Selasa, Juni 30, 2015

14 Tahun Kesunyian Sofyan RH. Zaid


seperti ulat jadi kupu-kupu # aku masih kepompong waktu
bergantung di ranting sunyi # kosong diri dari nyanyi
Jibril senantiasa datang # melempar sekuntum kembang
kau dan aku: kebenaran # terus berjalan menuju keselamatan

Puisi di atas begitu syahdu. Puisi tersebut terdapat dalam judul “Nabi Kangen”. Kesunyian menjadi kepompong waktu yang sedang mempersiapkan diri menuju pencerahan. Begitu saya tafsirkan bait-bait puisi di atas. Kesunyian tampaknya menjadi porsi terbesar dari kumpulan puisi ini. Bahkan menjadi satu bab tersendiri yaitu “Sabda Kesunyian” yang di dalamnya ada 10 puisi.

Seorang penyair dalam proses kreatifnya akan melewati masa-masa kontemplasi, dan di situlah dia akan berteman dengan kesunyian. Walau kesunyian bukan berarti kesepian. Kesunyian memproduksi sesuatu berupa ide atau gagasan, yang berasal dari pikiran dan perasaan. Kesepian sebaliknya, ia justru mengontra produksi sesuatu. Begitu juga dengan penyair. Bagi penyair kesunyian adalah jalan menemukan kata-kata yang berisi gagasan atau buah perenungan.

Buku ini adalah penanda Sofyan RH. Zaid dalam laku kepenyairannya selama 14 tahun. Belasan tahun memang belum relatif lama tapi capaiannya sungguh luar biasa. Puisinya sudah dimuat di pelbagai media cetak, seperti majalah sastra Horison, Annida, Pikiran rakyat, dll. Belum lagi di sejumlah buku antologinya, seperti Empat Amanat Hujan (DKJ, 2010), Negeri Cincin Api (Lesbumi, 2011), dll. Dari sunyi ke sunyia ia lakoni sehingga menghasilkan puisi yang luar biasa.  

Capaian produktifitas dalam laku kepenyairan Sofyan dibarengi dengan eksperimentasinya dalam model pembuatan rima puisinya. Dalam Mukadimah ia menyebutnya puisi nadhaman, terinspirasi dari nadham arab di pesantren. Nadham adalah syair yang berima dua-dua atau empat-empat. Dalam khazanah kitab kuning, seringkali pakar bahasa menulis kitabnya dengan nadham, sebut saja misalnya Alfiyyah ibn Malik karya Ibnu Malik al-Andalusy dan Imrithi karya Syaikh Syarofuddin Yahya Al-Imrithi. Keduanya adalah kitab nahwu (tata bahasa arab).

Eksperimen yang kemudian menjadi ciri khas Sofyan patut diapresiasi. Ia keluar dari pakem model-model puisi yang sudah digariskan para pengkaji puisi. Di sisi lain pilihan pembuatan model puisi ini juga menimbulkan pro-kontra di kalangan para penyair yang mengenalnya. Ada yang kecewa namun ada pula yang mendukung. Polemik ini pun semakin mencuat tatkala Dimas Indiana Senja, kritikus sastra, membahas model puisi Sofyan di Republika dengan judul Estetika Nadhaman. Tulisan Dimas memunculkan tulisan-tulisan lain baik yang pro maupun kontra. 

Namun di luar itu semua, Sofyan hanya ingin terus menulis dan menulis puisi.  Sofyan berujar, “... saya bahagia hidup bersama puisi. Puisi telah memberi saya banyak hal berharga yang tidak pernah bisa saya dapatkan dari yang lain.”

Kesunyian Sofyan
Saya melihat tema kesunyian mendapat porsi yang banyak dalam kumpulan puisi Sofyan ini. Apakah puisi baginya menjadi teman di kala sunyi? Atau kah ada hubungannya dengan kegalauan dirinya di usia muda? Usia muda memang sarat dengan gejolak emosi yang membuncah, terhadap lingkungan, persahabatan, bahkan saat jatuh cinta. Atau bisa jadi Sofyan di kala sunyi itu pikirannya terlempar ke masa silam kepada sesuatu yang dikenangnya, walaupun kita tidak tahu siapa yang dimaksud. Hal itu bisa kita lihat dalam puisi “Lembah Sembah”: Sudah bertahun silam # dalam kenangan tenggelam/Menyebut namamu hari ini # aku masih berdebar sunyi.

Dalam “Serat Kesunyian”, ia merindukan kekasihnya. Ia berharap kekasihnya datang di saat kesunyiannya itu. Berikut  puisinya, Datang-datanglah kau padaku, kekasih # aku menunggu dari hari ke perih/Padam mata arah nyala mata waktu # aku rabah hati masih dalam rindu/Air mata menulis kalimat harap # angin membacakannya kepada gelap/Tak tahan sudah aku menabung duka # biarkan kata saja yang menanggungnya/Dalam bahasa rahasia cuaca # menjadi serat di lembaran udara.

Pemilihan kalimat “dari hari ke perih” (galibnya “dari hari ke hari”) menunjukkan ia semakin hari semakin tersiksa dengan rindunya itu. Terlebih ditambah dengan kalimat “Tak tahan sudah aku menabung duka”. Pada saat sunyi seringkali memang kita dihinggapi dengan kenangan-kenangan yang menyiksa. Tentu biasanya yang kita kenang adalah adalah orang-orang yang kita cintai. Terlebih apabila kita saat berjauhan dengan orang yang kita cintai.  Puisi “Rindu Ibu, Rindu Pulang” menyiratkan hal itu. Ia menulis,  Jauh darimu, ibu # aku menjadi debu. Puisi itu di samping mempunyai keindahan rima (ibu dan debu), juga kedalaman makna.

Sofyan menganggap dirinya debu. Debu merupakan partikel padat kecil yang mudah terbang. Apakah tamsil debu dijadikan gambaran dirinya sebagai sosok seorang anak yang kehilangan arah lantaran jauh dari ibunya? Atau Sofyan merasa dirinya tak punya sandaran dan pijakan, menjadi tak berarti, fana, dan tak berdaya menghadapi ruang dan waktu?

