Minggu, November 30, 2008

Bahagia Dengan Otak Kanan


Judul : The 7 Laws of Happiness
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal : 428 hlm
-----------------------

Taufiq Pasiak (2006) mengatakan sedikitnya ada dua ilmu (sains) yang mengalami perkembangan pesat akhir-akhir ini jika dikaitkan dengan pengungkapan hakikat diri manusia.

Dua ilmu itu adalah fisika kuantum yang berkaitan dengan eksplorasi alam semesta dan selanjutnya berimplikasi pada posisi manusia di dalam universum (alam semesta) dan neurosains (ilmu tentang otak), terutama neurosains kognitif yang mempelajari otak manusia hingga tahap molekuler.

Neurosains mengkaji diri manusia sebagai proses yang berlangsung pada tingkat sel saraf. Neurosains bahkan mempelajari hingga proses perhubungan manusia dengan Tuhan. Pelbagai penemuan neurosains sangat berguna tidak saja dalam bidang kedokteran, tetapi juga dalam bidang lainnya, seperti manajemen dan bisnis, psikologi, filsafat, dan pendidikan.

Perkembangan dalam bidang neurosains meliputi salah satunya kajian tentang neurokimiawi, yang dapat mengetahui kegiatan-kegiatan otak, mulai dari kegiatan sederhana seperti bergerak, sensasi, hingga kegiatan tingkat tinggi seperti berbahasa dan berpikir. Apa yang disebut kegiatan-kegiatan “jiwa”, misalkan tampilan-tampilan emosi (marah, sedih, gembira, dan lain-lain), ternyata sangat berkaitan dengan zat kimia otak. Zat mirip morfin, namanya endorfin, yang dihasilkan otak diketahui ternyata berperanan dalam menimbulkan rasa gembira pada seorang manusia, atau adrenalin, dopamine, dan serotonin ternyata memainkan peran dalam menimbulkan rasa senang dan cemas, dan masih banyak lagi.

Sedang yang mengatur emosi manusia berada dalam sistem limbik, yaitu bagian otak mamalia yang dikelompokkan sebagai paleocerebri’ (‘otak tua’). Daerah ini relatif sama pada manusia dan mamalia lain. Ia mengatur aspek sosial maupun privat dari emosi manusia. Bagian sistem limbik bernama amygdale yang mengatur hubungan langsung dengan kulit otak sebagai pusat berpikir. Adanya komponen ini membuat manusia menjadi makhluk yang tidak melulu berpikir, tetapi juga merasa. Dimensi inilah yang membangun hubungan antara manusia.

Nampaknya paradigma keilmuan di atas dijadikan pijakan oleh Arvan Pradiansyah dalam bukunya ini. Arvan sesungguhnya menjabarkan neurosains yang dapat dipakai dalam bidang Sumber Daya Manusia (SDM). SDM seseorang sejatinya akan melejit jika dapat mengelola pikirannya. Dengan kata lain, pikiranlah yang sebenarnya sangat memainkan peran penting terhadap segala sesuatu yang menyangkut diri seseorang, baik menyangkut jasmani maupun rohani.

Kesadaran akan pentingnya pikiran tersebut, menggerakkan Arvan untuk membuat sebuah metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Pemilihan pikiran itu sendiri akan dapat merangsang terciptanya pola-pola baru, kombinasi-kombinasi baru antara sel-sel saraf dan neurotransmitter, yaitu zat kimiawi yang mengirimkan pesan-pesan di antara sel-sel saraf, khususnya dalam hal kebahagiaan.

Arvan sendiri mengakui bahwa The 7 Laws sebenarnya terinspirasi dari 7 Habits karya Stephen Covey. Namun, jika Covey menggambarkan perjalanan manusia yang dimulai dari dependensi menuju independensi dan berhenti di interdependensi sebagai suatu bentuk bentuk kematangan tertinggi manusia, sedang The 7 Laws menggambarkan sebuah perjalanan melingkar, yaitu dimulai dari dependensi ke independensi, ke interdependensi, dan kembali ke dependensi. Inilah yang membedakan dengan konsep 7 Habits karya Stephen Covey tersebut.

Rumusan Kebahagiaan
Setelah Arvan menjabarkan bangunan teorinya mengenai kekuatan pikiran, maka ia kemudian memasuki wilayah ‘bahagia’. Sungguh, tak bisa dipungkiri oleh siapa pun, bahwa inti hidup kita adalah sebenarnya mencari kebahagiaan. Terlepas jalannya seperti apa. Hal ini, secara tak langsung dipahami dengan baik oleh Arvan, bahwa buku mengenai kebahagiaan sangatlah sedikit, ketimbang buku tentang meraih kesukesan. Padahal, kesuksesan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang berbeda. Buktinya, banyak orang sukses tapi ternyata tidak bahagia. Kesuksesan hanyalah bagian kecil dari bahagia yang sifatnya relatif tersebut.

Selain itu, menurutnya, hakikat kebahagiaan yang sejati berasal dari pikiran, bukan dari hati. Hati itu tidak jelas letaknya di mana; di jantung, empedu, ginjal atau organ yang lainnya, dan sifatnya pun bisa bolak-balik. Sedang pikiran pasti menunjukkan pada satu tempat, yaitu otak. Maka kemudian, Arvan meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif. Dengan pikiran tersebut, kita akan senantiasa dipenuhi oleh rasa bahagia.

Arvan pun memberikan contoh konkrit, bahwa salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Dalam hal ini acara Empat Mata di stasiun televisi swasta kena damprat oleh Arvan, lantaran dianggap sebagai salah satu tontonan yang akan mematikan belas kasih. Untunglah, saat ini acara yang dipandu Tukul tersebut sudah dilarang tayang.

Buku ini secara terperinci memberikan pelatihan pikiran yang sistematis dan metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Sebaliknya, buku ini juga melatih bagaimana membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi. Arvan kemudian merumuskan hal tersebut dengan menyebutnya The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), Giving (Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).

Nah, Arvan memberikan jaminan bahwa ketujuh rumusannya itu akan mendatangkan kebahagaiaan, asalkan: Dipraktikan dan dilatih secara berulang-ulang. Hal itu senada dengan sebuah pernyataan yang dilontarkan Aristoteles bahwa keberhasilan hidup adalah memang sebuah kebiasaan yang diulang-ulang.

Buku ini sangat patut dibaca dan (lebih penting lagi) dipraktikan serta kemudian dilatih secara berulang-ulang dalam hidup kita. Jadi, harus menunggu apalagi jika anda ingin meraih bahagia?

Minggu, November 02, 2008

Ketika “Sang Pengikat Makna” Berhaji

Judul Buku: Terapi Hati Di Tanah Suci
Penulis: Hernowo
Penerbit :Lingkar Pena, September 2008
Tebal: 199 (termasuk indeks)
------------------------------
Tahukah Anda apa yang dipersiapkan bagi seorang penulis untuk berhaji? Ya, pena dan buku (tentang haji). Pena adalah untuk mencatat segala peristiwa yang tengah dialaminya, sedang buku untuk memperkaya wawasan mengenai rangkaian hajinya.

Keduanya itu hendak digunakan untuk mempersepsikan haji oleh dirinya. Itulah yang dilakukan Hernowo, sang “Pengikat Makna”, yang karyanya sudah lebih dari 30 buku.

Adapun hasil dari pengalaman dan persepsinya tentang haji dia bukukan dengan judul Terapi Hati Di Tanah Suci;Ya Allah, Jadikan Aku Cahaya (2008). Buku yang ditulis dengan “hati” ini mampu membuat seorang penulis lainnya menangis.

Hal itu lantaran dirinya iri dan menyesal mengapa dirinya tidak melakukan apa yang dilakukan Hernowo tersebut. Penulis tersebut bernama Asma Nadia. Dia mengatakan sebab keiriannya dalam Kata Pengantar buku ini, “Kenapa saya kurang menyiapkan bekal bacaan,… kedua, karena saya melewatkan beberapa doa yang diamalkan oleh Mas Hernowo di tanah suci dari hasil iqra’-nya yang panjang. Ketiga, perasaan menyesal karena buku ini tidak hadir sebelum saya menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 lalu”(hlm.7-8).

Terkait dengan ketiga alasa keirian Asma Nadia di atas, memang buku ini—terdiri dari tiga bagian—mampu membuat pembaca hanyut dalam dunia haji. Bagian pertama Mempersiapkan Bekal Berhaji, bagia kedua, Pesona Masjidil Haram, dan bagian ketiga Berkah Masjid Nabawi. Hernowo sebelum melaksanakan haji jauh hari sudah membekali dirinya dengan memperkaya wawasan mengenai haji. Tepatnya di bulan Ramadhan—beberapa bulan sebelum bulan haji. Paling tidak ada dua alasan mengapa dia melakukan pembekalannya di bulan tersebut. Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan mulia. Dengan begitu Hernowo termotivasi untuk membekali dirinya dengan sabaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dia yakin bahwa jika seseorang berminat untuk mengumpulkan “bekal” berhaji di bulan suci Ramadhan Tuhan pasti akan menyediakan sumber “bekal” itu secara sangat melimpah.

Kedua, turunnya pertama kali Alquran, yang diawali dengan ayat-ayat perintah membaca (Surat Al-‘Alaq ayat 1-5). Sudah bisa ditebak apa “bekal” yang dipersiapkan Hernowo tersebut, yaitu membaca buku-buku yang terkait dengan haji. Bahkan tidak hanya itu, dia juga membaca buku-buku tentang tanah suci, Masjidil Haram, Madinah, biografi Nabi Muhammad SAW, sejarah awal Islam, dan kebudayaan Islam. Nah, hasil dari bacaannya tersebut, dia menulis hal-hal yang penting dan berkesan. Sebagaimana kita tahu dalam buku-buku sebelumnya, aktivitas tersebut dia namakan dengan “mengikat makna”.

Oleh karena itu, dia “mengikat makna” segala hal yang berkenaan dengan haji. Di saat pembacaan dan penulisannya, dia membayangkan bahwa pada saat berhaji kelak, dia akan merasakan tanah tempatnya lahir Nabi SAW, dan kehidupan Nabi baik di Mekkah maupun Madinah. Bayangan tersebut dia alami saat dia berhaji. Maka tak ayal lagi, lahirlah dari tulisannya kalimat-kalimat yang “hidup”, yang mampu membangkitkan emosi pembacanya untuk merasakan juga apa yang dirasakan oleh Hernowo. Iihat saja misalnya saat dia membaca buku Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi karya O.Hashem, dan dia mendapatkan ihwal Raudhah, di mana dalam bab tersebut disampaikan lima sabda Rasulullah SAW: Pertama, “Antara rumah dan mimbarku adalah taman (Raudhah) di taman-taman surga”, Kedua, “antara kuburku dan mimbarku adalah taman-taman di surga,” Ketiga, “antara kamarku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman di surga,” keempat, “antara mimbarku dan rumah Aisyah adalah taman dari taman-taman di surga,” kelima, “barangsiapa ingin bergembira shalat dalam taman dari taman-taman di surga, maka shalatlah di antara kubur dan mimbarku” (hlm.65-67).

Nah, di halaman 131-132 dia mengakuinya bahwa saat masuk ke Raudhah begitu berkesan. Dia melakukan shalat dua rakaat dan berzikir serta merenung. Hasil renungannya itu adalah bahwa spirit Islam adalah spirit iqra’. Islam memerintahkan umatnya untuk tak henti-hentinya mencari ilmu, ke mana pun dan dari mana pun sumbernya.

Masih di Raudhah, Hernowo membayangkan dirinya berjejer dengan para sahabat sedang mendengar Rasulullah menyampaikan ilmu-ilmunya. Dan itu pun disebabkan oleh para sahabat kepada umat manusia.

“Doa Cahaya”
Saya kira ruh buku ini terletak pada sub-bab yang berjudul “Doa Cahaya”. Sub ini begitu penting, karena dapat mempertemukan dari sub-sub lainnya, bahkan seluruh komponen dalam kehidupan Hernowo, sebagai penulis yang produktif. “Doa Cahaya” merupakan doa yang berisikan permohonan agar dijadikan cahaya secara menyeluruh. Hernowo sangat terkesan dengan doa ini, karenanya dia mengaitkannya dengan keadaan dirinya.

Menjadi cahaya sangat identik dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dengan pengertian seperti itu, doa dia adalah doa logis yang dapat diwujudkan. Yang menjadi pertanyaanya adalah apakah doa yang dia panjatkan pada waktu berhaji pada 2002 benar-benar mewujud nyata pada saat ini?

Buku yang ke-34 ini adalah buah nyata bahwa Tuhan mengabulkan doanya. Waktu yang relatif singkat, dalam jangka enam tahun, Hernowo telah menghasilkan 34 buku. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Sebelum berhaji, dia baru satu buku yang dihasilkannya, yaitu Mengikat Makna. Tapi begitu selesai berhaji, goresan penanya tetap tidak berhenti dari waktu ke waktu. Ide-idenya mengalir dengan deras. Lalu muncullah setiap tahunnya buku demi buku. Nah, buku-buku yang diciptakannya itulah cahaya yang dapat menyinari dirinya dan orang lain. Dengan kata lain, cahaya tersebut adalah berbentuk buku. Dengan buku lah dia dapat menyinari alam semesta ini.

