Sabtu, Oktober 29, 2011

Belajar dari Bangsa Jepang


Judul: Ganbatte! Meneladani Karakter Tangguh Bangsa Jepang
Penulis: A.A. Azhari
Penerbit: Grafindo
Cetakan: I, Juni 2011
Tebal: 238 hlm.

Sedari dulu kita sudah mafhum kalau bangsa Jepang memang sungguh digdaya. Hampir semua lini mengalami kemajuan, dari waktu ke waktu. Dari teknologi, budaya, ekonomi, hingga sastra. Mereka sudah bisa bersaing dengan Barat. Salah satu faktornya sebagaimana dibahas dalam buku ini, yakni semangat belajar atau menuntut ilmu.

Sudah sejak Restorasi Meiji, bangsa Jepang mendapat mandat untuk menuntut ilmu sampai kemana pun untuk meraih kemajuan. Mereka rela melakukan apa pun demi meraih ilmu. Tidak heran di Jepang ada pepatah: sinu made, benkyo (sampai mati, harus belajar).

Karena itu, orang Jepang sangat gemar membaca. Mereka membaca selain untuk menambah ilmu, juga buat hiburan yang mengurangi stress. Di mana pun orang Jepang dapat membaca, termasuk di dalam kereta dan bus. Menurut Simon J. sibarani, seorang konsultan sumber daya manusia yang beberapa kali ke Jepang, di sana pengarang atau penulis buku termasuk kelompok masyarakat yang ekonominya paling makmur karena buku sangat laku. Maka, harga buku pun bisa murah dan terjangkau.

A.A. Azhari, penulis buku ini pernah mengunjungi daerah Kanda-Jimbocho. Kanda-Jimbocho adalah kawasan buku yang dimulai pada masa Restorasi Meiji tahun 1889-an. Sejumlah besar toko di Kanda-Jimbocho telah ada selama dua atau tiga generasi. Toko-toko buku tersebut memiliki jaringan yang kuat dengan usaha sejenis di berbagai negara.

Dan tradisi penerjemahan di Jepang sudah ada jauh sebelum Restorasi Meiji. Pada tahun 1684 dibentuk lembaga penerjemahan kekaisaran. Tugasnya menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Jepang. Namun, sebelum Restorasi Meiji masih sangat sedikit orang Jepang yang mempelajari bahasa asing, apalagi diperbolehkan ke luar negeri, sehingga penerjemahan pun terbatas. Setelah Restorasi Meiji, khususnya pada abad ke-19, penerjemahan di Jepang makin luas dan meningkat sampai saat ini. Tidak heran jika terdapat sebuah buku terbit di Barat, di Jepang dalam sepekan saja sudah tersedia terjemahannya.

Ini bermula dari kesadaran yang dini. Bangsa Jepang sudah sadar dari awal kalau mereka tertinggal dalam ilmu pengetahuan dibanding Barat. Karena itu, mereka rela meniru produk-produk Barat dan mencari tahu ilmu itu. Sejak Restorasi Meiji 1868 banyak pelajar dikirim ke luar negeri untuk mempelajari aneka ilmu yang diterapkan di Jepang. Memang, Jepang bukan bangsa penemu, namun mereka mampu menyempurnakannya. Saat di dunia Barat telah ditemukan radio, televisi, tape rekoder, dan sebagainya, bangsa Jepang pun membelinya. Tapi tak sekadar membeli, mereka meniru dan membuat barang serupa lebih bagus, bahkan lebih canggih lagi.

Azhari memberi contoh perusahaan Sony. Perusahaan elektronik itu memproduksi walkman yang membuat siapa saja dapat menikmati musik sambil jalan-jalan. Walkman sekadar memodifikasi dari tape rekorder ukuran besar yang telah diproduksi di negara-negara industri lain. Itu membuktikan, Jepang tidak sekadar mengikuti trend atau selera pasar, tapi juga menciptakan trend dan pasar sendiri.

Tak heran Jepang menguasai ilmu dan teknologi. Kemampuan mereka membuat produk made in Japan yang berkualitas adalah berkat usaha keras dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dasar, seperti fisika, matematika, kimia, dan biologi. Penguasaan ilmu-ilmu dasar itu membuat Jepang unggul dalam ilmu-ilmu terapan di bidang elektronika, robotika, serta home-entertainment and appliance. Sebagai akibatnya, tidak mengherankan jika Jepang memegang peranan yang penting dalam menentukan ekonomi dunia. Jumlah ekspor hasil produk teknologinya boleh dikatakan mendominasi pasaran dunia terutama dalam bidang elektronika. Sebut saja merek-merek kelas dunia made in Japan seperti Sony, Panasonic, Mitsubishi, Honda, Toyota, Suzuki, Madza, Nissan, Isuzu, Hino, Nikon, Canon, Yamaha, Toshiba, dan Sanyo.

Filosofi Ganbatte
Ada satu falsafah Jepang yang menjadi ruh bangsanya, yaktu Ganbatte. Ganbatte mengumpulkan tiga arti, “lakukan sebaik mungkin”, “jangan menyerah”, dan “berikan usaha terbaik”. Kata dasar ganbatte adalah ganbaru. Jika dalam pergaulan sehari-hari khususnya pada teman dekat banyak diucapkan, “Ganbare!”

Filosofi ganbatte sungguh dahsyat. Kata ini sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Ganbaru sendiri artinya “berusaha keras pada tugas sampai tugas itu selesai”, dengan kata lain “berusaha keraslah hingga mencapai sukses”.

