Jumat, Agustus 15, 2008

Melihat Virginia Lewat Dalloway


Percaya atau tidak ternyata menulis itu bisa menyembuhkan. Menulis seperti halnya obat atau terapi untuk menyembuhkan suatu penyakit. Tentunya bukan penyakit yang bersifat fisik yang ada luka di salah satu anggota tubuh. Penyakit yang bisa disembuhkan oleh aktivitas menulis ialah penyakit hati, penyakit yang diderita karena tekanan-tekanan hidup seperti kurangnya rasa percaya diri, sensitif, dan emosional.
Novelis Inggris telah membuktikannya. Dia bernama Virginia Woolf. Konon dia sering mencoba bunuh diri gara-gara tekanan hidup. Sering kali dia mengalami ketidaksadaran diri, emosional yang berlebihan, dan kehilangan harapan. Ketika mengalami hal demikian, maka satu-satunya obat ialah menulis.

Bagi dia menulis merupakan obat sekaligus pelarian. Menulis sebagai obat karena dia merasa kelegaan yang luar biasa ketika gejolak-gejolak emosinya keluar dengan deras. Dan menulis sebagai pelarian adalah lari dari kenyataan. Kenyataan dalam hidupnya yang sering menekan batin, memaksanya membuat dunianya sendiri, tak lain dan tak bukan medianya adalah menulis novel. Dan tak heran jika novel-novelnya kebanyakan bercerita tentang gejolak-gejolak emosi para tokoh dan pemberontakan terhadap realita.
Mrs. Dalloway adalah salah satu novel yang sangat fenomenal dan revolusioner yang lahir dari racikan tangan Virginia. Menurut Michael Cunningham, penulis The Hours, novel inilah yang telah mengantarkan Virginia memperoleh penghargaan hadiah Pulitzer pada 1999. Karena novel ini pula, Virginia dianggap sangat pantas untuk disejajarkan dengan para novelis Inggris lainnya, seperti William Shakespeare, T.S. Eliot, dan George Orwell. Novel ini memberi pengaruh kuat sastra modern abad ke-20. Stilistikanya yang indah dan jalinan ceritanya yang memukau, membuat novel ini banyak dipuji dan dijadikan inspirasi oleh para penulis lain. Novel ini telah pula diadaptasi menjadi sebuah film yang tokoh utamanya diperankan oleh bintang terkenal Nicole Kidman.
Dalam novel ini ada dua tokoh utama yang menjadi fokus cerita, yaitu Mrs. Dalloway, istri Richard yang merupakan anggota palemen, dan yang kedua Septimus Smith yang mengalami kegilaan akibat perang. Cerita diawali saat Mrs. Dalloway membeli bunga untuk persiapan pestanya. Dalam perjalanannya ke London, dia tiba-tiba teringat akan kenangan-kenangan lamanya saat seumuran Elizabeth, anaknya, dan terutama saat dia bersama Peter, kekasih masa lalunyua, serta perjumpaan-perjumpaan dengan yang lainnya yang telah memberikan kesan yang mendalam yang tak bisa dilupakan.
Cerita yang bergaya flash back ini menjadi pengamatan menarik bagi para pengamat sastra. Salah satu yang didapatkan dari novel ini ialah bahwa dia memakai gaya atau teknik stream of consciousness (arus kesadaran). Artinya, novel ini sebuah dialog batin yang jarang sekali membuat dialog secara langsung antar tokoh. Dengan teknik ini timbul beberapa efek yang mempengaruhi para pembaca, dan dengan teknik ini pula kita bisa memahami kondisi penulis itu sendiri.
Adalah seorang Mrs. Dalloway tengah mengalami kecamuk kejiwaan gara-gara realitas yang kadang merugikan dirinya. Dialog langsung dalam hatinya atau komunikasi hanya pada dirinya menandakan bahwa Dalloway tengah mengalami konflik kejiwaan. Ada pemberontakan dan kelainan jiwa. Pemberontakan saat ia tidak ingin menikah dengan Peter, karena bisa mereduksi kebebasan hidupnya, "… bahwa tepat baginya untuk tidak menikah dengan Peter. Dalam suatu pernikahan harus ada izin, sedikit kebebasan antara dua manusia hidup bersama hari demi hari di rumah yang sama; seperti yang ada antara Richar dan dirinya…, …tetapi dengan Peter, segalanya harus dibagi sama; semua harus dijalani bersama. Dan Clarissa tidak akan tahan akan hal itu, dan saat kejadian di taman di dekat air mancur, Clarissa harus melepaskan diri dari Peter atau mereka berdua akan hancur, mereka berdua akan rusak, Clarissa yakin benar akan hal ini."
Adapun kelainan jiwa yang dihadapinya ialah dia tengah mengalami perubahan ketertarikan, yaitu ketertarikan pada sesama jenis (lesbian). Clarissa menyukai Sally, teman akrab lamanya yang disukainya.
Tokoh utama kedua, Septimus Smith, diceritakan tengah mengalami tekanan batin yang sangat akut bahkan sudah mencapai kegilaan. Masa lalu yang menyebabkan ia begitu menderita menyebabkan istrinya kerepotan mengurusnya. Beberapa dokter mencoba menyembuhkannya tapi gagal semua. Namun cerita ini sungguh simbolik. Melalui tokoh Septimus, Virginia ingin—sekali lagi—protes terhadap realitas, "Pria tidak boleh menebang pohon. Tuhan itu ada. …ubahlah dunia. Tidak ada satu manusia pun yang boleh membunuh karena rasa benci. Beritahukanlah pada semua orang.(42-43).
Buku yang berjumlah 232 halaman ini agak sedikit sukar dipahami jika kita tidak benar-benar jeli membacanya, karena ini bukanlah novel pop yang mudah dicerna sambil menonton televisi. Ceritanya sungguh tidak mudah diikuti oleh alur pikiran kita apalagi membaca pada halaman-halaman awal. Inilah efek dari gaya bahasa yang berbeda dengan kebanyakan novel lain seperti yang telah disebutkan di atas. Namun itulah sesungguhnya yang menjadi kekhasan Virginia yang pantas dianggap disejajarkan kedudukannya dengan novelis dunia seperti William Shakespeare.
Sebuah karya sastra itu digali dari pengalaman batin sang penulisnya. Begitu pula dengan novel ini. Kita bisa melihat Virginia lewat novel ini, betapa berontaknya dia terhadap realitas. Jika kita tilik sejarahnya, banyak sekali karakter Virginia diwakili oleh Mrs. Dalloway dan Septimus. Dari Mrs. Dalloway, misalnya, sama-sama berontak terhadap norma-norma yang sudah mapan, seperti masalah perkawinan, jender, cinta, dan agama. Dan dari Septimus ialah sama-sama menderita akibat sosio-kultural. Satu hal lagi yang sesuai dengan sejarah hidupnya ialah ketika Mrs. Dalloway mencintai Sally. Dan dalam hidup Virginia, dia pernah menjalin hubungan intim dengan sesama jenis.
Tentu buku ini hanyalah sebuah fiktif belaka tidak bisa disamakan dengan biografi penulisnya. Namun yang perlu kita garis bawahi ialah betapa pentingnya buku ini untuk dibaca sebelum membaca karyanya yang lain, karena karya ini dianggap perintis dari gaya tradisional menuju gaya modern. Walau buku ini terjemahan namun tidak mereduksi kelezatan aromanya. Tapi, sekali lagi, buku ini membutuhkan pembacaan yang khusuk dan kontemplatif. Kita patut menyambut gembira atas diterbitkannya karya Virginia Woolf yang masih asing di tanah air kita ini.