Selasa, September 16, 2008

Saatnya Memilih Presiden Muda


Judul: Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!:Soekarno, Semaoen, Moh Natsir
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2008
Tebal: 264 halaman
------------------------
Pemilu 2009 nampaknya akan diramaikan oleh calon presiden muda. Hal itu telah nampak saat ini juga. Beberapa nama seperti Sutrisno Bachir, Fajroel Rahman, Rizal Malarangeng, dan lain-lainnya, telah mencuat secara blak-blakan mencalonkan dirinya sebagai calon presiden 2009. Hal ini menjadi trend baru dalam sejarah perpolitikan Negara Indonesia.

Menurut saya, paling tidak ada dua hal yang menyebabkan trend itu muncul: Pertama, kaum muda Indonesia sudah bosan dipimpin oleh kaum tua terus yang tidak sepenuh hati mementingkan rakyat. Kedua, kaum muda terinspirasi Barack Obama, calon presiden AS, yang berhasil mengalahkan rival-rivalnya di kubu demokrat untuk mendekati kursi kepresidenan AS.


Dua hal inilah saya kira yang menjadi amunisi kaum muda untuk berani tampil di kancah politik Indonesia, baik melalui jalur partai maupun independen.

Harus diakui, masalah kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sosial, hegomoni asing, serta sederet masalah lainnya di negeri ini membuat banyak pihak prihatin. Negara Indonesia seperti berjalan di tempat. Semua kebijakan oleh setiap peralihan pemerintah tetap saja tidak ada perubahan berarti. Naasnya, setiap pemilu ke pemilu Indonesia dipimpin oleh orang yang itu-itu saja. Hal ini menimbulkan rasa bosan bagi pelbagai pihak.

Pemilu 2009 adalah kesempatan untuk mengadakan regenerasi pemimpin. Maka tak ayal lagi, figur muda yang dianggap sebagai progresif, dinamis, dan berani, harus memenangkan pemilu tersebut. Dalam konteks inilah, Eko Prasetyo menulis buku berjudul Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!:Soekarno, Semaoen, Moh Natsir (2008). Krisis kepemimpinan yang notabene-nya kaum tua itu dari waktu ke waktu terasa menjengkelkan untuk seorang Eko. Dia membeberkan beberapa kenyataan para pemimpin Bangsa Indonesia, di antaranya bahwa mereka telah tergoda untuk menyalahgunakan tiga hal, di mana ketiga hal itu kemudian menjelma menjadi "setan". Ketiga "setan" itu adalah kapitalisme (kemakmuran untuk segelintir orang), militerisme (bersenjata siap mengamankan modal), dan feodalisme (watak kolot yang memasung demokrasi).

Walhasil, akibat terpedaya oleh ketiga "setan" tersebut, kaum tua itu lupa daratan sehingga gagal menjalankan peran transformatifnya dalam mengawal perubahan Indonesia. Bagi Eko, pemimpin muda adalah sebuah keniscayaan. Uniknya, selain melihat fenomena di atas, Eko juga menelusuri lewat sejarah Indonesia sendiri. Adalah sebuah fakta bahwa Bangsa Indonesia pada awal pasca kemerdekaan dipimpin oleh para kaum muda. Sedikitnya ada tiga tokoh yang disebutkan Eko, yaitu Soekarno, Semaoen, dan Moh Natsir. Ketiganya masih berusia belia kala itu, sekitar 20-an, saat melakukan perubahan sosial di Indonesia.

Maka, sudah sejatinya kaum muda berguru pada ketiga tokoh legendaris Indonesia tesebut yang terbukti mampu membawa Indonesia keluar dari belenggu penjajahan (pada waktu itu). Ketiganya pula mampu menjinakkan tiga "setan" yang telah disebutkan di atas yang hendak merongrong Indonesia. Kolonialisasi pun tidak mampu menjungkirbalikkan mereka. Mereka juga sangat dekat dengan rakyat. Hal itu dapat dibuktikan dengan life style ketiganya, yaitu populis, kekeluargaan, dan proletarian. Konon, Bung Karno menaruh di atas meja makannya sebuah lukisan pengemis, agar dia selalu ingat pada rakyat saat dirinya tengah makan.

Semaoen pun tak jauh beda dengan Soekarno, dia sangat memerhatikan kaum tertindas, marginal, petani, buruh, dan semacamnya. Gagasan-gagasannya dia sampaikan dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisannya, serta dijawantahkan lewat partai Sarikat Islam. Begitu pun dengan Moh Natsir yang memperjuangkan spirit sosialisme Islamnya. Tak aneh jika dia dekat dengan siapa pun, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas; dengan kalangan Islam sendiri maupun dengan non-Islam. Dnegan begitu sosoknya begitu dikagumi oleh siapa pun, baik kawan maupun "lawan".

Sekali lagi, ketiga orang tersebut mampu "membunuh ketiga setan" di usianya yang relatif muda. Tentu saja, pada waktu itu tidak hanya ketiga orang muda itu saja, tetapi masih banyak kaum muda lainnya yang ikut ambil bagian dalam pembebasan tanah air Indonesia dari penjajahan.

Senin, September 15, 2008

Islam Agama Toleran


Judul Buku :Al-Qur’an Kitab Toleransi Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : Fitrah, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 520 Halaman
------------------------
Dalam umat beragama teks mempunyai posisi signifikan yang dapat menentukan kapasitas seseorang dalam menyikapi hidupnya. Dimulai dari kitab suci beserta tafsirannya hingga buku-buku keagamaan lainnya adalah sebuah bukti bahwa teks benar-benar mempunyai “kekuatan” untuk mengubah paradigma seseorang di dalam berpikir dan bertindak. Tidak berhenti di situ saja, teks juga mampu membuat gaya hidup (life style) seseorang dalam hal beragama.

Jika kita tilik sejarah Islam, teks dijadikan pesan untuk kehidupan umat muslim. Hal itu dapat kita lihat adanya ribuan tafsir yang beraneka ragam dari berbagai daerah yang berpenduduk muslim, padahal itu hanya berasal dari satu teks, yaitu Alquran.



Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang pada hakekatnya tak lain adalah sebuah teks dijadikan sebagai pedoman hidup kaum muslim di dunia. Melihat fenomena yang istimewa itu, Nasr Hamid Abu Zayd, seorang Cendekiawan Mesir yang tinggal di Belanda, mengatakan bahwa peradaban Islam sesungguhnya adalah peradaban teks. Hal ini dapat kita maklumi karena pada kenyataannya semua teks keagamaan di dalam Islam dijadikan poros utamanya.

Melihat kenyataan di atas timbul persoalan bagaimana cara “membaca” teks keagamaan yang baik? Pertanyaan ini penting untuk kita ajukan karena tidak sedikit di sekitar kita yang membaca teks keagamaan secara otoriter sehingga terjebak pada otoritarianisme. Mereka yang terjebak pada paham ini menafsirkan secara otoriter, yaitu memaksakan hasil ‘pembacaannya’ dari teks keagamaan pada orang lain tanpa tedeng aling-aling. Dalam benak mereka, kebenaran hanya ada dalam pembacaannya. Maka dapat dipastikan sikap seperti itu sama sekali tidak akan mempunyai sikap toleransi pada orang yang bersebrangan hasil pembacaannya. Mereka cenderung puritan dan mudah mencap seseorang dengan label kafir, munafik, murtad, dan yang lainnya.

Pembacaan seperti di atas akan memunculkan radikalisme, fanatisme, fundamentalisme, bahkan ekstremisme. Teks-teks keagamaan, mereka tafsirkan secara tekstual, kaku, rigid dan tidak fleksibel. Penafsiran seperti itu sesungguhnya hanya pada tataran permukaan saja, dan sama sekali tidak menyentuh ‘makna dalam’nya (deap meaning).

Akibatnya sudah dapat diduga yaitu membuat konflik baik dengan sesama penganut agama yang berlainan penafsiran, maupun antarumat beragama karena memaksakan ‘kebenaran’nya dan tidak menerima ‘kebenaran’ orang lain. Sikap yang egois seperti itu akan menafikan pluralisme pemahaman keagamaan yang berada di tengah-tengah masyarakat heterogen dan dunia global. Selain itu sikap demikian tidak akan dapat membangun keharmonisan dalam kerukunan hidup antarumat beragama.

Zuhairi Misrawi, seorang cendekiawan muda Indonesia amat prihatin melihat fenomena umat beragama yang tidak toleran dan egois seperti di atas, terutama dalam memahami Alquran. Keprihatinannya itu ia gambarkan dengan apik dalam bukunya yang berjudul Al-Qur’an Kitab Toleransi Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme (2008). Oleh karena itu ia mencoba menggagas kembali bahwa Alquran harus dirumuskan kembali penafsirannya dengan mencari dan mengutamakan nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh semua pihak dalam rangka membangun masyarakat madani; terbuka dan toleran. Maka yang ia lakukan kemudian adalah menafsirkan beberapa ayat yang berbicara perihal toleransi.

Buku yang ditulis Zuhairi ini sangat representatif untuk dijadikan rujukan mengenai pandangan Alquran terhadap kehidupan umat beragama. Pembahasan mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan kata kunci “toleransi” begitu lengkap. Kata kunci itu begitu penting dan hakiki dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Maka di sinilah letak pentingnya buku ini, yaitu dapat menemukan kunci kehidupan umat beragama: toleransi. Dengan kata lain, toleransilah yang dapat mendamaikan kehidupan umat beragama.

Substansi dari toleransi adalah ketulusan, kejujuran, dan menerima perbedaan baik tindakan maupun pemikiran. Semua manusia, dalam konteks toleransi, tidak dipandang dari segi perbedaannya, melainkan segi persamaannya, yaitu sesama makhluk Tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal budi. Perbedaan tentu sudah menjadi keniscayaan dan kodrat dari Tuhan. Singkatnya, perbedaan adalah suatu hal yang sunnatullah (hlm. 11).
Harus disadari bahwa hidup ini identik dengan perbedaan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar sama, yang ada hanya ‘persis’ dan ‘nyaris’ saja. Itulah hukum alam yang sudah digariskan oleh Tuhan. Dari sini saja kita dapat mengambil hikmahnya. Karena itu, dalam konteks kerukunan umat beragama, untuk menyikapi perbedaan kita memerlukan sikap toleransi yang dapat mempersatukan antara satu dengan yang lainnya baik di lingkungan antaragama maupun intra-agama.

Salah satu perangkat lunak dari toleransi adalah inklusivisme, pluralisme, dan multikulturalisme. Tiga perangkat tersebut menerapkan suatu toleransi aktif, yaitu menyelenggarakannya secara terbuka dengan mengadakan model-model dialog dan kerjasama. Inilah buku yang secara panjang lebar dan mendalam menjelaskan ketiga perangkat dalam membangun toleransi, terutama dalam konteks antaragama dan intra-agama. Salah satu poin penting dari buku ini adalah hendak mengharapkan kebersamaan di tengah-tengah perbedaan dan keragaman. Indonesia membutuhkan hal semacam itu. Untuk itulah buku ini sangat penting dibaca untuk semua kalangan.

Menulis Buku Best Seller Untuk Orang Sibuk


Judul: Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller
Penulis: Edy Zaqeus
Kata pengantar: Jennie S. Bev
Cetakan: 1&II, September 2005
Penerbit: Gradien Books
Jumlah halaman: 183 halaman

Ada dua tema besar dalam buku ini: bisakah orang sibuk menulis? Dan bagaimana menjadikan bukunya menjadi best seller? Biasanya orang sibuk sering menggerutu ingin menulis buku tapi tak bisa menyempatkannya. Mereka punya banyak ide tapi saat ingin dituangkan pikirannya menjadi macet.

Untuk itu penulis buku ini memberikan beberapa triknya, di antaranya berani menyempatkan waktu menulis berapa pun durasinya, merekam terlebih dahulu apa yang ingin ditulis, serta mulai menulis dari hal yang disukainya apa yang kita tulis.
Edy Zaqeus, penulis buku ini, membagi tiga tipe orang sibuk. Pertama, tipe orang yang benar-benar full time sibuk dengan pekerjaannya secara totalitas. Orang jenis ini hampir tak ada waktu longgar untuk urusan di luar pekerjaannya.

Kedua, tipe orang yang sibuk namun mempunyai sedikit waktu luang, yang biasanya (waktu tersebut) dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Ketiga, tipe orang yang serupa dengan tipe kedua, namun perbedaannya orang ketiga ini tidak memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan produktif (hlm. 38).

Namun sebetulnya, ujar penulis buku ini, sesibuk apa pun, semua orang bisa menulis karena semua itu tergantung tekad dan hasrat orang tersebut. Lantas, Edy pun membuktikannya dengan dua hal. Pertama, ia melihat dari sisi waktu yang digunakan orang sibuk mulai dari bangun tidur, berangkat kerja, hingga beranjak tidur kembali (hlm. 46). Ternyata, banyak waktu sebetulnya yang bisa digunakan untuk menulis.

Misalnya, saat berada di perjalanan menuju kantor atau menunggu makan siang. Apalagi waktu pada hari libur di akhir pekan (sabtu-minggu). Tentu, sangat bisa sekali.

Kedua, ia melihat pada orang-orang sibuk yang produktif menulis seperti Hari Subagya dan Anand Krishna. Hari Subagya adalah direktur perusahaan kosmetik. Setiap harinya dihabiskan di kantornya. Namun, ia bisa menyempatkan menulis yaitu pada pukul 2 dini hari setelah ia melakukan shalat tahajud. Hasilnya adalah dua buku larisnya yaitu Time to Change dan Success Proposal.

Sementara Anand Krishna—mantan pengusaha dan sekarang menggeluti meditasi dan pembicara yang banyak mendapatkan udangan—membiasakan menulis antara pukul 22.00 hingga larut malam, bahkan disambung pada pagi harinya. Hasilnya, sekitar 40 buku telah diterbitkan.

