Jumat, Februari 13, 2015

Surat untuk (Calon) Penulis

Pengalaman Menulis di Media Massa dan Penerbit
M. Iqbal Dawami§
Untuk sobatku yang sedang belajar menulis,

Saat menulis surat ini, hujan sedang turun dengan syahdunya. Malam terus merayap. Sayup-sayup suara murattal yang diputar adikku turut mengiringi pula tulisan ini yang ditujukan padamu. Ya, saya hendak berbagi pengalaman menulis baik di media massa maupun penerbitan. Semoga saja ada manfaatnya buatmu, sobat.

Untuk menjadi penulis baik di media massa maupun penerbit, kamu harus mengenal terlebih dahulu jenis tulisan apa saja yang ada di sana. Pada umumnya, media massa dan penerbit menerima tulisan berjenis: fiksi dan nonfiksi. Fiksi, misalnya, cerpen dan puisi (media massa), kumpulan cerpen dan novel (penerbit). Nonfiksi, misalnya, opini dan resensi (media massa), karya tulis ilmiah dan populer (penerbit).

Untuk mengenal karakter media massa kamu harus membaca korannya. Tidak ada cara lain. Tidak bisa menebak-nebak lewat perantara orang lain. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain orang, lain pula pengalamannya. Di antara ragam jenis tulisan itu, kamu boleh mencoba semuanya, dan boleh pula memilih salah satunya saja. Saya sendiri pernah mencoba semuanya, namun seiring waktu, saya memutuskan memilih jenis dan tema yang saya minati dan kuasai. Itu yang membuat saya bergairah menulis, karena disertai dengan penuh kesenangan, bukan keputusasaan.

Begitu juga dalam soal mengenal penerbit. Bacalah buku dari pelbagai penerbit. Bandingkan satu penerbit dengan penerbit lainnya. Pelajarilah. Setelah kamu mengkhatamkannya kamu akan bicara, “Mereka saja bisa menulis seperti ini, kenapa aku gak?” Setelah mengatakan demikian, tugasmu kemudian adalah membuktikannya. Jangan berhenti pada komentar tapi lanjutkan dengan pembuktian. Nah, itu lebih hebat.

Sobatku yang ingin menjadi penulis, 
Buku sudah menjadi kebutuhan saya sehari-hari, selain sandang, pangan, dan papan. Saya suka membaca buku-buku keislaman, manajemen, inspirasi, spiritual, dan dunia kepenulisan. Maka tak aneh tulisan saya juga kebanyakan di lingkaran itu. Saya cari pelbagai rubrik di media massa yang kira-kira berjodoh dengan tulisan saya. Akhirnya saya menemukannya. Di Republika saya mendapatkan rubrik Hikmah, di Jawa Pos saya mendapatkan rubrik Di Balik Buku. Beberapa kali tulisan saya dimuat di rubrik tersebut. Di antara surat kabar, Sindo adalah yang paling sering memuat resensi saya, selain Koran Jakarta dan Media Indonesia. Ya itu tadi, temanya (ditambah kekhasan tulisan) sesuai dengan saya.  

Jika saya disuruh memberikan saran kepada sahabat semua, maka inilah sarannya:

“Carilah media yang sesuai dengan jenis tulisan kalian. Tekunilah. Resensi saya membutuhkan 6 bulan untuk bisa dimuat di media massa nasional. Tidak ada jalan pintas. Nikmatilah prosesnya. Belajarlah pada “kegagalan” dimuat. Perbaiki lagi, kirim lagi, begitu dan begitu. Kalau itu dilakukan, maka hanya tinggal menunggu waktu saja tulisan Anda bisa dimuat. Musuh utama bukanlah orang lain, tapi hal yang ada di dalam dirimu, seperti malas dan tidak sabar.”

Dulu, saya adalah seorang predator buku. Semua buku saya lahap dan resensi. Kejar setoran dan kejar buku-buku gratisan adalah semboyan saya. Dulu yang saya raih adalah kuantitas. Produktifitas digenjot. Satu bulan bisa mencapai 5 buku yang diresensi. Kadang dimuat semua, tapi kadang pula tidak. Tapi kini  yang saya kejar adalah kualitas. Satu resensi bernilai lima resensi. Bagaimana caranya? Nanti saja saya terangkan. Saya hendak berbagi pengalaman menulis buku dulu.

Pada mulanya adalah membaca untuk meresensi. Ketika membaca buku, saya menandai hal-hal yang menarik. Ketika selesai membacanya, dua hal yang saya dapatkan: bahan resensi dan bahan buku. Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekali membaca buku, dua bahan tulisan saya dapatkan. Tak aneh kemudian sekitar 3 bulan saya bisa mengumpulkan tulisan untuk naskah buku. Setelah diolah dan matang, hal yang saya lakukan adalah mengirimnya ke penerbit. Cupid, Diva Press, Leutika, Elex Media, Qudsi Media, Erlangga, Grafindo, dan Gramedia Pustaka Utama adalah pelbagai penerbit yang telah menerbitkan buku-buku saya. Begitulah saya menulis buku.  

Mungkin timbul pertanyaan kamu, bagaimana teknik menulis resensi dan buku dengan bagus? Ah, itu tidak perlu saya terangkan. Saya hanya perlu menunjukkannya saja. Seperti halnya saya, kamu pun bisa mengikutinya. Saya meniru teknik menulis para penulis yang menurut saya bagus dan cocok dengan saya. Misalnya, J. Sumardianta, Gede Prama, Rhenald Kasali, Komaruddin Hidayat, Yudi Latif, Syafii Maarif, dan lain-lain. Perhatikan bagaimana cara mereka membuka tulisan, mengembangkan, dan mengakhiri tulisannya, lalu ikutilah.  

Begitulah sobat pengalaman singkat saya. Meski perjalanannya tidak sesingkat itu. Kuharap kalian semua bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya ini. Sebenarnya masih ada pengalaman lainnya yang belum saya bagikan, seperti saat menjadi editor di penerbit Bentang Pustaka, dan saat ini menjadi editor freelance dan menerbitkan buku-buku indie. Pada kesempatan lain saya akan bagikan, termasuk yang mungkin masih penasaran bagaimana caranya membikin satu resensi bernilai lima resensi, konkritnya bagaimana honor 500 ribu rupiah menjadi lima juta rupiah. 
Terima kasih. Selamat berlatih menulis, sobat.

Salam.
M.I.D




§ Penulis, peresensi, editor, dan pelatih kepenulisan. Buku terbarunya Hidup, Cinta, dan Bahagia (Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I Desember 2014). Email iqbal.dawami@gmail.com, Hp. 085729636582

1 komentar:

Yosep Manthora mengatakan...

Haturnuhun kang Iqbal...suratna katampi pisan.....insya Allah saran sareng anjuranna manfaat pisan...sakali deui nuhun.....