Minggu, Maret 15, 2009

Membongkar Rahasia Kekayaan Godfather Asia

Resensi ini dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 Juni 2009
Judul: Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa
Penulis: Joe Studwell
Penerjemah: Yanto Musthofa
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: xli + 387 (termasuk indeks)
---------------------------------

Pada 1996, setahun sebelum ‘krisis finansial Asia’ mengubah wajah ekonomi kawasan Asia, majalah Forbes, dalam rilis tahunannya tentang individu-individu terkaya, mendaftar delapan pengusaha Asia Tenggara di antara dua puluh lima teratas dunia dan dan tiga belas di antara lima puluh teratas. Sebuah kawasan kecil, yang secara bersama-sama, tak sanggup mengangkat satu pun perusahaan non-negara di antara 500 perusahaan teratas global.

Namun ternyata, mereka mampu menyumbang sepertiga dari dua lusin orang terkaya di planet ini. Inilah barisan terdepan para godfather Asia, yang masing-masing memiliki harta pribadi lebih dari empat miliar dolar Amerika.


Perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina dikendalikan hanya oleh segelintir konglomerat. Mereka dikenal sebagai godfather Asia. Pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka bisa seperkasa itu? Buku Asian Godfather: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan penguasa mencoba menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Ini adalah sebuah buku tentang sekelompok kecil orang-orang yang sangat kaya—para miliarder Asia—yang muncul dan mendominasi ekonomi kawasan mereka di era pasca Perang Dunia Kedua. Untuk keperluan pembahasan buku ini, Asia Tenggara didefinisikan sebagai lima negara anggota asal Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)—Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina—plus Hong Kong, sebuah tempat yang secara tradisional menjadi pusara sehingga memungkinkannya menjadi bagian dari ‘Cina Raya’ dan Asia Tenggara, sesuai dengan kepentingan dirinya.
Keenam entitas inilah yang menentukan cerita ekonomi kawasan mereka. Menjadi kontributor-kontributor, di kawasan tenggara, yang pada 1993 mendapat julukan sebagai ‘keajaiban Asia Timur’ dari Bank Dunia. Adapun godfather (para miliarder Asia) yang dimaksud di atas (di antaranya) adalah Li Ka-shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Liem Sioe Liong, Tan Yu, Kwek Leng Beng, dan masih ada beberapa lagi.

Berpengalaman sebagai reporter selama belasan tahun di kawasan Asia, Joe Studwell—penulis buku ini—melukiskan secara detail potret diri dan lakon bisnis para godfather : keberanian, kekejaman, kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun kongsi, serta komitmen dan pengkhianatan terhadap politisi, preman, juga triad dan sindikat.

Penggunaan istilah godfather dalam buku ini bertujuan untuk merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia. Adapun inspirasi judul buku ini adalah dari novel dan film Mario Puzo, dengan judul yang sama, Godfather.

Berdasarkan pengamatan Studwill, para godfather Asia adalah elite yang tidak khas, sebuah aristokrasi ekonomi dari orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal. Secara kultural, para godfather Asia adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, berbahasa lebih dari satu dan sepenuhnya terisolasi dari perhatian membosankan dari orang-orang yang dianggap sanak mereka. Lebih dari itu—dan berlawanan dengan prasangka umum—para taipan di kawasan itu jauh dari sifat ke-Cinaan. Hanya minor yang benar-benar Cina dengan afiliasi kultural serta linguistik yang kuat pada Cina.

Para taipan lain memang benar-benar Cina, tapi telah kehilangan banyak afiliasi kultural mereka. Banyak dari mereka orang Eurasia, meski garis darah non-Cina kadang-kadang dipandang sebagai sumber kerendahan martabat dan dinistakan. Terutama dalam sebuah tatanan Cina. Ada pula godfather-godfather yang sama sekali bukan Cina. Buku ini menunjukkan bahwa perilaku mayoritas etnis Cina di kalangan taipan tidak berbeda secara substantif dari ‘para taipan’ Inggris atau Skotlandia di Hong Kong, godfather etnis Spanyol di Filipina atau orang terkaya di Malaysia, yang merupakan orang Tamil Sri Lanka. Mereka didefinisikan, pertama, dalam konteks ke-godfather-an dan, kedua, berdasarkan ras.