Adapun cara-cara agar menulis buku bisa lancar ialah bisa dengan teknik wawancara dan tanya jawab. Teknik wawancara, misalnya, bisa digunakan oleh kita terhadap para pengusaha sukses yang kita tulis percikan-percikan pendapatnya mengenai kesuksesannya. Hasil wawancara tersebut kita tulis dan kumpulkan, maka lama kelamaan akan terkumpul banyak dan bisa menjadi buku. Membuat buku pun bisa berbentuk tanya jawab, seperti halnya yang dilakukan oleh penulis buku ini yang berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah (2004). Dan hasilnya sungguh luar biasa. Buku tersebut mengalami 6 kali cetak ulang dalam 4 bulan pertama, dan hingga Pebruari 2005 mencapai 8 kali cetak ulang.

Buku ini sangat kaya dengan pengalaman penulis dalam dunia teks mulai dari hal-hal teknis seperti cara mendapatkan ide hingga bagaimana menawarkan ke penerbit. Setiap di akhir babnya terdapat tips-tips yang merupakan kesimpulan atau hal-hal penting dari bab tersebut. Sungguh, pembuatan tips di akhir setiap bab sangat membantu pembaca untuk mencerap setiap pesan yang disampaikan. Terutama, untuk mengingat kembali hasil bacaan kita jika kita lupa atau malas kembali membacanya.

Menurut saya, hasil racikan dari Edy Zaqeus ini sangat mujarab bagi para pesibuk yang ingin benar-benar bisa menulis, bahkan menjadi penulis best seller sekaligus.

Selasa, September 09, 2008

Politisasi Beras


Judul:Ironi Negeri Beras
Penulis: Khudori,
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Tahun: Juni 2008
Tebal: x+366 halaman termasuk indeks

Khudori, dalam opininya yang berjudul Mental Pemburu (Koran tempo, 21 agustus 2008) menceritakan bahwa masyarakat Indonesia masih bermental pemburu, salah satunya manusia pertanian. Manusia pertanian bermental pemburu adalah manusia yang dimanjakan oleh alam. Semua jenis pangan dan keperluan hidup sudah tercukupi dari alam sekitarnya. Orang tidak perlu kerja keras. Cukup tidur-tiduran saat perut lapar, tinggal pergi ke hutan atau nyemplung ke laut.

Rakyat Indonesia yang mestinya perannya benar-benar bermental petani, yang mampu memanfaatkan alam dengan teknologi yang terus berkembang, tapi malah bermental pemburu yang tidak memerhatikan proses, inginnya serba cepat dan instant. Dan

menggantungkan pada alam sepenuhnya. Konsekuensinya saat pertanian kita paceklik, rakyat Indonesia tidak bisa apa-apa, akhirnya mereka menjadi menderita. Naasnya, pemerintah memperparah keadaan itu dengan mempolitisir keadaan. Hal yang paling mencolok adalah pangan beras.

Persoalan besar nampaknya sangat dimengerti oleh Khudori. Oleh karena itu dia menulis buku berjudul Ironi Negeri Beras (2008) yang secara khusus membahas beras di Indonesia. Ada banyak alasan, salah satunya adalah me-nasi-kan seluruh pangan rakyat dari Sabang sampai Serut (bukan Merauke lagi). Padahal tidak semua orang Indonesia makan nasi. Ada daerah tertentu sudah terbiasa makan gaplek (Lampung, Jateng, Jatim), jagung (Jateng, Jatim, NT), sagu (Maluku, Irian Jaya), cantle/sorgum (NT), talas dan ubi jalar (Irian Jaya), dan itu tidak disadari oleh pemerintah yang hendak me-nasi-kan seluruh rakyat Indonesia.

Sejatinya, pemerintah berinisiatif untuk mencari cara bagaimana kita semua bisa beralih ke pangan non-beras. Sungguh tidaklah mustahil untuk melakukan hal itu, apalagi bagi kalangan menengah ke atas yang notabene-nya telah mengenal pasta, bakmi atau kentang. Inilah salah satu ciri lagi mental pemburu, kata Khudori, yaitu sulit untuk berubah dari pola lama, dalam hal ini pangan beras.

Pemerintah memang tidak melek pangan. Pangan tidak dijadikan instrument penting untuk memperoleh loyalitas rakyat. Padahal, jika penguasanya sadar, bahwa pangan adalah suatu hal yang paling dekat dengan rakyat. Jika pangan aman, rakyat pun tentram dan percaya pada penguasa. Sebaliknya, jika pangan terganggu, maka rakyat pun akan bringas.

Bahkan lebih dari itu, pada halaman 206, Khudori mengatakan bahwa pangan tak kalah penting dengan bahaya teroris, sedikit saja ada yang salah atau melakukan kebijakan yang salah dalam hal pangan, maka tak kan heran jika terjadi chaos. Dia memberi contoh, jika saja roti atau mie instant yang kita makan sehari-hari sudah dicampuri bahan tertentu yang tidak halal, pasti runyam. Contoh lain yang masih aktual adalah jenis padi Super Toy, yang dapat tiga kali panen tanpa menabur benih baru. Saat ini menjadi masalah, lantaran untuk panen kedua hasilnya mengecewakan. Akibatnya para petani rugi besar.

Persoalan pangan sepertinya memang sepele. Tapi di balik itu, sebetulnya tersimpan sesuatu yang strategis. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang bersifat jasadi, guna manusia dapat meneruskan keberlangsungan hidup. Dengan kata lain, jika seseorang menguasai pangan, maka dia sesungguhnya akan dapat menguasai siapa pun. Penguasa pangan bisa berbuat apa saja, bisa memberi keuntungan dan bisa juga memberikan kerugian pada orang lain. (halaman 207)

Oleh karena itu, jangan sampai masalah pangan dapat dikendalikan oleh penguasa yang tidak mengutamakan kepentingan rakyat. Akibatnya bisa fatal, karena dapat mengguncang stabilitas politik Negara. Bangsa Indonesia sudah mengalami hal itu. Krisis pangan (baca: beras), mengguncang ekonomi dan politik kita, sehingga kita harus menjalani impor beras, sesuatu yang sangat ironis. Hal itu mengibaratkan bangsa kita seperti ayam mati di lumbung padi.

Tak ada jalan lain, sebagai bangsa agraris yang berbasis pangan, Indonesia harus bergerak menuju perbaikannya. Aparatur Negara harus mengomandonya, sambil terus memformulasi pelbagai cara guna mencapai ketahanan pangan, semua rencana dan rancangan pembangunan harus juga diarahkan untuk kepentingan kemajuan pangan. Terakhir, tentu saja rakyat pun menjadi bagian kemajuan pangan dalam hal ini yang mesti diberi motivasi kemudahan secara terus menerus.

Selasa, Agustus 26, 2008

Bisnis Berbasis Kerakyatan


Judul: Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita
Penulis: Muhammad Yunus
Penerjemah: Rani R Moediarta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal : xvii + 262 hlm

Pernahkah Anda mendapatkan sebuah korporasi yang benar-benar memihak rakyat? Saya yakin kebanyakan orang pasti belum mendapatkannya. Karena, mayoritas korporasi selalu mengedepankan keuntungan kepemilikannya, ketimbang yang lain.

Dalam era kapitalisme global ini, mana ada korporasi mengutamakan rakyat miskin, justru yang ada adalah merugikan dan menyengsarakan rakyat miskin. Jika tidak percaya, coba Anda lihat semua korporasi asing yang ada di Indonesia. Mereka sama sekali tidak menguntungkan Indonesia.

Nampaknya, Muhammad Yunus memberikan jawaban untuk pertanyaan di atas, bahwa ada sebuah korporasi yang benar-benar memihak rakyat miskin, yaitu Grameen. Grameen adalah sebuah korporasi yang berbasis kerakyatan; diperuntukkan kalangan menengah ke bawah, bahkan terutama kalangan miskin. Direkturnya tak lain adalah Muhammad Yunus sendiri. Melalui buku barunya Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita (2008) dia mengeksplorasi gagasannya secara detail dengan memadukan antara teori dan praktik serta kenyataan di lapangan. Tentu saja idealisme dirinya juga tertulis di sini.

Buku ini sungguh tidak hanya asal bertutur tanpa bukti. Tiga puluh tahun menjalankan korporasinya adalah sebuah jaminan, bahwa kata-katanya dalam buku tersebut benar-benar realistis. Karena itu, dia berani bermimpi dan berpikir ke depan untuk menanggulangi kemiskinan di dunia melalui langkah-langkah yang terus diperjuangkannya. Sungguh dia ingin sekali menghapus kemiskinan di seluruh penjuru dunia.

Muhammad Yunus merupakan pemerhati dan penolong kaum miskin. Dia sangat tahu betul bagaimana hidup orang miskin. Melalui Grameen-nya dia membantu mereka untuk bekerja dan berwiraswasta. Cara dia adalah memberikan kredit mikro tanpa agunan. Adapun bisnis yang dikelolanya di antaranya bank, asuransi, pabrik makanan, pendidikan, operator seluler, internet, elektronik, dan lain-lain. Melalui bisnis di bidang itulah Yunus bergerak membantu masyarakat miskin. Sungguh, sebuah upaya yang luar biasa.

Melihat kenyataan di atas, tak aneh jika Muhammad Yunus meraih nobel pada tahun 2006. Dan uniknya, dia mendapatkan nobel untuk perdamaian, bukan nobel untuk ekonomi. Lantas, apa alasannya? Yunus sepertinya sangat sadar dengan sabda Muhammad SAW, sang Nabi, bahwa kefakiran akan membawa kekafiran. Artinya, orang bisa saja menjadi menghalalkan segala cara akibat kondisi yang melarat. Dan dari situ, akan timbul konflik di tengah-tengah masyarakat. Kejahatan, seperti pencurian dan perampokan, timbul lebih banyak disebabkan faktor ekonomi ketimbang faktor lainnya. Orang akan nekad melakukan apa saja demi sesuap nasi.

Untuk itulah, Muhammad Yunus melalui korporasinya, terus berfikir dan berupaya menanggulangi kemiskinan. Kemudian dia membuat jargon bagi korporasinya yaitu semangat berinovasi dan bereksperimen yang tiada henti. Dengan jargon seperti itu, Grameen Group yang dipimpinnya terus mencari ide bisnis baru yang tetap mengutamakan kepentingan kaum miskin.

Muhammad Yunus sangat yakin akan usahanya ini bahwa lambat laun bisnisnya akan mengubah dunia. Karena perbaikan ekonomi, sejatinya, akan memperbaiki tatanan bidang lainnya: sosial, politik, dan budaya. Bangladesh adalah bukti nyata atas apa yang dilakukan Muhammad Yunus. Santai tapi pasti, Bangladesh mengalami kemajuan dalam semua bidang lantaran usaha-usaha kaum miskin tergalakkan. Sungguh, sebuah upaya yang patut dicontoh oleh pemerintah Indonesia.

Setelah kita melihat sistem ekonomi yang dilakukan oleh Bangladesh dengan terbukti ampuh itu, timbul pertanyaan, maukah di antara pemimpin bangsa Indonesia mencoba menerapkannya di negara kita—yang tercinta—ini?

Senin, Agustus 25, 2008

Bukan Kisah Biasa



Judul Buku: Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya
Penulis: Andy F.Noya
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: 1, Agustus 2008
Tebal: xii +148 halaman

Ada kabar gembira bagi pecinta Kick Andy di Metro TV maupun di website-nya, yang tidak punya waktu untuk menonton maupun membacanya di internet. Kini telah hadir dalam bentuk buku dengan judul Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya.

Tentu Andy's Corner versi cetak (baca: buku) patut disambut gembira, karena memberikan akses yang sangat luas. Semua kalangan dapat kesempatan untuk membacanya, terutama di kota-kota kecil maupun di pedesaan yang masih awam dengan dunia internet.

Namun harus diakui, buku setebal 148 halaman dan berisi 21 kumpulan tulisan Andy Noya ini diambil dan dipilah-pilah dari kolom Andy's Corner di website Kick Andy. Pemilihan tulisan-tulisannya sangat tepat dan beragam, bahkan tidak biasa kisah-kisah yang ditampilkannya. Pemimpin Timor Leste, Xanana Gusmao, misalnya, yang dianggap sebagai penjahat perang oleh kebanyakan orang, diangkat kisahnya oleh Andy Noya. Tujuannya adalah memberikan pelajaran hidup untuk arif dan bijaksana.

Hal yang tak kalah 'tidak biasanya' lagi adalah mengulas tokoh-tokoh eks PKI dengan mendatangkan tokoh PKI, Sobron Aidit. Sepintas pembaca akan bertanya-tanya, apa maksud Andy menyuguhkan kisah-kisah seperti itu? Pembaca akan mendapat jawabannya di setiap selesai kisah-kisahnya. Dan terkait dengan kisah di atas, jawabnya adalah bahwa bagaimanapun juga, dendam tidak akan membuat hidup kita menjadi lebih nyaman maupun bahagia.

Memang, kisah-kisah dalam buku Andy Noya yang satu ini tidak biasa. Dia melawan arus dari kesepakatan publik perihal kisah-kisahnya. Satunya lagi adalah kisah group musik Kangen Band. Group musik satu ini entah mengapa di kalangan remaja mendapat kesan negatif. Mereka mencaci dan memaki Kangen Band yang berasal dari Lampung ini.

Kebanyakan dari mereka adalah alasan yang tidak rasional, seperti sentimen atas para personilnya yang kebanyakan dari kelas "rendahan". Vokalisnya, misalnya adalah mantan pedagang es dawet.