Puisi berjudul “Sederhana” punya kesunyian yang berbeda. Sofyan melemparkan dirinya jauh ke depan. Ia berharap kepada “cinta”-nya bisa selalu hidup bersama dalam satu rumah. “Cinta” di sini masih misteri. Kita tidak tahu persis apakah merujuk kepada seseorang atau cinta itu sendiri. Kalimat “sampai lupa cara berpisah” sebuah ungkapan lain dari “sampai maut memisahkan kita”. Sungguh puitis.  

Usia Sofyan masih tergolong muda (kelahiran 1986). Puisi-puisinya tentu menggambarkan gairah anak muda. Begitu juga pada saat dia dalam kesunyian. Kesunyian khas anak muda. Namun, apa yang membedakannya dengan anak muda lainnya? Dia melakukannya dengan produktif nan artistik. 14 tahun dalam perjalanan kepenyairannya sungguh memperkaya hidupnya.[]
   

Selasa, Juni 23, 2015

Pertemuan Orientalis dan Oksidentalis di Indonesia

Judul: Antara Timur dan Barat
Penulis: Al Makin
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Maret 2015
Tebal: XI + 258 hlm.

Indonesia adalah negara yang unik. Alamnya yang subur dan sukunya yang banyak menjadikan karakternya begitu khas yang tidak bisa disamakan dengan negara lain. Belum lagi terjadinya akulturasi budaya, perjumpaan antar-suku, sehingga memunculkan karakter-karakter lainnya.

Hal ini berpengaruh pula dengan agama, utamanya agama Islam. Geografi, iklim, dan manusia, akan membedakan cara beragamanya. Indonesia merupakan penganut Islam terbesar di dunia. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti, khususnya peneliti dari Barat.

Al Makin dalam buku ini memaparkan betapa banyak para peneliti Barat mengkaji Indonesia dari pelbagai aspek, terutama dari aspek agama. Misanya William (bob) Hefner meneliti bagaimana Islam dan negara berinteraksi di Indonesia. Hasil penelitiannya adalah Indonesia bisa menjadi model masyarakat demokrasi di dunia Islam. Hefner cukup optimis dengan keterbukaan, keragaman, dan perkembangan masyarakat Indonesia, demokrasi akan tumbuh (hlm. 152).

Ada juga Clifford Geertz, peneliti asal Amerika, yang meneliti akulturasi Jawa dan Islam. Ia meneliti daerah Pare, Kediri. Ia mengikuti tradisi setempat: upacara kelahiran, kematian, selametan, dan lain-lain. Ia kemudian menyimpulkan varian atau model yang ada dalam masyarakat Jawa: Abangan, santri, dan priyayi. Varian ini dijadikan kategorisasi umum oleh kalangan akademik Indonesia sehingga menjadi populer.

Menurut Geertz Indonesia sangat sinkretik dan akomodatif terhadap ajaran dan budaya lokal. Hal itu kemudian menjadi ciri khas Islam di Indonesia (hlm. 169). Selain Hefner dan Geertz, masih banyak lagi peneliti lainnya yang tidak kalah menarik seperti Mark Woodward, Willian Liddle, Peter Carey, Ricklefs, dan lain-lain.

Banyaknya peneliti Barat meneliti Indonesia menimbulkan pertanyaan, apa sesungguhnya motif mereka menjadikan Indonesia sebagai objek kajiannya? Dalam ranah Islam dan Indonesia sebagai objek kajian, Al Makin mengutip Mukti Ali, paling tidak ada 3 motivasi: kepentingan kolonialisasi, misionaris, dan akademisi (hlm. 153).

Namun seiring perubahan zaman, motivasi itu sudah menjadi bias, bahkan tidak berlaku lagi. Para peneliti baik dari Barat maupun Timur sudah melebur. Tidak ada sekat lagi di antara peneliti. Lebih dari itu, mereka saling belajar dan bersahabat. Mereka saling bekerjasama, bahu-membahu, memberi informasi dan kemudahan satu sama lain. Sebut saja Martin van Bruinessen, Karel Steenbrink, Nico Kaptein, dan lain-lain.

Uniknya lagi, tidak setiap peneliti Barat mempunyai pandangan yang sama atas objek yang sama. Mereka bisa saja berbeda pandangan. Hal ini menandakan bahwa peneliti Barat tidak perlu dicurigai secara berlebihan seperti halnya pada zaman kolonialisme. Di zaman modern perbedaan antar-peneliti adalah sebuah hal yang lumrah, bahkan dengan sesama peneliti Barat sendiri.

Kritik Mark Woodward terhadap Clifford Geertz membuktikan hal itu. Mark mengkritik atas kategorisasi yang diberikan Geertz yaitu santri, priyayi, dan abangan. Geertz dianggap lalai dengan tradisi literatur Jawa yang memuat konsep-konsep penting tentang Islam, sufi, dan tradisi Jawa. Geertz hanya fokus pada satu daerah dan terobsesi pada pengamatan masyarakat, praktik keseharian, sementara konsep-konsep penting terlupakan. Jadi hasil penelitian Geertz dianggap ahistoris (hlm. 172-173).

Membaca buku ini kita seperti sedang diajak jalan-jalan ke Barat (Amerika dan Eropa) dan Timur (Indonesia). Kita diperkenalkan dunia akademik dan tokoh-tokoh pentingnya, siapa saja para peneliti Barat meneliti Timur (orientalisme) dan peneliti Timur meneliti Barat (oksidentalisme). Era globalisasi ini kesempatan mengkaji Barat dan Timur begitu mudah, nyaris tanpa ada halangan. []

Minggu, Juni 21, 2015

Menjadi Solopreneur

Judul: The $100 Startup
Penulis: Chris Guillebeau
Penerjemah: Sugianto Yusuf
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2015
Tebal: xx + 340 hlm.

Alhamdulillah, aku sudah mengkhatamkan buku ini. Ada yang kupahami ada yang tidak. Paham sih, tapi tidak benar-benar paham, haha...

Aku sudah janji untuk membuat resensinya buatmu. Jadi, aku nekat saja membuatnya, meskipun tidak paham-paham amat. Ya, buku ini secara keseluruhan benar-benar memberi pengetahuan baru bagiku. Mungkin tidak bisa dikatakan tulisanku ini sebuah resensi, karena ada opini dan gagasan yang kutuangkan di dalamnya, sebagai reaksi dari hasil bacaanku.

