Kamis, Maret 29, 2012

Sastra dalam Secangkir Kopi


Judul: Filosofi Kopi
Penulis: Dewi Lestari (Dee)
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 152 halaman

Nama Dewi Lestari (yang akrab dipanggil Dee) masih harum. Seharum buku ini yang sesungguhnya terbit pada 2006. Meski karya paling anyarnya adalah Madre (2011), lantaran keharumannya, buku ini diterbitkan kembali oleh penerbit yang berbeda. Bak aroma kopi dalam cangkir, buku ini juga nampak harumnya masih belum pudar. Pembaca masih merasakan sensasinya. Buku ini adalah kumpulan cerita dan prosa satu dekade, rentang 1995 hingga 2005. Judulnya diambil dari salah satu judul tulisan di dalamnya. Barangkali ini menjadi tulisan andalan dari tulisan lainnya.


Seorang lelaki bernama Ben, peracik kopi yang mencari cita rasa kopi yang sempurna. Saat mendapatkan kesempurnaan, maka saat itu pula akan mendapatkan ketidaksempurnaannya. Ya, Ben memang tergila-gila pada kopi. Dia berkeliling dunia demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh negeri serta berkonsultasi dengan para ahli peracik kopi. Walhasil, dia termasuk salah satu peramu kopi handal. Dia membuka kedai kopi dengan nama Kedai Koffie. Dia mengajak kawannya, Jody, sebagai manajernya.

Dia tidak sekadar meramu, mengecap rasa, tapi juga merenungkan kopi yang dia buat. Ben menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi. Baginya, setiap kopi punya karakter masing-masing. Mulai dari cafe latte, cappucino, hingga kopi tubruk. Lalu dia mengganti nama kedainya menjadi Filosofi Kopi, berikut slogannya, ‘Temukan Diri Anda di Sini.’ Semua racikannya punya arti.

Kedainya menjadi magnet, banyak orang betah tinggal di situ. Hingga suatu hari ada seorang pengusaha kaya mencari kopi yang punya arti : kesuksesan adalah wujud kesempurnaan hidup. Berhubung kopi tersebut tidak ada, maka lelaki itu menantang Ben untuk membuatnya, dengan bayaran 50 juta, apabila Ben berhasil menemukan racikan sesuai dengan arti tersebut. Ben tertantang. Berminggu-minggu Ben melakukan uji coba. Kedainya berubah menjadi laboratorium.

Ben berhasil menemukan racikannya. Kopi tersebut berhasil memenangkan taruhannya. Sang pengusaha terkagum-kagum sembari memberikan cek senilai 50 juta. kopi tersebut dinamakan Ben's Perfecto; sukses adalah wujud kesempurnaan hidup. Keuntungan kedai meningkat dan berlipat ganda sejak hadirnya kopi tersebut. Namun, tak lama kemudian kebanggaannya pudar seketika, saat dia menemukan warung kopi sederhana di puncak Merapi. Cita rasanya sungguh aduhai. Barangkali itulah refleksi manusia modern. Idealisme dibenturkan dengan kapitalisme. Haus kesempurnaan dan pengakuan. Mengejar kemapanan dalam arti holistik.

Karya yang “Dipaksakan”
Membaca “Filosofi Kopi” dan Mencari Herman” adalah dua kisah tentang obsesi. Yang pertama obsesi perihal kopi yang punya cita rasa sempurna, dan yang kedua obsesi akan sosok bernama Herman. Dua-duanya mendapatkan jawaban dari ketidaksengajaan dan kesederhanaan. Sama halnya “Filosofi Kopi”, “Mencari Herman” juga kisah tentang pencarian kesempurnaan. Hera, perempuan remaja, terobsesi mencari lelaki bernama Herman hingga dewasa. Namun tidak kunjung menemuinya. Hingga Hera mati mengenaskan.

Buku ini sebenarnya mempunyai potensi kumpulan cerpen, jika saja beberapa tulisan prosa dikembangkan seperti halnya Filosofi Kopi, Mencari Herman, dan Rico de Coro. Maka, dengan berat hati saya katakan bahwa karya ini terlalu dipaksakan untuk menjadi sebuah buku. Jadi, sebenarnya hanya beberapa tulisan saja yang pantas dijadikan peran penting dalam buku ini. Selebihnya pelengkap saja, sekadar mempertebal halaman agar dijadikan sebuah buku.

Kaver menjadi kelebihan tersendiri untuk buku ini. Meski agak spekulatif juga dengan mempertebal kata "Kopi" dari yang lainnya. Karena, bagi pembaca yang tidak tahu kalau ini adalah karya sastra, boleh jadi menganggap buku ini tentang kopi atau filsafat. Dan, bisa jadi, buku ini ditaruh di rak toko buku bagian tanaman atau filsafat apabila karyawan toko buku buta atas isi buku ini.

Keegoisan penulis untuk memaksakan kehendak dengan memasukkan tulisan-tulisan pendeknya sungguh sebentuk pemaksaan kepada khalayak pembaca. Saya merasa terganggu oleh tulisan-tulisan tersebut. Secara tidak langsung hal itu memengaruhi rasa suka saya pada karya lainnya yang luar biasa, seperti Supernova dan Perahu Kertas yang berkualitas prima itu. “Mumpungisme” telah dipraktikkan oleh penulisnya. Seolah semua tulisan pasti disukai oleh pembaca.

Mestinya dia tidak memaksakan kehendak untuk memilah dan memilih tulisan sesuai kategorisasi. Jika tulisan prosanya masih sedikit, sabarlah sebentar, tulis dulu prosa yang lainnya, sehingga ketika sudah banyak bisa diterbitkan secara mandiri. Tulisan yang tidak mesti dimasukan ke dalam buku, yang terkesan dipaksakan di antaranya: Salju Turun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Diam, Cuaca, Lilin Merah, Spasi, dan Cetak Biru.

Meski tulisan-tulisan itu pendek namun harus diakui, bahasanya begitu nyastra dan padat makna. Dalam Lilin Merah, misalnya, Dee menulis dengan indah sekali. Adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu. Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai disembur napas, lilin tersungkur mati di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah. Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kekuatan hati yang tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.

Dee juga piawai dalam bermetafora. Dalam Spasi, bisa kita lihat. Dee mengatakan, Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Saya berharap Dewi Lestari bisa menulis lebih bagus lagi, meski sudah mapan. Biasanya, godaan seorang penulis yang sudah terkenal, karyanya menjadi dangkal. Idealisme sudah tidak dibangun lagi. Dia telah memasuki ranah industri, yang notabene-nya mengutamakan keuntungan ketimbang kualitas karya. Saya rindu karya-karya Dee semisal Supernova yang mengundang pro-kontra dan Perahu Kertas yang asyik, kocak, namun tetap memerhatikan cita rasa sastranya. Kedua karya itu sama-sama menjaga kedalaman makna dan kedetailannya.

M. IQBAL DAWAMI, penikmat sastra, tinggal di Pati.

Jumat, Maret 09, 2012

Kisah Mengesankan Pengajar Muda


Judul: Indonesia Mengajar : Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri
Penulis: Pengajar Muda
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: II, Desember 2011
Tebal: xviii + 322 hlm.