Nah, justru Kick Andy merasa tertantang dengan keadaan seperti itu. Dan diangkatlah topik Kangen Band. Bagaimanapun, pikir Andy Noya, Kangen Band terlihat sukses dalam persaingan belantara musik Indonesia yang sangat ketat ini. Dan kesuksesannya itu adalah berkat kerja keras mereka. Untuk itulah, Kangen Band, layak diapresiasi dan patut dijadikan teladan.

Uniknya, buku yang ditulis Andy Noya ini, banyak bercerita juga mengenai kehidupan pribadinya. Dia menggambarkan dirinya sejak bocah hingga dewasa, mengangkat beberapa cuplikan pengalaman yang bisa dibilang kelabu.

Dia bercerita tentang masa kecilnya yang sudah mengalami broken home. Dia juga pemalu karena mempunyai ayah hanya seorang montir mesin tik. Hal itu adalah keadaan yang sebenarnya wajar dialami oleh anak-anak yang memang sedang membutuhkan sandaran dan perlindungan. Andy bercerita demikian sebenarnya untuk menunjukkan kepada seorang Fifi—siswa kelas 2 SMP—yang merasa malu sampai nekat mau bunuh diri karena mempunyai ayah seorang tukang bubur, bahwa dia tidaklah sendirian. Dirinya pun mengalami juga, dulu. Untuk itu Andy memberi palajaran pada Fifi agar tidak usah malu mempunyai ayah tukang bubur, tapi mestinya bangga, karena ayahnya—seperti halnya ayah Andy—bekerja demi dia, demi Fifi dan Andy.

Buku Andy's Corner adalah buku kedua Andy yang ditulisnya. Pada launching buku pertama, Wapres Yusuf Kalla adalah orang pertama yang diberinya, sedang pada launching buku keduanya, adalah Ibu Ana yang mendapat penghormatan tersebut dari Andy. Ibu Ana adalah guru kelas 4 SD Andy Noya. Tentu saja ada alasan mengapa ibu Ana yang dipilih Andy untuk mendapatkan penghargaan itu.

Bisa kita lihat pada buku ini sendiri, pada sub judul—laskar pelangi—bagi Andy ibu Ana adalah guru yang sangat berarti dibanding guru-gurunya yang lain. Betapa tidak, pada saat kelas 4 Andy kecil sering bolos sekolah. Suatu hari saat dia membolos selama 2 hari, ibu Ana dengan mencarter becak menuju rumah Andy. Dia membujuk Andy untuk sekolah, dan juga ikut lomba antar bintang kelas. Tentu saja bukan tanpa perhitungan ibu Ana menyuruh Andy untuk ikut lomba tersebut, karena memang Andy—walau sering bolos—adalah siswa yang cerdas.

Tidak hanya itu, ibu Ana pula yang sering memotivasi Andy untuk percaya diri dan rajin sekolah, agar kelak suatu saat Andy menjadi orang sukses. Bahkan ibu Ana juga yang "meramal" bahwa Andy akan sukses menjadi seorang wartawan. Dus, pantaslah Andy memberi buku keduanya kepada Ibu Ana sebagai orang pertama yang diberinya.

Walhasil, buku ini sungguh tak kalah istimewanya dengan buku pertamanya. Mesti tergolong tipis, buku Andy's Corner, Kumpulan Curahan Hati Andy F. Noya ini sangat berbobot. Kisah-kisahnya begitu menggugah dan inspiratif. Tak menutup kemungkinan bagi Anda yang kehilangan motivasi, akan terdongkrak kembali setelah membaca buku ini.

Minggu, Agustus 17, 2008

Menghargai Waktu Demi Kebahagiaan



Judul buku : Cherish Every Moment:Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : xxi+322 halaman

Masing-masing dari setiap individu adalah tanggung jawab dari dirinya sendiri. Bukan hanya saja hidup setelah mati, saat ini pun, ketika masih hidup kita semua seratus persen berada dalam tanggung jawab diri kita sendiri. Dengan kata lain, keberhasilan atau pun kegagalan seseorang dalam hidupnya sesungguhnya sangat bergantung dari bagaimana menyikapi hidupnya. Namun, terkadang sering kita tak menyadari hal di atas, dan justru kesadaran timbul saat kita telah mengetahui kegagalan yang kita alami atau saat hidup kita sudah diujung tanduk, alias mengalami kematian. Maka penyesalanlah yang dirasakannya sebagai hasil dari apa yang diperbuatnya.

Adalah Arvan Pradiansyah yang mencoba mengingatkan agar hal di atas tidak terjadi dalam hidup kita. Lewat bukunya Cherish Every Moment: Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat (Elek Media Komputindo:2007) ia mengingatkan bahwa kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup.

Dengan menghargainya maka diharapkan kita dapat menikmati hidup dengan indah (h. ix). Lantas, timbul pertanyaan, “Bagaimanakah cara menikmati hidup yang penuh dengan keindahan?”

Ardian mengingatkan bahwa Cherish Every Moment bukanlah suatu teori tetapi sesuatu yang harus kita alami sendiri. Kita harus menemukan keindahan dalam setiap detil kegiatan yang sedang kita lakukan saat ini dengan senantiasa mengingat-ingat arti hidup kita di dunia ini (h.xi). Tentu saja keinginan untuk menjadi manusia berguna atau bermanfaat adalah dambaan semua orang, tapi problemnya kita sering menyepelekan sang waktu, dengan menganggap waktu kita begitu banyak dan hidup kita masih panjang.

Misalnya, saja, cerita tentang seorang wanita karir yang banyak menghabiskan waktunya di dalam pekerjaannya. Ia mempunyai seorang anak berusia 6 tahun. Saking sibuknya ia jarang meluangkan waktunya dengan anaknya. Kebutuhan hidup anaknya sebetulnya selalu terpenuhi, namun kebersamaannyalah yang jarang terpenuhi. Si anak ingin sekali ibunya selalu memandikannya sebelum ia berangkat bekerja, namun hal itu tak bisa dipenuhi ibunya, karena pekerjaan menuntutnya untuk tepat waktu, walau sebenarnya sang ibu berjanji suatu saat nanti akan ia memandikannya. Pada suatu hari, saat ia berada di luar kota, anaknya sakit keras mengidap demam berdarah, yang kemudian mengantarkannya kepada kematian. Wanita itu pun sangat sedih. Namun yang lebih sedihnya lagi adalah ia tak bisa memenuhi janjinya, untuk memandikan anaknya, kecuali memandikan saat anaknya sudah menjadi mayat (h. 8)

Buku ini penuh dengan kisah-kisah yang sarat dengan nasihat dan teladan. Kisah-kisahnya sungguh tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Kisah-kisah yang ringan, realistis, dan sederhana namun padat oleh pesan-pesan moral. Dan lebih istimewanya lagi tak jauh dari apa yang sering kita lakukan. Sebagaimana penulisnya sendiri mengatakan bahwa tema-tema yang diangkat dalam buku ini adalah tema-tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada tema-tema yang berkaitan dengan cinta, hubungan antar pribadi, manajemen diri, Tuhan dan spiritualitas. Di mana semua hal di atas intinya adalah mengajak kita untuk merenungkan arti hidup ini, menemukan apa yang paling penting dan menikmati hidup yang penuh keindahan setiap saat (h. xv).

Setiap tulisan mempunyai rel yang sama dan bermuara pada satu hal, yaitu bagaimana menjadi manusia terbaik pada saat itu juga, bukan pada saat masa yang akan datang. Karena dengan seperti itu, segala waktu kita diisi dengan apik. Misalnya saja, dalam konteks interaksi dengan manusia, kita harus berlaku seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bagi kita. Dengan begitu, perlakuan kita akan selalu terkontrol dan menjadi manusia yang baik. Peradigma seperti itu dapat diterapkan dalam hal apa saja, baik hubungan dengan Tuhan maupun dengan makhluk lainnya.

Life is a Choice dan Do Now You’re Going To? adalah sekadar contoh tulisan sebagaimana yang telah digambarkan di atas dalam buku tersebut. Dalam Life is a Choice, misalnya, kita diingatkan agar berhati-hati dalam memilih, karena akan menentukan kualitas hidup kita. Misalnya, jika kita dalam keadaan ingin emosi, maka pilihan benar-benar ditentukan oleh kita yang mengantarkan baik dan tidaknya kualitas kita. Sedang dalam Do Know You’re Going To? Kita diajak merenung tentang hakikat hidup kita apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Dan kemana kita akan pergi setelah ini?

Selain hal di atas, tulisan-tulisan Arvan juga mengajak kita untuk berpikir positif (positive thinking) dan optimis dalam memandang sesuatu. Lihat saja, misalnya, dalam judul Tuhan Marahkah Kau Padaku? banyak orang menganggap bencana gempa bumi disusul tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogya itu adalah hukuman dari Tuhan atau cara Tuhan untuk mengakhiri penderitaan penduduk Aceh dari DOM (Daerah Operasi Militer) (h.78). Namun, Arvan memandang bahwa: pertama, itu adalah fenomena alam, dan Tuhan dengan kasih sayang-Nya telah memberikan tanda-tanda. Pada tahun 2003 misalnya, ada seorang pakar geologi dari Thailand yang telah melihat tanda-tanda itu. Pakar tersebut kemudian memprediksikan akan terjadinya tsunami di Asia di tahun 2004. Prediksinya terbukti (h. 79-80). Kedua, do the best and let god do the rest. Kita melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan dan membiarkan Tuhan melakukan sisanya. Ketiga, jangan sombong.

Jika dilihat dari kemasan tulisannya, buku ini terbilang unik, karena buku ini berbentuk wawancara, di mana faedahnya adalah kita bisa langsung merasakan manfaatnya sesuai dengan kebutuhan kita dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut.

Keunikan lainnya lagi adalah di setiap akhir tulisan terdapat kutipan kata-kata mutiara dari para tokoh dunia, yang sungguh sangat bermanfaat bagi kita untuk bahan pengingat dan penggugah. Tapi sayangnya kata-kata tersebut menggunakan Bahasa Inggris yang secara tidak langsung membatasi para pembaca yang belum mampu berbahasa tersebut. Namun, penulis menyadari hal itu, maka kemudian ia memberikan kutipan-kutipan yang dirasa penting di setiap sub judul halaman kedua-sisi kiri dan ketiga-sisi kanannya, yang diambil dari tulisan di dalam tulisan tersebut. Hal ini sangat membantu para pembaca untuk menemukan inti dari setiap masing-masing yang ada dalam judul tulisan tersebut.

Jumat, Agustus 15, 2008

Shahrur Dan Pembacaan Al-Quran Kontemporer

(mohon maaf tidak ada covernya)
Judul buku : Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur'an Kontemporer
Judul asli :Al- Kitab wa al-Qur'an:Qiro'ah Mu'ashiroh
Penulis : Dr.Ir. Muhammad Shahrur
Penerbit : ElSAQ Press, Yogyakarta, cetakan 1, Oktober 2004
Tebal : V+ 318 halaman

Wacana pemikiran tentang keislaman di dunia Arab-Islam semakin berkembang setelah sekian lama mengalami stagnasi yang telah menyebabkan kaum muslimin mengalami kemunduran. Namun kadang dengan maraknya pemikiran yang ditawarkan olah para cendikiawan Islam telah mengundang perdebatan yang tidak sehat.

Hal itu sangat wajar karena wacana keilmuan di dunia Arab selalu saja dibatasi oleh ideologi yang mereka anut, sehingga jika ada 'paham baru' maka mereka sama-sama mencurigainya. Sebut saja, misalnya, Abid Al Jabiri, Muhammad Arkoun, Fazlurrahman, Nasr Hamid Abu Zaid, dan Muhammad Shahrur, dimana mereka semua mendapat kritikan yang pedas gara-gara melontarkan ide – ide yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Nasr Hamid Abu Zaid telah mendapat pengalaman pahit gara-gara buku "Kritik Wacana Agama (Naqd al-Khitab al-Dini)" berisi tentang kritikan yang tajam terhadap wacana keagamaan di dunia Arab, khususnya mengenai pembacaan Al- Quran yang –katanya-- hanya sebatas pembacaan yang diulang-ulang (Al Mutakarrirah), tidak ada pemaknaan yang kontekstual.

Dalam buku "Al-Kitab Wa al-Qur'an: Qiro'ah Mu'ashirah" yang telah diterjemahkan menjadi "Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur'an Kontemporer" buah tangan Muhammad Shahrur ini telah memperkuat pendapat Nashr Hamid Abu Zaid walau pendekatannya agak berbeda. Hal itu disebabkan background Shahrur sebagai ahli teknik dan sains. Setelah itu dia menekuni filsafat dan linguistik yang kemudian memfokuskan penelitiannya pada studi Al-Qur'an.

Al-Qur'an, bagi Shahrur, mempunyai dua sisi kemukjizatan apabila dilihat dari aspek linguistik, yaitu sastrawi dan ilmiah. Dalam aspek sastrawi beliau menggunakan pendekatan deskriptif-signifikatif-yaitu melalui teori sastra dan gramatika, dan aspek ilmiahnya menggunakan pendekatan historis-ilmiah-merujuk pada asbab an-Nuzul (sebab turunnya ayat). Adapun terhadap ayat-ayat hukum beliau menggunakan teori limit (Nazariyat al-Hudud), yaitu batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi di dalamnya terdapat wilayah ijtihad yang bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis.