Aku merasa buku ini semacam panduan menjadi freelancer, tapi setelah kubaca bab-bab selanjutnya hingga akhir rupanya tidak juga. Dan aku menyimpulkan bahwa semangat buku ini menurutku ada dua: kemerdekaan dan solopreneurship.

Seperti yang disebutkan di subjudulnya bahwa buku ini mengajarkan bagaimana cara mencari penghasilan dari apa yang kita cintai. Ada banyak sampel kisah di buku ini yang mempunyai penghasilan dari kesenangan mereka, sehingga mereka menciptakan masa depannya sendiri, dengan tak diduga dan tak disangka. Kisah mereka dalam buku ini rata-rata yang resign dari pekerjaan tetapnya, kemudian membangun bisnisnya sendiri (mirip-mirip aku lah).

Mereka membangun bisnis berbasis internet, dan tanpa kantor. Sambil jalan-jalan mereka tetap bisa menjalankan bisnisnya. Kisah-kisah mereka memang indah, tapi untuk mencapai kesana rupanya banyak juga tantangannya. Mereka butuh beberapa tahun meraih kesuksesan itu. 

“Cara sulit untuk untuk memulai sebuah bisnis adalah meraba karena tidak yakin apa gagasan besar Anda akan pas dengan apa yang konsumen inginkan. Yang mudah adalah mencari tahu apa yang orang inginkan, kemudian mencari cara memberikannya kepada mereka,” ujar penulis buku ini.  Ada satu kisah yang menarik dan kupikir ada sedikit persamaan denganmu yang pintar bahasa inggris. Orang itu bernama Benny lewis, penghasilannya $65.000 setahun. Hobinya traveling. Usianya 24 tahun. Hobinya adalah belajar bahasa. Ada 7 bahasa yang ia kuasai dengan sangat baik, dan ditempuh hanya 3 tahun saja semua bahasa itu. Ia kemudian ingin berbagi cara belajar bahasa yang ia gunakan. Lalu ia membuat program yang namanya “Fluent in 3 Month”. Kupikir kamu pun bisa melakukan hal itu.

Buku ini memang berbasis pengalaman dan teoritis. Penulisnya juga pelaku bisnis model kayak ginian. Dan untuk menyiapkan buku ini, dia melakukan riset dan wawancara langsung secara intensif dan mendalam. So, aku percaya dengan apa yang dikatakannya, meskipun tidak mudah melakukannya. Dia mengatakan, “Anda tidak butuh banyak uang atau pelatihan khusus untuk menjalankan usaha. Anda hanya perlu produk atau jasa, sekelompok orang yang ingin membelinya, dan metode pembayarannya.” Dia kemudian memberikan enam langkah yang perlu diambil:
1.       Putuskan produk atau jasa apa
2.       Bangun situs web, yang paling sederhana sekalipun
3.       Kembangkan tawaran
4.       Pastikan metode pembayarannya
5.       Umumkan tawaran Anda ke dunia
6.       Belajar dari langkah 1 sampai 5


Kupikir aku bisa melakukan hal itu, bahkan beberapa poin dari 6 itu sudah aku lakukan. Tinggal aku menekuni dan mengembangkannya dengan pelbagai cara. Beberapa bab dalam buku ini mencoba memberi langkah-langkahnya baik secara filosofi maupun praktisnya. Sudah kebayang sih apa yang hendak aku lakukan sesuai dengan nasihat dan langkah-langkah konkrit yang dikasih penulis buku ini. Dan aku sepakat dengan ucapannya bahwa pertarungan terbesar kita adalah melawan ketakutan dan inersia (kemalasan untuk berubah) kita sendiri.

Buku ini cukup recomended bagi siapa pun yang mau berwira usaha secara kecil-kecilan (mikro). Ada banyak inspirasi dan langkah-langkah konkrit yang bisa dilakukan. Tapi, lebih penting dari itu, segeralah bertindak ketika sudah selesai membaca buku ini.

Dari secuil tulisan ini, kuharap kamu mendapat gambaran perihal isi buku ini, haha..



Jumat, Mei 29, 2015

Mendidik dengan Cinta


Judul: Pemimpin Cinta
Penulis: Edi Sutarto
Penerbit: Kaifa
Cetakan: I, Februari 2015
Tebal: 377 halaman

Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain pula ikannya. Lain orang lain pula cara berpikirnya. Perumpamaan itu cocok pula dalam manajamen lembaga pendidikan (baca: sekolah). Lain direktur lain pula gaya manajerialnya. Sekolah bisa kita ibaratkan batu pualam. Memberikan setumpuk batu pualam kepada orang yang biasa-biasa saja, akan berakhir dengan setumpuk marmer saja. Namun letakkan batu itu di tangan seorang pemahat dan lihatlah apa yang terjadi! Pemahat itu melihatnya dengan mata seorang seniman.

Salah seorang “seniman” pendidikan adalah Edi Sutarto. Dia adalah direktur jaringan Sekolah Islam Athirah di empat wilayah yang berbeda di Sulawesi Selatan. Dari TK hingga SMA. Sebelum kehadirannya, manajemen semua sekolah tersebut amburadul. Latar belakangnya sebagai pendidik dan pernah aktif di dunia kesenian (teater Koma, Jakarta) mampu mengubah manajamen sekolah ke arah yang lebih baik, dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun, kurvanya terus melesat. Buku ini adalah puncak kecerdasan berbahasanya, dimana isinya adalah jejak rekam atas selama yang dikerjakannya dalam mengelola jaringan sekolah tersebut.  

Layaknya seniman-pemahat batu pualam, ia mengubah batu yang tidak bernyawa itu menjadi sebuah karya agung dengan kerja keras dan disiplin tinggi. Hal pertama yang ia lakukan adalah menginisiasi para guru, pimpinan, dan pengelola manajamen pendidikan. Ia ubah cara pandang (mindset) mereka yang keliru, dan ia dukung dengan sepenuh hati cara pandang yang benar.