Sejak kecil, anak-anak di Jepang sudah diajarkan tentang filosofi ganbaru ini. Kalau mengikuti lomba, mereka saling berkata, “Ganbaru!” kalau mau ujian, mereka juga berkata, “Ganbaru!” mau ke sekolah, bekerja, mereka saling berkata, “Ganbaru!” Ganbaru menyuruh bangsa Jepang tidak mudah menyerah sampai detik-detik terakhir. “Doko made mo nintai shite doryoku suru.” (Bertahan sampai ke mana pun juga dan berusaha habis-habisan.

Itulah mengapa Jepang menjadi raksasa mendunia saat ini. Mereka menjadi bangsa yang kuat baik dalam meraih impiannya maupun dalam gempuran pelbagai cobaan, seperti gempa bumi, tsunami, bahkan bom atom sekalipun. Saatnya bangsa Indonesia belajar dari bangsa Jepang. Sekarang juga.[]

M. Iqbal Dawami
Pencinta buku, penulis Sang Pengubah Mitos (2010)

Jumat, September 23, 2011

Pengaruh Internet Terhadap Dunia Literasi


Judul: The Shallows; Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?
Penulis: Nicholas Carr
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Kaifa
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 279 hlm.

The Shallows secara harfiah menyiratkan orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh internet. Kalangan ini lalu dicirikan sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan lama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang lama dan yang bertele-tele sudah tidak mendapat tempat lagi. Begitu komentar Ninok Leksono, rektor Universitas Multimedia Nusantara, atas buku ini.
 

Nicholas Carr, penulis buku ini merasakan beberapa tahun merasa seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak dan memetakan kembali sirkuit saraf, serta memprogram ulang memorinya. Pikirannya tidak hilang namun berubah. Cara berpikirnya tidak seperti dulu lagi. Dia merasakan terutama saat membaca. Dia bercerita kalau dulu dia begitu mudah tenggelam ke dalam buku atau artikel yang panjang. Pikirannya akan hanyut ke dalam seluk-beluk cerita atau pendapat, dan dia biasa menghabiskan berjam-jam untuk membolak-balik lembaran prosa. Kini, tidak demikian. Konsentrasinya mulai hilang setelah satu atau dua halaman. Dia mulai gelisah, kehilangan fokus, dan mulai mencari-cari aktivitas lain.
 

Tak lain semua itu disebabkan Internet, ujar Carr. Internet memang menjadi media serbaguna, saluran bagi sebagian besar informasi yang mengalir melalui mata dan telinga ke pikiran kita. Anugerah tersebut memang benar. Namun ada harga yang harus dibayar. Internet mengikis kemampuan kita berkonsentrasi dan merenung.
 

Saat kita bermain-main internet selama beberapa jam, kita merasa pikiran kita begitu gembira, kita merasa seperti lebih pintar. Perasaan ini begitu memabukkan sehingga bisa membuat kita tak memedulikan dampak kognitif yang lebih dalam dari Internet.
 

Carr mengisahkan bahwa selama lima abad terakhir, semenjak mesin cetak Gutenberg membuat membaca buku menjadi sebuah keasyikan umum, pikiran linear dan sastra telah menjadi inti dari seni, ilmu, dan masyarakat. Dengan lentur dan lembut, pikiran semacam ini telah menjadi pikiran imajinatif di Masa Renaisans, pikiran rasional di Masa Pencerahan, pikiran inventif di Masa Revolusi Industri, dan pikiran memberontak di Masa Modernisme. Tidak lama lagi pikiran linear mungkin akan menjadi pikiran yang ketinggalan zaman.
 

Otak menuntut untuk diberi makan seperti yang dilakukan Internet—dan semakin banyak otak diberi makan, semakin lapar dia. Bahkan ketika kita jauh dari komputer, kita rindu sekali untuk memeriksa e-mail, mengklik link, dan googling. Kita ingin terhubung. Seperti halnya Microsoft Word telah mengubah kita menjadi pengolah kata yang memiliki daging dan darah.
 

Uskup Zaman Pertengahan bernama Isaac, dari Suriah, menjelaskan bagaimana, setiap kali dia membaca, “bagaikan di alam mimpi, saya memasuki kondisi saat indra dan pikiran saya menyatu. Lalu, seiring semakin lamanya keheningan ini kekacauan ingatan di dalam hati saya lenyap, gelombang kegembiraan yang terus-menerus bergolak dikirimkan kepada saya oleh pikiran dalam, yang di luar dugaan tiba-tiba hadir untuk membahagiakan hati saya.” Membaca buku adalah sebuah tindakan perenungan, namun tidak melibatkan pengosongan pikiran.
 

Kemajuan teknologi buku mengubah pengalaman personal membaca dan menulis. Kemajuan ini juga memiliki dampak sosial. Dengan cara yang tak kentara maupun yang mencolok mata, budaya yang lebih luas mulai terbentuk dari praktik membaca buku tanpa bersuara. Hakikat pendidikan dan keilmuan berubah, saat universitas mulai menekankan membaca secara pribadi sebagai pelengkap penting dalam ceramah di kelas.
Saat nenek moyang kita menenggelamkan pikiran mereka secara disiplin untuk mengikuti sebaris pendapat atau cerita melalui rangkaian halaman cetak, mereka menjadi lebih kontemplatif, reflektif, dan imajinatif. Heningnya membaca secara mendalam menjadi bagian dari pikiran.
 