Ayu Kartika Dewi jatuh cinta pada Iman, salah satu muridnya di SD. Dia dibuat kagum oleh tingkahnya yang kharismatik, disenangi dan didengarkan teman-temannya. Dalam pandangannya, Iman kelak menjadi seorang pemimpin besar negeri ini. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, dia mengajak siswanya menulis puisi. Iman membuat puisi yang ditujukan untuknya. Kontan dia tersentuh.

Sebaliknya, Rahmat Danu Andika, dirindukan oleh Upi, salah satu muridnya di kelas 2 SD di Halmahera Selatan. “Pak Guru! Uba kita pe luka dulu! (Pak Guru! Obati luka saya dulu!)”. Kegiatan mengobati luka, begitu menarik buat Upi. Tingkahnya menunjukkan bahwa ia kurang perhatian dan kasih sayang. Ia berbakat dengan angka-angka. Senang matematika. Ia ingin berlama-lama dengan Rahmat, gurunya. Upi si anak berbahasa angka, yatim piatu. Dia sering pura-pura sakit agar bisa berlama-lama dengan gurunya.

"Cinta saya kepada Ibu lebih besar dari uang sakuku." Kalimat itu terletak dalam surat ucapan terima kasih yang dibuat murid-murid SD Paser kepada Diah Setiawaty dalam rangka hari guru. Bagi murid-murid tersebut, sekolah adalah perjuangan. Banyak dari mereka yang harus menyeberang sungai terlebih dahulu untuk ke sekolah. Buku dan uang saku adalah kemewahan bagi mereka. Uang saku mereka yang kecil sekadar membeli minuman yang bisa membasahi kerongkongan dan untuk mengganjal perut seadanya setelah berjalan yang melelahkan. Bagi mereka uang saku begitu berharga. Maka tidak aneh mereka membuat ucapan seperti itu.

Ketiga kisah di atas adalah sepercik pengalaman berkesan yang dialami oleh para Pengajar Muda saat mengajar dan tinggal selama satu tahun di pelosok negeri Indonesia. Kisah-kisah dari pengajar lainnya bisa kita baca dalam buku berjudul Indonesia Mengajar (2011))yang diterbitkan Bentang Pustaka. Hanya selang satu bulan sejak terbit, buku ini sudah cetak ulang kedua. Sungguh luar biasa. Animo masyarakat sungguh tinggi terhadap kiprah para pengajar muda ini yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM).

Pengajar Muda adalah sebutan untuk para guru hasil didikan GIM. Pada angkatan pertama, GIM memberangkatkan 51 Pengajar Muda. Para Pengajar Muda ini hasil seleksi dari 1.383 pelamar yang sudah melalui proses seleksi ketat sejak pertengahan tahun 2010. Untuk membekali Pengajar Muda, mereka diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian pelatihan selama 7 minggu di Ciawi, Bogor sejak akhir September 2010 hingga awal November 2010.

Lokasi penempatan Pengajar Muda yaitu di Kabupaten Bengkalis, Riau, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dan Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. GIM merupakan sebuah program yang digagas oleh Anies Baswedan. Program ini memiliki tujuan ganda, pertama, untuk mengisi kekurangan guru berkualitas Sekolah Dasar di daerah terpencil. Kedua, untuk membekali pemuda terbaik yang berpotensi menjadi world class leader with grass root understanding, yaitu pemimpin yang memiliki visi ke depan namun memahami dan mengerti seluk beluk permasalahan rakyat di akar rumput.
GIM mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia, bukan melalui seminar dan diskusi tetapi melalui program kongkret mengirimkan sarjana terbaik Indonesia menjadi Guru SD. Anak-anak muda terbaik meninggalkan kemapanan kota, melepaskan peluang karier dan melewatkan semua kenyamanan lalu memilih menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik. Seperti yang dikisahkan Erwin Puspaningtyas, pengajar muda yang ditempatkan di Majene, “Jika saat ini kau ingin mengeluh karena listrik padam, bersyukurlah karena itu hanya beberapa menit atau jam saja. Di sini, listrik pun bahkan tidak ada. Jika kamu makan sampai puluhan dan ratusan ribu, uang itu adalah penyambung hidup kami di sini selama sebulan. Bersyukurlah atas apa yang kamu punya.”

Begitu juga yang dikisahkan Rusdi Saleh, pengajar muda di Tulang Bawang Barat. Genset, andalan desa tersebut, adalah sumber energi bagi ponsel, laptop, dan alat-alat elektronik lain yang mereka miliki. Genset itu beroperasi hanya 4,5 jam. Dari pukul enam sore sampai setengah sebelas malam. Setelah itu genset dimatikan lagi.

Para Pengajar Muda hadir memberikan harapan. Pengajar Muda hadir mendekatkan jarak mereka dengan pusat kemajuan, hadir membuat anak-anak SD di pelosok negeri memiliki mimpi dan hadir membuat para orangtua di desa-desa terpencil ingin memiliki anak yang terdidik seperti para Pengajar Muda.

Menjadi Pengajar Muda dituntut untuk mampu menyampaikan materi sesuai dengan dengan kegiatan siswa sehari-hari, seperti membuat soal cerita matematika yang temanya menggunakan kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan. Seperti yang dialami Ijma Sujiwo, Pengajar Muda Paser, Kalimantan Timur. Dia memberikan ujian di kelas 4. Dalam soal matematika nomor 4 dia membuat pertanyaan, "Apakah yang dimaksud dengan sudut tumpul?" Ada salah satu siswa menjawab, "Karena tidak diasah." Jawaban tersebut di luar dugaan. Anak-anak menjawab sesuai dengan apa yang mereka lihat, dengar, dan kerjakan sehari-hari.

Kisah-kisah yang mereka tuliskan ini sungguh menginspirasi dan merangsang semua untuk melihat pendidikan sebagai Perjuangan Semesta: saling bantu, saling dukung. Mulai dengan mensyukuri perkembangan, memperbaiki kekurangan, dan diikuti dengan kesiapan untuk turun tangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Kata Pengantar, Anies Baswedan mengatakan bahwa mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.

Tantangan Pengajar Muda tidak serta merta dari soal pendidikan saja, perihal bagaimana proses belajar mengajar yang efektif, melainkan juga soal interaksi sosial dengan masyarakat setempat. Para Pengajar Muda di Majene, misalnya, sempat ditolak oleh para penduduk, karena masih trauma dengan kejadian masa lalu. Penduduk pernah kecewa dengan orang yang dahulu pernah datang seperti pengajar muda itu.
Mereka diberi banyak janji palsu, dan mengakibatkan perpecahan di masyarakat.
Selain fakta sosial, mereka (Pengajar Muda) juga melihat fakta ekonomi di sana.
Mereka menilai bahwa usaha ekonomi pedalaman tidak ada value adding yang dilakukan. Misalnya para petani tambak warga Labuangkalo. Jika saja mereka paham mengenai pengolahan, pemasukan warga akan jauh lebih tinggi. Proses penjualan bahan mentah amat statis dan berpotensi tereksploitasi oleh pembeli karena dapat saja harga belinya ditekan atau dialihkan sumber bahan mentah para warga. Para Mengajar Muda menilai hanya pendidikan yang mampu memotong rantai tersebut.

