh membuat saya tertawa. Atau cerita tentang pengalaman bersama bapaknya yang kena setrum, gegara meletakkan gantungan baju di bohlam yang ada aliran listrinya. Melihat bapaknya kena setrum, Gus Mul tertawa. Tapi, setelah itu bapaknya balik menertawakan dirinya. Ada apa gerangan? Baiknya Anda baca sendiri.

Nah, yang terakhir adalah cerdas, kenapa? Karena si penulis mampu menggabungkan antara pengalaman dan opininya. Bagaimana, misalnya, dia beropini saat memerhatikan sinetron-sinetron Indonesia yang ungkapan dan alur ceritanya mudah ditebak. Ia juga beropini perihal pilkada yang sekarang dengan yang dulu. Pengalamannya sungguh mengharukan. Kecerdasannya juga terlihat dari cara menertawakan hidup, dalam hal ini soal kejombloannya karena tidak dikaruniai wajah tampan. Ia mengolok-olok dirinya yang sebetulnya mengkritik orang lain yang serba ingin sempurna.

Ada beberapa kekurangan dalam buku ini. Banyak istilah maupun ungkapan yang tidak diberi penjelasan. Misalnya, “El-Dorado”, “Nggragas”, “Kulonuwun, Pak, Buk, nyuwun jamune nggih???”, dll. Tentu saja segmen pembaca buku ini bukan hanya orang Jawa, karena itu dibutuhkan penjelasan setiap kali ada ungkapan Jawa-nya. Ada juga salah penempatan “koma” sehingga mengganggu nada membaca. Seperti pada halaman 99, dalam kalimat, “Gitu aja kok, repot lho sampeyan!” Mestinya penempatan “koma”nya setelah kata “repot”. 

Selain itu, soal penyebutan keterangan waktu. Banyak sekali penulis menyebutkan keterangan waktu yang tidak jelas pada saat menceritakan pengalamannya. Barangkali penulis maupun editor lupa bahwa tulisan ini yang sejatinya dari blog sudah dibukukan, sehingga keterangan waktu harus diperjelas. Karena itu pembaca menjadi tahu konteks tulisan tersebut. Hal ini bisa kita lihat dalam bab “Kucingku Oh Kucingku” dan “Kembang Telon yang Kesepian”.

Beberapa tulisan juga terkesan dipaksakan untuk diikutkan ke dalam buku ini. Selain tidak ada kaitannya dengan judul buku, kisahnya juga cukup pendek dan  “garing”. Untuk menyasar ke kalangan remaja buku ini terlalu tebal, sehingga berpengaruh terhadap kocek, dan kurang asyik pula untuk di-tenteng-tenteng saat bepergian.

Terlepas kekurangannya, buku ini cukup menghibur. Tak jarang saya dibuat tertawa tak kenal tempat. Jangan-jangan Gus Mul ini punya DNA Abu Nawas. []
@iqbalsheldon

Jumat, Juni 28, 2013

Ziarah Ke Makam Para Penyair



Judul: The Road to Persia; Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkap
Penulis: Afifah Ahmad
Penerbit: Bunyan
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: xiv+222