Visi-misi dan master plan lembaga pendidikan yang ia buat bermula dari sebuah keterlambatan naik pesawat. Ceritanya, ketika pulang wawancara di Makassar dan hendak pulang ke Jakarta, dia ketinggalan pesawat, akibat salah melihat jam. Dia lupa memutar jarum jam tangannya, karena Makassar lebih cepat satu jam dari Jakarta. Dia lalu menginap di hotel. Di kamar hotel dia membuat draf konsep master plan Athirah. Tidak hanya membuat draf rumusan master plan, tetapi juga visi-misi-motto manajemen dan bentuk organisasinya. Di samping itu, dia juga telah membuat draf dokumen target serta strateginya. Hal itu kemudian menjadi SOP (Standard Operating Procedure) Sekolah Islam Athirah.

Pendekatan Cinta
Pada waktu kecil, Edi pernah mendengar pesan bapaknya, “Jadilah pemimpn cinta agar tumbuh energi positif. Dari energi positif inilah akan terpantul energi positif yang berlipat ganda untuk kamu” (hlm. 29). Kata-kata itulah yang selalu Edi ingat ketika menjalankan roda organisasi Sekolah Islam Athirah. “Saya berjuang menumbuhkan benih cinta dari lubuk hati yang dalam terhadap Athirah. Hamparan tantangan bagai gelombang ombak yang ada di depan saya telah menjelma menjadi motivasi cinta yang harus saya kuatkan menjadi seumpama karang,” ujarnya (hlm. 29).

Cinta menjadi dasar atas apa yang Edi lakukan dalam melakukan perubahan. Selain pesan ayahandanya, kata-kata Jalaluddin Rumi juga menjadi semboyannya di Athirah, yaitu “Dengan hidup yang hanya sepanjang setengah tarikan napas, jangan tanam apa pun kecuali cinta.” Buku ini basah kuyup dengan kisah-kisah Edi Sutarto yang terkait dengan guru, siswa, dan orangtua. Semua kisahnya berbasis cinta.

“Bab Menyentuh Guru dan Karyawan”, salah satu kisahnya adalah memberi contoh kepada para guru dan karyawan untuk datang tepat waktu sesuai yang disepakati. Edi selalu datang lebih awal dari para guru dan karyawan. Ia mengontrol kebersihan lingkungan sekolah, taman, kadang juga turut menyiram bunga-bunga yang ada di taman. Ia menyapa siapa saja yang dijumpainya baik guru, siswa, maupun karyawan lainnya. Ia sapa dengan 6S, yaitu senyum, salam, sapa, semangat, sabar, dan syukur dalam bentuk doa buat mereka yang ia jumpai. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para guru.      

Pada “Bab Menyentuh Siswa”, ada salah satu yang Edi lakukan adalah memberi surprise buat para peserta didik. Suatu hari dia melihat beberapa siswa sedang membaca buku dengan khusyuk sekali. Salah satunya bernama Andi Fatimah. Edi mendekatinya dan bertanya tentang buku yang dibacanya. Setelah itu Edi menawarkan, “Kamu bersedia membedah novel yang kamu baca ini, besok di sekretariat? Pukul 07.00 sampai pukul 08.00 WITa?” Sebuah tawaran yang tak diduga oleh siswa tersebut. Itulah awal mula Komunitas Cinta Baca dan pembuatan Majalah Athirah saat ini yang diprakarsai oleh Andi Fatimah tersebut.  

Sedang pada “Bab Menyentuh Orangtua Siswa dan Lingkungan”, salah satunya adalah kegiatan Parents Day, yakni kegiatan sehari bersama orangtua siswa. Saat awal program ini digulirkan, resistensi datang dari para pimpinan dan guru-guru di unit masing-masing. Program ini dianggap mengada-ada, mengganggu hari efektf belajar, dan membuka dapur sekolah kepada orangtua siswa. Padahal, tujuan Edi adalah guru maupun orangtua siswa harus mencintai Athirah.

Parents Day juga sebenarnya dijadikan sebagai ajang para orangtua siswa mengenal lebih dekat kepada para guru yang setiap hari mendidik putra-putrinya. Pun menjadi ajang saling kenal lebih dekat sesama para orangtua siswa. Edi menamakannya perjumpaan cinta. Inilah hakikat cinta orangtua kepada anaknya. Pada akhirnya kegiatan ini adalah kegiatan keterpautan jiwa-jiwa yang bertabur cinta (hlm. 305).

Cinta memang sebuah perjuangan. Cinta tidak pernah datang dengan cara murah. Semuanya harus diperjuangkan. Dan seringkali cinta baru mekar setelah melewati berbagai macam derita. Tapi, derita bukan musuhnya cinta. Derita itu membuat cinta sedang tumbuh lebih dewasa. Itulah yang ditempuh seorang pemimpin cinta yang Edi Sutarto praktikkan dan alami. Membaca buku ini adalah membaca potret pendidikan Indonesia yang optimis. Kata-kata yang dibangun menjadi sebuah cerita telah menerbitkan harapan masa depan Indonesia yang cemerlang.[]

Jumat, Mei 08, 2015

Teladan Nabi Untuk Masa Kini

Judul: Biografi Intelektual-Spiritual Muhammad
Penulis: Tariq Ramadhan
Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin, M.A.
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2015
Tebal: 372 hlm.

Buku-buku Sirah Nabi (biografi Nab Muhammad Saw.) sudah banyak. Modelnya pun macam-macam. Ada yang tematik, analitik, bahkan ensiklopedik. Gaya penulisannya pun puspa ragam, ada yang gamblang maupun nyastra. Ada yang bergenre nonfiksi dan fiksi. Dan penulisnya pun dari berbagai kalangan: muda, tua, bahkan non-muslim.  Hal itu membuktikan bahwa tidak ada seorang nabi bahkan tokoh yang banyak diapresiasi selain Muhammad Saw.

Buku ini termasuk salah satu buku biografi Nabi. Ditulis oleh Tariq Ramadan, cucu Hasa al-Banna, yang dinobatkan oleh majalah TIME sebagai salah satu “inovator dunia di bidang spiritualis”. Ia sebenarnya mengakui bahwa buku jenis ini sudah banyak, lantas mengapa ia tetap nekad menulisnya? Tujuannya adalah “menjadikan kehidupan Rasul sebagai cermin bagi kita yang dengannya para pembaca yang sedang menghadapi tantangan zaman mampu menyelami hati dan pikiran mereka sendiri dan memahami berbagai persoalan hidup dan masalah sosial dan moral yang lebih luas” (hlm. 19). Keren sekali.