Bagi Shahrur, semua ayat dalam al-Qur'an bisa dipahami secara pluralistik, maknanya bisa berubah sesuai dengan ruang dan waktu, tidak mesti bermakna satu, yaitu ketika ayat itu turun. Sebenarnya yang dia inginkan dalam pembacaan ayat-ayat muhkamat bersifat produktif dan prospektif (qira’ah muntijah), bukan pembacaan repetitif dan restrospektif (qira’ah mutakarrirah).

Buku terjemahan ini merupakan buku pertama yang baru diterjemahkan sepertiga dari buku aslinya yaitu, Al-Kitab wa al-Qur'an:Qira'ah Mua'shirah, yang terdiri dari enam sub bab pokok, di antaranya perbedaan antara al-Qur'an, al-Kitab, al- Furqan, dan ad-Dzikr. Dan juga tentang Al Qur'an dan Sab'ul Matsani (tujuh ayat pembuka surat dalam al-Qur'an), kemudian tentang pembedaan antara kenabian dan kerasulan, konsep inzal dan tanzil, serta kemukjizatan al-Qur'an dan pentakwilannya.

Ia telah menolak sinonimitas dalam al-Quran, karena setiap kata mempunyai karakter dan makna tersendiri yang tidak bisa diartikan sama. Begitu juga kata al- Qur'an, al-Kitab, al-Furqan, dan ad-Dzikr yang mempunyai arti tersendiri walau semuanya merujuk pada satu kesatuan.

Buku ini begitu komprehensif, karena bukan hanya penafsirannya yang dia tulis tapi juga metodologinya, sehingga kita bisa meneliti apakah penafsirannya itu sesuai atau tidak dengan metodologi yang dia gunakan. Inilah kelebihan dan perbedaan buku Shahrur dari buku-buku lain yang membahas tentang Al-Qur'an.

Karya ini begitu monumental dan memancing kontroversial di dunia Arab-Islam bahkan di dunia Islam pada umumnya. Karena sesungguhnya buku ini merupakan penafsiran ulang (reinterpretasi) ayat-ayat al-Qura'n yang dia sesuaikan dengan perkembangan zaman dimana dia bercermin pada karya-karya sebelumnya.

Buku ini patut dibaca bagi siapapun yang ingin menggali ilmu-ilmu al-Qur'an karena selain kualitas buku ini sendiri yang menggunakan perspektif baru, juga didukung terjemahannya yang baik yang memudahkan kita untuk memahami proses transfer pengetahuan dari teks aslinya.

Melihat Virginia Lewat Dalloway


Percaya atau tidak ternyata menulis itu bisa menyembuhkan. Menulis seperti halnya obat atau terapi untuk menyembuhkan suatu penyakit. Tentunya bukan penyakit yang bersifat fisik yang ada luka di salah satu anggota tubuh. Penyakit yang bisa disembuhkan oleh aktivitas menulis ialah penyakit hati, penyakit yang diderita karena tekanan-tekanan hidup seperti kurangnya rasa percaya diri, sensitif, dan emosional.
Novelis Inggris telah membuktikannya. Dia bernama Virginia Woolf. Konon dia sering mencoba bunuh diri gara-gara tekanan hidup. Sering kali dia mengalami ketidaksadaran diri, emosional yang berlebihan, dan kehilangan harapan. Ketika mengalami hal demikian, maka satu-satunya obat ialah menulis.

Bagi dia menulis merupakan obat sekaligus pelarian. Menulis sebagai obat karena dia merasa kelegaan yang luar biasa ketika gejolak-gejolak emosinya keluar dengan deras. Dan menulis sebagai pelarian adalah lari dari kenyataan. Kenyataan dalam hidupnya yang sering menekan batin, memaksanya membuat dunianya sendiri, tak lain dan tak bukan medianya adalah menulis novel. Dan tak heran jika novel-novelnya kebanyakan bercerita tentang gejolak-gejolak emosi para tokoh dan pemberontakan terhadap realita.
Mrs. Dalloway adalah salah satu novel yang sangat fenomenal dan revolusioner yang lahir dari racikan tangan Virginia. Menurut Michael Cunningham, penulis The Hours, novel inilah yang telah mengantarkan Virginia memperoleh penghargaan hadiah Pulitzer pada 1999. Karena novel ini pula, Virginia dianggap sangat pantas untuk disejajarkan dengan para novelis Inggris lainnya, seperti William Shakespeare, T.S. Eliot, dan George Orwell. Novel ini memberi pengaruh kuat sastra modern abad ke-20. Stilistikanya yang indah dan jalinan ceritanya yang memukau, membuat novel ini banyak dipuji dan dijadikan inspirasi oleh para penulis lain. Novel ini telah pula diadaptasi menjadi sebuah film yang tokoh utamanya diperankan oleh bintang terkenal Nicole Kidman.
Dalam novel ini ada dua tokoh utama yang menjadi fokus cerita, yaitu Mrs. Dalloway, istri Richard yang merupakan anggota palemen, dan yang kedua Septimus Smith yang mengalami kegilaan akibat perang. Cerita diawali saat Mrs. Dalloway membeli bunga untuk persiapan pestanya. Dalam perjalanannya ke London, dia tiba-tiba teringat akan kenangan-kenangan lamanya saat seumuran Elizabeth, anaknya, dan terutama saat dia bersama Peter, kekasih masa lalunyua, serta perjumpaan-perjumpaan dengan yang lainnya yang telah memberikan kesan yang mendalam yang tak bisa dilupakan.
Cerita yang bergaya flash back ini menjadi pengamatan menarik bagi para pengamat sastra. Salah satu yang didapatkan dari novel ini ialah bahwa dia memakai gaya atau teknik stream of consciousness (arus kesadaran). Artinya, novel ini sebuah dialog batin yang jarang sekali membuat dialog secara langsung antar tokoh. Dengan teknik ini timbul beberapa efek yang mempengaruhi para pembaca, dan dengan teknik ini pula kita bisa memahami kondisi penulis itu sendiri.
Adalah seorang Mrs. Dalloway tengah mengalami kecamuk kejiwaan gara-gara realitas yang kadang merugikan dirinya. Dialog langsung dalam hatinya atau komunikasi hanya pada dirinya menandakan bahwa Dalloway tengah mengalami konflik kejiwaan. Ada pemberontakan dan kelainan jiwa. Pemberontakan saat ia tidak ingin menikah dengan Peter, karena bisa mereduksi kebebasan hidupnya, "… bahwa tepat baginya untuk tidak menikah dengan Peter. Dalam suatu pernikahan harus ada izin, sedikit kebebasan antara dua manusia hidup bersama hari demi hari di rumah yang sama; seperti yang ada antara Richar dan dirinya…, …tetapi dengan Peter, segalanya harus dibagi sama; semua harus dijalani bersama. Dan Clarissa tidak akan tahan akan hal itu, dan saat kejadian di taman di dekat air mancur, Clarissa harus melepaskan diri dari Peter atau mereka berdua akan hancur, mereka berdua akan rusak, Clarissa yakin benar akan hal ini."
Adapun kelainan jiwa yang dihadapinya ialah dia tengah mengalami perubahan ketertarikan, yaitu ketertarikan pada sesama jenis (lesbian). Clarissa menyukai Sally, teman akrab lamanya yang disukainya.
Tokoh utama kedua, Septimus Smith, diceritakan tengah mengalami tekanan batin yang sangat akut bahkan sudah mencapai kegilaan. Masa lalu yang menyebabkan ia begitu menderita menyebabkan istrinya kerepotan mengurusnya. Beberapa dokter mencoba menyembuhkannya tapi gagal semua. Namun cerita ini sungguh simbolik. Melalui tokoh Septimus, Virginia ingin—sekali lagi—protes terhadap realitas, "Pria tidak boleh menebang pohon. Tuhan itu ada. …ubahlah dunia. Tidak ada satu manusia pun yang boleh membunuh karena rasa benci. Beritahukanlah pada semua orang.(42-43).
Buku yang berjumlah 232 halaman ini agak sedikit sukar dipahami jika kita tidak benar-benar jeli membacanya, karena ini bukanlah novel pop yang mudah dicerna sambil menonton televisi. Ceritanya sungguh tidak mudah diikuti oleh alur pikiran kita apalagi membaca pada halaman-halaman awal. Inilah efek dari gaya bahasa yang berbeda dengan kebanyakan novel lain seperti yang telah disebutkan di atas. Namun itulah sesungguhnya yang menjadi kekhasan Virginia yang pantas dianggap disejajarkan kedudukannya dengan novelis dunia seperti William Shakespeare.
Sebuah karya sastra itu digali dari pengalaman batin sang penulisnya. Begitu pula dengan novel ini. Kita bisa melihat Virginia lewat novel ini, betapa berontaknya dia terhadap realitas. Jika kita tilik sejarahnya, banyak sekali karakter Virginia diwakili oleh Mrs. Dalloway dan Septimus. Dari Mrs. Dalloway, misalnya, sama-sama berontak terhadap norma-norma yang sudah mapan, seperti masalah perkawinan, jender, cinta, dan agama. Dan dari Septimus ialah sama-sama menderita akibat sosio-kultural. Satu hal lagi yang sesuai dengan sejarah hidupnya ialah ketika Mrs. Dalloway mencintai Sally. Dan dalam hidup Virginia, dia pernah menjalin hubungan intim dengan sesama jenis.
Tentu buku ini hanyalah sebuah fiktif belaka tidak bisa disamakan dengan biografi penulisnya. Namun yang perlu kita garis bawahi ialah betapa pentingnya buku ini untuk dibaca sebelum membaca karyanya yang lain, karena karya ini dianggap perintis dari gaya tradisional menuju gaya modern. Walau buku ini terjemahan namun tidak mereduksi kelezatan aromanya. Tapi, sekali lagi, buku ini membutuhkan pembacaan yang khusuk dan kontemplatif. Kita patut menyambut gembira atas diterbitkannya karya Virginia Woolf yang masih asing di tanah air kita ini.

Kamis, Agustus 14, 2008

Gereja Undercover


Judul Buku: Gereja dan Penegakan HAM
Penulis: George Junus Aditjondro, dkk
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2008
Tebal: 251 halaman

Percayakah Anda, bahwa institusi keagamaan pun dapat terjangkit virus korupsi? Jika tidak percaya, buku Gereja dan Penegakan HAM adalah jawabannya. Buku tersebut berisikan adanya korupsi di lingkungan gereja. Tak berlebihan jika buku tersebut diberi judul seperti itu, karena korupsi memang sebuah bentuk kejahatan yang dapat mencapai pada level Hak Asasi Manusia (HAM). Bagaimana tidak, jika salah seorang dalam institusi ada yang korupsi maka dia sesungguhnya telah merugikan institusi tersebut.

Nah, buku karangan George Junus Aditjonro, dkk. ini telah membongkar pelbagai peristiwa pelanggaran di lingkungan gereja, khususnya perihal korupsi, dan umumnya perihal HAM. Dan secara keseluruhan dapat kita lihat betapa "petinggi-petinggi" gereja telah menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, di antaranya adalah memanipulasi bantuan jemaahnya. Pada kasus dana bantuan dari jemaah Gereja Kristen Sulawesi (GKST) untuk korban tsunami Aceh, misalnya, telah disalahgunakan dana yang berjumlah 27.538.450 dari hasil pengumpulan jemaah di atas tidak disalurkan, malah masuk pada institusi yang dipercaya. Dalam hal ini adalah Majelis Sinode (MS) GKST.
Bahkan ternyata tidak hanya itu, MK GKST juga tidak menyalurkan sepenuhnya bantuan dari para jemaah untuk korban bom di Pasar Tentena. Jumlah Rp 338 juta tapi yang disalurkan hanya Rp162 juta. Sisanya, Rp. 25 juta masuk pada MS GKST. Fakta Itu hanyalah sekelumit bukti untuk satu lembaga mengenai korupsi yang terjadi di institusi keagamaan. Masih banyak lagi lembaga-lembaga lainnya yang dibeberkan dalam buku tersebut.
Sungguh ironis sebetulnya kenyataan di atas. Satu sisi gereja adalah tempat mendekatkan diri pada Tuhan dan penyucian jiwa, tapi ternyata sisi lain menjadi sarang koruptor yang membungkus pelakunya dengan baju agama. Berbagai bantuan materi jemaah yang dipercayakan kepada gereja, ternyata disalahgunakan. Sebuah hal yang paradoks itu, sungguh tak terduga dan tak disangka. Masyarakat seratus persen percaya bahwa menyalurkan bantuan melalui instansi keagamaan (baca: gereja) adalah langkah yang tepat. Mereka menganggap tak akan terjadi penyelewengan-penyelewengan karena orang-orangnya mesti paham dan mempraktikkan ajaran-ajaran agama.
Tapi ternyata praduga itu salah. Pesan agama, dalam hal ini adalah pesan Yesus, untuk mengasihi sesama manusia ternyata tak digubris juga. Pengelola gereja ternyata "mata duitan". Mereka menjadi serakah dan gelap mata saat melihat setumpuk uang di tengah kekuasaannya.
Penyebab terjadinya penyalahgunaan bantuan tersebut adalah tidak adanya transparansi tentang keluar-masuknya dana bantuan itu. Ketidakadaan itu dijadikan kesempatan oleh oknum-oknum gereja. Maka tak ayal lagi, para elite gereja harus menjadi suri tauladan dan pionir dalam hal ini. Mereka harus transparan, amanah, dan bertanggung jawab atas pengelolaan dana bantuan jemaahnya. Jika terjadi penyelewengan, mereka harus segera memprosesnya, bukan malah menutupinya. Jangan sampai kaum elit gereja, entah itu pendeta, maupun biarawati, menjadi rusak citranya dan kehilangan wibawa serta kepercayaan dari para jemaahnya, khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
Bahkan tidak berhenti di situ, citra Tuhan pun menjadi ikut rusak. Padahal, sebagaimana dikatakan Paulus bahwa citra Tuhan adalah menebarkan cinta kasih sayang terhadap seluruh alam semesta. Oleh karena itu, masalah korupsi ini harus benar-benar diperhatikan oleh semua elemen yang terkait dengan instansi keagamaan. Bahkan harus ditangani pengelolaannya secara profesional, agar tidak terjadi KKN.
Dus, buku ini sangat penting bagi pemerhati sosial-keagamaan. Lebih khususnya lagi adalah kaum Kristen. Namun, buku ini sesungguhnya menyentil bagi lembaga keagamaan apa pun, termasuk Islam. Karena, tak menutup kemungkinan di institusi keislaman pun terjadi praktik seperti ini. Terlebih-lebih masjid lebih banyak jumlahnya dibanding gereja. Belum lagi lembaga-lembaga lain yang mengatasnamakan atau berlabel Agama Islam. Oleh karena itu, fakta yang dibeberkan dalam buku ini menjadi cermin bagi umat Islam juga. Tidak mustahil terjadi, bukan?