Buku-buku yang dianggap paling berpengaruh dari abad kesembilan belas adalah On the Origin of Species karya Darwin. Sedang di abad kedua puluh, etika sastra mengalir melalui buku-buku yang sangat beragam seperti Relativity karya Einstein, General Theory of Employment, Interest and Money karya Keynes, Structure of Scientific Revolutions karya Thomas Khun, dan Silent Spring karya Rachel Carson. Semua prestasi intelektual penting ini takkan mungkin terwujud tanpa adanya perubahan dalam aktivitas membaca dan menulis—dan memahami dan berpikir—yang didorong oleh reproduksi efisien atas bentuk tulisan pada halaman cetak yang panjang. Semua karya yang disebut di atas adalah hasil deep reading (membaca secara mendalam). Bisakah jaman “Internet” ini menghasilkan karya-karya semacam itu?
 

Buku ini layak dibaca untuk mengetahui dampak Internet atas cara berpikir kita dan mewaspadai agar kita tidak dikendalikan oleh Internet, melainkan sebaliknya, mengendalikannya.
 

Sebuah sajak yang digubah Wallace Stevens mengemukakan penggambaran yang amat mengena mengenai pentingnya membaca secara mendalam: Rumah ini hening dan dunia ini tenang.//Pembaca menjadi buku; dan malam musim panas//Seperti nyawa buku itu.//Rumah ini hening dan dunia ini tenang.//Kata-kata diucapkan seolah tidak ada buku,//Kecuali jika pembaca membungkuk di atas halaman,//Ingin membungkuk, sangat ingin menjadi//Cerdik pandai yang baginya bukunya adalah kebenaran, yang baginya//Malam musim panas seperti kesempurnaan malam.//Rumah ini hening karena memang harus begitu.//Keheningan adalah bagian dari makna, bagian dari pikiran://Jalan kesempurnaan menuju ke halaman.[]
 

M. Iqbal Dawami, aktif  di dunia literasi, tinggal di Yogyakarta

Refleksi Kehidupan Sehari-Hari


Judul: Merajut Kata-Kata
Penulis: Stephie Kleden-Beetz
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2011
Tebal: 159 hlm.

Merefleksikan hidup sungguh mulia. Refleksi itu mampu menyadarkan diri kita kepada hakikat, baik hakikat kita sebagai hamba Tuhan, maupun sebagai makhluk sosial (homo hominilupus) dan berpikir. Meski begitu, tak banyak orang melakukannya. Entah karena sibuk, maupun tak bisa menyempatkan diri untuk bertafakur.
 

Karena itu apa yang dilakukan Stephie Kleden yang terejawantahkan dalam buku ini sungguh terpuji, di mana ia melakukan kerja refleksi atas apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi apa yang direfleksikannya pernah kita alami juga, hanya saja kita tak pernah merefleksikannya.
 

Dalam judul “Ajaib”, misalnya, Kleden bercerita perihal menu makan yang super lezat dan bergizi di meja makannya. Menu lezat di meja makan membuatnya  merenung. Berapa ribu tangan yang harus bekerja sebelum nasi ini terhidang di atas meja makan. Berapa banyak nelayan yang tekun menanti ikan sebelum ikan goreng ini bisa dinikmati. Tentu petani sayur harus menanam, menunggu dengan sabar, menyiangi, memanen, memikulnya ke pasar, dan sekarang sayur ini tersaji di meja. Jangan lupa pula garam. Tanpanya, semua hambar. Betapa panjang jalannya sebelum tiba di dapur (hlm. 8-9).
 

Jarang sekali orang bisa berpikir sampai kesitu, terlebih di lingkungan yang serba hedonis dan kemurungsung (tergesa-gesa). Apa yang kita santap di meja makan sesungguhnya melibatkan banyak orang. Bahkan, tidak hanya itu, hampir di semua bidang melibatkan banyak sentuhan manusia. Barangkali pesan yang hendak disampaikan lewat refleksi “hidangan di meja makan” tersebut adalah bahwa kita harus mampu menghargai dan mensyukuri atas apa yang kita dapatkan. Tanpa ada petani, peternak, pedagang, dan sebagainya, kita tidak bisa menyantap makanan. Maka dari itulah kita harus pandai berterima kasih.
 

Refleksi Stephie juga menyentuh pada dimensi spiritual. Misalnya, tentang gelas kepunyaannya. Gelas itu dibuatnya sendiri di pabrik gelas di Cekoslovakia. Ketika dibawa ke Malang, gelas itu pecah. Stephie Sedih. Dan akal sehatnya mencoba menghibur. “Ah, tak perlu berlama-lama menyesal, karena siapa tahu dengan pecahnya gelas tersebut kita diingatkan bahwa semua di bumi ini fana adanya, maka kita senantiasa diajak untuk mencari yang abadi, yaitu Allah Pencipta. Memang gelas bisa dibeli di mana saja, tetapi berbeda, karena setiap benda punya riwayat dan menyimpan kenangan tersendiri,” ujar Stephie (Hlm. 30). Dia juga menyitir pepatah Jerman: Glueck und Glas wie leicht bricht das (Kebahagiaan dan kaca betapa mudah pecah).
 

Usaha refleksi Stephie sesungguhnya memberikan faedah yang luar biasa, salah satunya adalah membuat kita tetap waras dalam mengarungi hidup ini. Bayangkan setiap hari kita selalu disuguhkan pelbagai peristiwa baik secara langsung bergesekan dengan diri sendiri maupun tidak. Dan peristiwa itu memancing kita untuk bereaksi, apakah secara positif, negatif, maupun biasa-biasa saja. Namun, dengan merefleksikan peristiwa tersebut akan selalu membuat kita sadar, bahwa sesungguhnya semua peristiwa itu membawa pesan, hikmah, serta pelajaran.
 