Buku yang baik memang seharusnya seperti ini, yakni menjawab persoalan pada zamannya. Meskipun sejarah adalah masa lalu, tapi nilai-nilainya bisa diterapkan pada masa kini. Tak terkecuali sejarah pada masa Nabi Saw.  Lantas apa keistimewaan buku ini dan menjadi pembeda dengan buku sejenisnya?

Bagi yang suka baca Sirah Nabi mungkin akan mengatakan tidak ada yang baru dengan buku ini. Saya pun sepakat. Karena memang rujukan buku ini pun dari buku-buku klasik sirah nabawaiyah. Namun seperti yang dikatakan sebuah ungkapan bahwa “Tidak ada yang baru di bawah terik matahari ini kecuali sudut pandang dan orang-orang yang kita jumpai di jalanan.” Tariq membidik dari sudut pandang yang berbeda.

Ya, sudut pandang buku ini terbilang unik dan menjadi book appeal yang tinggi di mata pembaca. Ia membidik sejarah Nabi dari kualitas kemanusiaannya sebagai seorang manusia dan keteladannya sebagai seorang Nabi. Buku ini dibuka dengan sebuah paragraf indah yang membuat kita penasaran ingin membacanya lebih lanjut.

Tariq mendedahkan sikap dan teladan Nabi pada tiga hal: hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, dan manusia dengan alam. Hal yang menyangkut hubungan antar-manusia, misalnya, sabda Nabi kepada salah seorang sahabatnya, “Dalam dirimu ada dua sifat yang disenangi Tuhan: kelembutan (al-hilm) dan ketabahan (al-anah, “kemuliaan,” “toleran”).” Beliau mengajak semua sahabatnya untuk tetap bersikap lembut dan pemaaf, “Jika engkau mendengar sesuatu yang tidak kausenangi tentang saudaramu, carilah hingga tujuh puluh alasan untuk memakluminya. Jika engkau tidak bisa menemukan satu pun alasan untuknya, yakinkan dirimu bahwa alasannya tidak kauketahui” (hlm. 199-200).

Sedang yang berhubungan antara manusia dengan hewan, yakni misalnya sabda Nabi yang menyangkut soal ritual penyembelihan hewan ternak (dan qurban), bahwa pisaunya harus tajam, agar tidak menyakiti hewannya, dan menyembunyikan pisaunya sebelum digunakan. Menurut Tariq penghargaan terhadap hewan juga merupakan ajaran Islam yang paling penting. Nabi mengajarkan hak hidup hewan untuk dihargai, dihindarkan dari penderitaan, diberi makanan yang ia perlukan, dan diperlakukan dengan baik. Hal ini bahkan menjadi sebuah kewajiban dan syarat peningkatan spiritual seseorang. Tariq pun menyitir salah satu hadis perihal penghormatan terhadap hewan. “Siapa pun yang membunuh burung pipit atau hewan yang lebih besar lagi tanpa menghargai hak hidupnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadap Tuhan pada Hari Pembalasan.”

Adapun yang berhubungan antara manusia dengan alam terlihat pada saat Nabi melawati Sa’d ibn Abi Waqqas yang sedang berwudhu. Beliau berkata kepadanya: “Kenapa mubazir begitu, wahai Sa’d?” “Apakah ada mubazir dalam berwudhu sekalipun?” Tanya Sa’d. Nabi menjawab, “Ya, sekalipun ketika menggunakan air sungai yang mengalir.” Air adalah unsur penting dalam seluruh ajaran dan praktik ritual Islam, karena ia melambangkan kesucian badan dan hati, kebersihan tampilan fisik dan kandungan spiritual. Menghormati alam dan menggunakannya secara bijak justru, dalam dirinya sendiri, merupakan pelatihan dan penanjakan spiritual, tujuan pencarian mereka akan Sang Pencipta” (hlm. 343).

Hubungan manusia dengan alam bukan lagi persoalan ekologi untuk mengantisipasi bencana tapi lebih dari itu, yakni sebuah etika terhadap alam sebagai implementasi ajaran spiritual terdalam. Hubungan antara orang beriman dan alam harus didasarkan pada perenungan dan penghormatan. Tariq memperkuat argumennya dengan sabda lain dari Sang Nabi, “Jika detik-detik Hari Pembalasan telah mendekat dan seseorang di antara kalian menggenggam benih di tangannya, bersegeralah menanam benih itu.”

Buku biografi intelektual-spiritual Nabi Muhammad Saw. ini ibarat oase yang menanti pembaca untuk meminumnya hingga dahaga intelektual dan spiritual mereka terobati oleh ajaran dan teladan beliau.[]    

M. Iqbal Dawami

Ketua Tadarus Buku Pati

Selasa, Mei 05, 2015

Gandhi dan Nirkekerasan

Pagi ini kuawali dengan membaca buku Gandhi The Man. Beberapa halaman aku baca. Aku memang membacanya secara mencicil, tidak ingin buru-buru menyelesaikannya. Sedikit eman-eman. Ini buku bagus, jadi aku tidak mau menyelesaikan begitu saja tanpa aku renungi dan kukunyah pelan-pelan. Buku Gandhi The Man adalah salah satu buku terbaik  yang pernah aku baca. Nyaris sempurna, baik secara konten maupun penyajiannya. Tidak aneh jika buku ini mengalami cetak ulang.

Buku ini seolah menemukan momentumnya. Buku ini saya pikir harus dibaca oleh para pemimpin, baik dalam skala kecil maupun besar. Baik pemimpin dalam politik, lembaga pendidikan, maupun perusahaan. Ajaran dan laku hidup Gandhi relevan dilakukan oleh siapapun. Karena secara umum, Gandhi memberi contoh bahwa apa yang diucapkan kepada orang lain haruslah dilakukan terlebih dahulu oleh diri sendiri. Ketika kita menyuruh orang hidup sederhana, dia sendiri harus sudah mempraktikkannya.

Kehidupan sehari-hari Gandhi tak ubah masyarakat India pada umumnya waktu itu, baik orang miskin maupun kaya. Dia berjalan kaki kemana-mana, berpakaian khas India, warna putih dan ditenun sendiri. Di dalam sikapnya itu tersimpan perlawanan terhadap penjajah Inggris. Ok, mungkin itu hanyalah simbol secara tangible yang dapat kita elakkan bahwa menjadi pemimpin tidak harus bergaya orang miskin, tidak substantif.  