8 komentar:

Narita Diana mengatakan...

Siang mas,
saya mau tau cari buku Mrs. Dalloway yg versi Indonesia di mana ya?
Susah sekali carinya, sudah hampir sebulan ini online atau cari lnagsung ke toko-toko buku gak ada :(
Kira-kira bisa bantukah?
Makasih.

M.Iqbal Dawami mengatakan...

sepertinya saya masih punya bukunya.
jika masih ada, mau beli punya saya? :)

Evi Oktaviani Sandhi mengatakan...

Pagi,
Saya tertarik membaca novel Mrs. Dalloway versi bahasa Indonesia. Apa mas masih punya novelnya?
Tlg bantuannya.
Terima kasih.

M.Iqbal Dawami mengatakan...

sudah tidak punya, mbak. coba kontak penerbitnya saja ya. trims

Moren Panekenan mengatakan...

selamat malam.
saya ingin membaca novel Mrs. Dalloway yg versi indonesia. masih ada mas?

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Saya hanya punya koleksi saya sendiri, mbak. Jika dibutuhkan bisa saya kopikan.

Moren Panekenan mengatakan...

Oh iya mas, boleh? Soalnya saya tertarik pengen baca novel bahasa indonesianya

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Minta alamat dan nomor kontaknya ya, Mbak. Kirim ke email iqbal.dawami@gmail.com