Maka saya mengamini komentar Martin L. Sinaga dalam Kata Pengantar buku ini bahwa keunikan tulisan Stephie adalah mempunyai pesan mendalam dan baru. Tulisannya tampak seperti kupu-kupu, yang hanya bisa terbang atau bernas kalau ia menempuh momen bergulat dalam kepompong kehidupan.
 

Buku yang terdiri dari tiga bab ini, yaitu Rasa, Pikir, dan Hidup, banyak kisah memukau yang menjalin jalan ke dalam hati saya. Saya tersentuh. Buku ini seolah mengajak saya untuk beristirahat sejenak, merenung, dan bersyukur atas karunia hidup ini, contemplatio ad amorem—permenungan yang sampai menyentuh perasaan syukur dan cinta.
 

Membacanya dari halaman ke halaman, ada ekstase untuk terus mereguknya.

M. Iqbal Dawami
Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta 

Pengusaha Sukses Wanita Muda


Judul: A Gift A Friend; Dari Sekolah Ke Dunia Bisnis
Penulis: Merry Riana & Alva Tjenderasa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 255 hlm. 


Di usia yang masih muda (26 tahun), Merry Riana telah mencapai banyak kesuksesan, bahkan lebih daripada yang pernah dicoba untuk dilakukan oleh orang-orang yang usianya dua kali lipat darinya. Dia telah memenangkan berbagai penghargaan dan memecahkan rekor industri dari waktu ke waktu.
 

Dalam beberapa tahun terakhir, Merry telah mengembangkan organisasinya, MRO (Merry Riana Organization), sehingga sekarang beranggotakan lebih dari 50 orang. Semua anggotanya adalah profesional muda yang luar biasa, yang percaya akan visinya dan telah bekerja bersama dengannya untuk mencapai impian mereka bersama.
 

Pada saat ini Merry memiliki dan mengelola beberapa bisnis di industri yang berbeda, yaitu di bidang jasa keuangan, bidang seminar & pelatihan, dan bidang nonprofit. Melalui organisasinya, MRO, Merry memperluas jangkauannya bahkan sampai lebih dari bisnis-bisnisnya saat ini, dengan menggunakan semangat, hasrat, dan keahlian bisnis yang sama, yang telah membuat usaha-usaha sebelumnya sukses di Asia. MRO berbasis di Singapura, tempat dia saat ini berada.
 

Melalui buku ini Merry Riana hendak menghilangkan persepsi bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai di usia muda. Merry percaya bahwa koneksi yang tepat dapat mempercepat pencapaian tujuan. Dia membangun jaringan koneksinya untuk membantu perkembangan bisnisnya sehingga dapat menciptakan kesuksesan seumur hidup. Jaringan koneksi ini membantunya menggapai kesempatan-kesempatan emas.
 

Merry mulai berangan-angan mengenai masa depannya ketika sedang kuliah. Merry sadar bahwa dirinya sudah hampir berumur 20 tahun dan orangtuanya sudah berada di usia 50-an. Melihat bagaimana mereka masih harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, menyimpan uang yang cukup untuk hari tua mereka, membuat Merry berpikir. Jika dirinya sukses suatu hari nanti, dia ingin sukses ketika masih muda, sebelum ulang tahun ke-30, bukan ketika dia berumur 40-50 tahun.
 

Teman-temannya mengira dirinya sudah gila ketika dia memberitahu mereka mengenai ide berwirausaha setelah dia lulus. Sebagian besar mereka, yang tidak begitu akrab dengannya, berpikir bahwa dia terpaksa menjadi seorang pengusaha karena dia tidak mendapatkan lowongan pekerjaan yang baik. Mereka yang mengenalnya lebih dekat mengerti bahwa alasan dia memilih jalan kewirausahaan adalah karena impiannya.
 

Merry berpikir bahwa untuk membangun suatu bisnis yang sukses, dia harus memiliki komponen 3 C: Capital (Modal), Contacts (Koneksi), dan Capability (Keahlian). Dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam buku ini, Anda akan dapat meniru kesuksesan yang telah Merry capai dalam hidup, dengan cara yang mudah dan pasti. 

Tujuan buku ini adalah membagi pengalamannya tentang perbedaan apa yang mengubah hidup dia menjadi lebih baik. Harapannya yang terdalam, Anda bisa menemukan strategi dan filosofi yang dibagikan dalam halaman-halaman buku ini dan menguatkan Anda sebagaimana strategi dan filosofi itu telah menguatkannya. Kekuatan yang secara ajaib dapat mengubah hidup menjadi impian terbesar sedang menunggu kita. sekaranglah waktu untuk mewujudkannya. Dan itu dimulai dengan membaca buku ini.


Senin, April 11, 2011

Perjalanan Mencari Jati Diri


Judul Buku: Ziarah (The Pilgrimage)
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Eko Indriantanto
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2011
Tebal: 263 hlm.

Pada tahun 1986, Paulo Coelho menetapkan untuk ziarah ke Santiago de Compostela, Spanyol. Dia meyakini bahwa ada sebuah rahasia, cara yang misterius, dan orang-orang yang mampu memahami dan mengendalikan sesuatu. Perjalanannya memberinya wawasan dan pengalaman. Paulo mengalami perubahan saat ia belajar untuk memahami sifat kebenaran melalui kesederhanaan hidup.

Dia menceritakan malam pertama ketika ia mengalami sensasi yang belum pernah dialami sebelumnya, dan malam berikutnya ketika dia menangis dengan sukacita. Sepanjang ziarahnya, Paulo Coelho punya pemandu perjalanan. Pemandunya ini menjelaskan kepadanya bahwa perjalanan ziarah seperti kelahiran kembali, karena para peziarah bertemu dengan situasi baru setiap hari, sebagian besar waktu mereka bahkan tidak mengerti bahasa yang diucapkan di sekitar mereka. Jadi dengan cara itu, mereka semua seperti anak-anak yang baru saja lahir.