Buku ini merupakan cara dan pesan yang amat indah untuk menyampaikan perihal tantangan menjadi guru di pelosok Indonesia. Kisah-kisah yang dialami Pengajar Muda yang terekam dalam buku ini begitu otentik dan menyentuh kepada hati pembaca. Semoga pembaca tergerak untuk bangkit dan turut mengambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.[]

M. Iqbal Dawami, direktur Iqro Corporation.

Jumat, Februari 24, 2012

Mengupas Intisari Ajaran Agama

Judul: Compassion; 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 247 halaman

Tahun 2007 penghargaan TED (Technology, Entertainment, Design) diberikan kepada sejarawan agama yaitu Karen Armstrong. TED adalah sebuah organisasi nirlaba swasta yang setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada orang-orang yang dianggap membuat perbedaan dan ide-idenya pantas disebarluaskan. Atas penghargaan tersebut, Karen Armstrong menulis buku ini. Sejak bukunya A History of God diterbitkan pada tahun 1993, ia telah menetapkan dirinya sebagai seorang sejarawan agama. Ia telah menghasilkan serangkaian teks yang sudah ditandai tidak hanya oleh kedalaman penelitian dan pemahaman, tetapi dengan kebijaksanaan dan kewarasan. Ini penting terutama pada saat perang agama telah pecah dengan semua kepahitan masa lalu yang kini dilancarkan dengan senjata baru dan lebih merusak. Dia telah memposisikan dirinya sebagai mediator independen yang menafsirkan agama dengan kecerdasan yang menawan nan berbudaya.


Karen Armstrong berujar bahwa kita dapat mengejar tujuan yang sulit dipahami dengan belajar dari tradisi agama kita. Setiap tradisi, katanya, menawarkan mitos yang mengajarkan kita kebaikan dan empati. Tidak peduli sebanyak apa mitos tersebut, karena, semua tradisi agama, filosofis, dan etis didasarkan pada prinsip belas kasih. Hanya saja belas kasih menjadi luntur mana kala direcoki perihal ekonomi yang berbasis pasar alias kapitalisme. 

Ekonomi berbasis pasar didorong oleh keserakahan, bankir dan pedagang terkunci dalam persaingan tanpa henti dan tanpa kasihan memangsa satu sama lain. Dan peran agama muncul dalam masalah itu. Islam, misalnya, mengajarkan etos belas kasih yang dibawa oleh Nabi Muhammad, di mana pada waktu itu yakni abad keenam Mekkah telah menjadi pusat "kerajaan komersial." Nabi Muhammad menerima wahyu untuk melawan kapitalisme agresif tersebut.

Jika kita bisa bicara tentang proyek Armstrong, tampaknya ada dua papan utama dalam platform-nya, keduanya dibangun kokoh ke dalam buku barunya ini. Yang pertama adalah konsepnya dari mitos yang bertentangan dengan logos sebagai bahasa agama. Logos adalah faktual, pengetahuan ilmiah, sedangkan mitos adalah "upaya untuk mengungkapkan beberapa aspek yang lebih sulit dipahami hidup yang tidak dapat dengan mudah disajikan secara logis diskursif". Misalnya, ia membahas mitos Yunani Demeter, dewi panen dan biji-bijian, dan putrinya, Persephone. Dia mengatakan bahwa untuk meminta orang-orang Yunani apakah ada dasar historis untuk mitos akan menjadi tumpul. Bukti kebenaran dari mitos adalah cara dunia datang untuk lahir di musim semi setelah kematian musim dingin. Saya setuju bahwa cerita Demeter adalah mitos yang tepat, salah satu yang menggunakan narasi untuk mengungkapkan suatu kebenaran abadi.

Papan kedua dalam platform-nya adalah bahwa kasih sayang atau belas kasih adalah inti sari dari agama-agama besar dunia. Dia adalah manusia yang sangat penyayang, dan baru-baru ini meraih piagam “Kasih Sayang” tersebut, karenanya ia menempatkan itu dalam kata pengantar buku ini, hendak mengembalikan kasih sayang kepada jantung kehidupan agama dan moral. Dua belas Langkah untuk Hidup Penuh Kasih adalah baik manifesto dan manual self-help. Sebagai manifesto, itu mempromosikan kampanyenya untuk menempatkan kasih di jantung agama; sebagai panduan dimodelkan pada program 12 langkah, ia menawarkan latihan ditujukan untuk meningkatkan kasih sayang kita sendiri. Ini akan membuat panduan brilian untuk pemimpin spiritual dan lokakarya tentang kehidupan penuh kasih, dan sebagai repositori kebijaksanaan dicerna dari agama-agama dunia.

Dalam buku 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih ini, Armstrong mengesampingkan perdebatan tentang doktrin dan sejarah agama. Tujuannya adalah untuk menanam keinginan berakar untuk ekuitas. Dia berusaha untuk mengubah mereka yang telah mengeras menjadi memihak kepada kebenaran. Baginya agama adalah yang terbaik ketika dapat membantu menampilkan peta dan terus dalam pencarian dan akan menjadi buruk ketika mencoba mencari jawabannya secara otoritatif dan dogmatis.

Dua belas langkah ini mencoba untuk mengupas belenggu ego dan memperbesar kapasitas simpatik kita. Baginya, ketika kita melampaui orang-orang yang tidak suka, diri kita tumbuh dan perspektif kita keluar. Komitmennya untuk tujuan menuju hidup penuh kasih ini begitu sengit, kasih sayang untuknya bukan hanya hangat-hangat kuku saja melainkan energik. Arsmtrong meyakini bahwa kasih mendorong kita untuk bekerja tanpa lelah untuk meringankan penderitaan sesama makhluk hidup, untuk menurunkan takhta diri kita sendiri dari pusat dunia kita dan untuk menghormati kesucian, memperlakukan semua orang, tanpa kecuali, dengan keadilan, kesetaraan dan rasa hormat.

Salah satu poinnya yang menarik adalah bahwa setiap interpretasi dari kitab suci yang menyebabkan penghinaan itu tidak lah sah. Kitab suci harus dibaca dengan amal dan niat baik. Armstrong membantah dogma bahwa kita tertanam untuk keegoisan, tapi tidak altruisme atau belas kasih. Kita ini menanam kebaikan, katanya.

Buku ini ditutup dengan contoh-contoh dari tokoh politik transenden seperti Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi, dan lain-lain. Hal yang bisa kita pelajari para tokoh tersebut bahwa mencaci musuh kita hanyalah bayangan dari keinginan kita sendiri yang ingin terpenuhi. Beberapa orang mungkin menganggap proyek ini sebagai utopia belaka. Dalam buku ini dia berusaha untuk melatih kita dari pandangan ego yang berbahan bakar dari keberpihakan dan prasangka kepada kemanusiaan.

Saya kira buku ini sangat relevan untuk konsumsi masyarakat Indonesia, agar tercipta dan terjaga kedamaian antar sesama. Sungguh, buku yang patut untuk dibaca dan dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. []

M. Iqbal Dawami, pencinta buku, tinggal di Yogyakarta.

Senin, Januari 30, 2012

Menjadi Pribadi Visioner


Judul: Start from the Finish Line; Saatnya Menciptakan Hidup Hidup Sesuai Pilihan Anda
Penulis: Mohamad Ramdan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 206 hlm

Saat usia 17, Sidney Sheldon, novelis ternama, pernah melakukan percobaan bunuh diri. Hal yang mendorong untuk melakukan itu adalah karena ia merasa hidupnya tidak bahagia. Cita-citanya saat itu adalah ingin kuliah dan menjadi penulis. Tapi keinginannya itu seperti membentur tembok, lantaran ekonomi keluarga tidak mendukung.
Saat pulang kerja, ia mempersiapkan percobaan bunuh dirinya. Saat itu orangtuanya hendak silaturrahmi ke rumah saudaranya. Ketika mereka semua sudah pergi, maka ia mengeluarkan minuman yang bisa langsung mematikannya. Dan ketika hendak meminumnya, tiba-tiba ayahnya muncul. Keduanya sama-sama terkejut. Sheldon tak menyangka ayahnya akan balik lagi. Ayahnya pun tak menduga kalau Sheldon hendak mengakhiri hidupnya. Ayahnya bertanya mengapa ia ingin bunuh diri?