Sabtu, Agustus 09, 2008

Wanita-Wanita Tumbal Sang Casanova



Judul: Killing Her Softly
Penulis: Beverly Barton
Penerbit: Dastan Books
Terbit : Juli 2008
Tebal: 600 halaman

“Cintai mereka- lalu tinggalkan” itu mungkin sudah menjadi semboyan sang casanova. Julukan bagi seorang penakluk wanita yang selalu ingin menyenangkan dan menyayangi perempuan. Cerita sang casanova memang sudah melegenda sebagai sosok pengagum wanita. Menjalin hubungan singkat lalu meninggalkannya tanpa jejak. Laki-laki yang terkenal akan buaya daratnya membuat wanita-wanita cantik bernasib malang terjerumus dalam kebodohan yang dibuatnya sendiri. Begitulah sudah menjadi reputasi sang casanova -mempunyai tampang memikat -penakluk hati setiap perempuan. Tokoh inilah yang dilakonkan Quinn Cortez disebut-sebut sebagai sang casanova dalam novel killing her softly karya Beverly Barton.

Quinn Cortez pengacara terkenal di Houston, diduga menjadi penyebab nasib tragis semua wanita yang menjadi kekasihnya, yang berakhir meregang nyawa di ranjang tempat tidurnya.

Wanita-wanita cantik telah dikorbankan untuk menebus dosa sang casanova. Lulu Vanderly, -disebut dalam prolog novel killing her sofly- gadis cantik yang kaya raya. Adalah salah satu kekasih Quinn yang tewas terbunuh di tempat tidurnya dengan cara dibungkam bantal dan jari telunjuknya telah dipotong-postmortem. Lulu gadis yang sangat tergila-gila pada Quinn. Di malam sebelum ia terbunuh, ia tengah menanti kedatangan Quinn kekasihnya.

Keluarga lulu sangat terpukul mendengar kabar kematiaannya. Sehingga Annabelle Vanderley sepupunya bersumpah akan menemukan pembunuhnya. Annabelle ditunjuk menjadi wakil keluarga Vanderley dan diberi tanggung jawab besar menyelesaikan semua permasalahan kematian sepupunya. Tugas inilah rupanya yang membawa pertemuaannya dengan Quinn Cortez tersangka utama pembunuhan lulu.

Sejak awal pertemuan Annabelle dengan Quinn inilah novel ini mulai bergulir. Memaparkan kisahnya melacak pembunuh Lulu Vanderley dan kekasih-kekasih Quinn yang lain. Disertai intrik-intrik drama romantis yang mengagumkan. Bagaimana tidak? Ternyata Quinn Cortez seorang pengacara terkenal di Houston yang diduga terlibat kasus pembunuhan lulu Vanderley, justru jatuh cinta sama Annabelle Vanderley sepupu korban yang pada dasarnya akan menjadi lawan hukumnya.

Quinn Cortez harus meyakinkan pihak kepolisian dan juga Annabelle bahwa ia tidak membunuh Lulu. Quinn bersama pengacaranya Kendall Wells berusaha mencari pembunuh yang sebenarnya. Kendall Wells yang juga sahabat lamanya tak lain adalah salah wanita pengagum Quinn. Dia mencintai Quinn dan menikmati hubungan singkat yang diinginkannya. Semua wanita termasuk Kendall seorang pengacara yang hebat dengan mudah terjerat dalam jaring sang penakluk.

Pemandangan mengejutkan saat Quinn akan menemui Kendall di rumahnya, Kendall terbunuh sama persis dengan kematian Lulu. Dibungkam dan dipotong jari telunjuknya. Dua wanita kekasih Quinn telah terbunuh dengan cara yang sama. Quinn semakin terpojok dengan dugaan kuat bahwa dirinya terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut. Seorang detektif berhasil menemukan bahwa 3 wanita dibunuh dengan cara yang sama dibungkam dan jari telunjuknya telah hilang. Joy Ellis di New Orleans, Carla Millican di Dallas dan Kelley Fleming di Boytown. Wanita-wanita itu pernah menjalin hubungan dengan Quinn Cortez dan dibunuh dengan cara yang sama. Quinn masih mengingat semua kenangan bersama mereka. Tapi tidak untuk wanita yang bernama Kelley fleming yang sulit untuk dingatnya.

Tak ayal lagi, Annabelle juga seperti dibius oleh daya pikat sang casanova. Apakah ia akan membiarkan dirinya terjerat masuk dalam daftar kekasih Quinn Mengorbankan dirinya untuk tumbal sang casanova. Ada ketakutan yang menyergapnya bahwa Quinn mempunyai kepribadian ganda yang sekali waktu dapat keluar dari tubuhnya dan menjadi Quinn yang lain yang bisa membunuh. Quinn bahkan mengatakan padanya bahwa ia mengalami pingsan di saat wanita-wanita itu terbunuh, dan tersadar setelah semuanya terjadi. Apakah dalam pingsannya ia dapat membunuh?.

Quinn dikenal sangat penyayang. Bahkan sangat dicintai dan dikagumi staf-stafnya. Jace Morgan, Aaron Tully dan Mercy. Dan siapa yang tidak terpesona oleh Quinn sang casanova? Bahkan termasuk juga Mercy assisten pribadinya yang setengah mati mengharap Quinn mau menerima cintanya. Tapi wanita mana yang bisa lolos dari kematian. Karena kebodohannya mencintai sang casanova. Mercy pada akhirnya mengalami nasib yang sama.
Siapa pembunuh sebenarnya yang sangat suka mengoleksi jari telunjuk wanita-wanita pemuja sang casanova? Seorang anak –Quinn kecil- mempunyai masa lalu yang sangat tragis. Sehari-hari ia harus menghadapi siksaan ibunya yang selalu menudingkan jari telunjuknya tepat ke arah hidungnya. “Kamu anak nakal yang telah dikutuk mewarisi wajah tampan Quinn.” Ia sangat ketakutan menghadapi kebengisan sang ibu yang tertawa puas disaat ia menangis kesakitan. Ia sangat membenci jari telunjuk itu. Hingga pada waktunya ia mampu menghentikan teror ibunya. Ia akan melakukan pembebasan itu.
Membebaskan wanita-wanita bodoh dengan penuh kelembutan agar dapat terlepas dari penderitaan karena mencintai sang casanova. Quinn harus membayar semuanya, menebus apa yang pernah ia lakukan pada ibunya juga dirinya. Anak yang diterlantarkan begitu saja. Benih dari percintaan seorang gadis kurus tinggi semampai –Kelley Fleming- yang pernah tidur bersama Quinn.

Inilah klimaks dari novel ini. Dimana pada akhirnya Quinn Cortez berhadapan dengan Quinn jahat, pembunuh kekasih-kekasihnya. Yang tak lain adalah Jace Morgan, staf pribadinya. Bocah yang ditemukannya di pinggir jalan saat berumur 16 tahun, yang tanpa disadarinya begitu mirip dengannya. Dan Jace membuat pengakuan bahwa Quinn harus menebus dosa-dosanya. Akhir yang sangat mengharukan karena Quinn menyadari dan tahu bahwa ia tak dapat mengubah masa lalunya, ia tak dapat kembali dan menyelamatkan jace. Walau ia dapat menyelamatkan Annabelle dari sergapan pembalasan Jace. Quinn justru telah menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Novel ini sangat mengasyikkan untuk dibaca habis hingga tuntas. Teka-teki untuk menemukan misteri pembunuhan menyebar dari bab ke bab. Pembaca bahkan dituntun untuk tidak berkedip sedikitpun menikmati ketegangan alur cerita yang sebentar-sebentar dibumbui kisah romantis pelaku utamanya ataupun pelaku-pelaku pelengkapnya. Kisah-kisahnya kerap menjadi kejutan tak terduga dan bahkan dapat mengelabuhi pembaca terseret dalam adegan percintaan dan dengan tiba-tiba berpindah untuk berpikir keras menemukan benang merah dari kasus pembunuhan berantai.

Membaca Killing Her Softly menjadi pelajaran penting bagi kita. Kisahnya masih sangat relevan dengan fenomena masa kini. Dimana orang tua “ayah, kaum laki-laki” kerap menjadi sorotan justru tidak jarang malah menyelewengkan tugas dan tanggung jawabnya. Seorang ayah seharusnya mampu memberi pengayoman dan kasih sayangnya terhadap anak dan istrinya. Dan walau bagaimanapun tindakan ceroboh dan kebodohan masa remaja kita tak pelak akan membentuk pribadi anak-anak keturunan kita.
-- Robi'ah Dawami

Rabu, Agustus 06, 2008

Memoar Tentara Cilik


Judul : A Long Way Gone – Memoar Seorang Tentara Anak-Anak –
Penulis: Ishmael Beah
Penerjemah : Cahya Wiratama
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Edisi : I, Februari 2008
Tebal : 316 halaman

Bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan seorang anak-anak berada di tengah-tengah konflik bersenjata? Menderita? Itu adalah hal pasti yang dirasakan semua orang. Tapi, bagi anak-anak bisa lebih dari itu. Ketakutan akan kematian plus pisah dari orangtua dan saudara adalah dua sisi mata uang. Dan tahukah Anda bahwa konflik bersenjata terkadang memunculkan fenomena baru, yaitu adanya perekrutan anak-anak untuk menjadi tentara/pejuang?


Ya, setidaknya itulah yang dibuktikan oleh Ishmael Beah. Melalui bukunya, yang tak lain adalah memoarnya sendiri berjudul A Long Way Gone – Memoar Seorang Tentara Anak-Anak, menggambarkan bagaimana perjalanan seorang tentara anak di Afrika Barat. Pada tahun 1993 usia Ishmael 12 tahun. Waktu itu dia sudah ada dalam kamp pengungsi. Bersama kakak dan temannya dia mengikuti pertunjukan bakat di kota Matru Jong. Ketika di sana dia mendengar kabar bahwa desa kelahirannya diserang kaum pemberontak RUF (Revolutionary United Front). Mereka pun bertiga pergi ke sana hendak mencari tahu kondisi orangtua dan saudara-saudara lainnya. Sesampai di sana mereka tidak menemukan saudaranya satu pun. Nah, dari situlah mereka memulai perjalanan tak berujung demi menemukan anggota keluarga dan menyelamatkan diri dari kekejaman perang.
Dalam setiap perjalanan pencarian selalu mempunyai pengalaman tersendiri. Tapi, satu hal yang selalu sama dialaminya yaitu selalu dalam ancaman pembunuhan. Harus diketahui bahwa setiap perbatasan desa dijaga oleh para penjaga desanya masing-masing, walau sesungguhnya mereka adalah para relawan, bukan tentara. Ia dan para pengungsi lainnya selalu dicurigai oleh penduduk yang dilewatinya, sebagai mata-mata pemberontak.
Suatu hari saat terjadi bentrokan dengan para pemberontak, Ishmael terpisah dari kelompoknya dan bergabung dengan kelompok lainnya. Bersama kelompok ini, ia pergi menuju desa Yele, tempat aman di bawah kekuasaan Sierra Leone, para penumpas pemberontak RUF. Tapi ternyata justru mereka masuk “mulut buaya”, lantaran desa tersebut ternyata sudah diduduki oleh para pemberontak RUF. Maka, secara tidak langsung mereka menyerahkan diri pada pemberontak. Ishmael bersama laki-laki lain dijadikan tahanan, terus dicuci otaknya serta dilatih menjadi tentara. Walau dia masih anak-anak, bersama laki-laki lainnya juga yang sebaya, sudah dianggap dewasa dan harus menjadi tentara para pemberontak. Kekurangan personel militer adalah alasan logis untuk merekrut mereka menjadi tentara. Setelah dilatih, maka resmilah dia menjadi tentara (anak-anak). Dan agar lebih berani, anak-anak itu pun diberi narkoba dengan macam-macam campuran.
Tulisan yang berdasarkan pengalaman ini benar-benar “hidup”, yang mampu memiris hati kita yang membacanya. Sketsa perang yang sesungguhnya masih bersaudara itu begitu tergambar jelas, di mana satu sama lain saling membunuh tanpa rasa bersalah. Nyawa-nyawa sepertinya sudah tidak berharga lagi.
Kelihaiannya dalam melukiskan perjalanan pribadinya, serta memukau para pembaca di Barat sana, buku memoar ini berhasil mendapat predikat salah satu buku nonfiksi terbaik 2007 dari Publisher Weekly. Sedang oleh toko buku maya, Amazon.com, dimasukkan pada daftar sepuluh besar buku terbaik 2007. padahal buku ini dituduh memanipulasi sejarah. Misalnya adalah penyerangan pemberontak RUF di kota Matru Jong terjadi pada 1995, bukan 1993 sebagaimana diceritakan Ishmael. Oleh karena itu, sesungguhnya Ishmael diyakini menjadi tentara anak selama beberapa bulan di usia 15 tahun, bukan selama beberapa tahun seperti yang Ishmael tuturkan.
Buku ini, paling tidak membuka mata dan pikiran kita bahwa anak-anak usia di sekitar 20 tahun-an sangat digemari untuk direkrut menjadi tentara relawan di daerah-daerah konflik. Mereka akan dilatih dan dicuci otaknya untuk menyerang musuh mereka dan membela daerah atau pun keyakinan mereka. Bukankah ini sangat berpeluang di masyarakat kita?