Dalam ziarah ini, Coelho menceritakan percobaan spektakuler yang menuntunnya untuk menemukan kekuatan pribadi, kebijaksanaan, dan pedang ajaib yang berinisiasi ke dalam masyarakat Tradisi. Dengan mentor misterius bernama Petrus, ia mengikuti jalan legendaris yang ditempuh oleh peziarah San Tiago sejak Abad Pertengahan, menghadapi berbagai cobaan. Pengalaman Coelho dan ajaran mentornya memberikan kebijaksanaan ruhani yang menyatakan dirinya sebagai tujuan sebenarnya dari perjalanan yang mengasyikkan.

Dalam novel ini ditunjukkan perihal cinta, bahwa cinta bisa membuat kita lebih kuat dan inilah kekuatan yang memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang tepat pada waktu yang tepat. Pencarian kebenaran yang dipersamakan dengan pencarian pribadi untuk makna, untuk hal-hal yang kita butuhkan dalam hidup seperti kebenaran, cinta, antusiasme, dan spiritualitas.

Novel ini terbit sebelum The Alchemist yang legendaris itu. Novel ini mentahbiskan diri Coelho sebagai novelis yang identik dengan muatan spiritualitas dan pencarian jati diri. Saya senada dengan Free Time, media massa Rusia, yang berkomentar bahwa karya-karya Coelho mengguncangkan kepercayaan yang umum berlaku dan membuat para pembacanya merenungkan kembali tentang siapa dirinya, apa yang diinginkannya, serta keberadaannya di dunia.”

Novel ini sejatinya diambil dari catatan harian pribadinya selama menjalani ziarah spiritual dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis sampai ke kota Santiago de Compostela di Spanyol.[]

M. Iqbal Dawami, penikmat sastra

Minggu, Maret 06, 2011

Menjadi Cracker

Dimuat di Seputar Indonesia, 20 Februari 2011


Judul: Cracking Zone
Penulis: Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: 356 halaman

AWAL tahun ini Rhenald Kasali kembali merilis buku berjudul Cracking Zone. Buku tersebut masih dalam tema “perubahan”yang selalu digagas di setiap bukunya.Perubahan kali ini menyoal era digital.

Rhenald menulis buku ini berdasarkan hasil penelitiannya selama satu tahun. Dia membentuk tim yang terdiri atas delapan orang. Setiap orang memulai pekerjaannya dengan membaca segala kajian, data, dan kejadian-kejadian penting yang melibatkan aktivitas masyarakat Indonesia. Pembahasan buku tersebut diawali dengan fenomena yang terjadi pada saat ini, baik secara mikro maupun makro, bahwa sistem telekomunikasi yang semakin canggih telah mengubah gaya hidup manusia.Tantangan,ancaman, dan peluang berjalan beriringan. Fenomena itu memunculkan sebuah generasi bernama Gen-C.

Gen-C,menurut penelitian Dan Pankraz (Australia) bisa berarti content, connected, digital creative, co-creation,customize,curiosity,dan cyborg.“C” bisa juga berarti cyber, cracker, dan chameleon (bunglon) [hlm 43]. Rhenald memberikan contoh bahwa gadis-gadis di Jakarta banyak sekali ingin dipotong rambutnya seperti potongan Lady Gaga, penyanyi barat. Hal itu pengaruh dari video klip Lady Gaga dalam album Paparazzi,yang telah diunduh lebih dari 250 juta orang di seluruh dunia. Itulah sekelumit potret kecil remaja kelas menengah Jakarta yang merupakan bagian dari komunitas global yang dapat disebut generasi terkoneksi (connected generation/ Gen-C).

Generasi ini selalu terhubung melalui telekomunikasi, baik melalui telepon seluler— ponsel—(sms dan telepon) maupun internet (e-mail,googling,Facebook, Twitter, Youtube, dan lainlain). Pertukaran informasinya begitu cepat. Nah, akibat adanya generasi terkoneksi itu memunculkan sesuatu yang disebut cracking zone, yaitu sebuah retakan (baca: peluang) yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.Retakan peluang itu tidak tertangkap semua orang. Retakan itu hanya berlaku bagi mereka yang mampu melihat dan memanfaatkannya.

Merekalah yang disebut sebagai crackers. Cracker(s) muncul dalam suasana transformatif yang menimbulkan banyak perubahan.Namun karena jeli melihat peluang dari retakan,mereka pun menciptakan retakan-retakan baru. Mereka memecahkan kode-kode baru, membentuk bingkai peluang yang mereka batasi sendiri waktunya dalam durasi yang pendek agar peluang itu tidak tercecer ke tangan pesaing-pesaingnya (Bab 10). Karena itu,cara yang mereka tempuh terasa menghentak dan sulit diterima mereka yang tidak mampu membaca tanda-tanda cracking zone(Bab 1–Bab 3) [hlm 13]. Mark Zuckerberg adalah contoh nyata pengusaha yang sukses melakukan cracking zone dan memiliki breakthrough yang mencengangkan pada produknya.