Barangkali ini yang harus diikuti yaitu intangible, karakter dan sikap Gandhi. Nirkekerasan adalah ajaran utamanya. Jika ada pengikutnya yang berubah haluan yakni tiba-tiba melawan dengan senjata kepada para penjajah tersebut, maka dia akan menghentikan seketika itu juga gerakannya. Luar biasa. Ajarannya ini mengundang simpatik masyarakat India, bahkan negara-negara lain. Ajarannya ini membuat dia tidak takut dengan siapa pun. Dia hadapi musuhnya secara gentleman. Dia dipenjara dengan ikhlas. Semua itu atas dasar cinta dan kasih sayang, bukan kebencian dan balas dendam.  

Selasa,  5 Mei 2015, pkl. 7:23




Rabu, Februari 18, 2015

Pernikahan di Mata Sufi

Judul: Obrolan Sufi
Penulis: Robert Frager, Ph.D.
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2013
Tebal: 395 hlm.


“Bagi seorang darwis, cinta merupakan salah satu sifat Tuhan paling penting. Kita ada di sini untuk saling mencintai dan memperlakukan pasangan kita sebagai kekasih. Barulah setelah itu kita dapat mulai memahami hubungan kita dengan Sang Maha Kekasih.” (hlm. 319)

Buku ini menjadi salah satu buku wajib yang harus saya baca berulang-ulang. Kesannya seperti lebay, tetapi mengingat kontennya yang sangat penting bagi hidup saya rasanya tidak berlebihan. Buku ini mempunyai daya gugah luar biasa, tidak hanya hanya pesannya tetapi juga penyampaiannya. Saya menjadikan buku ini semacam lonceng pengingat di kala “tertidur” untuk segera “bangun”. 

Salah satu ajaran tasawuf adalah mengelola ego (nafsu) dan memanifestasikan cinta (mahabbah). Dua hal ini menjadi nafas dalam buku yang ditulis Robert Frager ini, seorang pembimbing spiritual di California. Menurut Frager, ada dua ancangan untuk mengatasi dan mengendalikan ego, pertama, mengubahnya dan kedua “mengalahkannya”. Kedua hal itu dilakukan setiap saat, tak kenal waktu, karena manusia memiliki potensi untuk tergoda. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengendalikan ego.

Frager meminjam ilustrasi dari tradisi Buddha pada saat menjelaskan bagaimana cara menaklukkan ego. Sebuah patung Sang Buddha menduduki seekor binatang buas. Sang Buddha tidak  membunuh binatang tersebut tetapi duduk di atas dan mengendalikannya. Binatang buas itu merepresentasikan ego. Menurut Frager, nafsu tidaklah dibunuh, tetapi dikendalikan. Manusia tidak boleh membiarkan nafsu mengambil alih kendali. “Apa yang harus kita lakukan adalah melatih hewan buas itu dengan kasih sayang, cinta, dan pemahaman,” ujar Frager (hlm. 33). 

Buku ini agak unik dibandingkan dengan buku-buku tasawuf lainnya, karena ajarannya begitu membumi dan dapat dipraktikkan oleh siapa pun. Misalnya, salah satu materinya adalah perihal pernikahan. Bagi kaum sufi jarang sekali membahas tentang pernikahan, tapi Frager justru membahasnya dengan apik. Menikah, menurut Frager, adalah salah satu praktik dalam mengendalikan ego dan sekaligus memanifestasikan cinta.

Pernikahan berarti mencintai dan melayani satu sama lain. Dengan pelayanan yang ikhlas ego pun akan luluh. Tidak ada lagi “ke-Aku-an” dalam diri suami maupun istri. Pertengkaran hanya dijadikan bumbu penyedap saja, tidak pernah menyeriuskan masalah-masalah sepele. Bahkan kata Frager menyitir sufi lain, “Sebuah rumah tanpa pertengkaran yang kadang-kadang terjadi bagaikan pesta pernikahan tanpa musik” (hlm.  312).

Menurut Frager cinta merupakan sisi batiniah dan akad nikah adalah sisi lahiriahnya. Pernikahan adalah sebentuk ikatan kemitraan ruhani jangka panjang, sebuah kemitraan dalam perjalanan yang akan membawa kita kembali kepada Tuhan. Mencintai seseorang dan hidup bersamanya selama bertahun-tahun merupakan kesempatan besar untuk tumbuh dan mengembara bersama. Kita semua adalah pengembara di jalan Kebenaran. (hlm. 317)

Buku ini nyaman dibaca karena gaya penulisannya yang mengalir, naratif, dan tidak dijejali oleh istilah-istilah tasawuf. Layak dibaca oleh kalangan mana pun.[]

M. Iqbal Dawami, pegiat komunitas TADARUS BUKU, Pati. 

Jumat, Februari 13, 2015

Buku Masterpiece



Gila ya mereka bisa menulis sedetail itu. Yang  saya maksud mereka di sini adalah Philip K. Hitti dan Walter Isaacson. Tidak hanya detail tetapi juga tebal. Hitti menulis History of The Arabs dan Isaacson menulis Steve Jobs. Saya salut dengan mereka yang dapat menulis dengan sedetail dan setebal itu. Tak berhenti di situ, karya mereka juga mengalami cetak ulang berkali-kali. Ke depannya masih potensial untuk terus dicetak dan diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Philip K Hitti adalah sejarawan ternama tentang dunia Arab dan sarjana terkemuka. Ia seorang profesor sastra Semit dan ketua jurusan Bahasa dan Sastra Timur. Gelar doktornya ia dapatkan di Princeton University. Daniel Macmillan sebagai orang yang meminta Hitti untuk menulis buku tersebut pada tahun 1927. Draftnya baru selesai 3 tahun kemudian. Ketebalannya mencapai 981 halaman.

Terbit pertama kali pada 1937. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa seperti bahasa Arab, Spanyol, Urdu, Italia, Kroasia, Polandia, dan termasuk Indonesia (diterbitkan oleh Serambi). Buku tersebut melahirkan puluhan artikel ulasan dari para pakar di negara masing-masing.