Ia lalu mengajak Sheldon jalan-jalan sembari menasihatinya. “Hidup ini seperti novel,” ujar ayahnya, “Penuh ketegangan. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi hingga kau buka halamannya. Setiap hari adalah halaman yang berbeda, Sidney, dan setiap hari bisa penuh kejutan, kau tak pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kau buka halaman itu, ” ujar ayahnya. Mulai saat itu hidup Sheldon bersemangat lagi. Kata-kata itu terus dikenangnya hingga Sheldon beranjak senja.


Kisah di atas mengisyaratkan tentang pentingnya membangun visi dalam hidup ini. Jika tidak mempunyai visi, maka hidup mudah goyah, tanpa arah, dan cenderung pasrah (saat keadaan buruk datang). Salah satu cara agar bisa melaksanakan visi adalah dengan memulai sesuatu dengan tujuan akhir. Mohamad Ramdan, dalam buku ini, memberikan ilustrasi soal itu. Dia mengibaratkannya dengan gawang dalam pertandingan sepak bola. Pertandingan akan berlangsung ngawur dan membosankan jika tidak ada gawangnya; tidak ada target yang hendak dituju.

Hal yang sama juga dalam hidup. Jalan cerita hidup dari sekarang hingga akhir nanti tidak akan ngawur dan membosankan apabila kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Semua tujuan hidup kita tersebut hanya akan dapat dinikmati hasilnya apabila kita membingkainya dalam batas-batas waktu dan kriteria target yang jelas. Betapa sebenarnya hidup kita berpusat kepada tujuan akhir yang kita tetapkan sekarang. Dari tujuan akhir itulah kita akan menentukan rute terbaik yang harus kita tempuh untuk selanjutnya menyiapkan strategi dan amunisi yang tepat untuk menjalaninya (hlm. 33).

Dengan becermin pada peristiwa yang dialami Sheldon di atas, penjelasan Ramdan menemukan signifikansinya. Ramdan mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki rancangan peta jalan hidup yang jelas, sering kali mendapatkan diri mereka dalam keadaan kebingungan karena tidak memiliki arah hidup yang jelas, perasaan hampa karena tidak mengerjakan sesuatu sesuai dengan minatnya, putus asa karena minimnya persiapan menjalani pola hidup yang ekstrem, sampai kepada menyalahkan Tuhan atau nasib karena merasa diperlakukan tidak adil.

Proaktif
Dia mengingatkan bahwa di saat mengalami peristiwa buruk kita harus menjaga diri agar tidak reaktif. Orang yang reaktif cenderung membiarkan pengaruh-pengaruh dari luar untuk mengendalikan respons mereka. Orang reaktif akan selalu menempatkan dirinya sebagai korban dari stimulus negatif maupun positif saat mereka menemukan fakta bahwa ternyata hasil dari respons mereka tidak menguntungkan dirinya. Sebaliknya, kita harus bersikap proaktif. Karena, orang proaktif paham bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk mengendalikan respons terhadap stimulus yang dihadapinya. Bagi mereka, baik stimulus negatif maupun positif tetap menyisakan ruang yang dapat digunakan untuk menentukan pilihan dalam memberi respons.

Ramdan mempraktikkan hal itu. Saat baru satu bulan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, dia merasakan betapa beratnya menjalani hidup. Apabila sebelumnya hanya tinggal mendelegasikan pekerjaan kepada anak buah, maka saat baru merintis usaha sebagai konsultan, dia harus terlibat 100% di semua detail pekerjaan. Pada waktu dia merasa kelelahan dan putus asa karena begitu sulitnya mendapatkan klien, tiba-tiba salah seorang sahabatnya menelepon dan menawarkan sebuah pekerjaan dengan posisi dan gaji yang cukup menggoda bagi seorang yang sedang dilanda kesulitan seperti dia saat itu.

Saat dalam posisi dilematis itu, tiba-tiba dia diingatkan kembali akan tujuan akhirnya tentang keinginan untuk menjadi konsultan dan trainer di bidang ilmu kepemimpinan (leadership). Apabila dia kembali menjadi karyawan, mungkin masalah yang dia hadapi saat itu seketika akan hilang, namun mungkin dia tidak akan pernah sampai kepada tujuan akhir yang dia cita-citakan. Ibarat kapal, dia hanya tertambat di dermaga. Berlindung dari ombak besar yang sebenarnya berpotensi membawanya ke sebuah pulau harapan. Dia pun memutuskan menolak tawaran menggiurkan itu dan memilih untuk tetap teguh menjalankan pilihan kariernya yang baru, demi mengejar tujuan akhir hidupnya sebagai pemilik perusahaan konsultan dan training di bidang leadership.

Buku yang berjudul Start from the Finish Line; Saatnya Menciptakan Hidup Hidup Sesuai Pilihan Anda ini diambil dari pengalaman hidup si penulisnya sendiri. Ramdan merumuskan perjalanan hidup suksesnya, terutama dalam kariernya. Oleh karena itu, buku ini penuh dengan kisah nyata yang diambil dari pengalamannya sendiri maupun orang-orang yang ada di lingkungannya. Buku ini mengajak kita untuk bermain-main dengan “remote control kehidupan” yang dapat kita gunakan untuk membawa diri kita “melompat” ke masa depan dan melihat bagaimana akhir dari kisah hidup kita di dunia ini. Begitu kita mendapatkan gambaran yang jelas akan akhir kisah hidup kita di masa depan, maka kita pun dapat kembali ke masa sekarang dan merancang peta jalan hidup yang akan membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki.

Saat bermain-main dengan “remote control kehidupan”, kita akan benar-benar menyadari bahwa pada hakikatnya semua nasib yang akan kita alami di akhir kehidupan kita di dunia, sebagian besar adalah konsekuensi alamiah dari serentetan pilihan yang kita ambil sepanjang hidup. Melalui buku ini kita akan akan menemukan rahasia-rahasia bijak bagaimana cara menjadi manusia yang memiliki kendali penuh terhadap sebagian besar akhir kisah hidup kita. Selain itu, kita juga diberikan cara-cara agar mempunyai pribadi yang visioner, yakni sebuah pribadi yang mampu merancang dan mewujudkan kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup yang kita yakini membawa kebahagiaan.

Buku ini layak Anda baca sebagai bekal agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi. Dengan tuturan bahasannya yang enak, buku ini cocok sekali dibaca sembari menyesap teh hangat dan sepiring pisang goreng di pagi hari. Selamat membaca.[]

M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta

Perjalanan Mencari Kebahagiaan


Judul: The Geography of Bliss
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 512 hlm.

Eric Weiner, seorang jurnalis Amerika, ingin melihat dunia dengan niat untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murung. Buku ini campuran antara catatan perjalanan, psikologi, sains, dan humor. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India, dan Amerika.