Setelah Facebook mengundang pihak ketiga untuk beriklan dan melakukan pemasaran via situs ini pada Mei 2007,jumlah produk yang beriklan terus meningkat.Konon ada 140 aplikasi baru yang dilengkapi pesan-pesan sponsor setiap harinya. Dalam ranah industri, cracker merupakan orang yang memperbarui industri. Dia bukan sekadar leader yang melakukan transformasi. Karena itu,wajar jika dia disegani (baca: dimusuhi dan dicemburui) kompetitor-kompetitornya. Sementara di dalam perusahaannya, dia juga ditakuti (baca: diserang) sekelompok orang yang ingin mempertahankan kondisi comfort zone. Cracker bekerja lebih berat dari rata-rata leader. Sebab, dia membongkar tradisi industri dan persaingan [hlm 43]. Cracker tidak menganut asas wait and see, tetapi segera bertindak. Membaca buku ini para pembaca akan melihat pelaku-pelaku cracking zone, baik korporat maupun personal.

Dari Kucing Menjadi Citah
Adanya baby boom dari generasi Gen-C, mau tak mau Indonesia juga harus mengimbanginya dengan Gen-C lain, yaitu generasi Crackers. Ketika orang-orang di seluruh dunia terkoneksi internet dan smartphone, seharus muncul juga crackers leadership yang dapat memanfaatkan peluang itu. Crackers ini diharapkan dapat mengubah wajah industri Indonesia. Namun, kata Rhenald, DNA (baca: karakter) pemimpin maupun manajer Indonesia masih memakai DNA kucing yang terkesan lambat, malas, dan gemar berwacana, bukan beraksi.Indonesia ahli pada formula, tetapi lemah dalam tindakan dan koordinasi.

Budaya Indonesia masih budaya kucing. Budaya yang hanya menunggu diberi makan dan baru bergerak saat sudah ada makanan. Mestinya, kita memakai DNA citah. Citah masih anggota keluarga kucing,tapi berburu mangsa dengan kecepatan dan tidak bergerombol. Hewan ini adalah hewan yang tercepat di antara hewan darat. Ciri-ciri pemimpin calon cracker salah satunya adalah memiliki personal branding yang kuat. Presiden Brasil periode 2003–2010, Luiz Inacio Lula da Silva,misalnya, dia mengubah Brasil dengan etos pekerjanya dan fokus pada ketahanan energi. Sementara di Indonesia, Rhenald memberi contoh CEO XL Hasnul Suhaimi. Dia merupakan orang yang memerdekakan industri telekomunikasi Indonesia.

Rhenald banyak memberikan contoh konkret korporat maupun personal yang menganut crackers leadership seperti Air Asia,Apple, Nexian Binus, BSI, J.Co, Facebook, Crocs,dan lain sebagainya. Buku ini dapat menginspirasi dan membekali Anda yang tertarik melakukan perubahan. Semua orang memiliki potensi sama untuk memajukan negeri ini. Buku ini juga berhasil membingkai berbagai kejadian dan fakta-fakta baru untuk memberikan kekuatan bagi Anda yang ingin bangkit, beradaptasi, dan melakukan cracking.(*)

M Iqbal Dawami,
Direktur Iqro Corporation 

Minggu, Februari 06, 2011

Novel yang Memikat




Judul : The Iron King
Penulis : Julie Kagawa
Penerjemah : Angelic Zaizai
Penerbit : Kubika
Cetakan : I, Desember 2010
Tebal : 462 Halaman

THE IRON KING adalah novel pertama yang baik dan menarik untuk sebuah novel berseri—seri The Iron Feydengan karakter bagus, romansa apik, dan plot cepat—penuh intrik, membuat Anda membolak-balik halaman sampai halaman terakhir tanpa terasa. Saya pikir pembaca dari segala usia cocok untuk membacanya. 

Meghan Chase memiliki takdir tersembunyi. Sejak ayahnya menghilang ketika ia berusia enam tahun, hidupnya merasa tidak beres. Dia tidak pernah benar-benar bahagia baik di sekolah maupun di rumah. Dalam kesehariannya seperti ada orang asing yang mengawasinya, baik ketika berangkat sekolah maupun pulang sekolah. Seringkali dia mendapat penjelasan dari Robby, temannya, tapi dia tidak percaya.

Puncak keanehannya adalah pada saat tepat usianya yang ke-16. Waktu itu adiknya bernama Ethan diculik, dan dari situlah Meghan ditarik ke dalam dunia fantasi yang hanya bisa ditemukan dalam dunia mitologi. Dia harus menyelamatkan adiknya ke negeri Nevernever. Dia tidak pernah membayangkan bisa masuk ke dalam dunia Faeryland. Akhirnya dia menyadari bahwa dirinya merupakan putri dari Raja Faery Musim Panas.

Tidak hanya itu, dia juga merupakan pion dalam perang mematikan. Banyak yang menginginkan dirinya. Petualangannya dalam menyelamatkan Ethan ditemani Robby—sahabatnya, Grim—si kucing cerdas, dan Ash—pangeran Istana Musim Dingin. Sedikit-banyak di antara mereka terjadi cinta segitiga. Meghan mencintai Robbie, dan juga pangeran Fey, Ash. Tapi, sayang, emosi di antara ketiganya kurang dieksplorasi lebih dalam oleh penulis novel ini.

Dunia para Fey menyeret saya ke titik di mana saya tidak ingin berhenti membacanya. Setiap karakter dikembangkan sangat baik dan saya terkejut betapa saya menyukai mereka masing-masing. Salah satu tokoh favorit saya adalah Grim, si kucing yang berbicara, yang mengingatkan saya pada The Cat Cheshire dari petualangan film Alice in Wonderland. Ah, jadi tidak sabar ingin membaca seri keduanya, The Iron Daughter.[]

M. Iqbal Dawami, blogger buku di http://resensor.blogspot.com/. Email: shiva.awamy@gmail.com

Kamis, Januari 20, 2011

Cinta-Syukur Sumber Kekuatan


Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu, 16 Januari 2011

Judul: The Power
Penulis: Rhonda Byrne
Penerjemah: Rani Moerdiarta
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2010
Tebal: 290 hlm

ADA dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini,yaitu cinta dan syukur. Oleh keduanya,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa.