Dalam bagian awal, Studwell berusaha mengemukakan struktur organisasi tiap negara atau tiap godfather. Dia mengorganisasinya dengan tema-tema. Sedang bagian dua, yang berjudul “Bagaimana Menjadi Godfather Pascaperang, menggambarkan bagaimana para godfather mengembangkan aliran kas inti, membangun organisasi yang tepat dan mengembangkan kapabilitas perbankan, dengan contoh-contoh untuk mendukung setiap pernyataannya. Semangatnya untuk menghadirkan kasus yang koheren dan memasukkan empat lusin individu ke dalam deskripsi tematis, membuat hasil yang dicapai Studwell terkadang melampui masalah yang digambarkan. Terkadang dengan membuat generalisasi tanpa pendukung, seperti pernyataan Studwell bahwa para godfather tidak memiliki keseimbangan spiritual, justru dalam hal ini Studwell memberikan amunisi kepada mereka yang ingin menghilangkan tuduhan adanya kelas kleptokrasi.

Studwell menghabiskan bertahun-tahun untuk membuat buku yang penting ini yang layak untuk diperhatikan secara serius. Sepuluh persen dari populasi dunia hidup di Asia Tenggara, elite-elite yang sedang berkuasa menyalahgunakan populasi tersebut, dan Studwell melakukan persiapan-persiapan yang solid dalam menunjukkan kepada kita bagaimana penyalahgunaan itu terjadi. Dia berharap karyanya akan menghasilkan pengaruh yang cukup untuk menandingi Lytton Strachey’s Eminent Victorian beberapa abad yang lalu, yang menggunakan karakter-karakter untuk mengecam pembersihan secara luas Victorian English.

Studwell mengemukakan fakta dan pendapatnya bahwa: penciptaan kekayaan riil mestinya menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB); PDB di Asia Tenggara sangat terkait dengan nilai ekspor dari tahun ke tahun (dia mendorong para pembaca untuk mengingat grafik dalam apendik yang membuktikan kasus tersebut); Para godfather tidak memainkan peran dalam sektor bisnis ekspor karena memiliki kompetisi yang ketat, beda halnya dengan sektor monopoli yang tanpa persaingan; Mereka tidak memiliki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah; dan pemerintahan yang lemah (korporasi dan politik) membuat mereka tetap meneruskan monopoli mereka terhadap aset-aset yang mereka kelola.

Pada akhirnya, Studwell menolak bahwa menjadi orang Cina memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan dalam ekonomi, sambil menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis Cina di antara para godfather adalah berasal dari masa kolonial dan pola-pola emigrasi dan bukan dari sifat genetis).

Buku ini kaya dengan data-data dan poin-poin tematis yang luas diberikan secara cukup jelas. Sebuah kajian yang sangat berharga. Tak aneh jika Jeff Andrew, pengamat Asia, dalam endorsement buku ini berkomentar bahwa karya Studwell ini merupakan, “Reportase yang utuh dengan kepekaan sejarah menyangkut orang-orang hebat di balik perekonomian Asia.”

M. IQBAL DAWAMI
Staf Pengajar STIS Magelang, pengelola blog http://resensor.blogspot.com

3 komentar:

Isma Ae mengatakan...

''Pada akhirnya, Studwell menolak bahwa menjadi orang Cina memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan dalam ekonomi, sambil menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis Cina di antara para godfather adalah berasal dari masa kolonial dan pola-pola emigrasi dan bukan dari sifat genetis).''

Ya, saya setuju yang ini.

Noura Qalbi mengatakan...

Maaf mas, no comment. Saya gak tertarik baca... gak tahu ya... saya gak gitu tertarik ma orang-orang kaya hehe...

Noura Qalbi mengatakan...

Iqbal: "Iya..gak pa2 kalau Noura gak tertarik baca resensi saya..".

Noura: "Maaf.. bukan begitu maksudnya, bukan resensinya.. tapi tema yang ini.."

Iqbal:"Iya..gak pa2, saya gak marah kok:-)"

Noura:"..."