Setiap negara yang hendak dituju, ia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik, seperti apakah orang-orang Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan? 


Menurutnya di Belanda kebahagiaan adalah angka, di Swiss kebahagiaan adalah kebosanan, di Bhutan kebahagiaan adalah kebijakan, di Qatar kebahagiaan adalah menang lotre, di Moldova kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lain, di Thailand kebahagiaan adalah tidak berpikir, di Britania Raya kebahagiaan adalah karya yang sedang berlangsung, di India kebahagiaan adalah kontradiksi, dan di Amerika kebahagiaan adalah rumah. 


Kesimpulan itu berdasar pengamatannya di masyarakat masing-masing negara dalam lingkungan tertentu. Jadi, penelitiannya ini tidak bisa dijadikan patokan kekhasan soal kebahagiaan menurut pandangan Weiner. Pandangan setiap orang pasti berbeda dalam melihat dan menilai sesuatu. Tapi, paling tidak lewat buku ini kita bisa mengetahui barometer masing-masing negara apa makna kebahagiaan yang dirasakan dan dipikirkannya.
Pada saat di Belanda dia menemui Ruut Veenhoven, seorang profesor “kebahagiaan” yang mempunyai “World Database of Happiness”. Sejumlah waktunya dihabiskan untuk meneliti soal kebahagiaan di seluruh dunia.

Menemuinya bermanfaat sekali untuk bekal perjalanan Weiner ke pelbagai negara. Bagi Weiner Belanda adalah negara yang terlalu bebas. Dia sudah merasakan ketidaknyamanannya, dan tidak bisa membayangkan andai dia tinggal di sana. Dia membayangkan setiap harinya akan mengisap mariyuana, dengan pelacur di samping kiri dan kanannya. 


Di Swiss, negara yang demokratis, dan tertata segala sesuatunya. Masyarakat di sana betah dengan kondisi demikian. Namun, Weiner tidak. Baginya, keadaan itu sungguh membosankan. Tidak ada tantangan yang membuat dirinya terpacu untuk menjadi lebih baik. Di sana segala sesuatu terlalu datar. Setelah Bhutan, Weiner kemudian mengunjungi Qatar. Qatar adalah negara kaya karena sumber daya minyak yang melimpah. Para penduduknya banyak yang kaya mendadak. Ada pergeseran budaya dan gaya di sana. Mereka hidup mewah. Segala sesuatu bisa dibeli. Itulah kebahagiaan bagi mereka, dalam penilaian Weiner.  


Setelah melakukan perjalanan mencari kebahagiaan ke pelbagai negara, apakah Weiner menemukan kebahagiaan? Yang manakah yang cocok baginya dari macam-macam kebahagiaan yang ditemuinya? Jawabannya Anda dapat temukan di buku ini. Pada akhirnya, budaya yang berbeda memang mengikuti jalan yang berbeda untuk meraih kebahagiaan.

M. Iqbal Dawami, pecinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.

Rabu, Desember 21, 2011

Menemukan Potensi dalam Diri


Judul: Winning with Passion
Penulis: Jimmy Gani & Ervin A. Priambodo
Penerbit: Esensi
Cetakan: 1, 2011
Tebal: xxvi + 284 hlm.

Setiap orang dilahirkan dengan potensi untuk menjadi pemenang. Sayangnya, kebanyakan dari kita terlalu sibuk memelihara keyakinan yang sebaliknya, bahwa kita tidak layak menang. Alhasil, kita pun menjadi pecundang, menggenapi keyakinan yang kita pegang. Jimmy Gani dan Ervin A. Priambodo mencoba mematahkan mitos yang Anda percayai dan membantu Anda meyakini potensi pemenang dalam diri Anda. Melalui enam cetak biru praktis dan teruji, kepercayaan diri Anda dipulihkan dan semangat Anda digelorakan kembali untuk mengenali, menggali, serta memaksimalkan potensi pemenang di dalam diri Anda.


Membaca buku ini akan menyadarkan Anda bahwa kemenangan sudah ada di depan mata jika Anda memiliki passion. Buku ini dapat menjadi solusi bagi mereka yang pernah gagal dan ingin bangkit dari keterpurukannya. Tulisan-tulisan di dalamnya memacu kita untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Mengubah mindset, mengenali kekuatam diri, selalu optimistis, lalu terus berbaik sangka kepada Tuhan, diibaratkan sebuah jalan tol yang mempercepat mencapai kemenangan. Buku ini bermanfaat bagi generasi muda penerus bangsa dan siapa pun yang membacanya, agar Indonesia mampu menyetarakan potensi dan realisasinya sehingga setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Seseorang yang percaya bahwa harapan sudah tidak ada, otomatis akan kehilangan gairah. Tentu hal ini memengaruhi proses pencapaian tujuan yang pada akhirnya memengaruhi hasil akhir yang dicapai. Jadi gairah seseorang bergantung pada state of mind-nya. Semakin positif state of mind seseorang, semakin bergairah orang tersebut dan semakin besar peluangnya untuk mencapai sasaran maupun impian.

Winning with Passion adalah sebuah metode mengelola sumber daya dengan penuh gairah. Kunci dari kemampuan seseorang untuk bisa melakukan manajemen dengan gairah adalah berfokus pada pencapaian impian yang ia tetapkan dengan mindset yang senantiasa positif. Winning with Passion dapat dirangkum dengan penerapan konsep: winning mindset: berprasangka baik kepada Tuhan bahwa setiap usaha dan doa akan ia kabulkan dengan memberikan yang terbaik. Selain itu, kita harus memiliki mindset yang positif ketika memandang berbagai hal dan permasalahan yang dihadapi.

Winning behavior: membangun sebuah perilaku yang positif hingga membentuk dan menjalankan perilaku layaknya seorang juara: jujur, unggul, amanah, risk taker, rendah hati, dan adil. Winning attitude in change: mampu melihat, mengamati dan terlibat aktif dalam suatu perubahan dari sudut pandang passion seorang juara. Winning mentality: membangun mental dan passion layaknya seorang juara, berpendirian teguh dalam kebenaran dan mampu menyalakan api kehidupan, mengenal potensi diri, serta berkarya menjadi mulia.

Winning way: usaha untuk mencapai harapan dengan menerapkan langkah dan metode sistematis yakni dengan melakukan Niat, Doa, Ikhtiar, Pasrah, Syukur, Ikhlas. Winning system: mencoba untuk menetapkan impian dan sasaran yang SMART (Specific, Measureable, Agreeable, Realistic, Traceable) sejelas-jelasnya hingga dapat diwujudkan.[]

M. Iqbal Dawami, pecinta buku, tinggal di Yogyakarta

Jumat, Desember 02, 2011

Kepemimpinan Dahlan Iskan di PLN

Judul: Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, November 2011
Tebal: xiii + 349 hlm.
Harga: Rp. 64.800,-

Buku berjudul Dua Tangis Ribuan Tawa ini merupakan kumpulan CEO noted yang dibuat oleh Dahlan Iskan—mantan direktur PLN yang sekarang menjabat Menteri BUMN—selama dia memimpin PLN. Bahasanya yang sederhana, jenaka, namun berbobot, Dahlan membahas pengalaman dan usaha yang dilakukan segenap jajaran karyawan dalam melakukan reformasi di PLN, termasuk rintangan dan keberhasilannya.
 