Setelah debut buku pertamanya The Secret (2007) berhasil menjadi Mega Bestseller, kali ini Rhonda Byrne membuat sekuelnya berjudul The Power (2010).Walau titik tekannya berbeda, tapi benang merahnya sama, yaitu perihal hukum magnetik—tarik-menarik (Law of Attraction). Rhonda sangat yakin bahwa hukum tarik-menarik tak pernah gagal memberi kita setiap hal dalam hidup kita berdasarkan yang kita ungkapkan. Kita menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup kita, berdasarkan pikiran dan perasaan yang kita ungkapkan. Dalam The Secret Rhonda mengungkapkan rahasia orangorang sukses di masa lalu dengan hukum tarik-menarik (the law of attraction).

Dia membahas 24 pembicara kelas dunia untuk mengupas hukum tarik-menarik itu perihal menyembuhkan penyakit, mendapatkan kekayaan, mengatasi hambatan, dan mencapai sesuatu yang dianggap mustahil. Latar belakang mereka beranekaragam seperti psikolog,metafisika, pakar fungshui, pengusaha, filsuf, visionary, pakar fisika kuantum, sampai dokter spesialis syaraf. Dalam buku ini, Rhonda membahas perihal daya. Menurutnya, hidup kita dikendalikan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yaitu daya. Lantaran daya kita ada di bumi. Karena daya pula kita dapat memiliki yang kita inginkan. Dalam pengantar Rhonda mengatakan,“ Tanpa Daya,Anda takkan pernah lahir.Tanpa Daya,tiada satu pun manusia di planet ini. Setiap penciptaan,penemuan, dan kreasi manusia berasal dari Daya”. Menurut Rhonda,ada dua daya yang paling besar dan mendasar dalam hidup ini, yaitu cinta dan syukur.

Dengan cinta,manusia dapat memancarkan dayanya dengan luar biasa. Semakin besar pancaran itu, semakin besar pula kekuatan yang kita dapatkan. Tidak ada yang terlalu besar bagi kekuatan cinta. Tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada rintangan yang tak dapat diatasi, waktu pun tak akan dapat menghalangi. Anda dapat mengubah apa pun dalam hidup Anda dengan memanfaatkan kekuatan tertinggi di alam semesta ini dan yang harus Anda lakukan hanyalah mengungkapkan rasa cinta! (halaman 94-95). Rhonda mengibaratkan cinta bak air dalam gelas dan gelas itu adalah tubuh Anda.Sewaktu gelas itu hanya berisi sedikit air,gelas itu kekurangan air. Anda tidak dapat mengubah jumlah air di gelas dengan melawan kekosongan dan mencoba mengosongkan kekosongan. Kekosongan itu akan lenyap dengan mengisi gelas dengan air.

Sewaktu Anda merasakan perasaan buruk,Anda sedang kekurangan cinta sehingga ketika Anda menuangkan cinta kepada diri sendiri, perasaan buruk itu pun lenyap. Dengan syukur, kita dapat mengundang daya yang besar dalam hidup kita. Rhonda sudah sering melihat orang-orang yang benar- benar dalam keadaan miskin berubah menjadi kaya-raya lewat rasa syukur: orang-orang yang membalikkan bisnis yang akan bangkrut, dan orang-orang yang telah seumur hidupnya kesulitan keuangan menjadi orang berpenghasilan berlimpah. Orang-orang yang telah menderita kecemasan dan berbagai gangguan jiwa pulih kesehatan jiwanya lewat rasa syukur. Dalam keadaan buruk pun kita tetap bersyukur. Mengapa? Karena tanpa perasaan itu, kita tidak pernah tahu rasanya merasa senang itu.

Kita hanya akan merasakan “datar” sepanjang waktu karena tidak memiliki perbandingan perasaan.Lewat perasaan sedihlah Anda dapat mengetahui betapa nikmatnya perasaan bahagia. Kita tidak akan pernah dapat menepiskan buruk dari hidup karena perasaan buruk adalah bagian dari hidup,dan tanpa perasaan itu,kita tidak akan pernah merasakan perasaan baik. Lanjut Rhonda. (halaman 103) Paduan cinta dan syukur akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang berkualitas. Semakin sering kita bersyukur, semakin kuat kita merasakannya,dan semakin besar cinta yang akan kita berikan.

Ada tiga cara untuk menggunakan kekuatan rasa syukur dan masing-masingnya mengungkapkan rasa cinta: bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda telah terima di dalam hidup (masa lalu), bersyukurlah atas segala sesuatu yang sedang Anda terima (sekarang), dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang Anda inginkan di dalam hidup seakan-akan sudah menerimanya.(hlm.149) Rhonda juga menjelaskan dengan apik bagaimana daya itu diterapkan dalam ketiga hal yang biasanya terjadi persoalan, yaitu uang,jalinan hubungan,dan kesehatan.

Hukum tarik-menarik berlaku dalam segala bidang, tak terkecuali dengan ketiga hal tersebut. Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa Anda menarik dan menerima keadaan-keadaan seperti sejahtera, sehat, hubungan, pekerjaan, serta setiap kejadian dan pengalaman dalam hidup Anda, berdasarkan pikiran dan perasaan yang Anda ungkapkan. Pemikiran tersebut sangat relevan dengan Sabda Tuhan, “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha,” (QS. Al-Isra’:7). Jika kamu berbuat baik,kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri,dan jika kamu berbuat jahat,kejahatan itu juga akan kembali kepadamu.

