Minggu, Mei 17, 2009

Sang Pengubah Mitos

Judul buku : The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao diedit oleh Tim Clark
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal buku : 256 halaman
-----------------------

Siapa sangka seorang bocah petani mampu menjadi penakluk dan penguasa tertinggi Jepang. Dan siapa pula yang mengira seorang samurai tak berpedang menjadi pemenang tunggal dari perang berkepanjangan dan berhasil menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik selama lebih dari 100 tahun. Dialah Toyotomi Hideyoshi, anak petani yang bertubuh kecil, tak berotot, berwajah jelek, dan tak berpendidikan. Bahkan tak ada sejengkal pun dari tubuhnya yang meninggalkan kesan seorang samurai. Namun, segala kekurangannya itu diubah menjadi kekuatan besar yang dapat mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa seluruh Jepang.

Hideyoshi lahir di tengah berkecamuknya masa peperangan antar klan, zaman di mana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Ia lahir di Nakamura, provinsi Owari tercatat tahun 1536 dan saat usianya tujuh tahun ayahnya meninggal sehingga ia harus mendapati ayah tiri yang kerap bertengkar dengannya.

Ia mengerti betul betapa keras hidup keluarganya, terutama ibu yang dikasihinya. Satu saat ia membuat keputusan untuk pergi mencari pekerjaan di saat berusia 15 tahun. Hideyoshi telah bertekad untuk meringankan beban orang tuanya, keluar dari belenggu kemiskinan yang menjeratnya.

Bagi rakyat jelata sepertinya tak ada sedikit pun aset maupun ketrampilan yang dimiliki untuk bertahan hidup dan mencari peruntungan. Hidup di jalanan sebagai pedagang jarum dan menjalani pekerjaan serabutan, telah mengajarinya menjadi mahir dalam menilai karakter orang. Namun antusiasmenya begitu besar untuk menjadi pengikut salah satu klan penguasa yang dianggapnya akan menjadi pijakan karir hidupnya. Hideyoshi menjadi pengikut setia Oda Nobunaga, yang sebelumnya sempat menjadi pelayan keluarga Matsushita. Ia mengabdikan diri sepenuhnya dan memulai karir sebagai pelayan rendahan sembari mendapatkan julukan Monyet dari tuannya.

Meski dengan pekerjaan remeh—sebagai pembawa sandal—Hideyoshi menganggap tugasnya sebagai pijakan menuju jabatan yang lebih tinggi. Karenanya ia melakukan dengan ekstra keras sembari mencari peluang-peluang emas untuk mendemonstrasikan dedikasinya kepada tuannya. Bahkan ia jarang tidur nyenyak semalaman demi mengantisipasi saat-saat tidak biasa di mana sang majikan akan memerlukan bantuannya.

Bagi Hideyoshi, bergabung dengan klan Oda adalah titik balik yang menentukan perkembangannya sebagai seorang pemimpin. Nobunaga sangat mempercayai kompetensi bawahannya, memiliki visi ke depan dan memahami dedikasi. Di sinilah Hideyoshi berhasil mencapai banyak hal yang semestinya mustahil untuk diraih. Sikapnya yang keras terhadap dirinya sendiri membuahkan prestasi yang begitu mencengangkan. Bahkan ia menjadi tangan kanan Lord Nobunaga yang sangat terpercaya dan bersama-sama menjalankan misi menyatukan Jepang, membawa Jepang menuju hari yang baru.

Hideyoshi berhasil mengubah kesan kelemahannya menjadi kekuatan besar yang mengejutkan banyak orang. Karirnya melejit ke puncak kekuasaan, bermula dari panglima perang biasa menjadi pemimpin para penguasa; dari seorang pemimpin yang mengepalai puluhan menjadi penguasa jutaan. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Hideyoshi meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Dalam sejarah Jepang tercatat dirinya menjadi orang pertama yang menempati posisi itu tanpa pertalian darah dengan kaum bangsawan.

Buku ini seolah menjadi replika diri Hideyoshi sendiri yang mendeskripsikan filosofi seorang pemimpin legendaris Jepang di abad XVI. Kitami Masao, penulis buku ini, mengulas Hideyoshi dari sudut pandang orang pertama, sehingga kehadiran tokoh utamanya benar-benar dapat dirasakan oleh setiap pembacanya.

Kisah Hideyoshi menjadi inspirasi tersendiri untuk dapat diterapkan dalam jalan menuju kesuksesan. Kemauan yang keras dan kenekatannya mengubah keadaan telah menjadi kekuatan pendobrak yang mampu membalik mitos yang tak terbantahkan di zamannya. Dalam kamusnya, siapapun dan dari kalangan manapun mempunyai peluang yang sama dalam memperjuangkan cita-cita dan meraih kemenangan. Adapun pesan yang selalu didengungkan Hideyoshi adalah bekerja keras, bertindak berani dan bersyukur.
Warisan berharga lain yang dapat kita petik yaitu prinsip kepemimpinannya. Hideyoshi merupakan pemimpin yang berangkat dari karir pelayan. Maka inti dari kepemimpinannya adalah pengabdian. Dan yang terpenting lagi, seorang pemimpin harus
mendemonstrasikan integritas mereka dan memenuhi janji mereka berapapun harga yang harus dibayar.

Prinsip dan ajaran di atas menjadi warisan berharga setiap generasi yang menginginkan perubahan ke arah lebih baik. Buku ini sangat cocok bagi siapa pun yang menginginkan perubahan dalam dirinya menuju lebih baik. Arvan Pradiansyah dan Andy F. Noya pun—di dalam endorsement-nya merekomendasikan buku ini.***

M.Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang

3 komentar:

Sidik Nugroho mengatakan...

satu minggu dua tulisan. mantap. sesama pengajar yang nyambi nulis, kuakui produktivitasmu ciamik. lanjutkan! (dan jaga kesehatan... :-))

Noura Qalbi mengatakan...

Ah.. dia itu cuma mengamalkan hadis ~yang ada namanya "Dawam", yaitu~

"adwamuha wa inqolla"

"(yang paling baik adalah)yang paling kontinyu walaupun cuma sedikit".

Klau mas Sidik mau ngalahin dia... ya...carilah jargon2 atau kamut2 atau apalah yang ada mencantumkan kata "Sidik Nugroho", gitu kali ya...hehehe...

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Sidik N.: Kita memang ada kesamaannya:pengajar, penulis, dan laki-laki. Hanya satu bedanya, anda belum punya calon ibunya anak-anak :). suatu fakta yang tak terbantahkan.

Noura Q.: Nama itu kan doa :). Semoga aku bisa meneladani namaku sendiri.Semoga namamu juga menjadi doa yg membawa berkah.