Dahlan Iskan bukan ahli listrik tetapi wartawan dan entrepreneur media yang menjadi CEO PLN, dengan memakai logika dan common sense dalam menyelesaikan persoalan. Dengan gayanya yang mudah dimengerti ia menulis CEO Noted bagi seluruh karyawannya untuk memberi motivasi. Demikian yang dikatakan M. Jusuf Kalla, mantan wakil Presiden RI dan juga seorang pengusaha. Namun lebih dari itu, CEO Noted tersebut juga menjadi inspirasi perubahan bagi seluruh karyawan PLN untuk menjadi lebih baik memenuhi kebutuhan energi di daerah dan seluruh Indonesia. 

Di dalam buku ini kuyup dengan kisah-kisah suka-duka Dahlan Iskan dan para pegawai PLN (yang dikisahkan Dahlan) yang memerlihatkan betapa keputusan-keputusan yang mereka ambil membawa perubahan yang signifikan; pesimis menjadi optimis, lamban menjadi cepat, cacian menjadi pujian, dan sebagainya. Maka secara tidak langsung, ini bisa juga dikatakan kiat-kiat CEO PLN dalam meningkatkan “perusahaan”-nya. Dan melalui CEO Noted inilah pola komunikasi antara pimpinan dan karyawan tetap terjaga secara baik, terbuka, dan blak-blakan.
 

Di CEO Noted ini Dahlan memilih bentuk komunikasi yang tidak langsung. Bentuknya tidak seperti sambutan, tidak seperti imbauan dan bukan pula berisi instruksi. Dia juga menghindari khotbah di dalamnya. 
 

Masalah yang paling sederhananya misalnya mengenai pengadaan baju seragam PLN. Banyak di antara karyawan PLN yang hampir 50.000 orang itu mempersoalkan pengadaan baju seragam. Ada yang bilang telah terjadi KKN di situ. Juga permainan komisi. Ada yang menghendaki agar baju seragam diatur per provinsi. Jangan dipusatkan. Bahkan ada yang minta agar seragam diberikan dalam bentuk uang. Masing-masing karyawan bisa membuat sendiri. Permintaan manakah yang Dahlan penuhi?
 


Jika dipenuhi salah satunya akan menimbulkan ketidakpuasan yang lain, dan akan menjadi pembicaraan di kalangan wartawan yang tak henti-hentinya, mengalahkan pembicaraan untuk mengatasi krisis listrik. Maka Dahlan memutuskan: baju seragam dihapus!
 

Dahlan mengatakan bahwa tulisan menjadi sarana paling efektif dan efisien untuk menjangkau karyawan PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunikasi lewat tulisan sangat penting agar pikiran-pikiran pemimpin tertinggi di perusahaan bisa menjangkau seluruh karyawan, bahkan hingga level terbawah.
 

Terkait judul buku ini, “Dua Tangis dan Ribuan Tawa” diambil dari salah satu tulisannya ketika enam bulan menjabat Dirut PLN. Selama enam bulan itu, Dahlan menangis dua kali, tetapi bisa tertawa bahagia ribuan kali. Mengapa Dahlan menangis hingga dua kali? Silakan pembaca membacanya langsung.
 

Dan selama di PLN, Dahlan menangis tiga kali. Yang ketiga yaitu saat dirinya harus meninggalkan PLN karena ditunjuk menjadi menteri negara (Menneg) BUMN. []
 

M. Iqbal Dawami, esais. 

Senin, November 14, 2011

Hamka Plagiat?

Judul: Aku Mendakwa Hamka Plagiat; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis: Muhidin M Dahlan
Penerbit: Scripta Manent
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 238 hlm.

Buku ini diakui oleh penulisnya, Muhidin M Dahlan, sebagai pengantar untuk niat Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan “Lentera” membukukan polemik berkepanjangan perihal plagiasi yang dilakukan Hamka, sastrawan cum ulama. Bahkan bagi saya yang tidak menyaksikan polemik itu lantaran hidup pada masa kini, bukan hanya pengantar, tapi juga penyambung lidah Pram untuk mengangkat isu skandal tersebut ke masa kini.
 

Semua bermula dari esei Pram yang dimuat di Bintang Timur pada Jumat 10 Oktober 1962 berjudul “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”. Dari situ terus bermunculan tulisan-tulisan lainnya yang ditulis para penulis lain, namun isunya cuma satu bahwa roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (TKvDW) adalah plagiasi dari roman yang ditulis pengarang Prancis Aplhonse Karr, Sous less Tilleuls. Ditengarai para pendakwa, Hamka mengambilnya dari hasil saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) berjudul Al-Majdulin (Magdalena).
 

Abdullah Sp, di antara salah satu penulis yang turut mengkritisi novel TKvDW. Ia mengirimkan satu resensi-esei dengan judul “Sekali lagi membaca buah tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?” Dalam esei pertama itu, mula-mula Abdullah Sp menceritakan pengalamannya sewaktu jadi santri di “santri asrama”, Majalengka, Jawa Barat, dan menemukan roman karya Hamka.
 

“Karya Hamka itu (cetakan pertama, th 1938), entah, sudah tujuh kali kubaca, kutelentang-telungkupkan, kutelentang-bukakan lagi, kubaca lagi, tak jemu2nya laksana surat Al-Fatihah. Begitu asik aku dipukau HAMKA. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, pernah pula pada suatu hari—sesudah membacanya—menangis sendirian di sudut sunyi…!” (hlm. 30-31)
 

Namun kekagumannya kepada Hamka itu berubah menjadi rasa muak setelah Abdullah tahu dalam salah satu film yang diadaptasi dari karya Al-Manfaluthi yang ditontonnya suatu hari “mirip” dengan karya Hamka. Film itu berjudul: Dumu el- Hub (Airmata Cinta) (hlm. 31). Dan dia menyimpulkan bahwa Hamka melakukan plagiasi secara mentah-mentah.
 

Sepekan kemudian Abdullah Sp mengirim tulisan lagi, dimana kali ini dia membandingkan di antara kedua karya tersebut (karya Hamka dan karya Al-Manfaluthi). Klimaks tulisannya adalah pemuatan yang ketiga, yakni dua pekan kemudian di Bintang Timur. Judul tulisannya langsung menohok, “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” Ia menguraikan dan membandingkan bagaimana novel Hamka TKvDW dijiplak dari karya Manfaluthi berjudul Magdalena.
 

Dari sinilah kemudian para pegiat sastra terbelalak. Reaksi bermunculan, baik yang pro maupun kontra. Dari kubu yang kontra dengan mazhab Pram yakni yang diimami HB Jassin tak jelas sikapnya, apakah karya Hamka plagiat, jiplakan, saduran, atau terjemahan? Jassin hanya mengatakan bahwa novel tersebut adalah pengalaman khas Hamka. Abdullah Sp langsung menjawab bahwa “khas Hamka” itu ditimba dari pengalaman Karr/Manfaluthi.
 

Lantas, bagaimana sikap Hamka? Hamka tidak melayani tuduhan tersebut. Hamka hanya menjawab bahwa itu adalah tugas “Panitia Kesusasteraan” untuk menyelidikinya.
 