Tampaknya buku ini diterbitkan dengan cukup serius, terlihat dari cara pengemasannya, mulai dari pilihan kertasnya yang super, ilustrasi isi yang warna-warni—dapat ditemukan hari di setiap halaman dan sampulnya yang lux. Rhonda melengkapi pembahasannya dengan kutipan katakata dari orang-orang bijak, filsuf, seniman, sastrawan, dan ilmuwan. Sungguh, buku ini sangat menuntun dan mencerahkan. Buku ini juga bisa dijadikan bekal dalam menjalani hidup di awal tahun ini. Penting dibaca bagi siapa saja yang memilih berhenti sejenak untuk melakukan lompatan besar.(*)

M Iqbal Dawami,
bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

Jumat, Desember 31, 2010

Spiritualitas, Esensi Beragama


Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu 26 Desember 2010

Judul:  You are Not Alone; 30 Renungan Tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2010
Tebal: xvi + 249 halaman

KETIKA manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.

“Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!” Begitu bunyi status Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis Rusia,secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku ini mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.

Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, “Tuhan, tolonglah aku!” Kisah Stalin itu menandakan bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan. Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat agama. Hanya saja kemudian Arvan mempertanyakan (lebih tepatnya merenungkan),mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?

Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah narkoba?

Agama Minus Spiritualitas

Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang baik.Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [halaman 7–8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah- masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.

Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk,dia sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt,Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari spiritualitas,padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [halaman 112].

Melalui buku ini,Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.

“Agama spiritualis” yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu “tajalli”. Kata “tajalli” berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain,Tuhan seolah-olah telah menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat Tuhan, seperti mencintai, menyayangi,menolong,dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr,yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai kebajikan.

Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya.Namun,semuanya menarik pembaca kepada renunganrenungan soal ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat relevan dengan situasi yang ada sekarang.Selamat membaca.(*)

M Iqbal Dawami,
bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

Balas Budi Mortenson

Dimuat di KORAN JAKARTA, Kamis, 23 Desember 2010

Judul : Stones into Schools
Penulis : Greg Mortenson
Penerbit : Hikmah, 2010
Tebal : 475 halaman
Harga : Rp69.000

Buku Three Cups of Tea (Hikmah, 2008) menceritakan serangkaian kisah dari kehidupan seorang pendaki gunung bernama Greg Mortenson. Pada 1993, setelah gagal dalam mencoba mendaki Gunung K2, sebutan lain untuk Gunung Himalaya, Mortenson tersesat dan hinggap di desa kecil dan terpencil di pegunungan Pakistan. Secara tidak sengaja dia menemukan desa tersebut.

Dia disambut oleh penduduk setempat yang sangat ramah, disuguhi makan dan istirahat. Padahal, penduduk tersebut penuh dengan kemiskinan. Mortenson ingin membayar mereka dalam beberapa cara, dan bersumpah untuk membantu kebutuhan yang paling mereka butuhkan lebih dari sekadar makanan. Melawan segala rintangan, ia mengumpulkan uang di Amerika Serikat dan kemudian kembali dengan sebuah truk penuh bahan bangunan.

Ia hendak membuat sekolah. Balas budi Mortenson adalah pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendidikan. Ia membangun sekolah tidak hanya satu, tetapi lima puluh lima sekolah. Buku tersebut merinci tantangan yang dihadapinya dan bagaimana dia mengatasinya. Ia adalah seorang individu luar biasa yang melimpah dengan semangat dan pengabdian. Buku itu merupakan bagian petualangannya.

Beberapa tahun telah berlalu, dan Mortenson menemukan ketenaran, terutama setelah bukunya selama tiga tahun berada di daftar penjualan terlaris New York Times. Pada akhir 2009 ia kemudian menerbitkan buku Stones into Schools, sekuel Three Cups of Tea. Sebagai sekuel, buku ini sangat mirip dengan pendahulunya—begitu banyak sehingga saya tidak yakin apa yang harus dikatakan dalam rangka untuk membedakan antara keduanya.

Mortenson mengisahkan dirinya berjalan, berkuda, dan berkeliling di belantara Pakistan dan Afghanistan. Hati dan pikirannya benar-benar hanya untuk sekolah, terutama sekolah untuk anak perempuan, yang terpinggirkan. Mortenson, melalui memoar ini, berkeyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi salah satu kunci untuk transformasi kehidupan yang lebih baik.

Apa yang begitu menggembirakannya adalah tindakannya menginspirasi begitu banyak warga Afghanistan. Mereka tahu pendidikan adalah jalan keluar dari penderitaan mereka. Ada bagian ketika Mortenson menceritakan pertemuan dengan Laksamana AS Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan. Laksamana itu selalu saja mendapat laporan berita buruk dari Afghanistan, dan ia menginginkan berita baik lewat Mortenson.

Mortenson menceritakan bahwa pada puncak kekuasaan Taliban pada 2000, kurang dari 800.000 anak-anak terdaftar di sekolah—semua dari mereka anak laki-laki—dan pendaftaran siswa baru di seluruh negeri itu mendekati delapan juta anak, 2,4 juta di antaranya adalah perempuan. Buku ini menceritakan tentang bagaimana Mortenson pergi ke Afghanistan yang berbahaya dan tidak stabil. Melalui lembaganya, ia telah membangun lebih dari 130 sekolah untuk mendidik 58.000 anak, terutama anak perempuan.

Peresensi M Iqbal Dawami, Pengasuh blog http://resensor. blogspot.com/