Selasa, April 24, 2012

Ketika Lan Fang Menulis Esai

Judul: Imlek tanpa Gus Dur
Penulis: Lan Fang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2012
Tebal: vi+112 hlm.  

Almarhumah Lan Fang, sastrawati asal Surabaya, lebih dikenal sebagai novelis dan cerpenis, ketimbang esais. Wajar, karena memang karya-karyanya banyak berupa novel dan kumpulan cerpen. Tapi, buku ini memperkenalkan kepada khalayak pembaca bahwa seorang Lan Fang juga sangat piawai dalam menulis non-fiksi, dalam hal ini esai. Ya, buku ini membuktikan hal itu. Di dalamnya adalah kumpulan esai yang berjumlah 22 tulisan. Dibuka dengan esai "Adat dan Adab Menulis" dan ditutup dengan esai "What is Bahasa Daerah".

Jika dicermati dari ragam judul tulisannya, Lan Fang mengangkat beberapa tema, di mana tema-tema tersebut tidak jauh dari kehidupan yang menyertai dirinya. Tema-tema tersebut banyak berbicara perihal ketionghoaan, sebut sebut saja, misalnya, "Ghirah Sastra Tionghoa Terus Menyala", "Makam Suci di Bukit Lingzhan", "Sastra Cina: Bangkit dari Mati Suri", dan lain-lain. 

Barangkali salah satu tulisan utama yang mengandung tema ketionghoaan adalah sebagaimana yang dijadikan judul buku ini yakni "Imlek Tanpa Gus Dur". Tulisan ini menjadi "maskot" buku ini. Hal ini wajar, karena Gus Dur adalah seorang pembaharu bagi warga Tionghoa, karena ia pada saat menjadi presiden mengeluarkan Keppres tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Ini sungguh luar biasa di mata warga keturunan Tionghoa, karena mereka merasa diakui sebagai bagian dari warga negara Indonesia. 

Untuk itulah, Lan Fang dalam tulisan "Imlek tanpa Gus Dur" berkisah secara personal yang menyeolahkan dirinya berbicara langsung dengan Gus Dur. Minggu, 14 februari 2010, adalah Imlek ke-8 diakui pemerintah sebagai hari libur nasional. Imlek kali itu berbeda yang dirasakan Lan Fang, sebab perayaannya tanpa Gus Dur. Lan Fang berkisah masa kecilnya di Banjarmasin. Toko orangtuanya ramai pembeli saat bulan puasa Ramadhan. Saat Idul Fitri, Lan Fang bertanya-tanya, "Saya juga ingin mempunyai hari raya, tetapi kenapa tidak pernah ada?" 

Namun, selama bertahun-tahun tidak ada yang bisa memberikan jawaban padanya. Termasuk orangtuanya. Sampai suatu ketika, keluarganya menyulut hiosua di pintu belakang toko, kemudian mereka makan misua dan telor rebus. Setelah itu, dia sungkem kepada orangtua dan para sesepuh lalu menyelipkan angpau di kantong Lan Fang. Pada hari itu, dia juga memakai baju bagus seperti pada saat Idul Fitri. Ketika itulah, orangtuanya menjelaskan bahwa dirinya sedang merayakan hari raya juga. 

Tapi, dia heran, kenapa "Idul Fitri" mereka sangat sepi? Bahkan sepertinya dirayakan dengan sembunyi-sembunyi. Hari raya yang dirayakan dengan diam-diam saja. Sampai pada saat Indonesia memasuki era reformasi dan Gud Dur menjadi presiden, Imlek baru dijadikan hari libur nasional. Hari raya yang sebelumnya hanya dirayakan dalam kesenyapan tiba-tiba menjadi gempita. Mengucapkan gong xi fa chai sama meriahnya dengan saat mengucapkan minal aidin wal faidzin atau merry christmas. Baju jibao menjadi salah satu trendsetter mode pakaian. Bahkan, pada saat perayaan Imlek, Gus Dur tampak tidak canggung memakai baju jibao tersebut. 

Bagi Lan Fang, Gus Dur adalah orangtuanya. Karena sudah memenuhi keinginan masa kecilnya terdahulu untuk merayakan Imlek layaknya Idul Fitri. Dalam tulisan ini Lan Fang, secara jujur, betapa inginnya dia sungkem kepada Gus Dur saat Imlek. Lan Fang begitu menghormati Gus Dur karena telah dia anggap sebagai ayahnya sendiri. 

Dalam tulisan lainnya, Lan Fang juga berkisah tentang lawatannya ke negeri Cina. Dia mengamati perjumpaan antara Cina dengan Islam. Dia bercerita tentang pusara suci sahabat Nabi Muhammad di Cina yang dahulu diutus untuk mengenalkan pesan damai Islam di sana. Dari tulisan-tulisan semacam ini, ada pesan yang bisa kita gali bahwa Lan Fang sangat menjunjung kerukunan umat beragama. Dia tidak canggung berdialog dan bergaul dengan keyakinan yang bukan dianutnya. Dia juga sudah biasa bicara di tengah masyarakat muslim, semisal di lingkungan pondok pesantren. ]

Walhasil, lewat esai-esainya yang terhimpun dalam buku ini, kita dapat melihat bahwa Lan Fang adalah pribadi yang terbuka dengan budaya dan keyakinan lain. Meski seorang penulis—yang identik penyendiri—ia ternyata mampu bersosialisasi dengan masyarakat luas tanpa ada rasa canggung. Perhatiannya terhadap multikultural, kesenian, kebudayaan, dan keberagamaan begitu besar. Satu hal lagi, adanya buku ini juga menandaskan bahwa ia tidak hanya piawai dalam menulis novel atau cerpen, tetapi juga esai. 

Namun sayang, buku ini tidak dilengkapi kata pengantar, biodata penulis, dan endorsement, sehingga terkesan asal naik cetak saja. Padahal, buku ini sungguh menarik dan mempunyai sumbangsih yang mendalam bagi dunia sastra, budaya, agama, dan seni.[]

M. Iqbal Dawami, esais dan pencinta sastra, tinggal di Pati.

3 komentar:

Alexander mengatakan...

novel yang bagus mengisahkan sepat terjang Gus Dur saat menjadi presiden.

tokoafandi mengatakan...

ada buku diskon, katalognya bisa di download disini:http://tokoafandi.com/index.php?route=information/information&information_id=10

Toko Buku Online mengatakan...

Toko Buku Online Terlengkap & Terpercaya - GarisBuku.com