Selain ke makam keluarga dan sanak saudara, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi ziarah ke makam para ulama, seperti Wali Songo. Kalau kita tengok masyarakat Iran, ternyata tidak jauh beda dengan masyarakat Indonesia. Bahkan lebih dari itu. Di samping para ulama, mereka memiliki tradisi ziarah ke makam para penyair, sebut saja misalnya Saadi, Hafiz, Khayyam, dan Ferdowsi. Penghormatan mereka terhadap penyair dari tanah kelahirannya sungguh luar biasa. Apresiasinya tak tertandingi oleh negara mana pun. Jika sebagian orang Indonesia mencari semangat hidupnya dari buku-buku motivasi, orang Iran justru mencarinya dari puisi-puisi yang saya sebutkan di atas.
Informasi itu bisa kita dapatkan dari buku berjudul The Road to Persia karya Afifah Ahmad. Penulis asal Indonesia ini sudah tinggal di Iran kurang lebih 5 tahun. Beberapa tempat yang memiliki keunikan dan historisitasnya telah ia kunjungi. Buku ini adalah hasil kunjungan tersebut. Di dalamnya terbagi 4 bab: pertama, kunjungannya ke berbagai tempat dan bangunan bersejarah seperti Bundaran Isfahan, Rudkhan Castle, reruntuhan Persepolis. Kedua, ziarah ke makam para penyair dan ilmuwan seperti Hafiz, Khayyam, Fariduddin Attar, Sadra, Ibnu Sina. Ketiga, menikmati Desa dan Alam Persia, seperti Kandovan, Masouleh, Tepian Zayandeh, gugusan Alborz. Keempat, cerita keseharian di Iran, seperti suasana di kereta, suasana Ramadhan, 10 muharam.
Bagi saya yang paling berkesan dari buku ini adalah bab kedua perihal tradisi ziarah ke makam para penyair dan ilmuwan. Mungkin karena tradisi ini dekat dengan kehidupan saya yang sering berziarah. Afifah Ahmad dengan apik menceritakan bagaimana peziarahan dia dan keluarganya ke makam-makam penyair dan ilmuwan Iran. Dia bertutur, “Puisi memang telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari tradisi masyarakat Persia. Bila bangsa Italia besar dengan opera, bangsa Iran tumbuh bersama syair. Hampir setiap rumah di Iran menyimpan Divan Hafiz, salah satu buku puisi. Ibu-ibu rumah tangga sederhana saja sudah terbiasa melafalkan baris-baris syair, apalagi para dai dan presenter. Mereka tidak pernah ketinggalan menyisipkan larik-larik puisi,” (hlm. 75). 
Bisa dibayangkan kalau tradisi berpuisi ini hidup di masyarakat Indonesia alangkah takjubnya kita. Saya membayangkan tradisi berpuisi di Iran seperti halnya tradisi beradu pantun di etnis melayu, khusunya tanah minang. Tidak hanya itu, di sana, para penyair begitu dihargai layaknya pahlawan nasional, ujar Afifah. Bahkan, setelah kematiannya, makam mereka dipayungi kubah serta dipagari taman-taman indah.
                Hafiz, penyair besar di tanah Persia, dimakamkan di sebelah utara Kota Shiraz. Area pemakamannya dinamakan Hafiziyeh. Luasnya mencapai dua hektare. Luar biasa. Ketimbang makam, area ini lebih mirip taman, karena begitu indah penataannya. “Kompleks taman itu dilengkapi dengan perpustakaan, museum, pusat riset, dan kedai teh. Ada juga beberapa ruangan yang biasa digunakan untuk diskusi puisi atau kelas sastra. Setiap hari wafatnya, sekitar pertengahan Oktober, diperingati sebagai hari mengenang Hafiz. Para penyair dari berbagai belahan dunia berkumpul di taman ini. Mereka mengenang dan membacakan kembali syair-syair sang pujangga,” tutur Afifah. 
                Setelah dari Shiraz, Afifah bertolak ke Kota Nishapur. Di sana terdapat makam Umar Khayyám dan Fariduddin Attar. Di pintu gerbang Mousoleum Attar Afifah disambut sang penyair sendiri, Fariduddin Attar. Tentu saja berbentuk patung. Makamnya berada di bawah kubah yang berwarna biru turkois. Di sana terdapat tulisan La Ilaha Illallah. Bagi peziarah harus melepas alas kakinya, karena di sana tergelar karpet merah. Adapun hiasan dindingnya adalah lukisan-lukisan yang berkaitan dengan sang penyair, salah satunya adalah lukisan aneka burung. Lukisan itu sesungguhnya menggambarkan karya sang penyair berjudul Mantiq Attair (Musyawarah Para Burung).
Di depan makam sang penyair Afifah melihat seorang perempuan muda yang wajahnya terlihat sendu.  Entah apa yang ada di benaknya, barangkali ia tengah membagi kesedihan bersama si penyair, pikir Afifah.
Makam Umar Khayyám berjarak 1 km dari makam Fariduddin Attar. Di makam Khayyám bila musim semi tiba area makamnya terlihat kuncup-kuncup bunga berguguran. Makam Khayyám tepat berada di bawah pohon peach. Mousoleum Khayyam modelnya seperti tenda. Konsep pembuatannya barangkali disesuaikan dengan nama Khayyam sendiri yang berarti si pembuat tenda. Khayyam lahir pada 18 mei. Sebagai penghormatan dan menebar spiritnya, setiap tanggal kelahirannya digelar pelbagai festival kesenian. Ratusan orang berkumpul di tugu pemakamannya untuk mengikuti upacara tabur bunga.
                Afifah merasa bahagia dan bersyukur sekali dapat menziarahi makam para penyair masyhur itu. Membaca catatan perjalanan yang terangkum dalam buku ini saya tergoda ingin sekali berziarah ke makam-makam penyair masyhur itu seperti halnya penulis buku ini. Ah, barangkali saya bisa memulainya dengan menziarahi para penyair Indonesia terlebih dahulu.[]