Mempertanyakan Kembali Kemerdekaan Indonesia


Judul : Agenda-Mendesak Bangsa;Selamatkan Indonesia!
Penulis: M.Amien Rais
Penerbit: PPSK Press, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2008
Tebal: xviii + 298

Tahukah Anda bahwa produksi minyak nasional Indonesia sebesar satu juta barrel per hari sekarang ini sudah didominasi oleh korporasi asing? Tahukah Anda muatan laut Indonesia sebesar 46,8% dikuasai oleh kapal berbendera asing? Dan tahukah Anda 50% perbankan nasional juga dikuasai oleh asing? Serta yang tak kalah penting juga, tahukah Anda telekomunikasi yang ada di negara kita juga dikendalikan oleh asing? Di antaranya Indosat dimiliki Temasek Singapura, saham Telkom 35% dikuasai asing, sedang XL 98%. Masih banyak lagi data-data penting tentang aset-aset Indonesia bernasib seperti di atas yang akan Anda ketahui manakala Anda membaca buku Agenda Mendesak Bangsa;Selamatkan Indonesia! karya M.Amien Rais.


Amien Rais, tokoh nasional yang tidak asing lagi di telinga kita, tak habis pikir mengapa rakyat Indonesia masih terus saja miskin, terbelakang dan tercecer dari bangsa-bangsa lain. Padahal reformasi sudah bergulir. Di antara sekian permasalahan bangsa, ekonomi adalah porsi terbesar yang menjadi kegelisahan Amien Rais. Mesti ada yang salah, pikir dia. Negara Indonesia yang sangat kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), mestinya cukup menghidupi rakyatnya. Tapi, keadaan sebaliknya. Rakyat Indonesia semakin hari semakin banyak yang miskin.
Kenyataan membuktikan bahwa ternyata SDA kita digunakan sebagian besar bukan untuk kita, melainkan untuk negara-negara lain. Ya, kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh korporasi asing. Bahkan tidak hanya itu, sektor-sektor vital ekonomi lainnya seperti perbankan dan industri juga dikuasai orang asing. Inilah model penjajahan akhir abad 20 dan 21.
Disadari atau tidak, kenyataan membuktikan bahwa Indonesia sedang dijajah sebagaimana yang pernah dialami puluhan tahun lalu. Sejarah telah berulang di tanah Indonesia. Hanya bentuk atau format saja yang berbeda. Jika dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi, sosial, hukum, dan pertahanan. Maka sekarang, pendudukan secara ekonomi oleh para korporator dari negara-negara Barat. Hasilnya sama, Indonesia masih tetap kehilangan kemandiriannya. Bangsa kita masih tetap tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.
Ketidakmandirian dalam bidang ekonomi, kata Amien, sebetulnya akan berimbas pada bidang politik, diplomatik, pertahanan dan militer kita. Hampir setiap kebijakan domestik dan kebijakan luar negeri Indonesia selalu terpengaruhi untuk mengikuti aturan yang mereka buat. Hematnya, kepentingan asing selalu melemahkan kepentingan nasional bangsa kita sendiri. Indonesia telah terseret menjadi sekadar subordinat atau agen setia bagi kepentingan asing (hlm.2).
Harus diakui, kekuatan-kekuatan asing dalam bidang ekonomi yang terjalin dalam korporasi-korporasinya memang telah mendikte bukan saja perekonomian nasional—seperti perdagangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran, dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, dan lain-lain—tetapi juga pada kebijakan politik dan pertahanan. Lantas, masihkah Indonesia pantas sudah disebut merdeka?
Kita memang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa. Kemerdekaan yang telah kita lewati lebih dari 62 tahun, mestinya kaum elite indonesia sudah berhasil membawa Indonesia ke tahapan yang betul-betul merdeka. Tapi, kekayaan alam kita masih tak bisa kita nikmati, dan mencukupi kehidupan kita. Padahal, di dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 sangat jelas dinyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kenyataannya ternyata tidak demikian. Hampir semua aset negara, sahamnya, telah dikuasai oleh pihak asing. Selain itu, ada pula yang sudah dijual. Kontrak Karya Pertambangan (KKP) dan Kontrak Production Sharing (KPS), misalnya, telah merugikan Indonesia dan menguntungkan investor.
Melihat hal demikian, secara otomatis Indonesia tak bisa mengontrol dan mengendalikan kekayaan alamnya sendiri, karena sudah “diberikan” pada pihak asing. Akibatnya, hasil kekayaan alam kita tidak akan kita nikmati karena telah dibawa ke luar negeri. Maka, hampir dipastikan Indonesia tetap negara yang rakyatnya terus miskin. Kita hanya bisa “menonton” kekayaan alam kita yang terus diperas dan dibawa ke luar negeri. Jika keadaan seperti itu terus, dan mencapai 90 %, maka berapa lama negara kita akan mampu bertahan secara ekonomi? Lalu, seberapa bebas keputusan politik bisa diambil oleh para pemimpinnya?
Buku Agenda-Mendesak Bangsa;Selamatkan Indonesia! ini begitu runut menjelaskan sebab-sebab mengapa SDA Indonesia dikuasai oleh pihak asing, serta mengapa pemerintah bertekuk lutut pada mereka. Korporatokrasi adalah kata kuncinya. Korporatokrasi yaitu sistem kekuasaan yang dikontrol oleh berbagai korporasi besar, bank-bank internasional dan pemerintahan (hlm.81).
Melalui korporatokrasi inilah Indonesia didikte dan bahkan “dibeli” pemerintahnya untuk meloloskan keinginan-keinginan mereka. VOC adalah korporasi pertama di dunia yang berhasil menjajah dan menjarah Indonesia. Sedang saat ini, perannya diganti oleh korporasi-korporasi yang berasal dari Amerika. Nampaknya, sejarah telah berulang dengan wajah baru.
Korporatokrasi bercokol di Indonesia bermula sejak zaman orde baru. IMF, World Bank, dan WTO adalah instansi korporatokrasi tersebut. Korporasi-korporasi asing itu terus mencengkram seiring dengan pergantian pemerintahan. Tak terkecuali pada pasca reformasi juga. Beberapa di bawah BUMN di tahun ini, yang hendak diprivatisasi seolah-olah akan memberi angin segar kembali kepada pihak-pihak asing lagi. Komite privatisasi perusahaan BUMN telah membuat daftar 44 BUMN yang akan dijual (hlm.226-227).
Buku ini diperkaya dengan lampiran, dari penulisnya sendiri, maupun yang lainnya. Lampiran tersebut telah memperkuat dan melegitimasi data-data yang dikemukakan dalam bahasan buku ini. Ketuta LIPI adalah salah satu dari lampiran tersebut. Buku karya Amien Rais ini telah menemukan relevansinya di saat bangsa Indonesia hendak merayakan kemerdekaannya. Membaca realitas SDA bangsa Indonesia yang dikuasai oleh pihak asing, sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, serta kenyataan yang ada di tengah-tengah rakyat miskin, kita mestinya bertanya kembali, apakah benar Indonesia sudah merdeka?

Senin, Agustus 04, 2008

Menulis Meningkatkan Kecerdasan Intrapribadi dan Linguistik


Tulisan ini dimuat di http://www.pembelajar.com pada 06 Juni 2005

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu Howard Gardner seorang psikolog sekaligus peneliti Barat telah menemukan sebuah teori tentang multiple intelegence (kecerdasan ganda), yang mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat banyak potensi yang belum dikembangkan. Dan, bahkan kadang potensi tersebut telah kita kubur gara-gara kesibukan kita sehari-hari, seperti pekerjaan dan mengurus rumah tangga atau karena sekolah. Dan dalam budaya kita pada umumnya orang yang dianggap cerdas yaitu orang yang pintar secara otak bukan emosi, atau lebih dikenal IQ (Intelectual Quotient) dan bukan EQ (Emotional Quotient). Dalam penemuannya, setidaknya ada tujuh kecerdasan yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh sebagai sebuah kecerdasan juga. Tujuh kecerdasan itu di antaranya kecerdasan linguistik¸ logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, jasmani, antarpribadi, dan intrapribadi.


Dengan adanya tujuh kecerdasan tersebut memberikan peluang pada kita bahwa kita pun patut dianggap cerdas walau tidak dalam kacamata adat masyarakat. Hanya kadang kita menganggap sebagai orang bodoh lantaran tidak cerdas dalam berpikir, matematika, atau pandai berkata-kata. Kita harus menganggap bahwa sesungguhnya kita adalah orang yang cerdas dalam salah satu kecerdasan itu atau bahkan lebih. Sekarang tinggal bagaimana kita menemukan dan menggalinya di antara ketujuh kecerdasan itu.

Lantas apa hubungannya multiple intelegence (kecerdasan ganda) dengan menulis sebagaimana judul di atas? Setelah saya amati penelitian Gardner tersebut dan ditambah dengan membaca buku Thomas Armstrong—pengembang teori Gardner—ternyata aktivitas menulis bisa dimasukan pada dua kecerdasan yaitu, kecerdasan linguistik (Word Smart) dan kecerdasan intrapribadi (self smart). Kedua kecerdasan tersebut sama-sama menggunakan alat ‘aktivitas menulis’ untuk meningkatkan kedua kecerdasan tersebut. Setidaknya ‘aktivitas menulis’ ikut andil dalam peningkatan kedua kecerdasan itu. Untuk membedah masalah ini saya menggunakan sebagian besar buku karangan Thomas Armstrong yang berjudul 7 Kinds of Smart yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ia adalah pengajar dan peneliti mengenai pendidikan di California.

Kecerdasan linguistik bertumpu pada kemampuannya dalam berbicara dan menulis. Menurut Armstrong, orang yang mempunyai bakat di bidang ini akan peka dan tajam terhadap bunyi atau fonologi bahasa. Mereka sering menggunakan permainan kata-kata, rima, tongue twister, aliterasi, onomatope, dan lain-lain. Mereka juga mahir memanipulasi sintaksis (struktur atau susunan kalimat), juga kepekaannya terhadap bahasa melalui semantik (pemahaman tentang makna).

Kemampuan tersebut mereka gunakan dalam berbicara (berkomunikasi dan pidato) maupun menulis. Ia pun memberi contoh dengan Marcel Proust, Robert Lowell, dan William Safier. Proust mampu merangkai anak kalimat menjadi kalimat satu paragrap untuk menciptakan dampak yang menakjubkan. Penyair Robert Lowell menjadi masyhur karena mampu mengambil kata apa pun yang dibahas dalam kuliah penulisan puisi di Harvard, kemudian membahas penggunaan kata itu dalam berbagai cara sepanjang sejarah kesusastraan Inggris. Demikian pula William Safier, yang menulis sebuah kolom mingguan di The New York Times, telah memilih karir memeriksa neologisme pembentukan kata baru dan nuansa makna yang subtil dalam bahasa Inggris yang terus menerus berkembang.

Sedangkan kecerdasan intrapribadi (self smart) bertumpu pada kemampuannya mengelola diri, menganggap diri adalah sebagai konsep hidupnya. Diri sejati, bagi mereka kata Armstrong, merupakan sumber kreativitas batin, fasilitas, spontanitas, dan kesejahteraan emosi seseorang. Menurut psikiater James Masterson, penulis buku The Search for the Real Self, diri sejati mempunyai sejumlah komponen, yaitu:

1. kemampuan untuk mengalami berbagai perasaan secara mendalam dengan gairah, semangat, dan spontanitas
2. kemampuan bersikap tegas
3. pengakuan terhadap harga diri
4. kemampuan untuk meredakan perasaan sakit pada diri sendiri
5. mempunyai segala sesuatu yang diperlukan untuk mempertahankan niat dalam pekerjaan maupun relasi
6. kemampuan untuk berkreasi dan berhubungan secara dekat
7. kemampuan untuk menyendiri

Thomas Armstrong menerangkan bahwa Masterson telah menunjukkan tentang diri sejati yang mampu bertahan menghadapi waktu dan ruang. “Entah di atas atau di bawah, dalam suasana hati yang baik atau buruk, menerima kegagalan atau hidup dengan keberhasilan, seseorang dengan diri sejati mempunyai inti batin yang tetap sama bahkan sewaktu dia tumbuh dan berkembang.” Ahli psikologi juga mengatakan bahwa diri tak lebih dari suatu peta mental yang amat rumit atau sebuah sistem skema yang memungkinkan kita mengorganisasi informasi tentang dunia secara lebih efisien. William James merangkum gagasan tentang diri. Ia mengatakan: ”Seringkali saya berpikir bahwa cara terbaik untuk merumuskan watak seseorang adalah dengan mencari sikap moral atau mental tertentu, bila menyangkut dirinya, dia dapat mengenal dirinya secara paling mendalam, sangat aktif, dan sangat hidup. Pada saat itu, muncul suara dari dalam batin yang berkata:’inilah Saya yang sejati’”.