Senada juga dengan Walter Isaacson. Bukunya dengan ketebalan 756 halaman, diproses bertahun-tahun. Ia melakukan wawancara lebih dari empat puluh kali dengan Jobs selama dua tahun, serta wawancara dengan seratus anggota keluarga, sahabat, musuh, pesaing, dan kolega Jobs. Walter adalah CEO Aspen Institute. Pernah menjadi pemimpin CNN dan manajer editor Time. Sebelumnya ia pernah menulis Einstein: His Life and Universe, Benjamin Franklin: An American Life, dan Kissinger: A Biography.

Saya belum punya data buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mana saja. Tapi yang jelas buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Edisi Indonesia sendiri sudah mengalami cetak ulang sebanyak 3 kali. Masih potensial untuk cetak ulang di bulan-bulan maupun tahun-tahun berikutnya. Karena ini adalah buku babon tentang Jobs. Tidak ada yang mampu menandingi kedetailannya.  

Barangkali kedua buku tersebut bisa dikatakan sebagai masterpiece. Masterpiece adalah karya agung yang selalu dikenang orang dan identik dengan penulisnya. Karyanya begitu melekat pada sang penulisnya. Kondisi buku Hitti dan Isaacson mirip juga dengan buku Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang berjudul Islam: Doktrin dan Peradaban. Tebalnya mencapai 612 halaman. Banyak orang menyebut buku ini sebagai masterpiece –nya Cak Nur, karena merekam pikiran-pikiran pentingnya. Buku ini juga hingga kini masih dicetak ulang.

Di antara buku masterpiece yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia adalah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah KacaKarya itu begitu melekat pada diri Pram. Ihya Ulumiddin, Muqaddimah, Al-Qanun Fiththib, adalah beberapa contoh kitab masterpiece dalam literatur keislaman klasik (turats). Masih banyak lagi buku-buku yang bisa dimasukkan kategori masterpiece.

Tidak ada batasan ajeg sebenarnya untuk menentukan kriteria buku masterpiece. Tapi paling tidak, kita dapat gambaran bagus bagaimana wujud buku masterpiece itu dengan melihat buku-buku yang saya sebut di atas. Mungkin kita bisa menakarnya apakah buku ini termasuk masterpiece atau bukan. Saya berharap penerbit terus menerbitkan buku-buku semacam ini.[]

M. Iqbal Dawami, bergiat di komunitas TADARUS BUKU

Surat untuk (Calon) Penulis

Pengalaman Menulis di Media Massa dan Penerbit
M. Iqbal Dawami§
Untuk sobatku yang sedang belajar menulis,

Saat menulis surat ini, hujan sedang turun dengan syahdunya. Malam terus merayap. Sayup-sayup suara murattal yang diputar adikku turut mengiringi pula tulisan ini yang ditujukan padamu. Ya, saya hendak berbagi pengalaman menulis baik di media massa maupun penerbitan. Semoga saja ada manfaatnya buatmu, sobat.

Untuk menjadi penulis baik di media massa maupun penerbit, kamu harus mengenal terlebih dahulu jenis tulisan apa saja yang ada di sana. Pada umumnya, media massa dan penerbit menerima tulisan berjenis: fiksi dan nonfiksi. Fiksi, misalnya, cerpen dan puisi (media massa), kumpulan cerpen dan novel (penerbit). Nonfiksi, misalnya, opini dan resensi (media massa), karya tulis ilmiah dan populer (penerbit).

Untuk mengenal karakter media massa kamu harus membaca korannya. Tidak ada cara lain. Tidak bisa menebak-nebak lewat perantara orang lain. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain orang, lain pula pengalamannya. Di antara ragam jenis tulisan itu, kamu boleh mencoba semuanya, dan boleh pula memilih salah satunya saja. Saya sendiri pernah mencoba semuanya, namun seiring waktu, saya memutuskan memilih jenis dan tema yang saya minati dan kuasai. Itu yang membuat saya bergairah menulis, karena disertai dengan penuh kesenangan, bukan keputusasaan.

Begitu juga dalam soal mengenal penerbit. Bacalah buku dari pelbagai penerbit. Bandingkan satu penerbit dengan penerbit lainnya. Pelajarilah. Setelah kamu mengkhatamkannya kamu akan bicara, “Mereka saja bisa menulis seperti ini, kenapa aku gak?” Setelah mengatakan demikian, tugasmu kemudian adalah membuktikannya. Jangan berhenti pada komentar tapi lanjutkan dengan pembuktian. Nah, itu lebih hebat.

Sobatku yang ingin menjadi penulis, 
Buku sudah menjadi kebutuhan saya sehari-hari, selain sandang, pangan, dan papan. Saya suka membaca buku-buku keislaman, manajemen, inspirasi, spiritual, dan dunia kepenulisan. Maka tak aneh tulisan saya juga kebanyakan di lingkaran itu. Saya cari pelbagai rubrik di media massa yang kira-kira berjodoh dengan tulisan saya. Akhirnya saya menemukannya. Di Republika saya mendapatkan rubrik Hikmah, di Jawa Pos saya mendapatkan rubrik Di Balik Buku. Beberapa kali tulisan saya dimuat di rubrik tersebut. Di antara surat kabar, Sindo adalah yang paling sering memuat resensi saya, selain Koran Jakarta dan Media Indonesia. Ya itu tadi, temanya (ditambah kekhasan tulisan) sesuai dengan saya.  

Jika saya disuruh memberikan saran kepada sahabat semua, maka inilah sarannya:

“Carilah media yang sesuai dengan jenis tulisan kalian. Tekunilah. Resensi saya membutuhkan 6 bulan untuk bisa dimuat di media massa nasional. Tidak ada jalan pintas. Nikmatilah prosesnya. Belajarlah pada “kegagalan” dimuat. Perbaiki lagi, kirim lagi, begitu dan begitu. Kalau itu dilakukan, maka hanya tinggal menunggu waktu saja tulisan Anda bisa dimuat. Musuh utama bukanlah orang lain, tapi hal yang ada di dalam dirimu, seperti malas dan tidak sabar.”