M. Iqbal Dawami, peziarah, pencinta buku, jungle tracker.  

Rabu, Januari 23, 2013

MENGUKUR MINAT BACA DENGAN SISTEM READING RECORD (RR)


Oleh: Peng Kheng Sun
            Seperti sudah diketahui, minat baca masyarakat di Indonesia masih rendah. Mengenai hal ini banyak pihak telah berupaya mencari akar masalahnya dan menawarkan solusi untuk meningkatkan minat baca seperti membuat taman baca, rumah baca, perpustakaan, dan sebagainya. Selain itu, juga terdapat banyak buku yang isinya memotivasi orang untuk membaca. Masih kurang? Masih ada istilah bulan Gemar Membaca dan Duta Buku, serta berbagai atribut konvensional lainnya. Hasilnya jelas, yakni kenyataannya sampai saat ini minat baca masyarakat Indonesia masih berjalan di tempat.
            Nah, mengapa minat baca di Indonesia tetap rendah? Jawaban yang paling sederhana tapi logis dan amat jelas adalah orang-orang yang gemar membaca di Indonesia justru mengalami sejumlah kerugian tanpa konpensasi yang nyata. Jika membaca malah menderita kerugian, siapa yang mau dirinya disuruh memikul beban kerugian? Di Indonesia tanpa banyak membaca pun orang-orang bisa menjadi juara kelas, mahasiswa berprestasi tinggi, artis dan presenter top, guru teladan,  PNS teladan,  pejabat papan atas, atau apa saja bahkan termasuk menjadi penulis buku best seller! Lantas apa manfaat nyata yang bisa diharapkan dari membaca? Jawabannya: Tidak ada, atau setidaknya tidak ada manfaat yang tampak signifikan, kecuali hanya sedikit manfaat yang dicari-cari dengan susah payah. Keadaan ini masih diperburuk lagi dengan policy perbukuan yang sangat kental aroma komersialnya sehingga benar-benar bikin sial saja.
            Sejumlah slogan basi masih terus bergema dengan nafas Senin-Kamis dan wajah frustrasi mejeng di perpustakaan-perpustakaan sekolah dan umum. Buku adalah Jendela Dunia, Membaca Memperluas Wawasan, Membaca sangat penting bagi setiap orang, dan berbagai ocehan lainnya yang semakin tidak karuan sehingga jelas tidak perlu dipedulikan lagi. Mengapa? Karena masalahnya bukan terletak di situ. Masalahnya terletak pada: Apa perbedaan nyata dari orang-orang yang gemar membaca dengan orang-orang yang tidak gemar membaca? Pengalaman puluhan tahun saya menjual buku membuat saya paham, banyak orang suka mengklaim dirinya suka membaca walau kenyataannya sama sekali tidak ada minat terhadap buku apalagi mempunyai perpustakaan pribadi. Artinya, selama ini memang tidak kentara antara orang-orang yang gemar membaca dengan mereka yang tidak gemar membaca. Di sinilah letak ruginya menjadi orang-orang yang benar-benar gemar membaca, yakni:
  1. Mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli buku.
  2. Mereka harus merelakan sejumlah waktunya untuk membaca.
  3. Buku-buku mereka biasanya dipinjam orang-orang yang kurang gemar membaca dan sering tidak dikembalikan lagi.
Nah, logikanya dengan kerugian yang begitu nyata, siapa sih yang mau menjadi individu yang gemar membaca? Orang-orang yang gemar membaca hanyalah mereka yang memang dari sononya sudah memiliki hobi membaca atau setidaknya karena terpaksa seperti tuntutan tugas yang harus dikerjakan. Akan tetapi, mereka yang tidak mempunyai hobi membaca tapi masih waras tentu malas memasuki ranah yang cuma menghabiskan uang dan waktunya. Benar begitu, bukan? Sistem Reading Record (RR) adalah sistem yang menciptakan kontras (perbedaan yang benar-benar nyata) di antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak. Dengan sistem RR, keuntungan membaca menjadi jelas atau setidaknya sudah ada perbedaan yang tampak nyata antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak.
MANFAAT RR