Pramoedya sebenarnya waktu itu sudah menyiapkan buku berjudul Hamka Plagiator. Tapi, sampai saat ini tidak ada yang tahu kemana rimbanya. Penulis hanya mendapatkan sepotong guntingan koran di Bintang Timur/”Lentera” yang menandaskan bahwa tentara di bawah korps Peperda (Penguasa Perang Daerah) Jakarta Raya melarang diteruskannya usaha “Lentera” membersihkan “daki2 sastra Indonesia”.
 

Hingga saat ini persoalan “Hamka Plagiat” anti-klimaks. Buku ini memang tidak mengkritisi hal-ihwal soal itu, tapi hanya mengajak pembaca untuk membuka kembali suatu peristiwa penting dalam sejarah sastra Indonesia, sebuah polemik yang berkepanjangan. Jadi, paparannya deskriptif semata. Namun, buku ini sangat penting dibaca dan menjadi khazanah berharga bagi generasi muda, terlebih bagi yang concern dengan sejarah Kesusastraan Indonesia. Layak dibaca.[]

M. Iqbal Dawami, penikmat sastra.  

Agama Itu Seperti Seni

Judul: Masa Depan Tuhan
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2011
Tebal: 608 hlm.

Inilah buku yang membahas “sejarah” Tuhan dari masa ke masa. Saya akui pengklasifikasiannya luar biasa, runut dan sistematis, mulai dari “Tuhan yang tidak diketahui”—dari 30.000 SM hingga 1500 M—hingga “Tuhan Modern”—dari 1500 M hingga sekarang.
 

Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari kita menemukan kemampuan baru pikiran dan hati. Inilah yang menjadi salah satu tema buku ini. Menurut Karen Armstrong tidak ada gunanya menimbang ajaran-ajaran agama secara otoritatif untuk menilai kebenaran atau kepalsuannya sebelum menjalani cara hidup religius. Anda akan menemukan kebenaran—atau ketiadaan kebenaran—di dalamnya hanya setelah Anda menerjemahkannya ke dalam ritual atau perbuatan etis. Tak berbeda dengan setiap keterampilan, agama memerlukan ketekunan, kerja keras, dan disiplin. Sebagian orang cakap dalam hal itu dibanding yang lain, sebagian lagi sangat tidak berbakat, dan yang lain sama sekali luput darinya.
 

Kaum Daois perdana memandang agama sebagai semacam “kecakapan” yang diperoleh melalui latihan terus-menerus. Zhuangzi salah satu tokoh terpenting dalam sejarah spiritual Cina, menjelaskan bahwa tidak ada gunanya berusaha untuk menganalisis agama secara logis.
 

Dia mengutip Bian si tukang kayu: “Ketika saya mengerjakan sebuah roda, jika saya menekan terlalu pelan, meskipun nyaman, saya tidak akan menghasilkan roda yang baik. Jika saya menekan terlalu keras, saya jadi lelah dan hasilnya tidak bagus! Jadi, jangan terlalu pelan, jangan terlalu keras. Saya memegangnya di tangan saya dan merasakannya dan merasakannya di dalam hati saya. Saya tidak dapat menyatakan ini dengan perkataan di mulut, saya hanya tahu. Si bungkuk yang menangkap tonggeret di hutan dengan tongkat berujung lengket tidak pernah meleset sekali pun. Dia telah menyempurnakan konsentrasinya sehingga dirinya larut di dalam pekerjaannya, dan tangannya seolah-olah bergerak dengan sendirinya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana dia melakukan itu, tetapi hanya mengetahui bahwa dia telah memperoleh keahlian itu setelah berlatih berbulan-bulan. Keadaan kehilangan-diri ini, jelas Zhuangzi, adalah sebuah ekstasis yang memungkinkan Anda untuk “melangkah keluar” dari prisma ego dan mengalami yang Ilahi.
 

Patut disesalkan Dawkins, Harris, dan Hitchens mengekspresikan diri mereka dengan terlalu garang, sebab beberapa dari kritik mereka memang sah. Orang beragama memang telah melakukan berbagai kekejaman dan kejahatan, dan teologi fundamentalis yang diserang kaum ateis baru memang “tidak cakap”, meminjam istilah Buddha. Namun, mereka menolak, pada prinssipnya, untuk berdialog dengan para teolog yang lebih mewakili tradisi arus utama. Sebagai akibatnya, analisi mereka sayangnya menjadi dangkal karena didasarkan pada teologi yang begitu rapuh.
 

Amstrong dapat bersimpati pada kejengkelan kaum ateis baru karena selama bertahun-tahun dia sendiri pernah berkeinginan untuk tidak punya hubungan apa-apa dengan agama, dan beberapa buku pertamanya jelas-jelas cenderung ke arah Dawkins-esque. Tetapi, pengkajiannya tentang agama-agama dunia selama dua puluh tahun terakhir telah mendorongnya untuk merevisi pendapatnya yang terdahulu. Itu bukan hanya telah membukakan pikirannya pada berbagai aspek agama seperti yang dipraktikkan dalam tradisi-tradisi yang dipandang sebagai iman yang terbatas dan dogmatis dari masa kecilnya, tetapi penilaian yang saksama atas bukti itu telah membuat dia melihat Kekristenan secara berbeda. Salah satu hal yang dia pelajari adalah bahwa bertengkar tentang agama tidak ada manfaatnya dan tidak kondusif bagi pencerahan. Bukan hanya membuat pengalaman religius yang autentik menjadi mustahil, hal itu juga melanggar tradisi rasionalis Socratik.
 

Pada bagian pertama buku ini, Armstrong mencoba menunjukkan bagaimana orang-orang berpikir tentang Tuhan di dunia pramodern dalam cara yang, dia harap, memberi kejelasan tentang beberapa isu yang kini dirasa orang-orang bermasalah—kitab suci, inspirasi, penciptaan, mukjizat, wahyu, iman, kepercayaan, dan misteri—dan juga menunjukkan bagaimana agama menjadi kacau.
 

Pada bagian kedua, dia menelusuri kebangkitan “Tuhan modern”, yang menggulingkan begitu banyak persangkaan agama tradisional. Ini, tentu saja, tidak dapat menjadi uraian yang lengkap. Arsmtrong berfokus pada Kristen, sebab itu merupakan tradisi yang paling terkena dampak bangkitnya modernitas ilmiah dan juga dihantam pukulan keras dari serangan ateistik baru. Lebih jauh, di dalam tradisi Kristen, dia berkonsentrasi pada tema dan tradisi yang berbicara secara langsung tentang masalah-masalah religius kontemporer kita.
Kita telah terbiasa berpikir bahwa agama harus menyediakan informasi bagi kita. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Tetapi, ini adalah penyimpangan modern. Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos. 

Tugas agama, sangat mirip dengan seni, adalah membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan: kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan pada ketidakadilan dan kekejaman kehidupan.
 

Rasionalitas ilmiah dapat memberi tahu kita mengapa kita menderita kanker, bahkan dapat menyembuhkan kita dari penyakit. Tetapi tidak dapat meredakan kengerian, kekecewaan, dan kesedihan yang datang bersama diagnosis itu, juga tidak dapat membantu kita untuk mati dengan baik. Itu tidak berada dalam wewenangnya. Akan tetapi, agama tidak akan bekerja secara otomatis; ia membutuhkan upaya besar dan tidak akan berhasil jika ia dangkal, palsu, memberhala, atau memperturutkan kehendak sendiri.
 

