Selasa, Juni 23, 2015

Pertemuan Orientalis dan Oksidentalis di Indonesia

Judul: Antara Timur dan Barat
Penulis: Al Makin
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Maret 2015
Tebal: XI + 258 hlm.

Indonesia adalah negara yang unik. Alamnya yang subur dan sukunya yang banyak menjadikan karakternya begitu khas yang tidak bisa disamakan dengan negara lain. Belum lagi terjadinya akulturasi budaya, perjumpaan antar-suku, sehingga memunculkan karakter-karakter lainnya.

Hal ini berpengaruh pula dengan agama, utamanya agama Islam. Geografi, iklim, dan manusia, akan membedakan cara beragamanya. Indonesia merupakan penganut Islam terbesar di dunia. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti, khususnya peneliti dari Barat.

Al Makin dalam buku ini memaparkan betapa banyak para peneliti Barat mengkaji Indonesia dari pelbagai aspek, terutama dari aspek agama. Misanya William (bob) Hefner meneliti bagaimana Islam dan negara berinteraksi di Indonesia. Hasil penelitiannya adalah Indonesia bisa menjadi model masyarakat demokrasi di dunia Islam. Hefner cukup optimis dengan keterbukaan, keragaman, dan perkembangan masyarakat Indonesia, demokrasi akan tumbuh (hlm. 152).

Ada juga Clifford Geertz, peneliti asal Amerika, yang meneliti akulturasi Jawa dan Islam. Ia meneliti daerah Pare, Kediri. Ia mengikuti tradisi setempat: upacara kelahiran, kematian, selametan, dan lain-lain. Ia kemudian menyimpulkan varian atau model yang ada dalam masyarakat Jawa: Abangan, santri, dan priyayi. Varian ini dijadikan kategorisasi umum oleh kalangan akademik Indonesia sehingga menjadi populer.

Menurut Geertz Indonesia sangat sinkretik dan akomodatif terhadap ajaran dan budaya lokal. Hal itu kemudian menjadi ciri khas Islam di Indonesia (hlm. 169). Selain Hefner dan Geertz, masih banyak lagi peneliti lainnya yang tidak kalah menarik seperti Mark Woodward, Willian Liddle, Peter Carey, Ricklefs, dan lain-lain.

Banyaknya peneliti Barat meneliti Indonesia menimbulkan pertanyaan, apa sesungguhnya motif mereka menjadikan Indonesia sebagai objek kajiannya? Dalam ranah Islam dan Indonesia sebagai objek kajian, Al Makin mengutip Mukti Ali, paling tidak ada 3 motivasi: kepentingan kolonialisasi, misionaris, dan akademisi (hlm. 153).

Namun seiring perubahan zaman, motivasi itu sudah menjadi bias, bahkan tidak berlaku lagi. Para peneliti baik dari Barat maupun Timur sudah melebur. Tidak ada sekat lagi di antara peneliti. Lebih dari itu, mereka saling belajar dan bersahabat. Mereka saling bekerjasama, bahu-membahu, memberi informasi dan kemudahan satu sama lain. Sebut saja Martin van Bruinessen, Karel Steenbrink, Nico Kaptein, dan lain-lain.

Uniknya lagi, tidak setiap peneliti Barat mempunyai pandangan yang sama atas objek yang sama. Mereka bisa saja berbeda pandangan. Hal ini menandakan bahwa peneliti Barat tidak perlu dicurigai secara berlebihan seperti halnya pada zaman kolonialisme. Di zaman modern perbedaan antar-peneliti adalah sebuah hal yang lumrah, bahkan dengan sesama peneliti Barat sendiri.

Kritik Mark Woodward terhadap Clifford Geertz membuktikan hal itu. Mark mengkritik atas kategorisasi yang diberikan Geertz yaitu santri, priyayi, dan abangan. Geertz dianggap lalai dengan tradisi literatur Jawa yang memuat konsep-konsep penting tentang Islam, sufi, dan tradisi Jawa. Geertz hanya fokus pada satu daerah dan terobsesi pada pengamatan masyarakat, praktik keseharian, sementara konsep-konsep penting terlupakan. Jadi hasil penelitian Geertz dianggap ahistoris (hlm. 172-173).

Membaca buku ini kita seperti sedang diajak jalan-jalan ke Barat (Amerika dan Eropa) dan Timur (Indonesia). Kita diperkenalkan dunia akademik dan tokoh-tokoh pentingnya, siapa saja para peneliti Barat meneliti Timur (orientalisme) dan peneliti Timur meneliti Barat (oksidentalisme). Era globalisasi ini kesempatan mengkaji Barat dan Timur begitu mudah, nyaris tanpa ada halangan. []

Tidak ada komentar: