Senin, Februari 15, 2010

Mengungkap Misteri Freemasonry

Resensi ini dimuat di KORAN JAKARTA, Sabtu 13 Februari 2010

 Judul: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 705 halaman
-------------------
The Lost Symbol adalah novel kelima karya Dan Brown, dan novel ketiganya yang melibatkan karakter Robert Langdon, ahli simbol dari Universitas Harvard, setelah Angels & Demons dan The Da Vinci Code. Permulaan kisah dalam novel ini dimulai dengan Robert Langdon yang dipanggil ke Washington DC untuk mengisi ceramah, sembari menemui temannya Peter Solomon, tepatnya di gedung Capitol. Namun, ternyata undangan tersebut hanyalah kebohongan belaka.

Di gedung tersebut seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason. Langdon ternyata akan diperalat. Langdon dihubungi oleh seseorang yang mengaku sedang menyandera Peter Solomon. Penyanderaan tersebut tak lain sebagai jaminan agar Langdon memecahkan teka-teki tentang “Ancient Mysteries” yang dimiliki organisasi Freemason. Penyandera Peter Solomon tersebut ternyata juga mengejar adik Peter Solomon, Katherine. Kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia. Secara umum, alur novel ini masih sama seperti novel-novel sebelumnya, Th e Da Vinci Code dan Angels and Demons.

Petualangan semalam diburu waktu untuk menyelamatkan seseorang atau sesuatu dari sosok misterius yang tak diduga dan berhubungan dengan organisasi penuh rahasia dan interpretasi simbol. Dan tokoh perempuan yang menemani petualangan sang tokoh utama pria. Kali ini, organisasi yang hendak dibongkar misterinya adalah Freemasonry. Menurut Encyclopaedia Britannica, Freemason merupakan perhimpunan rahasia terbesar di dunia, berkembang dari loji-loji tukang batu pembangun katedral di Abad Pertengahan. Sebagian kecil loji itu mengembangkan ajaran kebatinan yang memungut ritus-ritus dan pernak-pernik ordo keagamaan kuno dan kelompok persaudaraan.

Loji Agung, persatuan beberapa loji, pertama berdiri di Inggris pada 1717, dan Freemason pun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Robert Langdon berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sahabatnya yang telah ditawan. Maka dimulailah petualangan semalam suntuk Robert Langdon di Washington. Selain itu, Direktur CIA menekan dia untuk segera mengungkap siapa penyandera tersebut dan segera memenuhi permintaan sang penculik karena penculikan Solomon adalah masalah keamanan nasional. Nahasnya, sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan melayang, dan rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.

Pada saat Langdon mencari teka-teki itu, pembaca akan “diajak” melihat terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington. Pembaca akan merasa berdebar-debar saat mengikuti penelusuran Robert Langdon. Buku The Lost Symbol ini dikisahkan secara menarik dan penuh kejutan-kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.[]

M. Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh

2 komentar:

Arief mengatakan...

Secara intertekstual novel Brown selalu kaya akan informasi, dan ini mengubah pandangan pembaca akan sastra populer (formula sastra), menurut Mas Iqbal sendiri sejauh mana optimisme tentang perkembangan sastra populer di negara kita? Yang cenderung didominasi oleh pencitraan ihwal cinta.

Pandi mengatakan...

Dari resensinya, jadi penasaran nih, ingin baca bukunya..