Tujuan utama RR adalah mengukur kegemaran membaca seseorang. Jika seseorang mengaku gemar membaca, maka hal itu bisa dilihat dari RR yang dibuatnya. Dengan demikian, RR akan secara kontras menunjukkan siapa saja individu yang gemar membaca dan yang tidak. Hal ini sama saja dengan orang-orang yang membuat berbagai macam perbedaan seperti: master dan non-master untuk dunia catur, bintang dan non-bintang untuk hotel, pangkat untuk militer, best seller dan non-bestseller untuk buku (walau ini adalah jenis perbedaan yang menyesatkan). Dalam buku The Power of Creativity (bagian lampiran), saya menyarankan membuat  Reading Record (RR). Ternyata banyak pembaca yang sudah mencoba membuat dan merasakan manfaatnya secara nyata bagi mereka. Bahkan RR kini sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah dan juga digunakan oleh para pelamar kerja. Berikut ini adalah manfaat-manfaat RR.
Mempermudah Distribusi Informasi Buku
Dengan menggunakan RR untuk mencatat setiap buku koleksi pribadi yang telah selesai dibaca, pembaca bisa mendistribusikan informasi tentang judul-judul buku tersebut kepada pihak lain yang mungkin membutuhkannya. Sebaliknya, kita juga bisa melihat RR pihak lain untuk mencari informasi judul buku-buku yang kita perlukan. Dengan adanya RR, penyebaran informasi judul-judul buku menjadi sangat praktis dilakukan oleh siapa saja.
Mempermudah Menemukan Referensi
Dengan membuat RR, kita dengan mudah menemukan berbagai referensi bacaan yang diperlukan untuk menulis berbagai macam tulisan. Jika kita sedang mencari referensi untuk suatu tema, cobalah periksa RR kita yang terbaru. Jadi, RR menolong kita mengelola buku-buku koleksi kita secara efisien dan efektif.
Mengukur Minat Baca
RR bermanfaat untuk mengukur keaktifan atau minat baca kita. Apakah minat kita dari waktu ke waktu meningkat atau malah menurun? Dalam RR kita bisa melihat seberapa banyak persisnya jumlah judul dan jumlah halaman buku yang sudah selesai kita baca. Kita juga bisa mengetahui jumlah buku yang kita baca dalam jangka waktu tertentu, misal selama tiga bulan atau setengah tahun.
Merangsang Minat Baca
RR merangsang pembaca semakin giat membaca dan mencintai bacaan. Dengan membuat RR, kita menjadi lebih termotivasi untuk membaca lebih banyak. Kita ingin skor RR kita terus meningkat. Dengan membuat RR, perkembangan minat dan kemajuan membaca kita terdokumentasikan dengan baik dan rapi.
Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Terhadap Bacaan
RR meningkatkan kemampuan apresiasi kita terhadap kualitas bacaan. Dengan membuat RR, kemampuan kita menilai buku akan lebih terasah. Kita bisa membedakan mana buku yang berkualitas dan mana yang hanya ditulis secara asal-asalan. RR juga memungkinkan kita membandingkan berbagai macam judul buku yang telah kita baca.
Berfungsi seperti Curriculum Vitae (CV)
RR merupakan salah satu data diri seperti curriculum vitae (CV), yakni catatan tentang buku yang sudah pernah kita baca. RR menunjukkan jenis buku apa saja yang menjadi minat kita serta seberapa banyak kita telah membacanya. Semakin banyak kita membaca buku-buku yang membahas suatu subjek, maka semakin luas pula wawasan kita di bidang itu. Misal, jika RR kita menunjukkan bahwa kita sudah membaca 125 judul buku tentang menulis, maka wawasan kita tentang menulis adalah seluas itu.  Pencatatan ini juga memungkinkan klasifikasi bacaan yang dikoleksi.
Mencatat Jumlah Buku Koleksi
RR juga berfungsi untuk mencatat jumlah buku koleksi kita, termasuk menunjukkan buku-buku yang belum selesai dibaca. Buku yang sudah selesai dibaca dikasih tanda angka 1, sedangkan buku yang belum selesai dibaca bisa dikasih tanda angka 0 atau tidak diisi.
Contoh Reading Record
Reading Record (RR) -  Peng Kheng Sun                                                                                                             Topik: Kreativitas                                                




Kol
Judul Buku


Hal
Penulis
Penerbit
Terbit
Koleksi

Rp. 000
1
The Power of Creativity
1
A
150
Peng Kheng Sun
ANDI
2010
2010
32
2
Cracking Creativity
1
A
308
M. Michalco
ANDI
2010
2010
65
3
The Art of Innovation
1
A
379
Tom Kelly
Gramedia
2002
2010
67
4
Exploiting Chaos
1
A
278
Jeremy Gutsche
Gramedia
2010
2010
95
5
Knowledge & Innovation
1
B
485
Zuhal
Gramedia
2010
2010
140
6
Berpikir Lateral
1
B
296
Edward De Bono
Erlangga
1991
1995
30
7
Bengkel Kreativitas
1
A
311
Jordan E. Ayan
Kaifa
2003
2008
57
8
How to Mind Map
1
C
76
Tony Buzan
Gramedia
2004
2010
30
9
Mengembangkan Kreativitas
0


David Campbell
Kanisius
1993
2010
25
10
Thinker Toys
1
A
416
M Michalco
Kaifa
2009
2010
86
11
Mind Map at Works
1
B
194
Tony Buzan
Gramedia
2006
2010
55
12
Mind Map
1
A
148
Sutanto Windura
Elex Media
2009
2010
60
13
Be An Absolute Genius!
0


Sutanto Windura
Elex Media
2009
2010
60
14
The Art of Creative Thunking
1
C
134
John Adair
Golden B
2008
2009
27
15
7 Hal Gratis yang Menentukan Kesuksesan Anda
1
A
244
Peng Kheng Sun
Gramedia
2012
2012
44
16
Buku Pintar Mind Map
1
B
225
Tony Buzan
Gramedia
2009
2010
50
17
Cara Belajar Cepat
1
A
412
Ricki Linksman
Dahara P.
2004
2005
30
18
Menikmati Belajar secara Kreatif
1
A
94
Peng Kheng Sun
Samudra Biru
2011
2011
20


16

4150




973
25 Oktober 2012
Memetakan Ragam Bacaan
Dengan membuat RR, kita bisa memetakan jenis bacaan apa saja yang kita baca. Kita bisa membuat beberapa RR sesuai dengan jenis bacaan. Misal, kita bisa membuat RR tentang buku pemasaran, kreativitas, menulis, umum, dan sebagainya. Kemudian, kita membuat Rekapitulasi RR. Dengan demikian, kita bisa memetakan secara jelas berbagai ragam bacaan yang kita baca. Kita bisa menganalisis ragam bacaan yang kurang dibaca. Contoh, untuk buku Komputer, dari 45 judul buku, saya baru selesai membaca 18 judul atau baru 40%. Sedangkan buku Kepemimpinan, dari 59 judul, saya telah membaca 58 judul atau 98%.
Rekapitulasi RR

REKAPITULASI READING RECORD - PENG KHENG SUN



Buku
Buku
Jumlah

TOPIK BUKU
Koleksi
Dibaca
Halaman
1
Komputer
45
18
40%
3,319
2
Rohani
59
58
98%
12,066
3
Menulis
99
91
92%
15,849
4
Pemasaran
30
23
32%
2,190
5
Kreativitas
18
16
89%
4,410
6
Umum
24
7
29%
2,674

Jumlah
275
213
77%
40,508

25 Oktober 2012



Informasi Bacaan Penulis
            Dengan mencantumkan RR dalam karyanya, seorang penulis telah memberikan informasi buku-buku yang dibacanya. Informasi ini bisa menjadi petunjuk bagi pembaca untuk memahami ide-ide sang penulis dan sumber-sumbernya. Selain itu, jika setiap kali menerbitkan bukunya penulis mencantumkan RR terbarunya, maka pembaca bisa menilai seberapa besar peningkatan bacaan buku sang penulis. Jika jumlah buku yang dicantumkan di RR sangat banyak, penulis bisa menyertakannya dalam bentuk kepingan CD. Intinya, karena buku-buku yang kita baca akan mempengaruhi cara berpikir kita, maka penting bagi kita sebagai pembaca mengetahui buku-buku yang dibaca oleh sang penulis. Dengan kata lain, kita perlu tahu buku-buku apa saja yang berkontribusi terhadap pemikiran sang penulis buku yang sedang kita baca.  
PERKEMBANGAN RR
            Sejak pertama kali diciptakan hingga kini RR telah digunakan oleh siswa/mahasiswa, orangtua, guru/dosen, karyawan/calon karyawan, atasan, pembicara, pengusaha, ibu rumah tangga, dan setiap orang yang ingin mendokumentasikan pengalamannya membaca buku. Siswa yang membuat RR akan memudahkan guru memantau seberapa besar kegemaran membaca dan buku-buku bertema apa yang menjadi minatnya. Guru atau dosen yang membuat RR bisa memberikan informasi kepada murid-murid sumber bacaannya yang dimilikinya. Pihak perusahaan bisa mendapatkan informasi wawasan calon karyawannya dengan membaca RR calon karyawan. Singkat kata, RR memberikan informasi yang membuat perbedaan antara mereka yang gemar membaca dan yang tidak.
***