Agama adalah disiplin amaliah, dan wawasannya tidak berasal dari spekulasi abstrak, tetapi dari latihan spiritual dan gaya hidup yang berdedikasi. Tanpa amalan seperti itu, mustahil untuk memahami kebenaran ajarannya. Hal ini juga berlaku untuk filsafat rasionalisme. Orang-orang datang kepada Socrates bukan untuk belajar sesuatu—dia selalu menekankan bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diajarkan kepada mereka—melainkan untuk mengalami perubahan pikiran.
 

Pemahaman agama tidak hanya menuntut upaya intelektual yang berdedikasi untuk melampaui “berhala-berhala pikiran”, tetapi juga gaya hidup penuh kasih yang memungkinkan kita keluar dari prisma kedirian. Logos yang agresif, yang berusaha untuk menguasai, mengontrol, dan membunuh oposisi, tidak dapat membawakan wawasan transenden ini. Pengalaman membukuktikan bahwa ini hanya mungkin jika orang menumbuhkan sikap reseptif, mendengarkan, tidak berbeda dengan cara kita mendekati seni, musik, atau puisi. Agama memerlukan kenosis, “kapabilitas negatif”, “kepasifan yang bijak”, dan hati yang “mengamati dan menerima”. []

M. Iqbal Dawami,
alumnus Tafsir-Hadis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Selasa, November 01, 2011

Tafsir Sufi sebagai Kritik Sosial


Judul: Tafsir Al-Jailani
Penulis: Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Penerjemah: Aguk Irawan
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2011
Tebal: 299 hlm.

Saya baru tahu kalau Syekh Abdul Qadir al-Jailani mempunyai kitab tafsir. Sebelumnya saya hanya tahu kitab-kitabnya mengenai dunia tasawuf, seperti al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, Jala' al-Khawathir, Sirr al-Asrar, dan Asror Al Asror. Awal 2009 salah satu penerbit Turki menerbitkan Tafsir al-Jailani, yang diambil dari manuskrip yang ditemukan di Vatikan Italia, perpustakaan Qadiriyyah, dan India.  

            Tentu saja penerbitan (dan bahkan penemuan) tafsir tersebut saya sambut dengan bahagia, dan kebahagiaan saya berlipat saat penebit zaman menerbitkan edisi bahasa Indonesianya. Para pengkaji tafsir era klasik maupun modern sedikit sekali (untuk mengatakan tidak ada) membahas tafsir Abdul Qadir al-Jailani ini. Husain al-Dzahabi, penulis kitab al-Tafsir wa a-Mufassirun yang menjadi rujukan para pengkaji tafsir, tidak menyebutkan tafsir ini. Orientalis bernama Ignaz Goldziher, yang juga karyanya (sudah diterjemahkan oleh ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mazhab Tafsir; Dari Aliran Klasik Hingga Modern, Jogjakarta: eLSAQ Press, 2006) dianggap representatif perihal karya dan aliran tafsir luput dari tafsir ini. Ia tidak menyebutkannya. 

Di kalangan umat Islam Indonesia (khususnya NU) sudah tidak asing lagi dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (ada juga yang menyebut “al-Jilani”). Beliau adalah seorang sufi besar asal Jailan, Iran. Namanya selalu disebut—dijadikan wasilah—saat kaum muslim mengadakan tahlilan. Beliau juga pendiri tarekat Qodiriyah. Dengan latar belakang seorang sufi, karya-karya al-Jailani pun sangat kental dengan nuansa kesufian. Termasuk karya tafsirnya ini.

            Dalam buku ini dia mencoba mencari makna Ta’awwudz, Basmalah, Tobat, dan Takwa. Sebagaimana menjadi ciri khas tafsir sufi, tafsir Al-Jailani ini menekankan dzauq (rasa) dan aspek esoteris (ruhani, batiniah).  Al-Jailani mampu menyibak “rahasia-rahasia” di balik ayat (literal) yang maknanya tak aus oleh dinamika perubahan zaman.
            Misalnya tentang “Ta’awwudz”, Al-Jailani mengatakan bahwa ibadah pada dasarnya perbuatan melawan godaan setan dan hawa nafsu. Perlawanan itu disebut jihad atau mujahadah. Dan inilah sebesar-besarnya jihad, bahkan dari jihad perang sekali pun. Mengapa bisa dikatakan begitu? Al-Jailani memberikan alasan bahwa jihad melawan hawa nafsu bersifat terus-menerus, memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih besar. Sebab, jika nafsu tak diperangi, dikhawatirkan, ketika meninggal, seseorang akan berada dalam kondisi su’ul khatimah.
            Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan manusia untuk memohon perlindungan dari godaan setan. Sedikitnya disebutkan oleh al-Jailani ada 3 ayat yang menunjukkan hal itu sesuai dengan konteksnya masing-masing, yakni surah an-Nahl [16]: 98, Ali Imran [3]: 36, dan al-A’raf [7]: 17. Rasulullah bersabda, “Barang siapa beristiadzah sekali maka Allah akan menjaganya sepanjang hari.” “Tutuplah pintu-pintu kemaksiatan dengan ta’awwudz dan bukalah pintu-pintu ketaatan dengan bismillah.”
Yang ditakuti dan diwaspadai setan adalah permohonan perlindungan seorang hamba kepada Allah dan pancaran cahaya makrifat orang-orang ‘arif (orang yang mengenal Allah dengan baik), ujar al-Jailani. Dan itu, apabila tidak termasuk orang yang ‘arif, mohonlah perlindungan sebagaimana isti’adzah orang-orang bertakwa (al-muttaqin), niscaya derajat terangkat ke tingkatan ‘arif (hlm.17). Dan hanya dengan itulah pancaran cahaya hati dapat mematahkan kekuatan setan, mengalahkan pasukannya, membinasakan para pendukungnya, serta mengikis habis segala rayuannya. Ia bahkan bisa jadi cahaya untuk memenjara setan sehingga tidak mampu lagi menggoda dirimu, saudaramu, dan pengikutmu. (hlm. 19)
Menurut a-Jailani seeorang agar mencapai kebebasan dari godaan setan ada beberapa hal yang harus diamalkan, yakni: selalu mengucap kalimat ikhlas (la ilaha illallah)dan zikir kepada Allah, memperbanyak bacaan bismillah, dan membuang hasrat dan keinginan meraih karunia dari para penggemar duniawi.   
Penafsiran makna ta’awwudz dengan aroma kesturi sufi ini sungguh relevan dalam kondisi zaman saat ini. Karena jika ditilik kepada situasi kondisi sosial al-Jailani hidup, nampaknya tidak jauh beda dengan saat ini, yakni krisis dalam pelbagai dimensi kehidupan, meski kehidupan sudah modern di zamannya pada saat itu. Dan untuk itulah barangkali al-Jailani membuat tafsirannya bercorak sufistik yang lebih mengedepankan hal-hal dasar dan esoteris.
Inilah karya al-Jailani dalam bidang tafsir yang boleh jadi sebagai kritik sosial atas zamannya. Dan saya kira buku ini menemukan relevansinya pada saat ini, di mana kekuasaan dan uang sebagai panglima. Oleh karena itu sangat layak dibaca dan dijadikan tafsir alternatif, di tengah serbuan tafsir yang mengedepankan sisi hukum “kapitalistik” yang tidak menyentuh ke sisi batiniah.
Wa ila hadroti Sulthonil Auliya’ Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani, lahu alfatihah.[]

M. Iqbal Dawami, pencinta buku.