Masih dalam buku 7 Kinds of Smart, Howard Gardner menganggap seseorang yang mempunyai kecerdasan intrapribadi yang kuat dapat memilah-milah berbagai emosi batin, kemudian memberinya nama, mengungkapkannya dalam bentuk simbol, lalu memanfaatkan emosi itu sebagai sarana untuk memahami dan membimbing perilaku diri. Orang semacam ini mencakup ahli terapi, tetua masyarakat, dan penulis. Marcel Proust, misalnya, ketika dewasa menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan tiduran di ranjang sambil merenungkan kembali kehidupannya dengan detail yang menakjubkan. Hasil permenungannya merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam peradaban dunia Barat, yakni novel Remembrance of Things Past.

Baiklah, sekarang bagaimana cara melejitkan diri lewat menulis untuk meningkatkan kecerdasan linguistik (word smart) dan intrapribadi (self smart)? Ini adalah latihan yang diberikan Thomas Armstrong.

Latihan Kecerdasan Linguistik (Word Smart)
Duduklah di atas bangku atau meja dengan beberapa lembar kertas dan dua atau tiga pensil terletak di dekat situ. Tutup kedua mata anda dan dengarkanlah arus bawah kata-kata yang mengalir melalui pikiran anda. Amati apakah kata-kata itu muncul dalam bentuk tetesan (kata-kata tunggal), riak lembut (potongan kalimat), aliran deras (arus komentar), atau dengan cara lain. Setelah mendengarkan suara batin selama dua atau tiga menit, ambillah sebatang pensil, masih dengan kedua mata setengah tertutup, mulailah menuliskan secara persis apa yang Anda dengar seandainya Anda mampu mendengar sesuatu. Lakukanlah latihan ini selama kurang lebih lima belas menit.

Latihan tersebut bisa digunakan untuk mencari ilham dalam pembuatan puisi, pidato, cerita, esai, dan yang lainnya, dimana ketika Anda tidak mampu untuk memulainya.

Cara Membuat Aliran Kata
Ini adalah saran Natalie Goldberg, penulis Writing Down the Bones, tentang bagaimana agar kata-kata bisa mengalir. Hal-hal yang perlu diingat ialah ingatan pertama anda, orang yang anda sayangi, orang yang telah meninggalkan anda, peristiwa paling menakutkan yang pernah anda alami, perasaan paling dekat yang pernah anda alami dengan Tuhan atau alam, seorang guru yang anda kenal, kenangan akan kakek-nenek, dan lain-lain.

Selain itu ada juga cara-cara untuk mengembangkan kecerdasan linguistik—terutama menulis—dengan media bahasa:
1. bergabunglah dengan klub pecinta buku
2. hadirilah konferensi pengarang, ceramah, atau lokakarya tentang mengarang pada perguruan tinggi setempat
3. hadirilah acara peluncuran buku atau acara lain yang menampilkan penulis ternama
4. kunjungi perpustakaan/toko buku secara teratur
5. bacalah sebuah buku setiap minggu dan buatlah perpustakaan pribadi
6. belajarlah menggunakan program pengolah kata
7. buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran anda setiap harinya sebanyak 250 kata
8. dll

Armstrong mengatakan bahwa penjelajahan bahasa dapat menghabiskan waktu yang tak terbatas ketika bereksperimen, memanipulasi, menafsirkan, memproduksi, memperluas atau memodifikasinya dengan berbagai cara sesuai dengan dimensi yang kita pilih. Dalam proses ini, mungkin kita baru tersadar bahwa pikiran kita sendiri telah berkembang, sebab pada dasarnya bahasa merupakan alat berpikir. Dengan menggunakannya secara sadar untuk meningkatkan kecerdasan, kita dapat mengalami keragaman dan kekayaannya dengan cara yang pragmatis, tetapi juga menyenangkan.

Latihan Kecerdasan Intrapribadi (Self Smart)
Berikut ini adalah beberapa saran untuk berpindah ke citra diri yang positif:
1. jangan mengecewakan diri dengan menjelek-jelekkan diri sendiri
2. lakukanlah sesuatu yang dapat memompa semangat Anda setiap hari
3. tuliskan 20 pernyataan positif tentang diri Anda dan bacalah pernyataan itu secara teratur
4. bentuklah gambaran mental diri sejati Anda
5. kelilingi diri Anda dengan tokoh panutan yang positif
6. bacalah buku self-help yang memperkuat munculnya rasa diri positif

Kunci penting, kata Armstrong, dalam mengembangkan citra diri positif adalah memupuk rasa batin yang menguasai dan berkompeten, atau perasaan batin bahwa kita mempunyai pengaruh terhadap dunia.

Cara-Cara Untuk Mengembangkan Kecerdasan Batiniah
1. tuliskan autobiografi Anda
2. ciptakan ritual pribadi atau ritual perjalanan hidup Anda
3. rekam dan tafsirkan mimpi Anda secara teratur
4. bacalah buku self-help
5. tentukan sasaran jangka pendek dan jangka panjang Anda dan kemudian tindaklanjuti rencana itu
6. buatlah buku atau catatan harian untuk merekam gagasan, perasaan, sasaran, dan kenangan Anda
7. amatilah biografi dan autobiografi orang besar yang memiliki kepribadian hebat
8. dll.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca hal yang di atas? Ternyata menulis bisa menggabungkan dua kecerdasan sekaligus bukan? Selamat mencoba


Menjadi Penulis Bisakah Diandalkan?


Tulisan ini dimuat di http://www.pembelajar.com pada 15 Agustus 2005

Ajaib! Saya bisa menyelesaikan bacaan dalam waktu kurang dari tiga jam, yaitu sebuah buku yang berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa yang bertebal 105 termasuk daftar isi dan biografinya. Saya semangat membacanya karena dua hal: pertama, buku itu aku pinjam dari perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, jadi waktu dan pinjaman tersebut membuatku terpacu ingin cepat meyelesaikannya. Kedua, buku tersebut tentang menulis. Pasti saya akan semangat membacanya, karena itu akan membantu saya dalam menempuh impian.

Impianku adalah ingin menjadi seorag penulis profesional. Saya berharap bisa mendapatkan uang dari menulis dan dijadikan sebagai karir. Selain itu karena penulisnya sangat terkenal di belantika tulis-menulis dan juga beliau seorang pakar motivasi. Semua itu menggerakanku untuk membaca dan ingin terus membacanya sampai-sampai aku tak bisa tidur karena tak tenang, karena belum selesai membacanya dan rasa penasarannya. Aku telah mengalami flow.

Ada beberapa hal yang kudapatkan dari bacaanku tadi. Jika saya membandingkan dengan buku-buku lain tentang motivasi menulis, buku ini terasa beda. Buku ini terasa membangkitkan semangat, terutama tentang “Menopang Hidup” bab ke 12. Tidak munafik, saya yakin semua orang—mayoritas—menerjunkan diri dalam dunia kepenulisan bukan hanya sekadar hobi tapi ada juga sisi lainnya yaitu ingin mendapatkan uang. Saya kira ini alasan yang logis selain tulisan kita dimuat di media massa. Dalam bab tersebut telah menjawab pertanyaanku yang selama ini saya cari, “Apakah menulis bisa diandalkan untuk menopang hidup, sebagai tempat mendapatkan rizki?”, Andrias menjawab, bahwa orang yang sudah profesional, menulis bisa dijadikan andalan untuk menopang hidup, bahkan gajinya lebih besar dengan manajer perusahaan atau seorang profesor, asalkan ia bisa menghasilkan, contohnya, 3 tulisan dalam satu minggu. 1 tulisan biasanya mendapatkan honor antara Rp.200.000 hingga Rp.600.000. Jika seandainya 1 minggu 3 tulisan, satu tulisan, misalnya, dihargai Rp.300.000, kemudian dikali 1 bulan, rinciannya (4 minggu X 12 X 300.000), berapa hayo?

Wah sangat menggiurkan bukan? Sungguh kalkulasi itu menggiurkan saya sebagai penulis pemula yang baru belajar (dari dulu-dulu). Ini membuatku semangat dan tak putus asa untuk tetap belajar menulis. Dia juga menceritakan kalau kita menulis itu harus disiplin, komitmen, atau janji pada diri sendiri. Belum lagi misalkan kalau kita menulis buku. Dari menulis buku kita akan mendapatkan royalti minimal (biasanya) 10% per eksemplar. Walau dia sendiri tidak menjamin kalau profesi menulis itu bisa menjamin kelangsungan hidup seorang pengarang, tetapi arah ke sana telah ada dan bahkan sangat memungkinkan karena jaman sekarang adalah zaman knowledge economy. Pengen bukti yang telah ada? Selain dirinya sendiri ada juga yang lainnya misalnya Iwan Gayo yang terkenal dengan Buku Pintar-nya, Ayu Utami dengan novel Saman-nya yang mendapat penghargaan, Dewi Lestari dengan Super Nova-nya, dan atau Helvi Tiana Rosa.

Saya kira itu merupakan bukti kalau jadi penulis pun bisa dijadikan andalan hidup kita, artinya, kita mencari rizqi bisa lewat menulis. Namun untuk menjadi penulis sebagai profesi tidaklah gampang, butuh pengorbanan yang banyak. Masalahnya adalah tulisan yang kita buat adalah untuk konsumsi orang lain, maka belum tentu bisa dimuat ketika mengirimkannya ke media massa atau penerbit. Ada beberapa hal yang saya salutkan dari Andrias mengenai latihan atau pun komitmennya yang tinggi untuk jadi penulis profesional. Dan kita patut mencontohnya. Di bawah ini adalah ungkapan-ungkapannya yang begitu menggugah saya:

“Apa yang disebut komitmen dapat dipahami sebagai “janji pada diri sendiri”. Dan mengarang akan gampang kalau kita mau berjanji pada diri sendiri, bahwa “saya akan menulis dan terus menulis sampai menjadi penulis profesional”.

“Saya berjanji pada diri sendiri untuk meluangkan waktu mengarang sedikitnya 1 halaman per hari, 7 halaman per minggu, selama 12 bulan. Kalau dalam satu hari saya sempat menyelesaikan satu artikel yang panjangnya 7 halaman, maka saya mengijinkan diri saya untuk “berlibur” 6 hari berikutnya. Kalau saya berhasil menyelesaikan beberapa artikel yang total berjumlah 30 halaman dalam seminggu, maka saya boleh cuti selama 3 minggu berikutnya. Itu saja janji atau komitmen saya."

Alangkah dahsyat kata-katanya itu, sampai-sampai saya begitu merinding membacanya. Ungkapan-ungkapannya itu telah merasuk dan mengalir dengan darah saya. Sekali lagi bahwa menjadi penulis pun kita bisa hidup. Sudah banyak orang-orang yang telah membuktikannya. Sekarang tinggal bagaimana kita berlatih, berlatih, sekali lagi berlatih menulis yang baik. Untuk menjadi penulis yang baik, Onno W. Purbo telah memberikan modalnya, yaitu (1) banyak membaca dan mendalami hal-hal yang kita sukai dan (2) fokus dan berdedikasi pada hal yang kita sukai.

Menurut novelis Amerika, William Faulkner, Menulis adalah 90 % kerja keras, 10 % bakat. Itu pendapat novelis terkenal lho? Lantas bagaimana menurut kita yang baru saja mau belajar menulis? Mungkin bagi saya menulis adalah 100% kerja keras dan 0% bakat. Bagaimana tidak? Saya semenjak SD belajar menulis hingga duduk di bangku kuliah masih saja selalu kesulitan menulis. Beberapa kali saya mengirimkan cerpen atau pun tulisan yang lain selalu saja ditolak. Tapi, aku selalu menghibur diri sendiri, mungkin bukan saat ini aku jadi penulis, mungkin suatu hari nanti, ya suatu hari nanti. Kata-kata itu selalu saya ucap dalam hati kala tulisan saya ditolak oleh media massa. Dan yang penting bagiku adalah selalu belajar, belajar dan belajar menulis hingga semua yang aku cita-citakan tercapai.

Kini peluang menjadi penulis sangat lebar sekali di tanah air kita. Berbagai media massa baik cetak maupun elektrik telah melimpah-ruah. Dan tinggal pilih saja media- media massa yang bisa memuat cerpen-cerpen kita. Kesempatan begitu luas untuk mengarah pada profesi penulis. Karena hampir semua—mayoritas—berbagai media massa memuat karya fiksi terutama cerpen. Sebut saja misalnya, Kompas, Republika, Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan masih banyak lagi. Kemudian majalah-majalah seperti An Nida, Ummi, Sabili, Aneka Yess, Hai, Femina, Kartini, dan yang lainnya. Belum lagi tabloid-tabloidnya, belum lagi media-media elektrik di dunia cyber. Semuanya sedang menanti tulisan-tulisan kita. Yang pentiing bagi kita adalah siapkah kita menjadi seorang penulis profesional? Dalam arti siapkah kita melejitkan diri dalam menulis dengan cara terus belajar, menambah wawasannya, dan berdisiplin? Karena, sebagaimana perkataan Helvy Tiana Rosa bahwa belajar menulis adalah belajar seumur hidup, sampai kapanpun. Selamat berkarya dan ditolak!