Dulu, saya adalah seorang predator buku. Semua buku saya lahap dan resensi. Kejar setoran dan kejar buku-buku gratisan adalah semboyan saya. Dulu yang saya raih adalah kuantitas. Produktifitas digenjot. Satu bulan bisa mencapai 5 buku yang diresensi. Kadang dimuat semua, tapi kadang pula tidak. Tapi kini  yang saya kejar adalah kualitas. Satu resensi bernilai lima resensi. Bagaimana caranya? Nanti saja saya terangkan. Saya hendak berbagi pengalaman menulis buku dulu.

Pada mulanya adalah membaca untuk meresensi. Ketika membaca buku, saya menandai hal-hal yang menarik. Ketika selesai membacanya, dua hal yang saya dapatkan: bahan resensi dan bahan buku. Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekali membaca buku, dua bahan tulisan saya dapatkan. Tak aneh kemudian sekitar 3 bulan saya bisa mengumpulkan tulisan untuk naskah buku. Setelah diolah dan matang, hal yang saya lakukan adalah mengirimnya ke penerbit. Cupid, Diva Press, Leutika, Elex Media, Qudsi Media, Erlangga, Grafindo, dan Gramedia Pustaka Utama adalah pelbagai penerbit yang telah menerbitkan buku-buku saya. Begitulah saya menulis buku.  

Mungkin timbul pertanyaan kamu, bagaimana teknik menulis resensi dan buku dengan bagus? Ah, itu tidak perlu saya terangkan. Saya hanya perlu menunjukkannya saja. Seperti halnya saya, kamu pun bisa mengikutinya. Saya meniru teknik menulis para penulis yang menurut saya bagus dan cocok dengan saya. Misalnya, J. Sumardianta, Gede Prama, Rhenald Kasali, Komaruddin Hidayat, Yudi Latif, Syafii Maarif, dan lain-lain. Perhatikan bagaimana cara mereka membuka tulisan, mengembangkan, dan mengakhiri tulisannya, lalu ikutilah.  

Begitulah sobat pengalaman singkat saya. Meski perjalanannya tidak sesingkat itu. Kuharap kalian semua bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya ini. Sebenarnya masih ada pengalaman lainnya yang belum saya bagikan, seperti saat menjadi editor di penerbit Bentang Pustaka, dan saat ini menjadi editor freelance dan menerbitkan buku-buku indie. Pada kesempatan lain saya akan bagikan, termasuk yang mungkin masih penasaran bagaimana caranya membikin satu resensi bernilai lima resensi, konkritnya bagaimana honor 500 ribu rupiah menjadi lima juta rupiah. 
Terima kasih. Selamat berlatih menulis, sobat.

Salam.
M.I.D




§ Penulis, peresensi, editor, dan pelatih kepenulisan. Buku terbarunya Hidup, Cinta, dan Bahagia (Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I Desember 2014). Email iqbal.dawami@gmail.com, Hp. 085729636582

Sabtu, Agustus 30, 2014

Leader 3.0.



Judul: Everyone Can Lead
Penulis: Hasnul Suhaimi
Penerbit: B-First
Cetakan: I, 2013
Tebal: xvii + 192 hlm.

Sejak menjabat sebagai CEO perusahaan telekomunikasi, Hasnul Suhaimi terus menunjukkan gebrakan mengejutkan. Ia memangkas tarif telepon seluler menjadi Rp 100/menit, menjadikan perusahaan tersebut sebagai bagian dari tren anak muda, dan melejitkan marjin keuntungan perusahaan. Banyak yang menyangka bahwa keberhasilannya itu berkat “tangan besinya” yang kokoh. Namun ternyata, orang-orang di sekeliling Hasnul membuktikan bahwa ia adalah sosok atasan yang hangat dan mau mendengarkan. Hasnul sukses menularkan semangat “coopetation”.

Dalam buku berjudul Everyone Can Lead ini Hasnul membeberkan rahasia kesuksesannya. Bagi Hasnul siapa pun bisa menjadi pemimpin. Seperti halnya dirinya yang mempunyai latar belakang orang biasa, ia bisa mencapai posisi pemimpin di perusahaan besar. Dia menjalaninya setapak demi setapak, dari titik terendah di sebuah perusahan. Kini ia menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia, dan sebelumnya pernah memimpin beberapa perusahaan telekomunikasi terkemuka lainnya.

Menurut Hasnul seorang pemimpin biasanya memiliki kualitas tertentu di dalam dirinya yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya iktikad dan niat sungguh-sungguh untuk menjadi pemimpin maupun naluri bawaan bagi mereka yang terlahir lengkap dengan kualitas ini dalam dirinya. Sementara itu, faktor eksternal dapat berupa pola pengasuhan dalam keluarga, dorongan dari kelompok, serta kondisi genting.

Kualitas diri yang berkolaborasi dengan kedua faktor ini kemudian melahirkan karakter pemimpin. Contohnya, ada seseorang yang memiliki potensi menjadi pemimpin, mampu berpikir cepat dalam menyelesaikan masalah, tetapi tak terlalu percaya diri untuk speak up. Ketika ia didukung oleh lingkungan oleh lingkungan yang memercayai kemampuannya, lalu ia sendiri mendorong dirinya untuk mengasah kemampuan people management dan public speaking misalnya, ia tengah menjejaki anak tangga kepemimpinan.

Hasnul memberikan teladan konkrit. Paling tidak ada dua hal contoh hasil kepemimpinannya, yaitu membuat satu kode yang sama untuk semua operator. Jika pelanggan mau mengaktifkan RBT, tak perlu lagi ribet. Kita tinggal mengaktifkan satu kode, tidak peduli apa pun operator selulernya. Prinsip satu kode untuk semua ini memudahkan operator karena tak akan ada lagi macam-macam kode berjubel dalam iklan. Pemilik lagu pun akan diuntungkan karena dengan sekali pasang iklan ia sudah bisa menjangkau pelanggan dari semua operator seluler.

Contoh kedua, pembangunan tower pemancar base transceiver station (BTS). Satu tower dipakai secara berjamaah oleh banyak operator. Biaya pembangunan tower bisa dipapras, biaya operasional bisa dipangkas, dan ‘mengembalikan keindahan kota’ pun jadi tujuan pamungkas.

Melihat keberhasilan itu saya sepakat dengan komentar Hermawan Kartajaya dalam endorsement buku ini, yang mengatakan, “Buku ini menunjukkan bahwa Hasnul Suhaimi adalah Leader 3.0.”

@iqbalsheldon